Author Note: Alright! Update lagi! Gelisah juga meng-update yang satu ini jika YOL belum ku-update selama beberapa minggu! XDDD
Enjoy! Jangan lupa diripiu!
The Half Blood 2 : Conflict Against Slayer
Chapter 2
Riku memasukki bar Castle Oblivion. Di dalam bar, terlihat begitu banyak mahluk, mulai dari ras manusia, werewolf, vampire, dan yang memiliki darah campuran. Sebagian besar yang berada di bar ini berprofesi sebagai hunter. Ada juga vampire dan werewolf yang berprofesi menjadi dokter, akuntan, sales, pegawai negeri, guru, dan masih banyak profesi lain. Mereka berbaur dengan manusia secara damai.
Riku terlihat menyapa beberapa temannya yang rata-rata merupakan ras werewolf. Tapi dia juga mengenal beberapa vampire dan juga manusia yang sering datang ke bar ini, meski dia tidak terlalu akrab dengan mereka.
Seorang pemuda berambut merah spike berada di dalam meja bar saat Riku berjalan mendekati. Dia terlihat sedang mengocok botol minuman, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Pemuda tersebut menyadari kehadiran Riku. Dia langsung tersenyum dan menyapanya.
"Yo, Riku," sapa pemuda tersebut.
"Hey, Axel," balas Riku dengan senyum pada pemuda tersebut. "Ada misi apa hari ini?" Riku duduk di kursi bar, tepat di depan Axel berdiri.
"Well, aku mempunyai sepuluh request klien, sebagian dari vampire, sisanya dari werewolf dan manusia. Silahkan dilihat." Axel memberikan sepuluh lembar kertas berisi surat permohonan request.
Riku menerimanya dan segera membacanya.
"Kemana Sora dan Roxas?" tanya Axel sambil mencari sosok Sora dan Roxas.
"Mereka di luar, sedang menghadapi slayer yang mendadak menyerang—lagi," jawab Riku sambil membaca request.
Axel menghela napas. "Belakangan ini slayer agresif sekali. Beberapa pelangganku, ras vampire, sering mengeluh kalau mereka sering diserang slayer."
Riku menghela napas. Dia setuju dengan perkataan Axel. Belakangan, Riku sering mencium bau darah vampire dari beberapa tempat yang berbeda. Dia yakin, bau tersebut berasal dari vampire yang tewas. Tapi Riku juga cukup sering mencium bau darah slayer.
Setiap pagi, berita yang disiarkan di pagi hari selalu menghebohkan. Setiap harinya ditemukan mayat berlumuran darah di gang dan juga di jalan. Jumlah orang yang tewas setiap harinya tidak pernah menentu. Polisi sibuk menyelidiki penyebab kematian mereka yang tidak jelas. Banyak yang mengira mereka dimutilasi dengan sebuah alat pemotong, karena tulang-tulang mereka terpotong. Tapi tidak rata.
Tentunya jika yang tewas adalah vampire tidak akan menghebohkan, karena mayat mereka akan menghilang ketika terkena sinar matahari. Berubah menjadi abu. Keberadaan vampire dan werewolf hampir tidak diketahui oleh manusia normal, kecuali hunter dan slayer. Wujud mereka yang sama persis mirip manusia membuat manusia tidak dapat membedakannya.
Riku menatap keluar dengan dahi mengkerut. "Mereka lama sekali…"
Sora melompat ke udara, menghindari tebasan slayer yang ingin membunuhnya. Sora mengeluarkan dua buah knife ketika di udara. Sora hendak menusuknya dari atas.
Darah menciprat membasahi tubuh dan wajah Sora. Tubuh slayer tersebut tumbang. Sora menghela napas melihatnya. Dia menatapi tangannya yang merah terkena darah.
Dia menjilati tangannya. Semua darah selalu terasa manis di lidahnya. Tapi darah bukanlah makanan utama Sora. Hanya makanan sampingan untuk memulihkan magic power-nya. Meski begitu, terdapat dorongan yang cukup kuat untuk meminum darah tersebut. Tapi Sora segera menepis keinginan tersebut. Dia dapat mengontrol nafsunya dengan baik karena Sora bukan vampire murni.
Sora lalu menatap ke arah Roxas yang berada tidak jauh darinya. Benturan pedang yang keras terdengar beberapa kali. Roxas melawan dua orang slayer sekaligus, tetapi dia tidak terlihat mengalami kesulitan sedikit pun.
Sora berlari mendekati salah satu slayer yang menyerang Roxas. Sebelum menyerang, Sora menembakkan magic fire, berusaha menjauhkan slayer tersebut dari Roxas. Sora melompat dan menyerang dari atas. Serangannya ditahan oleh slayer yang memiliki rambut hitam.
Roxas menyerang salah seorang slayer lain. Dia memiliki rambut silver. Dengan cekatan, Roxas mendesak slayer tersebut. Serangan Roxas ditangkis olehnya beberapa kali, hingga akhirnya senjata sang slayer terlempat karena tangannya kelelahan menangkis terus-menerus.
Sora terlihat melompat mundur. Menangkap senjata slayer yang terlempar tadi.
Roxas langsung membunuh slayer yang tanpa senjata. Ketika tatapan slayer tersebut tertuju pada senjatanya yang terlempar dan diambil oleh Sora. Slayer tersebut menjerit kesakitan. Teman sang slayer terlihat terkejut melihat pedang Roxas menembus tubuh temannya.
Sora langsung berlari menusuk slayer berambut hitam. Dia tidak menyadari kehadiran Sora saat hendak menusuknya. Perhatiannya tertuju pada temannya yang tewas tertusuk. Dia terlihat shok saat pedang menembus tubuhnya. Dia tumbang tanpa menjerit.
"Selesai," komentar Sora sambil menghela napas, lalu tersenyum pada Roxas. "Ayo kita ke bar, Roxas! Sepertinya Riku sedang menunggu dengan perasaan cemas karena kita terlalu lama bermain-main!" ajak Sora dengan cengiran.
"Sebentar, aku mau minum dulu, Sora," jawab Roxas sambil mendekati slayer berambut silver.
"Oh, okay…"
Roxas berlutut, tepat di samping mayat slayer. Dia menarik bajunya, membangunkan tubuh slayer. Ketika dia membuka mulutnya, taring-taring tajam terlihat di balik bibirnya yang merah. Roxas menggigit leher slayer. Dia menghisap darahnya begitu giginya yang tajam menembus kulit leher slayer. Rasa manis darah membuat Roxas melupakan bahwa dia hanya berniat minum sedikit saja.
Sora pun membiarkan Roxas minum sampai puas meski memakan hingga lima menit lebih. Sesekali dia melihat masa depan. Melihat Riku. Sora melihat Riku sudah tidak sabar menunggu dan memutuskan untuk mencari keduanya. Mendadak, Sora merasa sesuatu yang manis memasuki mulutnya.
Ternyata Roxas memasukkan jarinya yang terkena darah ke mulut Sora yang terbuka—Sora tidak sadar bahwa mulutnya terbuka. Sora pun menghisap jari Roxas yang terasa manis bagaikan permen. Roxas tertawa melihatnya.
"Kau juga ingin minum, kan?" tanya Roxas, masih terkekeh.
Sora mengangguk, masih mengisap jari Roxas. Roxas menarik jarinya dari mulut Sora.
"Tapi aku tidak mau menggigit slayer." Sora menatapi slayer yang Roxas gigit.
"Aku tahu. Aku sudah menyedot darahnya." Roxas menunjukkan sebotol darah.
"Kapan kau menyedotnya?" Sora terheran-heran melihat botol darah tersebut.
"Saat kau menerawang ke masa depan. Minumlah. Kuyakin magic power-mu terkuras cukup banyak ketika melihat masa depan," kata Roxas sambil menyerahkan botol darah.
Sora meraihnya dan langsung meminumnya. Selama ini Sora tidak pernah menggigit siapa pun untuk meminum darah. Dia selalu membeli darah dari Axel setiap kali ke bar. Sora merasa tenaganya pulih perlahan seiring dia meneguk darah. Sora langsung menyeka mulutnya setelah menghabiskannya.
"Sweet!" komentar Sora dengan senyum, lalu dia tertawa kecil. "Kurasa aku mau lagi!"
"Kapan-kapan lagi. Pantasan kalian berdua lama." Sosok Riku terlihat muncul di balik kegelapan. Dahinya mengkerut saat berjalan mendekati keduanya. "Kau tahukan kalau aku cemas jika kalian berlama-lama," kata Riku sambil mencubit pipi Sora dengan nada marah. "Kuyakin kau sudah mengetahuinya, Sora."
"Maaf…" balas Sora. Dia memegang kedua tangan Riku yang mencubit pipinya.
Ketika Riku melepaskan cubitannya, pipi Sora terlihat memerah. Sora menepuk pipinya dengan pelan, berusaha menghilangkan rasa sakit akibat cubitan.
Riku menatap Roxas dengan kesal. Roxas langsung memasang ekspresi minta maaf. Riku menghela napas dan menyerahkan request yang diterimanya dari Axel pada Roxas. Roxas membacanya dengan kilat, lalu menatap Riku.
"Kau memilih request di Twilight Town untukku?" tanya Roxas dengan heran.
Riku mengangguk. "Aku dan Sora akan mengambil request di Destiny Island."
"Tapi—" Roxas ingin bertanya lagi, tapi Riku menyela karena sudah tahu apa yang ingin Roxas tanyakan.
"Sora ikut bersamaku karena kalian berdua lebih banyak main-main daripada melakukan tugas jika kalian bersama. Seperti beberapa misi lalu. Seharusnya bisa selesai dalam dua hingga tiga hari, kalian berdua justru menghabiskan waktu hingga seminggu," jelas Riku sambil menghela napas.
Sora hanya tertawa mendengar penjelasan Riku. Dia memang membenarkan perkataan Riku. Sora dan Roxas lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermain ketika melawan musuh. Soalnya, Sora merasa misi tidak seru jika tidak mempermainkan lawannya.
Sora sangat senang bermain-main. Meski umurnya terlihat seperti enambelas tahun, sesungguhnya usia hidupnya baru dua tahun. Jadi wajar saja jika tingkahnya masih seperti anak-anak.
Roxas menghela napas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Baiklah." Roxas tidak mencoba untuk protes.
Riku pun melihat jam di HP-nya. Waktu menunjukkan pukul 9 lewat. Tatapan Riku berpindah pada Sora dan Sora mengangguk. Sudah waktunya untuk tidur.
"Ayo pulang, Roxas!" ajak Sora.
Roxas mengangguk.
"Besok aku akan menjemputmu, Sora," Riku memberitahu.
"Okay!" balas Sora dengan senyum. "Bawakan aku sarapan, ya!"
Riku mengangguk dengan senyum.
Sesungguhnya, tempat tinggal Roxas dan Sora berada di Twilight Town. Tetapi, berhubung jarak antara Hollow Bastion dan Twilight Town jauh, maka mereka akan menginap di apartment yang berada di Hollow Bastion. Apartment tersebut milik replica Sora sebelumnya dan sekarang menjadi miliki replica Sora kedua.
Riku menerima kunci apartment tersebut sebelum replica Sora sebelumnya menghilang. Dia sengaja menitipkannya pada Riku, karena tahu dia akan menyerahkannya pada replicanya yang kedua.
Roxas meraih kunci apartment yang Sora titipkan padanya—soalnya Sora sering menjatuhkan kunci apartmentnya ketika bertarung. Apartment tersebut gelap saat Roxas membuka pintunya. Tapi Roxas dan Sora tidak menemukan masalah untuk mencari saklar lampu apartment. Mata keduanya dapat melihat di kegelapan dengan sangat jelas.
Sora menguap. Mulutnya terbuka lebar dan dia menutupinya dengan telapak tangannya. "Selamat malam, Roxas," kata Sora sambil berjalan menuju kamarnya. Hendak tidur.
Sayangnya, niat Sora harus ditunda karena Roxas menahannya. "Riku dan Ayah akan sangat marah padaku karena membiarkanmu tidur dengan baju yang berlumuran darah. Mandi dulu baru tidur," perintahnya dengan tegas.
Sora memasang wajah cembetut. Dia merasa sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Tapi dia tidak membantah perintah Roxas meski menggerutu kesal sambil berjalan ke kamar mandi.
Roxas tersenyum melihat Sora yang penurut.
Begitu selesai mandi, Sora langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Matanya sudah terlalu berat untuk dibuka. Dia pun terlelap hanya dalam beberapa detik.
Roxas menyelimuti Sora. Roxas tidak membutuhkan tidur, tapi dia bisa berpura-pura tidur hanya untuk menghabiskan malam yang membosankan. Padahal, biasanya Roxas merasa malam hari merupakan jam yang paling menyenangkan. Dimana dia dapat bergerak bebas tanpa khawatir terbakar matahari.
Tapi sekarang tidak. Dia mulai merasa malam hari adalah jam yang membosankan karena dia sudah dapat berjalan di bawah sinar matahari tanpa takut terbakar lagi…
To Be Continued…
Author Note: wew, satu chapter selesai lagi! XDDD jangan lupa review! Kalau ada kritik dan saran untuk gaya tulisku, mohon jangan segan-segan untuk mengkritik! ^^
