Review Zone! :

Anyaaa : iya, nggak apa-apa. Makasih sudah mengatakan fic ini seru. Ini sudah di update. Thanks for review! :)

Laxus Vermillion : Iya, hahaha… benarkah? Terima kasih^^ tapi, gomen ne nggak bisa update kilat. Thanks for review! :)

Nararhezty cliquers : kamu aja senyum-senyum sendiri, apa lagi saya? Hahaha… Amin, makasih Nara-san (boleh dipanggil seperti itu?) thanks for review! :)

Sabaku Yuri : Gomen ne nggak bisa update kilat XD Thanks for review! :)

.

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Friendship

Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.

Happy Reading, minna-san^^

.

Hari demi hari telah berlalu. Seorang gadis sedang berkutat dengan pantulan dirinya di cermin miliknya. Menata dirinya yang dibalut dengan pakaian sekolah dan mengikat rambutnya. Tapi, ada yang tidak biasa disini. Ya, kali ini, Temari menata wajahnya dengan bubuk-bubuk bedak dan tetesan-tetesan parfum. Belakangan ini, Temari selalu berdandan seperti itu. Entah apa maksudnya.

"Yosh! Temari, satu hari lagi kau akan memikatnya. Ganbatte!"

Sekali lagi, Temari merapikan baju sekolahnya. Lalu mengambil tas ranselnya dan meninggalkan kamar biru nya. Menghampiri orang tua dan kedua saudaranya ini diruang makan, menikmati kenikmatan sarapan pagi.

"Morning all!" sapa Temari, mengambil tempat duduk di sebelah Gaara.

Gaara dan Kankurou yang dari tadi memfokuskan diri untuk memakan santapan pagi mereka, mengalihkan pandangannya kearah Temari. Terlihat air muka mereka memancarkan kecurigaan dan keheranan melihat Temari hari ini. Kankurou mengernyitkan alisnya, sementara Gaara hanya bisa menyipitkan matanya. Mengingat si bungsu tidak punya alis.

"Morning, Temari. Tumben sekali kamu rapi," kata sang ibu, Karura.

"Tidak apalah Kaa-san, sekali-sekali kan nggak apa-apa," kata Temari sambill nyengir.

"Ya, sekali-sekali sih. Tapi kalau udah lebih dari 3 hari juga kan harus diwaspadai Kaa-san," kicau Kankurou, ekor matanya bergerak kearah Temari.

Temari yang merasa di lirik oleh sang adik, hanya membalasnya dengan lototan mata teal-nya. Lalu kembali menampilkan senyuman lebarnya ke Kaa-san nya. Sementara yang di kasih senyuman hanya menggeleng-geleng maklum.

.

Pagi yang indah, terlukiskan oleh Sang Pencipta di hari ini. Mencoba membuat semua orang yang beraktivitas terseyum mengagumi karya-Nya. Oh, tunggu sebentar, sepertinya langit pagi memiliki saingan di sekolah ini. Bersaing untuk mendapatkan kekaguman oleh umat manusia. Selain langit, seorang gadis yang kini tengah berjalan menysuri koridor sekolahnya yang mendapati tatapan kagum dari kaum adam. Ya, gadis itu adalah Temari. Tidak seperti biasanya yang selalu berlari ketika mengarungi sekolahnya yang luas, kali ini dia memilih untuk berjalan anggun.

"Tema-chan!" teriakan suara cempreng mengagetkan Temari. Dia pun memberhentikan perjalanannya dan menoleh kearah sumber suara.

"Ada apa, Tenten-chan?" tanya Temari.

"Waw, tumben kau rapi," kata Tenten sambil melihat Temari dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Hah? Emangnya selama ini aku nggak rapi ya?" tanya Temari. Lalu melanjutkan kembali perjalanannya yang sempat tertunda.

"Nggak sih, dan sekarang kau melambatkan sedikit irama jalanmu," Tenten menyusul Temari yang sudah ada di depannya.

TAP.

"Tema-chan, jelaskan padaku, kenapa kau berubah gini?" Tenten menyipitkan matanya, menatap Temari dengan serius. Kedua tangannya hinggap di sepasang bahu mungil Temari.

"A-apanya yang harus di jelaskan?" Temari merinding ketakutan melihat raut wajah Tenten yang menurutnya menyeramkan.

Temari melepaskan bahunya dari tangan Tenten, lalu mencoba melanjutkan lagi perjalanannya. Temari memejamkan matanya sejenak. Meresapi setiap bayang-bayang indah yang berhiaskan wajah malasnya Shikamaru. Senyuman pun terpahat di wajah ayunya. Tapi…

BRUK!

Dengan perlahan Temari membuka matanya. Ya, dia menyadari sesuatu menabraknya. Ketika ia menunjukkan teal-nya, seketika saja matanya terbelalak.

Sekarang ia sedang ada-

Di-

Pelukan-

Shikamaru.

Jelas, bagaimana tidak terkejut? Kedua lengan kokoh milik Shikamaru melingkar di pinggangnya. Wajah mereka sangat dekat, bahkan terlalu dekat. Sehingga mereka merasakan nafas mereka, dan tidak lupa kejadian tatap-tatapan –lagi- yang terjadi di sini.

Temari POV

A-apaan nih! Astaga kami-sama, terima kasih Kau telah mengizinkanmu menatap wajahnya dengan dekat. Sangat dekat malah. Kini, aku bisa menikmati warna kelam yang menghuni matanya dengan indah. Melihat rahangnya yang kokoh. Ternyata, wajah yang malas yang ia tunjukkan hanya topeng yang menyembunyikan paras tampannya ini.

Ah, indra penciuman ku menangkap sesuatu yang memabukkan pikiranku. Ya, parfum yang ia gunakan begitu gentle, menimbulkan kesan kharisma setiap kali ia lewat di depanku. Aroma ini membuatku melayang.

Temari POV End

Sementara Shikamaru, wajahnya terlihat gugup. Bagaimana tidak? Dia tidak pernah sedekat ini dengan seorang cewek! Iris onyx-nya terperangkap dalam iris teal gelap yang berkilauan milik Temari. Mengagumi wajah cantiknya, tidak ada kerutan sedikitpun meskipun dia garang di sekolahnya.

Shikamaru POV

C-cantik. Itu yang bisa kukatakan ketika aku melihat wajahnya dari dekat. Ya, cantik sekali. Bahkan Ino, primadona sekolah saja kalah dengan Temari, sahabat karibnya. Bibir mungilnya itu membuatku- ah, tidak, tidak. Ini masih di lingkungan sekolah Shikamaru! Jangan sampai kau di cap sebagai ketua OSIS mesum cuma karena ini!

Dan, ah, rasanya indra penciumanku dimanjakan dengan aroma segar dari parfumnya. Ya, aroma yang berekstrak bunga lily of the valley, membuatku mabuk kepayang. Oh, Temari, kenapa kau membuatku seperti ini? mendokusai…

Shikamaru POV End

"Ehm! Ketua OSIS? Temari-san?"

Deheman seorang pria berambut coklat jigrak panjang ini, mampu mencairkan suasana yang begitu tegang. Sayangnya, kerumunan siswa yang sempat antusias, kini melenggang pergi dengan kicauan-kicauan kekecewaan mereka masing-masing. Kecewa kenapa pemandangan seperti itu di hentikan oleh guru Matematika yang rakus ini.

Shikamaru yang mengenal suara itu, dengan segera membantu Temari berdiri dengan benar lalu menundukkan kepalanya. Sepertinya, mereka sama-sama malu sekarang. Malu karena tertangkap basah.

"A-ano, Chouza-sensei, saya permisi dulu," Temari ber-ojigi sejenak di depan gurunya, lalu pergi meninggalkan Shikamaru dengan muka yang merah padam.

"Shikamaru, masuk ke kelasmu!" perintah Chouza.

"Ba-baik, sensei," Ya, Shikamaru hanya bisa menuruti perkataan gurunya. Mengingat ia tidak mau ditimpa dengan badan buntal itu, baginya itu sangatlah merepotkan.

.

"Nee-chan! Cepat sedikit! Sebentar lagi acaranya dimulai!" teriak Kankurou dari bawah, menunggu sang kakak yang masih berada di kamarnya di lantai 2.

"Sabar, Kankurou! Sebentar lagi selesai!" teriak Temari.

CKLEK!

TAP TAP TAP!

Suara kaki Temari menggema di setiap sisi rumah ketika ia menuruni tangga. Rok dress pink nya berkibar bebas akibat ulah lututnya. Rambut pirang yang biasa di kucir 4, kini di kucir 2 dengan rendah. Poni pirangnya di jepit dengan jepitan berbentuk pita kecil berwarna pink motif garis-garis.

Kankurou terpaku di tempat melihat dandanan sang kakak, "Nee-chan, kau-"

"-sangat cantik," sambung Gaara.

Sementara yang dipuji hanya bisa merona, otaknya berpikir keras untuk mengalihkan topik pembicaraan. 'Ah, mereka saja terpana apalagi Shikamaru? Sudahlah Temari, lihat saja nanti!' batinnya.

"A-ah, Gaara, kenapa kau masih disini? Bukannya kau ingin menjemput Matsuri?" Temari mengalihkan pembicaraan. Sementara yang diajak bicara hanya bisa memberikan deathglare.

"O-oh! Pangeran es kita telah menambatkan hatinya kepada adik kelas itu! Matsuri-chan~" goda Kankurou.

"Diamlah! Bukankah kau juga, Temari-nee? Ku dengar kemarin kau disek-hmmpph!" Temari langsung membungkam mulut Gaara dengan tangan kanannya, lalu memberikan cengiran lebarnya kearah Kankurou. Wajah Kankurou terlihat curiga melihat tingkah mereka.

"Ada apa Temari-nee?" tanya Kankurou curiga, sambil menyipitkan matanya.

"A-ah, tidak. Ayo kita berangkat!" ajak Temari, tetap saja tangannya membungkam mulut Gaara.

.

Akhirnya, Temari memasuki sekolahnya ini. Kakinya melangkah pelan, menikmati setiap dekorasi indah yang di hias oleh anggota OSIS. Meskipun sederhana, tapi lumayan untuk event seperti ini. TEmari menyapu bersih pandangannya. Teman-temannya tidak menunjukkan batang hidungnya di pandangan mata Temari. Dia pun bertekad untuk menunggu di kelasnya. Tapi, sayangnya Temari tidak menyadari seseorang tengah menatapnya dengan kagum, meskipun dari kejauhan.

Kini, Temari memasuki kelasnya yang berada di lantai 2 itu. Membuka pintunya dengan perlahan. Kebetulan, kelas sunyi. Temari sangat suka dengan suasana ini. Sambil menunggu temannya, Temari menduduki salah satu bangku dan mengaktifkan smartphone miliknya lalu memainkan games 'Temple Run' yang lumayan mengusir rasa bosan.

TAP TAP TAP

Sontak Temari menyembunyikan smartphone-nya, mewaspadai guru datang. Jantung Temari sudah berpacu dengan cepat, takut-takut seseorang datang kearahnya. Di perkirakan, suara langkah kaki itu berasal dari kelas sebelas yang berhubungan langsung dengan kelasnya.

TAP TAP TAP

Suara langkah kaki itu makin keras. Temari menundukkan kepalanya, entah kenapa dia merasa malu dengan dandanannya sekarang. Setelah suara langkah kaki itu tidak kedengaran lagi, Temari mengangkat kepalanya. Tiba-tiba…

Shikamaru sudah ada di hadapannya.

"KYAA!"

"Terkejut, eh?" kata Shikamaru, lalu duduk disamping Temari. Melihat aksi Shikamaru itu, seketika saja Temari merona.

"Kamu ngapain disini? Bukannya murid perwakilan kelas berkumpul dibawah?" tanya Shikamaru.

DEG!

'Tadi dia manggil aku apa? Kamu?' batin Temari.

Ketika Temari sedang asik merona ria dengan Shikamaru. Ino datang dengan Sai. Melihat adegan itu, Ino langsung saja menarik jas Sai dan bersembunyi di balik pintu.

"Ssst! Sai-kun! Kamu lihat disana siapa? Siapa cewek yang disebelah Shikamaru?" bisik Ino.

"Aku tidak tau Ino-chan, tapi sepertinya aku kenal," bisik Sai.

Mereka terdiam sejenak. Mencoba menebak-nembak siapa cewek di sebelah Shikamaru. Setelah lama bermain dengan pikiran, akhirnya mereka bertatapan. Dengan senyuman jahil yang terpasang diwajah mereka, sepertinya mereka sudah tau siapa cewek itu. mereka pun segera mengambil ponsel mereka dan mengetikkan sebuah pesan.

.

Ya, sedari tadi mereka hanya diam. Irama angin yang tercipta dari jendela kelas lah yang meramaikan suasana. Akhirnya, Shikamaru mengeluarkan suaranya.

"Temari?"

"Ya? Ada apa Shikamaru?" tanya Temari lembut.

'Shit! Kenapa dia bisa lembut begini? Makin gugup aja!' batin Shikamaru.

"Ah, anu… mm," Shikamaru menggaruk tengkuk belakangnya yang tidak gatal. Iris matanya bergerak kesana kemari tak karuan.

"Kenapa, Shika?" tanya Temari lagi, menatap Shikamaru dengan bingung.

'Apa sih yang mau diomongin Shika?' batin Temari.

.

Ketika tengah asik mengintip, Sai dan Ino di kejutkan dengan kedatangan teman mereka. Seorang cowok pendiam bak es dan seorang cewek berambut nyentrik.

"Ino-chan!" bisik Sakura.

"Sakura! Kamu lihat itu siapa?" telunjuk Ino menunjuk seorang s=cewek yang ada di sebelah Shikamaru.

"Sebentar, sepertinya aku kenal dengan rambut itu," kata Sakura, matanya tak lepas mengamati cewek itu.

"Temari," jawab Sasuke.

"Benar, dan kalian tau apa yang akan terjadi?" tanya Sai, senyum yang aneh terlukis di wajah pucatnya.

Mereka saling bertatapan, hingga akhirnya senyuman terlukis diwajah mereka masing-masing. Kecuali Sasuke yang hanya bisa tersenyum tipis.

.

"Em, begini, aduh gimana ya ngejelasinnya?" kata Shikamaru gugup. Jujur, dia tidak pernah segugup ini.

"Cerita saja Shikamaru, mungkin aku bisa membantumu," kata Temari sambil terseyum.

DEG!

'Astaga, senyumannya manis sekali,' puji Shikamaru di lubuk hatinya. Melihat senyumnya saja membuat Shikamaru meneguk ludah. Apa yang membuatmu seperti itu, Shikamaru?

"Benarkah kau mau membantuku?" tanya Shikamaru. Temari mengangguk dengan cepat.

Seketika saja Shikamaru memancarkan raut wajah senang. Ia segera bangkit dari duduknya. Tangan kanannya yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik punggung tegapnya kini mulai menunjukkan diri. Terlihat ia mengenggam…

.

Sasuke dan Sai yang sedari tadi menjaga tempat hanya mendengus kesal. Ya, mereka sepertinya akan melewatkan momen yang takkan terlupakan bagi mereka. Terpaksa, mereka akan mendengarkan ceritanya dari pasangan masing-masing.

"A-hmmpph!" baru saja Naruto mengatakan sesuatu, Sasuke sudah membungkam mulutnya.

"Diamlah Naruto! Sebaiknya kau intip yang ada di dalam kelas itu!" bisik Sai sambil mengarahkan telunjuknya ke kelas Temari.

Naruto melangkahkan kakinya dengan pelan menuju pintu kelas itu. Betapa terkejutnya dia, ketika ia melihat Shikamaru berdiri di hadapan seorang cewek.

Baru saja Naruto ingin berteriak, lagi-lagi mulutnya dibungkam, "diamlah Naruto-kun!Kalau tidak kita putus!" ancam Hinata.

Mendengar ancaman itu, Naruto langsung diam seribu bahasa. Bagaimana tidak? Konyol sekali putus hubungan hanya karena ini!

.

Setangkai bunga Aster merah.

Temari yang melihat itu langsung saja menutup mulutnya. Matanya terbelalak kaget. Terlihat ada pancaran cahaya shock di wajah Temari. Wajahnya juga memerah padam.

'Aster merah? Itu berarti…'

"Ya, Aster merah itu berlambangkan cinta dan kesetiaan. Coba baca direct message yang ku kirimkan ke twitter-mu," perintah Shikamaru.

Temari dengan rasa penasaran bercampur bahagia ia membuka twitter di smartphone hitam miliknya.

CLICK!

Can I be your boyfriend?

Betapa terkejutnya Temari. Ya, mimpi tersebut terwujud. Mimpi yang Temari katakan bahwa Shikamaru memberinya mawar merah. Bagi author sih ini tidak terlalu romantis, tapi bagi Temari ini sangat romantis.

Temari segera berdiri dari tempat duduknya menghadap kearah Shikamaru. Ditatapnya sejenak cowok itu dengan tatapan haru. Mengambil setangkai bunga Aster merah dan memeluk Shikamaru.

.

"Apa isi direct message itu?" tanya Kankurou penasaran.

Semua yang mengintip disana dibuat kaget oleh pertanyaan Kankurou, sejak kapan anak itu ada di sini? Tidak lupa pula, sepertinya Kankurou mengajak Gaara dan Matsuri kesana. Benar-benar ramai.

Melihat Temari memeluk Shikamaru, Gaara menatap mereka dengan tatapan tidak suka. Well, sepertinya penyakit sister complex-nya Gaara kambuh. Tapi, melihat itu semua, Matsuri segera menenangkan pacar sekaligus seniornya ini. Menepuk bahu tegapnya dan memberikan senyuman tulus. Benar-benar cara yang ampuh. Lihat, Gaara langsung menerimanya.

Ino memberi kode kepada semuanya. Memang awalnya mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Ino tapi melihat acting Sai dan Ino, mereka hanya bisa tersenyum jahil.

"Ino-chan, kamu ingat pas aku nembak kamu pakai bunga?" Sai dan Ino berjalan melewati kelas yang mereka intip. Melihat mereka Shikamaru menyatukan alisnya.

"Ingat dong! Itukan romantis," Ino menyenderkan kepalanya di bahu Sai.

'Sepertinya ada yang gak beres nih!' batin Shikamaru.

Setelah jauh melewati Shikamaru dan Temari, Sai dan Ino mengedipkan sebelah matanya. Kini Naruto dan Hinata mulai memasuki kelas.

"Naruto-kun, kamu tau film 'Romeo and Juliet' kan? Aku ingin kita seperti mereka," rengek Hinata, tentu saja itu acting. Temari hanya bisa menatap mereka dengan bingung ketika mereka melewatinya.

"Iya, nanti aku akan melakukan yang lebih romantis dari film itu. Tenang saja, nanti aku kasih kata-kata gombal juga di direct message twitter-mu," Naruto memasang senyum jahil diwajahnya, ekor matanya melirik Shikamaru dan Temari.

Setelah jauh melewati Shikamaru dan Temari, Naruto dan Hinata serentak mengancungkan jempol mereka kearah Sasusaku, Gaamatsu, dan Kankurou. Kini, Sasuke dan Sakura tengah mempersiapkan script-nya.

"Sakura-chan, habis ini kita mau kemana?" tanya Sasuke, lalu memasukkan kedua tangannya di saku celana.

"Entah deh, terserah yang baru jadian aja kali ya," jawab Sakura, melirikkan matanya kearah Temari.

Setelah jauh melewati Shikamaru dan Temari, Sasuke dan Sakura memberi kode 'ok' dengan jari mereka. Kini Gaara dan Matsuri mulai memasuki kelas.

"Gaara-kun, aku lapar nih! Tapi nggak punya uang," Matsuri berpura-pura memasang wajah sedih.

"Tenang, kita tinggal minta bayarin saja sama Nee-chan ku," hanya Gaara yang menatap horor Shikamaru.

Setelah jauh melewati Shikamaru dan Temari, Gaara dan Matsuri serentak mengancungkan jempol mereka kearah Kankurou. Kini, Kankurou memasang muka asamnya. Kali ini memang bukan acting.

"YEE! AKU SINGLE SENDIRIAN!" teriak Kankurou sambil berlari melewati mereka.

Setelah Kankurou jauh pergi dari mereka, Shikamaru dan Temari hanya bisa bertatapan bingung. Hingga akhirnya ada suara yang mengintimidasi mereka. Mereka pun menoleh kearah sumber suara.

"Eh, Neji-kun! Sepertinya kita salah pilih tempat pacaran," kata Tenten.

"Iya, Tenten-chan! Ayo kita cari kelas lain!" Neji menarik tangan Tenten dan berjalan keluar dari kelas.

Ya, sementara yang sedang berduaan di kelas ini hanya bisa merona merah. Bagaimana tidak? Mereka 'tertangkap basah' lagi. Mau tidak mau mereka menundukkan wajah mereka, menyembunyikan rona malu masing-masing.

.

THE END

Haah~~ selesai juga fic ini. Boleh curhat nggak? Nggak terasa, hari pembagian rapor di sekolah Author sudah mulai dekat, mudah-mudahan naik kelas #aminn! Ngomong-ngomong, gomen ne kalau ada salah dan fic ini pendek *kebiasaannih! Need your review, readers!