A NARUTO Fan Fiction

Princess 7174 Proudly Present

My Baby Girl

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: Uchiha SasukexHaruno Sakura & Uzumaki NarutoxHaruno Sakura

Genre: Romance, Humor, Friendship and Family

Warning: AU, OOC, Typo(s) aneh, ngga jelas dll

I hope you give a good respect for my first fanfiction

If you like please reand and review

If you don't like?just read and you will like it ^^


My Baby Girl Chapter 5 : Rain

Seluruh anggota kelas, sudah mendapatkan kelompoknya dan sekarang mereka sedang berkumpul untuk mendiskusikan lagu apa yang akan mereka arasemen nantinya. Tugas yang paling berat memang di pikul oleh ketua kelompok, mengingat tanggung jawab atas nilai dan keberhasilan ada di tangan ketua kelompok tapi kerja sama dengan sesama anggota kelompok juga sangat penting untuk keberhasilan.

Mari kita lihat situasi kelompok Sasuke, Ino terlihat frustasi sendiri dengan tingkah Sasuke dan Naruto yang saling berebut memberikan usul lagu. Anggota lain dari kelompok mereka hanya bisa pasrah saja melihat tingkah Sasuke dan Naruto yang seperti anak kecil itu.

" Lagu ini bagus.." Usul Sasuke.

"Coba kalian dengarkan dulu, aku ada ide untuk mengarasemen bagian ini.. " Kata Sasuke dan mulai menyetel sebuah lagu.

Ino dan anggota kelompok lainnya hendak mendengarkan lagu dari usul Sasuke itu tapi di detik kemudian, tangan Naruto sudah menyambar handphone Sasuke.

"Lagu itu norak dan ketinggalan zaman, lebih bagus lagu ini.." Kata Naruto.

"Apa katamu Dobe? Jangan samakan, selera norakmu dengan diriku ini.." Kesal Sasuke dan merebut kembali handphonenya.

"Maksudmu, seleramu lebih baik dariku?" Tanya Naruto dan Sasuke mengangguk sebagai jawaban.

"Selera dengan tingkat kenarsisan akut begitu bagus? Ngga salah? Narsis bangga.." Kata Naruto dengan santainya. Kening Sasuke berkedut tanda tidak suka. Baru pertama kali ada yang berani menentang dan mengejeknya seperti ini.

"Naruto, selera musik Sasuke memang bagus. Karena dia memiliki talenta di bidang itu dan bukan narsis.." Celetuk Orochimaru. Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Naruto mendengus kesal.

"Mana buktinya sensei?" Tanya Naruto, sepertinya pria bermata safir itu tidak mau kalah dengan mudah ya?

"Bukti? Tanya saja pada kekasih Sasuke.." Kata Orochimaru yang masih kekeh untuk membela Sasuke dan sekarang seluruh pasang mata menuju satu objek.

"Sakura?"

"..."

"Sakura.."

Gadis bermata emerald itu baru menoleh setelah Shikamaru menepuk pundaknya perlahan. Sakura memandang ke arah Naruto, Sasuke, Ino dan Orochimaru-sensei dengan tatapan bingung tak mengerti. Maklum saja, sedari tadi Sakura sibuk dengan dunianya alias melamun jadi dia tidak mendengar adu mulut antara Sasuke dan Naruto.

"Ada apa?" Tanya Sakura.

"Sensei tadi bertanya tentang kemampuan Sasuke dalam hal musik.." Kata Shika.

"Memangnya kemampuan musik Sasuke bagus, Saku-chan?" Tanya Naruto.

Sakura diam.

Emerald dan Onyx saling bertemu dan menatap. Hanya mata mereka berdua yang berkomunikasi dan karena Sakura enggan, Gadis berambut soft pink itu langsung mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto yang masih memandangnya dengan tatapan penuh harap. Sasuke mendesah, beginilah Sakura kalau dalam mode ngambeknya. Ino yang paham, mengelus lengan Sasuke dan tersenyum berusaha memberi semangat pada bungsu Uchiha itu. Sasuke menoleh, melihat Ino dan pemuda tampan itu membalas senyuman Ino dengan senyuman yang amat teramat tipis tapi masih bisa di lihat oleh Ino.

'Kami-sama, Sakura, kamu amat teramat beruntung. Lihat betapa tampannya Uchiha ini? Astaga Sakura, demi arwah madara yang masih bergentayangan, kamu sangat beruntung..' batin Ino.

"Sakura sebagai kekasih Sasuke, pastinya Sasuke pernah menyanyikan sebuah lagu atau menunjukkan kemampuan bermusiknya padamu kan?" Tanya Orochimaru.

Sakura mengangguk.

"Sering Orochimaru-sensei.." Kata Sakura.

"Apa? Pasti bohong.." Kata Naruto dan mendapat death glare dari Sasuke.

"Tidak kok Naruto-kun, Sasuke pintar main gitar dan piano. Dia sering bernyanyi untukku dan keluarga kami.." Kata Sakura. Pipi Sakura merona saat mengatakan hal itu. Begitupun Sasuke yang mendengar penuturan Sakura. Terdengar beberapa godaan terlontar untuk dua sejoli itu, membuat keadaan kelas menjadi riuh dan kembali hangat lagi.

'sepulang sekolah, akan ku jelaskan semuanya..' batin Sasuke.

'tch, sial. Lagi-lagi dia terlihat keren..' batin Naruto dan menatap tajam ke Sasuke.

"Kamu kalah lagi Dobe~~" Seringai Sasuke.

"Huh, aku belum menyerah dan tak akan menyerah.." Kata Naruto.

"Orang bodoh memang susah menyerah.." Ledek Sasuke.

"Apa katamu Teme? Kalau berani ulangi lagi.." Kesal Naruto.

"Orang bodoh hmpphhmmm.."

"Kalian berdua, hentikan.." Kata Shikamaru dan muncul di belakang Sasuke dengan tangan kanan yang mendekap mulut Sasuke.

'kalau terus berlanjut, bisa-bisa mereka berkelahi..' batin Shika. Rupanya Shikamaru sudah waspada sejak awal dan melihat seringai di wajah Sasuke tadi, Shikamaru langsung mengambil langkah pencegahan.

"Kalian, tidak bisa sehari tanpa bertengkar ya?" Tanya Shika.

"Dia duluan yang mulai.." Kata Naruto.

"hmphmm.. hmphngm.. ngg.."

"Apa katamu Teme? Kamu menyerah? Sakura untukku?" Kata Naruto asal menebak. Mata Sasuke melotot, memberikan death glare untuk Naruto.

"Hmmmphh.. hmphhmm.. ngmohmg.."

"Shika, lepaskan. Sasuke-kun sulit bernafas.."

Shikamaru bergidik ngeri dan buru-buru melepaskan tangan kanannya dari mulut Sasuke. "Sudah, aku lepaskan Sakura.." Kata Shika.

'Keduanya, sama-sama menyeramkan..' batin Shika.

'Entah sejak kapan, Sakura jadi makin mirip Sasuke..' batin Ino yang tadi melihat tatapan tajam dan aura gelap dari Sakura.

"Ahhh, Baka Dobe, dengarkan, sampai kapan pun, Sakura akan tetap jadi milikku. Siapapun, tidak ada yang bisa mengambilnya dariku.." Kata Sasuke sukses membuat pipi Sakura merona.

"Termasuk Kami-sama?" Tanya Naruto.

Ctak..

Entah terlalu polos atau bagaimana, perkataan Naruto tadi membuat seisi kelas langsung terbujur lemas. Dahi Sasuke sudah berkedut, tangannya terkepal berusaha menahan tinjunya yang akan melayang ke wajah Naruto tapi ..

Duakk..

"Naruto Baka, hentikan percakapan kalian itu.."

Mata semua orang membulat tak percaya. Naruto mengelus pipinya yang memar. Tak bisa mereka percaya, seorang Akatsuna Sakura meninju Naruto dan membuat Naruto tersungkur ke tanah.

"Hentikan Sakura, emosi dan tenagamu lebih menakutkan dari milik Sasuke, jadi kembali jadi gadis manis dan lembut ya?" Kata Orochimaru-sensei dengan nada dingin. Sakura mendesah lalu kembali duduk di samping Shika yang masih melonggo tak percaya.

Sepertinya rumor yang mengatakan kalau Sakura lebih menyeramkan dan lebih mematikan dari Sasuke, sudah mulai terbukti. Sakura kan cucu dari Tsunade-sama. Kepala Sekolah Konoha Senior High School yang memiliki emosi dan tenaga yang mengerikan, jadi wajar kan kalau Sakura juga begitu?.

"Aku tidak mengerti, apa yang terjadi antara kalian berdua. Tapi yang pasti, tugas kali ini membutuhkan kerja sama dari seluruh anggota.." Kata Orochimar-sensei.

Kriingg..

"Pelajaran Selesai, sampai jumpa minggu depan.." Kata Orochimaru-sensei.

Semua penghuni kelas 10B, bernafas lega. Tumben sekali, sensei mereka yang galak nan killer itu tidak memberika hukuman yang menyeramkan dan di tambah lagi, bel pernyelamat berbunyi di saat yang tepat. Benar-benar, kelas 10B sepertinya sedikit beruntung heh?.

.

.

Zraasssshhhhh

Sakura memandangi rintik-rintik hujan dari jendela di sebelahnya. Jemari tangannya mengambarkan sesuatu yang absurd bagi orang yang melihat gambar itu.

"Itu seperti gambar kelinci zombie.."

Sakura menoleh dan melihat Naruto yang sedang mengamati karya absurdnya. Jemari Naruto membuat sebuah kata dan Sakura menunggu hingga Naruto selesai membuat kata itu.

"Pe-pelangi?" Heran Sakura.

Naruto mengangguk.

"Apa maksudnya?" Tanya Sakura.

"Pelangi selalu muncul setelah hujan. Membuat yang suram menjadi indah kembali.." Kata Naruto.

"Baka, aku juga tau itu.." Kata Sakura.

Naruto nyengir lebar dan Sakura tersenyum kecil.

Hening

Sakura kembali fokus pada rintik-rintik hujan dan tiba-tiba fikirannya kembali teringat akan sesuatu.

"Sebenarnya, apa hubungannya kelinci zombie dengan pelangi?" Tanya Sakura dan menatap Naruto.

Naruto salah tingkah sendiri. Dia mengaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal tanda dia bingung dan gugup. Sakura tertawa kecil lalu mulai mengambar sesuatu.

"Begini saja, karena sinar pelangi yang warna-warni akhirnya, kelinci zombie kembali normal dan membuat tanah tandus kembali hijau dan berbunga.." Kata Sakura. Jemarinya mengambar rumput dan beberapa kelinci lainnya.

"Ah, jangan lupakan pohon Sakura.." Kata Naruto dan mengambar pohon Sakura di sisi kanan.

"Heh? Ada apa dengan pohon Sakura?" Heran Sakura.

"Pohon Sakura membuat segalanya lebih indah dan akhirnya keluarga kelinci kembali hidup berbahagia. Tamat.." Cengir Naruto. Sakura tersenyum.

"Ehem.. sebaiknya, kalian berhenti mencoret-coret jendela dan membuat dongeng anak kecil.." Kata Iruka-sensei dengan tatapan tajam pada Naruto dan Sakura. Tatapan horror yang benar-benar menakutkan.

"Maaf sensei.." Kata Naruto.

"Kerjakan soal kalian.." Kata Iruka-sensei.

Naruto dan Sakura mengangguk dan mulai menekuni soalnya. Di detik kemudian, mereka berdua menoleh dan saling tersenyum dan kembali lagi menekuni soal mereka.

Sasuke memicingkan matanya tidak suka. Semakin lama, Naruto dan Sakura semakin dekat saja. 'bisa-bisa serangga penganggu itu, akan merebut Sakura darimu loh..' Kata-kata Shikamaru kembali terngiang di kepala Sasuke. Tangannya meremas pensilnya hingga patah, membuat Lee yang duduk di samping Sasuke bergidik ngeri. 'Uchiha anti kalah bukan?' tapi kemudian, seringaian andalan Sasuke terpampang jelas di wajah tampannya. Tentu saja Uchiha anti kalah ralat Uchiha tidak mengampuni kekalahan dan pastinya Sasuke juga tidak akan kalah dengan hal ini.

.

.

Naruto berjalan dengan tergesa-gesa di sepanjang koridor Konoha Senior High School yang mulai sepi itu. Akibat dia sering bercanda selama pelajaran Iruka-sensei, Naruto di hukum mengerjakan soal-soal dua kali lipat lebih banyak dan juga mengumpulkan tugas teman-temannya ke meja Iruka-sensei.

'Setelah, menaruk ini, aku akan mengantar Sakura-chan..' batin Naruto.

Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, Naruto masuk ke ruang guru dan bertanya di mana meja Iruka-sensei, tapi bukannya bisa pulang dengan cepat, Naruto malah di ceramahi oleh Iruka-sensei.

'sial..' batin Naruto.

Di sisi lain, Sakura berjalan dengan gontai keluar dari sekolah. Kakinya berhenti melangkah saat ia berada di lobby, tangannya terulur dan rintik-rintik hujan mulai menyambut tangan mungilnya. Sakura menghela nafas, tadi dia menghindari Sasuke dengan cara bersembunyi di kamar mandi. Sebenarnya, Sakura juga ingin kembali bermanja-manja ria dengan Sasuke tapi ingatan saat Sasuke memeluk gadis lain selain dirinya, masih saja membuat dia cemburu.

'menyebalkan. Awas saja Sasuke-kun..' batin Sakura.

"Sakura.."

Suara yang amat familiar, masuk ke indra pendengaran Sakura. Sakura menoleh dan menatap Onyx yang kini tengah menatapnya dengan tatapan memohon. Nafas Sasuke masih satu-satu tanda bahwa pemuda tampan itu habis belari. Tentu saja berlari, karena Sasuke berlarian mencari sosok Sakura ke seluruh inci dari Konoha Senior High School. Baru saja mulut Sasuke ingin mengeluarkan suatu kata, tapi kaki Sakura sudah lebih dulu berlari menerobos hujan dan meninggalkan Sasuke.

Tidak mau menyerah begitu saja, Sasuke langsung menerobos hujan dan mengejar Sakura. Aksi teriak-teriakan pun terjadi. Sasuke terus meneriaki nama Sakura dan berusaha menghentikan Sakura, tapi gadis bermata emerald itu mengacuhkannya habis-habisan. Tidak terima di acuhkan, Sasuke menambah kecepatan larinya dan akhirnya setelah segala upaya yang ia lakukan, Sasuke berhasil menghentikan langkah kaki Sakura.

"Tunggu Sakura.."

"Lepaskan aku.."

"Semuanya salah paham.."

"Tidak.."

"Semuanya tidak seperti yang kamu lihat.."

"Aku percaya dengan apa yang aku lihat.."

Sasuke mengerang frustasi. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada gadis keras kepala seperti ini? Sasuke menarik nafas panjang lalu menghebuskan nafasnya perlahan. Menghadapi Sakura yang keras kepala, pasti akan memancing emosi Sasuke. Sakura tipe gadis yang tidak bisa di bentak dan Sasuke tidak mau nantinya dia membentak Sakura karena emosi.

"Biar aku jelaskan.." Kata Sasuke dengan nada lembut.

"Tidak perlu di jelaskan.."

"Sakura, kamu salah paham hime.."

"Tidak.."

"Sakura.."

"Lepaskan aku.."

"AKATSUNA SAKURA, DIAM DAN DENGARKAN AKU.."

Sakura tersentak mendengar nada bicara Sasuke yang meninggi. Sasuke merutuki kebodohannya. Akhirnya apa yang ia takutkan terjadi. Emosinya sudah tidak bisa ia tahan dan akhirnya berakibat seperti tadi. Sasuke mengambil nafas lalu mendekap Sakura ke dalam pelukannya. Tubuh Sakura bergetar, pastinya gadis itu syock karena di bentak olehnya. Selama ini Sasuke memang selalu memperlakukan Sakura dengan lembut dan di bentak oleh Sasuke untuk pertama kalinya, pasti gadis itu kaget.

Hiks.. hiks..

Hiks..

"Sakura, maafkan aku.." Lirih Sasuke.

".."

"Aku hanya ingin menjelaskannya padamu. Tapi kamu tidak memberikan aku kesempatan.." Kata Sasuke.

"Hiks.. Sasuke-kun jahat.." Isak Sakura.

Sasuke tersenyum lembut lalu mencium pipi Sakura.

"Di sini dingin, kita berteduh di sana ya? Lalu kita bicara.." Kata Sasuke dan menunjuk sebuah pohon besar. Sakura mengangguk setuju. Sasuke tersenyum, akkhirnya keras kepala Sakura luntur juga.

Alasan Sasuke membawa Sakura berteduh apalagi kalau bukan tidak ingin membuat gadis tercintanya kedinginan karena hujan. Mana mau Sasuke membuat Sakura sakit karena hujan-hujanan selama mereka berbicara. Di bawah pohon itu juga, Sasuke masih terus mendekap tubuh mungil Sakura. Melindungi tubuh gadis yang ia kasihi dari dinginnya angin dan juga air hujan.

"Aku memeluk gadis itu bukan karena sengaja.." Kata Sasuke membuka pembicaraan mereka. Sakura hanya diam, mendengarkan lanjutan dari kalimat Sasuke.

"Kamu ingat kan, aku keluar dari kelas karena kesal melihat kedekatan kamu dengan si Baka Dobe itu. Rasanya, aku ingin meninju saja, wajah bodohnya itu.." Kata Sasuke dan Sakura terkekeh pelan. Sasuke tersenyum tipis dan mengeratkan pelukannya. Berusaha membuat mereka berdua tetap hangat.

"Aku kesal dan iri dengan si Baka Dobe itu, dia selalu saja bisa membuatmu tersenyum tapi aku tidak pernah membuatmu tersenyum.." Kata Sasuke dan menatap emerald yang sedang menatapnya juga.

"Sasuke-kun salah. Hanya dengan terus berada di sisiku saja, Sasuke-kun sudah membuatku sangat senang.." Kata Sakura. Sasuke tersenyum lalu dengan penuh sayang, di kecupnya kening Sakura.

"Terimakasih.." Senyum Sasuke. Sakura tersenyum dan kini, kedua tangan mungil Sakura sudah memeluk balik tubuh Sasuke. Di benamkan kepalanya di dada bidang pemuda itu. Sasuke tersenyum.

"Lanjutkan Sasu, kamu belum menjelaskannya.." Kata Sakura.

Sasuke mengangguk. "Aku berjalan sembari mengutuk si Baka Dobe itu dan karena tidak memperhatikan jalan, aku menabrak gadis itu.." Kata Sasuke.

"Biar ku tebak, Sasuke membentak gadis itu dan akhirnya karena ketakutan gadis itu menangis?" Tebak Sakura dan Sasuke mengangguk.

"Baka, lembutlah sedikit kalau dengan perempuan.." Kata Sakura dan mencubit lengan Sasuke pelan. Sasuke merintih kesakitan, berpura-pura seakan cubitan Sakura tadi menyakitinya.

"Lalu karena bingung harus bagaimana, Sasuke-kun memeluknya?" Tebak Sakura dan lagi-lagi Sasuke menangguk.

"Huh, seenaknya saja memeluk gadis lain. Alasannya tidak aku terima.." Kata Sakura dan melepaskan pelukannya.

"Eh? Hime, ayolah. Maafkan aku. Aku bingung harus bagaimana, agar tangis gadis itu berhenti.." Mohon Sasuke.

".."

"Sakura-chan, aku hanya menyukaimu. Maafkan aku.." Melas Sasuke.

"..."

"Kalau Sakura-chan tidak memaafkanku, aku akan pergi meninggalkanmu.." Kata Sasuke.

"Eh? Jangan Sasuke-kun.." Kata Sakura lalu memeluk Sasuke. Sasuke tersenyum puas, lalu membalas memeluk gadisnya itu.

"Maafkan aku.." Kata Sasuke.

"Iya, aku sudah memaafkan Sasuke-kun.." Senyum Sakura lalu mendongkakan kepalanya untuk menatap Onyx milik Sasuke.

Sasuke tersenyum lembut lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura, hembusan hangat nafas Sasuke menyentuh kulit wajah Sakura. "Terimakasih hime, aku mencintaimu.." Kata Sasuke lalu mencium dengan lembut bibir Sakura.

Di sisi lain, seorang pemuda berambut jabrik kuning membulatkan matanya. Mata safirnya melihat pemandangan yang paling menyakitkan di seluruh dunia. Di bandingkan dengan omelan kaa-san dan tou-sannya, pemandangan romantis di hadapannya ini sungguh membunuhnya. Tanpa memperdulikan omelan Iruka-sensei, Naruto berlari keluar dari ruang guru dan dengan tergesa-gesa dia menyusuri koridor sekolahnya yang mulai sepi.

'apa-apaan itu? Seenaknya saja mencium Sakura..' batin Naruto.

Jika orang lain yang melihat pemandangan itu, akan berkomentar 'kekasih yang sempurna' atau 'romantis'. Bagaimana tidak romantis? Di tengah turunnya hujan yang dingin, dua sejoli saling berpelukan, saling menjaga satu sama lain dan di tambah lagi dengan ciuman. Adengan yang sungguh romantis bukan? Ciuman di tengah hujan romantis.

Tapi bagi Naruto, pemandangan itu sama sekali tidak romantis. Pemandagan itu malah sungguh mengerikan di mata safirnya. Langkah kakinya kian cepat dan saat di belokan, karena tidak hati hati, Naruto menabrak seseorang.

Brukk..

"Ah, maaf.."

Naruto membantu memunguti barang-barang yang berjatuhan akibat tabrakan tadi. Naruto mendongkakan kepalanya dan terkejut melihat gadis bermata seputih mutiara dengan rambut pendek berambut ungu kehitaman.

"Kamu gadis yang tadi kan?" Tanya Naruto.

Gadis itu diam kemudian mengangguk.

"Tadi.."

"Kami ti-tidak melakukan apa-apa. Uchiha-san, be-berusaha menghiburku sungguh.." Kata gadis itu dengan terbata-bata. Naruto tersenyum lalu mengambil buku yang ada di tangan gadis itu.

"Tidak apa, tenang saja.." Kata Naruto.

"Maaf, karena aku, ke-kemungkinan, Sasuke dan.."

"Mereka sudah baikan, tuh lihat.." Kata Naruto dan dengan dagunya menunjuk dua sejoli yang masih asik berpelukan.

"Ah, romantis sekali.."

Ctak

Kata romantis adalah kata terlarang untuk Naruto saat ini, Naruto hendak meninggalkan gadis itu bersama dengan tumpukan buku yang berat itu tapi perkataan tou-sannya kembali tergiang di kepalanya membuat Naruto mengurungkan niatnya.

"Biar aku bantu.." Kata Naruto.

"Eh? Ti-tidak usah, ruang guru su-sudah dekat.." Kata gadis itu terbata-bata.

"Kata tou-san ku, laki-laki harus membantu perempuan yang terlihat kesulitan.." Cengir Naruto.

"Jadi siapa namamu? Aku Uzumaki Naruto dari kelas 10B.." Kata Naruto dan berjalan kembali ke arah ruang guru.

"Namaku Hyuga Hinata.." Kata Hinata malu-malu.

"Hinata? Salam kenal, panggil aku Naruto ya.." Cengir Naruto.

"Eh? Baiklah. Salam kenal, Naruto.." Senyum Hinata.

Mereka berdua pun berjalan bersama menuju ruang guru. Sesekali keduanya saling curi-curi pandang. Naruto berpendapat kalau Hinata itu lumayan manis walaupun masih kalah manis dengan Sakura sedangkan Hinata, menganggap Naruto sangat keren dan baik. Seiring dengan langkah mereka yang semakin dekat dengan ruang guru, Naruto berdoa 'semoga saja tidak ada Iruka-sensei..'

"Permisi apa ada Iruka-sensei? Saya mau menyerahkan tugas kelas 10C.."

Duaarrr

Bagaikan di sambar petir, lutut Naruto rasanya lemas seketika. Baru saja dia berdoa agar tidak bertemu dengan Iruka-sensei tapi sedetik kemudian, jawaban dari doanya sudah ia ketahui.

"Masuk Hinata.."

"Baik, Iruka-sensei.." Kata Hinata.

Wajah Naruto kian memucat begitu melihat seringaian di wajah Senseinya itu, pasti sehabis ini dia akan di ceramahi lagi oleh Iruka-sensei dan akhirnya dia tidak bisa menyusul Sasuke dan Sakura. Pelajaran yang Naruto dapatkan hari ini adalah sebelum membantu seseorang yang berhubungan dengan ruang guru, lebih baik tanya dulu siapa gurunya. Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, Naruto tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan telinganya. Melihat seringaian di wajah senseinya itu, membuat firasat buruk kian jelas di hati Naruto.

'Kena kamu Naruto..' batin Iruka dan menatap Naruto yang masih memandang ke arahnya dgn pucat pasi.

.

.

Brmmm..

Mobil volvo hitam itu berhenti di pekarangan, kediaman keluarga Akatsuna. Sasuke dan Sakura langsung masuk ke rumah itu. Sementara Sakura menghilang entah ke mana, Sasuke duduk di sofa rumah itu. Tubuhnya mengigil kedinginan akibat hujan-hujanan tadi.

"Sasuke-kun, ganti bajunya dengan baju Sasori-nii san dulu.." Kata Sakura.

Sasuke tersenyum lalu mengambil kaos, celana jeans dan handuk dari tangan Sakura.

"Aku ganti baju dulu.." Kata Sasuke dan beranjak menuju kamar mandi. Uchiha itu tidak perlu bertanya lagi, di mana letak kamar mandi karena dia sudah sering kali main ke rumah ini.

Sakura mengangguk, gadis itu duduk di sofa dan mengambil hair dryer dari kotak di sebelah sofa itu. Beberapa detik kemudian, suara khas hair dryer keluar dan dengan lembut Sakura mulai mengeringkan rambutnya. Selang beberapa menit, Sasuke keluar dengan mengenakan kaos dan celana jeans milik Sasori.

Harus Sakura akui, walaupun wajah Sasuke pucat dan bibirnya biru karena kedinginan, penampilan Sasuke tetap keren apalagi karena rambutnya acak-acakan akibat basah.

"Ke sini Sasuke-kun, biar ku keringkan.." Kata Sakura.

Sasuke mengangguk dan bungsu Uchiha itu duduk di hadapan Sakura. Sentuhan yang Sakura berikan pada rambut ravennya sangat di sukai Sasuke. Sentuhan lembut itu selalu membuat Sasuke tenang. Sasuke memejamkan matanya, berusaha menikmati sentuhan itu dan juga rasa tenang dan hangat yang mulai merayapi hatinya.

Cklek

"Sakura-chan, kamu sudah pulang?"

Sakura dan Sasuke menoleh dan terlihat Sasori yang baru pulang dari mini market. Mata Sasori membulat sempurna dan di detik kemudian wajah baby facenya berubah jadi evil face.

"UCHIHA SASUKE, APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN HAH? KAMU SEDANG DALAM MASA HUKUMAN DAN SEKARANG KAMU SUDAH MELEWATI BATAS HUKUMAN.." Murka Sasori.

"Nii san, tenang dulu.."

"HUKUMAN TETAP HUKUMAN DAN UCHIHA TIDAK PERNAH MELANGGAR HUKUMAN.." Kata Sasori.

Sakura dan Sasuke terduduk lemas, sepertinya Sasori benar-benar serius dengan hukumannya yang tempo hari. Hei Sasuke, lebih baik kamu berhenti mengoda si Sasori. Menggoda Sasori berakibat buruk bukan Sasuke?

Bagaimana ya dengan hukuman dari Sasori? Apa yang Naruto lakukan setelah membantu Hinata? Apa yang akan terjadi selajutnya dengan Naruto Hinata Sasuke dan Sakura? Tunggu next chap ..


To Be Continued ..

Review for next chapter ..


Balasan Review

Soputan : huehehhe.. Naruto ngga bayar author kok. Sakura tersenyum tulus kok tapi Sakura ngga memberi harapan ke Naruto. Jawabannya nanti kamu temukan di next chap ya. Makasih udah Review dan pastinya tetep aku lanjutin kalau masih ada yg review ^^ makasih banyak .

Doche : hiaaaa.. ini sudah author lanjutkan, semoga kamu suka ^^ . maksud dari senyum mesum itu apa ya? *wajah sepolos wajah naruto* makasih udah mau review ^^

Bay uzukage : makasih udah memuji fic abal ini. Hiah, author jadi main semangat nih nulisnya kalau banyak yang suka. Wah wah, jangan ngerebut kekasih orang juga, author bisa berabe nih. Haha makasih udah mau review dan semoga aja, gan suka sama chap ini ^^

Guest : NaruHina memang muncul kok, buktinya ada di chap ini kan? Hehe. Makasih udah mau dukung dan review. Semoga suka sama chap ini ya ^^

Karin-chan : aduh *terharu* makasih atas pujiannya, ini udah di lanjutin. Semoga suka ya ^^ pasti akan tetep lanjut kalau banyak yang minta ^^

Van persie : haha.. jangan mengerling begitu dong, author jadi ngga enak hati nih (?) haha, makasih udah mau review ya, semangat untuk Naruto heaahhh ^^

Fiuuhhh, setelah kecapean karena begadang terus, chap ini keluar juga. Idenya muncul saat author kehujanan habis pulang sekolah dari jakarta ke tangerang *curhat*. Salah author juga sih, sekolah kejauhan. Sekolah di mana, rumah di mana. Haha. Abaikan.

Semoga chap ini kalian suka.

Review for next chap ..

Sincerenly yours.

Princess7174