Matchmaking
Pair:: MyungYeol and other
Rated:: T
Genre:: Humor and romance
Warn:: BL, Yaoi
Author:: Hiwatari NiwaDark Chullie (Cindy Luffy D' Aozora)
Annyeong~ ^^ Maaf yang chap 3 nya lama, lagi gak dapet inspirasi =_= Mohon maklum XD Sekali lagi, makasih buat readers yang udah mau baca ff ini ^^ Thanks a lot juga buat comment-comment dan review dari readers :D
Enjoy~!
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
"Myungsoo…" gumam Sungyeol. Myungsoo yang berdiri tidak terlalu jauh juga tampak terkejut melihat Sungyeol. Sungyeol masih dalam keadaan shocknya.
'Kenapa namja setengah mayat itu ada di sini?!"
"O-oi! Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Sungyeol, memandang tidak suka ke arah Myungsoo. Myungsoo memicingkan matanya pada namja tinggi yang berada tidak jauh di depannya. "Mwo? Memangnya kenapa kalau aku ada di sini? Masalah? Sebentar lagi aku akan resmi menjadi mahasiswa di sini, kok." Jawab Myungsoo.
Sungyeol mengernyitkan keningnya, ia menolehkan kepalanya ke samping dengan tampang berpikir. "Umm… Hari ini tanggal 24… Um, hari apa ya… Eh? Oh! Hari ini penerimaan mahasiswa baru?!" Myungsoo memasang tampang malas dan bosannya melihat reaksi lambat Sungyeol. 'Dasar, namja ribut.'
"Berarti kau akan menjadi juniorku! Kyahahahahaha! Panggil aku senior, kalau begitu!" Sungyeol terkikik puas melihat ekspresi kesal Myungsoo. Ia kemudian berjongkok dan mulai memunguti buku-bukunya yang bertebaran di atas keramik dingin koridor ini.
"Cih! Inikah alasannya kenapa hyung sipit itu memaksaku masuk ke universitas ini?" gumam Myungsoo dengan nada sarkastiknya.
"Kalau aku tahu kau ada di universitas ini, aku tak akan pernah mau menjadi mahasiswa di sini!" ujarnya namja tampan itu dengan tampang dinginnya yang kemudian berjalan berlalu dari tempatnya, melewati Sungyeol yang tengah sibuk memunguti buku-bukunya.
"Ya! Ya! Bantu seniormu ini!" seru Sungyeol. Myungsoo menghentikan langkahnya lalu berbalik dan berhenti tepat di samping Sungyeol. Namja tinggi nan manis yang tengah berjongkok itu menengadahkan kepalanya, menatap Myungsoo yang juga tengah menatapnya. Myungsoo mencibirkan bibirnya lalu menyentil kening mulus namja manis itu
Sungyeol berkedip kaget menerima perlakuan Myungsoo.
"YAAA!" seru Sungyeol dengan kesal pada Myungsoo yang berlalu dengan santainya, tidak memperdulikan omelan yang disemburkan oleh Sungyeol untuknya.
"!^ *^%$*#$#! ^?%^$#!" Sungyeol mengomel dengan tidak jelas dengan kepala yang terasa mulai mengeluarkan asap. Ingin rasanya ia melempar kamus Bahasa Koreanya yang tebal ini tepat di kepala Myungsoo. Biarkan! Entah kepalanya benjol, berdarah, pecah, terserah! Ia tidak peduli pada namja dingin itu.
Sedangkan Myungsoo, namja tampan itu berjalan dengan gaya dan tampang coolnya tanpa memperdulikan tatapan mahasiswa-mahasiswi yang memandangnya dengan bingung sekaligus kagum dengan karismanya menguar melelehkan hati yeoja maupun namja. Oke, terlalu pede mungkin, tapi itulah faktanya.
"Aissshh!" Sungyeol menghentak-hentakkan kaki panjangnya ke lantai, meluapkan kekesalannya pada namja dingin yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
.
.
.
"Yeollie hyung~" panggil Sungjong dari balik pintu kamar Sungyeol, namja cantik itu tengah memegang sebatang coklat yang telah ia gigit sebagian. "What?" sahut Sungyeol dengan malas. Jika Sungjong memanggilnya dengan nada manja yang menurutnya aneh itu, maka itu artinya ada sesuatu yang ia inginkan. Sungyeol hapal dengan kelakuan adiknya itu.
"Hoya hyung menyuruhmu segera berganti baju, sebentar lagi kita akan pergi." Ujar Sungjong, masih dengan kepala yang menyembul di balik pintu kamar milik hyungnya. Sungyeol yang mendengar penuturan Sungjong dengan segera membangkitkan dirinya dari kasur dan duduk dengan boneka bebek yang ada di pelukannya.
"Sekarang sudah jam 7 malam, memangnya mau ke mana? Rapat, kah?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya bukan rapat, karena aku juga diajak. Ia hanya menyuruhku dan hyung untuk segera berganti baju biasa."
Sungyeol mengernyitkan keningnya. 'Pasti urusan jodoh itu.' Pikirnya.
"Shirreo! Kau saja yang pergi dengan Hoya hyung." Namja manis itu kembali membaringkan dirinya di kasurnya yang empuk, dan kembali fokus memainkan ponselnya.
"Eh? Tapi Hoya hyung bilang kalau kau tidak mau pergi, maka kartu kreditmu akan diblokir, dan mobilmu akan disita." Ujar Sungjong seraya menggigit coklatnya.
Sungyeol membelalakkan matanya dan langsung kembali mendudukkan dirinya. "Yeeehh? Kartu kredit dan mobil disita? Lalu aku naik apa ke kantor dan kampus? Skuter? Gerobak? Terbang? Merangkak? Aigoo! Teganya hyung! Arrgghh!" Namja manis itu menjeduk-jedukkan kepalanya ke boneka bebeknya.
Sungjong melangkah masuk ke dalam kamar hyungnya dan berdiri di depan pintu. Ia berdecak kecil. "Aisshh~ Kau sedang gila, hyung? Perlukah aku menfotomu dan menyebarkannya di twitter? Dan membiarkan teman-temanku melihat dirimu yang gila ini sedang menjedukkan kepalanya ke boneka bebeknya?" tanya si bungsu Lee dengan nada santainya seraya mengunyah coklatnya.
Sungyeol menggembungkan pipinya dan melempar bonekanya ke arah Sungjong. "Arrayo! Tunggu di luar! Aku akan berganti pakaian." Masih dengan menggembungkan pipinya yang chubby itu, namja manis berpostur tinggi, langsing, dan anggun itu beranjak dari kasurnya. Memilah-milah baju seadanya dan memakainya, menggantikan piyama bercorak polkadot dengan kaus putih berlengan panjang yang sedikit terlihat lebar ditubuhnya dan celana panjang hitamnya.
Ia menyisir rambut coklat almondnya dan menepuk kecil pipinya. "Aigoo! Kau tampan! Dan juga manis~" Ia tersenyum sendiri ke arah cermin yang ada di depannya ini. "Tapi sayang, nasibmu malang harus menikah dengan namja setengah mayat itu. Kasihan sekali, Lee Sungyeol. Ck! Ck!" Mimik wajahnya seketika berubah menjadi kusut. Ia mendengus kesal sebelum akhirnya mengambil ponselnya dan beranjak dari kamarnya.
.
.
"Kita mau ke mana, hyung?" tanya Sungyeol yang duduk di samping Hoya yang tengah mengemudi. "Hm?" Hoya tengah fokus pada setirnya.
"Pasti bertemu dengan temanmu dan namja mayat itu, 'kan?" tebak Sungyeol. Sungjong yang tadinya tengah asik merapikan rambut hitamnya dengan segera memindah posisi duduknya ke tengah dan memajukan tubuhnya, mendekatkan dirinya pada kedua hyungnya yang duduk di jok depan.
"Eh? Kita akan bertemu dengan abang ipar?! Woaahh! Daebakk! Dia pasti sangat tampan seperti yang Hoya hyung katakan. Kau pasti senang memiliki suami sepertinya, dan aku akan bangga memiliki abang ipar sepertinya." Cerocos Sungjong dengan wajah sumringah.
Sungyeol memutar kedua bola matanya seraya mendengus.
"Senang apanya? Sampai kau berortot dan berABS, sampai Hoya hyung menarikan tarian seksi yeoja, sampai sahabat dekat Hoya hyung, si Dongwoo hyung berhenti cekikikan tidak jelas, sampai mata Sunggyu hyung -teman Hoya hyung itu sebesar matamu, sampai dunia berbentuk lambang Infinite pun aku tak akan pernah senang menikah dengannya! Kau bangga punya abang ipar sepertinya? Aku bangga punya adik sepertimu yang senang melihat hyungnya menderita." Oceh Sungyeol dengan sekali tarikan napas.
Sungjong menatap Sungyeol dengan tampang cengo, sedangkan Hoya tidak bisa menahan tawanya saat mendengar ocehan Sungyeol. Ya, semua yang Sungyeol katakan itu tidak mungkin terjadi. Mungkinkah Sungjong akan berotot seperti dirinya? Ohoho! Akankah Dongwoo berhenti cekikikkan dan menjadi pria cool? Ohohohoho! No! No! Akankah mata Sunggyu bisa besar dan bulat seperti mata Sungjong? Ohohohohohoho! Big NO! #digebukin
"Ck! Tidak pernahkah hyung mendengar pepatah yang mengatakan bahwa cinta dan benci itu dibatasi oleh lapisan yang hanya setipis awan? Yang dimana kau tertiup angin, maka kau akan terhempas dari yang namanya benci, menembus batas setipis awan itu, dan mendarat di tempat yang namanya cinta? Aku yakin kalau hyung dan namja bernama Myungsoo itu akan cocok."
Sungyeol merasa kupingnya akan segera keluar asap. Sedangkan Hoya kembali tertawa kecil mendengar dukungan dari adik bungsunya.
Sungjong menarik napasnya dalam-dalam dan siap kembali menyembur Sungyeol dengan ocehan-ocehannya.
"Hyung aku akui kau errrr-manis, dan aku yakin calon abang iparku itu tampan, kalian cocok! Kata pepatah juga, jodoh sejati sama dengan cinta sejati. Maka, kalau itu memang sudah jodohmu, maka apapun perasaanmu padanya, pada akhirnya juga akan tetap mencintainya hingga akhir hayatmu. Itu yang namanya jodoh sejati. Hyung dan Myungs-" Ocehan Sungjong terhenti saat Sungyeol dengan segera membuka permen tangkai rasa lemon dan menyumpal mulut Sungjong yang tengah mengoceh dengan permen kesukaan adiknya itu.
"Kau sangat berisik." Desis Sungyeol dengan wajah yang terlihat kusut. Ia mengerucutkan bibirnya dan menatap kesal ke arah jalanan yang terlihat di depannya. Ohh~ Hoya akan kehilangan kendali stir mobilnya jika ia melihat pout imut adiknya ini. XD
"Apakah Myungsoo benar-benar tampan seperti yang hyung katakan?" tanya Sungjong pada Hoya. Hoya menunjukkan senyum manisnya seraya mengangguk.
Sungyeol menoleh pada Sungjong dengan malas. "Myungsoo itu JE-LEK!" ujarnya. "Tampan." timpal Hoya.
"Jelek!" lawan Sungyeol dengan bibir yang mulai mengerucut lagi.
"Tam-pan~" Hoya menekankan kata tampan dengan senyum jahil yang mengembang di wajahnya.
Sungyeol hendak menyahut Hoya, namun terhenti saat ia merasa mobil yang mereka naiki kini telah berhenti tepat di depan sebuah bagunan yang cukup besar.
"Ehhh? Kenapa kita di sini?!" Namja manis itu membelalakkan matanya saat melihat beberapa foto besar dan baju pengantin yang terpajang di balik kaca bening gedung tersebut.
"Tentu saja untuk memilih dan mencoba pakaian pengantin kalian." Jawab Hoya dengan senyum manisnya yang seperti biasa. Ia lalu turun dari mobil dan membuka pintu Sungyeol, menyeret adiknya yang pastinya tidak mau masuk ke dalam gedung tersebut.
Sungjong memasukkan dan mengemut permennya seraya menarik baju Sungyeol dengan ibu jari dan jari telunjuknya, membantu Hoya untuk menyeret Sungyeol.
Sungyeol menggembungkan pipinya dengan kesal saat ia telah berhasil masuk ke dalam gedung tersebut dan melihat Myungsoo yang tengah duduk di samping hyungnya dan errr- seorang namja lain.
"Sunggyu hyung." Panggil Hoya seraya berjalan mendekati tiga namja yang tengah duduk membelakangnya. Ketiga namja yang mendengar panggilan seseorang pun langsung berdiri dan menoleh. Sunggyu tersenyum lebar saat melihat Hoya, Sungyeol dan Sungjong berjalan mendekatinya.
"Hoya-ya, Sungyeollie, dan… pasti Sungjong, kan?" tanya Sunggyu masih dengan senyum lebarnya, menjadikan matanya terlihat segaris melengkung. Sungjong menatap Sunggyu dengan tatapan bingungnya. "Ah, Sunggyu imnida, hyungnya Myungsoo dan juga sahabat kecil hyungmu, Hoya. Terakhir aku bertemu dengan kalian, kau masih ada di kandungan ibumu." Sungjong mengangguk mengerti dan menyambut uluran tangan Sunggyu seraya menunjukkan senyuman lebarnya. "Lee Sungjong, adik bungsu hyungdeulku." Sunggyu tertawa kecil mendengar perkenalannya Sungjong terdengar singkat, padat, dan jelas.
"Eo? Ini calon istr-eh suamimu, Myung? Ahaha, dia manis sekali, kau beruntung, Myung." Ujar Woohyun jahil seraya berjalan mendekati Sungyeol. Namun, gerakan namja penuh cengiran kucing itu terhenti saat Sunggyu menarik kerah belakang bajunya dan melemparnya ke tempat awalnya, menjauhi Sungyeol.
Woohyun mengangguk kikuk dan tersenyum kecut saat ia melihat tatapan 'jleb' dari kekasihnya. Padahal niatnya tadi hanya ingin menggoda Myungsoo, tapi malah ia sendiri yang kena dampat oleh kekasihnya. "Mati kau, Nam Woohyun." Bisik Myungsoo dengan nada mengejek pada Woohyun yang berdiri di sampingnya. Woohyun memicingkan matanya dan mendecih pelan pada Myungsoo. =_= Poor you, Namu.
Hoya terkikik kecil melihat kelakuan dua sahabat lamanya yang terlihat sangat erat itu. "Apa kau sudah memilih mana yang bagus?" tanyanya. Sunggyu mengangguk, "Aku memesan beberapa pasang pakaian semalam, tinggal memilih mana yang cocok untuk mereka."
Sungyeol menghela napasnya. Ia melirik Myungsoo dengan sudut matanya. Ia rasanya muak melihat tampang namja yang sok cool itu. Myungsoo yang merasa tengah dipadangipun langsung mencari si pengamat dan tidak sengaja bertemu tatap dengan Sungyeol. Ia juga memicingkan matanya setajam mungkin pada namja tinggi itu.
Sungyeol mencibir kesal pada Myungsoo, sedangkan namja tampan itu sebisa mungkin mengembalikan tampang coolnya, tidak ingin memperdulikan namja manis di depannya itu. Sungyeol membuang mukanya dengan kesal. Bibirnya yang semula dipoutkan tiba-tiba berubah menganga. Matanya melebar saat melihat apa yang dibawakan oleh salah seorang pekerja.
"Gaun?!" tanya Sungyeol. Ia menatap Sunggyu dengan tatapan bertanya. "Cobalah." Namja bermata sipit itu malah tersenyum manis dan merangkul bahu Sungyeol untuk mendekati gaun itu dan mengambilnya.
"Ehhh?! Ma-maksud hyung, aku pakai gaun? Aku ini pria, PRIA, NAM-JA! Pakai jas, hyung! Dasi, celana, dan sepatu. Bukan pakai gaun." Ujarnya dengan cepat, rasanya ia ingin nangis sekarang juga, mewek dibawah kaki hyungnya dan memohon agar membatalkan perjodohan gila ini.
Tiba-tiba dari arah kiri, Woohyun juga merangkul bahu Sungyeol dan mengambil gaun berwarna putih dengan warna hita di bagian bawahnya -two-tone dress dari pekerja itu.
"Kurasa gaun ini cocok untukmu. Ditambah dengan sepatu hak tinggi berwarna putih, rambut gelombang, eye-liner tipis, lipstick merah, dan sebuket bunga mawar di tangan. Bingo! Princess Yeol siap untuk mendampingi Prince Myung!" ujar Woohyun seraya menyerahkan gaun itu pada Sungyeol.
Sungyeol masih dalam keadaan cengo, dengan dua namja yang tengah merangkul bahunya dan terus menyeretnya masuk ke kamar pas. Hoya dan Sungjong terlihat cekikikkan melihat Sungyeol yang terlihat tidak bisa melakukan perlawanan.
"Nah! Kau juga harus mencoba pakaian pengantinmu, Myung." Ujar Hoya seraya mendekati Myungsoo yang terlihat senang melihat Sungyeol yang menderita dengan gaun pengantin itu. Myungsoo menoleh pada Hoya dan Sungjong yang berada di belakang hyungnya.
"Aku tidak akan memakai gaun seperti Sungyeol, 'kan?" tanya Myungsoo was-was. Para hyungdeul ini bisa saja melakukan hal gila, bukan? Bisa saja mereka merencanakan sesuatu dan menyuruh mereka berdua sama-sama memakai gaun.
"Tentu saja tidak, kau akan pakai jas." Hoya mengambil satu stel tuxedo dengan kemeja hitam, dasi putih, jas putih, dan celana putih. Ia lalu mendorong Myungsoo untuk masuk ke dalam kamar pas yang… Eh? Sama dengan Sungyeol?
"Ehhh? Kenapa kau membawanya ke sini, hyung?" tanya Sungyeol pada Hoya yang mendorong Myungsoo memasuki ruangan kamar pas yang sama. Intinya, mereka berada di satu kamar pas. "Cepat ganti! Kami ingin segera melihat kalian berganti~!" Sunggyu dengan segera menarik tirai penutup dan menyeretnya ke samping, membiarkan Myungsoo dan Sungyeol berganti di dalam.
"Aahhhh! Kenapa harus satu kamar, hyuuungggg?!" Sungyeol berteriak tidak suka dari arah dalam dan berusaha untuk keluar.
Sungjong dengan segera mendorong kepala Sungyeol yang hendak keluar dari kamar pas itu. "YA! Lee Sungjong! Tidak sopan!" Sungyeol dan Myungsoo tidak dapat keluar dari kamar pas tersebut karena kedua sisi kain penutup tersebut ditahan oleh Woohyun dan Sunggyu.
Sungjong terkikik geli. "Cepatlah berganti, hyung~" Sepertinya ia tidak merasa bersalah sama sekali pada hyung keduanya itu. =_=
"Hyung! Apa-apaan sih? Aku bisa menggunakan kamar sebelah, 'kan? Kenapa harus satu kamar dengan namja ribut ini? Aku tidak bisa berganti pakaian dengan tenang jika dia ada di sini. Bagaimana kalau namja ini melirik tubuhku? Ototku? Absku? Eoh? Aku tidak rel-AWWH!"
Terdengar suara jitakan keras dari kamar tersebut. "Ya! Siapa yang kau maksud melirik tubuhmu? Otot, hah?! Abs? Aku ingin lihat absmu, apakah bentuknya segitiga, bulat, kubus, atau segi lima! Memangnya tubuhmu sebagus apa, hah?! Kau-! Aisshh! Jinjja!" seru Sungyeol dengan kesal. Ia benar-benar merasa ingin meledak sekarang juga.
Sepertinya mereka lupa keinginan mereka untuk keluar dari kamar pas itu karena pertengkaran yang memanas.
"Tuh, 'kan! Dia ingin lihat absku! Aku tidak rela abs hotku ini dilihat olehnya! Biarkan aku berganti di kamar sebelah."
"YAA! Siapa yang ingin lihat absmu?! Pergilah! Pindah ke kamar sebelah! Aku tidak sudi berganti dalam satu kamar denganmu. Kau mengerikan, mirip zombie."
"Yeeeehh? Zombie? Namja tampan ini kau sebut zombie? Apa perlu aku mencolok kedua matamu agar kau dapat melihat wajahku dengan jelas?"
"Ahhh! Tidak! Pergi kau! Pindah ke kamar sebelah!"
"Aku juga ingin pindah kalau aku bisa!"
Sunggyu, Hoya, Sungjong dan Woohyun menggeleng-geleng pusing mendengar pertengkaran mereka. "Cepatlah beganti, atau kalian berdua akan sama-sama memakai gaun." Seru Hoya dari luar.
"Bagus! Biarkan kami memakai gaun bersama-sama! Aku tidak rela dia memakai tuxedo sedangkan aku pakai gaun, hyung!" jawab Sungyeol dari arah dalam. Hoya cengo mendengar jawaban dongsaengnya yang keras kepala itu.
Sedangkan Woohyun, ia terlihat tertawa terbahak-bahak saat mendengar dan membayangkan Myungsoo yang juga memakai gaun. Mungkin saja dunia akan segera kiamat.
"Bwahahaha! Bagus! Bagus! Aku setuju dengan Sungyeol!" Dan sedetik kemudian, namja tampan itu mendapatkan cubitan di pinggangnya.
"Kalau begitu, kau juga akan memakai gaun di saat resepsi kita." Woohyun langsung terdiam mendengar bisikan dari kekasihnya yang cantik dan manis namun galak itu. -_- Poor again.
"Mworago! Ani! Cukup kau saja yang pakai gaun. Cepat ganti pakaianmu." Ujar Myungsoo yang mendekat ke arah Sungyeol. Sedangkan Sungyeol memundurkan langkahnya.
"Shirreo! Kau saja yang pakai gaun ini. Kau kira menyenangkan apa memakai gaun yang panjangnya seperti bedcover ini? Eh? Y-ya! Apa yang ingin kau lakukan?! Ya! Menjauh!" seru Sungyeol.
"Diamlah!"
"Ya! Aku tidak mauuu! Hentikan! Apaan kau ini, eoh?! Ya!"
Keempat namja yang tengah menunggu di depan kamar pas hanya terdiam dan cengo mendengar suasana ricuh dari kamar pas itu. =_= Sepertinya mereka berdua tengah perang di dalam.
"YA! Lepaskan! Akkhh! Sakit, babo!" Dan kemudian terdengar suara jitakan lagi. -_-
"Diam sebentar!"
"YAA! Sakitt! Pelan-pelan kenapa! Ahhh! Duh!"
"Ehgumonina!" gumam Hoya seraya menutup kedua telinya dan mengedipkan mata bulat polosnya. "Apa yang mereka lakukan?" tanya Woohyun. Sunggyu menaikkan kedua bahunya. Ia juga bingung dengan keadaan di dalam sana. "Buka saja tirainya." Bisik Woohyun.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Sungjong seraya mengemut permen lemonnya.
SREEET!
Sungjong segera mencabut permennya dari mulutnya, Hoya menjauhkan tangannya dari telinganya, sedangkan WoogGyu hanya memasang tampang cengo sekaligus malas.
"Apa yang kalian lakukan, eoh?" tanya Sunggyu dengan malas melihat kedua namja yang terlihat seperti orang bodoh di dalam kamar pas itu.
Sungyeol yang merapat dan menghadap ke dinding dengan tangan kanannya yang tengah menjambak rambut Myungsoo yang ada di belakangnya. Sedangkan Myungsoo, tangannya terlihat berusaha menaikkan resleting yang ada di belakang gaun Sungyeol, tentunya dengan wajah tampannya yang tengah menahan sakit di kepalanya. Ia terlihat sangat merapat di punggung Sungyeol karena rambutnya yang ditarik kasar oleh Sungyeol. Terlihat Myungsoo yang telah rapi dengan setelan tuxedonya. Intinya, Myungsoo terlihat memeluk Sungyeol dari belakang. Seperti itulah deskripsi posisi mereka.
"Aisshh! Jangan jambak rambutku! Lepaskan!" perintah Myungsoo. "Shirreo! Kau turunkan dulu resletingnya! Itu menjepit daging punggungku! Aahhwuhuhuhuw." Sungyeol mulai mewek karena sakit di punggungnya.
"Iya, ini sedang kucoba! Saat kuturunkan, kau menjerit. Kalau aku naikkan, kau menjerit juga. Aissh! Kau merepotkan." Ujar Myungsoo yang berusaha tenang, masih dengan rambut indahnya yang dijambak oleh Sungyeol.
"Oi! Ini juga gara-gara kau yang memaksa memakaikan gaun ini padaku. Aihh! Appo~!" Sunggyu terlihat ingin membantu Myungsoo dan Sungyeol, namun ia mengurungkan niatnya saat berpikir bahwa itu hanya akan membuat Sungyeol semakin kesakitan.
"Kau kegendutan untuk ukuran gaun ini." Ujar Myungsoo. Sungyeol mempoutkan bibirnya. "Bukan karena tidak muat dengan gaun ini, kau saja yang kasar saat menaikkan resletingnya." Jawab Sungyeol, masih dengan wajah kesalnya.
"Pelan-pelanlah, Myung-ah." Ujar Sunggyu memandu dongsaengnya. Myungsoo mengangguk. Ia terlihat berpikir seraya memandangi wajah Sungyeol yang terlihat lumayan dekat dengan wajahnya. Ia memikirkan cara untuk melepaskan resleting ini dengan tidak menyakiti Sungyeol.
'Err… Tidak. Aku tidak bisa menggunakan cara itu. Tidak ada cara lain, kah?' pikir Myungsoo. Ia terus memandangi wajah Sungyeol yang menurutnya lumayan manis.
"Aisssh…" desis Sungyeol seraya menjambak rambut Myungsoo dengan semakin kencang saat ia merasa punggungnya semakin sakit. Desisan dan jambakan Sungyeol membuat Myungsoo tersadar dari lamunannya. Jambakkan Sungyeol dirambutnya yang terasa sangat kuat itu seolah ingin membuat namja tampan itu botak seketika =_=.
Myungsoo merasa tidak dapat memikirkan cara lain lagi saat ia merasa rambutnya akan hilang setengah setelah ia pulang dan berkaca nanti, Sungyeol menarik rambutnya semakin kuat. Namja tampan itu akhirnya memilih memakai cara yang sempat melintas di otaknya tadi. Cara yang mungkin akan terlihat bodoh, sih… Tapi, mau bagaimana lagi?
Myungsoo dengan perlahan meraih dagu Sungyeol dan menghadapkan wajah namja manis itu ke wajah tampannya, dan mendekatkan wajah mereka hingga tak berjarak…
Chuu~!
Sreeet!
~TBC~
Ohhhh~ Mohon jangan bunuh author jika tiba-tiba ada kata TBC di saat-saat klimaks seperti ini.. XD Karena itu memang hobi author XD Kekekeke *plaakk* *dilempar kolor Dino*
Fiiuhh~ Chap ini cukup panjang dbanding dengan chap sebelumnya… *bangga* #dziigh
Oke, no ngoceh-ngoceh lagi. =_= Author kalau ngoceh, panjangnya bisa melebihi series Harry Potter U.U kekekeke~ At last…
Don't forget to Review (FFn)
and
RCL (FB), please~? ^^
Thanks~ *bow* m(_ _)m
