Matchmaking

Pair:: MyungYeol and other

Rated:: T

Genre:: Humor and romance

Warn:: BL, Yaoi

Author:: Hiwatari NiwaDark Chullie

Annyeong~! ^^ Author's back… :D Maaf kalau updatenya lama . Kekekekeke, biasa, lagi kehilangan ide XD #digampar

Oke, langsung lanjut aja, ne? ^^ Chaooo~!

Enjoy~! ^^

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Myungsoo dengan perlahan meraih dagu Sungyeol dan menghadapkan wajah namja manis itu ke wajah tampannya, dan mendekatkan wajah mereka hingga tak berjarak…

Chuu~!

Sreeet!

Mata Sungyeol yang terbelalak kini semakin melebar bukan karena bibir tipis Myungsoo yang menempel dengan lembut di bibir tebalnya, melainkan karena rasa sakit yang menyerang punggungnya. Myungsoo langsung menarik resleting gaun Sungyeol dengan cepat saat namja manis itu sedang dalam keadaan terkejutnya karena ciuman Myungsoo yang tiba-tiba itu.

"UAAAKKKHH!" Sungyeol menjauhkan wajahnya dari Myungsoo dan berteriak dengan kencang. Ia menatap Myungsoo dengan tatapan membunuh sekaligus kesakitan. "Kenapa kau menariknya tiba-tiba? Kubunuh kau, Kim Myungsoo!"

TAK!

Entah untuk keberapa kalinya Sungyeol melayangkan jitakan dahsyatnya ke kepala Myungsoo. Ia kemudian meringis kesakitan.
"Ukhh! Appooo~! Kau kira tidak sakit apa? Kasar sekali, ck! Dan, ya! Berani-beraninya kau mencium bibirku yang paling berharga dan seksi ini?!" Kepala Sungyeol kini terlihat meluap-luapkan asap panas. Ingin rasanya ia membenturkan bibirnya ke tiang listrik terdekat sekarang juga. Biarlah bibirnya jadi keriting, yang ia inginkan hanya menghapus bekas bibir Myungsoo di bibirnya.

"Cih! Kau pikir aku senang menciummu? Ini karena terpaksa, tahu! Aku menolongmu tadi, jadi berterima kasihlah." Myungoo balik menatap Sungyeol dengan tatapan tajamnya. Dan kini berakhirlah dua namja yang tampan dan manis itu saling bertatapan dengan tatapan kilat bak petir.

Sunggyu tersenyum kecut melihat keadaan dongsaeng dan calon dongsaengnya itu. Ia menggaruk kepala belakangnya. "Errr… Myung, Yeol-" Perkataan Sunggyu terpotong oleh Sungjong.

"Sudah puas tatap-menatap penuh cintanya? Jika kalian saling menatap seperti it uterus, bisa-bisa kalian akan jatuh dalam jurang cinta(?) dan berakhir dengan adegan tak terduga." Ujar Sungjong blak-blakkan masih dengan mulutnya yang mengemut permen tangkainya.

Myungsoo menatap Sungjong dengan kesal. Calon adik iparnya yang satu ini benar-benar tidak bisa mengerem ucapannya, selalu ceplas-ceplos. Bahkan pembicaraan yang seharusnya belum boleh ia ketahui malah keluar begitu saja dengan lancar, mulus, dan aman sentosa dari mulutnya.

'Bocah sialan.' Pikir Myungsoo.

"Ehgumonina! Sungjong tidak polos lagi." ujar Hoya yang kembali menutup kedua telinganya. Sungyeol? Ia menatap Sungjong dnegan atatapan cengonya. =.=

"Jongie! Jangan-jangan kau telah teracuni oleh otak pervert mayat hidup ini? O.O" Sungyeol melangkah maju dan mencengkram kedua bahu Sungjong. Ia mengguncang-guncang tubuh adik bungsunya itu. Sungjong menarik permennya dari mulutnya dan menatap Sungyeol dengan tatapan bingungnya. "Kau kenapa, hyung? Memangnya aku melakukan apa? Dan siapa itu mayat hidup?" tanya Sungjong.

"Apa kau bilang?!" Myungsoo menatap Sungyeol dengan tajam. "Sudahlah-sudahlah. Sekarang lebih baik kita obati luka Sungyeol." Ujar Sunggyu yang menghentikan perdebatan mereka.

Sungyeol menolehkan kepalanya ke belakang, berusaha melihat luka yang ada di punggungnya. Apakah luka yang parah atau hanya luka kecil. Tapi punggungnya terasa sangat-sangat sakit dan perih, sepertinya itu luka parah.

"Ukhh…" lenguh Sungyeol saat ia tidak dapat melihat lukanya sendiri. "Belum jadi suami saja sudah melakukan KDRT padaku, bagaimana kalau nantinya setelah menikah?" cibirnya dengan bibirnya yang dipoutnya dengan lucu.

Myungsoo mendengus kesal. "Lalu, yang tadi kau lakukan padaku itu bukan KDRT? Menjambak rambutku hingga hampir botak? Kau tidak tahu, jika kau menghancurkan style rambutku, maka charm dalam diriku akan berkurang, pesonaku berkurang!" Sungyeol mendecih bosan mendengar perkataan PD Myungsoo.

"Sudah! Cepat berganti pakaian! Myungsoo, tolong bantu Sungyeol melepaskan gaunnya, ya." Hoya mendorong Sungyeol untuk masuk kembali ke dalam kamar pas bersama Myungsoo dan langsung menutup tirainya.

"AHH?! Noooo! Aku bisa melepaskan gaunku sendiri!" seru Sungyeol tidak menerima perintah dari Hoya. "Yasudah! Lepaskan saja sendiri! Aku juga tidak sudi melepaskan gaun itu untukmu. Memangnya aku ini pembantumu, apa?" cibir Myungsoo.

"Kim Myungsoo, bantu lepaskan atau kau tidur di teras malam ini?" Tawar Sunggyu dengan nada datarnya dari luar kamar pas. "Eh?!" Myungsoo terlonjak terkejut mendengar ancaman dari hyungnya yang kejam itu. Sunggyu terkikik kejam saat tidak mendengar perlawanan dari adiknya.

" Ya! Ya! Apa yang kau lakukan?! Aku bisa melepaskannya sendiri!"

"Aku sedang melepaskan gaunmu, bodoh. Aku tidak ingin mati kedinginan dengan nyamuk-nyamuk yang menyerang tubuhku karena tidur di teras malam ini." Balas Myungsoo.

"Shirreo! Bukankah itu deritamu? Bilang saja kau ingin melihat dan menggrepe-grepe tubuhku!"

"Ya! Gaunmu bagian pinggangnya itu diikat oleh tali-tali yang akan susah untuk dilepasan sendiri, aku membantumu agar kau tidak merusak dan merobek gaun ini. Ini gaun mahal! Dan lagi, siapa yang mau melihat dan menyentuh tubuhmu yang seperti papan begini? Tidak ada yang bagus untuk disentu-Akkh! Ya! Aduh! Jangan jambak rambutku! Lepaskan!" seru Myungsoo kesakitan.

"Siapa yang kau bilang papan, hah?!"

"Kau! Lee Sungyeol! Aisshh, dasar-Awwh! Lepas! Rambutku akan benar-benar habis jika kau tarik sekuat ini."

"Biarkan, mungkin jika kau botak, kharismamu akan lebih menguar."

"Ck! Aduhduh!"

"Ehh? Ya! Apa yang kau lakukan? Jangan peluk-peluk pinggangku! Mesum!" Sungyeol menarik rambut Myungsoo ke bawah, sehingga Myungsoo membungkuk dan menunduk semakin ke bawah.

"Kau menjambakku, dan aku hampir terjatuh ke lantai. Aku hanya berusaha mencari pegangan. Kupikir aku memegang dinding kamar ini, ternyata pinggangmu, ya?" tanya Myungsoo tanpa nada berdosa.

TAK!

Lagi-lagi, Sungyeol menjitak kepala Myungsoo. =_= Sepertinya kau tidak hanya akan botak saja, Myung. Mungkin sekalian jadi bodoh, juga. *pukpuk Myung* '_')/

Sungjong, Hoya, Sunggyu dan Woohyun hanya memasang tampang cengo mereka masing-masing. Kapan perang ini akan berakhir, Ya Tuhannn? Ehm, kira-kira begitulah doa yang dipanjatkan oleh Sunggyu.

10 menit kemudian

Sreett!

Tirai kamar pas telah dibuka dan terlihat Myungsoo yang keluar dengan rambut yang tak berbentuk dengan wajah yang super kesal dan Sungyeol yang keluar dengan wajah yang sangat kusut seraya sesekali meringis kesakitan.

"Kau tidak apa-apa, Yeol?" tanya Sunggyu dengan nada khawatir. Woohyun yang sedari tadi terduduk kini beranjak dari kursinya dan medekati Myungsoo. Ia menepuk bahu Myungsoo. "Kau tidak apa-apa, Myung? Kau terlihat buruk dan… jelek." Ujar Woohyn yang kemudian tertawa terbahak-bahak.

Myungsoo langsung menatap Woohyun dengan tatapan membunuh dan melempar setelan blazernya ke wajah Woohyun yang menurutnya sangat menyebalkan itu.

Hoya mendudukkan Sungyeol dan ia sendiri duduk di belakang adiknya. Ia menarik kaus Sungyeol ke atas untuk melihat luka adiknya itu. "Lukanya cukup besar, Yeol. Dan ini… Berdarah." Ujar Hoya dengan nada khawatir.

"Mwo?! Berdarah?" kaget Sungyeol. 'Pantas saja sakit sekali sampai ingin menangis rasanya.' Pikirnya. "Aigoo~! Ini harus segera diobati. Tunggu sebentar ya, Yeol-ah. Woohyun sedang mengambil kotak P3K di mobil." Ujar Sunggyu.

"Ah, dan urusan baju pengantinnya. Menurutku yang tadi mereka pakai sudah bagus, kok. Pilih yang itu saja." Ujar Hoya. Sunggyu mengangguk setuju dan membicarakannya pada salah satu pekerja yang ada di sana.

"Hyung, kenapa kau bisa terluka sampai seperti ini?" tanya Sungjong dengan nada khawatir. Ia mendudukkan dirinya di depan Sungyeol dan menghadap ke hyung keduanya itu. "Apa kau benar-benar sudah mulai gendut?" timpal Sungjong. "Bukan!" jawab Sungyeol dengan kesal.

"Namja setengah mayat itu sangat kasar saat ia menaikkan resletingnya." Jawab dengan bibir yang dipoutkan.

"Itu karena kau tidak bisa diam saat aku menaikkan resletingnya. Kau bergerak-gerak terus, makanya resletingnya nyangkut." Ujar Myungsoo menyela. Sungyeol menatap Myungsoo dengan kesal. "Huh!"

"Sini, hyung, biar aku saja yang mengobati Sungyeol hyung." Ujar Sungjong seraya meraih kotak P3K dari tangan Woohyun.

"Ani, Sungjongie. Biarkan Myungsoo saja yang mengobati Sungyeol." Ujar Sunggyu. Sungjong menoleh ke arah Sunggyu. Sedangkan Myungsoo dan Sungyeol sama-sama terkejut. "Eeeehh?"

Sunggyu mengangguk lalu memelototkan matanya ke arah Myungsoo. "Lakukan, Myung!" Myungsoo berdecak pelan. Kalau hyungnya itu sudah memelototkan mata sipitnya seperti itu, maka dunia terasa berubah menjadi neraka bagi Myungsoo, yang artinya Sunggyu seperti api dibalik sayap merpati.

"Dasar iblis." Bisik Myungsoo pelan.

DUAAGHH!

Oke, sepatu kets bermerk mahal milik Sunggyu kini telak mengenai kepala Myungsoo. Dan saat ini Woohyun dan Sungyeol tengah menahan tawa mereka. Jangan sampai tawa mereka meledak di saat-saat seperti ini, bisa-bisa mereka juga mendapatkan sepatu mahal milik Sunggyu.

"Ck." Myungsoo duduk di belakang Sungyeol, menggantikan Hoya. Sungyeol menahan baju agar tetap di sebatas lehernya. Ia menggembungkan pipinya. Saat ini ia benar-benar sangat kesal. Badmood.

'Eerrr…' batin Myungsoo seraya mengambil tissue seraya melirik sekilas ke arah luka Sungyeol. 'Lukanya cukup parah. Pasti sakit…' pikirnya seraya mendekatkan tissuenya ke luka Sungyeol. Sebagian darah dari luka itu telah terkena di kaus biru milik Sungyeol, namun luka itu masih tertutupi oleh darah segar yang mungkin masih mengalir. Ukhh…

Dengan hati-hati dan ragu-ragu, Myungsoo menempelkan tissue itu ke luka Sungyeol untuk menghapus darahnya. "Urrghh…" erang Sungyeol pelan. Namja manis itu terlihat menggigit kausnya sendiri untuk menahan sakitnya.

"Hukkkh…" Erangan kesakitan Sungyeol semakin terdengar kuat saat Myungsoo mulai mengelap darahnya dengan sedikit kasar. "Pelan-pelan!" ujar Sungyeol setengah berteriak. "Iya, iya."

Setelah dirasa darah Sungyeol telah bersih, Myungsoo menuangkan alcohol ke kapas yang telah ia sediakan yang setelahnya akan ia oleskan ke luka Sungyeol yang cukup besar itu. Sungyeol semakin menggigit kausnya, tampaknya ia takut perih.

Sebelum Myungsoo sempat menempelkan kapas beralkohol itu ke luka Sungyeol, Sungjong menghentikan gerakan tangan calon abang iparnya itu dan menarik tangan Myungsoo agar berdiri dari duduknya. Semua yang ada di sana menatap Sungjong dengan bingung, kecuali Sungyeol yang sibuk menggigit kausnya. Myungsoo menatap Sungjong dengan tatapan bertanya.

Sungjong hanya tersenyum lalu menarik Myungsoo untuk duduk tepat di depan Sungyeol, berhadapan dengan namja manis itu. Posisi mereka saat ini, Myungsoo duduk berhadapan dengan Sungyeol.

(Cara mereka duduk itu di bangku panjang, yang dimana mereka duduk menyamping dengan kaki yang terkangkang. Cara duduk di sepeda motor ataupun jungkat-jungkit, bangku memanjang ke depan.)

Myungsoo masih menatap Sungjong dengan tatapan bertanya. Dengan posisi seperti ini agak sedikit sulit untuk mengobati luka Sungyeol. Satu-satunya cara untuk dapat melihat luka Sungyeol adalah dengan memeluk namja manis itu. Sungjong mengangguk, menyuruh Myungsoo melakukan cara itu dan melanjutkan pengobatannya. Hoya dan Sunggyu tersenyum melihat perlakuan Sungjong.

Myungsoo hanya memasang wajah bingung seraya memajukan duduknya, mendekati Sungyeol yang tengah memejamkan matanya dan mencengkram kausnya yang kini berada di depan mulutnya, siap-siap untuk menggigitnya di saat ia merasa kesakitan. Namja tampan itu mulai melingkarkan kedua tangannya di pundak Sungyeol, posisi memeluk. Kepala kini tepat berada di samping kepala Sungyeol, bahkan ia bisa mendengar deru napas Sungyeol dari jarak seperti ini. Posisi mereka hampir memeluk, namun belum menempel.

Myungsoo dapat melihat luka di punggung Sungyeol. Sebelum luka itu kering, Myungsoo dengan segera menempelkan kapas yang basah dengan alcohol itu di luka itu. Sungyeol yang tampak terkejut spontan memeluk Myungsoo dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher namja tampan itu untuk menahan rasa sakitnya. Ia tidak sadar apa yang tengah ia lakukan.

Myungsoo terdiam, ia menghentikan gerakan tangannya yang hendak menempelkan kapas itu ke bagian luka yang lain. Sedikit terkejut saat Sungyeol memluknya dengan erat. Hhaha, entahlah, ia merasa ada yang aneh saat merasakan pelukan itu. Rasanya, di situasi seperti ini, Sungyeol terlihat sangat manis. Sungyeol yang cerewet dan suka mengoceh itu kini terlihat sangat manis saat ia berusaha menahan rasa sakitnya dengan menutup erat kedua matanya dan mencengkram apa saja yang bisa ia cengkram.

Myungsoo dengan segera tersadar dan kembali menempelkan kapas beralkohol itu ke seluruh bagian luka Sungyeol. Selama pengobatan dan penutupan luka Sungyeol dengan kapas dan handsaplas, namja manis itu tetap dalam posisinya.

"Sudah." Ujar Myungsoo seraya menurunkan baju kaus Sungyeol. Dengan perlahan, Sungyeol melepaskan pelukannya. Wajahnya tampak masih menunjukkan kesakitan.

"Ukhh, lihatlah. Kemeja mahalku ini jadi sangat kusut karena cengkramanmu itu. Aissh, dasar." Ujar Myungsoo saat menyadari kemeja bagian pundaknya kusut karena cengkraman kuat Sungyeol tadi.

Sungyeol melempar tatapan tajamnya pada Myungsoo. "Siapa suruh kau duduk di sana? Kau satu-satunya objek besar yang dapat kucengkram. Untung saja kau tidak kugigit." Balas Sungyeol. Myungsoo mengernyit kesal. "Chh."

Dengan perlahan Sungyeol menegakkan tubuhnya dan beranjak dari duduknya.

"Ahh, kalau begitu kami pamit pulang duluan, ne. Ini sudah sangat larut, dan Sungjong harus sekolah besok. Sampai jumpa lagi, ya." Hoya tersenyum lalu beranjak setelah sebelumnya ia membungkukkan badannya. "Annyeong, hyungdeul." pamit Sungjong.

Sungyeol tersenyum pada Sunggyu dan Woohyun yang juga dibalas dengan senyuman. Ia hanya bisa melambaikan tangannya saja, tidak memungkinkan baginya untuk membungkuk. Saat ia berbalik, ia menemukan Myungsoo yang terlihat cuek dan sibuk merapikan obat-obatannya.

"Terimakasih." Ujar Sungyeol singkat. Myungsoo mengangkat kepalanya dan menatap Sungyeol. Sungyeol tampak menunjukkan senyuman tipisnya sebelum ia beranjak dari tempatnya untuk menyusul Hoya dan Sungjong.

Myungsoo terdiam dan terus memandangi punggung Sungyeol yang mulai menjauh. Tipis. Sangaatt tipis. Meskipun senyum itu sangat tipis bahkan hampir tidak terlihat, namun itu terlihat lumayan manis bagi Myungsoo. Itu merupakan senyuman pertama yang ditunjukan Sungyeol pada Myungsoo, meskipun senyuman itu terlihat tidak begitu ikhlas. -_-'

"Yo! Biar kutebak, kau mulai tertarik pada namja tinggi itu?" tanya Woohyun yang tiba-tiba merangkul leher Myungsoo. "Diam! Tidak akan pernah!" Myungsoo menghempaskan lengan Woohyun dari pundaknya. "Hohohoho! Bagaimana kalau kita taruhan saja? Aku pasti menang!" ujar Woohyun seraya tertawa jahil yang kemudian kabur untuk mendekati Sunggyu.

"Gyuuu~! Ayo kita cari baju pengantin untuk kita." Ujarnya seraya menyeret Sunggyu ke rak pakaian. Myungsoo menggertakkan giginya. Ingin rasanya ia melempar kotak P3K ini ke kepala Woohyun. Menyebalkan. Satu deskripsi yang dapat ia berikan pada calon abang iparnya itu. Meskipun ia pernah berpikir bahwa Woohyun sebenarnya calon abang ipar yang baik dan menyenangkan, namun ia lebih suka untuk menyingkirkan jauh-jauh pikiran itu. Kim Myungsoo, namja ego. =_=

.

.

.

"Arrgggh!" Sungyeol beranjak dari tidurnya, ia mengubah posisinya menjadi duduk. "Aku tidak bisa tidur." Lirihnya dengan matanya yang terlihat bengkak.

'Aku sungguh mengantuk tapi tidak bisa tidur. Punggungku sungguh sakit. Khhh! Dan lagi, kenapa di otakku banyak sekali hal-hal tak penting?' Sungyeol menjambak rambut indahnya sendiri.

Ia akhirnya memilih untuk tidur kembali dengan posisi menyamping. Entah apa yang tengah ia pikirkan, yang pasti ia sama sekali tidak memejamkan matanya yang mulai terlihat menghitam.

'Kalau aku benar-benar menikah dengannya, apa kata-teman-temanku? Bagaimana nasib rencana keluarga bahagia yang dulu aku susun? Yang dimana aku menemukan seorang noona manis, baik, pintar memasak dan dewasa? Yang kemudian menjadi ibu dari anak perempuan pertama dan laki-laki keduaku? Yang kemudian membangun perusahaan bersama dengan istriku dan hidup dengan tenang dengan anak-anakku yang manis dan tampan? Yang kemudian istriku yang meminjat pundakku di hari-hari tua kami? Ukkh! Hancur sudah rencana keluarga bahagiaku! Dan sekarang? Haruskah aku yang menjadi hyung manis, baik, pintar memasak dan dewasa untuk si manusia setengah mayat itu? Haruskah aku yang menjadi ibu dari anak-anak si manusia setengah mayat itu? Haruskah aku yang memijat pudak si mayat hidup itu di hari-hari tua kami?! Aaakkhh!' Sungyeol menutup wajah frustasinya dengan boneka bebek kesayangannya.

"Buruk! Akh! Dan lagi! Siapa yang mau menjadi ibu dari anak-anaknya? Aku tidak mau! Ibu apanya? Aku ini namja! Laki-laki! Aku tidak ingin menjadi ibu-ibu yang harus ke pasar untuk berbelanja dan memasakkan makanan untuknya! Kalau bisa sekalian kumasukkan obat nyamuk ke makanan mayat hidup itu." Sungyeol menenggelamkan kepalanya ke boneka bebeknya dengan kesal.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Myungsoo berjalan dengan santainya menyusuri koridor kampusnya seraya memainkan ponselnya. Ia asik memainkan ponselnya sampai akhirnya ia merasakan seseorang yang tak asing melewati dirinya. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Ia menatap punggung seorang namja yang terus berjalan tanpa berhenti ataupun menoleh padanya.

"Ya! Kau berjalan melewatiku begitu saja tanpa sapaan atau apa gitu?" tanya Myungsoo pada namja itu. Namja yang ternyata Sungyeol itu menghentikan langkahnya dan menoleh pada Myungsoo. "Memangnya kau siapa hingga aku harus memberi sapaan padamu?" tanya Sungyeol cuek. Myungsoo mengernyit kesal. Ia menghela napasnya yang kemudian berjalan mendekati Sungyeol.

Sungyeol menatap Myungsoo dengan was-was. "Apa?"

"Punggungmu bagaimana?" tanya Myungsoo pelan dan terdengar cuek. Sungyeol yang tidak menyangka pertanyaan itu akan meluncur dari mulut namja tampan itu hanya bisa menatap Myungsoo dengan tidak percaya. "Eh? Ee… Masih sakit. Tidak. Sangat sakit sampai-sampai aku tidak bisa tidur semalaman." Jawab Sungyeol dengan sedikit kesal. Ia melipat kedua tangannya di depan dadanya.

Myungsoo mendecak kecil sebelum akhirnya ia membalikkan tubuh Sungyeol membelakanginya dan kemudian menaikkan kemeja baju yang tengah Sungyeol pakai. "EH? Apa yang kau lakukan?" Sungyeol mencegah tangah Myungsoo dan berbalik.

"Melihat lukamu." Jawab Myungsoo singkat. Sungyeol mengernyitkan keningnya. "Kau gila? Di sini banyak orang, dan dengan seenaknya kau ingin membuka bajuku di depan umum hanya untuk melihat lukaku? Aku akan membiarkanmu merasakan kehangatan kepalan tanganku jika kau sampai menaikkan bajuku di sini." Ujar Sungyeol seraya menunjukkan kepalan tangannya pada Myungsoo.

Myungsoo hanya menghela napasnya dengan cuek. Ia menarik tangan Sungyeol yang tengah mengepal itu hingga Sungyeol tertarik dan menubruk Myungsoo yang sedikit lebih pendek darinya. Tangan kiri Myungsoo yang semula menarik tangan Sungyeol kini berganti dan memeluk pinggang namja tinggi itu. Secara paksa, ia menarik baju Sungyeol hingga sebatas pundaknya.

"Ya! Kau gila! Kenapa buka di sini?" Sungyeol menarik-narik baju yang dikenakan oleh Myungsoo. Ia sesekali memukul punggung Myungsoo, menyadarkan namja tampan itu bahwa kini di sekitar mereka, mahasiswa yang lain tengah menatap mereka berdua dengan tatapan aneh.

"Ya! Kim Myungsoo…!" gumam Sungyeol dengan kesal. ia menundukkan kepalanya. Malu.

"Diamlah sebentar, aku sedang memeriksa lukamu." Ujar Myungsoo dengan cueknya. Entah angin dari arah mana yang menghembus Myungsoo hingga namja super cuek itu nekad melakukan hal ini di depan umum. Jelas saja ini bukan style Myungsoo yang tiba-tiba perduli dengan kondisi seseorang, meskipun style cueknya terhadap sekelilingnya tetap masih sama.

Ia membuka perban luka yang semalam ia tempelkan di sana, dan kemudian menempelkannya kembali setelah mengecek luka Sungyeol.

PLOK!

Dengan satu tepukan yang cukup keras untuk merekatkan kembali perekar perban luka itu. "AWWWH!" Sungyeol berteriak kesakitan yang kemudian langsung menjitak kepala Myungsoo yang masih memeluknya. "Kenapa kau menepuk lukaku? Aisshh! Sakit tahu!" Sungyeol melepaskan pelukan mereka dengan sedikit kasar, kesal dengan perlakuan Myungsoo.

"Aku hanya ingin melekatkannya kembali."

"Kau memukul lukaku! Kasar sekali!"

"Hei! Hei! Hei! Apa yang kalian lakukan? Kenapa buka-bukaan di depan umum seperti ini?" tanya seorang namja dari arah belakang Myungsoo.

Myungsoo yang sangat kenal dengan suara ini langsung menoleh ke asal suara. "Kenapa kau ada di sini?" tanyanya dengan nada dinginnya. "Woohyun hyung?" Sungyeol juga terlihat bingung dengan kedatangan Woohyun yang tiba-tiba di kampus mereka.

"Oh, kalian belum tahu, ya? Aku dosen di cabang kampus ini, karena aku naik pangkat, maka aku ditransfer ke pusat kampus yang ternyata adalah kampus kalian. Jadi mulai hari ini aku akan mengajar di sini." Ujarnya dengan cengiran bangga di wajah tampannya. Myungsoo mengusap keningnya. "Musibah." Woohyun mendelik kesal mendengar bisikan pelan Myungsoo. "Kau seharusnya bangga punya abang ipar yang akan menjadi dosenmu."

"Eh? Hyung dosen, ya? Tidak disangka." Ujar Sungyeol dengan polosnya. Woohyun mendelik kesal lagi. "Apa maksudmu?" tanyanya dengan tatapan datar. Sungyeol hanya menyengir jahil pada Woohyun.

"Oh, ya!" Suasana hati Woohyun langsung berubah seketika. Wajahnya kini kembali ke cengirannya yang biasanya. "Aku ke sini juga sekalian membawa kabar gembira untuk kalian." Myungsoo memutar kedua matanya, bosan mendengar perkataan Woohyun yang terkesan bertele-tele. "Apa?"

"Pernikahan kalian akan dipercepat hingga 3 hari lagi." lanjut Woohyun dengan nada bahagianya, sekalian terkikik kecil menunggu reaksi calon adik iparnya itu.

Hening.

.

.

"HAAAHH?!"

"Eh? Kenapa tiba-tiba dipercepat? Kenapa Hoya hyung tidak memberitahuku?" tanya Sungyeol. Woohyun menaikkan kedua bahunya. "Kabar ini baru diberitahu oleh orang tua kalian tadi pagi."

"Ck! Kenapa dipercepat, sih? Aku belum sempat memikirkan cara untuk membatalkan pernikahan ini." Tanggap Myungsoo.

"Mencari cara untuk membatalkan pernikahan ini pun percuma, Myung. Jika kau berusaha membatalkan pernikahan ini, yang ada malah kau akan dipanggang hidup-hidup oleh Sunggyu dan dibuang ke tengah laut oleh ibumu." Ujar Woohyun dengan santainya.

Sungyeol terdiam mendengar perkataan Woohyun. Ia tidak dapat berpikir jernih sekarang, pikirannya sedang keriting. "Aku pernah berencana untuk kabur dari rumah dan keluar negeri." Gumam Myungsoo. Sungyeol menoleh pada Myungsoo. "Ide bagus! Yasudah, pergi saja sana! Ke negara antahbrantah sana, Kutub Utara, Selatan, atau sekalian ke Segitiga Bermuda saja. Dengan begitu pernikahan kita pasti batal." Ujar Sungyeol dengan nada semangat. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya, sangat setuju dengan usulan Myungsoo.

"=.= Kalau begitu enak di dirimu. Kau hanya perlu melapor pada orang tuamu bahwa Kim Myungsoo menghilang, begitu? Sedangkan aku? Harus rela berpergian jauh. Tidak mau! Kau saja yang pergi." bantah Myungsoo yang kemudian berjalan berlalu dari tempat itu. Ia tidak memperdulikan ocehan Sungyeol di belakang.

"Aisshh! Jinjja! Mayat menyebalkan!" Kalau saja Sungyeol tidak menyayangi hidupnya, mungkin saja sekarang ia tengah membenturkan kepalanya ke dinding karena Myungsoo yang benar-benar menyebalkan. Woohyun mengapitkan lengannya ke leher Sungyeol, dengan sedikit berjinjit.

"Sungyeol-ah, sebentar lagi kita akan menjadi keluarga. Meskipun sedih karena harus didahului oleh kalian, tapi aku tetap ingin mengucapkan selamat padamu. Selamat menempuh hidup baru bersama, Kim Myungsoo." Ujar Woohyun dengan nada dan ekspresi dramatisnya. Yang kemudian namja penuh gombalan itu berjalan meninggalkan Sungyeol hanya terlihat frustasi.

( ._.`) Poor Yeol. #pukpukWoolimy

~TBC~

=_= Oke, ending di chap ini cukup gaje, sangat gaje ==" *bentur kepala ke dinding*

Semoga chap ini gak mengecewakan ya, meskipun author sadar kalau chap ini kurang seru. Hufftt (-.-)=3

Yasudahlah… :3

Don't forget to Review (FFn)

and

RCL (FB), please~? ^^

Thanks~ *bow* m(_ _)m