Baiklah, saia akan men-update Chapter 2 nya! Wahh, udah ada yang me-review! Aku senang sekali karena ada yang me-review nya! Arigatouu gozaimasu!
Saia balas ya Review nya disini~
Mai S Alice: Yup, ini bergenre Horror.. XD Ini sudah saia update, arigatouu review nya! :3
Namikaze Kyoko: Sudah saia update.. :3
BerlianaDeceiver0607: Iya, sudah saia lanjutkan.. :3 Nanti aku usahain ada Len x Rin nya.. :3 Arigatouu sudah review!
Yuu Nisshoku: Salam kenal juga Yuu-senpai! :3 Hee? Benarkah? Masih ada kesalahan dalam menulis nya ya? Saia nanti akan usahain bisa menulis dengan benar.. :3 Masih ada Typo ya? Nanti saia usahain tidak ada Typo nya! Arigatouu sudah mau me review nya ya! :3
Okey, kita lansung ke Story nya!
Disclaimer: Vocaloid punya nya Yamaha
Pairing: Len x ..? *Saia belum tau*
Rated: T M ..? (M untuk Gore)
Warning: OOC, Typo(s), aneh, dll.
Summary: "Selamat datang di Dunia Kematian" Jika Kematian menjemputmu, apakah kau mau masuk ke dalamnya atau pergi dari Dunianya dan-
Maaf jika cerita saia sama dengan punya anda, tapi ini cerita murni dari pikiran saia kok..
.
Dunia Kematian
By: Yui Scarlet
.
Chapter 2, Gadis berambut Twintail
"Ayolah, bunuh aku sekarang! Aku sudah tidak kuat lagi," perempuan itu kembali berujar meskipun perutnya sudah ditusuk oleh pisau berkali-kali. Perempuan itu meringis kesakitan. Perempuan itu meminta pengharapan agar segera mengakhiri hidupnya dengan seorang gadis kecil di depannya yang sedang memegang pisau dapur yang penuh dengan darah.
"Benarkah? Kau mau ikut denganku?" tanya gadis kecil itu tersenyum mengerikan kearah perempuan yang kesakitan itu. Perempuan itu menganggukan kepalanya. Gadis kecil itu tertawa dengan sadisnya.
"Baiklah.. Datanglah ke Dunia Kematianku.. Agar kau selalu di sisiku dan selalu menemaniku.." ucap gadis kecil itu mengangkat pisau dapur itu tinggi-tinggi. Lalu, perempuan itu menutup matanya, menunggu ajalnya.
Srek!
Pisau dapur itu menusuk ke kepala perempuan itu. Lalu, gadis kecil itu menusuk berkali-kali di kepala perempuan itu. Darahnya bercipratan sampai terkena rambut gadis kecil, baju dan tangannya dipenuhi dengan noda darah yang dari darah perempuan itu. Gadis kecil itu belum puas. Lalu, mengoyak dan menghancurkan dadanya, sampai jantunya terlihat. Lalu, gadis kecil itu menusuk kearah jantung itu, lalu jantung itu pecah dan mengeluarkan darah yang sangat banyak. Dan lagi, darah itu bercipratan di depan wajahnya yang manis dan mungil itu.
Gadis kecil itu sudah puas. Puas, melampiaskan rasa kesalnya dan bencinya terhadap orang yang dibencinya.
Gadis itu tertawa dengan sangat kencang yang menggemuruh di ruangan yang sepi dan gelap itu.
-OoO-
"Ayo, perkenalkan diri kalian," ucap seorang Guru perempuan yang berambut pendek dengan model rambut Bob, dengan warna rambut coklat itu ke aku dan Rin. Aku menghirup napas dalam-dalam untuk aku percaya diri memperkenalkan diri ku di kelas baruku. Rin sepertinya memberiku untuk memperkenalkan diriku karena Rin hanya diam saja.
"Namaku Kagamine Len! Aku dari Kota Chou dan pindah ke Kota Vocaloid ini. Yoroshiku ne, Minna-san!" ucapku memperkenalkan diriku dengan tersenyum. Aku melihat murid perempuan berteriak karena melihatku tersenyum. Ada yang sampai jatuh ke belakang. Benar-benar aneh. Lalu, giliran Rin.
"Namaku Kagamine Rin. Aku berasal dari Kota yang sama dengan Onii-chan ku. Yoroshiku," ucap Rin memperkenalkan dirinya dengan nada datar dan di wajahnya yang manis itu tidak menampilkan senyuman yang khas. Aku merasa bingung sama Rin hari ini. Biasanya, dia marah denganku tidak segitu nya. Pasti kalau hal memperkenalkan diri pasti dia selalu semangat meskipun dia marah sama aku. Ada apa ya dengan Rin?
"Nah, mereka ini adalah kembar! Mirip 'kan mukanya?" ujar Meiko-sensei sambil tersenyum ramah ke muridnya. Murid-murid memperhatikan aku dan Rin dengan seksama, lalu mereka menganggukan kepalanya. Aku sweatdrop.
"Baiklah kalau begitu, Len dan Rin, kalian bisa kembali ke tempat duduk kalian masing-masing," ucap Meiko-sensei menyuruh aku dan Rin untuk duduk di tempat masing-masing. Aku menganggukan kepalaku, sedangkan Rin hanya terdiam. Aku agak khawatir sama Rin. Dia aneh sekali hari ini.
-OoO-
Sungguh, aku daritadi tidak memperhatikan pelajaran yang dijelaskan Meiko-sensei di depan. Malah, aku sedang termenung. Mataku terus melihat Rin. Rin sedang menatap datar kearah papan tulis. Tidak biasanya dia seperti itu.. Biasanya, kalau di Sekolah dulu, pasti dia selalu tersenyum dan akan bersemangat untuk mengikuti pelajaran. Kalau ini? Hhh, dia hanya diam dan menatap datar. Tak ada senyuman yang menghiasi di wajah manisnya itu. Aku benar-benar bingung. Dan rasa bersalah masih berada di diriku. Apakah, Rin marah besar kepadaku sampai-sampai dia berubah seperti itu? Tetapi, kan tidak segitunya. Pasti dia tetap Semangat dan Tersenyum. Rin.. Ada apa denganmu?
Aku menatap sedih kearah Rin. Rasanya, aku ingin tau kenapa Rin seperti itu.
Aku menatap pasrah dan menghela napasku. Nanti kalau Sekolah sudah usai, aku mau kembali meminta maaf ke Rin.
"Pssssttt," aku mendegar seseorang berbisik kearahku. Lalu, aku menoleh keasal bisikan itu. Aku menemui seorang laki-laki atau perempuan? Ah, aku melihat dia memakai celana, berarti dia laki-laki. Rambutnya yang agak panjang itu berwarna putih dan wajahnya seperti perempuan. Demi apa, baru pertama kali aku bertemu dengan laki-laki dengan wajah perempuan.
"Ada apa?" tanyaku setengah berbisik karena takut ketawan Meiko-sensei yang sedang menjelaskan pelajaran dengan menulis teori di papan tulis. Aku menatap bingung kearah laki-laki itu.
Tiba-tiba, laki-laki itu melempari ku kertas yang sudah diremas menjadi bulat dan mengenai wajahku. Untung saja, aku bisa merendam untuk sedikit mengomelinya karena dia tidak sopan lansung melempariku kertas itu. Laki-laki itu tertawa kecil agar tidak ketawan Meiko-sensei. Aku menatapnya bingung. Aku penasaran sekali dengan isi kertas itu, lalu aku cepat-cepat membacanya.
Istirahat, makan bersama yuk!
Aku sweatdrop melihat pesan itu. Lalu, aku menatap laki-laki itu. Laki-laki itu tersenyum ramah kearahku. Entah kenapa aku membalas senyuman nya itu. Sepertinya dia orang yang ramah. Pasti menyenangkan berteman dengannya. Lalu, aku mengalihkan pandangannya kearah papan tulis agar tidak dicuragai Meiko-sensei yang secara daritadi melihat diriku yang senyum-senyum.
Krrriinggg.. Krrringggg.. Kringggg
Suara bel istirahat pun akhirnya berbunyi. Aku merenggangkan tubuhku yang lelah karena duduk terus. Aku melihat Rin yang cepat-cepat keluar dari kelasnya dengan senyuman ceria menghiasinya. Ah, mudah-mudahan dia sudah ceria dan bersemangat. Aku tersenyum.
"Hai!" sapa seseorang yang memegang pundak kananku. Aku agak sedikit kaget dan lansung melihat kearah orang itu. Ah, laki-laki tadi ya.
"Kau.. Mau mengajakku makan bersama?" tanya aku dengan nada bingung ke laki-laki itu. Laki-laki itu menganggukan kepalanya.
"Aku.. Tidak punya teman makan siang.. Jadinya, aku mencoba untuk makan bersamamu!" ucapnya dengan ceria dan kedua tangannya memegang kotak nasi yang berwarna putih silver itu. Sepertinya, dia tidak punya teman ya? Kalau begitu.. Aku akan berteman dengannya!
"Ah, begitu ya.. Kalau begitu.. Aku mau menemanimu," ucapku yang entah kenapa tersihir perkataannya yang tadi. Aku melihat dia tersenyum dengan lebar.
"Aku kira kamu tidak mau.. Arigatou ne!" ucapnya dengan senyuman yang ramah. Senyumannya, mirip dengan Rin.. Ah, aku jadi teringat Rin yang bersemangat dan tersenyum itu. Aku lansung kembali ke dunia sadarku. Aku membalas senyumannya.
Lalu, aku mengambil bekal yang tadi pagi dimasakkan oleh Rin. Aku sudah tidak sabar memakan masakan Rin. Karena perutku sudah lapar.
"Oh ya, aku punya tempat makan siang yang bagus lho! Pasti kamu suka," ucapnya kekanakan. Aku hanya tersenyum saja. Lalu, dia memberiku isyarat agar aku mengikuti dia. Aku hanya berjalan di belakangnya dan berpikir, tempat apa yang mau dia beri tau aku? Aku sangat penasaran. Entah kenapa aku begini. Ah, sudahlah~ Yang penting aku mau melihat tempat itu.
"U-umm.." laki-laki itu memberhentikan langkahnya, aku pun juga berhenti melangkah dan menghampirinya yang ada di depanku. Aku melihat wajahnya sepertinya gugup.
"Kamu kenapa?" tanyaku bingung dengan sikapnya yang aneh. Dia tersenyum gugup. Membuatku menatapnya aneh kearahnya.
"Umm, maaf, aku ingin buang air kecil.. Tempat makan kita di Taman itu ya! Kamu tunggu aku di bawah Pohon Sakura itu!" ucapnya sambil jari telunjuknya menunjuk kearah Taman yang tertutupi semak-semak. Tapi aku melihat sebuah Pohon Sakura yang besar.
"Oh, yasudah kalau begitu," ucapku kemudian dan lansung menuju tempat Taman itu. Sedangkan laki-laki itu, dia pergi ke Kamar Mandi.
Aku melewati semak-semak itu yang cukup tinggi menyamai tinggi ku. Ah! Di tempat yang ditunjukkan laki-laki temanku itu, ada seseorang yang sedang duduk di bawah Pohon Sakura itu! Aku melihat dari beberapa jarak dari Pohon itu. Ternyata, dia adalah Perempuan? Aku mencoba mendekatinya. Lalu, aku berdiri di sampingnya yang sedang duduk itu. Aku melihat jelas Perempuan itu yang sedang memakan makanannya. Rambutnya panjang dan diikat model Twintail. Aku terus melihatnya sampai angin berhembus kencang dan Petal Sakura itu mengelilingin diantara kami.
Ah, gadis itu menoleh kearahku. Sepertinya dia menyadari keberadaanku yang sedang menatapnya. Aku melihat, wajah Perempuan itu terlihat sedih dan aku melihat di wajahnya ada beberapa luka di wajahnya. Aku terkejut. Dia memiliki wajah yang manis, tapi di pipi nya ada luka goresan yang sepertinya sangat parah. Aku melihat matanya berkaca-kaca. Dan juga, dimulutnya dia mengunyah sebuah makanan.
"Apa? Kenapa kau melihatku?" tanya nya kemudian dan mengalihkan pandangannya dari pandanganku. Lalu, ditangannya ada sebuah Roti, lalu dia makan dan mengunyahnya. Aku menelan ludahku.
"A-ah, ti-tidak kok!" ucapku dengan wajah memerah karena aku malu dan juga bingung kenapa aku tiba-tiba mendekati dirinya. Lalu, aku melihat sekali lagi Perempuan yang di hadapanku ini.
"Nama mu si-"
"L-Len!" ucapan ku terpotong karena ada suara seseorang yang memanggilku. Aku menoleh kearah sumber suara itu. Ah, laki-laki temanku itu! Aku tersenyum kearahnya, tetapi dia menatapku dengan tatapan ketakutan. Eh? Ada apa dengan dia? Kok dia menatapku seperti itu?
"L-Len! Cepatlah kesini!" ucapnya menyuruhku untuk menghampiri dirinya yang jauh dari jarak Pohon Sakura ini. Aku bingung dengan sikapnya, lansung saja aku berlari menghampirinya.
"Ada apa?" tanyaku bingung ke laki-laki ini. Wajahnya ketakutan dan tubuhnya bergetar. A..ada apa i..ini? Perasaanku menjadi tidak enak.
"Ki-kita ma..makannya di Kelas saja ya!" ajaknya dan lansung menarik tanganku tanpa aba-aba.
"E-eh..?" aku kaget dan pasrah tanganku ditarik olehnya. Lalu, aku menoleh kea rah bawah Pohon Sakura itu. Perempuan itu.. Tidak ada? Kemana dia? Aneh sekali, cepat sekali dia perginya.
-OoO-
"Hah, hah.." aku mengatur napasku karena laki-laki temanku itu menarik tanganku dan dia berlari. Dan tentu saja aku harus mengikuti dia lari karena tanganku dipegang olehnya. Aku menatap bingung kearahnya.
"Ada apa?" tanyaku dengan penasaran kearahnya. Dia menatapku dengan masih wajah ketakutan.
"Akan.. Aku ceritakan.." ucapnya kemudian.
Aku mengernyitkan dahi.
.
.
Aku memakan makanan bekal ku dengan lahap, ya perutku sudah lapar sekali daritadi. Ah iya! Aku sampai lupa. Dimana ya Rin? Aku khawatir sekali dengannya. Mungkin, dia bersama dengan Kaito-senpai. Ah sudahlah, Kaito-senpai kan bisa melindungi Rin daripada aku.. Hhh..
"Umm.. Oh ya, aku belum memperkenalkan diriku.. Namaku Piko Utatane, Yoroshiku," ucap Laki-Laki itu yang ternyata bernama Piko Utatane itu tersenyum gugup. Aku membalas senyumannya. Aku akui, Laki-Laki ini aneh sekali sikapnya. Aku sampai bingung dengannya.
"Umm, bisakah kau ceritakan kenapa kau tadi?" tanyaku dengan rasa penasaran yang tinggi. Piko menatapku, kemudian menghela napas.
"Kau tau..?" tanya nya dengan wajah serius. Aku menggelengkan kepalaku. Lalu, wajahnya kembali menjadi serius.
"Gadis itu ditakuti oleh semua orang, bahkan di semua Sekolah ini," ucapan Piko membuatku menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Kenapa? Sepertinya, Perempuan itu terlihat orang yang baik. Dan kenapa dia ditakuti oleh semua orang bahkan seisi Sekolah ini? Aneh sekali.
"Kau tidak percaya ya? Aku berkata serius," ucapnya dengan nada datar. Aku menelan air ludahku. Piko kemudian menarik napas lalu mengeluarkannya.
"Ada beberapa kasus yang mengerikan," aku menatap Piko dengan serius dan dengan penasaran yang amat tinggi.
"Dulu, ada temanku yang bernama Luka. Dia mencoba untuk mendekati Miku, katanya dia kasihan dan ingin berteman dengan Miku karena Miku itu selalu diejek dan di-Bully kadang Miku itu selalu sendirian dan tidak mempunyai teman. Aku juga senang-senang saja saat Luka dan Miku berteman. Tapi.." Piko mengeluarkan air matanya. Aku menelan ludahku lagi, perasaan ku juga makin tidak enak saja.
"Dia meninggal.. Dengan sadis.." ucap Piko yang membuat mataku terbelalak.
"Tidak hanya itu saja.." ucap Piko kemudian. Aku mengernyitkan dahiku. Tidak hanya itu saja? Menyeramkan sekali..
"Ada beberapa teman di kelas ini menghilang. Orang yang mem-bully Miku pun juga ikut menghilang," aku berpikir, menurutku itu bukan Miku yang melakukannya. Pasti ada faktor lain yang menyebabkan orang menghilang.
"Tapi, pernah guru kami panik dengan keadaan ini, lalu guru kami memanggil seorang yang bisa melihat mahluk halus seperti orang Indigo,"
"Lalu?" tanyaku yang sepertinya sudah dapat menebak apa yang akan diberitahu Piko.
"Orang Indigo itu lalu bilang kalau itu ulah Miku Hatsune," aku memalingkan wajahku.
"Miku pernah disuruh untuk keluar dari Sekolah ini, tapi tidak bisa. Orang tua Miku sangat berharap untuk membiarkan Miku sekolah disini.."
"Sebenarnya.. Aku agak takut dengan ceritamu Piko.. Tetapi.. Aku yakin itu bukan ulah Miku.. Miku pasti orang baik kok.." ucapku yang aku yakin itu bukan ulah Miku. Tadi, aku melihat wajah sedih Miku, pasti Miku kesepian karena selalu dibenci oleh semua orang yang ada di Sekolah ini. Pasti sangat sakit menjadi seorang Miku yang dituduh menghilangkan beberapa murid atau orang di Sekolah ini.
Piko memiringkan kepalanya.
"Kenapa, Len?" tanya Piko sambil menatapku sedih.
"Dia.. Tadi aku melihat dia menangis, di Taman itu.." ucapku kemudian bangkit dari tempat dudukku. Piko menatapku dengan tatapan bingung. Lalu aku tersenyum.
"Aku.. Akan mencoba mendekatinya dan akan mencoba untuk berteman dengannya!" ucapku dengan semangat dan tekad untuk berteman dengan Piko. Piko membelalakkan matanya.
"Su-sungguh kamu?" tanya Piko ketakutan. Aku menganggukan kepalaku.
"Tetapi, kamu tetap mau jadi temanku 'Kan?" tanyaku dengan tersenyum dan mengulurkan tanganku ke Piko. Piko tersenyum, lalu menjabat uluranku.
"Tentu saja, Len.." ucap Piko dengan senyuman yang manis.
-OoO-
Huaaaa, saia bingung nih! Pairing nya akan jadi LenxRin atau LenxMiku? Saia bingung nee..
Tapi, nanti saia akan menyelipkan adengan LenxRin nya deh..
Okey, cukup disini dulu ya! Maaf kalau cerita saia jelek dan masih banyak kekurangan.
Oh iya, jangan lupa Review nya ya! Saia tunggu lho Review dari kalian semua!
