Author Note: Update again :3 wew, thanks bagi yang udah me-review cerita ini! meski hanya satu sih... Enjoy this new chapter! Oh ya, balasan review ada di bawah. Hehehehe…
The Half blood 2: Conflict Against Slayer
Chapter 3
Sora menggumam kesal ketika Roxas mencoba membangunkannya. Hari hampir pagi dan Riku menunggu Sora di ruang tamu. Sesekali Riku mengecek jam di HP-nya. Sudah tigapuluh menit dia menunggu.
"Oh ayolah, Sora! Ayo bangun!" Roxas merasa kesal karena Sora terus meminta waktu tambahan untuk tidur.
"Sebentar lagi…" gumam Sora sambil menyembunyikan kepalanya di balik kasur.
"Dan kau sudah mengatakannya sebanyak lima kali. Ayolah, Riku sudah menunggumu. Sarapanmu yang dibawakan olehnya pasti sudah dingin." Roxas menarik Sora untuk bangun dan Sora menggerutu kesal karena masih mengantuk.
Sora menguap dengan mulut terbuka lebar saat berjalan memasuki ruang tamu. Riku menatapinya dengan dahi mengkerut. Merasa heran karena butuh tigapuluh menit untuk membangunkan Sora. Dasar tukang tidur…
"Sarapanlah dulu, setelah itu baru mandi."
Riku memberikan sarapan pada Sora. Sekotak nasi hangat dengan daging panggang yang diiris.
Sora menerimanya sambil mengangguk, lalu duduk. Loading otaknya masih berjalan super lambat, sehingga dia hanya merespon semua yang orang katakan dengan anggukkan saja. Matanya setengah terpejam. Riku menjentikkan jarinya beberapa kali, berusaha membangunkan Sora yang setengah tertidur.
Sora menguap sekali lagi, lalu menggosok matanya yang mengantuk. Dia membuka kotak makanannya.
"Selamat makan…" kata Sora dengan nada kecil.
Butuh empatpuluh menit bagi Sora untuk menghabiskan seluruh makannya. Waktunya lebih banyak dihabiskan untuk melamun—tepatnya tidur sambil makan—daripada melahap makanannya.
Riku sibuk memainkan HP-nya sambil menunggu Sora selesai makan. Sedangkan Roxas, dia sudah pergi meninggalkan apartment beberapa menit yang lalu. Saat Sora masih melahap makannya.
"Omong-omong, Riku, ada tugas apa di Destiny Island?" tanya Sora sambil menatap Riku.
Riku berhenti memainkan HP-nya dan menjawab, "sebuah misi yang cukup serius. Masih menyangkut soal slayer. Beberapa half blood vampire dikabarkan meninggal di sana."
Rasa kantuk Sora langsung menghilang ketika mendengarnya. "Berapa banyak?"
Riku tersenyum sedih. "Lebih baik kau tidak tahu. Segeralah mandi dan kita akan langsung menuju Destiny Island."
Sora mengangguk.
O/./O) ~ (O/./O
Riku menghentikan mobil miliknya di sebuah parkiran. Sebelum turun, dia melihat HP-nya dan memainkannya sejenak. Sepertinya dia menelepon seseorang.
"Ya?"
"Kami sudah sampai."
Hening sejenak. "Baiklah."
Panggilan diakhiri.
"Kau menelepon siapa, Riku?" Sora terheran-heran melihat percakapan yang begitu singkat. Tidak sampai 30 detik.
"Cloud."
"Ayah? Dia di sini?" tanya Sora dengan wajah terkejut.
"Ya. Dia datang kemari karena kasus yang sama juga."
"Oh…"
Riku dan Sora keluar dari mobil dan berjalan mendekati pantai. Matahari pagi terasa panas di kulit Sora. Tapi Sora betah berlama-lama berdiri di sana untuk menikmati pemandangan pantai yang indah di pagi hari. Sora merasa sangat menyukai pemandangan pantai. Dia tidak tahu mengapa, tapi dia merasa familiar dengan pemandangan ini. Seakan-akan sudah bertahun-tahun menatapinya.
Riku terlihat bertanya-tanya pada penduduk yang berada di pantai. Bertanya soal pembunuhan yang sering terjadi di sana. Beberapa penduduk bercerita dengan wajah khawatir dan cemas. Ada juga yang ketakutan mengingat maraknya pembunuhnya di sana. Hampir seluruh penduduk di Destiny Island merasa resah atas kejadian ini. Mereka berharap pembunuhan yang terjadi di sana segera berhenti dan Destiny Island kembali damai seperti dulu.
Sora tersadar dari lamunannya saat Riku menegurnya setelah selesai mewawancarai penduduk.
"Ada apa?"
Sora menggelengkan kepalanya. "Aku hanya merasa familiar dengan pemandangan ini. Apakah mungkin aku sering melihatnya dulu?"
Senyuman muncul di bibir Riku. "Ketika kau kecil."
"Oh."
Sora menunduk ketika mendengarnya. Masa kecil. Dia tidak memiliki memori ketika dia kecil. Memori Sora dimulai ketika dia berumur 14 tahun. Dia merasa sedih karena tidak mengerti kata-kata Riku. Sora bertanya-tanya pada dirinya, seperti apakah masa kecilnya?
Riku mengelus kepalanya. Dia menyadari kesedihan Sora. "Saat ini adalah masa kecilmu juga."
Kesedihan Sora menghilang. Kata-kata Riku sangat menghiburnya. Sora tersenyum dan membalas, "ya."
"Mari kita menemui Cloud. Dia berada di sebuah tempat yang tidak terkena sinar matahari."
"Di mana?"
"Di hutan."
Keduanya berjalan menuju sebuah hutan. Hutan yang rimbun dan sejuk. Sora sangat menyukai hawa sejuk dan segar tersebut. Sangat jarang sekali Sora dapat merasakan bersihnya udara seperti di hutan ini. Baginya, kota terlalu berpolusi dan sangat banyak bau asap. Entah itu asap kendaraan, asap pembakaran, atau asap rokok. Intinya, Sora tidak menyukai asap.
"Segarnya," komentar Sora dengan senyuman. Dia terlihat menarik napas sedalam-dalamnya.
"Harus kuakui, hutan ini bebas polusi."
"Tetapi tempat ini menjadi tempat pembantaian half blood vampire terbanyak," kata seorang lelaki blond, Cloud.
"Ayah!" Sora langsung tersenyum melihat Sang Ayah.
"Apa kabarmu, Sora?" Cloud memutuskan untuk berbasa-basi sedikit sebelum melanjutkan penjelasannya.
"Baik!" Cengiran lebar terlihat di wajah Sora.
"Di mana Roxas?"
"Um, Riku memberinya misi di Twilight Town. Jadi dia tidak ikut kita."
Cloud mengangguk dan menatapi Riku. Dia berniat melanjutkan penjelasannya. "Hampir sebagian besar half blood yang terbunuh dibunuh di sini. Mereka dibunuh ketika tengah mencari darah hewan. Mereka juga memburu pure vampire. Hampir sebagian besar vampire yang dibunuh merupakan vampire vegetarian."
"Apakah di sini tidak ada yang menjual darah sintetik?" tanya Riku.
Sora menatapi Riku. "Darah sintetik?"
"Darah yang selama ini kubelikan di bar milik Axel. Rasanya mirip seperti darah meski tidak tercium bau darah, bukan?"
"Ah," Sora langsung teringat akan darah yang sering diminumnya saat berkunjung ke bar. Darah di sana memang tidak memiliki bau menyengat seperti bau darah manusia, hewan, vampire, ataupun werewolf.
"Belum. Saat ini, tidak ada yang menjual darah sintetik di sini. Darah sintetik masih dalam tahap percobaan. Penjualan darah sintetik baru diperluas jika mendapat respon positif dari vampire. Sayangnya, karena aroma darah sintetik tidak terlalu menggiurkan, masih banyak vampire yang mencari darah manusia atau hewan," jelas Cloud.
Sora mengangguk. Setuju dengan perkataan Cloud. Meski rasa darah sintetik sama, tapi Sora mudah kehilangan nafsu saat meminumnya. Tidak ada bau yang menggiurkan membuat nafsu makan Sora menurun. Cloud juga merasakan hal yang sama. Tetapi dia tidak mengeluh. Berbeda dengan Sora yang selalu mengeluhkan soal tidak adanya aroma pada darah sintetik.
Riku menghela napas. "Sudah cukup banyak dana yang terkuras untuk pembuatan darah sintetik, dan hasilnya masih kurang memuaskan hingga sekarang."
"Mungkin ada baiknya diberi aroma tambahan?" saran Sora.
Cloud dan Riku langsung menatapinya. Sora pun bersikap canggung karena mendadak ditatapi.
"Err…. Ada yang salah?"
"Mungkin pendapat Sora bisa dipertimbangkan," kata Riku sambil menatap Cloud.
Cloud mengangguk. "Kembali ke topik utama. Slayer yang sering menyerang half blood ada sekitar empat hingga lima orang. Jumlahnya tidak menentu karena ada satu slayer yang sering keluar-masuk Destiny Island. Ketika kuselidiki tentang slayer yang sering keluar-masuk, slayer tersebut bertugas melaporkan tugas mereka pada pemimpin mereka. Setiap satu half blood yang terbunuh, maka mereka akan segera melapor."
"Dan jika pelapor tersebut mendadak menghilang selama beberapa minggu, ada kemungkinan pemimpin slayer memerintahkan slayer lain untuk datang kesini," kata Riku sambil memegang dagunya. Dia sudah menangkap inti pembicaraan yang ingin Cloud sampaikan.
"Ya. Tiada akhir. Mereka akan terus berdatangan jika rekan mereka terbunuh. Harus ada satu orang yang bertugas mengontrol slayer di sini."
"Tidak semudah itu mencari orang yang mau bekerja terus-menerus di sini."
"Aku tahu. Tapi dia tidak perlu berada di Destiny Island terus-menerus. Cukup mendatangi tempat ini sesekali dalam beberapa hari. Sekedar memastikan tidak ada pembunuhan terhadap half blood."
"Bisa juga. Aku akan mencari hunter atau werewolf yang mau menjalankan tugas itu. Saat ini, kita harus terfokus pada penangkapan slayer."
Sora terdiam sambil menyimak pembicaraan Cloud dan Riku. Dia kesulitan untuk mengikuti pembicaraan rumit ini. Dia sampai menguras otaknya agar dapat mengerti semua yang dibicarakan oleh keduanya. Sora merasa lelah mengikuti pembicaraan—tepatnya tidak sanggup.
"Ayah, Riku, kurasa aku akan jalan-jalan saja ketika kalian berdua berbicara. Kepalaku serasa mau meledak mendengar kalian berbicara."
Riku dan Cloud langsung mengangguk. Riku terlihat tertawa kecil melihat Sora memegangi dahinya karena tidak mengerti. Sora pun menjelajahi hutan, meninggalkan Riku dan Cloud. Di saat Sora asik memperhatikan pepohonan dan tanaman yang tumbuh di hutan, seorang slayer mengawasinya dari kejauhan.
"Tidak apa-apa membiarkan Sora sendirian?" tanya Riku sambil menatapi Sora yang telah berada jauh dari mereka. "Aku mencium bau slayer."
"Aku tahu. Aku juga menciumnya. Mereka tidak akan menyerang, hanya mengawasi saja. Slayer yang bertugas di sini bergerak sangat berhati-hati. Penyusunan strategi mereka sangat baik. Maka dari itu jejak mereka tidak dapat ditemukan oleh polisi. Sayangnya, mereka tidak bisa menghilangkan jejak darah."
"Kau sudah menemukan tempat tinggal mereka?"
"Sudah. Mereka sengaja berbaur dengan penduduk untuk memudahkan pencarian."
"Tidak heran pembunuhan sering terjadi." Riku terlihat menggigit bibirnya setelah mengatakannya.
"Ya. Malam ini, mereka merencanakan pembunuhan lagi. Dan kita akan menghentikan mereka."
Riku mengangguk.
Sora memanjat pohon yang cukup tinggi, lalu duduk di dahan yang kokoh. Dari atas sana, dia dapat melihat pemandangan laut yang indah. Sora tersenyum melihat horizon. Langit yang jernih dengan sedikit awan. Burung-burung beterbangan di atas laut. Dan pantulan sinar matahari dari laut. Sora ingin mengabadikan pemandangan tersebut di dalam hatinya.
"Sora, apa yang kau lakukan di atas sana?" tanya Riku yang berada di bawah. Dia terlihat sendirian.
"Ayo ke atas, Riku! Indah sekali pemandangan dari sini!"
Tidak sampai sepuluh detik, dengan mudahnya Riku mencapai tempat Sora berada. Riku melompati pohon ke pohon. Tidak heran dia cepat. Werewolf sangatlah gesit dan lincah dalam bergerak.
Sora menunjuk ke arah laut. Riku tersenyum melihat pemandangan yang Sora maksud. Harus diakuinya, pemandangan di atas sana memang indah.
Keduanya menghabiskan waktu di atas sana hingga sore hari.
~O.O~ TTvTT ~O.O~
Sora memakan makanannya dengan terburu-buru hingga tersedak.
"Sudah kukatakan agar pelan-pelan memakannya, Sora," kata Riku sambil memberikan sebotol air putih. Dia menghela napas.
"Ha-habisnya, jika tidak buru-buru, nanti kita terlambat," balas Sora setelah meneguk air beberapa kali.
"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin melihatmu tersiksa seperti ini. Jika makananmu belum habis, kau bisa menyusul belakangan."
"Tapi tidak seru jika aku ketinggalan pertarungan," balas Sora dengan wajah cembetut. "Mengapa kau tidak makan, Riku? Biasanya kau ikut makan jika aku makan?"
"Aku tidak lapar."
Tepatnya, Riku masih merasa kenyang. Pencernaan werewolf lebih lambat dari manusia normal. Umumnya, werewolf hanya makan antara dua hingga empat hari sekali. Tapi Riku mengusahakan agar makan setiap hari, meski dia makan dalam porsi kecil.
Sora memukul dadanya dengan pelan beberapa kali. Dia merasa sesak karena menelan makanan dalam jumlah banyak. Dia segera meneguk air lagi beberapa kali dan merasa lega ketika rasa sesaknya menghilang. Sora menyeka mulutnya yang basah.
"Di mana mereka akan beraksi?"
"Di hutan. Mereka sering memilih tempat itu karena tidak banyak orang—terutama polisi—yang berani memasuki hutan di malam hari. Mereka akan memancing half blood memasuki hutan dan membunuh mereka di sana."
Sora mengangguk mengerti. "Di mana Ayah?"
"Sedang mengawasi target mereka. Memastikan mereka tidak melukai targetnya."
Keduanya berjalan memasuki hutan yang gelap. Meski sangat gelap dan tidak terdapat pencahayaan selain cahaya bulan, keduanya masih dapat melihat dengan jelas. Riku berhenti sejenak untuk mengamati situasi. Sora memejamkan mata, mencoba melihat kejadian di masa depan.
Sora melihat, dua orang slayer berusaha menyesatkan seorang half blood. Dua slayer lagi bersiap membunuhnya, tapi Sora dan Riku datang tepat waktu dan menghentikan mereka. Kehadiran Sora dan Riku membuat kedua slayer terkejut. Sora berhenti melihat masa depan. Tanpa dilihatnya lebih lanjut, dia sudah tahu apa yang terjadi.
Riku menatapi Sora dan langsung mencubit kedua pipinya. "Focus Sora." Dia terlihat kesal karena Sora tidak membantunya melihat situasi.
"Iya~," balas Sora. Masih dengan pipi yang dicubit.
Sora langsung memegangi pipinya yang memerah ketika Riku melepaskannya. Mendadak, Riku berlari meninggalkan Sora. Sora pun panik melihat Riku mendadak meninggalkannya. Maka dia segera menyusulnya. Tapi Riku terlalu cepat sehingga dia semakin tertinggal.
Ketika sudah kehilangan jejak Riku, Sora berhenti dan menarik napas sedalam-dalamnya. Sora memperhatikan sekelilingnya. Dia tahu posisinya berada saat ini. Tempatnya berdiri saat ini adalah salah satu tempat yang membuat seorang half blood—yang diincar oleh para slayer—tersesat. Sora yakin terdapat alasan mengapa Riku meninggalkannya mendadak. Sora berjalan menuju tempat di mana dia melihat dirinya dan Riku akan menolong half blood yang diincar.
Samar-samar, Sora merasa terdapat seseorang di sekitarnya. Orang tersebut belum menyadari kehadirannya karena dia tidak waspada. Slayer. Begitulah yang Sora duga. Sora memutuskan untuk mencari sebuah tempat yang memudahkannya untuk menangkis serangan slayer yang akan menyerang nanti. Tempat yang Sora pilih sama persis seperti yang dilihatnya di masa depan. Semak-semak tinggi dan lebat. Sora menghela napas. Seharusnya Riku bersamanya, seperti yang dilihatnya di masa depan.
"Man, kemana kau pergi, Riku," bisik Sora dengan nada kecil.
"Aku hanya pergi sebentar, Sora," bisik seseorang di belakangnya.
Sora ingin berteriak saking kagetnya. Tapi dia memegangi mulutnya seerat mungkin agar posisinya tidak diketahui musuh. Jantungnya berdebar-debar melihat Riku berada tepat di sampingnya.
"Kau darimana?" bisik Sora dengan nada heran setelah detak jantungnya mulai tenang.
"Menemui Cloud. Kudengar dia memanggilku, maka dari itu aku bergegas menemuinya."
"Apa yang Ayah katakan?"
"Jumlah slayer yang menyerang malam ini. Jumlah pastinya ada lima orang. Tapi satu slayer tidak ikut masuk ke dalam hutan, hanya membantu membawa target mereka ke hutan. Sehingga dia akan dibereskan oleh Cloud."
"Dan posisi target mereka saat ini?"
"Sedang berlari menuju tempat kita saat ini. Aku dapat mencium bau target mereka. Semakin dekat. Tinggal 20 meter lagi."
Maka keduanya menunggu hingga target slayer mendekati mereka. Sora dan Riku dapat mendengar hembusan napasnya yang tidak karuan karena ketakutan. 5 meter lagi. Sora dan Riku sudah berancang-ancang melompat keluar dan menolongnya. Keduanya menunggu dua slayer sisanya keluar. Dua slayer yang menunggu di tempat yang sama terlihat berada di atas pohon. Riku sudah memberitahukan Sora slayer manakah yang harus ditanganinya.
"Sekarang!" perintah Riku.
Ketika keduanya keluar, Sora langsung menangkis dua serangan dari slayer yang melompat turun dari pohon. Sedangkan Riku, dia menyerang dua slayer yang mengejar target mereka. Seperti yang Sora lihat, slayer yang Sora tangani terkejut. Sora langsung memukul salah satu slayer hingga terlempar cukup jauh, lalu menyerang slayer yang satunya lagi. Riku terlihat menyerang kedua slayer yang ditanganinya dengan gesit dan tidak memberikan mereka kesempatan sekalipun.
Tebasan demi tebasan melukai slayer yang Sora serang. Dia harus segera melumpuhkan slayer tersebut sebelum slayer yang lain kembali menyerangnya lagi. Riku yang paling cepat melumpuhkan slayer yang diserangnya. Hanya dengan tiga serangan untuk masing-masing slayer, kedua slayer tersebut langsung rubuh dan tidak bergerak. Tugas Riku selesai.
Sora berhasil mengalahkan satu slayer. Tepat bersama dengan kalahnya slayer tersebut, slayer lain terlihat marah melihat ketiga temannya kalah dan langsung menyerang Sora. Sesaat sebelum Sora menangkis serangan slayer tersebut, Sora melihat bayangan dirinya—dalam wujud anak kecil—berjalan melintas sambil menggenggam tangan seorang wanita yang terlihat tersenyum lembut padanya. Focus Sora pun tertuju pada bayangan tersebut dan serangan slayer tersebut berhasil mengenainya yang sedang lengah. Tubuh Sora tersabet pedang hingga mengeluarkan darah dalam jumlah yang cukup banyak. Sora pun langsung melangkah mundur dan Riku terlihat menyerang slayer tersebut ketika Sora menjauh.
"Ugh…" Sora terduduk dan meringis sambil memegangi lukanya. Luka Sora terlihat sembuh dengan perlahan dan aliran darahnya telah berhenti. Sora menghela napas lega setelah lukanya sembuh total.
Tubuh Sora mempunyai kemampuan pemulihan diri yang sangat cepat. Kemampuan ini juga dimiliki oleh pure vampire. Luka apapun yang diterima, maka luka tersebut dapat pulih dengan cepat dalam hitungan detik. Tergantung seberapa besar luka tersebut. Hanya saja, kemampuan ini termasuk merugikan karena mengisap banyak darah di dalam tubuh pure vampire maupun half blood untuk mempercepat pemulihan luka. Jika seandainya pure vampire kehabisan darah karena kemampuan ini, maka mereka akan kehilangan kontrol akibat rasa haus yang menguasai. Sedangkan half blood, kemampuan ini cukup membahayakan karena mereka dapat mati kehabisan darah.
Riku terlihat berjalan mendekati Sora. "Apa yang membuatmu lengah? Sepertinya, tadi ada yang mengalihkan perhatianmu."
Riku mengulurkan tangannya dan Sora meraihnya. Riku menariknya bangun.
Sora menatapi pakaiannya yang kotor sejenak, lalu menjawab, "tadi aku melihat sebuah bayangan. Seperti ilusi."
"Apa yang kau lihat?"
"Bayanganku ketika masih kecil dan seorang wanita yang tersenyum lembut bagaikan salju. Entah mengapa aku merasa mengenalnya."
"Apakah dia memiliki rambut cokelat panjang?"
"Yap! Bagaimana kau bisa tahu?" Sora terlihat heran.
Riku tersenyum. "Karena dia ibumu."
"Ibuku?" Sora mencoba mengingat bayangan tadi sekali lagi. "Tapi mengapa aku melihat ilusinya?" Sora menyilangkan tangannya. Dia bingung.
"Aku tidak tahu. Yang pasti, Destiny Island adalah tempat tinggal Sora yang dulu bersama ibunya."
"Oh."
"Maaf…" Pemuda half blood yang dikejar-kejar tadi terlihat mendekati Sora dan Riku. "Terima kasih banyak sudah menolongku." Dia membungkuk pada keduanya.
Sora menatapi Riku. Riku terlihat tersenyum.
"Sama-sama," balas Sora dengan cengiran. "Ah, aku sampai lupa. Kau baik-baik saja? Apakah kau terluka ketika mereka mengejarmu?"
"Tidak," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Bagaimana dengan Anda?" Dia menatapi tubuh Sora dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa." Sora terlihat tersenyum.
Riku ikut tersenyum juga. "Saatnya kita keluar dari hutan."
Ketiganya berjalan keluar dari hutan. Di luar, Cloud terlihat menunggu ketiganya.
To be Continued…
Author Note: satu chapter selesai lagi on time! XD Thanks for reading! Jangan lupa review yah…
To a reviewer name KuroMaki RoXora: wkwkwkwk! Sora kan anak manja, jadinya minta disuapin! (PLAK!)
Wwkwkkwkw! Kalau Sora disuruh cuci2, dijamin kagak akan pernah bersih. Lol.
Iyah, makasih sudah baca! X3
