IF I'M A GAY, YOU GOT PROBLEM WITH IT?
Disclaimer ©Masashi Kishimoto
Story©Freaky Haha
Pairing: ItaKyuu, SasoDei
Rated: T (rating dapat berubah sewaktu-waktu)
Genre: Romance, Friendship
Warning: Cerita ini di buat demi kesenangan pribadi author.
DLDR!
...
Sesuatu yang tidak umum memang kadang sulit di terima mayoritas masyarakat, namun jika kau berusaha dan berpegang teguh pada pendirianmu, 'mungkin' mereka akan mengerti dan memahami jika kalian memang benar-benar berbeda. Dan yang terpenting, rasa saling menghormati atas sesama itulah yang harus di junjung tinggi.
Ya. Hanya perlu keyakinan. Jika kau kehilangannya, kau tidak akan bisa bertahan dari sayatan kata-kata mereka. Berbicara tentang keadaan ini, aku menjadi teringat tentang beberapa pemuda sekolah menengah atas yang memang sedang dalam keadaan tersebut.
...
Seperti biasa, istirahat memang menjadi waktu sangat berharga bagi sebagian besar siswa. Oh, lihatlah! Di pojok belakang ruangan kelas 3-b! segerombolan siswa laki-laki dengan asyiknya memainkan kartu yang di bawa oleh Hidan.
Sungguh. Aku tidak habis pikir, sebenarnya ini sekolah atau tempat judi sih? Tapi, mungkin ini wajar saja bagi anak-anak seusia mereka. Jika tidak seperti itu masa muda mereka tidak bahagia. Hahaha...
"Chi! Cepat kemarilah! Aku akan segera membagikan kartunya." Seru Kisame pada pemuda berrambut hitam panjang yang masih duduk mains di tempatnya.
"Baiklah, tunggu sebentar." Dia menaggapi. "Ayo, Kyuu! Kau juga ikut main." Ajaknya pada pemuda berrambut jingga di sampingnya.
"Tidak, aku malas." Dia berkata bosan.
"Ayolah, sekali-kali kau juga harus bermain bersama teman-teman yang lain!" Itachi menarik tangan kanan Kyuubi. Kyuubi tetap kukuh.
"Aku bilang tidak keriput!" bisa kalian lihat, dia mulai kesal.
"Aku bilang iya, rubah!" Itachi malah tersenyum, entah kenapa dia melakukannya.
"Tidak!"
"Iya. Kau. Harus. Ikut." Kata Itachi penuh penekanan.
"Sudahlah Itachi! Tidak usah memperdulikan dia. Ayo cepat kemari!" kali ini Nagato yang berkata. "Dan kau! Seharusnya kau senang sudah ada yang berbaik hati mengajakmu! Dasar gay tidak tau terimakasih." Lanjutnya ketus.
SRAK. Suara kursi bergeser.
BRAK. Terdengar gebrakan di meja.
"Bisa kau jaga mulutmu, HAH?" dia geram. Semua mata tertuju padanya. Kaget, tentu saja! Tidak ada yang menyangka dia akan menggebrak meja dan membentak Nagato.
"Kau... kenapa, Sasori?" teman-temannya terheran heran dengan apa yang di lakukan pemuda merah itu.
"Danna..." Deidara yang duduk di sebelahnya berkata lirih. Dia juga kaget.
"Ada apa dengan gay? Hah?" Sasori mulai bicara kembali. "Apa kalian keberatan dengan itu? Ada masalah?"
Semua diam. Tidak seperti biasanya, Sasori yang di kenal kalem dan pendian bisa sampai semarah ini karena sebuah kata-kata yang tidak di tunjukkan padanya.
"Kau ini kenapa, eh, Saso?" kali ini Yahiko ganti bertanya. "Benar-benar aneh!"
"Huh!" Sasori mendengus. "Kenapa? Tentu saja aku tersinggung dengan kata-kata kalian!" dia memandangi temannya satu persatu. "Kalian tau? Aku memang aneh, dan aku..."
Belum menyelesaikan kata-katanya pemuda merah ini menarik lengan teman sebangkunya, Deidara, Kekasihnya. Dengan tiba-tiba dia memeluk tubuhnya dan mencium bibir ranum Deidara. Semua mata terbelalak kaget, semua orang yang berada di kelas. Termasuk juga sang objek yang bibirnya tengah di pagut mesra oleh sang kekasih. Kyuubi? Tentu saja berreaksi sama dengan teman-teman sekelasnya. Itachi? Entahlah, ekspresinya seperti menahan tawa. Memangnya ini lucu?
Setelah beberapa saat. Sasori melepaskan bibir Deidara. Tetapi masih tetap memeluknya. Haaaah~ sepertinya mereka masih dalam keadaan shock berat dengan apa yang di lakukan Sasori barusan.
"Da... Danna un..." wajah Deidara memerah padam.
"Dan aku gay." Sasori melanjutkan kata-katanya yang sempat terputus tadi tanpa memperdulikan panggilan Deidara. "Lalu, apa kalian akan membully kami juga seperti yang kalian lakukan pada Kyuubi?" dia menantang.
"Haaah~ Sepertinya sudah cukup, Saso!" Itachi bangkit dari duduknya. "Kau sudah terlalu membuat shock mereka hari ini." Itachi tersenyum.
"Biarkan saja. Kita lihat apa yang akan mereka lakukan kepadaku dan Dei juga." Katanya ketus. "Atau kalian memang hanya berani pada Kyuubi? Huh! Sungguh, aku memang baru sehari menegenalnya, tapi dia lebih baik daripada kalian." Dia melirik sedikit pada pemuda berrambut jingga acak tersebut.
Tidak ada satupun komentar keluar dari bibir mereka. Nah! Mungkin mereka tidak mempunyai cukup nyali untuk melakukan hal yang sama pada mereka berdua yang notabanenya adalah teman lama mereka sendiri.
"Kyuu, kemari!" dengan tersenyum sangat menawan, Itachi menarik Kyuubi supaya berdiri di sampingnya. Itachi bersandar pada meja, tepat di samping Sasori yang sedang memeluk Deidara.
"Cks! Ada apa, heh?" dengan amat sangat terpaksa bangkit dari duduknya.
"Aaa... anak pintar." Itachi memuji, kemudian dengan gerakan cepat dia menarik Kyuubi dan memeluknya seperti yang di lakukan orang di depannya.
"Isshhh! Keriput sialan! Apa yang kau lakukan!" Kyuubi mencoba memberontak.
"Sst! Diamlah sebentar, atau aku akan menciummu seperti yang di lakukan Sasori!" Itachi terkekeh, mengeratkan pelukannya terhadap Kyuubi. Kyubi hanya bisa bergidik ngeri.
"Nah! Teman-teman..." Itachi memulai berbicara pada teman-temannya yang memandangnya aneh. "Mulai sekarang, tidak ada lagi bullying . Apalagi terhadap orientasi seksual seseorang. Baik straight, gay atau lesbi juga pantas mencintai kan?" dia berkata dengan bijaksana. Memang beginilah Itachi. "Selain Sasori dan Deidara, aku juga. Aku menyukai orang ini." Itachi memutar badan Kyuubi, sekarang dia memeluknya dari belakang.
"Jangan bercanda bodoh!" Kyuubi geram, mulai memberontak lagi. Dia benar-benar kesal. Apa maksudnya Itachi mengatakan itu di depan teman satu kelas mereka. "Lepaskan! Setelah ini aku akan membunuhmu keriput sialan! Lepaskan aku!"
"Diamlah, rubah kecil!" di paksanya lagi si rambut jingga. "Baiklah, sekarang aku lapar. Ayo ke kantin!" Itachi mengajak Sasori dan Deidara, tak lupa dia juga menyeret Kyuubi, dengan paksa tentunya.
...
Hari ini memang banyak pelajaran kosong. Entahlah, kata salah seorang anggota OSIS, para guru sedang mengadakan rapat dadakan. Rapat untuk apa? Ah, bukan urusan kita. Yang penting kita senang karena pelajaran kosong.
Seperti mereka berempat yang sedang membolos di taman belakang sekolah. Ya, setelah membeli beberapa makanan dari kantin mereka langsung menuju kesana. Sekedar untuk melupakan peristiwa yang baru saja terjadi.
"Bagaimana kalau hari Minggu kita pergi berjalan-jalan un?" Deidara berucap. Kemudian menyendok lagi pudingnya.
"Boleh saja. Mau kemana?" Itachi menyahut.
"Tidak perlu pergi jauh-jauh." Kini Sasori yang mengusulkan. "Mungkin berjalan-jalan di objek wisata terdekat akan meyenangkan." Tambahnya.
"Kau ikut, Kyuu?" tawar Itachi pada pemuda di sampingnya. Kini mereka duduk di bawah pohon dalam posisi melingkar, dengan makanan berada di tengah-tengah.
"Tidak." Jawanya singkat dan padat.
"Ehh? Kenapa un?" Deidara mulai cemberut. "Awas saja jika kau tidak mau ikut un!" dia mengancam. Tidak menakutkan sama sekali. Hahaha...
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan rumahku." Dia beralasan. Sangat malas sebenarnya. Baginya, pergi dengan Deidara bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah pemuda berrambut hitam panjang di sampingnya tersebut. Ya, kalian tau laah...
"Lagi pula, aku tidak bisa meninggalkan Naruto sendiri seharian." Mendengar itu Itachi memutar bola matanya. Kambuh lagi sifar brother compleks Kyuubi.
"Haah~ Sasuke akan dengan senang hati menemaninya seharian, Kyuu." Itaci memberi jalan keluar.
"Tidak!" Kyuubi menatap tajam Itachi. "Anak ayam itu sama berbahayanya denganmu keriput! Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh adikku yang polos!"
"Cks... Sasuke tidak akan macam-macam. Aku akan membunuhnya jika berani macam-macam dengan anak semanis Naru-chan. Ayolah Kyuu~" dengan tidak tau dirinya dia hendak memeluk Kyuubi, naas, sepatu Kyuubi telah mendarat di wajah tampannya. Oh, lucu sekali. Sepertinya kedua orang lainnya sampai tidak bisa berhenti tertawa.
"Hahaha... Eh, tunggu sebentar un! Bukankah minggu ini ada festival tahunan di alun-alun kota?" setelah berhenti tertawa pemuda blonde cantik ini teringat sesuatu. "Bagaimana jika malam minggu kita kesana saja un? Biasanya acara puncak ada hanabi." Tambahnya.
"Uh, sepertinya itu lebih baik." Tanggap Itachi, tangannya masih sibuk mengusap hidung yang menjadi korban kekerasan siluman rubah. Untung saja insiden tersebut tidak mengurangi ketampanannya.
"Baiklah, sudah di putuskan, malam minggu kita akan ke festival." Kata Sasori memutuskan. "Kau tetap tidak mau ikut, rubah?"
"F*ch you, merah! Kenapa kau memanggilku seperti itu?" dengan reflek, dia melempar apel di tangannya. "Sialan, kau membuatku melempar apelku!" kemudian dia menyesal dengan tindakan. Betapa dia sayang dengan apel yang telah melayang tersebut.
"Oh, aku lupa. Hanya Itachi yang boleh memanggilmu seperti itu?" sejenak dia melirik Itachi yang mengacungkan jempolnya dengan sebuah senyum penuh makna.
"Tidak dia. Tidak siapapun!" Kyuubi mengeratkan giginya.
"Sudahlah! Kalian benar-benar seperti anak kecil un." Deidara mencoba melerai. Memang harus ada yang bertugas sebagai pelerai di antara Itachi dan Kyuubi, di tambah sekarang Sasori juga mempunyai hobi baru untuk beradu mulut dengan Kyuubi.
"Aku memang masih anak kecil. Tapi dia sudah seperti paman-paman mesum." Kata Kyuubi polos dengan menunjuk kearah Itachi.
"Tapi aku hanya mesum denganmu, Kyuu." Itachi berkata, kemudian meniup pelan belakang telinga Kyuubi.
"Akkhh! Apa yang kau lakukan bodoh!" dengan cepat Kyuubi menghindar dari Itachi. Dan setelah itu kalian bisa mendengar rubah ini mengabsen seluruh penghuni kebun binatang kota Konoha.
...
"Huh! Kenapa harus memakai yukata seperti ini?" dengan kesal Kyuubi mematut dirinya di cermin. Sebenarnya dia malas untuk pergi, di tambah lagi dengan memakai pakaian adat yang baginya merepotkan. Dia lebih suka memakai celana dan kaos seperti biasanya.
"Janagan mengeluh Kyuu-nii. Ini namanya mengahargai budaya! Toh, belum tentu satu tahun sekali kau memakai pakaian seperti ini?" adiknya menasehati. Naruto juga telah bersiap dengan yukatanya yang berwarna kuning, bukan kuning cerah seperti rambutnya, lebih gelap dan dengan gradasi warna-warna lain untuk menambah kesan lebih manis tetapi masih terkesan manly. Kebetulan juga dia akan pergi bersama teman-temannya.
Sedangakn Kyuubi sendiri? Dia dalam balutan yukata berwarna jingga dengan gradasi mereah dan hitam di beberapa bagian. Dia memang suka warna seperti itu. Lihatlah, betapa tidak niatnya si rubah ini memakai yukata, lengannya di gulung pendek seenaknya.
"Kau mau berangkat bersamaku atau denga teman-temanmu?" Kyuubi tidak mnggubris perkataan adiknya, dia lebih memilih melempar pertanyaan lain.
"Aku akan berangkat dengan Sasuke. Teman-teman lain menunggu di sana." Jelasnya.
"Anak ayam itu lagi." Kyuubi mendengus.
"Jangan seperti itu Kyuu-nii. Dia sangat baik padaku!" Naruto kesal, kemudian menggembungkan pipinya. Menggemaskan sekali. Andai saja tidak ada suara mengganggu mereka, pasti Kyuubi sudah menistai pipi adiknya tersebut.
"Ayo berangkat, Naruto." Seorang bocah dengan style rambut melawan gravitasi telah berada di pintu masuk rumahnya.
"Baiklah." Naruto tersenyum lebar dan segera menghampirinya. "Kyuu-nii, aku berangkat dulu."
"Ya-ya-ya, terserah." Sembari berkata dia mengunci pintu rumahnya. Berjalan ke pintu gerbang dan menunggu ketiga temannya. Dia bersandar di tembok, tidak lupa dengan jus apel instant di tangannya. Benar-benar maniak apel.
"Kyuu-chaaaan~" seseorang berteriak riang. Dia berlari menghampiri Kyuubi dengan riang gembira. Di belakangnya, ada dua orang lain mengikuti. Dan Kyuubi pun menoleh.
"Hm?" Kyuubi mengangkat sebelah alisnya, heran. "Kau benar-benar terlihat seperti perempuan, Dei." Sejenak, dia memperhatikan penampilan Deidara dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sebenarnya biasa saja, tidak ada yang di rubah darinya. Rambut blonde di ikat setengahnya juga masih sama. Apa yang berbeda? Oh, mungkin karena yukata yang dia gunakan.
Tapi, tidak! Yukata itu normal-normal saja. Seperti yukata yang di pakai yang Kyuubi, Itachi, maupun Sasori. Atau memang karena wajah Deidara sudah seperti perempuan? Aku tidak tau...
"Tidak un! Aku laki-laki!" dia menggembungkan pipinya.
"Mana ada laki-laki yang ngambek dengan menggembungkan pipinya seperti itu?" Kini Itachi menimpali.
"Kalian jahat un!" dia berpura-pura kesal. "Ne, Danna, mereka membuliku." Deidara berpaling kearah Sasori, lalu memeluknya.
"Tidak. Mereka hanya bercanda." Di elusnya rambut blonde Deidara. "Apapun yang kau gunakan, kau tetap terlihat manis." Sasori berkata lembut. Kemudian dia mengangkat dagu kekasihnya perlahan, hendak mencium Deidara.
"CUT!" Kyuubi berteriak. Dia mulai muak dengan pemandangan di depannya. Jika Deidara sudah mulai manja dan Sasori mau meladeninya, makan drama picisan pun di mulai. Seperti dunia milik berdua, menyisakan Itachi dan Kyuubi sebagai lalat pengganggu.
"Kalian berdua, hentikan." Dengan bosan Kyuubi memijat keningnya. "Ayo cepat berangkat!"
"Uh, kau ini kenapa sih un? Marah-marah saja kerjanya." Deidara menyusul Kyuubi, meninggalkan Itachi dan Sasori yang berjalan santai di belakang.
"Kau pikir?" Kyuubi memutar bola matanya. "Kalian bermesraan tidak melihat keadaan."
"Baiklah, maafkan kami ya Kyuubi un!" Deidara mencubit ringan pipi Kyuubi, kemudian tersenyum lima jari, manis sekali.
"Hn."
"Lagi pula Kyuu, kenapa kau tidak berpacaran saja dengan Itachi un?" di mulailah perbincangan pribadi oleh Deidara. Dia menoleh ke belakang, memastikan Kedua orang lainnya tidak mendengar.
"Cih! Kau bercanda?" Kyuubi mendecih. "Itu tidak akan terjadi, bahkan dalam mimpi terburukku sekalipun."
"Buanglah sifat tsundere mu un!" Deidara menjitak kepala Kyuubi pelan.
"Siapa yang kau sebut tsundere, heh?" Kyuubi geram. Aura siluman rubah berekor sembilan keluar dari tubuhnya.
"Aaa~ mana ada tsundere yang mau mengaku!" sedikit menjauh dari Kyuubi, Deidara mengejeknya dengan menjulurkan lidah pada Kyuubi.
"Akan ku habisi kau!" Kyuubi hendak mengejar Deidara, tapi sang objek telah berlari dan bersembunyi di belakang Danna-nya. "Heh! Kuning, jangan bersembunyi kau!"
"Weeekk..."
"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan, hm?" Itachi menarik tangan Kyuubi. Menghentikannya demi keselamatan sahabat blondenya.
"Bukan apa-apa un! Hanya masalah sepele." Sahut Deidara sambil melihat Kyuubi yang sedang kesal.
"Jangan memasang muka seperti itu un!" seru Deidara. "Baiklaah~ aku minta maaf menyebutmu tsundere. Kemari un!" Deidara menghampiri Kyuubi lagi, mengajaknya bersalaman dan menggandengnya. Mendengar kata 'tsundere' membuat Itachi dan Sasori sedikit terkekeh.
"Dei, sepertinya kau salah menggandeng orang." Kata Sasori memperingatkan.
"Maafkan aku Danna." Senyum manis di berikannya pada sang kekasih. "Tapi, aku harus berbicara sedikit dengan Kyuu, un."
"Sudahlah Saso, mungkin mereka sedang membicarakan masalah-masalah uke."
"Aku dengar itu keriput! Dan aku bukan uke." Kyuubi hampir berbalik dan menyerang Itachi, tetapi tangan Deidara menahannya.
"Tunggu un!" cegahnya. "Aku ingin berbicara!"
"Haah~ apa?"
"Aku ingin berbicara tentang Itachi." Kata Deidara pelan. Kyuubi diam, menyimak.
...
"Waaaa! Ramai sekali!" mata Deidara berbinar. Mereka telah memasuki pintu masuk festifal. Seperti biasa, penuh dengan stand makanan, permainan, ramalan, dan banyak lagi. Sepertinya pemuda blonde ini bingung harus menentukan mana stand pertama yang akan dia kunjungi.
"Ne, Danna, un! Ayo jalan-jalan!" dengan riang si blonde menyeret tangan kekasihnya meninggalkan dua orang yang lain. Mereka berdua benar-benar terlupakan. Hahaha...
"Haaah~" seorang menghela nafas, Itachi. "Jadi, Kyuu, kita akan pergi kemana?"
"Entahlah, aku tidak begitu tertarik." Kyuubi berjalan pelan mendahuliu itachi. Melihat kanan-kiri, benar-benar tidak ada yang menarik baginya, hanya berjalan tanpa arah.
"Kemari!" Itachi menyamari langkah Kyuubi. Menarik tangannya asal. Kyuubi menyerinyit heran, nada Itachi terdengar datar dan dingin walaupun hanya mengatakan satu kata.
Kali ini Kyuubi terima saja dan mengikuti kemana arah jalan Itachi. Berjalan pelan dalam diam, sesekali Kyuubi melihat kearah wajah Itachi yang datar. 'Kenapa dengan orang ini?'
"Itachi-senpai!" samar, terdengar sebuah suara menyapa dari kejauhan. Itachi menghentikan langkahnya dan mengedarkan pandangan. "Itachi-senpai!" seorang terlihat berlari dengan anggunnya dalam balutan yukata berwarna hijau tuanya.
Kyuubi ikut menoleh. Dia melihat seorang yang entah laki-laki atau perempuan berlari menghampiri mereka. Sangat anggun menurutnya. Rambut hitam panjangnya berkibar di terpa angin, tersenyum dengan sangat tulusnya. Genggaman tangan Itachi terlepas.
"Haku?"
BUGH
Orang yang sedang kita bicarakan, Haku, menghambur mesra kedalam pelukan Itachi. Mendekap Itachi erat untuk beberapa saat. Reflek, tangan Itachi membalas pelukannya untuk menahan tubuh mereka supaya tidak goyah.
"Long time no see, senpai!" masih memeluk Itachi, deia berkata.
"Long time no see, Haku." Itachi membalas pelukannya. "By the way, kenapa kau di sini?" pelan-pelan melepaskan diri.
"Aku hanya ingin mengunjungi senpai." Haku benar-benar merasa bahagia, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
"Benarkah? Aku senang mendengarnya." Itachi mengelus rambut hitam orang di depannya.
"Iya. Sebenarnya besok aku baru ingin mengunjungi senpai. Tetapi malah bertemu di sini."
"Oh, begitu. Bagaimana keadaanmu? Baik?" Itachi mulai terhanyut percakapan dengan orang ini. dia tidak menyadari jika seorang yang sedari tadi bersamanya telah menghilang entah kemana.
...
Kyuubi POV
"Benarkah? Aku senang mendengarnya." Aku melihat si keriput sialan itu mengelus rambut hitam orang di depannya.
Entah kenapa, saat itu juga dadaku rasanya sedikit... sakit, mungkin. Sepertinya aku tidak akan tahan berlama-lama di sini. aku ingin pulang saja. Oh, lihatlah, mereka terlalu asik mengobrol. Sialan itu sepertinya lupa jika ada aku. Aku benar-benar akan membencinya.
Haaah! Kenapa dadaku rasanya masih sakit? Aku menghentikan langkah. Memegang dadaku, meremas yukata yang ku gunakan. Aku tertunduk. Sebenarnya ada apa denganku?
"Kyuu-nii?" sebuah suara mengagetkanku. "Kenapa kau sendirian? Diaman yang lain?" ternyata hanya Naruto dan teman pantat ayamnya.
"A-aku lelah. Jadi aku ingin pulang duluan." Aku memalingkan wajahku.
"Baiklah, Kyuu-nii, hati-hati di jalan ya. Istirahat yang cukup. Mungkin aku pulang sedikit larut." Dia benar-benar adik yang paling ku sayangi. Dia berkata padaku dengan tatapan khawatir.
"Baiklah, kunci ku taruh di tempat biasa ya." Aku berlalu sambil melambaikan tangan.
...
Sampai di rumah, langsung ku basuh wajahku, melihat seseorang di dalam kaca. Dia benar-benar terlihat payah, rautnya penuh keletihan. Kali ini aku melihat tangannya terangkat. Memegangi dadanya. Oh, sial! Ternyata itu aku.
Sekali lagi aku bertanya pada diriku sendiri, 'apa yang terjadi denganku?'. Kemudian aku mulai berfikir tentang sesuatu yang tidak ingin ku pikirkan. Mungkin aku hanya penasaran, siapa orang tadi? Haku? Ada hubungan apa dia dengan Ita... maksudku dengan keriput sialan itu? Kenapa mereka berpelukan mesra seperti tadi? Dan yang lebih penting KENAPA AKU MEMIKIRKAN HAL INI?
Uh! Ku baringkan tubuhku, berniat untuk tidur. Tapi aku tidak bisa. Terbesit kata2 Deidara saat kita berangkat tadi.
"Un, aku pikir Itachi benar-benar menyukaimu. Aku belum pernah melihat dia bersikap seperti ini pada seseorang. Dan ini terlalu aneh un. Mungkin dia banyak mengencani gadis-gadis di luar sana. Tapi, mungkin kau berberda untuknya." Dia bercanda?
"Benar un! Aku pikir dia benar serius kali ini. Kami sudah berteman dari kecil, dan aku benar-benar paham sifatnya."
Aarrrgghh! Aku melempar bantal ke sembarang arah. Ini gila! Aku terkena firus galau. Benar-benar sialaaaaan!
10.00pm. Belum bisa memejamkan mata. Aku mendengar pintu di buka. Ah, itu pasti Naruto. Setelah itu, aku mendengar langkahnya mendekati kamarku, membuka pintu dan mengecek keadaanku. Aku hanya berpura-pura tidur.
"Oyasumi, Kyuu-nii."
Kyuubi POV-end
...
Beberapa waktu setelah Kyuubi meninggalkan Itachi.
"Oh, hampir saja aku lupa! Haku, kenalkan, ini..." Itachi berbalik. "Eh? Kyuu?" orang yang sedari tadi bersamanya tidak ada di sana. Di edarkannya pandangan ke segala arah.
"Senpai?" Haku bertanya dengan bingung.
"Cks! Diamana dia?" Itachi frustasi. "Haku, maaf. Aku harus mencari seseorang. Besok aku akan menelfonmu. Jyaa!" dengan tergesa, Itachi berlari, tentu saja mencari Kyuubi.
Dia kalap, dan khawatir. Dia sudah mengitari seluruh festifal dan tidak menemukan Kyuubi, handphonenya juga tidak aktif. Berhenti berlari dengan nafas tersenggal. Seperti melihat sebuah harapan saat di melihat Sasori dan Deidara. Segera dia menenghampirinya.
"Itachi, kau kenapa un?" dengan polosnya Deidara bertanya. Di tangannya sedang memegang takoyaki yang siap di masukkan kedalam mulut.
"Kyuubi! Apa kalian melihatnya?" dia berkata panik.
"Bukankah tadi dia bersamamu un?" Deidara membalikkan pertanyaan.
"Memang. Aku ingin mengajaknya ke suatu tempat, tapi kemudian..." Itachi teringat sesuatu. "Arrrggh! Kenapa aku bodoh sekali!" dia mengacak rambutnya frustasi.
"Kau tidak perlu menghawatirkannya." Kali ini Sasori menimpali. "Tidak akan terjadi apa-apa pada siluman rubah seperti dia."
"Benar un!"
...
~~TBC~~
Mulai bingung mau di lanjut gimana #plaaak mulai kehilangan feel juga, tapi karena nggak mau di sebut PHP(?), jadi tetep lanjut dan Haha tetep berusaha semaksimal mungkin buat selesai'n ini kok~~~
maaf banget ya kalo reader juga mulai kehilangan feel buat baca ff ini, semoga enggak...
dan sepertinya chapter depan jadi yang terakhir XD
Aaa~ bakal lepas satu tanggungan lalalala~
Thanks to:
Kyori SasoDei: aaa~ ngubek2 kokoro katanya XD makasi udah rnr ya~
RaraRyanFujoshiSN: setuju! Aku juga bayangin hiruma versi uke! Wkwkwk~ sori baru update XD
Hikari Vongola: ini udah banyak belom T^T ahahaha~
Zora Fujoshi: iyakah? Padahal typo bertebaran XD ini update~
Yamaguchi Akane: bisa-bisa~ XD chap depan ya yang adegan pemaksaanya XD
namikaze hinata: gomen, baru update T^T
lavendechan: wooa, makasi udah puas Lol. Iya ItaKyuu :3
missapple05: nih *kasih tisu* nangislah XD
.12576: makasi 3 ini udah lanjut~
minae cute: gomen, romancenya ga begitu kerasa ya? T^T
Deijiko-nee: sudah di lanjuut~ XD
