Halo Minna-sama! Ketemu lagi dengan saia! Oh ya, di Chapter sebelumnya Chapter 2 ada kesalahan tulisan, soalnya saia buatnya cepat-cepat. Soalnya, adik saia mau pakai Kompie nya.. m(_ _)m
Jadi, pas saia cek lagi, ternyata ada yang salah, mau saia edit takut hilang Chapter nya, soalnya aku tidak tau cara edit.. #Maklum saia kan 'Lola' :3
Bagian ini yang salah,
"Aku.. Akan mencoba mendekatinya dan akan mencoba untuk berteman dengannya!" ucapku dengan semangat dan tekad untuk berteman dengan Piko.
Seharusnya,
"Aku.. Akan mencoba mendekatinya dan akan mencoba untuk berteman dengannya!" ucapku dengan semangat dan tekad untuk berteman dengan Miku.
Nah, baru itu yang benar! Kalau dilihat-lihat agak aneh pas bagian itu yang salah.. XD
Oh iya, aku ingin mengucapkan Terima Kasih banyak kepada kalian semua yang sudah mau membaca Story gaje saia ini, dan juga bagi semua yang sudah Review, saia ucapkan Arigatou Gozaimasu!
Gomenne, catatan saia nya kebanyakan!
Lansung ke Disclaimer saja ya~
Disclaimer: Vocaloid punya nya Yamaha
Pairing: Len x ..? *Saia belum tau*
Rated: T ke M ..? (M untuk Gore)
Warning: OOC, Typo(s), aneh, dll.
Summary: "Selamat datang di Dunia Kematian" Jika Kematian menjemputmu, apakah kau mau masuk ke dalamnya atau pergi dari Dunianya dan-
Maaf jika cerita saia sama dengan punya anda, tapi ini cerita murni dari pikiran saia kok..
.
Dunia Kematian
By: Yui Scarlet
.
Chapter 3, Len's Nightmare
Kringgg.. Kringgg.. Kringgg..
Ah, bel telah usai istirahat sudah bunyi. Waktunya untuk kembali ke tempat duduk ku dan melanjutkan pelajaran hari ini.
Aku bangkit dari tempat duduk Piko. Lalu, aku mengambil kotak nasi ku yang sudah kosong, dan berjalan menuju tempat dudukku.
Aku memegang perutku, aku kenyang sekali. Memang enak sekali masakan Rin! Aku sangat suka masakannya! Ah, kalau tadi aku makan masakan nya Rin, aku jadi ingat Rin..
"Na-na-na-na" aku mendengar senandungan seseorang yang kukenal. Ah, itu Rin! Aku tersenyum, lalu aku menghampirinya saat Rin sudah sampai di tempat duduknya.
"Rin!" panggilku dengan ceria. Rin kemudian wajahnya yang ceria menjadi tanpa ekspresi lagi. Dia mengalihkan pandangannya dari pandanganku. Aku terkejut melihatnya. Aku membelalakkan mataku. Lalu, aku menundukkan kepalaku. Dengan terpaksa, aku kembali ke tempat duduk ku yang paling belakang pojok itu.
Aku duduk di kursi ku, lalu aku melihat kearah keluar jendela yang kebetulan tempat duduk ku dekat dengan Jendela. Aku menatap sedih. Sedih sekali. Aku ingin.. Rin.. Rin.. Ada apa denganmu?
Deg!
Uh, aku.. Mendengar suara detakan Jantung ku sendiri. Kok.. Jantungku berdebar dengan kencang ya? Aneh.. Sekali..
Ngingggg..
Akh, tidak lagi! Kepalaku berdenging lagi! Sakit sekali.. Di kepala belakangku, ukh!
"Datanglah ke Dunia kematianku, Len," Su-suara siapa itu? A-apa itu Dunia Kematian? Apa itu? Sebenarnya apa? Akh, kepalaku semakin sakit!
Mataku berkunang-kunang, pandangan mataku tidak jelas. Ada apa denganku? Kenapa aku jadi seperti ini?
Samar-samar aku melihat Gadis Twintail, tersenyum manis, tapi aku lihat matanya berwarna merah. Wajahnya.. Mirip dengan perempuan yang kutemui di Taman tadi, yang aku tau namanya adalah Miku dari Piko. Tu-tunggu sebentar.. M-Miku?! Tidak mungkin!
"Datanglah, datanglah.. Aku menunggumu.."
Nginggggg
He-hentikan kata-kata itu!
Akh!
"L-Len..!"
-OoO-
Srek.. Srek.. Srek..
"Uh.. Di-dimana ini?" tanyaku pada diri ku sendiri. Aku terbangun dari tidurku karena aku mendengar sebuah suara yang aneh. Aku mencoba bangkit dari tidurku. "Hssst, sakit sekali kepalaku," ucapku sambil memegang kepalaku yang terasa berat dan terasa berdenyut yang makin membuat kepalaku sakit. Mataku tidak bisa melihat dengan jelas. Aku ada dimana? Aku mencoba melihat sekeliling. Tempatnya gelap, dan.. Lembab? Aku lansung merinding saat aku menyadari dimana aku. Dengan ruangan yang nuansanya yang kurasakan , bukan-bukan! Aku bukan diruangan.. Tapi.. Mataku terbelalak. Ada sebuah Salib dimana-mana. Jangan bilang.. Aku ada.. Di.. Ku-kuburan?! Ke-kenapa aku ada disini? Siapa yang membawaku kesini atau apa?
Srek.. Srek.. Srek..
Aku mendengar suara yang aneh, seperti suara tadi yang membuatku terbangun. Tubuhku merinding dan aku ketakutan. Lalu, aku mencoba bangkit lagi, dan akhirnya aku bisa berdiri. Aku mulai menelusuri area Kuburan ini, aku dengan perasaan takut terus berjalan agar aku menemukan jalan keluar. Kabut-kabut dan suara-suara yang menyeramkan membuat nuansa disini begitu angker. Tentu saja! Ini kan di area kuburan!
Hiks.. Hiks.. Hiks
Ah tidak! Suara tangisan! Aku membenci ini. Tapi.. Siapa yang sedang menangis? Jangan bilang, itu bukan manusia yang menangis. Suara tangisan itu terus terdengar di telingaku. Aku berusaha mengikuti suara tangisan itu. Sebenarnya, aku juga penasaran siapa yang menangis itu. Semakin aku mendekat kearah sumber tangisan itu, semakin terdengar dengan kencang di telingaku. Tubuhku terus bergetar. Aku berjalan dengan pelan-pelan, karena aku takut.
Lalu, aku berhenti. Aku berhenti karena ada rumah tua yang kecil di depanku.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Suara tangisan itu, makin menggemuruh. Pasti.. Orang yang menangis itu ada di dalam sini! Ya, disini! Aku mendengar dengan jelas suara tangisan ini! Tapi, jika aku dengar-dengar lagi, suara tangisan ini suara tangisan perempuan. Hhh.. Jangan bilang kalau aku masuk tiba-tiba ada perempuan memakai baju putih dan berambut panjang dan tentunya memiliki wajah yang seram! Jangan bilang itu kepadaku!
Ah.. Tapi.. Aku penasaran juga.. Tapi, aku juga takut! Badanku terus bergetar. Aku berpikir-pikir. Hmm.. Masuk.. Atau tidak? Masuk..? Atau tidak? Ah, masuk saja deh! Daripada aku mati penasaran disini!
Aku membuka kenop pintu rumah itu dengan pelan-pelan, takut nanti tiba-tiba pas aku buka pintu ada perempuan yang menyeramkan dan lalu teriak. Hahh! Sudahlah Len! Jangan pikir yang enggak-enggak! Nanti, aku malah makin takut.
Cklek!
Berhasil.. Ya.. Berhasil! Aku berhasil membuka pintu rumah itu. Tidak ada apa-apa, hanya beberapa perabotan rumah atau seperti di ruang tamu yang sudah rusak. Aku melihat sekeliling. Gelap, tapi tidak terlalu gelap, karena masih ada cahaya lilin. Wait? Ca..cahaya lilin? Siapa yang menyalakannya? Badanku kembali merinding. Aduhh! Ada apa sih ini! Apakah aku harus masuk?
Ah, aku kan cowok! Len ada cowok, bukan cewek! Meskipun banyak yang bilang aku cewek, tapi aku tetap cowok tulen! Eh, kenapa malah ngomongin ginian? Udahlah! Sebagai cowok, harus kuat nyalinya! Gak boleh takut!
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Suara tangisan itu menggema diruangan itu saat aku memasuki rumah kecil itu. Dengan memberanikan diriku dengan menarik napas lalu mengeluarkannya, aku mencoba berjalan pelan-pelan.
"Halo? Ada orang disana?" ucapku sedikit berteriak. Tak ada yang menjawab. Hanya ada tangisan itu yang masih kudengar. Aku menelan air ludahku, aku kembali melangkah dengan pelan-pelan.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Aku melewati sebuah pintu, tapi, saat aku melewati pintu itu, suara tangisan itu makin kencang. Lalu aku berhenti di depan pintu itu. Apakah.. Orang yang menangis itu ada di ruangan ini?
Srek.. Srek.. Srek..
Hiks.. Hiks.. Hiks..
Suara aneh itu dan suara tangisan itu menjadi campur dan membuat makin terkesan seram. Rasanya, aku yang mendengarnya ingin cepat-cepat keluar dari rumah kecil ini, tapi entah kenapa aku tetap berdiri di depan itu dan rasanya tubuhku membeku dan tak mau digerakkan. Rasanya, tubuhku hanya ingin berjalan jika aku membuka pintu ini.
Aku memegang kenop pintunya dengan gemetaran, aku menelan air ludahku. Ketakutan mulai menghantuiku. Uhh.. Rasanya.. Aku.. Mau pergi dari sini.. Tapi.. Aku masih penarasan.. Ah! Aku ingin tetap membuka pintu ini!
Cklek.
Mataku terbelalak. Tidak percaya apa yang kulihat. Belum saja aku masuk ke ruangan itu, tapi aku sudah melihatnya di depan ruangan itu, tepatnya dekat pintu yang tadi kubuka. Tubuhku menjadi bergetar dengan hebat, badanku semuanya bergetar, rasanya ingin aku berteriak.
Dengan pandangan yang ada di depan ku, di depanku. Seketika, tubuhku membeku.
Seorang Perempuan ada di pojok tembok, Perempuan itu terduduk dengan bersimpah darah. Perempuan itu mempunyai berambut panjang yang kulihat samar-samar warna rambutnya Pink. Dengan memakai seragam Sekolah yang sama dengan seragam Sekolah Vocaloid Academy School. Tapi.. Perempuan itu tak bernyawa. Lidahnya menjulur ke depan, watanya sepertinya menangis darah, darah ada di dada nya, di perutnya, dan bahkan di kepalanya. Sepertinya, dia dibunuh dengan cara dicekik dan tubuhnya ditusuk-tusuk menggunakan benda tajam. Bau darah yang anyir itu tercium di Hidungku, aku tak mampu menahan bau darah yang amis. Aku menutup Hidung dan Mulutku dengan kedua tanganku.
Aku berusaha menahan diriku agar aku tidak berteriak. Aku mencoba menahan diri untuk tidak jatuh, atapun pingsan karena melihat yang ada di depanku. Baru pertama kali ini.. A..aku.. Me..melihat pemandangan ini..
Lalu, aku melihat secara samar-samar bahwa matanya yang berwarna Pink itu melihat keatas, dan tiba-tiba matanya melihat kearahku. Aku terkejut. Wajahnya.. Menyeramkan! Dia melihatku dengan melotot dan membuatku semakin ketakutan.
Lalu, aku melihat ada seorang Gadis dengan rambut Twintail. Tapi, aku tidak melihat Gadis itu dengan jelas, karena terlihat samar-samar, karena memang aku masih ada di depan pintu tetapi aku sudah masuk ke dalam tetapi tidak masuk lebih dalam karena aku sangat takut. Gadis Twintail itu memegang pipi Perempuan berambut Panjang Pink itu, lalu aku melihat secara samar-samar bahwa dia menggoreskan pisau di pipi Perempuan itu. Aku kembali menelan air ludahku.
Lalu, Gadis itu memotong leher Perempuan itu. Leher Perempuan itu lepas dan darahnya bercipratan kemana-mana. Bau anyir darah semakin menusuk di Hidungku, aku kembali menutup Hidungku dengan Tanganku. Leher Perempuan berambut panjang Pink itu, tersenyum mengerikan kearahku. Ahh! Leherku tercekat, rasanya ingin berteriak. Berteriak saat melihat Perempuan itu yang kepalanya telah lepas dari tubuhnya, tersenyum mengerikan kearahku, dan lidah nya pun tetap menjulur ke luar.
Gadis Twintail itu mengangkat Pisau besar itu yaitu Pisau Daging. Lalu, samar-samar dia menyeringai.
"Sekarang.. Giliranmu," ucap Gadis Twintail itu yang melangkah menuju kearahku. Aku mundur, takut, keringat jatuh di pelipisku. Nuansa menyeramkan kurasakan. Baru pertama kali aku melihat seperti dan merasakan seperti ini. Jantungku berdetak dengan cepat, napasku tersengal-sengal karena ketakutan, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan diriku karena aku benar-benar ketakutan. Mataku terbelalak melihat Gadis Twintail itu. Tak kusadari aku tersandung dan aku terjatuh. Gadis Twintail itu menyeringai lalu tertawa. Mengangkat Pisau Daging itu tinggi-tinggi. Aku takut, takut! Badanku bergetar dengan hebat, keringat terus jatuh di pelipisku. Ada bulir-bulir bening yang ada di mataku, lalu jatuh. A..aku me..menangis? Aku menangis karena ketakutan? Apa ini? Ke-kenapa aku menangis? Aku ketakutan sampai menangis. Aku menangis terisak-isak. Seseorang tolonglah aku.. Seseorang.. TOLONG AKU!
"Mati kau! Hahahahahahah,"
"AHHHHHHHHH!"
-OoO-
"HUAHHHHHHH!"
"Len?! Kau sudah bangun? Kenapa kau berteriak?"
…E..eh..?
-OoO-
Gomen kalau Chapter ke tiga nya aneh dan juga aku putus sampai disini dulu.. Gomenansai karena aku Update nya agak lama, soalnya aku lagi keasikan main osu! XD #eh?
Oh ya, kalau ada kesalahan tolong dikasih tau ya! Dan juga, kalau Chapter ke-tiga nya aneh dan pendek, maaf! Gomenansai..! Baiklah, cukup disini dulu ya! Saia mau cari ide dulu buat Chapter 4 nya.. XD
Okey, jangan lupa Review nya ya! :3
