Huuuaaaaaa! Gomenansai Minna-sama! Saia update nya lamaaaaaa sekali! Gomenansai! *bow*
Huuueeee, saia udah lama banget gak update ni Fanfic sampai berdebu.. Sekali lagi Gomenansaii~!

Oh ya, saia ingin bilang terima kasih kepada kalian yang masih mau membaca Fanfic ini..! Dan juga me review nya..! *nebar" bunga*

Sekali lagi saia minta maaf ya!

Ah, kita lansung aja ke Story~!

Disclaimer: Vocaloid punya nya Yamaha
Pairing: Len x ..? *Saia belum tau*
Rated: T ke M ..? (M untuk Gore)
Warning: OOC, Typo(s), aneh, dll.

Summary: "Selamat datang di Dunia Kematian" Jika Kematian menjemputmu, apakah kau mau masuk ke dalamnya atau pergi dari Dunianya dan-

Maaf jika cerita saia sama dengan punya anda, tapi ini cerita murni dari pikiran saia kok..

.

Dunia Kematian

By: Yui Scarlet

.

Chapter 5, Sebuah Cermin [Bagian 2]

"Ibu!" panggil seorang Gadis Kecil yang manis sedang membawa sesuatu di tangan mungilnya, sebuah Cermin. Gadis kecil itu berlari-lari kecil untuk menemui Ibu tersayang di kamarnya. Gadis kecil itu tak henti-henti nya memanggil nama Ibu nya. Gadis kecil itu menyunggingkan senyuman manis di bibir kecilnya itu. Ah, gadis kecil itu akhirnya sudah berada di depan kamar tidur Ibu nya. Tangan kecil nya meraih kenop pintu, lalu memutarnya dan pintu terbuka. Gadis kecil itu masuk sambil memanggil Ibu nya.

"Ibu!" panggilnya lagi dan dia mendekati sang Ibu yang sedang terbaring lemas di Kasurnya. Gadis kecil itu kembali tersenyum dan memanggil Ibu nya.

"Apa yang kau lakukan disini? Cepat keluar dari kamarku!" ucap Ibu nya membentak gadis kecil itu. Gadis kecil itu agak kecewa, namun dia kembali tersenyum. Lalu, dia memberikan Cermin itu yang ada di tangan nya ke Ibu nya.

"Ibu.. Aku ingin sekali memberikan Ibu Cermin ini!" ucap gadis kecil itu ceria dan menunjukkan Cermin yang bisa dikatakan sederhana, tapi bagus untuk dilihat. Dengan Pita Besar berwarna Merah Darah di sisi Cerminnya, lalu pegangan Cermin nya bermotif bunga Mawar Merah. Gadis kecil itu berharap bahwa Ibu nya mau menerima Cerminnya. Ternyata..

"Pergi kau dari kamarku! Aku tak mau melihat wajahmu disini! Cepat pergi! Aku tak butuh Cermin itu! Pergi!" ucap Ibu nya marah lalu melemparkan bantal ke gadis kecil itu. Gadis kecil itu jatuh lalu, gadis kecil itu kesakitan. Gadis kecil itu menahan air matanya.

"Ma..maaf Ibu.. Ka-kalau aku me..menggangu, Ibu.." ucapnya lirih dan berusaha menahan air matanya yang akan keluar. Tapi, sang Ibu tidak merasa kasihan sama sekali kepada gadis kecil itu, malah, Ibu nya melemparkan bantal lagi kearah gadis kecil itu dengan keras.

"PERGI KAU!" ucap Ibu nya marah tak terkendali, Gadis kecil itu bangkit dari jatuhnya, lalu pergi dari kamar Ibu nya dengan berlari-lari. Lalu, bulir-bulir bening mulai terlihat di mata Coklat milik sang Gadis tersebut.

-OoO-

Tik.. Tok.. Tik.. Tok..

"Bangunlah, Len-nii.."

"Arrrgghhhh!" aku terbangun. Lalu, aku mengacak-acak rambutku. Napasku terengah-engah, jantungku berdegup dengan kencang. Badanku gemetar, pikiranku kacau.

"A-apakah i..itu.. Mimpi..?" tanyaku pada diri ku sendiri. Gadis kecil yang menyeramkan itu.. Akh! Aku tak mengerti ini semua! Kenapa harus ada kejadian itu lagi? Bertemu dengan mahluk yang menyeramkan! Akh! Menyebalkan! Aku memijit pelipisku. Pusing aku memikirkannya. Dan juga, Dunia Kematian.. Tempat apa itu? Aku sama sekali tidak mengerti itu!

"Hiks.." aku mendengar suara tangisan perempuan. Oh, jangan bilang seperti mimpi tadi waktu aku pingsan di Sekolah! Aku tidak mau melihat wajah yang menyeramkan itu dan membuatku ketakutan sampai menangis! Ayolah, aku benci ini!

"Ke-kenapa ya.. Hiks.." tunggu sebentar! Ini menangis nya sambil berbicara. Oh, mungkin mahluk itu bisa berbicara! Ya, pasti bisa berbicara! Aku memperhatikan baik-baik tangisan itu. Entah kenapa aku merasa kasihan dengan suara tangisan itu. Lalu, aku mencari asal suara tangisan itu. Aku mendengar suara tangisan itu dibalik semak dimana aku sedang berada mungkin di antara semak-semak. Aku membuka semak-semak yang menghalangiku dengan kedua tanganku. Lalu, aku terkejut.

Seorang Perempuan kecil sedang memeluk lututnya sambil menangis. Aku kasihan dengan anak kecil itu. Tangannya yang mungil itu memegang sebuah Cermin yang sangat tidak asing.. Cermin itu..

Ukh!

Aku memegang dadaku. Uhh, kenapa dadaku tiba-tiba sakit ya? Sakit sekali.. Sakitnya memenuhi ruang dadaku. Aku kembali melihat cermin yang ada di tangan anak itu. Cermin itu.. Cermin yang aku temukan di kolong meja ku. Aku sekarang ingat dan bentuk Cermin itu.. Akhhh! Cermin itu!

Aku mundur beberapa langkah. Lalu, anak kecil itu menoleh kearahku, tapi.. Bola matanya tidak melihat kearahku. Aneh. Aku mencoba mengikuti arah pandangan anak kecil itu. Ah, ternyata ke sebuah bunga Mawar merah yang berada di sampingku. Lalu, dia bangkit dari duduknya dan mengambil Bunga itu. Lalu, dia dekatkan bunga Mawar itu ke hidungnya, lalu mencium aroma bunga Mawar itu.

Tapi.. Kok aneh ya? Dia tidak mengetahui ku? Maksudnya.. Apakah.. Dia tidak mengetahui kehadiranku? Aku memperhatikan secara saksama penampilan anak kecil itu.

Degh!

Anak kecil itu.. Mirip dengan..!

Aku lansung mundur dan aku terjatuh kebelakang. Mataku terbelalak. Anak kecil itu.. Mirip dengan.. Anak kecil yang ada di kamarku dan kutemui di kamarku! Ta..tapi, ke..kenapa dia ada disini..?!

Aku menatap kaget dan aku membelalakkan mataku. Ada apa ini sebenarnya? Aku tidak mengerti sama sekali!

Ukh, kepalaku sakit saat aku mengingat itu semua. Ah sudahlah, aku tidak usah mengingat itu semua. Yang terpenting aku harus tau mengapa aku ada disini dan bertemu dengan Gadis yang.. Menyeramkan itu..

"Hiks.. Ibu.." aku mendengarkan isakan tangisan gadis kecil itu, air matanya jatuh dan membasahi bunga mawar merah yang berada di tangan mungilnya. Aku, jadi kasihannya dengannya. Dia kenapa ya menangis..?

"Len-nii.. Aku tau kau ada disana,"

Degh!

Tubuhku bergetar, mataku terbelalak melihat gadis kecil yang berada di depanku ini. Kukira dia tidak bisa melihatku.. Te..ternyata.. Di..dia bisa melihatku!

"Ke..kenapa.." bibirku bergetar ketakutan. Aku melihat gadis kecil itu tersenyum kearahku, tapi senyumannya terlihat mengerikan. Wajah gadis kecil itu tidak buruk rupa seperti yang kulihat dikamarku, dan juga baju nya tidak ada darah sama sekali, gadis kecil itu seperti gadis kecil biasanya. Berbeda sekali yang kulihat di kamarku. Sebenarnya.. Siapa sih dia..? Apakah.. Ada hubungan cerita tentang anak kecil itu..?

"Len-nii.. Aku akan memberitau sesuatu tentang Dunia Kematian.. Sekarang.. Kau sudah ada di dunia itu.." gadis kecil itu berkata dengan datar, seketika wajahnya yang imut itu berubah menjadi wajah yang menyeramkan, wajahnya seperti yang kutemui di kamarku! Wajahnya penuh dengan darah, sama seperti yang kutemui di kamar.. Aku juga mencium bau busuk itu lagi. Aku menutup hidung dan mulutku dengan kedua tanganku. Aku mundur dari tubuh gadis kecil itu. Lalu, gadis kecil itu menyeringai.

"Selamat datang.. Len-nii.. Kau tidak akan bisa pergi dari dunia ini, tidak akan.."

Ngiinggggg..

Ukh! Saat aku mendengar ucapan gadis kecil itu tentang Dunia Kematian itu, seketika kepalaku berdenging lagi dan kepala ku makin sakit. Pandangan mataku gelap.. Semuanya.. Gelap..

Aku.. Ada di Dunia Kematian..? Apa maksudnya itu? Aku tidak bisa pergi.. Dari dunia itu.. Mungkinkah.. Aku terikat dengan semacam itu..?

-OoO-

"Rin..?" entah apa yang kulihat, aku melihat sesuatu di depanku. Ya, seorang perempuan berambut pendek sebahu, dengan warna rambutnya Honey Blonde, sama seperti ku. Tapi, aku melihat perempuan itu hanya punggungnya karena dia membelakangiku. Tapi.. Itu mirip dengan kembaranku sendiri, Rin.

"Rin..!" aku berusaha menggapai Rin, tapi entah kenapa, semakin aku berjalan mendekati Rin, semakin jauh Rin dari hadapanku.

"Nii-chan.. Tolong.. Aku.." ucap Rin yang kudengar secara samar-samar. Dari nada bicaranya terdengar seperti orang menangis.

"RIN..!"

Seketika, semuanya menjadi gelap. Seiring Rin yang menghilang dari hadapanku.

-OoO-

Akh!

Aku membuka mataku dengan cepat. Keringatku mengucur dengan deras. Napasku terengah-engah. Rin.. Rin.. Dia dalam keadaan bahaya! A..aku harus menolongnya!

"Rin.." ucapku lirih, kemudian ada sesuatu yang menyentuh di pundakku.

"Len-nii.. Akan kuceritakan sesuatu kepadamu," suara ini.. Suara anak kecil tadi..! Aku tersontak dan lansung mendorong anak kecil itu. Rasa amarah kembali memuncak. Darahku serasa naik ke kepalaku.

"HENTIKAN..! JIKA KAU SUKA MEMAINKAN AKU, AKU MOHON.. Jangan libatkan Rin!" ucapku dengan marah. Aku menatap tajam kearah gadis kecil itu. Gadis kecil itu tersenyum menyeringai.

"Bukan aku.. Tapi.. Memang kakak perempuan berambut Honey Blonde itu sudah terjebak, tau.." ucapnya dengan tertawa. Amarahku kembali memuncak, lalu, aku menendang tubuh anak kecil itu dengan keras. Aku tak bisa menahan ini semuanya..!

Gadis kecil itu nampaknya kesakitan, darah keluar dari mulutnya yang mungil, lalu kembali tersenyum menyeringai.

"Aku suka Len-nii.. Karena sifat Len-nii yang selalu diincar oleh mereka yang di Dunia Kematian,"

…Hah..? A..apa ma..maksudnya..?!

Seketika, emosi ku hilang. Takut yang sekarang menghantuiku.. A..apa.. Ma..maksudnya..!

"A..aku.. Ti..tidak me..mengerti a..apa yang kau ma..maksud.." ucapku bergetar dan mataku terbelalak melihat gadis kecil itu. Gadis kecil itu tertawa.

"Len-nii akan mengetahui sendiri," ucapnya dengan datar lalu menjitlat tangannya yang penuh darah. Tubuhku bergetar. Apa maksudnya ini? APA MAKSUDNYA..!

Aku tidak mengerti sama sekali.. Aku mohon.. Hentikan ini semua..!

"Sekarang, aku akan memberitahu Len-nii.. Tentang penderitaan di Dunia Kematian.."

Glek!

Pranggggg!

Hah..? Pemandangan dimata ku berubah. Dari yang aku hanya melihat gadis kecil sekarang aku melihat sebuah pecahan piring yang dibanting. Yang membanting piring itu ada seorang Ibu tua yang sepertinya tubuhnya lemas, melemparkan piring ke gadis kecil yang sangat kukenal. Siapa gadis kecil itu..? Gadis kecil yang memberitahu aku tentang Dunia Kematian dan muncul secara tiba-tiba di Kamarku. Tetapi, Gadis kecil itu berbeda dengan Gadis kecil yang biasanya kutemui. Dia seperti gadis kecil biasa seperti gadis kecil lainnya. Berbeda yang kulihat di kamar.

Aku melihat gadis kecil itu memeluk tubuhnya dan sepertinya menahan rasa sakit di tubuhnya karena pecahan piring itu menggores kulit putihnya.

"AKU TIDAK MAU MAKAN BODOH! KALAU AKU TIDAK MAU, TIDAK USAH PAKSA AKU..!" teriak Ibu itu dengan kencang dan memarahi gadis kecil itu. Apakah, Ibu itu Ibu nya gadis kecil itu?

"Ta..tapi, ka..kalau i..ibu ti..tidak makan, na..nanti i..ibu tidak a..akan sembuh.." ucap Gadis kecil itu dengan ketakutan dan aku mendengar isakan tangisannya. Aku hanya diam melihat itu semua. Ya, aku tau pasti ini hanya Fatamorgana yang nyata.

Aku agak sedikit kesal dengan tingkah Ibu nya itu. Kenapa dia harus memarahi Gadis kecil itu? Padahal kan Gadis kecil itu punya niat baik memberinya makanan.

Nasi terserak kemana-mana di tubuh Gadis kecil itu. Darah mulai membasahi lengannya karena luka itu sangat besar dan banyak darah keluar. Gadis kecil itu menangis, dia terisak-isak. Sementara ibu nya membentak dia dan menendang tubuhnya dengan keras. Kejadian itu.. Mengingat ku akan sesuatu.. Tapi.. Apa ya..?

"MATI KAU, YUKI!" ucap Ibu nya sambil tertawa, lalu mengambil sebuah Pisau terdekat, lalu menusukkan Pisau itu di mata kiri Gadis kecil itu.

Sraaakkkk!

"AHHHHHHHHH!" gadis kecil itu berteriak dengan keras. Matanya yang ditusuk pisau itu mengeluarkan darah banyak. Air mata gadis itu makin deras. Aku yang melihatnya itu memalingkan wajahku. Tak bisa melihat itu semua. Ke..kenapa..? KENAPA IBU NYA ITU MENUSUKKAN PISAU ITU KE MATA GADIS KECIL ITU!

"AHHHHHHHH! SAKIT, SAKIT!" aku menutup telingaku. Tidak tahan mendengar teriakan gadis kecil itu yang sangat sangat kesakitan. Aku mohon.. Hentikan..!

"AKU LEBIH SAKIT DARI MU, YUKI BODOH…!" lalu, Ibu nya menendang tubuh Gadis kecil itu sampai gadis kecil itu itu terjatuh dan makin menangis dengan sangat keras. Kulihat tubuhnya bergetar, matanya yang sebelah kanan membelalak dengan sangat besar. Pisau itu masih menancap di mata kiri gadis kecil itu.

"AHHHHHHHHHHHHHHH…!"

AKU MOHON HENTIKAN..! Ugh! Aku menangis, melihat pemandangan yang baru saja aku lihat. Kenapa? Kenapa Ibu itu sangat kejam sekali dengan Gadis kecil itu?! Pa..padahal.. Gadis kecil itu punya Niat baik memberinya makanan dan supaya agar Ibu nya sembuh! Padahal.. Sepertinya.. Gadis kecil itu sangat menyayangi Ibunya! Tapi kenapa Ibu nya seperti itu..!

Bruk!

Ah! Pemandangaku ini berbeda dengan Pemandangan yang menyakitkan yang kulihat tadi. Sekarang, aku melihat Gadis kecil itu mata kiri nya ditutup oleh perban. Dan kulihat, Gadis kecil itu membawa bunga Mawar merah dan sebuah Cermin itu di tangan mungilnya. Aku berpikir, kenapa Gadis kecil itu tidak habis-habisnya berbaik hati kepada Ibu nya yang jahat itu, padahal, Ibu nya sepertinya tidak suka dengannya. Hhh.. Sayang anak kepada Ibu.. Bukan Ibu sayang kepada anaknya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku berada di sebuah Kamar. Aku melihat ada seseorang sosok yang sangat aku kenali, seorang Ibu, dan itulah Ibu gadis kecil tadi! Oh ya, sudahlah kalau tidak salah nama gadis kecil itu Yuki. Aku akan memanggilnya Yuki..!

Seketika, aku melihat Yuki yang membawa mawar merah dan cermin itu di tangan mungilnya, di wajahnya, sebuah senyuman polos terlukis di wajahnya yang imut. Aku berpikir sejenak.. Padahal.. Ibu nya sudah sangat kejam sekali dengannya.. Memukulinya dengan piring, menendang nya dan yang paling tragis adalah.. Menusukkan sebuah pisau ke mata kiri anaknya sendiri. Aku tau, mata kiri Yuki buta, tapi Yuki sepertinya sudah memaafkan Ibu nya itu dengan mudah. Kalau aku ada di Posisinya, aku akan membunuh Ibu nya terlebih dahulu meskipun itu menyakitkan. Aku tau, pasti Yuki sangat menyayangi Ibu nya, meskipun Ibu nya membencinya. Tapi ngomong-ngomong.. Kok Ibu nya benci sekali ya dengan Yuki..?

"Bagaimana keadaan Ibu..? Sudah membaik kah? Ini, Yuki mau kasih Ibu ini.." ucap Yuki dengan senang lalu memberi bunga Mawar merah dan cermin itu ke ibu nya. Tapi, seketika Ibu nya bangun dari tidurnya dan mendorong tubuh Yuki dengan kasar. Mataku terbelalak melihat itu. Yuki tampaknya kesakitan. Bunga Mawar merah yang semula indah kini menjadi rusak. Ibu nya menginjak-injak Bunga Mawar itu, lalu Ibu itu melihat kearah cermin itu, Ibu itu hampir saja memecahkan Cermin itu karena Yuki sudah mengambil cermin itu terlebih dahulu. Yuki memegang cermin itu sangat erat.

"Ibu! Aku mohon! Ibu masih bencikah denganku? Apa gara-gara itu semua? Aku benar-benar tidak sengaja melakukan itu Ibu! Dan juga.. Ibu mau memecahkan cermin ini? Cermin ini adalah pemberian Ayah..! Ibu.. Aku mohon," Degh! Aku menatap terbelalak kearah Yuki yang menangis dan bersujud di depan Ibu nya. Apa maksudnya? Kenapa Ibu nya membenci Yuki? Ada apa maksud dibalik ini? Apakah.. Ada masalah yang dibuat Yuki sangat besar sehingga membuat Ibu nya marah..? Beribu-ribu pertanyaan memenuhi di otakku. Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi..!

"Aku tidak akan memaafkanmu! Kau adalah anak busuk yang seharusnya tidak aku pungut kau! Aku bersumpah tidak akan memaafkanmu!" ucap Ibu itu dan mendorong kembali tubuh Yuki sampai terjatuh. Yuki kembali meringis kesakitan karena bekas luka yang ada di lengan nya bergesek dengan lantai. Lalu, Ibu nya mengambil sesuatu, sebuah benda tajam. Aku terbelalak melihat benda tajam itu adalah Kapak. Firasatku mulai tidak enak. Keringat jatuh dari pelipisku. A..apa ya..yang akan terjadi..?!

"MATI KAU!" teriak Ibu Yuki sambil mengangkat Kapak itu tinggi-tinggi. Yuki yang melihat itu dengan mata terbelalak dan Yuki menangis dengan kencang. Ibu nya tertawa seperti orang gila. Yuki yang tau akan terjadi, berusaha untuk bangun, namun tidak bisa. Kedua kakinya telah dipotong lebih dulu menggunakan Kapak yang berada di tangan Ibu nya.

"AHHHHHHH!" Yuki teriak dengan kesakitan, air matanya terus berjatuhan, darah mengucur, dan menodai lantai. Potongan kakinya dilempar ke kasur Ibu nya.

Degh!

He..Hentikan..! Ukh! Sakit sekali kedua kakiku! Aku memegang kedua kakiku. Lalu, aku terjatuh. A..ada apa dengan kakiku?! Sa..sakit sekali! AKHHH! Tubuhku serasa kaku, napasku terengah-engah. He..hentikan..!

"I-IBU!" teriak Yuki sambil kesakitan, Yuki berusaha untuk lari dari Ibu nya dengan cara jalan mengesot dan menuju ke Pintu, terus menangis kesakitan. Tapi, Ibu nya dengan cepat mengayunkan Kapak itu ke tubuh Gadis Mungil itu.

Sraaakkkkkk!

Aku tidak percaya apa yang kulihat. Ibu nya.. Mengayunkan Kapak itu ke kepala Yuki.. Tidak sampai putus.. Tapi menancap di atas kepala Yuki. Mata Yuki menjadi coklat dan bola matanya keatas. Lalu, terjatuh dengan banyak bersimpah darah. Ya.. Di kamar Ibu nya seperti tempat penyiksaan. Darah semua telah menodai sebagian kamar Ibu nya. Tubuh Yuki yang tergeletak tak berdaya di lantai. Darah nya yang berwarna merah kental it uterus keluar dari kepalanya dan paha nya yang kakinya sudah terpotong sampai paha. Lalu, Ibu nya berjongkok dan kembali menganyunkan ke perut tubuh. Kapaknya itu mengoyak isi Perut Yuki. Mataku kembali terbelalak saat melihat usus di perut Yuki diambil oleh Ibu nya. Bau usus dan darah aku cium. Serasa perutku terkocok-kocok saat Ibu nya mengambil organ perut di Tubuh mungil Yuki. Seketika, aku muntah karena tidak tahan menciumnya dan melihatnya.

"Yuki sayang~ Maafkan Ibu ya.. Semoga Yuki tenang ya.. HAHAHAHAHAHAH!" ucap Ibu nya sambil tertawa dengan keras. Sangat keras, bagai orang gila. Baju Ibu nya telah ternodai darah Yuki, wajahnya yang agak menua juga terbasahi oleh darah Yuki.

Degh!

"AHHHHHHHHH!" seketika, di kepalaku terasa sangat sakit sekali. Di bagian perut, juga. Serasa perutku di koyak-koyak dan isi perutku di koyak-koyak. AHHHH! SAKIT! SAKIT SEKALI! HENTIKAN! Aku memengang perutku dan kepalaku dengan keras. Air mata mulai mengalir dari mataku. Emosiku memuncak saat melihat adengan itu semua. Sakit sekali! Aku seperti merasakan rasa sakit yang dirasakan Yuki! Apakah.. Aku terhubung dengannya?

Grrrrrr…! Amarahku memuncak. Rasa sakit itu sangat sakit dan sangat menyakitkan. Rasanya aku ingin mengamuk! Awas kau wanita jelek! Aku tidak akan memaafkanmu! Ini sangat sakit sekali! Ukhhh! Rasanya aku ingin membunuhnya, mengamuk, dan lalu menghancurkan kepalanya!

"HENTIKAN BODOH!" aku lansung mendorong Ibu Yuki yang entah kenapa aku bisa berada di situ dengan asli, ini kan semua nya Fatamorgana!

Tampaknya Ibu Yuki terkejut melihat aku tiba-tiba mendorong Tubuhnya dengan sangat kasar dan membuat Tubuhnya jatuh. Lalu, aku tersenyum menyeringai. Seketika, mataku yang berwarna Biru Sapphire menjadi Merah.

"Mati kau.. Kau akan merasakan penderitaan Yuki!" ucapku sambil tertawa dan mengambil Kapak yang memang jatuh saat aku mendorong tubuh Ibu nya. Lalu, aku kembali tertawa. Menahan semua rasa sakit itu.

Tampaknya Ibu Yuki hanya diam dan menatap ku ketakutan. Aku tau, badannya bergetar, menatapku dengan terbelalak. Khukhukhu.. Sepertinya ini menyenangkan sekali!

"Ayo lakukan.. Len-nii.."

"MATI KAU! HAHAHAHAHAHAH!" aku mengayunkan Kapak itu ke kepala Ibu nya lalu memenggal Kepalanya. Tubuhnya yang semula duduk jadi tergeletak tak berdaya. Darahnya muncrat di wajahku. Lalu, aku melihat kepalanya menggelinding di lantai. Aku tersenyum menyeringai. Aku belum puas! BELUM PUAS!
Aku mengayunkan Kapak itu ke tubuhnya dan mengoyak-oyak Tubuhnya sampai tak terbentuk. Darahnya bermuncrat di wajahku dan bajuku dan hampir semuanya merah di tubuhku. Cairan merah yang kental itu membuatku menjadi semangat untuk menghancurkan tubuhnya menggunakan Kapak ini. Entah aku sadar atau tidak, aku benar-benar membunuhnya.

Setelah aku telah puas dan lelah, aku menunduk. Lalu aku tertawa dengan kencang.

"HAHAHAHAHAH!" suara tawaku bergeming di ruangan itu. Ruangan itu.. Semuanya telah ternodai dengan darah. Kamar itu menjadi tempat yang menyeramkan..

-OoO-

Yosh! Akhirnya selesai juga Chapter ini! Bagaimana Horror nya? Sadis atau tidak ya? Gomenansai kalau Horror nya kurang terasa atau Horror nya terlalu sadis.. Entah kenapa saya suka sekali buat adengan pembunuhannya! *ketawa sadis* #Dilempar batu.

Maaf ya kalau ceritanya jelek dan banyak Typo nya.. *bow*

Oh ya, jangan lupa Review ya dari kalian! Review kalian sangat membantu saia.. :3

Okey, jaa nee~ Nanti kita ketemu lagi di Chapter selanjutnya.. :3