Chap 3

Di sebuah kamar yang tidak terlalu besar, hanya terdapat satu meja belajar beserta satu set komputer, satu kasur ukuran satu orang, sebuah lampu yang berputar - putar mengedarkan gambar bintang berwarna warni di dalam ruangan gelap ini, seragam yang digantung rapi tak jauh dari meja belajar, tak banyak barang di ruangan ini, sehingga membuatnya nampak begitu rapi.

Jam sudah menunjukan puku 3 dini hari, si pemilik kamar masih dengan tenang tertidur di atas kasurnya, sangat tenang, tidak mendengkur apalagi mengeluarkan air liur(ngences).

Dddddrrrrrttt. . .

Ddddrrrrrttttt. . .

Ddddrrrrrrtttt. . .

Ddddrrrrtttttt. . .

Si pemilik kamar Sasuke perlahan tersadar dari tidurnya, merapa sekelilingnya untuk mencari ponsel yang baru saja bergetar.

"Hhh. . " Sasuke menyerah mencari ponselnya yang sudah tak berhenti bergetar, memiringkan posisi tidurnya.

Drrrrrrttttt. . .

Ddddrrrrrtttt. . .

Drdddrrrrtttt. . .

"Cih!" Sasuke kesal lalu menyalakan lampu meja di sampingnya, dengan dua bola mata hitamnya yang terpaksa terbuka, Sasuke mengedarkan pandanganya.

Dddddrrrrttttt. . .

Dddddrrrrttttt. . .

Sasuke beranjak dari tempat tidurnya, mengambil ponsel yang sangat terasa jauh baginya sekarang, padahal hanya beberapa langkah darinya.

Ddddrrrrrttttt. . .

Dddddrrrtttt . .

"Halo?! Sasuke sedikit mencampur nada kesal di sana.

Halo Sasuke, kupikir kau takan terbangun haha

"Ada apa dobe?" Sasuke menggaruk – garuk kepalanya malas.

Sebenarnya aku tak ingin mengganggu tidurmu, tapi aku sudah tidak sabar memberitahukan ini, Hinata baru saja melahirkan, prosesnya baru saja selesai setengah jam yang lalu, haha dia wanita Sasuke, warna rambutnya sepertiku, kau senang bukan Sasuke? Makanya kau yang kuberi tahu pertama kali, oh ya kau juga bisa kemari sekarang jika kau sudah tidak sabar hahaha.

Sasuke terdiam.

Sasuke? Hoii?! Kau tertidur?

Terdengar suara Naruto yang sedikit kesal disana.

"Ah! . . uhh y. . ye yeah. . selamat."

Apa yang kau katakan? Dia adalah adikmu bodoh. . dasar Sasuke . . hihi kau senang sampai tak bisa berkata apa – apa, dasar kebiasaanmu itu.

"Ah. . oh. .umm. . maaf."

Haaaa? Kenapa kau tak kem –

Klik

Sasuke memutuskan telfon, membuka bungkus ponselnya, mengeluarkan batrenya dari sana, dan dibiarkan tergeletak dimeja. Sasuke berjalan pelan ke arah tempat tidurnya, merebahkan tubuhnya kembali, mematikan lampu.

Haha sekarang apa yang harus kulakukan? Apa?

Batin Sasuke dalam hati lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Esok paginya sasuke berangkat kesekolah dengan kantung mata yang membesar, sampai membuatnya mengenakan kaca mata untuk menyamarkanya.

"Yo Sasuke." Neji menghampiri meja Sasuke, tak ada jawaban dari si pemilik meja. Neji menghela nafas panjang.

"Sasuke, aku ingin bermain denganmu seharian ini." Neji mengankat wajah Sasuke sampai mendongak agar untuk bertemu dengan wajahnya di atas sana.

"besok saja." Jawab Sasuke dengan ekspresi datar kepunyaanya. Neji menundukan sedikit bahunya untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Sasuke.

"Aku ingin hari ini."

"Kenapa?" Neji menjauhkan lagi wajahnya, lalu berfikir sejenak.

"Ntahlah, aku merasa jika tidak hari ini, aku akan menyesal selamanya."

"Bodoh." Sasuke melepaskan tangan Neji yang menahan kepalanya untuk mendongak.

"Kau mau atau tidak?" Neji berganti duduk di meja, Sasuke berfikir sejenak lalu menolehkan pandanganya ke arah Neji.

"Baiklah." Neji tersenyum tipis lalu turun dari meja, mendekatkan wajahnya ke telinga Sasuke.

"Aku akan mengompres matamu juga." Bisik Neji pelan lalu berjalan pergi tanpa menunggu reaksi Sasuke.

Sepulang sekolah, Neji membawa Sasuke ke tempat karaoke, niat ingin mendengarkan Sasuke bernyanyi, Neji malah disuguhi dengan Sasuke yang dengan malas tiduran di sofa sambil mengompres kedua matanya.

Setelah puas karaoke, Neji menggeret Sasuke menuju toko baju yang hanya menjual yukata atau kimono, menjejal berbagai corak dan warna, Sasuke sesekali juga mencoba beberapa pasang kimono.

"Uaahh kedua pembeli itu keren sekali."

"Mereka dari sekolah yang sama."

"Satunya cool, dan lebih banyak mengambil inisiatif, satunya lagi sangat pendiam, bahkan wajahnya dingin sekali, kira – kira mana yang uke?!"

Beberapa gadis yang tak jauh dari Sasuke maupun Neji berbisik sedikit keras, hingga membuat Sasuke bereaksi menolehkan wajahnya ke arah mereka.

"Ssstttt. . "

Neji berfikir sejenak, sambil membawa kimono yang akan dicobanya, Neji menghampiri beberapa gadis tadi, tersenyum ramah, lalu berbisik pada salah satu dari mereka, setelah itu Neji kembali ke sisi Sasuke, sedangkan wanita yang mendapat bisikan dari Neji hanya mampu menutup mulutnya dengan pandangan terkejut sekaligus berbinar.

"Bodoh." Sasuke meletakan tanganya di atas kepala Neji, terkekeh pelan. Neji juga ikut tertawa dan malah membuat diantara mereka memang seperti ada sesuatu dimata orang – orang disekitarnya.

Hanya karena dua orang tersebut, situasi di dalam toko menjadi sangat ramai, kadang teriakan histeris akan terdengar.

"Haha jangan ulangi kebodohanmu itu." Sasuke menggeret Neji paksa keluar dari toko tersebut, tentu saja dengan merangkul pundak Neji untuk membuat segalanya terasa dramatis serta picisan.

Keduanya berjalan bersama, Sasuke berjalan dengan tenang, setenang wajah yang dimilikinya, Neji juga berjalan dengan tenang, namun matanya berkeliaran ke sana – sini mencari – cari tempat menarik untuk dikunjungi.

Trliiing. . ide berlian muncul di otak Neji setelah melihat foto box di sebrang jalan.

"Sasuke ayo ke AWAS!" Neji menggeret Sasuke kasar, setengah badan mobil yang masuk ke trotoar dan hampir menyerempet Sasuke melesat dengan cepat dan

Brrraaaaaaaaannnnggggg! (Gomen na sai, angp aja suara tabrakan)

Sasuke beserta Neji tersungkur tepat di depan sebuah toko, Sasuke sepertinya baru saja sadar bahwa ada mobil yang akan menggeretnya, Neji ngos – ngosan bukan kepalang akibat keterkejutanya. Neji menoleh kebelakang, nampak mobil tadi sudah terguling bersama sebuah mobil juga. Banyak orang disekitar sana, tapi tak satupun berani memberi pertolongan.

Belum Neji selesai terkejut akibat kejadian sepersekian detik lalu, kini Neji harus kembali mengulang rasa terkejutnya dari awal.

"Sa. . sasuke. . U. . uzu. . uzumaki – san? ne?!" Kontan Sasuke yang awalnya lebih peduli pada rasa sakit di tubuhnya menoleh ke arah pandangan Neji. Tanpa menikmati rasa terkejutnya atau apapun lainya, Sasuke segera berdiri dan berlari.

"Hoi! Hentikan, mobilnya akan meledak!" Sasuke dihentikan oleh seorang laki – laki separuh baya, tapi sekuat tenaga Sasuke melepaskan pelukan itu dan menghampiri salah satu mobil yang terguling.

"Sa. . sasuke! Sasuke Hinata. . cep – " Naruto yang tadi berusaha keluar lega sekaligus kaget, Sasuke tak menghiraukan permintaanya dan malah berusaha menolongnya keluar dari sana, padahal Hinta beserta bayinya yang berada di kursi belakang lebih membutuhkan pertolongan.

"Sa. . .Hi . . Hinata!" Naruto yang sudah berhasil keluar meronta mencoba lepas dari bopongan Sasuke, lagi – lagi Sasuke tak menghiraukan permintaan Naruto. Baru beberapa langkah dari Sasuke membopong Naruto, kedua mobil tiba – tiba meledak.


Tujuh hari berlalu sejak kecelakaan malam itu, Sasuke menerima beberapa luka serius di tubuhnya, patah tangan tangan kanan, patah paha kanan, serta luka - luka yang cukup serius lainya.

Sasuke sudah sadar ke esokan harinya setelah kecelakaan, namun dirinya harus menjalani beberapa oprasi di bagian tuubuhnya, dan satu minggu pas Sasuke baru boleh turun dari ranjangnya dan menggunakan kursi roda sampai semua patah tulangnya sembuh.

Sedangkan Naruto hanya mendapat luka – luka di sekujur tubuhnya, tidak mengalami patah tulang atau apapun, namun sekarang mata Naruto tertutup perban, Naruto buta.

Itachi membawa Sasuke ke ruangan Naruto seperti permintaanya.

"Naruto." Sasuke memanggil pelan nama Naruto, yang dipanggil menolehkan kepalanya ke arah suara dengan cepat, dengan gerakan secepat ia mampu, Naruto tergesa – gesa turun dari kasurnya, dan membuahkan hasil dirinya menabrak kursi lalu tersungkur, "Naruto, tenanglah." Itachi segera menolong Naruto berdiri.

"Sasuke. . Teme! Apa sebenarnya masalahmu hah?! Kenapa kau tak menolong Hinata serta Hanabi terlebih dahulu!? Kau! Dimana kau?! Aku ingin memukulmu sekarang! Naruto teriak – teriak sambil meraba – raba udara, berusaha mencari keberadaan Sasuke.

". . ." Sasuke hanya terdiam.

"Tch, teme! Kenapa kau tak meneurutiku saat itu!"

"Maafkan aku, tapi waktu itu aku hanya mesti melakukan hal yang menurutku benar."

"Apa kau bilang?! Benar? Kau! . . . kau! Kau membunuh istri beserta anakku!" Sasuke membelalakan matanya, begitu juga Itachi, tak menyangka Naruto akan mengatakan hal seperti ini.

"Maafkan aku." Suara Sasuke sedikit bergetar.

"Maaf tidak akan mengembalikan mereka berdua! Apa sebenarnya maumu teme! Apa?!" Naruto ngos – ngosan sedari tadi berteriak marah. Sasuke terdiam. Itachi mengambil kursi roda yang berada di dekatnya, menuntun Naruto untuk duduk di sana agar lebih tenang.

"Hah. . hah. . kau menyukaiku huh?!" Naruto tertawa sinis, Sasuke makin terkejut atas pernyataan Naruto kali ini.

"Aku tau kau menyukaiku, heh kau menyukaiku bukan? kau tau aku akan lebih bahagia jika mereka selamat daripada aku, kau tak seharusnya mengabaikan itu, jika saja kau tak mengabaikan itu, kau masih bisa terus menyukaiku tanpa aku membencimu, kaumasih bisa bertemu denganku walaupun aku akan buta seperti ini, atau mengunjungi makamku, kau masih bisa menyukaiku sesukamu. . . "

Naruto mulai kehilangan kontrol, ruangan menjadi sunyi beberapa saat, Itachi juga sangat terkejut atas beberapa patah kalimat Naruto baru saja, apalagi Sasuke.

"Haaaaaahhhhh. . pergi dari sini sekarang, aku benar – benar sangat kecewa dan benci denganmu Sasuke, aku tak mau kau menemuiku lagi, memanggil namaku lagi, bahkan jangan datangi pemakamanku jika aku mati nanti. Kau mengerti Sasuke? Itu permintaanku seumur hidup padamu sekarang, jadi tolong kabulkan dan pergilah." Naruto berdiri dari kursi roda dan berbalik membelakangi Sasuke, meraba – raba tempat tidurnya, Itachi bahkan tak sanggup berdiri untuk beberapa alasan, sedangkan Sasuke, wajah datar yang biasa terpasang disana kini tersenyum namun jelas terlihat bahwa Sasuke sedang kesakitan disana.

"Ba. . baiklah, pangeran harus membahagiakan putrinya bukan. . ." tak ada jawaban dari Naruto yang berdiri membelakangi Sasuke.

"Niisan." Itachi berdiri menghampiri Sasuke lalu membawa Sasuke kembali ke ruanganya.


Sehari setelah Sasuke menemui Naruto, keadaan Sasuke biasa saja, tidak ada tanda – tanda Sasuke ingin bunuh diri atau makan sate keong seberat tiga ton. Tak banyak kalimat yang keluar dari putra kedua keluarga Uchiha seperti biasanya, Itachi yang kawatir, sedikit mengendurkan pengawasanya terhadap Sasuke, pasalnya tidak ada gerak – gerik mencurigakan. Bahkan saat Neji datang Sasuke masih bisa sedikit tertawa, tapi Neji sadar Sasuke sedang tidak baik – baik saja. Kenapa Neji tau?

"Sasuke kau baik – baik saja?" Neji yang duduk di samping kasur memangku dagunya menatap Sasuke.

"Tentu tidak." Sasuke mengerutkan alisnya mendengar pertanyaan bodoh dari Neji.

"Hehe kau tidak baik – baik saja, tidak mau bercerita denganku?" Neji mendekatkan wajahnya ke wajah Neji, Itachi yang berada tak jauh dari sana juga kontan menolehkan pandangan ke arah Sasuke, sedikit terkejut ada orang yang kelihatanya sangat mengenal Sasuke.

"Aku baik – baik saja."

"Hhhhhhh. . . baiklah kalau tidak mau mengatakanya, boleh aku memelukmu sebentar?" kini gantian Sasuke yang menghela nafas.

"Baiklah."

"Yes! Hihi sudah lama tak memelukmu poker face." Neji mengangkat kedua tanganya ke atas, lalu dengan perlahan memeluk perut Sasuke, tanpa menghiraukan Itachi yang berada di dekat mereka. Ruangan menjadi hening, hanya semilir angin berhembus melewati jendela, matahari juga hampir tenggelam memberikan warna hangat pada langit.

Sasuke mengalihkan pandanganya ke bawah dimana Neji sedang memeluknya disana.

"Kenapa kau menangis bodoh?" Sasuke meletakan tangan kirinya di atas kepala Neji, menepuk – nepuknya perlahan, Neji hanya menggeleng pelan, membekap suara serta air matanya di one piece rumah sakit milik Sasuke.

"Pffftt. . disini ada kakak ku kau tau, di mana harga dirimu haha."

"Shut up. . ."

"Kakak yang di sana homo juga, tapi kelihatanya dia top sepertiku."

"Shut up. . ."

"Hey, nanti Sasuke kecil tegang."

"Shut up Sasuke!" Neji meledak, makin mengeratkan pelukanya.

". . . ."

"Aku tidak baik – baik saja, tapi aku akan baik – baik saja, jadi berhentilah menangis, bagaimana? Sudah puas dengan ini?" Sasuke mengelus – elus rambut Neji, tak ada jawaban, Neji hanya melangsungkan kegiatan menangisnya.

Hari demi hari berlanjut, Naruto hanya dirawat dua minggu di rumah sakit, dan sudah diperbolehkan pulang, tinggal menunggu pendonor mata untuk matanya yang kini buta. Sasuke yang seharusnya juga sudah keluar menolak untuk rawat jalan, Sasuke tetap berada di rumah sakit walaupun terapi untuk kaki dan tanganya yang patah hanya dilakukan satu minggu tiga kali. Sasuke tidak beranjak dari rumah sakit sedikitpun sampai benar – benar normal.

Dua bulan berlalu, Sasuke sudah bisa menggunakan semua anggota tubuhnya dengan sempurna seperti biasa, dan tentu saja saatnya pulang, tapi lagi – lagi Sasuke menolak untuk pulang.

"Sasuke, kau harus keluar dari sini." Fugaku Uchiha yang tak lain ayah dari Sasuke merasa sedikit cemas. Sasuke tersenyum kecil memandangi lekat wajah ayahnya.

"Baiklah, besok aku akan pulang, tapi Otousan, Kaasan, serta Itachi Niisan harus menjemputku." Fugaku Uchiha diam dengan wajah datar miliknya, mencari tau apa yang sebenarnya Sasuke inginkan, bahkan merasa merinding merasa Sasuke akan berbuat sesuatu yang mengejutkan. Pada akhirnya Fugaku menghubungi Itachi beserta istrinya Mikoto Uchiha.

"Baiklah, kita pulang nanti sore, Itachi masih ada pekerjaan, Ibumu akan kemari sebentar lagi." Fugaku kembali meletakan tas yang tadinya akan dibawa pulang dan duduk di sofa sambil membaca koran. Sasuke kembali ke tempat tidurnya, karena Sasuke yakin jika dirinya meminta keluar berjalan – jalan sebentar, ayah dengan mimik wajah yang sama denganya ini akan mengikuti dari belakang.

Satu jam berlalu dan Mikoto Uchiha telah tiba, membawa beberapa makanan untuk Sasuke. Fugaku meninggalkan mereka berdua dengan sebelumnya berbisik pada istrinya untuk tidak lepas pandangan dari Sasuke.

"Hihi ayahmu sangat kawatir, dan kenapa tidak mau pulang Sasuke?" Mikoto tersenyum sembari membukai semua jendela kamar rawat Sasuke. Tak ada jawaban dari Sasuke.

"Nee Sasuke ayah beserta Itachi sangat kawatir terhadapmu, hihi mereka pasti berpesan yang tidak – tidak, huuuummmm padahal ibumu ini tau kau tak akan menghilangkan nyawamu dengan mudahnya bukan? hehehe tak akan mudah sebelum putri kehilangan nyawanya terlebih dahulu, aahhh tapi begitulah mereka berdua, terlalu kawatir." Tak ada jawaban dari Sasuke, masih dengan wajah datarnya memandang kosong udara di hadapanya, membiarkan ibu tercintanya yang sangat mengerti ini mengoceh kesana - kemari.

"Sasuke. . . " Mikoto yang tadinya duduk di kursi samping kasur Sasuke beralih duduk di kasur mendekati Sasuke, menyentuh kedua pipi Sasuke dengan telapak tanganya, tersenyum hangat, hingga membuat Sasuke meneteskan air dari kedua matanya tanpa sadar.

"Kau ingin melakukan apa? Kau tau Sasuke, Ibu, Ayah ataupun Itachi tak akan keberatan jika Sasuke kita ini bertindak egois, kau tau kenapa? karena kita menyayangi serta mencintaimu." Mikoto masih memberi senyumnya pada Sasuke, bahkan setelah Sasuke meneteskan air mata, Mikoto tak akan mudah goyah.

"Sangat egois." Sasuke menggenggam kedua telapak tangan Mikoto yang berada di pipinya, memejamkan matanya, menikmati sentuhan tangan yang sudah lama sekali tak dirasakanya sejak ia mulai tumbuh dewasa.


Satu bulan kemudian, Naruto mendapat kabar bahwa dirinya siap di operasi.

"Dokter, dua di atas saya sudah mendapatkan pendonor?" Naruto sedang menuju ruang operasi bersama salah satu dokter serta Menma.

"A. . itu. . ." Dokter sedikit bingung untuk menjawab.

"Menma, jangan katakana kalau Kurama terlibat di sini?!"

"A. . umm . . itu. . ennnn. . itu. ." Menma garuk – garuk kepala sambil minta pertolongan dengan dokter di sampingnya.

"Kata keluarga pendonor, mereka teman dari keluarga anda Uzumaki – san."

"Siapa?"

". . ."

". . ."

"Oh! Iya itu sebenarnya dari Kurama, anggotanya ada yang terbunuh dan Kurama inisiatif memberikan matanya padamu, yak begitulah, jadi jangan banyak bertanya karena kau sudah di dalam ruang operasi." Menma menepuk kedua bahu Naruto yang akan menjalani operasi.

Di dalam ruang operasi.

Beberapa dokter serta suster sedang menyiapkan beberapa peralatan, dengan Naruto serta pendonor mata terbaring berdampingan.

"Um dokter, pendonor mataku sudah mati? Apa dia punya keluarga? Aku akan menemui keluarganya jika punya."

". . . ."

" . . . ."

Seketika beberapa orang di dalam ruangan tersebut menoleh ke arah dokter yang membawa Naruto masuk.

"Maaf Uzumaki – san kami tidak tahu mengenai itu, lebih baik Uzumaki – san tanyakan pada keluarga Uzumaki – san sendiri."

Empat hari kemudian, Naruto bisa membuka perban matanya. Dan langsung bisa pulang kerumah, Naruto sempat menanyakan tentang identitas pendonor, tapi Kurama hanya mengatakan sebagian besar orangnya adalah sebatang kara.

Sebelum memasuki pintu rumah, Naruto menuju bagian belakang rumah, melewati kebun bunga, dan terhamparlah empat makam di sana, ayah, ibu, istri serta anaknya yang baru berumur satu hari.

Naruto menangis berjam – jam di antara makam Hinata serta Hanabi, jika tidak Tanaka yang membujuk Naruto untuk beristirahat di dalam rumah, Naruto akan tetap menangis disana.

Berbulan – bulan Naruto melakukan hal sama di malam hari, pergi ke bagian belakang rumahnya hanya untuk menangis, jika sudah lelah Tanaka akan membawa Naruto kembali ke dalam rumah. Naruto berhenti melukis, di siang hari Naruto baru terbangun, setelah makan serta mandi Naruto hanya akan duduk di kamarnya memandang keluar jendela dengan tatapan kosong, setelah makan malam Naruto akan duduk di teras rumah, tetap dengan pandangan kosongnya, Menma juga kadang menemani walau tak setiap saat menemani, kadang Itachi juga dating berkunjung, bahkan Kurama juga menginap beberapa hari, namun tak ada perubahan dari Naruto.

Delapan bulan lamanya Naruto seperti robot, hanya melakukan kegiatan yang perlu dilakukan saja, beberapa kali juga kesehatanya terganggu.

"Tanaka san. . Tanaka – san . ." Naruto memanggil – manggil Tanaka, namun yang dipanggil tak segera muncul, Naruto memasuki rumah, tetap memanggil nama Tanaka, tapi tetap saja yang di panggil tidak datang.

"Permisi Naruto – sama, Tanaka – san sedang berada di gudang." Salah satu pelayan menghadap Naruto, Naruto hanya ber 'oh' lalu kembali berjalan, kemanapun kakinya melangkah, kemuadian Naruto membuka pintu ruangan yang sangat rapid an berisi banyak sekali lukisan serta peralatannya.

"Mencari saya Naruto – sama." Tanaka muncul dari belakang Naruto, tak ada jawaban dari Naruto.

"Naruto – sama." Naruto melangkahkan kakinya masuk, seperti tersadar akan sesuatu, Naruto menyisir setiap sudut setiap benda di hadapanya kini. Dan tiba – tiba Naruto lemas untuk berdiri, membiarkan kakinya lemas dan jatuh duduk, Tanaka tersenyum lalu ikut masuk ke dalam ruangan.

"Tanaka - san. . . berapa lama sejak kecelakaan itu?" Naruto mengusap – usap wajahnya.

"Delapan bulan Naruto – sama."

Naruto tersenyum tipis, menyadari segala ketidak berdayaanya selama ini.

"Tanaka – san, aku sudah tidak apa – apa." Naruto tersenyum lalu berdiri lagi, Tanaka turut bahagia terlihat dari ekspresi wajahnya, "Kalau begitu, saya akan member tahu pada Menma – sama serta Kurama – sama." Tanaka menundukan badan sebentar lalu pergi meninggalkan Naruto.

Naruto mendekati lukisan – lukisanya yang tertata rapi, "Haha lukisanku sebanyak ini kalau di tata rapi." Naruto tertawa geli sendiri melihat deretan Lukisan yang seperti deretan buku disana.

"Yosh, mari lihat, apa ada yang belum selesai. . hm . hm . ." Naruto membuka satu persatu lukisanya, mencari – cari lukisan setengah jadi.

"Hm. . hm . hm. ."

"Hm. . . . . . . . . . . . . ." Naruto berhenti sesaat, lalu mengambil Lukisan yang baru saja dilihatnya, lukisan Sasuke yang sedang duduk dengan posisi sombongnya.

"Sasu. . . ke. ." deg Naruto merasakan Jantungnya tiba – tiba berdetak kencang.

Hah. . hah. . kau menyukaiku huh

Aku tau kau menyukaiku, heh kau menyukaiku bukan?

Kau tau aku akan lebih bahagia jika mereka selamat daripada aku,

kau tak seharusnya mengabaikan itu,

jika saja kau tak mengabaikan itu,

kau masih bisa terus menyukaiku tanpa aku membencimu,

kaumasih bisa bertemu denganku walaupun aku akan buta seperti ini,

atau mengunjungi makamku, kau masih bisa menyukaiku sesukamu. . .

Haaaaaahhhhh. . pergi dari sini sekarang,

Aku benar – benar sangat kecewa dan benci denganmu Sasuke,

Aku tak mau kau menemuiku lagi, memanggil namaku lagi,

Bahkan jangan datangi pemakamanku jika aku mati nanti.

Kau mengerti Sasuke?

Itu permintaanku seumur hidup padamu sekarang, jadi tolong kabulkan dan pergilah.

Sekilah beberapa kalimat melewati ingatan Naruto, jantung Naruto makin berdegup kencang, hingga si pemilik merasakan sakit. Naruto berusaha berdiri dengan seluruh tubuh bergetar.

"Tanaka – san. . ." panggil Naruto lirih saat sudah keluar dari ruangan.

"Tanaka – san . .! Tanaka – san !" Naruto sedikit berteriak, lalu terdengar suara langkah kaki dengan irama cepat menaiki tangga.

"Siapkan mobil sekarang." Naruto berjalan perlahan mencoba menahan tubuhnya yang terasa lemas, Tanaka segera menuruni tangga kembali untuk memperiapkan apa kata tuanya.

Dengan supir Naruto menuju rumah keluarga Uchiha, karena hari masih sore, tak ada yang berada dirumah kecuali Mikoto Uchiha.

"Maaf Naruto, aku juga tidak tau kemana Sasuke pergi." Mikoto menjamu Naruto dengan ramah, menjawab semua pertanyaan Naruto dengan ramah juga.

"Tapi… Bibi, Sasuke. . . ini. . ini. . apa ini mata milik Sasuke?"

"Ara? Bukankah itu milik salah satu teman Kurama?" Naruto diam, Mikoto kemudian meninggalkan Naruto untuk menyiapkan makan malam serta mengerjakan pekerjaan rumah lainya, hingga hari hampir gelap, Itachi datang atas panggilan Mikoto yang memberi kabar Naruto ingin menemuinya.

"Naruto – san. ." Itachi muncul. Naruto langsung memberi pelukan hangat pada Itachi. Tak lama kemudian Fugaku Uchiha pulang dari tempat bekerjanya, berbincang sebentar mengenai banyak hal. Tapi pada akhirnya Naruto mengajak Itachi untuk berbincang berdua di teras belakang rumah keluarga Uchiha.

"Itachi, aku ingin bertemu Sasuke, aku tau kalian hanya berbohong padaku jika kalian tidak mengetahui dimana Sasuke berada."

Itachi tersenyum sambil menikmati the hijau miliknya.

"Hem. . Naruto – san, Ibu memang tak tau dimana Sasuke, Ayah juga, mereka tidak berbohong sama sekali, tapi aku tau dimana Sasuke berada, dan aku tidak akan mengatakanya padamu Naruto - san." Naruto terbelalak.

"Ke. . kenapa. . .kau . . kau marah kepadaku? Itachi aku sudah meminta maaf berulang kali tadi, aku mohon, aku ingin meminta maaf padanya juga."

"Lalu?" Itachi berbalik menatap Naruto, keduanya diam untuk beberapa detik sampai Itachi menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit.

"Lalu apa selanjutnya setelah Naruto – san meminta maaf?" Tak ada jawaban dari Naruto, hanya suara air mengucur terdengar keras di antara mereka berdua sekarang.

"Haha Naruto – san! Aku hanya bercanda! Jangan tegang begini!" Itachi tertawa dan merangkul pundak Naruto.

"Nnnggghhhhh. . ." Itachi berdiri meregangkan tubuhnya.

"Sasuke berpesan padaku, jika Naruto – san datang menemuiku untuk meminta maaf dan mencari tahu dimana dia sekarang, Sasuke mengatakan bahwa sudah memaafkanmu, dan Sasuke menolak untuk memberi tahu keberadaanya."

"Bahkan Sasuke menyuruhku bersumpah, walaupun Naruto – san menangis, memohon atau mengancam segala ancaman, aku tetap tidak diperbolehkan memberi tahu keberadaanya, bahkan jika Naruto – san mengatakan mencintai Sasuke, dia tetap menyuruhku untuk tidak memberitahukan keberadaanya."

Naruto hanya terdiam, Itachi juga ikut diam menikmati keheningan setelah beberapa kalimatnya, menikmati angin, serta suara gemericik air di hadapanya.

"Hhhhhhh. . ." Itachi menghela nafas panjang, melihat wajah Naruto terlihat sangat sedih.

"Sekalian saja, Sasuke juga berpesan, jika Naruto – san ingin menyampaikan permintaan maaf, pernyataan cinta atau lainya, Sasuke menyuruhku bersumpah untuk tidak menyampaikan padanya, jadi intinya, kalaupun Naruto – san menyuruhku menyampaikan beberpa kalimat Naruto – san untuk Sasuke, aku tak akan menyampaikan padanya." Naruto masih diam, Itachi juga hanya diam, beberapa menit berlalu begitu saja dengan tenang.

"Yak! Tapi Sasuke sehat, sekarang Naruto – san harus pulang untuk beristirahat, besok Kurama pasti datang kerumah bukan?." Itachi berdiri untuk yang kesekian kalinya meregangkan tubuh, Naruto juga ikut berdiri. "Baiklah, terimakasih banyak Itachi." Naruto tersenyum lalu memeluk Itachi sesaat, dan kembali kerumah.

Esoknya saat Kurama datang, Naruto juga bertanya barang kali Kurama tau sesuatu tentang Sasuke, tapi mau ditanya seperti apa Kurama tidak memberi jawaban sesuai keinginan Naruto. Begitu juga dengan Menma yang tidak tau apa – apa. Naruto mencari tau ke sekolah Sasuke, tapi tak ada yang tau juga dimana Sasuke, bahkan Sasuke belum dinyatakan lulus dari SMA'nya, Naruto juga mendatangi kediaman Neji, begitupula dengan Neji yang juga tak tau apa – apa, bahkan Neji bertanya balik kepada Naruto apa yang sebenarnya terjadi, dan terpaksa Naruto bercerita tentang kata – kata kasarnya terhadap Sasuke hari itu.

"Mata itu. . hitam. ." Neji berbisik pelan, dadanya bergemuruh panas, rasanya ingin sekali Neji menghajar orang tua disampingnya sekarang, tapi Neji teringat oleh Sasuke, karena Sasuke tidak akan mengatainya 'bodoh' jika menghajar Naruto sekarang, Sasuke akan diam dan tidak akan menunjukan ekspresi apapun seperti saat pertama kali kenal.

"Aku tidak berbohong, aku benar – benar tidak tau keberadaan Sasuke, tapi Uzumaki – san. ." Neji memberi jeda pada kalimatnya.

"Tapi aku yakin Sasuke belum meninggalkan dunia ini, hhhhh. . si bodoh muka datar itu tidak akan mati dengan mudah selama Uzumaki – san masih bernafas."

"Kenapa kau bisa yakin?"

"Kenapa? ya kenapa? hmmm . . karena aku mantan kekasihnya." Naruto menoleh langsung ke arah Neji, dan disana Neji menampakan seringai indahnya dengan manis.

"Haha. . tenang saja, ibarat seratus persen, aku hanya 1 persen yang bahkan tidak utuh dari seratus persen milikmu Uzumaki – san.

Hari terus berlalu begitu saja, dan pada akhirnya di usia Naruto yang mencapai 40th Naruto memberitahukan diri bahwa dirinya sudah tidak melukis lagi alias pensiun.

"Tanaka – san, semuanya, terimakasih, kalian bisa memanfaatkan rumah ini sesuka kalian, membawa keluarga kalian kemari juga tidak masalah, banyak ruangan disini, dan sayang sekali jika di biarkan begitu saja, Kurama akan tetap menggaji kalian, jadi kumohon jangan biarkan rumah ini tak berpenghuni." Kata – kata terakhir Naruto saat semua pegawai dirumahnya mengantarkan kepergian dirinya. Naruto sudah mengatur semuanya dengan Tanaka, dan Naruto yakin Tanaka mampu melaksanakan tugasnya walau di usianya yang sudah hampir mencapai batas. Naruto memutuskan untuk pergi ke ingris tempat dimana Kurama berada, Naruto berenacan akan menghabiskan sisa hidupnya untuk menjelajahi dunia, menggunakan uang tabungan miliknya. Naruto tinggal beberapa bulan di kediaman Kurama, sebelum akhirnya Naruto kembali ke jepang untuk menemui panggilan Menma adik satu – satunya. Saat sudah bertemu Menma, Naruto dibawa ke belanda untuk menghadiri pernikahan Menma bersama seorang pemuda bernama Shikamaru, tak banyak orang saat pernikahan Menma, karena dari pihak Shikamaru banyak yang menentang. Setelah pernikahan Menma, Naruto menolak untuk diajak kembali, dengan kertas gambar serta pensil Naruto menggambar banyak hal yang ada di negara kincir angin ini. Setelah puas dengan Belanda, Naruto pergi menuju mesir, sesekali Naruto kembali ke tempat Kurama, atau mengunjungi Menma, hari bulan tahun berlalu begitu saja.

Di tempat lain.

Empat anak kecil sedang mencari kayu kering di dalam hutan, mengumpulkan sebanyak mungkin semampu mereka, tanpa menyadari tiba – tiba beberapa orang dewasa menodongkan pisau memaksa mereka untuk kembali kerumah.

"Ada apa ini?!" seorang laki – laki dewasa berkulit pucat dengan rambut lurus panjang tampak kaget tiba – tiba rumahnya dimasuki beberapa orang.

"Huuuuaaa. . Orochimaru . . sakit. ." gadis kecil berambut merah menangis memegangi rambutnya yang sedang di jambak, Orochimaru si laki – laki dewasa berambut panjang serta berkulit pucat tadi langsung menggeret Karin serta tiga anak kecil lainya dalam pelukan. Para penjahat tanpa permisi menggeledah seisi rumah, menghancurkan berbagai barang walau hanya sedikit yang bisa di hancurkan.

"Ada apa ini? Berisik sekali. .?" Muncul satu orang dewasa lagi yang baru saja datang, mengenakan kimono berwarna hitam, rambut sebahu miliknya dibiarkan terikat, serta memiliki warna mata yang cukup indah, seperti lautan atau seperti langit bahkan samudra, biru.

"Sasuke!"

"Sasuke – samaaaaa. . . huuuuuaaa huuaa. . Sasuke – sama!" Ke empat anak tadi yang berlari memberondong Sasuke.

"Sasuke, cepat pergi! Ada pencuri, pergilah!"Orochimaru berteriak panik, tapi usahanya berbuah sia – sia, rambutnya ditarik dan memaksanya ikut masuk ke dalam rumah bersama salah satu pencuri, lalu dua pencuri lainya menghampiri Sasuke, tangisan anak – anak makin kencang, Sasuke hanya bisa merengkuh semampu mungkin ke empat bocah miliknya ini.

"Kami hanya keluarga miskin, tinggalkan kami." Sasuke akhirnya berbicara saat dirasakan seseorang memegang pundaknya.

"Ohh. . .! dia buta! Baiklah, kemari orang buta!" Sasuke digeret juga memasuki rumah, kini posisinya duduk menjadi tameng untuk ke empat anak - anak yang masih menangis kencang.

Bugh! Satu bogem mentah melayang ke pipi kanan Sasuke.

"Tidak mungkin kau miskin, pakaianmu saja terlihat mahal bodoh!" Sasuke bangun lagi, tetap berusaha melindungi empat anak kecil dibelakangnya, Sasuke hanya bisa mendengar banyak suara yang tak dikenalinya, atau sesekali suara Orochimaru yang berusaha mendekatinya, namun pada akhirnya Orochimaru di hajar hingga tidak bersuara lagi.

"Hey, cepat kaakan dimana hartamu, sebelum bos kemari membunuh kalian semua." Salah satu pencuri menjambak rambut Sasuke hingga si pemilik mendongak ke atas.

"Kami benar – benar tak memiliki apapun. . ."

"Aaaahh! Kau membuatku kesal!" satu lagi bogem mentah melayang, kali ini mengenai kepala Sasuke, membuat Sasuke tersungkur sambil memegangi kepalanya, tiba – tiba Sasuke merasakan basah ditanganya, lalu dengan cepat mencium telapak tanganya, bau darah, Sasuke mencoba tenang dan berusaha kembali duduk untuk melindungi ke empat anak tadi.

"Dengan kau berusaha kuat, makin membuatku kesal dan ingin meny . .nyiiiikkksaaamuuu. . bo. .doh!" terdengar erangan kesakitan disela kalimat salah satu pencuri yang sedang menggoreskan ujung belatinya dari pelipis sebelah kanan Sasuke hingga mencapai leher, Sasuke memegangi pipi kananya yang baru saja dibuatkan arus sungai merah, suara tangisan makin kencang, bahkan Karin satu – satunya wanita di antara empat anak sudah tak sadarkan diri.

"Kkhhh…!" nafas Sasuke menjadi berat, seperti merasakan perih di sekujur tubuhnya.

"Sasuke!" Tiba – tiba terdengar suara teriakan dari halaman rumah, Sasuke bisa mendengar orang tersebut berlari ke arahnya, namun tiba – tiba beberapa derap langkah juga mendekat, lalu terdengar suara tawa serta pukulan yang tak jauh dari Sasuke duduk.

"Ka. . kali . . kalian, kalian tau ini hunian siapa? Haahh. .hahh. . dari masuk hutan hingga kemari. . uhk. . ini. . ini milik Uchiha." Suara tiba – tiba hening untuk sesaat, semua yang ada diruangan yang sama dengan Sasuke ataupun di halaman menjadi diam.

"Ppppfffttt. . hahaha Uchiha kau bilang? Haha berarti rumah ini milik orang kaya! Perusahaan mainan yang cukup besar di kota." Sesaat hanya sepi namun tiba – tiba tawa meledak terdengar.

"Hmmm . . mungkin kita harus menculiknya dan meminta tebusan, bos pasti senang." Salah satu pencuri yang hobinya nyakitin Sasuke mengangkat wajah Sasuke paksa untuk mendongak ke atas.

"Cepat beresakan yang terlihat mahal, dan bawa Uchiha satu ini." Salah satu Perampok yang doyan nyiksa memberi intruksi, semua mulai mengemasi dan dibawa keluar rumah, Sasuke yang berusaha melawan saat akan di ikat juga harus tak sadarkan diri setelah dihajar beberapa kali lagi.

"Heeee. . apa yang kalian lakukan lama sekali." Masuklah dua orang lagi kedalam halaman rumah. Beberapa orang , beberapa orang yang berada di dekat sana membungkukkan badan sekilas.

"Apa itu? Mau diminta tebusan?" salah satu orang yang baru saja datang menunjuk Sasuke yang sedang terikat.

"Oh! Iya bos! Kali ini kita akan mendapatkan tebusan besar, dia dari keluarga Uchiha." Salah satu perampok penyiksa Sasuke menjelaskan dengan bangga, si yang dipanggil bos nampak terkejut, lalu mendekati Sasuke.

". . . ."

BUAGH!

Tinju keras melayang ke penyiksa Sasuke, disusul injakan injakan keras dari sang bos.

"Berkumpul kalian semua!" Teriak si bos, tanpa menunggu lama beberapa perampok berdiri menghadap.

"Angkat semua orang disini, termasuk anak kecil ke dalam mobil, kita akan membawanya ke klinik terdekat."

Dua hari kemudian.

Sasuke yang mengalami luka paling serius masih dirawat di rumah sakit mini di pusat. Orochimaru serta Obito hanya sehari dirawat dan memutuskan pulang untuk membereskan kekacauan dirumah.

"Sasuke - san aku ingin menyisir rambutmu, apa boleh?" Anak kecil dengan rambut panjang berwarna putih dan bernama Kimimaro menggeret – geret ujung lengan Kimono Sasuke.

"Baiklah, arahkan menghadap jendela." Sasuke perlahan menurunkan kakinya dari kasur, lalu mengikuti tuntunan langkah Kimimaro.

Tiba – tiba terdengar derap lari dan pintu yang terbuka kasar.

"Suigetsu tenanglah." Kimimaro yang baru saja mau menyisir rambut Sasuke dari belakang menoleh memberi tatapan penuh arti pada anak kecil berambut biru yang baru saja tiba.

"Mana Karin?" Jugo anak kecil berambut seperti durian menutup kembali pintu kamar yang terbuka lebar, Suigetsu menyeimbangkan nafasnya, lalu menghampiri Sasuke dan mengangkat kedua tangan Sasuke untuk mengarahkan gelas yang berisi the ke arah mulutnya.

"Makanya jangan berlari." Sasuke mengacak rambut Suigetsu.

"Hehe. ." Suigetsu hanya tersenyum menggelayuti kaki Sasuke.

Diwaktu yang sama, Naruto yang mengalami insiden kaki terkilir sudah selesai di obati lalu keluar dari ruangan untuk berencana pergi.

"Hmm. . mungkin aku kembali ke Kurama, hhhhh. . padahal masih banyak tempat disini. ." Naruto berjalan perlahan sedikit terseok – seok(?).

Sedang apa Sasuke ya. . . batin Naruto dalam hati.

Brruk!

Aw!

"Aduh. ." Naruto sedikit kehilangan keseimbangan saat tiba – tiba ada yang menubruknya dari belakang, Naruto menoleh dan nampak gadis kecil berambut merah sedang jatuh lalu berusaha memungut beberapa butir buah jeruknya, Naruto membalikan badan.

"Haha maafkan paman, kaki paman sedang sakit, jadi tidak bisa membantu, hehehe."

"Oh. . tidak apa – apa paman, Karin yang salah menabrak paman, jadi maafkan kar. . ." Karin si gadis kecil berambut merah malah terbengong saat mengangkat wajahnya dan bertemu dengan wajah Naruto yang tak jauh di atasnya.

"Waaahhhh! Paman! Paman memiliki warna rambut yang indah, jeruk! Iya seperti jeruk! Uuuwwwaaahhhhhh. ." Karin berdiri menatap berbinar ke arah Naruto.

"Hahaha, rambutmu juga indah. ." Naruto mengelus perlahan rambut merah Karin.

"Heheh paman tau, keluarga Karin memiliki berbagai macam warna rambut, Suigetsu berwarna biru, Kimimaro niichan berwarna putih, sama dengan Kabuto, lalu Jugo niichan berwarna seperti jeruk juga, tapi milik paman lebih indah, Karin berwarna merah, lalu yang berwarna hitam Orochimaru dan – "

"Waaahh. . pasti warna rambut Karin paling indah." Naruto senyum – senyum senang, seperti melihat ibunya dalam versi kecil yang sedang bercerita.

"Tidak! Punya Karin belum ada apa – apanya, Karin punya keluarga dengan warna bola mata yang seperti langit biru, lalu terkadang seperti hutan berwarna hijau."

"Hhmmm. . lalu siapa pemilik mata sebiru langit sehijau hutan itu Karinchan."

"Hihi paman ingin tau? Janji yahh kalau kuberi tahu, paman tidak akan menikahinya, karena dia sangat sangat cantik, namanya Sas – "

"Karin!" Tiba – tiba Kimimaro yang baru saja keluar dari ruangan berteriak dan menghampiri Karin dengan langkah cepat.

"Apa yang sedang kau lakukan?! Kau tidak ingat dua hari lalu?!" Kimimaro menampakan wajah marah, membuat Karin sedikit ciut disana.

"Tapi. . tapi paman ini memiliki rambut yang indah seperti kita. . Karin. . Karin pikir paman ini bukan orang jahat, huuuueeee huuueee. ." Pada akhirnya suara tangis Karin terdengar.

"Haha. . sudah – sudah, oniichan jangan marah lagi, Karinchan hanya bercerita sedikit tentang warna rambut keluarganya." Naruto merasa sedikit tidak enak dipandangi beberapa orang yang sedang lewat. Kimimaro memeluk Karin dan berusaha menenangkan.

"Kalau begitu kami permisi." Kimimaro menundukan badan lalu berjalan menggandeng Karin yang masih sesungukan, Naruto juga mengikuti berjalan dari belakang melanjutkan perjalanan. Kimimaro membuka pintu lalu memasukan Karin terlebih dahulu, dan menutup pintu perlahan pas di saat Naruto lewat sambil menoleh ke arah ruangan yang dimasuki Karin.

"Karin. . ada apa?" Sasuke berdiri lalu membalikan tubuhnya yang tadi menghadap jendela, Naruto masih bisa melihat anak kecil berambut biru sedang bermain bongkar pasang, lalu anak kecil berambut orange sedang mengupas apel, serta satu orang dewasa memakai kimono dengan rambut hitam tergerai.

Saat pas Sasuke membalikan badan, Kimimaro menutup pintu dengan rapat, Naruto hanya tersenyum lalu melanjutkan perjalananya yang akan keluar dari rumah sakit mini.