previously

Dia tunjuk Elly. "Elly..."

Dia tunjuk Pato. "Pato..."

Dia tunjuk Loula. "Loula..."

Dan terakhir, ia menunjuk dirinya sendiri. "Pocoyo?"

"KWEK!"

Pato memeluk Pocoyo.

Meski Pocoyo belum sepenuhnya mengingat mereka, setidaknya sahabatnya yang itu sudah dapat mengetahui nama mereka.

Tapi, ini belum selesai. Pato, Elly maupun Loula harus terus membantu Pocoyo sampai ia mengingat semuanya...

.

.

Setelah Pocoyo berhasil mengingat nama mereka bertiga, Elly, Pato dan Loula turut senang mengetahuinya. Namun, mereka masih belum puas apabila belum mengembalikan ingatan awal Pocoyo yang telah hilang. Karena itu, ketiga sahabat dari balita tersebut pun bertekad untuk pantang menyerah.

Seperti saat ini...

"Kwek...!" Di depan Pocoyo, Elly dan Loula, Pato menunjuk sebuah black board yang berada di belakangnya dengan kapur tulis. Dari papan itu, Pato telah menggambar rencananya untuk memulihkan ingatan Pocoyo.

Sayap kuning Pato yang memegang kapur pun mengetuk permukaan papan tulis.

"Kwek, kwek kwek kwek!"

Menurut Pato; cara pertama, kita ajak Pocoyo untuk jalan-jalan sebentar ke sekitar. Kedua, kalau bertemu dengan orang, kita lihat reaksi Pocoyo—siapa tau Pocoyo masih mengenal salah satu dari teman-temannya yang ada di sini.

"Guk!"

Loula bersorak senang, diikuti oleh Elly yang bertepuk tangan.

Dan Pocoyo pun hanya bisa terbingung-bingung di tempatnya terduduk.

.

.

.

POCOYO—REMEMBER—US—!

Pocoyo by Gullermo Garcia Carsi

AR—Alternate Reality

Pieree Present...

(Pocoyo—Pato—Elly—Loula)

.

.

three of four

-keliling-

.

.

"Kita mau ke mana...?" Sambil berjalan mengikuti ketiga temannya, Pocoyo bertanya.

Elly pun menatapnya dengan senyum. Dia tepuk pelan kepala Pocoyo yang ditutupi oleh topi biru. Gajah betina itu menyuruhnya untuk tenang—dan mengikuti mereka bertiga yang akan mengajak Pocoyo untuk berkeliling.

"Guk! Guk guk!"

Mendadak, Loula menggonggongkan suaranya ketika mereka melewati sebuah pohon.

"Kwek?" Pato bertanya, sedikit bingung dengan reaksi Loula. Kemudian, Loula segera berlari ke sebuah pohon yang berada tak jauh di sampingnya, lalu segera mengadah.

"Zzz..."

Dari dengkuran halus tersebut, Elly pun dapat menyadari dengan cepat kalau di atas pohon itu ada Sleepy Bird yang sedang tertidur.

"Kwek! Kwek kwek kwekk!" Pato tersadar, kemudian bebek kuning itu meneriakinya dari bawah. Seolah-olah menyuruh burung tersebut untuk segera bangun.

Beberapa detik setelahnya, burung bulat itu pun membuka kedua matanya dengan berat. Dari sarangnya yang nyaman, ia lihat ada yang sedang memanggil-manggil dirinya.

"—?"

Burung tersebut memiringkan kepalanya, petanda bahwa ia bingung. Lalu bersama ekspresi yang masih mengantuk, ia mencoba untuk mengepakkan kedua sayapnya dan terbang turun.

Setelah mendaratkan tubuh gempalnya di bawah, burung berbulu biru kehijauan itu bertanya.

Tanpa memedulikan pertanyaan sang burung, Pocoyo langsung didorong maju oleh Elly.

"Guk?"

Ketiga pasang mata milik Elly, Loula dan Pato memerhatikan penampilan Pocoyo. Berharap Pocoyo mengingat sesuatu dari salah satu sahabatnya yang bernama Sleepy Bird itu.

Mata kecil Pocoyo menatapnya dan meneliti setiap bagian dari tubuhnya dengan seksama. Bahkan saking seriusnya berpikir, Pocoyo sampai memicingkan kedua matanya. Sampai akhirnya, ia mengerucutkan bibirnya.

"Maaf... aku tidak mengenalnya..." Dengan lesu, Pocoyo menghela nafas.

Pato menunduk sedih. Untuk menyemangati, Elly langsung menyenggolnya. Kalau Pocoyo diajak menemui yang lain, kan siapa tau ada salah satunya yang ia ingat—seperti niat awal rencananya.

Akhirnya tanpa penjelasan lebih, mereka pun melanjutkan perjalanan, meninggalkan Sleepy Bird yang masih kebingungan. Tapi sepertinya burung tersebut tidak terlalu memikirkannya, karena saat ini ia sudah tertidur lagi di bawah pohon.

.

.

see you

.

.

my note

Ah, gomen kalo chap yang ini kependekkan. Satu chap lagi tamat.

.

.

warm regards,

Pieree...