IF I'M A GAY, YOU GOT PROBLEM WITH IT?

Disclaimer ©Masashi Kishimoto

Story©Freaky Haha

Pairing: ItaKyuu, SasoDei

Rated: T (rating dapat berubah sewaktu-waktu)

Genre: Romance, Friendship

Warning: Cerita ini di buat demi kesenangan pribadi author.

DLDR!

...

Hari Minggu. Yah, sepertinya ini memang hari yang sempurna untuk melakukan aktifitas seperti joging, membersihkan rumah, atau hanya sekerdar hang out bersama teman-teman. Tapi sepertinya itu semua tidak berlaku bagi seseorang yang masih bergumul di dalam selimutnya ini.

09.00am. Dan sepertinya orang yang sedang kita bicarakan tidak menunjukkan tanda-tanda untuk membuka matanya. Terlalu malas, atau mungkin sengaja menghindari dunia.

SRAK

Tirai terbuka.

"Uhh!" selimut di tariknya hingga menutupi rambut blonde panjangnya.

"Sampai kapan kau mau tidur Dei?" sebuah suara lain terdengar. Dialah orang yang membuka tirai.

"Aku sedang malas un." Dengan lemas, Deidara mejawab.

"Ayolah! Aku ingin mengajakmu jalan-jalan." Orang itu menyikap selimut Deidara dan menarik tangannya. Berniat supaya sahabat blondenya segera terbangun.

Sasori. Orang itu adalah Sasori. Pemuda berrambut merah maroon yang berwajah masih seperti bocah. Baby face, bila kalian ingin menyebutnya dengan sedikit, yah, keren mungkin.

"Kau bisa mengajak yang lain kan?" Deidara menarik kembali tangannya. "Kau tinggal menelfon Itachi, atau Hidan, atau Kakuzu, atau Kisame, atau Pain, atau siapa saja asal jangan aku." Deidara berkata kesal.

"Cks! Hanya kau yang bisa membantuku kali ini Dei!" sepertinya Sasori mulai merayu. Dia memegang lembut tangan Deidara. Sedangkan Deidara hanya bisa memutar bola matanya, kesal.

"Merepotkan un!"

...

"Mau beli apa un?" Deidara bertanya pada Sasori. Sekarang mereka sedang memasuki Konoha Mall.

"Membeli hadiah untuk Sakura." Sasori tersenyum bangga. Pemuda blonde di sampingnya menjadi bad mood seketika. "Besok saat pulang sekolah aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Bagaimana menurutmu Dei?"

"Terserah." Ketus. Ya, wajar saja jika Deidara menanggapinya dengan seperti itu. Kalian sangat tau alasannya.

"Kami sudah cukup lama melakukan pendekatan, kau tau itu. Sepertinya memang sudah waktunya." Sasori tersenyum tulus.

"Danna, aku capek un. Sepertinya aku menunggu di food court saja." Ekspresi Deidara terlihat sangat letih. "Kau tidak apa-apa mencarinya sendiri?" senyum getir di tampakkannya.

"Oh, tidak apa-apa. Maafkan aku, sepetinya kau benar-benar sedang tidak enak badan." Sasori mengelus pelan rambut panjang sahabatnya. Dia tidak tau jika apa yang di lakukannya barusan malah semakin membuat perasaan Deidara semakin tersiksa.

Sendirian. Di bangku food court, Deidara melamun. Kalian pasti sangat tau bagaimana hancurnya perasaan Deidara sekarang. Rasanya dia ingin sekali menangis. Tidak sekarang, mungkin nanti setelah sampai di rumah dia baru akan melakukannya. Dia tersenyum getir untuk yang ke sekian kalinya.

...

Bel istirahat berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Entah kemana mereka akan pergi, mungkin ke kantin, ke taman, ke toilet, atau tempat lain. Tapi tidak semua siswa melakukannya, ada beberapa siswa yang masih setia berdiam diri di kelas. Sama seperti seorang siswa dengan rambut jingga acak ini. Tatapannya di edarkan ke seluruh penjuru kelas.

"Heh! Keriput!"

"Kyuu? Ada apa? Ini pertama kalinya kau menyapaku lebih dulu." Kalian tau siapa itu. Tentu saja Itachi.

"Kau tau kemana si kuning pergi?" nada bertanya Kyuubi terdengar seperti seorang perampok. Itachi hanya terkekeh kecil.

"Tidak. Dia menghilang sejak bel istirahat berbunyi. Tanya saja pada Sasori." Itachi kembali tersenyum.

"Cks! Malas." Kyuubi melengos. Terlalu malas untuk berinteraksi lebih jauh dengan makhluk keriput di sampingnya. Memalingkan kepala kearah jendela dan mulai melamun lagi.

"Kyuu, aku ingin bermain ke rumahmu lagi. Bolehkan?" Itachi memposisikan tangannya untuk menumpu kepalanya. Dia menghadap Kyuubi.

"Tidak."

"Padahal aku sangat merindukan Naru-chan."

"Jangan. Macam. Macam. Dengan. Adikku!" Kyuubi menggeram. Itachi kembali terkekeh, dia sangat tau bagaimana cara menggoda Kyuubi. Dia sangat menyukai ekspresi Kyuubi yang seperti ini. Sangat manis! Yaah, setidaknya hanya menurut Itachi. Entahlah, mungkin di mata orang lain dia akan terlihat seperti siluman rubah yang siap mengunyah manusia hidup-hidup.

"Tenang saja, aku tidak akan macam-macam dengan seorang yang begitu manis sepertinya." Tangan Itachi menepuk-nepuk pelan kepala Kyuubi. "Aku lebih tertarik dengan badass sepertimu."

PLAK

"Bangsat!" Kyuubi menampik tangan Itachi dengan sangat kasar. Itachi hanya tersenyum.

...

"Kenapa kau masih di sini? Ayo cepat pulang!" seperti biasa, Kyuubi selalu menjadi yang terakhir untuk meninggalkan kelas. Tapi kali ini dia menemukan temannya masih terduduk lemas di bangkunya.

"Dei. Kau masih hidup?" kini Kyuubi menarik rambut Deidara yang terikat.

"Sssh, sakit Kyuu!" dia merintih.

"Ayo pulang!"

"Kau pulang saja duluan. Aku sedang tidak ingin kembali ke rumah." Kembali Deidara menundukkan kepalanya.

"Kau kenapa lagi heh, kuning?" Kyuubi bersimpati, dia kemudian duduk di bangku sebelah Deidara. Bangku Sasori.

"Kyuu... hiks..." Deidara terisak kecil, matanya sedikit berair.

"Ehh? Kenapa kau menangis?"

"Kyuu... Sasori... Sasori un...hiks"

"Tidak apa-apa, berceritalah." Kyuubi mengusap pundak Deidara halus. Kemudian Deidara menyeka air matanya.

"Hari ini, hiks... Sasori akan..."

...

Meanwhile

"Sialan, bukuku masih ada yang tertinggal!" dengan tergesa-gesa Sasori melangkahkan kakinya kembali menuju ke kelas. Dia kesal, tentu saja karena ini menghambat rencananya untuk bertemu Sakura.

Tap Tap Tap

"Hari ini, hiks... Sasori akan..."

SRET

Sasori menghentikan langkahnya. Dia mendengar suara dari kelasnya. Suara yang sangat familiar, dan... terisak? Sasori sedikit penasaran. Dia memutuskan untuk menguping sebentar.

...

"... menyatakan perasaanya pada Sakura un." Hening sejenak.

"Aku tidak tau apa aku harus ikut bahagia atau bersedih." Kini Deidara tersenyum getir. "Kau pernah merasakannya Kyuu? Sakit, sakit sekali. Lebih sakit daripada luka yang sering aku dapat setelah berkelahi."

Kyuubi masih diam. Setia mendengarkan.

"Aku sayang pada Sasori. Aku tidak mau membaginya dengan orang lain. Aku takut dia tidak memperhatikanku lagi un."

"Mungkin, Dei. Perasaanmu pada Sasori hanya sebatas sayang kepada saudara. Aku mendengar kalian berdua di asuh dan tinggal bersama sejak kecil. Kau hanya khawatir Saasori tidak memperhatikanmu lagi."

"Ya un, dulu aku pernah berpikir seperti itu. Sasori memang kakakku yang terbaik. Pada awalnya aku selalu menyangkal perasaan sukaku padanya un. Tapi... tetap saja, hiks..."

Deidara dan Sasori adalah sudara tiri. Mereka berdua dia adopsi oleh seorang wanita paruh baya. Chiyo baa-san, mereka berdua memanggilnya seperti itu. Tumbuh bersama memang menumbuhkan rasa sayang dan saling ketergantungan. Seperti Deidara yang membutuhkan Sasori.

"Sudahlah. Tidak perlu seperti itu." Kyuubi mengacak rembut Deidara. "Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai kau kembali menjadi seorang yang cerewet dan menjengkelkan kembali."

"Kau benar-benar sialan Kyuubi un." Menyeka air matanya. Deidara kembali tersenyum. "Heh! Terimakasih ya. Boleh aku memelukmu un?"

"Eh?" sebelum Kyuubi menyetujui permintaan Deidara. Deidara sudah mendekap badan Kyuubi yang tidak jauh lebih besar darinya. Kyuubi hanya bisa terima, kemudian dia membalas pelukan teman kuningnya.

...

"Sakura. Sepertinya aku harus membatalkan janji hari ini."

PIK

Sembari melangkah keluar dari gerbang sekolah, Sasori menutup handphone-nya. Suram, dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Dia menyayangi Deidara. Jelas. Tapi... dia tidak tau bahwa Deidara mempunyai perassaan lebih padanya, dia juga tidak pernah peka. Ah, pikirannya buntu. Mungkin berjalan-janlan sendiri di taman kota akan merefresh pikirannya.

...

"Jika boleh jujur un," Deidara menatap takut pada Kyuubi. "Sebenarnya dulu aku mendekatimu karena rumor bahwa kau gay. Lalu, saat orang-orang mengataimu, aku juga ikut merasa, karena aku sadar bahwa akulah yang sebenarnya yang seorang gay. Hehe..."

"Huuuh! Aku terdengar seperti di manfaatkan." Kyuubi kesal. Dia berjalan mendahului Deidara. Kali ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Kyuubi.

"Bodoh! Tunggu un!" sedikit berlari Deidara mengejar Kyuubi. "Dengarkan dulu un, aku belum selesai bicara."

"Haaah~"

"Memang awalnya seperti itu,un. Tapi lama kelamaan aku jadi sadar kalau kau adalah orang yang benar-benar baik un!" Deidara tersenyum cerah. "Jadi, tidak perduli kau siapa, aku tetap bahagia bisa berteman denganmu un." Mereka berdua berhenti berjalan, kemudian saling menatap, dan saling melempar senyum tulus satu sama lain. Mereka benar-benar teman.

...

"Manis sekali uuuuunn!" memang, seperti yang sering Kyuubi katakan, mood sahabat blondenya ini sanagtlah labil. Sebagai bukti, sekarang dia dengan riangnya sudah memeluk Naruto dengan sangat erat dan eekspresi yang berlebihan.

"E-ehh... i-iya..." Naruto hanya tergagap, dia hanya bisa bersweatdrop dengan perlakuan Deidara.

"Kau benar-benar tidak mirip dengan kakakmu un! Dia sama sekali tidak ada manis-manisnya. Hahaha..." jika kalian palingkan pandangan kalian ke sebelah kanan, kalian akan melihat ekspresi Kyuubi yang siap mematahkan leher seseorang.

Disinilah mereka, ruang tamu keluarga Namikaze-yang sebenarnya hanya beranggotakan Kyuubi dan Naruto-. Inilah kedua kali Kyuubi membawa temannya kerumah. Naruto sangat bahagia. Selama ini kakaknya memang sangat menutup diri dari teman-temannya, apalagi setelah kematian kedua orang tuanya. Dia semakin menjadi orang yang individualis. Mungkin juga karena sifat buruknya yang tidak segan-segan menghajar orang yang mengusiknya.

Tapi sekarang Naruto melihat betapa kakaknya telah berubah. Dia sudah mulai bisa mengontrol emosinya dengan baik. Dan yang terpenting, sekarang dia mempunyai teman yang benar-benar baik hati. Tidak perduli jika Kyuubi mempunyai sikap yang kasar. Bukan kasar sebenarnya. Dia hanya tidak bisa menunjukkan perasaan yang sebenarnya pada orang lain. Dulu aku sudah penah menjelaskan teantang ini kan?

"Ne, Dei-nii. Aku sangat bahagia saat ada teman Kyuu-nii yang datang bermain kemari." Senyum lima jari di tampakkan oleh bocah dengan kumis kucing sebagai tanda lahir.

"Iya un. Aku juga senang bisa di terima." Deidara membalas. "Awalnya Kyuubi sangat susah untuk di ajak berteman. "

Mereka sedang berbincang tanpa Kyuubi. Dia sedang ada urusan penting dengan perutnya. Sehingga dengan terpaksa harus meninggalkan mereka berdua untuk ke kamar mandi. Tapi tak lama kemudian dia kembali dengan ekspresi yang begitu lega.

TOK TOK TOK

"Biar aku saja yang membuka!" seru Naruto, dengan cepat dia beranjak dari duduknya dan berlari menuju pintu.

"Sasuke!" senyumnya terkembang. "Eh? Itachi-nii juga." Bertambah lebarlah senyum Naruto.

"Siapa, Naruto?" tanya Kyuubi dari dalam.

"Sasuke dan Itachi-nii." Dia menjawab pertanyaan Kyuubi, tapi sepertinya tidak cukup jelas di dengar oleh Kyuubi. "Silakan masuk!" mereka bertiga berjalan menuju ruang tamu.

"Eh? Itachi?" Deidara berkata.

"Dei? Hai!" Itachi berjalan menghampiri Kyuubi dan Deidara. Setelah itu, mengacak pelan rambut blonde Deidara dan mencubit pipinya.

"Kau itu un! Kebiasaan." Deidara merengut. Kemudain tersenyum sambil menepuk kepala Itachi ruangan. Kyuubi hanya mendengus.

"Kenapa Kyuu-chan?" Itachi mengalihakan fokus. "Kau cemburu? Tenang saja, aku tidak akan berpaling darimu." Itachi tersenyum, merasa geli setelah mulutnya mengatakan itu. Deidara juga.

"Menjijikkan!" Kyuubi bergidik ngeri. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Kyuu-nii!" Naruto memperingatkan.

"Tidak apa-apa Naru-chan. Tidak perlu sekasar itu padaku Kyuu!" kemudia dia mengangkat sebuah kantong plastik hitam di tangannya. "Aku hanya memenuhi undangan Naruto tempo hari." Dia tersenyum. Naruto berbinar.

"Ini, kami membawaka ikan laut segar. Saudara kami baru saja mengirimnya." Lanjutnya.

Kemudaian Itachi menyerahkannya pada Naruto, dan Naruto meletakkannya di dapur. Yah, hari memang sudah menginjak senja. Dan berarti Kyuubi juga harus segera menyiapkan makan malam untuk Naruto. UNTUK NARUTO. Kemudian ketiga makluk ini datang dengan tiba-tiba, termasuk Deidara yang mendadak tidak ingin pulang hari ini.

Jika saja bukan karena Naruto. Ingin sekali membiarkan tamu-tamunya mati kelaparan. Kemudian dia menyelinap dan kabur ke Ichiraku ramen. Setidaknya itu akan lebih baik. Haha...

"Aku akan membantumu memasak un!" Deidara ikut bangkit dari duduknya. Menyusul Kyuubi menuju dapur. Kemudian mulai berfikir apa yang harus mereka masak kali ini. tentu saja dengan ikan laut yang di bawakan oleh Uchiha bersaudara.

Sementara kedua pemuda manis-yang satu bisa berubah menjadi mengerikan sewaktu-waku- ini sedang mempersiapkan makan malam. Di ruang tamu, Naruto dan Sasuke sibuk bercanda, sementara Itachi, dia sibuk dengan ponselnya, entah dengan siapa dia sedang mengirim pesan.

...

Di sisi lain, terlihatlah seorang yang sedang melamun di atas tempat tidurnya. Dia tidak pernah merasa segalau ini dalam hidupnya. Benar, seorang Sasori galau. Entahlah. Hari ini dia mendapat banyak pukulan keras.

Pertama, saat dia mengetahui bahwa Deidara ternyata menyukainya. Yang kedua, setelah dia membatalkan janjinya pada seorang gadis yang bernama Sakura. Ya, gadis yang pada awalnya dia sukai. Pada awalnya? Kenapa pada awalnya? Karena saat dia ingin menenangkan diri sendirian di taman kota, tidak senganja dia melihat Sakura bergandengan mesra dengan seorang laki-laki yang tidak dia kenal. Dia memutuskan untuk mengikuti mereka.

Tibalah Sakura dan laki-laki itu di belakang sebuah bangunan. Kemudian sedikit bercanda, saling menatap mesra dan kemudian berciuman. Pikiran Sasori semakin kacau. Tanpa aba-aba dia melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah. Sampai di rumah, ternyata Deidara belum ada di sana.

Hari beranjak gelap. Dia mulai khawatir. Puluhan kali dia mencoba menghubungi dan mengirim sms pada si blonde, namun handphonenya tidak aktif. Dan di sinilah dia sekarang. Terpuruk di atas ranjangnya. Menggelikan, aku jadi ingin tertawa...

Drrttt... Drrtttt...

Handphonennya berrgetar. Dengan segera dia mengambilnya. Pesan singkat. Saat dia melihat layar, hia menghela nafas, pesan dari orang yang tidak di harapkan ternyata. Itachi. Dengan malas dia membaca pesan tersebut.

Uchiha Itachi

'Mungkin kau harus ikut kami berpesta kecil malam ini. Datanglah ke rumah Kyuubi. Ini alamatnya. Blablabla...'

Ha? Kyuubi? Sasori mengangkat sebelah alisnya. Kenapa si Uchiha mengajaknya untuk ke rumah Kyuubi? Kemudian dia berfikir sejenak, lalu tersadar bahwa Deidara cukup dekat dengan pemuda jingga tersebut.

Dengan sedikit bersemangat, kemudan dia menyambar jaketnya dan berlari menuju alamat yang di berikan Itachi padanya.

...

"Waaaaaa!" Naruto berdecak kagum melihat semua makanan yang tersaji di mejanya. "Kyuu-nii dan Dei-nii memang yang terbaik!"

Sementara itu, Sasuke hanya berekspresi biasa. Dan Itachi lagi-lagi tersenyum.

TOK TOK TOK

"Ada tamu lagi?" Naruto heran, tumben sekali banyak yang mengunjungi rumahnya.

"Aku saja yang membuka." Dengan datar, Kyuubi melangakah untuk membuka pintu.

"Kau?" Kyuubi sedikit kaget melihat siapa yang datang.

"Siapa un?" karena penasaran, Deidara menyusul. Lalu, dia tercengang. "Danna un..." katanya lirih.

"Hai Dei." Sasori tersenyum dan melambai kearah Deidara.

"Kenapa bisa di sini un?"

"Aku mencarimu." Dengan tidak sopan, Sasori masuk kedalam rumah Kyuubi, melewatinya untuk menghampiri Deidara.

"Hei, kalian. Cepatlah! Atau makanannya akan segera dingin." Itachi muncul dari balik pintu ruang tamu. Ya, memang hanya ada ruang tamu yang serbaguna di sana.

Sepertinya malam ini sangat menyenangkan, walaupun Kyuubi tidak mau mengakuinya. tapi yakin lah bahwa di hatinya, dia sedang tersenyum.

"Kenapa Danna bisa di sini un?" tanya Deidara dengan mulut yang masih penuh dengan makanan pada Sasori. Mereka duduk melingkar di atas karpet dengan mengelilingi meja penuh makanan.

"Tidak boleh? Aku khawatir padamu." Tangannya terangkat, mengelus lembut rambut panjang Deidara. "Handphonemu tidak aktif."

"Eh? Batrenya habis un. Maaf." Menatap Sasori penuh rasa bersalah.

"Lagi pula, kau tidak memberitahuku kalau kau akan pulang larut." Sasori masih mengelus rambutnya. Deidara tertunduk.

"Kyuu. Mereka romantis ya?" mulai lagi, Itachi mulai menggoda pemuda Jingga di sebelahnya.

"A... apa-apa Itachi un!" Deidara tergagap.

"Tidak, aku hanya ingin mengajak Kyuubi bermesraan juga." Kemudian Itachi kembali menyendok supnya.

"Tidak, bahkan dalam mimpimu keriput!" Kyuubi fokus pada makanannya.

Sementara itu, Sasori mencium keganjilan pada tingkah sahabatnya. Naruto yang memang tidak tau apa yang mereka bicarakan tetap tidak menghiraukan dan masih mencoba mengajak Sasuke untuk bercanda, sesekali mengusilinya.

"Aku selesai." Itachi yang pertama menyelesaikan makannya. "Masakan kaliam memang yang terbaik. Benar kan, Sasori?"

"Kau benar."

"Yah, calon istri memang harus begitu."

JLEB

Sebuah pisau melewati samping kepala Itachi dan menancap di dinding belakangnya. Reflek, Kyuubi melemparnya. Salah siapa membuatnya kesal?

"Siapa. Yang. Kau. Sebut. Calon. Istri?" tanya Kyuubi dengan aura yang mengumpul seprti cakra dalam manga favorit Deidara.

"Hei, aku tidak bilang jika itu kau." Itachi berkata riangan. "Bisa saja kan yang ku maksud Deidara yang menjadi calon istri Sasori. Atau Naruto yang menjadi calon istri Sasuke?"

Sementara itu, wajah Deidara tertunduk, wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena itu tidak mungkin, dia ingin meangis. Naruto? Dia hanya tersenyum. Sebenarnya dia tidak tau apa yang para tetua ini bicarakan. Tapi karena dia mendengar namanya di sebut. Sasuke? Dia menyeringai bangga.

"Naruto? Tidak!" Kyuubi mulai berteriak kesal. Kemudian mencoba menenangkan diri supaya tidak menyerang Uchiha berengsek ini sekarang.

"Haah... Kau selalu mengambil resiko besar Itachi." Kali ini Sasori yang angkat bicara. "Jika kau gay aku bisa memaklumi itu. Tapi kenapa kau tidak mencari uke yang manis seperti... Deidara mungkin?"

"Memang kau rela memberikannya untukku?" nada bicara Itachi menantang.

"Kau bercanda? Tentu saja tidak!" kemudian Sasori menarik Deidara dalam pelukannya. Mendekapnya erat. "Dia hanya milikku!"

"Danna..." mata Deidara membulat, kaget. Dia berkata pelan di dalam pelukan Sasori.

"Kalian memang aneh!" Kyuubi memijat kepalanya.

"Oh, iya Teme! Bukankah tadi kau berjanji akan membantuku mengerjakan matematika?" kata Naruto. "Ayo! Ke kamarku saja! Semuanya, aku ke kamar dulu ya!" Naruto menyeret tangan Sasuke ke ruangan sebelah. Kamarnya. Tidak masalah bagi Sasuke. Dia malah merasa senang.

Sepeninggal SasuNaru, ruangan ini menjadi sedikit sepi. Itachi yang hanya duduk bersandar pada dinding. Kyuubi yang meneguk jus apel KHUSUS untuknya. Dan Sasori yang masih memeluk Deidara dari belakang.

"Saso, bisakah kau melepaskan Dei-chan? Sejujurnya aku iri melihatnya." Itachi berkata dengan nada sedikit kesal. Hanya di balas dengan gelengan dari Sasori. "Ayolah, Kyuu. Bersikaplah manis sebentar saja dan biarkan aku memelukmu." Dasar mulut besar Itachi. Kyuubi memilih untuk mengabaikannya. Sejujurnya dia sangat muak dengan mulut Itachi.

"Em... Danna... bisa tolong lepaskan aku sebentar?" Deidara berkata dengan ragu.

"Tapi aku merindukanmu Dei." Oke, sikap 'sok' manja Sasori ini sudah membuat Itachi dan Kyuubi hampir muntah. LOL

"Sebentar saja un. Aku harus membantu Kyuubi membereskan ini."

"Cks!" dengan berat hati Sasori melepaskan pelukannya. Kemudain Deidara dan Kyuubi mulai untuk membereskan meja, membersihkannya, mencuci piring dan menempatkannya pada tempatnya masing-masing.

"Sejujurnya, Sasori. Kau adalah pihak paling bodoh dalam kasusmu sendiri." Itachi dan Sasori mulai perbincangan antar seme. Huh! Apa-apaan?

"Memang, dan aku mengakui itu. Aku menyesal."

"Kau terlalu sibuk dengan pikiran ke-straight-an mu, sehingga kau tidak peka terhadap perasaan Deidara. Aku saja sudah merasa sejak beberapa tahun terakhir." Itachi meneguk air putih yang masih di tinggalkan Kyuubi di meja.

"Ya, aku juga sudah berfikir. Memang Deidara-lah yang terbaik. Tidak perduli jika itu berarti bahwa aku seorang gay."

...

"Kyuubi, terimakasih ya un. Hari ini sangat menyenangkan!" pemuda blonde ini sedang berpamitan pada sang pemilik rumah. Mereka sekarang berada di pintu gerbang.

"Tidak masalah."

"Kalau begitu, kami pulang dulu ya un." Deidara melambaikan tangan. Kemudia berbalik dan melangkah bersama Sasori.

"Hei! Merah!" Kyuubi berseru. Sasori menoleh. "Jika terjadi sesuatu padanya aku tidak segan-segan mematahkan lehermu!"

"Itu tidak akan terjadi. Kau tenang saja rubah!" Sasori berkata dengan mantap. Kemudian meraih tangan Deidara dan merekapun berjalan pulang.

"Huh. Seperti drama picisan saja ya?" tanya itachi yang berdiri bersandar pada tembok gerbang.

"Memang." Kyuubi mengangkat kakinya untuk kembali ke dalam rumah.

SRET

Dia terkejut. Dengan cepat Itachi telah menariknya kedalam pelukan. Dia mencoba memberontak.

"Please, Kyuu. Sebentar saja!" Itachi berkata lirih. Kyuubi mendengus kesal, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti Itachi.

...

"Danna un..." deidara berhenti melangkah. Sasori yang yang menggandengnya juga ikut berhenti.

"Ke-kenapa? Kenapa un?" matanya berkaca-kaca. Kali ini dia benar-benar akan menagis. Merasa jika perasaanya di permainkan.

"Eh? Kenapa menagis?" Sasori hendak menyeka air matanya. Tapi tangannya di tepis oleh Deidara. Dia tau benar alasan Deidara menangis sekarang.

"Aku menyukai Danna un... hiks..." dia mulai terisak. "Tapi aku tidak berani hiks... mengungkapkannya pada Danna hiks... karena Danna menyukai orang lain hiks..." suaranya bergetar, tangisnya semakin menjadi.

"Danna selalu bercerita tentang dia hiks... Danna tau perasaanku? Hiks... sakit un!" Sasori tetap diam. "Kemudian Danna bilang ingin mengungkapkan perasaan padanya hiks hiks... tapi setelah itu mahal bersikap seperti ini padaku un? Hikss... kau kejam Sasori. Hiks... setelah kau dapat gadis itu, kau juga ingin mempermainkanku? Begitu un?" nada suaranya meninggi. Dia kalap.

Sasori tersenyum tipis. "Kemari lah!" dengan lembut dia menuntun Deidara kedalam pelukan untuk menenankannya.

"Maafkan aku. Aku memang bodah, dan tidak peka." Dia mengelus rambut Deidara. "Lagipula... aku tidak mengungkapkan perasaan pada siapapun."

"Eh?" Deidara mendongak.

"Tadi aku berfikir. Apa aku benar-benar menyukainya? Dan mencoba mengingat setiap kejadian yang kami alami bersama untuk meyakinkan perasaanku padanya. Tapi tidak bisa." Sasori menatap Deidara lekat. "Yang terpkirkan olehku hanyalah setiap saat aku sedang bersamamu. Kemudia aku sadar, bahwa yang sebenarnya aku sukai adalah Deidara. Bukan dia. Mungkin aku mendekatinya dulu karena aku berfikir bahwa aku adalah seorang straight. Dan akan selamanya straight. Semacam pengalih perhatian, kau tau?"

Sementara itu, tangis Deidara sudah mereda, meskipyn air matanya masih tertinggal di sana. Dia mendengarkan dengan seksama setiap kata yang keluar dari bibir Sasori.

"Tapi sekarang aku tidak perduli. Aku hanya menyukaimu." Dengan sayang Sasori mengecup lembut pipi Deidara yang memerah.

"Uh... Danna un." Deidara hendak menangis lagi. Kali ini dia menangis terharu.

"Sudah, jangan menagis. Kau benar-benar jelek dengan ekspresi seperti itu!" Sasori tersenyum melihat Deidara yang cemberut. "Ah, hampir lupa!"

Sasori merogoh tas yang ia bawa. Mengeluarkan sebuah kotak kado berwarna kuning dengan gambar yang lucu.

"Ini apa un?" Deidara menatap penasaran pada kotak tersebut.

"Buka saja!"

Kemudian Deidara menyobek kertas pembungkus itu pelan. Mengeluarkan isi di dalamnya. Dia kaget, senang sekali rasanya.

"Un! Ini... lucu sekali!" matanya berbinar bahagia melihat dua boneka chibi mereka yang terbuat dari tanah liat, di sana mereka berdua bergandengan di dekat sebuah rumah kecil dan hamparan salju yang terbingkai box kaca.

"Danna... Terimakasih!" tanpa aba-aba Deidara memeluk Sasori, dan Sasori membalasnya dengan senang hati. "Indah sekali. Darimana kau mendapatkan ini un?"

"Aku memesannya dari satu minggu lalu. Makannya kemarin aku mengajakmu mengambilnya." Kini melanjutkan perjalanan menuju rumah mereka.

"Tapi katamu kau mencari hadiah untuk Sakura un?" Deidara bingung.

"Memang. Hanya hadiah yang sederhana. Tujuan utamaku untuk mengambil itu." Mereka terus berjalan. "Kau tau? Sebenarnya itu untuk hadiah perayaan hari dimana kita di adopsi oleh Chiyo baa-san." Sasori memandang lembut Deidara, mengeratkan genggaman tangannya.

"Ah, hampir lupa. Satu minggu lagi kan un?" pertanyaan Deidara hanya di jawab dengan gumaman ringan Sasori.

Setelah beberapa menit mereka berjalan, sampailah mereka di rumah tercinta.

"Satu hal lagi Dei. Dan ini sangat penting." Sasori menahan tangan Deidara yang hendak membuka pintu masuk rumahnya.

"Ada apa un?" Deidara tertegun sejenak melihat wajah Danna-nya yang begitu serius.

"Maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Sasori. Tidak di ragukan lagi jawaban apa yang akan di berikan oleh Deidara. Biarlah mereka menikmati cinta yang sedang bersemi. Dan sepertinya hari esok akan ada cerita cinta baru untuk di ceritakan kembali.

~~TBC~~

Haaaaaaaah~~

Finaly~ yampun, ini kok tumben ya, Haha nulis sampe 3k? Lagi banjir inspirasi ato lagi banyak waktu luang? Wkwkwkw XD

Dan Haha ngrasa, semakin lama nulis semakin amburadul aja gaya penulisannya DX

Oke, kali ini SasoDei ya XD gimana? Gimana? ItaKyuu nya masi OTW nih, salah siapa sikap tsundere Kyuu susah banget di jinakin -_-

Oh, iya... kalian pernah bayangin Kyuubi human-ver? Kalo iya kayak gimana? Kalo Haha sih bayanginnya kayak gini blog/hell-yeah-haha yaah, itu cuma coret2 gaje aja sih masih sketsa. Maaf kalo ada yang nggak berkenan wkwkwkwk XD maklum, ga bakat gambar nih XD

Thanks to :

Yamaguchi Akane : wkwkwk~ itulah salah satu kelebihannya XD juga kelebihan Haha sih sebenernya XD makasi ya uda setia sama fic ini /

Guest : makasi udah baca #hug&kiss

Zora Fujoshi : Itakyuu & SasoDei :3 SasuNaru cuma dikit DX maapin yak! Gomen baru update

missapple05 : yah, bersedih dahulu bersenang kemudian gitu lah pokoknya XD kamu kasi fb kamu aja, ntar aku add... jaga privasi soalnya #sok XD hahaha...

silent reader : tengkyuu udah baca Fic Haha, karena kalian gak meninggalkan jejak, Haha jadi gak bisa kasi hug&kiss buat kalian :'( karena kalian gak ninggalin komentar juga, itu Haha nganggepnya kalian udah puas sama Fic ini~ hahahaha...

tengkyuuu semuanyaaaaa~