FINAL CHAP

Kurama sedang membaca sebuah surat permohonan maaf, lalu memandangi beberapa botol merk wine di atas mejanya.

"Siapa Kisaragi? Berapa banyak mereka kirim?" Kurama melempar surat yang tadi dibacanya ke atas meja.

"Kisaragi kelompok kecil yang berada di jepang, dibawah pimpinan Don Yagura. Mereka mengirimkan masing - masing 20 botol." Jawab seorang wanita dengan kulit tan berambut sebahu di hadapan Kurama.

"Kenapa anak – anak seperti mereka bisa mempunyai urusan denganku?" Kurama menggaruk pipinya sembari memutar – mutar surat yang tadi dibacanya dengan bolpoin.

"Mm. . Baiklah, Fuu kumpulkan data antara Don Yagura." Kurama memberikan surat yang dibacanya pada Fuu asisten pribadinya, Fuu hanya mengangguk mengerti.

"Tidak perlu Kurama, nanti kuceritakan." Itachi yang tiba – tiba datang menyahut surat yang dibawa Fuu ketika akan keluar ruangan.

"Kalian keluarlah sebentar." Itachi memberi kode keluar beberapa bawahan Kurama yang masih di dalam, setelah semuanya keluar, Itachi menutup pintu dan duduk di atas meja Kurama.

"Apa maksutmu Itachi?" Kurama menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, menatap lurus Itachi yang sedang duduk di atas mejanya.

"Sasuke dan orang – orangnya kena rampok dengan beberapa orang Kisaragi, tapi semuanya baik – baik saja. Jadi tidak usah diperpanjang." Itachi membuka tutup botol salah satu mine yang berada di belakangnya, lalu meneguknya beberapa kali. Kurama tak memberi komentar dan terpana pemandangan di hadapanya, melihat Itachi meneguk botol wine hingga mengalir sedikit di ujung bibirnya.

"Hey. .!" Kurama membuka mulutnya, Itachi tersenyum sembari meneguk kembali wine di tanganya. Itachi turun dari meja dan menghampiri bibir Kurama untuk menyalurkan apa yang diminta Mafia blonde ini.

.

.

.

.

"Kurama, aku akan pergi kembali ke tempat sebelumnya." Kurama tersedak kopi yang baru saja diseduhnya.

"Maksutmu ke tempat kau terkilir itu?!" Naruto hanya mengangguk cuek.

"Disana tidak ada apa – apanya, pergi ke tempat lain saja. Ke Indonesia, atau Mesir saja." Kurama mencoba kembali tenang, agar tak nampak mencurigakan.

"Hm? Aku ingin masuk ke dalam hutan disana, yang katanya ada berbagai tanaman dan berbatasan di ujungnya terdapat pantai, langka sekali bukan? Hutan berdampingan dengan laut? Aku akan kesana besok, haha!" Kurama tak mengatakan apapun, hanya tersenyum lembut pada orang tua yang sedang tertawa gembira sembari mengoleskan selai di atas rotinya.

.

.

.

.

Udara pagi yang selalu dingin tak pernah menyurutkan aktivitas tiga laki – laki dewasa dan empat anak – anak di rumah tersebut. Pria berambut putih, di ikat satu kebelakang dan memakai kaca mata sedang memasak di dapur untuk sarapan, Pria berambut sebahu dengan warna kulit pucat sedang menyapu halaman rumah. Pria berambut hitam dengan panjang sebahu sedang membuarkan rambutnya di sisir oleh beberapa anak – anak, sedangkan dirinya sendiri sedang menyisir rambut gadis kecil berambut merah di pangkuanya.

"Sasuke. . aku sudah bisa membuat mahkota dari bunga, nanti sepulang sekolah kubawakan untukmu, Sasuke pasti akan lebih terlihat lebih cantik nanti, hihi!" Karin bersandaran dengan manja di dada Sasuke.

"Sa~~suu~~ke~~!" Suigetsu berlari dan menubruk Sasuke hingga membuat Sasuke hampir terjungkal menindih dua anak – anak dibelakangnya.

"Suigetsu, jangan lakukan itu lagi." Sasuke menjewer telinga Suigetsu.

"Baka!" Kimimaro muncul dari balik lengan Sasuke dan menggetok kepala Suigetsu pelan.

.

.

.

Matahari sudah di tengah – tengah, di hiasi langit biru bersih membentang. Naruto sedang duduk dibawah pohon besar untuk beristirahat setelah perjalanan yang cukup menguras tenaganya.

"Hmm sudah berapa kilo meter aku memasuki hutan?" Naruto memandangi botol minuman miliknya yang sudah kosong , lalu mengedarkan pandanganya ke sekitar, mencoba mencari barang kali ada sungai kecil atau apapun yang bisa untuk diminum. Pengedaran Naruto tak membuahkan hasil sama sekali.

.

.

"Karin! Jangan bergerak terlalu banyak!" Kimimaro memberi interupsi pada gerakan Karin yang membonceng di belakangnya.

"Suigetsu, kau juga." Jugo dengan nada lembutnya juga memperingatkan Suigetsu yang terus bergerak mengganggu Karin. Ke empat anaktersebut menggunakan transpotasi sepeda dari rumah menuju ke sekolahnya ataupun ke kota. Dengan sepeda mereka hanya akan membutuhkan waktu 20menit sampai di perbatasan hutan dan kota. Jika hanya berjalan kaki akan mengambil waktu satu jam untuk sampai di perbatasan.

"Huh?!" Kimimaro menghentikan sepedanya tepat di hadapan Naruto yang sedang tertidur di bawah pohon dengan damainya. Karin maupun Suigetsu turun dari boncengan menghampiri Naruto terlebih dahulu.

"Ini paman yang bertemu kita di rumah sakit dulu itu ne?" Karin menoleh ke arah Kimimaro yang sudah berada dibelakangnya. Kimimaro kemudian memeriksa keadaan Naruto, pertama Kimimaro mendekatkan telinganya di wajah Naruto untuk mengecek irama nafas paman Blonde yang sudah terlihat tua ini, kedua Kimimaro menempelkan telinganya ke dada Naruto untuk mengecek irama jantung si pemilik.

Merasa tidurnya terganggu, Naruto perlahan membuka matanya. Untung saja Naruto tidak memiliki penyakit jantung, karena setelah matanya terbuka, terdapat 4 bocah mengerumuni dirinya dengan tatapan berbagai arti.

"Paman! Paman ingat Karin?! Yang dirumah sakit dulu itu!" Karin berseru dengan gembira, Naruto sedikit memutar otaknya, lalu menyungging senyum yang tak kalah ceria.

"Ya ya aku ingat! Haha!" Naruto mengacak – acak rambut Karin.

"Em? Kenapa anak – anak seperti kalian di tengah hutan seperti ini?" Naruto membenahi letak duduknya agar nyaman.

"Rumah kami ada di ujung hutan ini paman!"

"Karin! Apa yan kau katakan! Jika paman ini orang jahat seperti dulu!" Kimimaro menggeret Karin yang tadinya di pangkuan Naruto.

"Paman ini orang baik, Karin yakin itu." Suara Karin sudah mulai bergetar dibentak sedikit oleh Kimimaro.

"Hahaha, aku hanya orang yang menumpang lewat, aku kemari ingin melihat pemandangan laut dari batas hutan ini saja, kata orang – orang di ujung hutan ini."

"Rumah kami tepat di sana paman! Bagaimana jika bersama kami kesana!" Suigetsu yang belum kena semprot menggelayuti lengan Naruto.

"Kimimaro, paman ini juga terlalu tua untuk berjalan, dan botol air minumnya juga habis, kupikir akan baik – baik saja membawanya kerumah." Jugo berdiri dari hadapan Naruto.

"Hhh. . baiklah, paman boncengkan Karin dan Suigetsu, aku akan bersama Jugo." Akhirnya Naruto mengendarai sepeda bersama Karin dan Suigetsu yang membonceng di belakang. Suara tawa terus meliputi perjalanan mereka hingga sampai di depan sebuah rumah yang luas dan nampak sekali sederhana.

Karin dan Suigetsu turun lalu segera berlari ke dalam halaman rumah, Naruto menunggu sebentar sampai Kimimaro juga sampai di depan rumah.

"Masuklah, nanti aku akan mengantarmu ke perbatasan yang kau maksut." Kimimaro menuntun sepedanya masuk. Naruto mengekor dari belakang. Nampaklah halaman yang sangat luas, kolam, beberapa jenis pohon yang cukup rindang, ada sebuah gazebo juga di balik rimbunan pohon bambu yang terletak paling ujung. Lampion – lampion kecil nampak menghiasi beberapa dahan pohon. Seseorang dengan rambut hitam tergerai dan di ikat ujungnya sedang tampak berbincang dengan Karin maupun Suigetsu.

"Itu ibu kalian?" Naruto keceplosan bertanya. Kimimaro berhenti, lalu menatap apa yang di tatap Naruto.

"Bukan, itu Sasuke – sama, pemilik kami semua di sini." Kimimaro kembali berjalan, untuk meletakan sepedanya.

"Ohh. . ." Naruto juga ikut berjalan, namun hanya dua langkah Naruto berhenti, bahkan menjatuhkan sepedanya dan menimbulkan semua yang berada di sana tak terkecuali Sasuke menoleh ke arah sumber suara.

"Hey, kenapa kau menjatuhkan sepedanya paman?" Jugo mengambil alih Sepeda yang jatuh, lalu menuntunya ke tempat Kimimaro meletakan sepedanya. Kimimaro mendekati Naruto, yang mulai menunjuka ke anehan.

"Paman kenapa?!"

"Kimimarooo niichhaaaannn?! Sasuke bertanya ada apa?!" Karin berteriak lantang, Kimimaro menatap Naruto penuh tanda tanya.

Bruk!

Kaki Naruto tak mampu menahan lagi dan jatuh terduduk, Kimimaro bisa melihat Naruto nampak sekali sedang bergetar.

"Jugo, jaga dia sebentar." Kimimaro kemudian berlari ke arah Sasuke, untuk memberitahukan tentang paman aneh yang mereka temukan. Kimimaro langsung melapor ke Sasuke, karena di jam segini Kabuto ataupun Orochimaru sedang keluar rumah.

Karin, Suigetsu berlari terlebih dahulu menghampiri Naruto. Kimimaro berjalan tenang, seperti Sasuke yang sedang berada tepat di sampingnya.

Sasuke merapa – raba kemudian berjongkok tepat di hadapan Naruto, meletakan tongkat yang selalu dibawanya, lalu memegang kedua tangan Naruto, berusaha meredakan gemetar pemilik tangan.

"Tuan tidak apa – apa? Jika tuan kelelahan mari kubantu berdiri dan beristirahat di dalam." Sasuke mencoba seramah mungkin, walaupun wajahnya masih saja terlihat datar.

Naruto mendekatkan keningnya perlahan ke kening Sasuke.

"Tuan?" Naruto masih belum mampu mengeluarkan satu patah katapun.

Tes

Tes

Air mata tiba – tiba menetes di pipi Sasuke.

"Tu. . Tuan?!" Sasuke melepaskan tangan Naruto karena panic harus berbuat apa. Butiran – butiran air mata makin deras mengalir, Naruto merasakan sesak, sakit, serta senang diwaktu yang sama. Membuat Naruto bahkan tak mampu mengeluarkan satu patah kata.

Sasuke hanya bias pasrah dan membiarkan tamunya yang ntah kenapa menangis ini memeluk dirinya.

Kimimaro sudah mengajak Karin, Suigetsu dan jugo memasuki rumah atas perintah Sasuke sejak Naruto mulai menangis.

"Tuan. .?" Sasuke menggosok – gosok punggug Naruto, tanpa tau bahwa itu Naruto.

"Sa . . sasuke. ." Naruto masih sesungukan lawaknya anak kecil.

"Ya? Itu saya."

"Na Naruto. . aku Naruto!" Naruto memeluk erat Sasuke dengan tangis yang makin menjadi – jadi.

Sasuke terdiam, tiba – tiba saja tubuhnya menjadi lemas, seperti tak mempunyai enegi tersisa, nafas mulai tak teratur, tangan Sasuke yang awalnya mengelus – elus punggung Naruto juga terkulai tak bertenaga.

"Kenapa bisa, kau disini dobe. . ." Sasuke berbisik sangat pelan. Bukan mencurigai Itachi apalagi menyalahkan Itachi. Karena Sasuke sangat yakin Itachi tidak akan dengan sengaja memberitahukan tempat ini pada Naruto. Sasuke bertanya pada Naruto serta dirinya sendiri. Kenapa bisa mereka di pertemukan kembali.

TAMAT