Chap 2

.

.

Sasuke POV

Hhhhhh kenapa semua wanita di kelasku ini berisik sekali? Tidak, tidak hanya siswi dikelas, di kelas manapun semua berisik, jika tidak berisik mereka akan memandangiku dengan tatapan yang ntah aku sendiri juga tak mengerti, karena aku tampan? Yaahhh mungkin saja. Baiklah lupakan, sudah 7th berlalu sejak aku menangis dengan kerasnya dihadapan banyak orang saat pernikahan Naruto, sudah lama sekali, tapi aku masih bisa mengingat dengan jelas kejadian itu, karena sangat memalukan! Sekarang aku duduk ditahun ketiga sekolah menengah, oh ya aku juga sudah berhenti membaca buku dongeng tak bertanggung jawab itu, mengatakan bahwa putri pada akhirnya akan bahagia bersama pangeran, dasar! Siapa sebenarnya yang mengarang cerita tak bertanggung jawab seperti itu? Tch lihat sekarang! Aku menjadi salah satu korbannya, sesak memang mengakuinya, tapi ini seperti sudah menjadi kebiasaan, atau jangan – jangan moto hidup(WTF) jangan bercanda!

pangeran harus melindungi putrinya dari para penyihir jahat.

akan membawa kebahagiaan untuk sang putri.

putrinya bahagia sendiri tanpa pangeran?

akhirnya putri akan hidup bahagia bersama pangeran.

Oke yang nomer tiga tambahanku sendiri.

Tertawa saja, aku sendiri juga tak ingin mempercayai bahwasanya aku masih menganut mereka berempat sebagai pedoman hidup yang ntah kapan berakhirnya.

Semakin aku tumbuh dewasa, semakin banyak hal yang kupelajari, contohnya aku tersadar bahwasanya Naruto itu laki – laki pada saat upacara pernikahanya, tersadar bahwa selisih umur Naruto denganku hampir sekitar 20th, tersadar bahwa walaupun Naruto bertambah usia, ia tetap cantik, dia memang cantik, karena aku pangeranya. Tersadar Naruto sangat mencintai Hinata neechan sampai detik ini saat aku sedang melamun ditengah jam istirahat, tersadar Naruto tidak menyukai buah tomat, karena menurutnya tomat adalah sayuran, tersadar bahwa Naruto bukanlah gay yang akan membuka lubang pantatnya hanya untuk sarang Sasuke kecil yang sering kali membayangkan betapa hangatnya di dalam sana, ah! Tentu saja aku juga bukan gay, terbukti tak ada laki – laki selain Naruto yang kubayangkan jika sedang memanjakan Sasuke kecil, tersadar bahwa tinggi badan Naruto tidak bertambah beberapa tahun terakhir, tersadar bahwasanya kesadaranku hanya dipenuhi hal mengenai Naruto, hhhh… yang terakhir tersadar bahwasanya tidak semua putri bisa bahagia hanya bersama dengan pangeran, pada intinya saat umurku yang sudah 13th ini walaupun aku sangat yakin cerita di buku dongeng milik ku yang masih tersimpan rapi di tempatnya itu bohong belaka, namun ntah kenapa seperti yang kukatakan diatas, aku memakainya seperti kebiasaan atau lebih tepatnya moto hidup, hmm apa lagi aku harus menyebutnya? Visi misi kehidupan Sasuke Uchiha? Ya ya itu versi tingkat lanjutnya.

"Hhhhh…"

"Sasuke, kenapa sedari tadi pekerjaanmu hanya menghela nafas?" Kulirik Sakura, wanita berambut pink yang duduk tepat disebelahku, sekaligus pacarku enam bulan ini. Ahhh kenapa dia tak secantik Naruto?

"Hhhh.."

"Hentikan Sasuke."

"Hn." Bisa kulihat Sakura menggembungkan pipinya sebelum mengalihkan pandanganku keluar jendela lagi. Menggembungkan pipi? Haha Naruto sering melakukan itu jika sedang kesal, lucu sekali wajahnya, ahhh sudah berapa hari aku tak kesana? Baru dua hari, tapi aku sudah ingin kesana kembali.

"Saaa – su – ke, bagaimana jika nanti kerumahku? Orang tuaku sedang pergi keluar kota sampai besok, bagaimana?" Sakura memeluku dari belakang, kuangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.

"Baiklah." Bisa kudengar ia berteriak dan pergi bersama teman – teman wanitanya yang lain, baiklah aku akan keistana besok saja.


Normal POV

Sasuke memencet bel sebuah rumah yang masih tertutup pagarnya.

"Siapa" jawab seseorang dibalik sebuah mesin seperti telepon menancap tepat disamping bel.

"Sasuke." Jawab Sasuke datar, tak menunggu beberapa detik, pintu gerbang terbuka, nampaklah sebuah jalan lurus dengan berbagai jenis tanaman menghiasi setiap sampingnya, Sasuke menaiki kembali sepeda roda duanya, menatap lurus rumah yang nampak kecil dari ujung gerbang tadi, dan sekarang mulai membesar, sampailah Sasuke tepat di depan rumah yang sudah terbuka, berdiri seorang pelayan yang sudah sangat tua menyambut Sasuke.

"Selamat datang Sasuke – sama." Pelayan tadi menunduk sebentar, Sasuke tak menghiraukan lalu memasuki rumah yang pintunya sudah terbuka lebar. Pelayan tadi kemudian memarkirkan sepeda Sasuke ke tempat yang lebih benar.

Sasuke berjalan santai sambil menikmati setiap lukisan yang terpajang dari pertama memasuki pintu, setiap urutan lukisan tak pernah berubah, mereka selalu di tempat yang sama, Sasuke kemudian menaiki tangga, tentu saja disana juga akan banyak lukisan, Sasuke berhenti tepat sebelum kakinya menginjak lantai selanjutnya, mengambil nafas panjang beberapa kali lalu kembali melangkah, dari situ bisa dilihat dengan jelas, berderet lukisan tentang orang yang sangat dicintai Naruto, lukisan barang – barang yang sering sekali melekat pada Hinata, lalu nampak lukisan yang paling besar dari pada yang lainya, bukan lukisan pernikahan mereka, melainkan lukisan tubuh telanjang Hinata meringkuk seerti bayi yang sangat indah berhiaskan bunga lavender di sana, Sasuke tersenyum lalu melanjutkan perjalananya kembali, beberapa lukisan juga ada dirinya diwaktu kecil, dari sebelum atau sesudah Hinata mulai terlukis juga bersama denganya. Sasuke berhenti pada kamar yang terbuka lebar, dan nampak Naruto sedang melukis sesuatu seperti biasa disana.

"Yo." Naruto kontan menoleh saat mendengar suara yang sangat ia kenali.

"Sasuke!" Naruto langsung meletakan cat airnya dan tanpa basa – basi memeluk Sasuke.

"Tch, menyingkir dariku Dobe!" Sasuke berusaha melepas pelukan paman satu ini yang bajunya penuh dengan berbagai warna cat air, "Sasuke dingin sekali." Naruto gembungin pipi tanpa malu – malu di usianya yang sudah terbilang tua ini, Sasuke menatap lurus wajah Naruto, dan Naruto makin membuat wajahnya se aneh mungkin, "Hhhhh.. ." pada akhirnya Sasuke kalah dan balik memeluk Naruto, kaos dengan setelan blazer hitam miliknya harus rela dikotori.

"Oh ya Sasuke! Aku akan melukismu sekarang!" Naruto teringat dengan rencananya semalam yang ingin melukis Sasuke, belum juga Naruto nelp, orangnya udah dateng sendiri sekarang.

"Aku menolak." Sasuke kemudian duduk di sebuah sofa dengan tenang, Naruto kemudian menyiapkan kanvas putih dan diangkutnya tepat di hadapan Sasuke yang sedang duduk, mengambil berbagai perlengkapan melukis miliknya lalu duduk dengan tenang di sana. Sasuke membaringkan tubuhnya, lalu berbalik membelakangi Naruto. "Ayolah, kenapa kau selalu menolak, kali ini saja aku ingin melukismu langsung, bukan hanya dengan ingatan." Tak ada jawaban dari Sasuke, Naruto juga sudah menggerakan kuasnya, melukis Sasuke dengan posisi yang sama seperti sekarang.

"Sasuke! Ayolah. ." Naruto yang tak membutuhkan waktu banyak hanya untuk melukis objek sederhana di hadapanya kembali merajuk, Sasuke hanya diam, ya begitulah kerjaan Sasuke, sukanya diam. Naruto nampak berfikir sejenak, lalu tersenyum.

"Ayolah Sasuke, aku sudah semakin menua, mungkin besok aku akan mati, jadi agar kau tak dihantui olehku, kabulkanlah permintaanku yang ini, aku benar – benar akan gentayangan jika kau tak mengabulkanya kau tau?" Naruto bersikeras karena memang dari saat Sasuke kls 5, Sasuke mulai menolak untuk dilukis langsung, hingga sampai saat ini. Masih tak ada jawaban dari Sasuke, namun kali ini Sasuke kembali ke posisi duduknya dengan kepala menunduk. Sasuke menghela nafas panjang, lalu mengangkat kepalanya, meletakan kaki kanan di atas kaki kirinya, melipat kedua tanganya, dengan tubuh yang bersandar serta pandangan yang menatap lurus ke arah Naruto.

Naruto tak mau menyia – nyiakan kesempatan dan sesegera mungkin melukis sesuatu dihadapanya. Sasuke tetap dalam posisinya dengan ekspresi yang masih sama seperti beberapa saat lalu, dua puluh menit berlalu, Naruto yang sudah selesai melukis malah memandangi lukisan yang baru saja jadi ini, hampir lima menit Naruto terus meneliti lukisanya dengan objek yang asli.

"Sasuke?"

"Hn."

"Umm. . kenapa wajahmu nampak sedih disini? Hmmm. .?" Naruto terus beralih dari yang asli ke lukisan, tak puas Naruto mengankat lukisanya dengan hati – hati dan duduk di samping Sasuke yang sudah duduk dengan biasa, Naruto kembali membandingkan.

"Hmmm? Wajahmu ini datar, lalu kenapa disini jadi begini? Hmm. . apa kau sedang bersedih Sasuke?" Sasuke hanya menggeleng, Naruto makin mendekatkan wajahnya ke wajah Sasuke, lalu membandingkanya ke lukisan.

"Baiklah kita ulang!"

"Hn, hanya di mimpimu." Sasuke ngeloyor pergi meninggalkan ruangan.

"Ahhh! Sasuke! Tunggu. . ." Naruto melepas baju melukisnya, mencuci kedua tanganya lalu keluar ruangan mengejar Sasuke. "Kukira kau akan pulang." Naruto berjalan santai saat mengetahui Sasuke yang berdiri dengan diam dihadapan sebuah lukisan, sebuah lukisan yang cukup besar dengan Hinata yang meringkuk seperti bayi disana.

"Haha kau selalu menyukai lukisan yang ini, dasar. . ." Naruto mengacak rambut Sasuke.

"Sasuke berapa tinggimu saat ini?"

"150."

"Uaahh pendek sekali, hehe mungkin jika kau sudah masuk menengah ke atas tinggimu akan menyamaiku, atau kau akan berhenti tumbuh sama sepertiku sekarang? Hahaha. ." Naruto menepuk – nepuk bahu Sasuke yang memang lebih pendek darinya.

"Ah Sasuke – kun kapan datang?" munculah Hinata yang keluar dari sebuah kamar, Sasuke menoleh lalu membungkuk sekali, " satu jam yang lalu." Jawab Sasuke sambil tersenyum tipis, Naruto yang tadi berada disampingnya, kini berjalan ke arah Hinata dengan riang sambil bercerita bahwa telah mendapatkan lukisan Sasuke dua kali sekaligus.

Pasangan Naruto maupun Hinata belum dikaruniai anak, sudah konsultasi ataupun memakai metode – metode yang disarankan oleh dokter, tetap saja selama tujuh tahun keduanya belum dikaruniai anak.

dua tahun berlalu

Sasuke yang masih setia dengan sepeda roda duanya menyusuri halaman rumah putrinya, tinggi badanya yang bertambah atau berat badanya yang bertambah tak membuat si sepeda pensiun untuk dikendarai sang pemilik selama beberapa tahun ini. Malah kini terdapat seseorang dibelakangnya, membonceng dengan tenang, menikmati udara sejuk sejak memasuki rumah Naruto, berpegangan sedikit pada seragam baju Sasuke.

"Selamat datang Sasuke – sama. ." Tanaka yang juga bertambah usianya makin terlihat tua, Tanaka sempat sedikit terkejut karena melihat orang lain selain Sasuke yang datang.

"Dia temanku." Sasuke menjawab tana perlu Tanaka bertanya, dan memasuki rumah.

"Waaaaww dia benar – benar pelukis itu?! Uzumaki – san. . aku tak menyangka kau benar – benar mengenalnya Sasuke!" mendengar sedikit keributan dibawah sana, Naruto yang kebetulan berada di dapur segera keluar menampakan diri. Dan yang didapatnya ialah Sasuke yang seperti biasa diam, beserta satu manusia asing sedang memandangi lukisannya.

"Ohh kau teman Sasuke?! Waahh jarang sekali Sasuke membawa tem – "

"Dia kekasihku." Sasuke menyambar kalimat Naruto, membuat Naruto terkejut serta bungkam mulut.

"Nhh. . Sasuke? Aku tau dia berambut panjang, tapi. . bukankah dia laki – laki ?"

"Lalu?" Seketika suasana menjadi hening, Naruto juga terdiam untuk sesaat.

"Ah. . haha. . ya ya, jadi kau kekasih Sasuke, haha maaf atas sikapku tadi." Naruto nyengir – nyengir sambil berjalan menghampiri Sasuke.

"Neji, salam kenal, aku penggemar lukisan Uzumaki – san." Orang yang dibawa Sasuke menundukkan badan sebentar, Naruto juga menyambut dengan hangat.

Hari hampir gelap. Sasuke memutuskan untuk berpamitan bersama Neji.

"Datang lagi ya Neji – kun." Naruto mengantar Sasuke beserta Neji sampai teras. Neji memang kekasih Sasuke sebulan setelah Sasuke diputuskan oleh Sakura, munculah Neji yang dengan berani menyatakan cinta, dan jadilah mereka sekarang, hampir satu tahun hubungan mereka berjalan.

"Sasuke, kau terlihat benar – benar mencintainya!" Neji yang menikmati hilir angin dibalik punggung Sasuke tersenyum – senyum sendiri.

". . ."

"Haha, ternyata memang benar. . ." Neji melingkarkan kedua tanganya keperut Sasuke.

"Lalu, masih lanjut atau tidak." Sasuke mengayuh sepedanya dengan santai, menikmati semilir angin. Neji mengeratkan pelukanya, membuat Sasuke yang tadinya memandang lurus kedepan, memandang sekilas lingkarang tangan disekitar perutnya, lalu kembali memandangi jalanan sepi dihadapanya.

"Aku tidak sebodoh kau Sasuke sialan!" Neji mendekap wajahnya dibalik punggung Sasuke.

Sasuke tersenyum tipis, masih terus mengkayuh sepedanya dengan tenang, hingga tanpa terasa sudah sampai di kediaman Neji.

"Hei, jangan bunuh diri." Sasuke menyeringai sebelum berpamitan pulang.

"Teme! Mati saja kau sendiri sana!" Neji ngambek dan langsung masuk ke dalam halaman rumah, Sasuke terkekeh kecil lalu menaiki sepedanya.

"Neji. ." Seketika Neji berhenti lalu membalikan tubuhnya.

"Terima kasih." Neji malah dibuat kaget oleh perkataan Sasuke barusan.

"Tch, hai' hai' " Neji membalikan badanya lagi, melambaikan tangan sekali lalu memasuki pintu rumahnya, saat Neji sudah menutup pintu rumahnya, barulah Sasuke mengkayuh sepedanya pergi dari sana.

Esok paginya Neji tidak masuk sekolah, hingga beberapa hari.

To : Neji

Hey, kau belum menjadi hantu bukan - _ -

Sasuke memasukan kembali ponselnya, memandang keluar jendela, menikmati angin semilir, tanpa terganggu ramainya suasana kelas. Dirasakan ponselnya bergetar, Sasuke membukanya kembali.

From : Neji

Teme! Jangan terlalu percaya diri bodoh! Aku hanya demam!

Sasuke mengetik kembali, kali ini tak memasukan kembali ponselnya ke dalam saku, karena yakin balasanya tak akan lama.

From : Neji

ASHOLE! YOU BITC! MORON! you really fucking stupid. ^^

Kali ini Sasuke memasukan kembali ponselnya kedalam saku celana, menyandarkan kepalanya di atas meja, masih tetap memandangi keluar jendela.

Hari – hari berjalan seperti biasa, seminggu sekali Sasuke akan kerumah Naruto, kadang membawa Neji bersamanya, kadang sendirian, tapi kebanyakan Sasuke akan datang bersama Neji, tau kenapa alasanya? Karena Neji penggemar berat lukisan Naruto, walau uangnya belum mampu membeli lukisan Naruto, setidaknya Neji bisa melihat lukisan – lukisan yang terpajang diberbagai sudut rumah megah Naruto, bercengkrama dengan si pelukis sendiri.

Seperti minggu pagi ini, Neji yang sengaja menginap dari hari sabtu baru saja terbangun dari tidurnya. Tak seperti kamar dirumahnya, kini Neji terbangun di kasur ukurang besar.

"Sasuke, bangun . ." Neji mengguncang – guncang bahu Sasuke, tak ada respon dari si pemilik.

"Sasuke!" Neji sedikit kasar kali ini, Sasuke menggeliat, membalik tubuhnya ke arah Neji, membuka matanya sebentar, lalu menggeser sedikit tubuhnya serta mengangkat sedikit kepalanya dan dipindahkan ke paha Neji, melingkarkan tanganya serta menghadapkan wajahnya ke perut Neji.

"Sasuke. ." Neji jadi sedikit gelagapan dibuatnya, Sasuke membuka satu matanya untuk melirik wajah Neji, lalu makin mengeratkan pelukanya.

"Ahh kelihatanya anak ku berumur tiga bulan disini." Sasuke mencium – cium perut Neji yang memang bertelanjang dada, Neji yang awalnya blushing ga karuan, merubah raut wajahnya menjadi datar.

"Menyingkir dariku , nnghhhh. . Sasu. . nnhhh!" Neji berusaha mendorong wajah Sasuke menjauh dari perutnya, "Ah . .!" Neji melonjak kaget saat sekejap juniornya seperti tersengat, nampak Sasuke yang sudah meletin lidah tepat di hadapan junior Neji yang sedang tegang(kebanyakan cowo klo pagi tegang).

"Sasuke, jangan macam – macam." Kini Neji sudah bernada sangat serius, Sasuke kembali memasukan lidahnya dan akan melepas pelukanya, sebelum itu tiba – tiba.

"Selamat pagi kalian berdua, hari ini jad – " Naruto yang se enak jidat ngebuka kamar Sasuke(biasanya jg se enak jidat) terkejut atas pemandangan di hadapanya, Sasuke serta Neji juga ikut terkejut, Neji terkejut karena tiba – tiba saja Naruto masuk, Sasuke terkejut gegara dirinya masih dalam posisi romantis nan sekseh bersama Neji dan Naruto sedang terbengong disana.

"Waahhh Maaf. . !" Naruto yang tersadar langsung kembali keluar dan menutup pintu dengan kasar. Sasuke dengan tenang melepaskan pelukanya, tanpa rasa penyesalan sedikitpun berencana menuju kamar mandi, "Eiittsss. . Aku dulu, ini harus dikeluarkan." Neji menarik tangan Sasuke, lalu memasuki kamar mandi terlebih dahulu, Sasuke garuk – garuk kepala, masih tanpa memakai baju atasanya, Sasuke keluar dari kamar, banyak maid yang sedang mengerjakan pekerjaan mereka masing – masing, nampak juga Hinata yang sedang membantu menyiapkan sarapan dibawah sana. Sasuke kemudian berjalan menuju ruang dimana Naruto biasanya melukis, and binggo! Naruto sedang berada disana, Sasuke masuk perlahan.

"What!?" Sasuke sedikit berteriak, saat kedua bola matanya menangkap gambar yang bisa dipastikan hasil akhirnya ialah adekan dirinya memeluk Neji beberapa saat tadi.

"Naruto! Hentikan!" Sasuke memegang kedua pundak Naruto.

"Huh kenapa? Neji kekasihmu, dia juga bagian dari keluarga ini, apa salah ada lukisan dirinya dirumah ini? Lagipula ini akan menjadi lukisan yang sangat indah." Naruto masih terus menggoreskan kuasnya, " Naruto hentikan! Dia sudah bukan kekasihku sejak pertama kubawa kemari, jadi hentikan!" Sasuke benar – benar tidak senang, Naruto berhenti lalu mendongakan kepalanya ke atas, tepat di atas sana wajah Sasuke sangat gusar.

"Huh kenapa? lalu tadi?"

"Kenapa?" Ssuke tertawa sarkatis untuk sesaat, 'Ya, kenapa? kenapa kira – kira?" Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto, sangat dekat, bahkan Naruto tidak bergeming sedikitpun, Sasuke membuka bibirnya sedikit dan akan bersentuhan dengan bibir Naruto.

"Sasuke – kun? Naruto?" jantung Sasuke serasa berhenti mendengar suara yang sangat dikenalnya, tidak menunggu hitungan detik Sasuke menari tubuhnya menjauh, melewati Hinata yang berada di ambang pintu, sedangkan Naruto masih menikmati keterkejutanya.

"Naruto. ." Naruto kembali ke kesadaranya, Hinata hanya tersenyum tipis.

"Sarapan sudah siap."

"Umm baiklah, sebentar lagi aku turun." Naruto meletakan segala peralatan melukisnya, Hinata meninggalkan ruangan. Naruto mencuci tanganya di wastafel apa itu tadi batin Naruto mengingat kejadian beberapa detiknya tadi dengan Sasuke.

Naruto yang biasanya lebih berisik menceritakan banyak hal daripada yang lain kini lebih diam. Sasuke yang memang biasanya diam tak mendapat masalah dengan sikapnya kali ini yang juga diam.

"Umm. . ada apa ini?" Menma yang menyadari ada sebuah kejanggalan, menatap Naruto serta Hinata bergantian, Hinata hanya tersenyum simpul, kini berganti Menma menatap Sasuke beserta Neji. Neji mengangkat kedua tanganya bertanda tidak tau, Sasuke yang sudah biasa tak memperhatikan sekitarnya juga diam.

"Hahaha tidak ada apa – apa, hanya perasaanmu saja Menma. . ." Menma menyerah untuk mencari tau lebih lanjut.


Satu bulan berlalu, dan satu bulan juga Naruto terkadang canggung menghadapi Sasuke, dan hari ini tepat hari sabtu, yang berarti kalau tidak sore ini atau pagi besok Sasuke akan berada di kediaman keluarga Uzumaki, untuk apa? Sangking lamanya, sampai alasan "untuk apa" hampir tak dipedulikan oleh seluruh penghuni rumah keluarga Uzumaki ini, tapi tidak untuk Sasuke, pelajar yang akan menaiki tingkat 3 ini masih tau betul alasanya datang kerumah keluarga Uzumaki setiap seminggu sekali ini.

Minggu ini Sasuke datang pada sabtu sore, sendirian, mengenakan pakaian yang lumayan, karena dirinya berencana diajak kedua pasangan Naruto dan Hinata berbelanja bersama. Begitulah Sasuke menjadi bagian dari keluarga Uzumaki.

"Selamat datang Sasuke – sama." Pelayan yang makin terlihat tua dari dua tahun terakhir masih berdiri kokoh menyambut setiap kedatangan Sasuke, masih sanggup memarkirkan sepeda milik Sasuke, masih sanggup juga mengerti betapa kuatnya Sasuke.

"Sasuke – sama." Sasuke menghentikan langkahnya yang akan memasuki rumah, lalu membalikan badanya kembali ke arah sumber suara.

"Berjuanglah." Sasuke mengerutkan alisnya, tak mengerti apa maksut dari pelayan satu ini, tiba – tiba terdengar derap langkah yang jelas sekali seperti berlari.

"Sasuke. . Sasuke. . .hoooiiii . .!" Naruto berlari sambil melambaikan tanganya.

"Hhh. . .haaaahhhh. . haaahhh. .ke. .Sasuke. . haaahhhhh, kau tau. .haaaahhhh. ."

"Uhuk uhuk. .hah hah. .uhuk. ."

Naruto ngos – ngosan hanya untuk berlari menghampiri Sasuke.

"Naruto?! Kau sudah tua! Jangan berlari seperti anak kecil dobe!" Sasuke menopang bahu Naruto yang sedikit ambruk, sambil berharap dalam hati putri kesayanganya yang sudah tua ini tidak mati konyol hanya kesulitan bernafas.

Naruto mengatur nafasnya perlahan, lalu menatap Sasuke yang sedikit lebih tinggi darinya.

"Kau tau Hinata hamil! hahaha!" Naruto tersenyum dengan sangat bahagia, bisa terlihat genangan air di matanya yang siap tumpah.

"Haaahhh aku bahagia Sasuke. . aku bahagia. ." Naruto yang kepalang bahagia mengeluarkan air mata yang sudah tidak sabar tumpah, Sasuke memeluk Naruto di dekapanya, membiarkan Naruto menangis dan dipastikan mengotori baju seragamnya. Sasuke memeluk erat Naruto, sangat erat.

Pandangan Sasuke kosong, seperti merasakan jiwanya sesaat tak bersamanya, semua tindakan yang dilakukan Sasuke untuk Naruto beberapa saat tadi hanya karena reflek tubuh Sasuke semata.

"Kau senang bukan Sasuke? Kau akan seperti memiliki adik. . "

"Kau harus menjaganya. . ."

" . . ."

" . . ."

"Sasuke? Kenapa kau diam? Kau harus berjanji menjaganya juga."

"Ya. ." Naruto yang melonggarkan pelukanya pada Sasuke kembali mempereratnya.

"Haha kau akan menjadi kakak yang baik bukan!"

". . ."

Naruto merasa ada yang ganjil, lalu mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Sasuke.

"Huh? Sasuke? Kau menangis?" Naruto melepaskan pelukan Sasuke, memberi jarak sedikit diantara mereka.

"Hei. ." Naruto meletakan kedua telapak tanganya ke pipi Sasuke, memandangi wajah Sasuke yang datar namun mengalir air mata dari kedua matanya.

"Hei. . kau tak perlu menangis sederas ini bukan? Sasuke?" Naruto berusaha menghapus air mata Sasuke yang terlihat makin deras, si pemilik air mata hanya bisa diam membiarkan air matanya keluar sebanyak mungkin.

"Sasuke. . Sasuke?. .Sasuke. . kenapa?! Kenapa wajahmu terlihat. . " Naruto melepaskan kedua tanganya dari pipi Sasuke, Kini malah memberi jarak sedikit lebar di antara keduanya.

"Wajahmu. . kenapa terlihat. . terlihat sangat sedih?!" Naruto tak mengedipkan matanya sekalipun hanya untuk memuaskan keterkejutannya.

"Apa ada yang menyakitimu? Kau kesakitan Sasuke? Sasuke. . ." Naruto perlahan mendekat, memeluk Sasuke kembali perlahan. Baru kali ini Naruto melihat Sasuke menangis, walaupun samar, namun terlihat sekali jika Sasuke sedang bersedih.

"Sasuke. . . wajahmu. .wajahmu seperti dalam lukisan itu, kau kesakitan Sasuke? Sasuke. . aku. . aku minta maaf." Naruto yang ntah tanpa sadar malah meminta maaf, makin membuat Sasuke menangis deras, kali ini pelukan Naruto dibalas oleh pelukan Sasuke, sangat erat, hingga bisa dirasakan oleh Naruto rasa sakit dari pelukan Sasuke.

Beberapa saat berlalu, karena ntah sudah lama tak menangis atau kelelahan, Sasuke tertidur di kamar miliknya yang berada di rumah Naruto, hingga malam tiba Sasuke baru membuka matanya.

Sasuke POV

Haha sekarang putriku akan memiliki keturunan, apa yang harus kulakukan? TENTU SAJA TIDAK ADA YANG PERLU KULAKUKAN, SIALAN! Apa – apa'an denganku tadi? Menangis seperti saat Naruto menikah? Memalukan sekali, aku tak berencana menangis! Mereka keluar dengan sendirinya tanpa menunggu perintah dari kesadaranku.

"Hhhhh. . . "

Sial kenapa sakit sekali disini(megangin dada) ayolah aku sudah terbiasa seperti ini, sial sial sial! Dia bahagia bukan tadi? Masih ingat? Pangeran akan menjauhkan putrinya dari kesedihan, membuat putrinya bahagia itu tugas pangeran, ingat? Tentu saja aku selalu mengingat itu, yaa. . tentu saja aku ingat. Sakit sekali kepalaku, sudah berapa jam aku tertidur? Jam berapa ini? Ah sial kenapa aku merasa sangat marah, sial apa yang harus kelakukan?

Normal POV

"Haha tentu saja tidak ada yang perlu kulakukan, tenang Sasuke, kau harus tenang, itulah yang harus kau lakukan saat ini." Sasuke meyakinkan dirinya sendiri, kemudian berjalan keluar kamar.

"Ah Sasuke, ayo makan malam, kau pasti lelah!" Nampak Naruto, Hinata, Menma serta Itachi sedang akan memulai makan malam, Sasuke berjalan sambil mengacak rambutnya beberapa kali, sesekali menguap, lalu duduk tepat disamping Itachi.

"Kenapa kau disini?" Sasuke melirik Itachi.

"Kenapa? Karena hari ini Kurama kekasihku tercinta akan pulang ke jepang, dan besok kita akan menikah." Jawab Itachi yang nadanya tidak kalah datar dari Sasuke.

". . ." kali ini Sasuke nampak marah melihat Itachi, sedangkan Itachi sudah senyum – senyum tipis berhasil membuat adik kesayanganya ini bereaksi.

"Ahh h h. . baiklah hentikan kalian manusia bodoh, aku tak akan menikah denganmu keriput!' Kurama yang baru saja datang, nyosor pembicaraan dan memberi pelukan hangat pada kakak iparnya Hinata.

"Hhh semoga kau cantik seperti ibumu, lalu kita menikah." Kurama mengelus – elus perut Hinata yang bahkan masih rata karena kandungan masih berusia dua bulan.

"Aku akan menikahimu terlebih dahulu." Itachi nyeletuk, dan membuat Kurama naik tensi.

"Aku tidak mau ya tidak mau keriput bodooooohh. . ." Kurama dengan jurus andalanya menarik kedua pipi Itachi. Makan malam lebih ramai dari biasanya, apalagi kedatangan Kurama dan Itachi. Sasuke yang memang dikategorikan datar tetap saja datar dan tenang memakan makan malamnya.

Sedangkan Naruto, walaupun dengan sesekali tertawa, kadang melirik ke arah Sasuke, melihat kantung mata Sasuke sedikit membesar akibat menangis. Tak ada yang menanyakan tentang ke anehan wajah Sasuke, bahkan Kurama yang biasanya usil juga diam atas itu, walaupun semua yang di meja situ sadar Sasuke seperti habis menangis. Meja makan di isi dengan penuh tawa, berandai akan berjenis kelamin apa anak Naruto beserta Hinata, berangan Kurama akan menikahinya(Kurama itu sepupu Naruto).

Hari demi hari berjalan, Sasuke juga tetap datang seminggu sekali kerumah Naruto seperti biasa, bulan terus terlewati, makin banyak juga lukisan Hinata yang telanjang bulat, seperti yang sedang Sasuke lihat saat ini, berdiri tegap, hanya memakai celana dalam, sambil memegangi perutnya yang sudah lumayan besar, disebelahnya lukisan Naruto sedang mencium perut Hinata dengan hinata yang sedang duduk di kursi, banyak sekali lukisan edisi Hinata hamil, dari umur kehamilan dua bulan hingga lukisan yang terakhir ini, lukisan ini lebih besar dari lukisan sebelum – sebelumnya, lagi – lagi lukisan Hinata dengan posisi meringkuk seperti bayi, namun kali ini ada tonjolan besar di tengahnya, seperti induk yang melindungi telurnya. Naruto keluar dari kamarnya, langsung menemukan Sasuke yang sedang berdiam memandangi lukisan terakhir miliknya yang dipanjang paling ujung dari berderet banyaknya lukisan, dan Naruto sangat yakin lukisan terakhir yang ia pajang disana ialah lukisan Hinata sedang meringkuk sambil memeluk perutnya, Naruto sangat suka Hinata berpose seperti itu, mengingat betapa lugu dan baiknya Hinata.

"Sasuke, kebiasaanmu tidak berubah, seeeelaaluuu menyukai lukisan Hinata yang sepertin itu, hhh. . . kau tau Sasuke, beberapa hari lagi umurnya akan sembilan bulan, aku tak sabar menantinya keluar, kau pasti juga senang bukan? Seperti memiliki adik, haha." Naruto ngoceh sepanjang perjalanan menuju arah Sasuke, sedangkan Sasuke tak menjawab, tak melepaskan pandangan dari lukisan di depanya.

"Sasuke, katanya kau – " Naruto tiba – tiba menghentikan kalimatnya, saat dirinya sudah sangat dekat dengan Sasuke, Naruto mengangkat tangan kananya perlahan, seperti tanpa sadar dan menyentuh pipi kiri Sasuke, kontan si pemilik pipi menoleh, "Hm?" Sasuke menunjukan raut wajah bertanya, melihat Naruto yang sepertinya terkejut, "Ada apa dobe!?" Naruto tersentak, mengerjapkan matanya beberapa kali, masih dengan jemari – jemarinya menyentuh pipi Sasuke, kali ini Naruto makin mendekatkan tubuhnya hingga menempel dengan tubuh Sasuke, meletakan tangan satunya ke pipi kanan Sasuke, sedikit menengadahkan wajahnya karena kini Sasuke lebih tinggi darinya, menatap Sasuke dengan sangat dekat.

"Sasuke, wajahmu terlihat sedih." Sasuke yang awalnya berekspresi datar sedikit terkejut.

"Perasaanmu saja." Sasuke melepaskan kedua tangan Naruto dari pipinya, lalu berjalan pergi meninggalkan Naruto.

Naruto tak mengejar, lalu memandangi lukisan di sampingnya, meneliti bagian mana yang terlihat ganjil disana, selain Sasuke suka sekali melihat lukisan Hinata dengan pose seperti itu dari dulu, kadang Naruto juga memergoki ekspresi wajah sedih Sasuke saat – saat tinggi badan Sasuke sudah lebih tinggi darinya akhir – akhir ini.

"Tunggu, apa yang salah dengan lukisanku ini?" Naruto masih meneliti, mencari sesuatu di dalam sana, hingga tanpa menyadari Hinata sudah berdiri disampingnya.

"Ada apa sayang?" Naruto menoleh, lalu tersenyum.

"Umm. . tidak, hanya ingin meneliti lukisan ini." Naruto memeluk Hinata dari belakang, mengelus perut Hinata yang sudah sangat besar dengan lembut.

"Ada apa memangnya? Aku terlihat jelek disitu?" Hinata manyunin bibir, membuat Naruto terkekeh dibuatnya.

"Haha tentu saja tidak, kau cantik sekali, Sasuke juga menyukai lukisan ini, Sasuke selalu menyukai lukisanmu yang berpose seperti ini, umm. . tapi akhir – akhir ini aku sering melihat Sasuke sedih, dan. . yaahh aku juga ingin mencari tau ada apa sebenarnya dengan lukisan ini." Naruto menyandarkan kepalanya di bahu Hinata, sambil memandangi lukisan di hadapanya, tak ada jawaban dari Hinata, suasana hening beberapa menit.

"Oh! Apa Sasuke segera ingin memiliki keturunan juga? Hmm. . dia baru saja lulus, sudah mau membuat keluarga, dasar Sasuke." Naruto tertawa.

"Tidak sayang.." Naruto menghentikan tawanya seketika, sedikit melirik ke wajah Hinata yang juga memandangi lukisan dirinya disana.

"Sasuke – kun anak yang sangat baik, sangat baik bahkan terhadapku." Hinata tersenyum, Naruto malah tak mengerti apa yang dikatakan Hinata, "Dia harus baik bukan, apalagi terhadapmu calon ibu dari anak – anakku, hahaha." Naruto tertawa lagi, membawa Hinata pergi dari sana, menuruni tangga untuk mencari Sasuke yang terlebih dahulu menghilang dari sana.

"Tanaka, dimana Sasuke?" Tanya Naruto pada pelayan tertua miliknya yang baru saja menutup pintu.

"Sasuke – sama baru saja pergi tuan." Jawab Tanaka ramah.

"Dasar Sasuke, sibuk sekali dia sekarang." Naruto menggerutu, Hinata hanya bisa tersenyum memaklumi.

Sasuke mengkayuh sepedanya menyusuri jalan dari rumah Naruto(udah keluar pager dia)

Sasuke POV

Aaaahhhhhhhhhh! Banyak sekali hal di dalam pikiranku sekarang, aku harus mencari kegiatan lebih banyak lagi, hhhh. . jika tidak, yang ada dalam pikiranku hanya ada aku harus berbuat apa, aku harus bagaimana, aku harus berfikir seperti apa, hah! Semua ini membuatku kesal! Kesal terhadap diriku sendiri, ya diriku sendiri, dengan siapa lagi? Dengan Hinata neechan? Tentu saja tidak! Dia adalah manusia terpenting setelah Naruto! Aku kesal terhadap diriku sendiri, haaaaaaaaaahhhh kenapa aku tidak bisa berhenti? Ataupun dihentikan, bahkan Neji yang kupikir mampu menghentikanku dari kebodohan ini juga tidak bisa, padahal setidaknya aku mampu naik darah atau cemas jika terjadi sesuatu terhadap Neji, tapi kenapa masih saja aku tidak bisa lepas dari ini? Apa ini sebenarnya? Semakin dewasa, aku bahkan semakin sulit menahannya. Siaaalllll. . . .

(AAHHHH maaf dengan semua kesalahan Typo dsb. Atau pemakaian kalimat bahasa ingris yang kurang benar, dan terimakasih sudah mau membaca ^^ )