previously
"Aku... tidak mengenalnya..." Dengan lesu, Pocoyo menghela nafas.
Pato menunduk sedih, tapi Elly langsung menyenggolnya dan menyemangatinya dengan senyuman. Kalau Pocoyo diajak menemui yang lain, siapa tau ada salah satunya yang ia ingat.
Akhirnya tanpa penjelasan lebih lanjut, mereka melanjutkan perjalanan, meninggalkan Sleepy Bird yang masih kebingungan.
.
.
Setelah mereka menggunakan berjam-jam dari waktunya untuk berkeliling, hasil yang didapatkan oleh Pato, Loula dan Elly adalah nihil. Tak ada satupun teman yang diingat oleh Pocoyo di sini. Dimulai dari Butterfly, Baby Bird, Fred, Finbar, bahkan sampai Cartepillar pun tak juga dikenalinya.
Akhirnya tertinggal Pato, Elly dan Loula yang terduduk lemas. Mereka benar-benar lelah, dan sudah tidak mengerti harus berbuat apa untuk menyembuhkan ingatan Pocoyo yang sempat menghilang.
Selang beberapa saat, Elly menjerit sedih. Gajah merah muda itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang besar. Diawali oleh isakan, perlahan-lahan ia menangis. Ia sedih apabila Pocoyo tak akan bisa mengingat mereka selama-lamanya.
Pato pun mencoba menenangkannya, tapi tak bisa. Kedua mata bebek tersebut pun malah ikut berkaca-kaca. Loula pun tertunduk.
Dari kejauhan, Pocoyo menghela nafas. Wajahnya juga ikut murung. Ia turut sedih ketika mendapati ekspresi yang ditampilkan oleh teman-temannya.
Namun, sebuah pemikiran memasuki otak Pocoyo. Sekalipun rencana Pato, Elly dan juga Loula yang berniat menyembuhkannya itu tidak berhasil, mungkin tidak ada salahnya bagi Pocoyo untuk berterima kasih dan turut menyemangati mereka.
.
.
.
POCOYO—REMEMBER—US—!
Pocoyo by Gullermo Garcia Carsi
AR—Alternate Reality
Pieree Present...
(Pocoyo—Pato—Elly—Loula)
.
.
four of four
-pelukan-
.
.
Di sela tangisan mereka bertiga, mendadak ada sesosok balita yang mendekat.
Merasakan adanya sang bayi berpakaian serba biru yang mendatangi mereka, sang bebek, anjing dan juga gajah mengadah. Dilihatnya Pocoyo yang sedang tersenyum manis kepada mereka semua.
"Kalian, jangan nangis..."
"Kweekk..." Pato menyahut sedih. Ia berkata kalau mereka benar-benar menyesal karena tidak bisa membantu Pocoyo.
Pocoyo hanya mengangguk perlahan. Meski ia tidak mengerti kalimat yang dikeluarkan Pato, dari nadanya Pocoyo menyimpulkan adanya penyesalan di sana. "Tidak apa..."
Mereka bertiga pun semakin menangis.
Pocoyo menghela nafasnya perlahan, dan kemudian ia tersenyum lebar.
"Meski saat ini aku hanya sebatas mengingat nama... aku yakin kalau kalian bertiga adalah teman-temanku yang baik hati."
Mendengarnya, tiga pasang mata itu langsung berkaca-kaca.
"Aku sayang kalian..."
"Kweeek!" Pato menjerit sedih. Dia langsung menabrak tubuh Pocoyo, dan memeluknya erat. Pocoyo tertawa senang, lalu balas memeluknya.
Loula menyusul. Anjing tersebut segera memeluk Pocoyo dari samping dan kemudian menjilati pipi tembemnya.
Elly yang masih menangis pun berdiri. Gajah tersebut ingin bergabung memeluk Pocoyo, karena itu ia berlari cepat. Namun karena kesedihan yang meluap-luap, Elly tidak sadar kalau ada batu di depannya.
Kakinya tersandung, dan kemudian...
BRUKH!
"KWEKKKK!"
Pato menjerit histeris saat ia merasakan dirinya tak bisa bernafas—akibat ditiban oleh si gajah. Loula juga ikut mengkaing-kaing kesakitan.
Elly segera merasa bersalah. Dengan raut wajah menyesal, ia meminta maaf ke Pato, Loula dan Pocoyo yang sempat ditindihnya.
Tapi... kenapa tidak ada suara Pocoyo, ya?
"GUK!?" Loula bagaikan menjerit histeris saat menyadari Pocoyo yang masih terbaring. Dan ketika anjing coklat itu membalikkan tubuh Pocoyo, dilihatnya dahi Pocoyo yang membiru.
Elly berteriak horor. Dirinya menjadi semakin merasa bersalah.
Namun, ketika gajah tersebut akan membawa Pocoyo ke sesuatu tempat—yang mungkin untuk bisa merawatnya—Pocoyo sudah terlebih dulu siuman.
Bocah lelaki itu pun menguap pelan—seolah-olah baru bangun tidur. Dan kemudian, ia memandangi satu per satu temannya yang sedang memandangnya lekat-lekat.
"Loula? Elly? Pato? Kenapa wajah kalian terkejut?"
Pato mengerjap pelan. Segeralah ia berlari dan pergi. Setelah beberapa detik terlewat, Pato kembali dengan membawakan ulat hijau bernama Cartepillar—yang tadinya tidak begitu jauh dari mereka.
"Kwek! Kwek kwek?"
"Kenapa Pato menanyakan itu?" Pocoyo kebingungan. "Tentu saja dia Cartepillar."
Elly pun menyentuh Pocoyo, dan kemudian menyentuh dirinya sambil bertanya.
Pocoyo menjawab dengan lancar. "Kamu? Namamu Elly. Masa Elly sendiri lupa?"
"GUK GUK GUK!"
Loula berteriak. Dirinya melompat-lompat. Bukan hanya dia, Elly dan Pato pun terlonjak kesenangan.
Ternyata, benturan di kepala Pocoyo-lah yang telah membuatnya kembali mengingat apa yang sempat dia lupakan.
"Memangnya... ada apa sih?"
Dibiarkan terdiam sendirian—di saat ketiga temannya kegirangan—Pocoyo pun keheranan.
Tapi sepertinya tidak apalah, karena ini sudah menjadi happy ending.
Mungkin Elly, Pato dan Loula akan menceritakan selengkapnya sesaat mereka sedikit lelah.
Dan akhirnya, mereka bertiga pun langsung memeluk—lagi—Pocoyo. Erat.
.
.
the end
.
.
my note
Complete dehh, ahaha. Maaf apabila endingnya kecepetan :))
.
.
warm regards,
Pieree...
