Akhirnyaaa! Saia bisa update juga! :3
Gomenne, saia updatenya lama, maklum saia lagi cari ide dulu, heheheheh.. :3
Oh ya, yang sudah Review cerita saja ini, saia sangatt senang sekali! Arigatou yang sudah mau me-review cerita saia!
Baiklah, lansung ke Disclaimer~!
Disclaimer: Vocaloid punya nya Yamaha
Pairing: Len x ..? *Saia belum tau*
Rated: T ke M ..? (M untuk Gore)
Warning: OOC, Typo(s), aneh, dll.
Summary: "Selamat datang di Dunia Kematian" Jika Kematian menjemputmu, apakah kau mau masuk ke dalamnya atau pergi dari Dunianya dan-
Maaf jika cerita saia sama dengan punya anda, tapi ini cerita murni dari pikiran saia kok..
.
Dunia Kematian
By: Yui Scarlet
.
Chapter 4, Sebuah Cermin [Bagian 1]
"HUAHHHHHHH!"
"Len?! Kau sudah bangun? Kenapa kau berteriak?"
…E..eh..?
…E..eh..? Tadi itu.. Hanya mimpi? Tapi.. Kok mimpinya seperti asli dan benar-benar nyata ya? Aku kembali mengingat-ingat mimpi itu, aku.. Melihat seorang Perempuan berambut panjang Pink yang telah mati dengan kepalanya dipenggal oleh Pisau Besar.. Dan itu yang aku lihat seperti benar-benar nyata. Aneh sekali.. Dan juga, bau darah begitu nyata pas aku menghirup bau anyir darah itu. Dan juga.. Siapa ya Perempuan berambut Pink itu? Dan juga.. Siapa yang memenggal Perempuan berambut Pink itu? Gadis Twintail itu.. Siapa ya? Ukh! Aku benar-benar bingung! Membuat kepalaku sakit saja!
"Argghhhh!" aku mengacak-acak rambutku dengan Frustasi. Hhh.. Ada apa sih sebenarnya? Dan oh, oh! Apa itu 'Dunia Kematian'? Waktu aku mau Pingsan dengan masih agak sadar, aku melihat seorang Perempuan berambut Twintail, matanya merah, dan wajahnya mirip Miku. Jangan bilang itu Miku? Tidak mungkin! Tidak mungkin itu Miku! Kalau tidak salah, mata Miku itu kan bewarna Hijau Tosca seperti warna rambutnya! Tidak mungkin itu Miku. Dan juga.. Kalau tidak salah.. Dia berbicara..
"Datanglah ke Dunia kematianku, Len,"
"Datanglah, datanglah.. Aku menunggumu.."
Ada yang aneh dengan kata-kata itu.. Bisakah seseorang beritahu aku apa maksud dari kata-kata itu?
"Len! Syukurlah, kau sudah sadar! Kenapa kau tadi berteriak, Len?" ucap Piko sambil melihatku dengan khawatir, aku mengedipkan mataku. Lalu tersenyum kearahnya.
"Piko..?" panggilku dengan ragu-ragu. Piko menatapku dengan bingung.
"Ada apa, Len?" tanya Piko sambil memiringkan kepalanya. Aku menelan air ludahku.
"Dimana.. Rin..?" tanyaku kepada Piko yang ternyata aku sadar bahwa disampingku tidak ada sosok Perempuan mungil yang manis itu. Piko menggelengkan kepala, membuatku kecewa.
"Humm.. Rin itu kembaranmu kan? Kok dia tidak datang untuk melihatmu ya? Padahal kau tadi Pingsan dan seisi kelas menjadi Panik," ucap Piko sambil menopang dagunya. Aku menghela napas. Aku memijit pelipisku. Rin.. Kenapa kau tidak melihatku disini? Padahal, aku tadi mendadak pingsan karena rasa sakit yang menusuk di Kepalaku, tetapi.. Kenapa? Kenapa kau tidak mau kesini melihatku? Apakah kau marah sampai seperti ini? Apakah kau menghiraukanku dan tidak khawatir padaku? Pertanyaan itu mengelilingi kepalaku. Aku Frustasi karena tingkah Rin yang aneh. Ada apa sih dengannya? Hatiku aku sakit dan hancur. Padahal.. Rin itu kan kembaranku, biasanya jika aku pingsan seperti ini, pasti dia akan khawatir denganku. Tetapi.. Kenapa sekarang dia tidak khawatir denganku? Rasanya.. Aku ingin menangis.. Hatiku perih.. Sakit..
"Len, kau tidak apa-apa?" tanya Piko menatapku khawatir. Ah, aku menatap Piko. Piko, kau seperti menggantikan posisi Rin saja.. Aku menghela napas.
"Aku tidak apa-apa," ucapku sambil menundukkan kepalaku.
"Wajahmu pucat, apakah kau istirahat saja disini? Kalau iya, aku bisa menemanimu disini,"
Aku menatap Piko. Aku rasanya ingin berterima kasih dengannya. Baru saja aku berteman dengannya, dia sudah khawatir denganku. Aku senang, meskipun di hatiku masih sakit karena terus memikirkan tingkah Rin yang benar-benar beda dengan Rin yang kukenal.
"Tidak usah, aku mau kembali ke kelas saja," ucapku bangkit dari tempat tidurku.
"Kamu yakin, Len? Apakah kamu sudah baikan?" tanya Piko sekali lagi untuk mempastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku menganggukan kepalaku. Piko menghela napas.
"Oh, baiklah.." ucapnya kemudian dan bangkit dari duduknya.
"Ayo kita ke Kelas!" ajakku kepada Piko, Piko hanya menganggukan kepalanya dan mengikuti aku keluar dari ruang UKS.
-OoO-
Aku segera duduk di bangku ku karena kaki ku lelah berjalan dan juga entah kenapa tubuhku lemas dan juga rasa sakit di Kepalaku masih terasa. Tapi, aku tetap memaksakan diri untuk kembali ke kelas. Daripada aku di UKS, hanya tidur saja, kan bosan! Masih mendinglah menatap Pelajaran, eh tapi sama saja deh.
Sepertinya wajahku pucat, ya tentu saja. Badanku semakin lemas saja, aku tidak mau Pingsan lagi dan bermimpi tentang itu lagi! Tidak akan!
Hmm.. Mimpi tadi.. Masih tergiang dikepala ku. Pertanyaan memenuhi di pikiranku. Apa sih Dunia Kematian itu? Dan juga.. Siapa Perempuan berambut Pink itu? Hmm.. Ditambah lagi rasa penasaranku, yaitu siapa sih Gadis yang bawa Pisau Besar yang ada di mimpiku itu? Wajahnya mengerikan saat dia membunuh Perempuan berambut Pink itu dan juga aku! Shhh, aku jadi ngeri saat kembali mengingat kejadian Mimpiku itu.
Entah kenapa, pertanyaan siapa Perempuan berambut Pink itu, siapa Gadis Twintail itu dan apa itu Dunia Kematian, pertanyaan itu mengelilingi pikiranku. Dan juga, aku penasaran dengan jawaban itu. Dan satu hal lagi, kenapa aku harus memimpikan itu?
Hhh.. Sudahlah, lupakan dulu saja Mimpi itu dan Pertanyaan yang ada di pikiranku. Membuat kepala ku makin sakit saja.
Oh iya, Rin.. Dimana ya? Kok dia tidak ada di Bangku nya? Hmm.. Mungkin dia ke Kamar Mandi.
Aku menaruh tanganku di bawah kolong Meja.
…E..ehh..?
Aku segera meraih sebuah benda yang kurasakan di tanganku saat aku menaruh tanganku di Kolong meja itu. Sebuah.. Cermin? Cermin siapa ini? Kok bisa ada di Kolong mejaku ya? Ah, mungkin anak Perempuan yang mungkin saat aku di UKS, tempat dudukku dijadikan tempat dandanan oleh mereka, karena memang tempat duduk ku paling Pojok. Mungkin ini ketinggalan Cerminnya. Tapi.. Ada yang beda.. Bentuk dan hiasan Cermin ini.. Humm..
Cermin bulat, yang biasa-biasa saja, tapi bentuk dan hiasannya seperti.. Model lama. Dengan Pita besar berwarna Merah Darah menghiasi di sisi Cermin, dan pegangan Cerminnya bermotif bunga Mawar yang berwarna Merah, yang cocok dengan Pita nya. Hmm.. Bagus juga Cermin ini, aku bawa pulang saja ah buat koleksi (Eh?)
Lalu, diam-diam aku memasukkan Cermin itu ke dalam tas ku. Tentu saja, agar tidak ada yang tau. Kalau ada yang tau, pasti mereka bilang aku Banci. Akhirnya aku sudah memasukkan Cermin itu ke dalam tasku.
Aku ingin membawa Cermin itu karena Cermin itu bagus. Sepertinya itu seperti Hiasan melainkan sebuah Cermin. Aku tersenyum sendiri membayangkan Cermin itu. Ada sesuatu yang aneh padaku.. Entahlah.. Aku tidak terlalu memikirkannya.
-OoO-
Kringgg.. Kringgg.. Kringgg
Bel pulang pun telah berbunyi. Semua murid-murid membereskan buku dan alat tulis mereka di tas mereka masing-masing, dan segera mendesak untuk keluar kelas dan ingin cepat-cepat pulang karena rasa capek dan lelah di tubuh mereka. Begitu juga denganku. Karena gara-gara pingsan tadi membuat tubuhku menjadi lemas, jadi ingin cepat-cepat pulang.
"Ah, akhirnya! Pulang juga," ucapku sambil merenggangkan badanku karena lelah. Ah, baru saja masuk Sekolah baru, hari ini sudah ada pelajaran Matematika! Sial! Hhh, aku menghela napas karena lelah dan ingin cepat-cepat untuk pulang ke Rumah.
Aku membereskan peralatan belajarku tadi seperti Buku dan Alat tulis di tas ku, lalu menggendongkan tas ransel itu ke punggungku. Lalu aku menghampiri Rin yang sedang membereskan buku pelajarannya ke tas ranselnya. Aku tersenyum kearahnya.
"Sudah siap pulang, Rin?" tanyaku lembut dan tersenyum kearahnya.
"Hn," ucap Rin singkat yang masih tanpa ekspresi itu. Dan dia tidak melihat sedikit pun kearahku. Matanya masih sibuk melihat kearah buku yang dibereskannya. Aku kecewa, ternyata Rin masih dengan sikapnya itu, aku kira dia sudah kembali ceria saat aku melihat dia tadi waktu keluar kelas waktu istirahat. Ternyata tidak. Aku menundukkan kepalaku.
"Len, pulang bersama yuk?" ucap seseorang yang ku kenal, aku menoleh kearah suara itu. Ternyata Piko. Aku tersenyum.
"Baiklah! Ayo, kita pulang bersama-sama, 'kan lebih seru! Ya 'kan Rin?" ucapku bersemangat kepada Rin. Rin tampaknya menghiraukanku, lalu dia lansung berjalan sambil mendorong ku. Aku kaget dengan perlakuan Rin.
"R-Rin..?" tanyaku lirih, Rin menatapku sebentar, aku melihat matanya. Matanya. Aneh sekali. Lalu, dia membalikkan badannya lagi dan lansung berjalan meninggalkan aku. Aku terkejut dengan perilaku Rin. Rin.. Hari ini aneh! Aneh!
"L-Len? Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Piko sambil memegang pundakku. Aku menatap Piko sedih, lalu tersenyum tipis.
"Ya, aku baik-baik saja.." ucapku sambil menundukkan kepalaku karena memang aku benar-benar khawatir sama Rin.
"Rin Kok begitu ya..?" tanya Piko bingung.
"Entahlah," ucapku lalu aku berjalan keluar kelas. Piko mengikutiku dari belakang.
Rin.. Ada.. Apa denganmu..?
.
.
"Ah, ternyata kita beda arah ya?" tanya Piko cemberut saat mengetahui bahwa aku pulang melewati arah kanan, sedangkan dia kearah kiri. Aku tersenyum kecil.
"Iya.. Kalau begitu, kita berpisah sampai disini saja ya.." ucapku lalu melambaikan tangan kearah Piko. Piko membalas lambaian ku dan pulang kearah kiri. Aku berpisah di depan Sekolah ini. Dan kami pun saling memunggungi dan lalu berjalan.
Di perjalanan pulang, aku memikirkan Rin. Ya, memikirkan Rin. Rin itu hari ini aneh sekali. Kenapa ya? Aku bingung sendiri dengan tingkahnya. Jika dekat dengan Kaito-senpai seperti tadi, dia menjadi ceria dan semangat, sedangkan dekat denganku, dia memasang wajah tanpa ekspresi dan selalu menghiraukan aku. Hhh.. Aku benar-benar merasa bersalah karena kejadian yang tadi pagi..
Ah iya. Dimana ya Rin? Kok dia cepat sekali sampai di Rumah? Padahal kan, jarak antara Rumahku dengan Sekolah lumayan jauh. Hmm.. Aneh.. Ah, palingan dia jalan-jalan dulu sama Kaito-senpai. Biarlah, yang penting Rin baik-baik saja.
Deg!
"Ah?" aku merasakan detak jantung ku sendiri. Ke..kenapa.. Ya? Seperti di Kelas tadi. Apakah.. Jangan-jangan ada sesuatu?
Eh? Ada seseorang yang berjalan mendahuluiku. Gadis berambut Twintail dengan warna Hijau Tosca.. Ah! Itu Miku!
Aku segera berlari menghampiri Miku, lalu, aku memegang pundak Miku.
"Mi-Miku!" ucapku dan lansung berhenti, Miku pun ikut berhenti. Ah, aku sadar bahwa tanganku memegang pundaknya Miku. Wajahku memerah. Lalu, aku lansung melepaskan tanganku dari pundak Miku. Miku menatapku.
"Ada.. Apa?" tanya nya datar. Entah kenapa, suasana saat dia berbicara seakan tiba-tiba tubuhku dingin dan terkesan menyeramkan. Aku tersontak dan lansung agak menjauhinya karena ada perasaan aneh. Miku menatapku sebentar, lalu dia kembali berjalan. Aku hanya diam menatap punggungnya yang lama-lama menghilang karena jarak aku dan Miku sudah jauh. Ukh, entah kenapa.. Tadi saat aku melihat Miku dan saat dia berbicara.. Entah kenapa suasan menjadi mencekam dan juga menjadi terkesan menyeramkan. Sampai-sampai tubuhku menjadi dingin dan aku sedikit menjauhinya.. Aneh.. Sekali..
Aku kembali melanjutkan berjalan ku menuju Rumahku.
.
.
"Tadaima," ucapku saat aku membuka pintu rumahku. Sepi. Mungkin Rin belum sampai di Rumahnya. Mudah-mudahan Rin cepat pulangnya. Aku sudah benar-benar khawatir di sepanjang jalan tadi. Aku membuka sepatuku, lalu menaruhnya di Rak sepatu dengan Pintu Rumahku. Lalu, aku menutup Pintuku. Aku segera naik ke tangga menuju kamarku yang ada di lantai atas. Aku segera masuk ke kamar ku, lalu menutupnya dengan kencang. Aku benar-benar marah! Marah! Aku marah sama Rink arena sifatnya yang aneh itu! Aku sudah mulai kesal dengan sifatnya itu. Yang seolah-olah menghiraukan aku dan bersikap dingin, memang aku sangat sedih Rin melakukan semuanya itu padaku, tapi lama-lama aku kesal juga dengan sikap marahnya padaku yang berlebihan! Tentu saja!
Aku mengacak-acak rambut Honey Blonde ku, lalu aku merebahkan badanku di atas kasurku. Hhh, entah kenapa.. Rasanya.. Ingin sekali aku bunuh Rin! Ah, Len! Kau tidak boleh bilang seperti itu! Rin adalah kembaranku yang sangat aku sayangi, hanya dialah satu-satunya keluargaku! Ayah dan Ibu telah meninggalkan aku dan Rin! Dan aku harus melindungi Rin, bukan membunuhnya! Len, berpikirlah dengan jernih!
"Akh!" aku pun sudah kesal, benar-benar kesal.
Ah iya, aku lupa. Cermin itu.. Aku mengambil Tas ku, lalu aku membuka tas ku, tanganku meraih sebuah Cermin yang indah itu. Lalu, aku melihatnya.
Di cermin itu, ada bayanganku. Ya, bayanganku. Aku tertawa sendiri. Entah kenapa lucu aku melihat wajah ini. Entah kenapa.. Aku terpesona dengan Cermin ini.
Ngingggg..
Ahhh! Badanku.. Kenapa.. Menjadi.. Dingin? Dan udara di kamar tidurku mendadak menjadi dingin? Padahal, aku tidak menyalakan AC. Dan juga.. Suasananya menjadi mencekam dan menjadi menyeramkan. Apakah ada Mahluk Halus di dalam kamar ku? Aku menjadi merinding, ketakutan mulai memenuhi pikiranku. Aku menelan air ludahku.
"Ahhhhh!" tiba-tiba aku memecahkan Cermin itu. Tadi.. Ya, tadi! Ada banyangan anak kecil, ya, anak kecil! Dengan darah di tubuhnya, dan wajahnya yang menyeramkan dan menyeringai. Aku ketakutan. Aku mau keluar! Keluar! Aku takut!
Aku segera beranjak dari tempat tidurku menuju pintu kamarku.
Glek!
Entah ini mimpi atau bukan, aku melihat sesosok anak kecil yang tadi kulihat di cermin. Aku mundur ketakutan. Keringat jatuh di pelipisku. Lidahku bergetar. Badanku jadi panas dingin. Karena melihat sesosok anak kecil yang ada di hadapanku ini.
Anak kecil itu memakai baju sekolah anak TK, dengan cermin yang tadi kupecahkan ada di tangan kanannya. Rambut anak kecil itu Hitam, rambutnya diikat dua kebawah, dengan ikat rambut berbentuk buah Ceri. Tapi.. Wajah anak kecil itu.. Penuh darah, mata kiri nya hilang, mulutnya mengeluarkan darah dan air liur, tubuh nya lecet, Perut anak kecil itu terbuka dan menampilkan usus yang sudah tidak teratur bentuknya, dan yang paling menjijikkan ada belatung di perut anak kecil itu yang menampilkan usus yang sepertinya sudah busuk. Wajah anak kecil itu sudah tidak terbentuk. Darah dimana-mana, di wajahnya dan ditubuhnya.
Bau, itulah yang kucium dari hidungku. Bau busuk yang sangat busuk aku cium menusuk hidungku. Seketika aku muntah karena tidak tahan dengan baunya. Dan, setelah aku muntah, aku menutup hidung dan mulutku dengan tanganku. Anak kecil itu menghampiriku dengan perlahan-lahan. Tubuhku membeku saat anak kecil itu menghampiriku.
"Ma-mau apa kau! Pe-pergi!" ucapku ketakutan. Anak kecil itu hanya tersenyum kecil lalu berubah menjadi menyeringai. Bau busuk itu makin menyengat di hidungku. Aku benar-benar tidak tahan dengan bau itu.
"Ikut aku, Len-nii, ke Dunia Kematian!" ucap anak kecil itu dengan suara yang menyeramkan. Badanku makin bergetar. Tak terkendali karena terlalu ketakutan. Apa lagi Dunia Kematian? Apa lagi itu! Aku sama sekali tidak mengerti! Pergilah! Jangan ganggu aku! Aku tidak mau ke Dunia Kematian! Pergilah!
"AHHHHHHHHHHHH" anak kecil itu berteriak dengan sangat keras.
Ugh!
Seketika, tubuhku menjadi lemas dan lemah, lalu aku menutup mataku.
Ada.. Apa.. Sebenarnya..?
-oOo-
Yup, akhirnya saia update juga! Gomenansai, saia update nya lama. Soalnya, otak saia mau refresing dulu sekalian mau cari ide nya.. Gomenne kalau ceritanya agak aneh.. Saya putus dulu sampai sini, karena saia mau buat kalian penasaran! #Plakkk!
Cerita selanjutnya akan ada di Chapter selanjutnya! Jangan lupa baca ya! :3
Baiklah, jangan lupa Review dari kalian ya! :3
Arigatou Gozaimasu!
