Matchmaking

Pair:: MyungYeol and other

Rated:: T

Genre:: Humor and romance

Warn:: BL, Yaoi

Author:: Hiwatari NiwaDark Lawliet

Annyeong~! Author's back! *teriak2* #plakk

Mian, author updatenya lama yah? ._." Maaf ya, soalnya akhir2 ini rada sibuk, jadi gak sempat buat ngetik. -_- *alesan* #DOR

Oke, langsung lanjut aja deh. ^^

Enjoy~!

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Sungyeol kini tengah mengetuk-ketukkan pensilnya ke kepalanya seraya mengamati dalam-dalam kalender kecil yang tengah ia pegang. Ia tengah duduk di meja belajar yang ada di kamar luasnya ini, memikirkan sesuatu yang terlihat rumit baginya.

"Besok…" gumamnya. Ia mengamati tanggal 24 yang terlingkar dengan pena bertinta biru di kalender itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia menghela napasnya yang kemudian mengusap wajahnya yang terlihat lelah. 'Kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa harus aku? Dan kenapa perjodohan ini harus ada?' pikir namja manis itu.

Dengan malas, Sungyeol beranjak dari kursinya dan menjatuhkan dirinya di atas kasur empuknya. Ia memeluk boneka bebeknya seraya menatap langit-langit kamarnya.

Tes…

Setetes air meluncur dari sudut mata Sungyeol dan jatuh mengalir mengenai telinganya. Ia mengusap mata kanannya yang berair. "Kenapa aku menangis?" gumamnya pelan. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan panjang.

'Selama aku di sekolah, SMA maupun SMP, aku selalu ditolak oleh perempuan yang kusuka, selalu mengalami yang namanya patah hati. Tapi kemudian aku yakin, mungkin ini bukan saatnya aku menemukan pendamping hidupku, mungkin saja saat aku kuliah atau saat aku telah bekerja aku akan menemukan dan mendapatkan wanita yang sangat kucintai. Tapi… kenapa malah jadi seperti ini?' batin Sungyeol yang kembali mengusap matanya yang berair.

"Kenapa…? Wae…? Hu-HUWAAAAA! KENAPA MEREKA JAHAT SEKALI MENGHANCURKAN IMPIANKUUU?!" rengek Sungyeol yang berteriak seraya menutup wajahnya dengan bonekanya.

"HUWAAAA! DAN KENAPA HARUS DENGAN SEORANG PRIA? KENAPA HARUS DENGAN MAYAT DINGIN ITU?! KENAPAA?" Sungyeol menangis berteriak seraya berlutut di depan kasurnya dengan sangat damatis, air mata yang terus mengalir seraya menahan air ingusnya untuk tidak mengalir keluar.

"HIKK! HUWAAA-" BUKK!

Sungyeol mengernyit kesal dan menghentikan kegiatannya, ia menoleh ke belakang dan menemukan adik kesayangannya tengah menatapnya. "Kau bukan hyungku, kau orang gila." Ujar Sungjong langsung. Sungyeol mengembungkan pipinya dengan kesal lalu beranjak dari posisi berlututnya. Ia memperbaiki kuciran poninya yang sedikit berantakan. "Iya, aku sudah mulai gila. Dan besok, aku akan resmi gila." Jawab Sungyeol dengan kesal. Namja manis itu mengusap wajahnya yang kusut.

"Haaahh…" hela Sungjong. Ia berjalan masuk ke kamar Sungyeol dan duduk di samping hyungnya itu. "Tradisinya, calon pengantin yang akan menikah itu tidak boleh saling bertemu satu sama lain sehari sebelum hari pernikahannya (menurut tradisi China, saya tak tahu apakah tradisinya sama dengan Korea -_- #plakkk), yang kemudian mereka akan saling bertemu di atas tahta di depan pendeta. Mengikat janji untuk bersama selamanya, entah itu di saat sedih maupun senang. Menerima pasangan masing-masing apa adanya, mencintai semua yang ada pada pasangan mereka." Sungjong mengucapkan kalimat itu dengan makna tersembunyi yang tidak dimengerti Sungyeol.

"Lalu?" tanya anak kedua dari keluarga Lee. Sungjong tersenyum seraya menatap hyungnya yang manis itu. "Mungkin awalnya hyung akan menginjak tahta dan mengikat janji tanpa ada rasa kebahagiaan dan hanya rasa tidak suka dan benci di hati hyung, tapi apa kau tahu, Hyung? Mengikat janji pernikahan di depan Tuhan dengan perasaan tidak tulus dan benci satu sama lain adalah hal yang pantang bagi-Nya, jadi bisa saja Tuhan menghukum kalian dan membuat kalian jadi mencintai satu sama lain." ujar Sungjong panjang lebar dengan cengirannya sebelum akhirnya berlari keluar dari kamar Sungyeol sebelum ia mendapatkan kepalan tangan hyung imutnya itu.

"YAA! Itu tidak akan terjadi! Huh!" kesal Sungyeol yang membaringkan dirinya kemudian memeluk bonekanya dengan sangat erat. 'Mencintainya, eoh? Huh! Yang benar saja? Tidak akan! Tunggu hingga dunia mengatakan bahwa babi bisa terbang, maka aku akan mencoba mencintainya! Uhh!' Namja tinggi itu menarik selimutnya dan mencoba untuk masuk ke dunia mimpi, berusaha melupakan kata-kata menyebalkan yang dikeluarkan adiknya tadi.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Sungyeol menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan datar. Ia melihat dirinya yang tengah duduk di depan meja rias, telah siap dengan dandanannya dan menunggu hingga acara dimulai dan ia dipanggil keluar. Ia melihat dirinya yang tengah memakai gaun yang berwarna putih pada bagian atasnya dan berwarna hitam pada bagian gaun bawahnya, two-tones dress, dengan make up yang terlihat natural dan manis di wajahnya, sebuket bunga, high heels, oh! Dan jangan lupakan wig panjang bergelombang yang tengah ia pakai di kepalanya.

Cantik, manis. Dua kata itu cukup untuk mendeskripsikan keadaan Sungyeol saat ini yang bagi Sungyeol sendiri adalah sebuah malapetaka, musibah, dan menghancurkan harga dirinya sebagai seorang pria. Bencana! QAQ

"Errhh…" Sungyeol menggaruk kepalanya. 'Wig ini gatal dan sangat tidak nyaman, rasanya ingin membuang wig menyebalkan ini ke wajah si mayat hidup itu!' pikir Sungyeol kesal seraya mendecih pelan.

"Yeollie~ How beautiful you are~!" seorang wanita paruh baya kini masuk ke ruangan yang tengah ditempati oleh Sungyeol dan merangkul bahu anaknya, ya nyonya Lee, Yeol's mother.

"Orang tua macam apa yang mengatai putranya itu cantik?" gumam Sungyeol.

"A-Aww!" Nyonya Lee tersenyum kesal seraya menjitak kening mulus putra keduanya itu.

"Ready?" tanya Hoya yang merangkul bahu bagian lain Sungyeol dan melihat ke pantulan cermin yang ada di depannya. Sungyeol hanya menghela napasnya sebagai jawabannya.
"Haigoo! Lemas sekali, huh, hyungku yang cantik? Semangat, dong! Sebentar lagi kau akan saling berhadapan dengan namja super tampan di dunia, Kim Myungsoo. Saling mengaitkan cincin satu sama lain, menatap mata satu sama lain dengan sangat mendalam, dan kemudian melalui kissing session, awww~ How romantic!" ujar Sungjong menggoda Sungyeol.

Sungyeol terlihat bergidik ngeri membayangkan perkataan Sungjong. "ARRGGH! Batalkan pernikahan iniii! Batalkann!" teriak Sungyeol seraya membanting buket bunganya ke meja rias dan berdiri dari duduknya. Nyonya Lee menahan kepala Sungyeol dan menekannya ke bawah, menyuruh putra ke duanya itu untuk kembali duduk dan dengan santainya wanita cantik dan manis itu menyandarkan lengannya di pundak Sungyeol.

"Hei! Hei! C'mon, Honey~ Jangan hiraukan omongan si cumi-cumi itu, dia hanya menggodamu saja," Ujar nyonya Lee. Sungjong memajukan bibirnya mendengar panggilan menyebalkan yang diberikan oleh ibunya untuknya. "Acara pernikahan itu sangat menyenangkan~! Dunia terasa berbunga-bunga, rasanya milik dunia berdua, bahagia~" Sungyeol mencibir mendengar perkataan eommanya.

Ia menghela napasnya, sama sekali tidak ada harapan untuk membatalkan pernikahan ini. Bahkan ayahnya sendiri, tuan Lee, hanya tersenyum manis melihat putra keduanya berdandanan seperti ini. 'Haahhh, inikah yang dinamakan takdir?'

.

.

"Apa? Jangan memandangku dengan pandangan seperti itu, cih!" kesal Myungsoo melihat sepupunya yang tersenyum mengejek melihatnya memakai setelan blazer pengantin ini. "Aku hanya penasaran saja, siapa yang dengan sangat tidak beruntungnya harus menikah dengan namja sepertimu. Kasihan sekali orang itu…" ujarnya dengan nada mengejek.

Myungsoo balas dengan seringai di bibir tipisnya. "Yang penting dia beruntung karena mendapatkan namja tampan sepertiku, bukan namja jelek dan sok keren sepertimu, Ljoe." Ujar Myungsoo cuek seraya memperbaiki dasinya.

Sepupu Myungsoo –Ljoe juga ikut menyeringai, ia mengusap rambut two-tones blonde merahnya. "Aku tidak mungkin dicap sebagai flower prince di sekolah kalau aku tidak tampan dan charming, tuan muda Kim Myungsoo." Ujar Ljoe dengan seringai di wajah tampannya dan nada bangganya. Myungsoo menghela napas muak melihat kePeDe-an adik sepupunya itu.

"Sudah, aku lelah melihat wajahmu. Otakku akan bertambah keriting jika terus-terusan melihat wajahmu." Ujar namja bermata elang itu dengan nada datarnya. Ljoe memutar kedua bola matanya. "Whatever." Ia beranjak dari samping meja rias menuju ke kursi sofa dan mendudukkan dirinya di sofa empuk itu.

"Masalah pernikahan ini, kenapa kau menerimanya? Apa kau senang dengan perjodohan ini?" tanya Ljoe penasaran. Myungsoo menghela napasnya. "Aku sudah menolak dan membantah beratus-ratus kali, dan kau tahu 'kan? Keputusan orang tuaku itu tidak bisa diubah, terlebih lagi ini amanat dari kakek dan nenek. Dan apa kau tahu? Aku diancam akan dikubur hidup-hidup oleh Sunggyu hyung jika aku ribut lagi dan terus membantah." Adu Myungsoo.

Ljoe menghela napasnya dengan berat. "Haiihh, Sunggyu hyung? Jika si nenek sihir itu sudah mengeluarkan ancaman seperti itu, dunia terasa seperti alam baka, mau tidak mau kau harus melakukan perintahnya jika tidak ingin menelan bulat-bulat batu-bata yang dilemparnya. Mengerikan." Ujar Ljoe yang bergidik mengingat Sunggyu yang jika sedang marah.

"Kalau kau tidak ingin itu terjadi padamu, maka tutuplah mulutmu, Ljoe." Ljoe tersentak kaget mendengar suara Sunggyu tepat di belakangnya. "E-eh? Hahaha… Sunggyu hyung, kau sungguh tampan dengan blazer itu. Tampan, tampan!" Sunggyu memicingkan matanya. "Diam." Ljoe hanya mendecih kesal dan memajukan bibirnya.

"Go! Acara sudah dimulai. Bersiap-siaplah sebelum dipanggil keluar." Ujar Sunggyu menepuk bahu Myungsoo. Myungsoo menarik napasnya dalam-dalam yang kemudian menghembuskannya dengan berat. 'Kehancuran telah dimulai.'

"Ayo, kita keluar, Ljoe." Sunggyu menarik kerah belakang jas Ljoe dan menyeret sepupunya yang pemalas itu keluar dari ruang hias.

Myungsoo menatap cermin di depannya, mengibaskan poninya ke samping dan memicingkan mata elangnya yang menusuk. "Let's start all of this damn destiny."

.

.

.

Myungsoo mengalihkan pandangan mata tajamnya ke arah Sungyeol yang tengah berjalan menuju altar yang didampingi oleh ayahnya, calon ayah mertua Myungsoo. Oke, Myungsoo sedikit terpukau dengan namja tinggi dan manis yang tengah berjalan dengan elegannya ke arah altar, ke arahnya. Kaki panjanga dan putih itu, gaun yang indah, rambut yang panjang bergelombang indah itu, wajah manis senatural wajah perempuan, dan badan ramping itu. Semuanya.

Tapi…

'Wake up! Bangun! Sadar! Fisiknya menipu, enak dipandang, pahit dirasakan.' Batin Myungsoo yang mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia mengingat kejadian di mana ia dipukul, dijambak, diomeli, dan dijambak oleh Sungyeol.

Sang pendeta tersenyum kepada dua mempelai yang berada di depannya setelah Sungyeol telah tiba di depan altar, berdiri tepat di samping Myungsoo.

"Selamat pagi dan salam untuk semuanya."

"Pagi."

"Dengan menaiki altar ini, saudara Kim Myungsoo dengan saudara Lee Sungyeol, akan melaksanakan janji pengikatan pernikahan pada hari ini di depan saksi-saksi yang akan menyaksikan dan merestukan kebahagiaan yang hendak diraih oleh kedua mempelai." Ujar sang pendeta.

Sungyeol merasakan jantungnya berdegup kencang, gugup, kepalanya yang terasa gatal, kakinya yang pegal, perutnya yang sakit karena korset yang ia gunakan, pusing di kepala, perut mual, mata mulai berkunang-kunang, napas mulai memendek, dan sakit tenggorokan. Oke, Sungyeol, kau berlebihan. =_=

Sedangkan Myungsoo, ia mulai merasakan keringat dinginnya. Ini untuk pertama kalinya bagi mereka, terutama ini adalah hal yang menyangkut kehidupan mereka kedepannya, awal dari segalanya.

"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan pernikahan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing mengucapkan perjanjian nikah di bawah sumpah dengan menjawab pertanyaan saya. Kim Myungsoo, maukah anda menikah dengan Lee Sungyeol yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun duka, baik sehat maupun sakit, baik kaya maupun miskin?"

"Ya, saya mau." Jawab Myungsoo. Sungyeol melirik Myungsoo sekilas saat mendengar jawaban Myungsoo. 'Kenapa dia menjawab dengan sangat mudah? Aku sendiri rasanya butuh setengah abad untuk menjawab pertanyaan itu untukmu.' Pikir Sungyeol.

"… maupun miskin?"

"Saudara Lee Sungyeol?" panggil sang pendeta saat tidak mendapatkan jawaban dari mempelai –ehem-wanita. "Ah?" Sadar Sungyeol. "…Ya, saya bersedia." Ujarnya, tentunya dengan perasaan setengah-setengah karena memang pada awalnya ia tidak akan bersedia jika tidak terpaksa.

"Dengan ini, Kim Myungsoo dan Lee Sungyeol telah terikat oleh benang pernikahan satu sama lain di hadapan para saksi dan di bawah restu Tuhan. Saya persilahkan anda untuk mencium istri anda, saudara Kim Myungsoo."

"Heehh?" desis Sungyeol kaget. Ternyata apa yang dikatakan oleh Sungjong benar-benar terjadi di atas altar ini, dan bagian inilah yang paling tidak diharapkan oleh Sungyeol. Namja manis itu berharap dunia kiamat sekarang, segera dan secepatnya, sebelum namja setengah hidup itu menciumnya.

Myungsoo menghadap ke arah Sungyeol yang dengan ragu-ragu juga menghadap ke arahnya. Sungyeol menatap Myungsoo dengan pandangan tidak suka, sedangkan Myungsoo juga menatap tidak suka pada Sungyeol dan mencibirkan sedikit bibirnya.

Dengan terpaksa Myungsoo mendekatkan wajahnya ke arah Sungyeol, Sungyeol sendiri dengan sedikit kesulitan, sedikit menekukkan lututnya, untuk mensejajarkan tingginya dengan Myungsoo. Sudah tinggi, pakai high heels, lagi? waduhh... -_-

Myungsoo menyentuh dagu Sungyeol dan memiringkan kepalanya. Jarak wajah mereka kini sangatlah dekat, kurang lebih berjarak 3 centimeter. "Semoga tidak beracun." Gumam Myungsoo pelan. Urat berbentuk perempatan tampak menonjol di kening Sungyeol, kesal mendengar gumaman Myungsoo. Namja manis itu tampak tersentak sedikit saat merasakan bibir tipi situ menyentuh bibir tebalnya, menekan lebih lagi untuk memperdalam ciuman mereka. Hanya menempel satu sama lain. Sungyeol merasakan bibir yang dingin namun terasa lembut itu, ia pernah merasakan ini sebelumnya. Dejavu? Second kiss?

Myungsoo menjauhkan wajahnya sedikit dan memisahkan bibir mereka, masih dengan jarak yang sangat dekat, Myungsoo membuka matanya yang semula tertutup, menatap dalam mata Sungyeol sejenak sebelum akhirnya benar-benar menjauhkan jarak mereka dan kembali menghadap ke arah pendeta.

Sungyeol mengernyitkan keningnya. 'Kenapa jantungku berdegup sangat kencang hanya karena ciuman itu? Apa mungkin karena kami melakukannya di depan banyak orang?'

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Myungsoo menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk barunya. Yeah, kasur baru, kamar baru, dan RUMAH baru. Ya, ini rumah pemberian orang tua mereka. Rumah minimalis namun elegan.

Sungyeol mendengus yang kemudian berjalan mendekati Myungsoo. Ia mengangkat gaunnya hingga sebatas paha dan menaikkan sebelah kaki kanannya ke atas tempat tidur, menginjak pinggang Myungsoo lalu menendang-nendang pinggang Myungsoo.

"Oi! Bangun! Dengan enaknya kau masuk ke kamar langsung tidur seperti itu? Bereskan barang-barangmu! Bersihkan dirimu! Mandi! Ganti baju! Dasar pemalas!" omel Sungyeol. Moodnya sedang buruk sekarang, kepalanya terasa sangat penat. Ia baru saja menerima berbagai godaan dari teman-temannya, keluarganya maupun saudaranya. Yang baru nikah, ni ye~

Kepalanya semakin penat dan sakit saat melihat barang-barang Myungsoo yang berantakan di sekitar kamar mereka. Semua itu barang-barang Myungsoo yang baru ia bawa dari rumahnya, sedangkan barang Sungyeol memang sudah diangkut dan disimpan di rumah baru ini kemarin.

"WOI! BANGUNNN! Kau dengar tidak, sih?!" teriak Sungyeol dengan kesal. Menurunkan sebelah kakinya dan menatap Myungsoo dengan tajam.

"Ck!" Myungsoo berdecak kesal, ia mendudukkan dirinya dan menatap Sungyeol dengan kesal. "Berisik! Urus dirimu sendiri!"

Sungyeol membelalakkan matanya, menarik napasnya dalam-dalam, kesal dengan sikap Myungsoo.

"Huh!" kesal Sungyeol. Ia membalikkan badannya dan masuk ke kamar mandi dengan langkah yang dihentak-hentakkan lalu membanting pintu kamar mandi.

"Cih! Sudah berbaik hati perduli padanya, menyuruhnya untuk mandi duluan dan membersihkan diri, kenapa aku malah dimarahi?! Hah?! Aku sudah berusaha mencoba berperan sebagai istri yang perduli, kau malah membalasku seperti itu?! Awas kau! Aku tak akan bersikap baik lagi padamu!" omel Sungyeol seraya menunjuk-nunjuk ke arah pintu kamar mandi dengan kesal, seolah omelan dan amarahnya menembus dari pintu kamar mandi itu dan mengena ke Myungsoo.

Ia mendengus kesal. Dengan kening yang berkerut, Sungyeol melepaskan wignya yang sangat mengganggu itu dan membuangnya ke sembarang arah. Ia menolehkan kepalanya ke arah belakang, berusaha untuk mencari ujung tali-tali yang mengikat gaunnya dan resleting gaunnya. Ia mencoba meraih-raih dan mencari-cari ujung talinya.

Sebenarnya gaun ini harus ada seseorang yang membantu Sungyeol melepaskannya, namun karena kesal yang sudah memuncak, namja berpipi chubby itu tidak butuh bantuan –ehem-suaminya itu lagi, ia bisa melakukannya sendiri. Setelah dengan susah payah Sungyeol berhasil melepaskan tali yang berbelit-belit di gaun bagian pinggang dan punggungnya, ia berusaha meraih resletingnya.

Ziiiipp~

Namja manis itu berhasil menurunkan resleting gaunnya dan mulai menurunkan bagian lengan kanan gaunnya.

"Sungyeol, apa kau bisa membuka gaunmu?" tanya Myungsoo yang tiba-tiba membuka pintu kamar mandi. Sungyeol menghentikan menoleh ke arah Myungsoo yang tengah memandangi punggung dan pundak putih mulus milik Sungyeol. Lagi-lagi terlihat urat kesal di kening Sungyeol.

"Kau telat, babo… Kau tidak lihat aku sudah berhasil melepaskan gaun ini?" desis Sungyeol. "Keluar! Aku tidak butuh bantuan, Pervert!"

BAK BUK BAK BRUGHH!

Myungsoo menatap cengo ke arah pintu yang baru saja ia tutup dengan cepat. Kalau saja ia telat menutup pintu ini barang sedetik, mungkin saja botol-botol sampo, sabun dan sebagainya yang dilempar oleh Sungyeol tadi akan melayang tepat di wajah tampannya.

"Ada apa dengan namja itu? Dasar aneh…" gumam Myungsoo yang tidak perduli, kemudian memutuskan beranjak untuk membereskan seluruh barang-barangnya yang berantakan.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Sungyeol dan Myungsoo yang tengah duduk di meja makan dengan saling berhadapan hanya terdiam memandangi makanan yang ada di depan mereka, makan malam yang dimasak oleh Sungyeol.

"Mmmm…" gumam Myungsoo yang menggigit sumpitnya seraya memandangi makanan yang ada di atas meja itu, sayur kol tumis, sosis goreng, dan dua mangkuk nasi.

Sungyeol melirik ke arah Myungsoo sekilas. "Aku tidak terlalu bisa memasak. Kau tidak perlu memaksakan diri untuk memakannya." Ujarnya yang kemudian menyumpitkan sayur kol ke mangkuknya dan memakannya. Myungsoo mengambil mangkuknya dan sumpitnya, menyumpitkan sumpitnya ke satu sosis dan memasukkannya ke mulutnya, kemudian menyumpitkan kembali sumpitnya ke sayur kol dan memakannya dengan lahap beserta dengan nasinya.

Sungyeol menghentikan gerakannya dan mengamati Myungsoo dengan kening berkerut. "Kolnya keasinan dan sedikit berbau gosong," ujar Myungsoo yang masih melahap makanannya.

Sungyeol mencibir, "Kalau begitu tidak usah makan, 'kan sudah kubilang." Balas Sungyeol sewot.

"Setidaknya masih bisa dimakan dan tidak beracun." Balas Myungsoo dengan nada datar. Sungyeol mendecih kesal. Ingin rasanya ia menyucukkan sumpitnya ke hidung Myungsoo, menyebalkan.

"Besok-besok kupastikan akan menaruh racun di mangkuk nasimu." Desis Sungyeol pelan, menatap Myungsoo dengan tajam. Myungsoo yang mendengar desisan Sungyeol hanya menatap namja manis itu dan kemudian menunjukkan seringai mengejeknya sebelum akhirnya melanjutkan makan malamnya.

Ughh, Sungyeol benar-benar ingin melemparkan mangkuk nasi miliknya ini ke kepala Myungsoo. "Kita sudah resmi menikah," Myungsoo tiba-tiba mengeluarkan suaranya setelah cukup lama mereka terdiam dan menikmati makanan masing-masing,

"Bukan berarti kita boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Apapun hal yang sedang terjadi padaku ataupun urusan pribadiku, kau tidak boleh mencampuri urusanku. Begitupun sebaliknya, aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu." Sungyeol terdiam mendengar ucapan Myungsoo yang terdengar serius. Namja berpipi chubby itu kurang mengerti dengan apa yang dimaksud oleh namja tampan yang ada di depannya itu.

"Karena kita menikah bukan berdasarkan cinta, kita tidak memiliki hubungan apa-apa selain pernikahan yang dipaksakan, dan kita juga tidak terlalu saling mengenal satu sama lain. maka dari itu, di luar dari pantauan orang-orang yang mengetahui keadaan kita, bersikaplah seolah-olah kita tidak memiliki hubungan apa-apa."

Sungyeol terdiam mendengar perkataan Myungsoo yang terdengar datar dan dingin. Entah apa yang membuat namja berpostur tinggi itu merasa tidak nyaman dengan keputusan Myungsoo. Tidak memiliki hubungan apa-apa, menutupi pernikahan ini, tidak terlalu mengenal satu sama lain, dan… tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing?

'Ya, memang pada awalnya kita tidak saling kenal. Tapi, kalau seolah-olah tidak mengenal satu sama lain di luar sana. Heh! Aku tidak perduli apapun itu, karena memang semua perjodohan ini sangatlah menyebalkan dan menghancurkan masa depanku, dan aku membenci semua ini.' Batin Sungyeol.

'Ehh? Tapi, apa itu artinya…' Sungyeol menggenggam erat sumpitnya sesaat yang kemudian menghela napasnya dan kembali melanjutkan makannya, seolah tak terlalu mempermasalahkan keputusan Myungsoo.

"Oke, kalau memang itu keputusanmu, aku terima. Aku juga tidak ingin orang lain mengetahui hubungan aneh ini, terlebih dengan orang sepertimu." Ujar Sungyeol dengan santai dan cueknya, menikmati sosis gorengnya. Ia melirik Myungsoo yang juga dengan tampang datarnya kembali melanjutkan makannya.

'Apa itu artinya...'

'Dia tidak ingin mengakui keberadaanku?'

~TBC~

Fuahh~! Author minta maaf ya kalau updatenya lama *bow* author benar-benar sibuk akhir-akhir ini dan mengetik chapter ini saja rasanya benar-benar tidak sempat, memikirkan plotnya saja sudah mampet di otak yang penuh ini. -_-

Di sini author membuat sifat Sungyeol yang mulai plin-plan dan goyah, ia masih memiliki ego dan bencinya dengan perjodohan ini tapi dia juga tidak ingin tidak dianggap oleh Myungsoo di pernikahan ini. Ya, bayangkan saja, kalian membenci ini, dan kalian tidak ingin mengakui semua ini dengan ego yang tinggi. Tapi di sisi lain, kalian ingin tetap dianggap oleh suami kalian dan ingin menjalankan seolah-olah seperti suami-istri pada umumnya. Ya, begitulah singkatnya -_- Um, kira-kira mengerti? #krikkkriiik

Okedeh~ Akhir kata dari author…

Don't forget to Review (FFn)

and

RCL (FB), please~? ^^

Thanks~ *bow* m(_ _)man