Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Sakura x Sasuke x Naruto
Theme : Hurt/Comfort
"sa..su..sasuke...kau...". Pandanganku tak bisa lepas dari tatapannya. Aku baru saja mendapatkan jawaban dari keraguan atas kesimpulan yang baru saja kupikirkan. Tidak , lebih dari itu , aku mendapatkan jawaban dari semua keraguanku selama ini sekarang. Mengapa mata sekelam malam itu selalu kosong, kenapa aku tidak melihat cinta dimatanya. Sekarang aku paham. Aku tau jawabannya.
Sasuke tidak mencintaiku.
Break Down Love
Chapter 02
Terkejut, tidak percaya, marah, cemburu, kecewa, semua bercampur di dadaku. Sesak sekali rasanya. Keraguanku telah terjawab. Sasuke mencintai orang lain dibelakangku. Sebenarnya bukan orang lain, karena dia adalah laki-laki yang telah lama menjadi sahabatku.
Kenapa harus Naruto ?
Kenapa harus Naruto yang kau sukai Sasuke ?
Kenapa harus sahabatku ?
Ingin ku lepaskan semua tanyaku. Berteriak sekuat suaraku sampai amarahku menguap. Aku tidak bisa menahan tangisanku. Semua ini terlalu mengejutkan.
" sakura, sejak kapan kau berdiri di situ?". Untuk apa aku menjawab pertanyaannya. Aku yakin matanya menangkap raut amarahku dan air mata yang tidak bisa berhenti menetes ini. Sejak kapan dia jadi bodoh, hingga menanyakan hal yang tidak perlu ditanyakan seperti itu? Aku tidak kuat lagi, dadaku sesak sekali, sangat perih.
"maaf sudah mengganggu, permisi...". Aku harus keluar dari tempat ini, tidak ada kekuatan lagi untuk menatap matanya. Aku hampir sampai di pintu keluar ruangan ini, tapi tarikan sasuke di lengan kiriku menghentikanku.
"aku akan menjelaskan semuanya, aku akan menjelaskan semua hal yang baru saja kau dengar dan kau lihat ," terlalu datar, tidak ada rasa bersalah dalam suaranya, hebat sekali dia.
" aku tidak butuh . . . kau pikir seberapa bodoh aku hingga tidak bisa mencerna sendiri apa yang baru kulihat?" tidak perlu kusembunyikan isakan yang menyertai suaraku. Kusentakkan lengannya hingga genggamannya di tanganku terlepas. Sejujurnya tidak ada tenaga untuk berlari, tapi entah mengapa kakiku terus berlari tanpa henti.
" SAKURAA!" hanya teriakannya yang mencoba menahanku, dia sama sekali tak bergeming dari tempatnya. Kupikir dia akan mengejarku, menghentikanku, dan mengatakan yang ingin kudengar saat ini. Tapi dia membiarkanku berlari sendiri membawa kekesalan ini. Kepalaku dipenuhi ribuan tanya yang memusingkan, usahaku untuk berusaha tenang tidak berguna. Air mata sedikit mengaburkan pandanganku, makian seseorang yang tidak sengaja kutabrak pun tak membuat langkahku berhenti berlari. Sebenarnya mengapa aku berlari? Apa yang kuhindari? Aku sendiri tidak tau. Kakiku terasa lemas hingga aku berhenti berlari dengan sendirinya. Aku terduduk lemah, terengah-engah dan terus terisak. Baru kusadari aku sudah berada di luar gedung rumah sakit. Tidak memperdulikan sekitar, semakin keras saja aku menangis.
"TIN-TINNNN" refleks aku menoleh kearah sumber suara yang memekakkan telinga itu. Belum sempat aku terkejut dengan apa yang kulihat, tubuhku telah terlempar merasakan kerasnya aspal. Rasa sakit bukan main mendera kepalaku. Kedua tangan dan kakiku terasa perih tak tertahankan. Apa yang telah terjadi? Didepanku terlihat sebuah mobil bertuliskan 'AMBULANS' dibagian depannya, dan beberapa orang yang mengerumuniku. Teriakan dan suara berisik di sekitarku, membuatku berpikir bahwa mobil ambulans di depanku itu telah menabrakku. Dan tiba tiba saja, aku tidak bisa mendengar apapun dan pandanganku menghitam.
"aku akan tetap disini sampai kau mau makan" suara datar itu membuatku semakin muak.
"kau tidak lihat ? aku baru saja muntah ! mana bisa aku makan dengan muntahan berceceran seperti itu! " Maki ku pada sasuke, sambil menunjuk OB yang sedang membersihkan muntahanku.
"emm...bisa tolong cepat sedikit, sakura-chan tidak nafsu makan melihat muntahan itu" celoteh pria pirang disampingku. Saat kutolehkan kepalaku padanya, kedua iris safirnya balik menatapku. Kekhawatiran tersirat di raut wajahnya. Tidakkah dia mengkhawatirkan dirinya sendiri. Terakhir kali aku melihat kondisinya sangat mengkhawatirkan , tapi sekarang dia bisa duduk disampingku.
"sebaiknya kau kembali sana ke ruang ICU , apa kau tidak tau kalau wajah pucatmu itu sangat menakutkan . . . " ujarku pada naruto.
"tenang saja aku baik-baik saja, aku ingin menemani sakura-chan disini." Aku hanya terdiam mendengar kata kata naruto. Dengan wajah yang terlalu pucat itu, bagaimana bisa kau bilang kalau dirimu baik baik saja. Kau pasti pasien paling aneh yang pernah ada, naruto. Bahkan kau bisa sadar dari koma hanya karena pertengkaran ku dengan sasuke kemarin. Memangnya seberapa keras teriakan sasuke, hingga membuatmu terbangun.
"sakura, lantai sudah bersih, kau mau makan sekarang?" suara datar sasuke memecah keheningan yang kubuat barusan. Cepat sekali OB tadi menghilang, dan lantai sudah bersih sekarang.
"aku tidak mau." Tolakku dengan ketus.
"kau harus makan." Kenapa suara datarnya itu malah terdengar semakin datar.
"sakura-chan, sudah dua belas jam kau tidak sadarkan diri, apa kau tidak lapar? Kau muntah barusan karena perutmu kosong, ditambah tubuhmu masih shock karena kecelakaan kemarin malam." Tentu saja aku lapar naruto, hanya saja aku tidak mau disuapi sasuke. Apa kau tidak lihat wajah tanpa rasa bersalahnya itu, apa dia terkena amnesia hingga tidak ingat kejadian kemarin malam. Kenapa dia bisa bersikap seolah tidak terjadi apapun.
"ugh..." betapa terkejutnya aku saat menemukan asal suara barusan, darah mengalir dari sela sela jari naruto yang membekap hidungnya.
"naruto . . . hidungmu... berdarah?"
"ukh . . . kenapa harus mimisan disini sih . . ." kedua tangan naruto berusaha menutupi hidungnya, tapi darah terus mengalir dari sana. Dan yang membuatku heran adalah sama sekali tidak ada raut kepanikan di wajahnya.
"maaf sakura-chan, kau pasti tidak nyaman melihat ini, aku ke toilet dulu ya . . ." dia mulai beranjak dari tempatnya.
"biar kutemani." Tiba tiba sasuke menyahut sambil menyambar lengan naruto. Wajahnya yang selalu tanpa ekspresi itu, menampakkan sedikit raut khawatir. Baru kali ini aku melihat perasaan di kedua bola matanya. Beberapa saat lalu ketika aku baru siuman, aku tidak melihat apapun di mata sasuke , kosong seperti biasa. Tidakkah dia khawatir padaku? Khawatir pada kekasihnya ini ? perban dikepalaku ini, gips di lengan kananku ini, tidakkah kau melihatnya? sahabatku naruto, begitu khawatir padaku, sampai ia keluar dari ruang rawatnya hanya untuk melihat keadaanku, tapi kekasihku sasuke sama sekali tidak mengkhawatirkanku.
"kau disini saja teme, temani saku-mmbb!" tiba-tiba naruto langsung membekap erat mulutnya dengan kedua tangannya dan segera berlari keluar.
"uhuukkk – ookkhhh hooeek . . . .ukh uhukk . . . BRUKK.." suara naruto dan debuman keras barusan membuatku khawatir. Sasuke sudah tidak ada ditempatnya.
"Naruto! Astaga...toloong! . . . . suster suster! . . .tolong naruto pingsan!" aku hanya bisa mendengar jerit panik sasuke. Cidera di kaki kananku melarangku untuk keluar dan melihat apa yang terjadi.
"Astaga! Apa yang terjadi pada tuan naruto?"
"aku tidak tahu. . . tadi dia mimisan lalu tiba tiba . . . tiba tiba dia sudah pingsan disini dengan mulut berdarah seperti itu . . ."
"dia harus segera ditangani , kita bawa dia ke UGD." Suara orang orang diluar itu benar benar membuatku ikut panik. Ada apa dengan naruto?
"CKLEK . . ." suara pintu yang dibuka itu menolehkanku, seseorang yang menampakkan diri disana membuatku . . . . bingung harus merasa bagaimana.
"waktunya makan siang." Kata sasuke setelah mendudukan dirinya di kursi sebelah ranjangku.
"tadi pagi kau sudah tidak makan, jadi sekarang kau harus makan." Aku hanya diam tidak menyahutinya. Tidak ada niat untuk menolak kali ini, karena sejujurnya perutku sudah berbunyi terus sejak tadi. Kulahap setiap suapan nasi yang disodorkannya. Hanya suara sendok dan piring berbenturan yang menginterupsi keheningan di ruangan ini. Sampai aku selesai menghabiskan makan siangku dan minum obat pun aku enggan untuk bersuara memecah keheningan.
"sekarang tidurlah, kau membutuhkannya." Sasuke mulai menaikkan selimut ke tubuhku.
"aku tidak mengantuk." Aku menghentikan gerakannya untuk menyelimutiku.
"aku bukan butuh tidur sekarang tapi . . ." aku menggantung kalimatku, aku tidak yakin untuk melanjutkan kalimat tersebut.
"aku butuh penjelasan." Ku coba untuk menatap kedua bola matanya saat aku menyelesaikan ucapanku. Lagi lagi hanya kekosongan yang kudapat.
"kau butuh tidur. Tidurlah . . ."
"sejak kapan kau menyukai naruto?" tanyaku dengan penuh penekanan, membuatnya berhenti melangkah menuju pintu. Dia diam .
"kenapa kau ingin menikahiku?"
". . . . . . ."
"kau harus menjelaskan padaku tentang semua yang kulihat kemarin!"
"kau tidak bodoh sakura. Kau bisa mencerna sendiri apa yang kau lihat kemarin kan . . ."
DEG! Jawaban macam apa itu.
"Jelaskan padaku AYAM!" dia memancing amarahku keluar. Kalau sudah marah kata kataku tidak akan dapat terkontrol lagi.
"mengapa kau tega . . . kau harus menjelaskan, sasuke . . ." mataku memanas, tenggorokanku tercekat.
"perasaanku bukan mainan sasuke, hatiku bukan barang . . .katakan padaku mengapa kau tega padaku?"
"maaf"
apa? Apa katanya? Maaf?
"begitukah caramu meminta maaf ?" mengatakan maaf dengan memunggungiku, yang benar saja.
Sasuke mulai membalikkan tubuhnya. Dan menatap kedua mataku dengan . . . tunggu . . . aku melihat sesuatu dimatanya, tatapannya begitu berbeda kali ini.
"maaf"
". . . ." wajah itu terlalu datar, aku tidak dapat membacanya. Tapi kata maafnya terasa berbeda dengan yang sebelumnya, terasa seperti menyiram semua amarahku, terasa sekali di dadaku. Inilah yang kubenci darinya, kata katanya mampu menembus hatiku.
"jelaskan sasuke . . . kumohon . . . "
"kau belum cukup siap untuk mendengarkanku sakura" jawabnya dengan begitu datar.
Darimana kau tau aku siap atau tidak? Hanya diriku sendiri yang mengetahui tentang diriku. Aku tidak tau harus menjawab apa lagi, agar sasuke mau menjelaskan padaku. Aku hanya menundukkan kepalaku, berhenti membaca bola matanya. Kupandangi tanganku yang terbungkus gips, mendadak aku teringat dengan pernikahanku. Kondisiku saat ini tidak memungkinkanku untuk melaksanakan pernikahan itu.
Semua kekesalanku menguap begitu saja hanya dengan kata katanya, dan sekarang pikiranku malah disibukkan dengan bagaimana pernikahanku nanti yang tinggal tiga hari lagi.
"batalkan pernikahan kita," aku tidak tau mengapa ia terkejut mendengar kalimatku tadi.
"apa maksudmu?"
"batalkan pernikahan kita, masa kau nggak paham kalimat sesederhana itu sih?"
"kenapa?"
"kau buta ya? Aku tidak bisa jalan, kepalaku bocor, tanganku tidak bisa bergerak! aku tidak bisa menikah dengan kondisi begini. " lagi pula niatku untuk menikah dengan sasuke benar benar goyah sekarang, setelah mengetahui dia menyukai naruto.
"kau bisa duduk di kursi roda,"
"hah?!" apa dia gila? Kenapa sepertinya dia begitu ingin menikahiku. Dari awal aku memang tidak mengerti pola pikirnya. Walaupun akulah yang dari awal, merasa paling bahagia atas pernikahan ini, tapi sejujurnya sasuke yang paling antusias dan menginginkan pernikahan ini.
"apa maumu sebenarnya? Kau ingin menikahiku, Tapi kau berbuat seperti ini padaku, apa maksudmu sebenarnya sasuke?" semua yang dilakukannya benar benar membuatku bingung, kalau dia mencintai naruto lalu mengapa dia malah melamarku, jelas pernikahan ini tidak didasari cinta. Lalu apa? Mengapa sasuke melakukan ini padaku?
"jika waktunya telah tiba, kau akan mengetahuinya sakura . . ." terdengar lirih tapi cukup jelas untuk ditangkap pendengaranku. Dia mulai melangkah menjauh dari hadapanku.
"beristirahatlah . . . . jangan pikirkan apapun." Kata sasuke sebelum menutup pintu.
To be Continue . . . .
Author's note :
Terima kasih kepada readers yang telah membaca fict saya ini, dan juga yang telah mereview fict saya. #emang ada yang mau baca? Wkwkwkwwkwk
buat farah , Eysha 'CherryBlossom , .5 makasi udah mau ninggalin jejak review kalian xD
See u next chap . . . xD
Review please . . . .
