Summary: sebuah fict gaje berisikan legenda dan dongeng-dongeng yang diperankan oleh para character inazuma eleven dan inazuma eleven go. My first fict for this fandome

Disclaimer: Inazuma eleven dan inazuma eleven go hanya milik level 5

Warning: gaje, typo, genre yang tidak bermutu, alur yang tak menentu

.

.

.

Chapter 6:

Wandaba Tell

.

Diambil dari dongeng William Tell

.

.

Dahulu kala di desa telolelolet, Hiduplah seorang atau kita bisa menggunakan kata seekor dan jangan lupakan untuk menggunakan kata seberkas, dan mungkin pula kita bisa menggunakan kata seb- (udah setop!)

Jadi kesimpulannya, di desa itu hiduplah seorang (?) penembak terkenal yang bernama Wandaba Tell. Wandaba Tell adalah seorang beruang gaje yang hobi dangdutan, dan goyang-goyang gaje seperti patah-patah, gotik, dlsb.

Selain dangdutan, sebenarnya Wandaba juga berbakat sebagai artis pinggir jalan (baca: pengamen) apalagi kalo artis yang sebenernya cowok tapi pake pakaian cewek, wah cucok banget tuh...

Ia hidup lama dan dikenal di seluruh Betawi (bukannya telolelolet?) dengan keahliannya dalam muterin kepala dan goyang itik *plak maksud saya menembak dengan panah asmara (?).Ia juga memiliki seorang anak lelaki gaje yang sungguh gaje bernama Fey Rune (what the!? Fey! jangan mau!)

Keadaan di kota sebenarnya aman dan damai, tetapi segalanya berubah setelah negara api menyerang. Hanya Avatar, ketua dari keempat element yang dapat menghentikan- (aduh! Author sadar woy!)


Author kembali sedeng...

Renovation


Pada suatu saat, seorang gubernur provinsi dengan nama Tenma, memerintah wilayah tersebut dan memperlakukan warga kota dengan perhiasan *plak maksudnya penghinaan.

Sebagai contoh, ia meninggalkan bau jengkol bekas dia makan di salah satu daerah di kota, otomatis bau itu terus bersemayam (?) di sana. Lalu, setiap penduduk yang mencium bau itu, harus merangkak dan jingkrak-jingkrak layaknya bau itu adalah gubernur itu sendiri.

Mereka yang menolak untuk melakukannya, akan dihukum dengan berbagai hukuman gaje. Seperti, gotik dengan baju renang (!?), masuk ke konser musik klasik dengan berpakaian layaknya banci dengan dandanan yang menor dan lompat ke atas panggung untuk jingkrak-jingkrak, de es be

Pagi itu, Wandaba Tell memasuki kota dengan anaknya, ia tidak tunduk pada topi dan bau jengkol yang ditinggalkan oleh Tenma.

"Saya tidak akan pernah tunduk pada topi, karena kata pak haji itu artinya kita musrik." ujar Wandaba dengan begitu pedenya.

"Wandaba... sejak kapan kamu taat agama? agama islam pula..." tanya Fey kebingungan sambil sweatdrop.

"Belajar dari Author~ Author kan baik (reader: huekk), imut (reader: hueekk), pinter (reader: huoeekk), dan tomboy seperti preman (reader: #GUBRAK! Author: Wandaba keterlaluan!)" puji Wandaba sambil goyang patah-patah.

Kata-kata itu sukses membuat Fey jadi sinting, Author nyakar tembok sambil nusukin boneka voodoo Wandaba sambil mengeluarkan beberapa mantra-mantra pelet, dan para penjaga yang seharusnya muncul, malah main bekel. (Woy! mas penjaga! ikutin skripnya! *ngelempar naskah*)


Karena kalimat gaje yang ia lontarkan saat melihat topi Tenma, penjaga alias banci simpang lima yang numpang eksis disono, langsung menangkap dan menarik paksa Fey... atau mungkin tidak... mari kita lihat cuplikan percakapan mereka...

"Oi! kau teddy bear hijau! (bukannya biru ya?)" ujar sang banci layaknya preman sambil memegang bahu Wandaba.

"EH! MAMA SAYANG COPOT! AYAM! AYAM! eh! satpam edan! kalo mau manggil biasa aja kali, gak usah pake acara gini! Ini kan bukan talk show (?)!" marah Wandaba setelah asyik berlatah ria sambil gotik.

Fey, Author dan penjaga kembali bersweatdrop ria mendengar ucapan Wandaba yang sekarang masih gotik.

"Wandaba Tell, kamu telah melanggar peraturan dari gug bentur eh, gubenur Tenma! Sekarang sebagai hukumannya, kamu harus memberikan anakmu!" perintah bencong itu.

"Hih! jangan seenaknya aja ya ngambil anak orang! Kalo mau anak gue, bayar dulu!" ujar Wandaba tak kalah serius.

"Baiklah, akan kubayar... 1000 rupiah... Kemarikan anakmu!" perintah banci itu kembali, kali ini ditambahnya gerakan menarik lengan Fey.

Wandaba yang tidak terima dengan kelakuannya pada Fey langsung menarik kembali Fey dengan cara menarik lengan sebelahnya.

Sedangkan Fey yang diperebutkan layaknya di sinetron-sinetron, hanya bisa sweatdrop sambil bernafas pasrah berkali-kali.

"Tidak bisa! seenaknya saja! kamu kira Fey itu berapa harganya!?" marah Wandaba kembali serius sambil menarik lengan Fey.

"1000 dapet 3, 500 dapet 6. Segitu kan!?" marah balik sang bencong juga sambil menarik lengan Fey.

"Oi, Oi! Di dunia ini manusia tidak dapat dihargai dengan itu!" marah fey yang mulai kehabisan kesabarannya.

"Anak kecil diam saja sana!" bentak Wandaba dan bencong dengan suara yang lumayan kuat sampai bisa menerbangkan racun suara (?) lagi.

Fey langsung mewek dan bertekad untuk tidak ikut campur masalah bodoh ini lagi.

"Kuberi 1500!" tawar bencong.

"Tidak bisa!" jawab Wandaba tegas.

"10.000!"

"Tidak bisa!"

"500!"

"Mana mungkin kuberikan!"

"100!"

"Nah, gitu dong, nawarnya dari tadi seharusnya segitu... Nih kukasih Fey ke kamu... Nah, mana 100 rupiahnya?" jawab Wandaba menyetujui.

#GUBRAK!

Author dan Fey yang mendengar ucapan setuju dari Wandaba tidak bisa melakukan hal lain selain jatuh.

Bencong langsung menarik Fey secara paksa, walaupun sebenernya Fey pasrah-pasrah aja ditarik (mereka ini, suka banget gak ngikutin naskah!)

"Pak, kok bapak tega ngejual aku hanya karena 100 rupiah plastik itu?" tanya Fey dengan nada gak niat.

Tapi ucapan dengan nada gak niat yang dilontarkan oleh Fey tak ditanggapi oleh bapak jadi-jadiannya itu, sedangkan wandaba terus menerus menggosok, menerawang, menciumi, memutar-mutari koin 100 rupiahnya itu dan Author hanya bisa sweatdrop dan meninggalkan Wandaba yang sibuk sendiri.

Beberapa menit setelah asyik terus menggosok koinnya... Wandaba akhirnya menyadari sesuatu yang ganjil pada koinnya

Diterawangnya kembali koin itu, digosok kembali, diciumin kembali, dan akhirnya keganjalan itu muncul...

Koin 100 rupiah itu tidak bergambar burung garuda dengan tulisan 100 yang terdapat di balik gambar burung itu... melainkan...

foto seorang banci dengan gaya exotic dengan mata yang dikedipkan dan tangan kanan membuat sebuah tanda peace...

Wandaba sempat bergidik melihat koin itu, dan langsung melempar koin menjijikkan satu itu.

"Banci sialan! beraninya dia membohongi Wandaba Tell! kembalikan anakku!" teriak Wandaba dengan kesal sambil berlari kearah banci tadi pergi.

Jadi kesimpulan sampe sekarang, Wandaba ingin mengambil kembali anaknya karena koin yang diberi banci tadi itu sebenarnya koin palsu (?) sungguh alasan yang begitu konyol


Wandaba akhirnya sampai di pintu gerbang rumah gubernur...

Dengan tegas di teriak-teriak gaje. tak lupa membawa beberapa spanduk aneh (?)

"Turunkan harga cabe! Turunkan harga daging! kalo tidak turun, turunkan badan saya!" teriak Wandaba dengan begitu bego, sedeng, atau alay ya?

Tapi tindakannya hanya ditanggapi dengan sweatdrop ria dari para warga dan Author yang melihat adegan itu.

#BYUUR!

seember air comberan jatuh tepat diatas Wandaba, dan sekarang kita ketahui kalo yang menyiram beruang gaje itu adalah...

JENG JERENG JENG!

Trio Rumus Fisika, dan Duo Rumus Fisika Star! *plakk! (salah orang!)


Mari kita ulang


seember air comberan jatuh tepat diatas kepala mulus milik Wandaba, dan sekarang kita ketahui kalo yang menyiram beruang gaje itu adalah...

JENG JERENG JENG! Fey Rune si anak gembala! *plakk! maksudnya si anak gaje

"Bapak! apa-apaan ucapanmu itu! malu-maluin tetangga ngerti gak sih!?" teriak Fey sambil blushing

"Fey, di dunia ini tak ada yang memalukan untuk sebuah perasaan dari seorang bapak kepada anaknya! Fey, terimalah perasaanku ini yang dalam!" ujar Wandaba sambil berlutut

Fey langsung blushing dan menunduk sambil menunjukkan wajah sedikit kesal.

"Bapak..." panggilnya pelan.

"Iya nak? Bapak disini kok!" jawab Wandaba semakin asal.

"Bapak, ngerti gak sih! Dari tadi tuh, Bapak salah scene!" marah Fey.

Author manggut-manggut, Wandaba mematung, warga yang menonton mencoba menahan tawa.


Maaf, mari kita skip adegan salah scene ini...


"Wah, wah... lihat siapa tamu kita hari ini... si raja dangdutan dan gotik... Wandaba Tell." ujar Tenma sambil keluar dari rumahnya.

"Che! apa maumu Matikame!?" tanya Wandaba dengan pedenya, padahal salah sebut nama... ==u

"Matsukaze! Matsukaze, bego!" teriak kesal Tenma yang dipanggil dengan nama aneh itu.

Tenma menghela nafas sejenak...

"Kita lupakan hal ini, bagaimana kalau kita lihat keahlianmu dalam menembakkan panah asmara." ucap Tenma lagi sambil berjalan layaknya cewek *plakk!

"Maksudnya nembak Fey gitu? mana mungkin saya akan menembak anak saya sendiri!" tanya Wandaba dengan polosnya dan diakhiri dengan teriakan.

"Salah woy! yang bener ngenembak apel yang ditaruh di atas kepala anaknya!" marah Author yang nongol tiba-tiba

"Fuh... baiklah, kalau tidak ingin... maka sebaiknya kepala kalian kujadikan gantungan kunci!" ujar Tenma kembali setelah menghisap ganja *plakk! (gede banget!)

Wandaba tak bisa menolak lagi. Dia langsung menerima tawaran Tenma, yaitu menembak apel hijau yang tak merah sama sekali itu (yaiyalah... masa apel hijau warnanya merah... ==u)

Fey terus berdoa semoga di fict ini dia belum mati, karena... kalo Fey mati... nanti yang mainin fey di Inakuro siapa? Sedangkan Wandaba menarik nafas sangat dalam sampe rongga paru-parunya udah segede bumi (what the!?)

Sambil menutup matanya, Wandaba meluncurkan sebuah anak panah.

Beruntung disana ada Author yang menghentikan laju panah dan menggerakkannya pelan-pelan tepat ke apel hijau yang tak merah itu.

Tenma mendengus dengan begitu kesal. Kekalahannya ini tidak dapat ia lupakan, dan saking malunya gara-gara kalah disini, dia sampe pindah ke kota lain.

Dan itulah kisah asli yang jadi tidak asli berkat Author. Dan dapat kita simpulkan, pahlawannya bukanlah Wandaba melainkan Author yang berbaik hati menggerakkan panah itu (Author mencoba narsis)

~OWARI~


Behind Scene:

Fuyuri: ah... shisashiburi dessu ne minna XD

Shirou: hai' shisashi buri Author... gimana nilai raport?

Fuyuri: *pundung* jangan ditanya kenapa? ==lll

Taiyou: fufu, berarti Author gak pinter nih!

Fuyuri: enak aja! jumlah nilaiku termasuk tinggi kok! tak ada yang tak tuntas dan bermasalah!

Aoi: sudah, sudah dari pada berantem mari kita bacakan ch berikutnya

Haruna: ah! Author!

Fuyuri: nani? doushitano?

Haruna: ada request!

Mamoru: yosh, mari baca bersama-sama

Fuyuri: oh, dari Megumare Hikaru-senpai! XD

Yukimura: requestnya... untuk di ch berikutnya... tolong tentang kisah si tanduk panjang.

Kirino: itu berarti kita tak perlu memainkan game panggil tamu itu lagi...

Shindou: fuhh... akhirnya... oh ya... Wandaba, hari ini tak ada tamu lho... sepertinya drama yang kamu mainkan tidak terkenal

Fuyuri: sepertinya begitu... soalnya aku tahu kisah ini aja waktu main Suikoden III. Di game satu itu kan bisa main drama, nah salah satu dramany itu William Tell, nah, dari situ aku tahu ceritanya.

Fey: itu berarti, selain ceritanya kurang terkenal... Wandaba juga kurang terkenal.

Wandaba: *tertimpuk beberapa batu besar* aku tidak terkenal...

Fuyuri: haha, daijoubu daiyou, aku aja juga begitu... nah, mari kita bacakan sekali lagi judul untuk ch berikutnya

Haruna dan Kidou: jikai... Haruna si jidat lebar. EKH!? AKU!? (Haruna) Haruna!? (Kidou)

Fuyuri: hoho... mungkin... gak apa kan kalo jadinya jidatnya yang lebar... V^_^u

Kidou: pokoknya awas saja kalo haruna sampe kenapa-napa!

Fuyuri: 'Yuuto punya sister-complex ya?' ya-yaudah deh... ok ok...

Kinako: ah, minna, minna! Kinako sangat berterima kasih kalo reader-san masih mengikuti kisah gaje ini sampe ch 6.

Fuyuri: yup, sungguh makasih banyak. Special thanks, untuk Kuroka-senpai sebagai reviewer pertama. Megumare Hikaru-senpai, Detective Naoto-chan, Takahashi Tomoya-chan yang terus mereview sampe ch 5. Dan, Watanabe Mayuyu-senpai yang sudah ngefave fict gaje ini. Huwaa! makasih banyak TTvTT dan maaf kalo ch ini tidak kocak banget XD

Taiyou: Thor, kok kamu bisa hapal sih? *sweatdrop*

Fuyuri: soalnya jarang-jarang ada orang yang mau setia ngereview, ngefave, bahkan mau buat ngereview (mengingat masa lalu dimana tak dapat review dari siapa pun) TTwTT

Yang lain: *sweatdrop*

Mamoru: saa, minna... ichi ni san... Inazuma Fairy Tale!

All: this is the most gaje and WORSE place in the world! ja, mata ashita na!

Fuyuri: Mamoru! itu kata-kataku!

IE-chara: udah ah... bubar yuk...

Fuyuri: Oi! chotto! chotto!

Review?