Cerita ini ditinjau dari Kris POV, kecuali ada penjelasan pakai POV lain...
Enjoy reading!
# Chapter 1: Dream & Dilemma #
"Fan... Yifan..."
"Lu... Kau kemana saja?"
"Fan... Tolong..."
"Lu... XIAO LU!"
Aku tersentak bangun dengan peluh menetes membasahi dahiku. Hah, mimpi rupanya. Mimpi buruk. Bunga tidur yang kerap menghantuiku selama tiga tahun terakhir ini. Meski tidak tiap hari juga aku mendapatkannya, namun paling tidak pasti muncul di waktu tertentu.
Dan sosok yang tampak disana selalu adalah wajah cantik yang kurindukan. Suara lembutnya menggema di telingaku. Aku berusaha meraihnya, dengan penuh keputus asaan mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya... Tetapi seolah ada kaca transparan yang membatasi kami. Dirinya terasa begitu dekat, namun mustahil digapai. Lalu ada asap hitam muncul di sekelilingnya. Benda itu makin besar dan pekat... Dan lama kelamaan semakin meliputi tubuh mungil Luhan. Kedua manik mata innocent itu pun menatapku sendu, dan dari mulutnya terlontar kata itu tadi.
"Fan... Tolong..."
Tolong? Apa yang kau maksudkan, Lu?! Sebelum aku sempat berbuat apa-apa, sosoknya pun tiba-tiba pecah menjadi butiran kecil seperti pasir, kemudian ditelan kegelapan asap itu. Aku hanya mampu berteriak memanggil namanya. Dan... Aku pun terbangun. Mimpi terkutuk itu. Jalan ceritanya sama, aku bertemu dengan si dia yang kurindukan berdiri depan mataku, namun sayang aku tak dapat menyentuhnya. Dan pada akhirnya dia menghilang - dengan cara yang bervariasi. Memudar bagai kabut, tersulut lidah api lalu lenyap begitu saja, pecah berkeping-keping seperti kaca, meleleh, dan kali ini berubah menjadi pasir. Satu hal lagi yang selalu sama, sebelum menghilang ia mengucapkan kata 'Tolong'.
Argh, pening tiba-tiba menyerang kepalaku. Setelah mendapat mimpi sejenis tadi aku selalu terserang pusing yang hebat, entah kenapa. Kuraih sebotol aspirin yang ada di nightstand dekat tempat tidurku, kemudian mengambil sebutir pil dan menelannya. Mataku menangkap angka yang tertera di jam digital.
3:20.
Huffft, masih subuh. Sialnya aku tak bisa tidur lagi. Terlebih gara-gara mimpi itu tadi. Dulu, di saat seperti ini biasanya Luhan menenangkanku, membuaiku dengan suara merdunya dan mengusap-usap punggungku lembut hingga aku kembali tidur.
(Flashback in 3rd person POV)
"Tidaaak!"
Teriakan seorang pria memecah kesunyian malam.
"Yifan... Kau kenapa?", tanya wanita di sampingnya dengan suara pelan sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Hah... Hah... A, aku bermimpi buruk, Lu... Dalam mimpiku investor dari Kanada itu menolak proposal perusahaan kami bahkan mereka menuntut ganti rugi dua kali lipat...", sahut laki-laki itu panik.
"Sudah... Itu hanya mimpi, Fan... Ayo kita tidur lagi. Ini masih subuh. Hoamm... Aku mengantuk", ujar si perempuan sembari menyungging senyum manis.
"Ta, tapi aku tidak bisa tidur, Lu..." rajuk sang lelaki.
Wanita itu kembali tersenyum dan menyuruh pria di sisinya berbaring menyamping, lalu ia juga melakukan hal yang sama dengan arah berlawanan, sehingga mereka saling berhadapan di atas kasur.
"Yifan, pejamkan matamu... Dan aku akan bernyanyi untukmu sampai kau masuk ke alam mimpi."
Yifan atau Kris, nama pemuda itu, pun menurutinya. Ia memejamkam matanya erat. Luhan pun mulai membuka mulutnya.
"Nae tteugeoun ipsuri neoui
Budeureoun ipsure dakil wonhae~
Nae sarangi neoui gaseume jeonhaeji dorok
Ajikdo naui maeumeul moreugo isseotdamyeoneun
I sesang geu nuguboda neol saranghagesseo~
Neol saranghagesseo... Eonjekkajina
Neol saranghagesseo... Jigeum i sungancheoreom
I sesang geu nuguboda neol saranghagesseo~"
(I Choose To Love You - Hyorin)
Berkat suara jernih yang mengalun merdu disertai tangan mungil yang senantiasa mengusap punggungnya sayang, kelopak mata Kris pun terasa memberat dan akhirnya dia berhasil tidur kembali.
"Wo ai ni, Wu Yifan"
Dan gadis itu mengakhiri nyanyiannya dan mengecup mesra dahi lelaki yang tertidur.
(End of flashback)
Karena tidak bisa tidur, aku pun memutuskan membuka laptopku dan mengecek harga saham serta sedikit melanjutkan pekerjaanku. Aku yang masih muda (25 tahun) ini menanggung tanggung jawab besar sebagai CEO sebuah perusahaan trading rintisan ayahku yang kini sangat sukses dan terkemuka di Asia, Wu Trading Corp, branch Korea Selatan. Baiklah, bagaimana kalau sedikit kuceritakan masa laluku dengan Luhan?
Kami berpacaran sejak kelas 2 SMA di Beijing, China. Awalnya aku berpacaran dengannya atas alasan gengsi, juga untuk menghindari cewek-cewek ganjen yang berusaha mendekatiku. Secara, bisa dibilang kami sama-sama populer. Aku adalah kapten tim basket, serta jangan lupakan wajahku yang jauh di atas rata-rata dan tinggiku yang bak model ini - intinya aku idola di sekolah.
Sedangkan Luhan, selain cantik dia juga piawai menyanyi dan berprestasi di bidang akademik. Ia juga terkenal sangat ramah dan baik hati, ditambah keluarganya cukup terpandang. Cowok yang menaksirnya tentu sudah tak terhitung lagi. Karena itulah pada awalnya, kupikir dengan memacari gadis semacam Luhan maka fans-fans gilaku itu akan mundur teratur. Dan cara itu cukup manjur. Tapi yang tak kusangka adalah aku benar-benar jatuh cinta pada Luhan. Hubungan kami berlanjut, dan suatu saat papa menyuruhku kuliah bisnis di Korea karena beliau hendak mempercayakan cabang perusahaan yang di Korea kepadaku. Karena tidak mau jauh-jauh dengan Luhan, kutawari apakah dia ingin kuliah di Korea juga. Untungnya dia setuju, hanya saja dia memilih major fashion design. Aku sangat senang, karena kami bisa tinggal bersama sejak saat itu.
Walau tinggal di negara asing, aku merasa hari-hariku sangat indah karena ada dirinya. Dialah yang menjadi kekuatanku. Tak terasa akupun lulus dengan nilai yang memuaskan, begitu pula Luhan. Kami memutuskan membawa hubungan kami ke jenjang yang lebih jauh sehingga kami lantas bertunangan. Kedua pihak keluarga sangat merestui hubungan kami dan ingin segera menikahkan kami. Seluruh persiapan sudah beres. Baju pengantin, cincin, foto pre wedding, gereja, hotel... Bahkan tiket bulan madu pun sudah disiapkan. Undangan sudah dibagikan.
Saat itu hanya kurang sebulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan. Dan ketika ia menghilang, duniaku serasa kiamat. Hari nahas itu, suatu malam sepulang kerja lembur, dimana aku menemukan sepucuk surat mencurigakan yang ditinggalkannya. Tidak, bahkan kini aku tak yakin Luhan yang menulisnya. Semua janggal. Semua tak pada tempatnya.
Tiga tahun memang waktu yang relatif lama, tapi aku tetap tak dapat melupakannya. Apakah sekarang dia benar-benar bahagia bersama pria lain yang dicintainya seperti yang ditulisnya di surat, sedangkan aku merana sendirian? Apakah dirinya baik-baik saja? Aku khawatir. Aku tak akan mempercayai surat itu sampai dia sendiri yang datang padaku dan mengatakan semuanya langsung. Secercah sinar menembus tirai kamarku, menandakan pagi sudah tiba. Hufffft... Sepertinya aku akan mengantuk di kantor nanti, jadi sebaiknya aku minum kopi terlebih dulu.
(Skip time, in Kris' office)
Pekerjaanku hari ini cukup melelahkan. Aku harus bernegosiasi dengan beberapa klien baru, meninjau ulang policy-policy perusahaan, serta membaca dan menandatangani beberapa dokumen. Ketika aku sedang meresapi baris demi baris sebuah dokumen, ponselku tiba-tiba berbunyi.
Drrrrrrrrt... Drrrrrrrt...
Call from Mama
Mama? Tumben mama meneleponku di saat seperti ini. Kan ini jam kerja. Ada apa gerangan sampai beliau meneleponku?
"Halo. Ada apa menelepon, ma?"
"Yifan, kamu apakan Zitao kemarin?"
"Tidak tahu, ma. Apa maksud mama?"
Hahh.. Pasti masalah itu. Masalah kecil jadi besar.
"Mama diberitahu Nyonya Huang, mama Zitao, katanya kemarin Zitao pulang sambil menangis setelah mengunjungimu di kantor. Sampai sekarang dia mengurung diri di kamar dan tidak mau makan. Ayo, kamu apakan dia, hah?!", hardik mama dari telepon.
Hah... Haruskah aku menjelaskan hal tak penting ini?
"Aku tidak melakukan apa-apa, ma. Kemarin aku cuma menegurnya agar tidak mengganggu, karena aku sibuk", sahutku malas.
"Kau pikir mama tidak tahu, Wu Yifan? Pasti kamu membentaknya, iya kan? Asal kamu tahu, Zitao itu yeoja yang lembut dan sensitif. Jangan seperti itu dong... Ayo, kau harus ke rumahnya dan lekas minta maaf setelah ini!"
"Ahh... Apaan sih, ma. Lagipula kan itu masalah ke..."
"PERGI DAN MINTA MAAF, WU YI FAN! Tidak ada tawar menawar, kamu salah dan kamu harus minta maaf! Jadilah pria gentle."
Tanganku kembali mengusap pelipisku. Mama barusan menyemprotku. Kalau soal Zitao mamaku memang agak berlebihan. Kuhela nafas panjang.
"Iya, iya. Aku mengerti. Nanti aku akan ke rumah keluarga Huang. Sudah dulu ya, ma. Pekerjaan menunggu."
Dan dengan itu kututup telepon. Kembali ke pekerjaanku yang setumpuk banyaknya. Yahh, konsentrasiku agak terpecah gara-gara tadi.
(Jam 6 sore, sepulang kerja)
Aku memacu Maserati hitam mengkilat kesayanganku menuju sebuah rumah - mungkin lebih tepat disebut istana - mewah nan megah bergaya Eropa milik keluarga Huang. Kedatanganku disambut oleh seorang wanita setengah baya yang masih kelihatan muda dan cantik, tentunya berkat perawatan rutin dan kosmetik-kosmetik mahal yang digunakannya.
"Eh Yifan... Mama sudah tunggu kedatanganmu. Mama khawatir sekali dengan keadaan Zitao. Dari kemarin sore dia di kamar terus dan tidak mau makan... Padahal tahu sendiri kan nafsu makan anak itu biasanya bagaimana... Ah, tapi kalau Yifan yang menyuapi pasti Zitao akan memakannya dengan lahap... Bantu mama ya, Yifan...", ujar Nyonya Huang sambil terkikik pelan.
"Baik, Nyonya Huang. Saya coba membujuk Zitao supaya mau makan", jawabku kaku.
"Aduh, Yifan... Sudah berapa kali kubilang panggil 'mama' saja... Kan sebentar lagi kau sudah jadi menantuku. Kenapa kamu masih memanggil dengan 'Nyonya Huang' sih?", wanita itu mendengus sembari melipat tangan di dada.
Aku pun hanya tersenyum ke arahnya.
"Saya... Ke kamar Zitao dulu ya... M, ma...", kataku agak dipaksakan.
"Nah, gitu dong...", komentar Nyonya Huang santai.
Aku beranjak ke lantai dua, dimana terletak kamar putri keluarga Huang.
Tok, tok, tok.
Kuketuk pintu kamar bercat peach pink itu, namun tak ada jawaban dari dalam. Kuputuskan untuk memanggilnya.
"Tao? Kau di dalam? Ini Kris gege, tolong buka pintunya."
Dan... Cklek. Pintu terbuka, menampilkan sosok gadis panda dalam piyama dengan mata sembab dan rambut sedikit berantakan, tapi tidak mengurangi kemanisannya.
"Ge... Gege..."
Tao langsung menghambur dan memelukku. Aku hanya berdiri mematung seraya membulatkan mataku. Begitulah, anak ini memang sedikit ajaib.
"Ge... Tao takut... Tao kira gege tidak akan pernah mau menemui Tao lagi...", raungnya sambil mengeratkan pelukan.
"K, kau harus makan, Tao...", ujarku seraya melepaskan pelukannya.
Perempuan di hadapanku ini hanya merespon dengan anggukan lemas. Tak lama kemudian ia sudah terduduk di kasurnya dengan diriku yang juga duduk di samping ranjang. Para maid sudah menyiapkan bubur ayam hangat yang baunya lezat untuk Tao, dan kini aku menyuapkan sendok demi sendok ke mulutnya. Awkward silence menyelimuti, untungnya aku teringat sesuatu.
"Tao... Aku minta maaf. Aku tak tahu kau begitu tersinggung dengan kata-kataku", ucapku memulai percakapan.
"A, aku juga minta maaf ge... Tidak seharusnya aku berkata seperti itu tentang Luhan jie padahal aku tidak mengenalnya... Aku tahu yeoja itu amat berarti bagi gege..."
Aku tersenyum tipis mendengar ucapannya.
"Tapi ge... Bagaimanapun juga sudah tiga tahun dia menghilang tanpa kabar... Memang gege mau menunggu hal yang tak pasti terus-terusan? Aku..."
"Tao, tolonglah", potongku dengan suara rendah.
Aku tidak ingin membahas ini lagi.
"Dengarkan aku ge! Aku ada disini buat gege! Gege tahu kan kalau aku suka, ani, bahkan aku mencintai gege? Apa gege tak pernah memikirkan sedikitpun perasaanku? Setiap kali gege bertingkah dingin di hadapanku aku... Hiks..."
Tangis Tao pecah lagi, kristal bening mengucur deras membasahi pipinya. Ia pun menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Aku bingung harus bagaimana, jadi kuletakkan sendok dan mangkuk bubur yang kubawa dan lantas memeluknya.
"Tao, uljima..."
Dia balas memelukku dan menangis di bahuku.
"Ge... Tolonglah, sedikit saja... Sedikit saja bukalah hatimu untukku...", isaknya.
Ada benarnya juga sih perkataannya. Aku selama ini egois, tak pernah mempedulikan perasaannya. Namun aku tidak bisa untuk tidak jujur, aku tidak bisa berakting seolah aku sudah move on dan menerima Tao. Beginilah Wu Yifan yang bodoh.
"Akan kucoba...", sahutku pelan sambil mengusap surai hitam kelamnya.
Gadis itu semakin membenamkan wajahnya di bahuku dan mengeratkan pegangannya.
"Akan kucoba... Setelah Luhan datang sendiri padaku dan bilang bahwa dia sudah tak mencintaiku."
Tiba-tiba ia melepaskan pelukannya dan menjauh, terbelalak menatapku dengan sorot mata yang sulit ditafsirkan.
"Tinggalkan aku sendiri ge... Sementara ini aku tidak mau melihat gege."
Seketika aku merasa bagai dihujam sesuatu. Kehilangan orang yang kucintai... Menyia-nyiakan orang yang mencintaiku. Pada akhirnya akupun akan kehilangan semuanya.
*TBC
Keep it cool if you wanna leave reviews and comments! :)
A.N: Sebelumnya maaf kalo chapter ini teramat sangat jelek dan ngebosenin... Sebelum masuk ke inti, saya sih maunya menjelaskan beberapa hal dulu... Gini deh jadinya... Maklum saya author abal bin pemula. T.T
Dan satu lagi, perlu saya kasih tau beforehand kalo dalem cerita ini mungkin cuma ada dikit bahkan hampir non-existent momen-momen manis KrisHan... Seperti yang sudah saya tulis, meski ini memang pairing utamanya KrisHan, genrenya mystery dan tragedy, broken lagi... Jadi momen lovey-dovey mereka bukan sorotan utama, melainkan bumbunya aja... Sorotan utamanya... Just figure it out later. :p
Maaf saya ga bisa memuaskan permohonan reader deul untuk menyatukan dan bikin KrisHan mesra-mesraan di fic ini... Tapi mungkin kalo ada yang request saya bisa semangat nulis (?) Hehe.. NC maybe?
Thanks to: Lisnana1, aspirerainbow, LachataDeer for the reviews!
Saya seneng banget masih ada yang mau comment ff jelek saya ini :')
That means so much to me...
