Matchmaking
Pair:: MyungYeol and other
Rated:: T
Genre:: Humor and romance
Warn:: BL, Yaoi
Author:: Hiwatari NiwaDark Chullie (Cindy Luffy D' Aozora)
Annyeong~! ^^ I'm back with chap 2~ Thanks buat yang udah review (FFn) dan yang udah RCL (FB) ^^ Thanks a lot, chingudeul… n.n
Enjoy~!
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Sungyeol yang tengah berkutat dengan laptopnya tiba-tiba mengernyitkan keningnya. Ia melirik ke samping laptopnya, buku-buku dan berkas-berkas bertumpukan di sana. Tugas kuliah sangat banyak dan masalah perjodohan itu… Ukhhh~ Jangan dipikirkan lagi.
Sungyeol adalah putra kedua dari keluarga Lee, adik dari Lee Howon dan hyung dari Lee Sungjong. Namja tinggi, manis, tampan, dan cantik sekaligus ini berumur 22 tahun yang tengah kuliah di Infinite University sekaligus menjabat sebagai wakil direkur dengan Hoya sebagai direkturnya di perusahaan milik keluarga Lee yang diturunkan oleh ayah mereka. Oleh karena itulah, Sungyeol merupakan putra tersibuk di keluarga ini, sibuk kuliah, sibuk kerja, dan mungkin sebentar lagi akan sibuk menikah?
Biasanya Hoya mengelola perusahaan dengan bantuan ayahnya, tapi saat ini kedua orang tua mereka tengah berkunjung dan mengurus perusahaan mereka di Jepang. Maka dari itulah, urusan perjodohan ini pun terpaksa harus Hoya yang menyampaikan dan mengurusnya berhubung orang tua mereka sibuk di Jepang.
"Aaarrgghh!" Sungyeol mengguncang-guncang laptopnya dengan kesal hingga membuat kuciran poninya bergoyang-goyang, imut.
"Kau gila, hyung." Ujar seseorang di belakang Sungyeol, tepatnya namja cantik yang tengah duduk manis di kasur milik Sungyeol dengan boneka yang berada di pelukannya.
Sungyeol menoleh dan melirik Sungjong dengan tajam. "Siapa yang mengijinkanmu masuk?" tanyanya dengan nada dingin. Sungjong menaikkan kedua bahunya dengan cuek.
"Aku sudah mengetuk bahkan mendobrak-dobrak pintumu, tapi hyung tidak menyahutku. Yasudah, aku masuk saja. Dan ternyata, kau sedang mendeath glare tugas-tugasmu dan tiba-tiba berteriak seperti itu. Aku terkejut, hyung. Kau seperti kesetanan." Jelas Sungjong panjang lebar dan dengan nada cueknya. Ia mengemut permen tangkai lemonnya.
"Ada masalah apa, hyung? Curhat saja padaku." Tawar Sungjong seraya mengedipkan sebelah matanya. Sungyeol berdecak seraya kembali memandangi laptopnya. Ia menyentuh kuciran poninya, memastikan kuciran imutnya itu tidak berantakan.
"Tidak mau. Kau tidak bisa dipercaya." Jawab Sungyeol singkat. Sungjong menaikkan kedua bahunya lagi. "Yasudah."
Sungyeol menggeleng-gelengkan kepalanya. Terakhir ia curhat tentang dirinya yang dihukum oleh dosennya dan harus membersihkan toilet pria pada Sungjong, esoknya saat teman-teman sekolah Sungjong datang bermain ke rumah dan bertanya padanya, 'Hyung membersihkan toilet, ya? Bagaimana rasanya?'. Ukhh, Sungyeol sangat ingin menjambak rambut indah Sungjong jika saja adiknya itu tidak kabur saat itu. Bahkan appa dan eommanya mengejeknya karena mendengar hal itu dari Sungjong. Padahal Sungjong telah berjanji tidak akan menceritakannya pada siapapun.
Sejak saat itu, Sungyeol tidak pernah mau curhat dengan dongsaengnya itu lagi.
"Hyung, soal perjodohan itu. Bagaimana?" tanya Sungjong. Sungyeol menghentikan ketikannya di laptop. "Aku tidak mau." Jawab Sungyeol singkat yang kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya.
"Tapi hyung, ini sudah rencana appa dan eomma. Kita tidak bisa melawan mereka." Kata Sungjong dengan nada serius.
Sungyeol kembali menghentikan pekerjaannya dan terdiam. Ia kemudian berbalik dan menatap Sungjong, lalu menghela napas berat.
"Hyung tahu, terlebih lagi ini impian mereka. Hyung juga tidak mungkin setega itu menghancurkan impian eomma dan appa yang hampir tercapai. Tapi…" Sungyeol menghela napasnya lagi. "It makes no sense, you know? Ini tidak masuk akal. Namja dengan namja? Aigoo! Apa kata orang-orang nanti?" lanjutnya.
Sungjong menggaruk tengkuknya. "So what, hyung? Peduli mati dengan perkataan orang-orang. Sekepo itukah orang-orang itu hingga mengurus urusan rumah tangga hyung?" ujarnya cuek dengan mulut yang terus mengemut permen lemonnya itu.
Sungyeol cengo mendengar jawaban Sungjong. Hal inilah yang membuat Sungyeol sempat kagum dengan dongsaengnya ini, cuek meskipun hal buruk akan menimpanya. Ia selalu optimis dan lurus menjalankan apa yang tengah ia jalankan, tanpa perduli dengan celoteh buruk dari orang lain mengenai dirinya dan mengoreksi dirinya dari masukan positif orang lain. Tapi tetap saja, Sungjong yang jahil ini selalu membuat Sungyeol kesal. =_=
Sungyeol menghela napasnya dan menundukkan kepalanya.
"Tapi… bukan reaksi orang-orang yang aku khawatirkan, melainkan…" gumam Sungjong. Sungyeol mengangkat kepalanya dan menatap Sungjong yang terlihat serius.
"Apa hyung akan bahagia jika menikah dengan namja itu?" Namja tinggi berambut coklat almond berkucir poni itu tertegun mendengar perkataan Sungjong.
Sungyeol tersenyum tipis.
"Kebahagiaan pribadi bukanlah kepentingan yang utama, itu hanya tergantung bagaimana kau mengatasi masalahmu dan mengontrol kebahagiaanmu. Bagaimana kau bisa menikmati segala sesuatu yang kau dapat hingga menjadikannya sebuah kebahagiaan. Hyung juga harus memperhatikan kebahagiaan appa dan eomma. Hyung tidak bisa egois di sini." Ujarnya dengan senyum yang masih melekat di wajah manisnya.
Sungjong tertegun, ia lalu menarik permen tangkainya dari mulutnya agar bisa berbicara dengan jelas. "Jadi? Hyung setuju dengan perjodohan itu?" tanya Sungjong dengan penuh harap dan antuasias.
Senyum di wajah Sungyeol menghilang seketika. "Tidak." Jawabnya dengan nada dan tatapan datar.
Sungjong mencibir pelan dan memasukkan kembali permen tangkainya ke dalam mulutnya. "Ukh, kata-kata hyung sok baik sampai membicarakan kebahagiaan orang tua. Ujung-ujungnya? Tidak setuju juga." Cibirnya mengejek, lalu melempar sebuah bantal pada hyung tingginya itu.
"Aisshh!" Sungyeol mendesis kesal dan kemudian kembali melempar bantal itu pada Sungjong.
"Haaahh…" Sungjong terdengar menghela napasnya berat. Ia beranjak dari kasur Sungyeol. "Bagaimanapun juga, eomma dan appa pasti akan melakukan apapun agar kau setuju dengan perjodohan itu. Bahkan mungkin mereka akan memohon padamu." Sungjong berjalan menuju pintu kamar itu. "Pikirkan baik-baik, hyung." Ujarnya pelan sebelum akhirnya membuka pintu kamar itu dan keluar dari kamar Sungyeol.
Sungyeol terdiam lalu menghela napasnya. 'Setuju atau tidak setuju, aku pasti harus tetap menerima perjodohan itu.' Pikirnya yang kemudian mengambil kamus yang tebal dan memukulkannya pada kepalanya.
"Aissshh!" Kemudian membanting kamus itu kembali pada tempatnya. "Aku ini tampan, tinggi, kaya, meskipun tidak terlalu pintar, hampir mendekati namja sempurna idaman wanita. Tapi kenapa hidupku malah seperti ini?! Kenapa harus dengan namja? Aisshh!" Ia menghentak-hentakkan kakinya.
"Ahh!" Sungyeol tersentak dan langsung menyentuh poninya yang sedikit berantakan karena pukulan kamus di kepalanya itu. Ia memperbaiki kuciran poninya sambil mangut-mangut. Yeol, sesayang itukah kau dengan kuciran imut ponimu itu? =_=
NB:: *like hairbangs in She's Back MV Japan ver*
~#~#~#~#~#~#~#~ Esoknya~
"Nah!" Hoya menaruh sebuah buku besar di pangkuan Sungyeol. Saat ini mereka berdua tengah duduk santai di ruang keluarga. Urusan perusahaan? Biarkan bawahan mereka yang mengurusnya untuk sementara, saat ini Hoya tengah fokus pada adiknya ini.
Sungyeol mengernyit. "Apa ini?" tanyanya seraya membuka buku itu. Hoya mendudukkan dirinya di samping Sungyeol. "Pilihan tempat resepsi pernikahanmu." Jawabnya dengan tenang seraya menekan tombol remote TV, mengutak-atik semua channel TV.
Sungyeol langsung menutup buku itu dan menghadap ke Hoya. "Sudah kutentukan tempatnya, hyung!" ujarnya dengan mantap. Hoya menoleh dan menatap Sungyeol. "Ehh?" Sungyeol mengangguk dengan serius.
"Dimana?"
"Kuburan." Jawab Sungyeol singkat yang langsung mendapatkan jitakan keras dari Hoya di kepalanya. "Ya! Kau ini!" desis Hoya kesal.
Sungyeol mangut-mangut seraya mengelus kepalanya. "Aishh! Jinjja!" Ia lalu membuka kembali buku itu dan melihat-lihat tempat yang menurutnya bagus dan indah untuk resepsi pernikahannya. Pasrah.
Sungyeol membuka-buka setiap lembaran dengan bosan. Oh ayolah~ Menolak pun ternyata tidak berguna, kedua orang tuanya dan hyungnya ini sangat ngotot, bahkan Sungjong pun mendukung perjodohan ini. Chhh~
"Lama sekali memilihnya." Ujar Hoya dengan bosan. Sungyeol menggembungkan pipinya. "In process. Jangan sampai aku memilih pasar ikan sebagai tempat pernikahan kami gara-gara kau mendesakku untuk cepat, hyung." Jawab Sungyeol asal. Hoya tertawa kecil seraya meninju pelan lengan Sungyeol, lalu kembali berkutat dengan remote TV.
Cukup lama Sungyeol membolak-balikkan lembaran buku itu.
"Ini saja, hyung. Di taman besar ini. Akan terasa sangat tenang dan sejuk kalau resepsinya di tempat yang banyak bunga-bunga seperti ini." Ujar Sungyeol seraya menunjukkan gambar sebuah taman yang luas. Hoya mengangguk.
"Kita juga harus menanyakan pendapat Myungsoo." Ujar Hoya seraya mengutak-atik ponselnya dan menelepon seseorang.
Sungyeol memutar matanya dengan bosan. "Myungsoo. Namja setengah mayat itu." Gumamnya dengan nada bosan dan kesalnya.
.
.
"Yeobboseyo? Hoya-ya, bagaimana?" tanya Sunggyu dengan ponsel yang menempel di telingannya. Di sampingnya terlihat Myungsoo tengah membolak-balik buku gambar-gambar tempat resepsi pernikahan dengan bosan.
"Eh? Taman luas?" tanya Sunggyu yang kemudian melirik Myungsoo yang terlihat tidak perduli.
"Tapi Myungsoo ingin di daerah luas di dekat danau." Ujar Sunggyu lagi seraya menggaruk kepalanya. "Kalau begitu, coba berikan hpmu pada Sungyeol." Timpalnya.
Myungsoo menutup buku itu dan memandangi hyungnya yang tengah berkutat dengan ponselnya.
"Sungyeol-ah, kau ingin di taman?" tanya Sunggyu. Myungsoo mengernyit, ia lalu menegakkan badannya dan mengamati Sunggyu dengan serius. "Tapi Myungsoo ingin di tempat yang dekat dengan danau." Ujar Sunggyu yang terlihat menyahut Sungyeol.
"Ungg, bagaimana ya…" Sunggyu tampak berpikir dan mengambil buku gambar tempat resepsi itu.
Myungsoo menghela napas kemudian merebut ponsel Sunggyu. "Ya! Sudah diputuskan, resepsinya di daerah dekat danau!" ujar Myungsoo menyahut Sungyeol yang ada di seberang panggilan.
"Tidak mau! Kenapa tidak di taman saja? 'Kan lebih tenang." Sahut Sungyeol. Myungsoo mendesis kesal. "Dekat daerah perairan lebih tenang!" jawab Myunsoo.
"Tidak mau! Bagaimana kalau ada orang yang hanyut terbawa air danau?"
"Kau kira ini acara apa? Berenang? Ini resepsi pernikahan, bukan menyelam! Dan kau kira danau akan tsunami apa?!" ujar Myungsoo dengan kesal.
"Yasudah! Kalau begitu kenapa kita tidak menikah di bawah air saja, eoh?! Aisshh! Jinjja!" sahut Sungyeol dengan kesal.
"Eoh! Kenapa kita tidak sekalian menikah di dalam semak-semak saja, hah?!" balas Myungsoo dengan kesal juga. "Heeiisshh!" Myungsoo memutuskan panggilannya dan membanting ponsel milik Sunggyu ke sampingnya, untung saja itu di sofa empuk.
Ia menggeram kesal dan mengusap rambutnya dengan kesal, menyandarkan badannya ke sandaran sofa. "Myungsoo-ya, kenapa tidak menurutinya saja?" tanya Sunggyu. Myungsoo berdecak pelan. "Shirreo! Kenapa tidak dia saja yang menurutiku?" Sunggyu menghela napasnya.
"Aissh! Tidak bisakah perjodohan ini dibatalkan saja? Ini gila, hyung!" desis Myungsoo dengan kesal.
"Woaahh~! Jadi ceritanya Kim Myungsoo dijodohkan, nih? Makanya, Myung… Jangan jomblo terus, akhirnya dijodohin 'kan, tuh." Ujar seorang namja yang tengah berjalan dan duduk di sofa single dengan segelas air mineral di tangannya.
Myungsoo menatap namja itu dengan tatapan tajam. "Diam kau! Untuk apa sih kau datang ke sini? Menganggu saja, pulang sana!" Myungsoo melempar sebuah bantal sofa ke arah namja itu. Namja bernama Woohyun itu menjauhkan gelasnya agar isinnya tidak tumpah saat Myungsoo melempar bantal ke arahnya. Ia lalu melempar kembali bantal sofa itu pada Myungsoo yang ditangkap sempurna oleh adik Sunggyu itu.
"Aku ini calon abang iparmu, jadi wajar dong datang ke sini untuk mengunjungi calon istriku." Jawab Woohyun dengan santai seraya meneguk air minumnya.
"Sejak kapan aku merestuimu?" Woohyun tersedak mendengar penuturan datar dari Myungsoo.
"Namja ribut sepertimu ini harus melangkahi mayatku dulu jika ingin memiliki hyungku." Ujar Myungsoo dengan cuek seraya beranjak dari sana. "Ya! Aissh! Tinggal merestui saja apa sulitnya, sih?" seru Woohyun yang tidak disahuti oleh Myungsoo yang telah beranjak menjauh.
"Aku ada jam kuliah sebentar lagi, jangan coba macam-macam pada hyungku selama aku tidak ada di rumah." Kata Myungsoo yang telah berjalan menaiki tangga. Woohyun mangut-mangut menyahuti Myungsoo.
Sunggyu menghela napasnya. Masalah pernikahan dongsaengnya sungguh membuatnya lelah. Dan Woohyun, kekasihnya ini bukannya datang membantu, malah menggoda Myungsoo. Woohyun dan Myungsoo seperti Tom and Jerry.
Meskipun appa dan eomma Sunggyu telah merestui Woohyun, tapi tidak dengan Myungsoo yang masih menganggap asing Woohyun. Walaupun sebenarnya Myungsoo itu tidak serius dengan perkatannya yang mengatakan kalau ia tidak menyetujui Woohyun, ia hanya bermain-main dengan Woohyun, tapi tetap saja Myungsoo masih merasa risih dengan dua namja yang saling menjalin hubungan dan… adiknya ini sedikit overprotektif.
"Ohh, sudahlah… Dia itu sudah dewasa, ia bisa mengurus hidupnya sendiri, ia tahu mana yang harus ia pilih. Kau tidak usah sekhawatir itu." Ujar Woohyun saat melihat wajah Sunggyu yang tampak kusut. Ia meletakkan gelasnya di meja dan memeluk bantal sofa.
Sunggyu menatap Woohyun seraya tersenyum. "Terkadang ucapanmu itu berguna juga ya, Nam Woohyun."
Woohyun merubah raut wajahnya menjadi kusut. "Memangnya selama ini perkataanku tidak berguna? Jadi? Rayuan-rayuanku untukmu juga tidak berguna bagimu?" Terlihat Woohyun mulai memasang tampang memelasnya. Sunggyu mangut-mangut seraya menaikkan kedua bahunya dan beranjak meninggalkan Woohyun di ruang keluarga.
"Haaah! Gyuuu~!" Ohhh, tampaknya uri Namu sedang sakit hati.
( ._.`) #pukpukNamu
.
.
.
"Haihh!" Sungyeol mendengus saat lembaran-lembaran kertas tugasnya berjatuhan saat ia berusaha memperbaiki posisi buku di tangannya. Ia lalu segera jongkok dan memunguti kertas-kertas tugasnya sebelum ada mahasiswa ataupun mahasiswi yang menginjaknya, lalu kembali berjalan menyusuri koridor kampus dengan tumpukkan buku-buku yang tingginya hampir mencapai dagunya. Buku-buku itu harus ia kembalikan ke perpustakaan setelah ia pinjam untuk mengerjakan tugas-tugasnya. "Ukhh! Berat." Gumamnya dengan badan yang sedikit terhuyung.
Bruuk!
Sungyeol tersentak pelan saat salah satu bukunya terjatuh dengan suara yang cukup keras. Beberapa mahasiswa melihat ke arahnya. Sungyeol menundukkan kepalanya, meminta maaf karena suara bukunya yang cukup keras dan mengganggu itu.
Dengan bersusah payah karena keberatan, namja tinggi itu berjongkok dan memunguti bukunya. Dan dengan sedikit terhuyung, ia berusaha untuk berdiri. Benar-benar berat.
Saat ia telah berhasil berdiri dan merapikan letak buku-buku itu di tangannya, ia hendak melanjutkan jalannya. Baru berpindah satu langkah, namja itu kembali melangkah kebelakang karena tersentak kaget saat melihat sesuatu di depannya.
BRUAAKKK!
Alhasil, semua buku-buku yang tengah ia pegang pun berjatuhan dan berserakan di lantai. Suara buku-buku itu kali ini lebih keras dan mengundang perhatian yang banyak dari orang-orang di sekitarnya. Sungyeol kini tidak memperdulikan padangan orang-orang, yang ia pikirkan saat ini…
"Myungsoo…" gumam Sungyeol. Myungsoo yang berdiri tidak terlalu jauh juga tampak terkejut melihat Sungyeol. Sungyeol masih dalam keadaan shocknya.
'Kenapa namja setengah mayat itu ada di sini?!"
~TBC~
Finally~! Agak susah juga nyari plot yang cocok untuk chapter ini, karena emang ff ini out of plan(?) di luar rencana. Maaf kalau nggak terlalu bagus dan typo ^^ *bow*
Don't forget to Review (FFn) dan RCL (FB), please~? ^^
Thanks~ *bow* m(_ _)m
