Author Note: Wah, update lagi nih ^^ pas sekali di hari Halloween! Happy Halloween guys! Trick or treat! Give me a review or I will haunted you! LOL
balasan review ada di bawah! :)
The Half Blood 2 : Conflict Against Slayer
Chapter 4
Cloud yang menyandar pada batang pohon langsung menatapi mereka. Tatapan Cloud lebih tertuju pada badan Sora yang berlumuran darah. Darah Sora sendiri. Cloud menghela napas.
"Kurasa hutan ini memang bukan hutan biasa," kata Cloud sambil menatap ke atas. Melihat pepohonan yang tumbuh tinggi.
"Maksudmu?" Riku menaikkan sebelah alisnya. Merasa heran mendengarnya.
"Hutan ini terdapat magic power yang entah dari mana asalanya. Untuk kasus tertentu, ada beberapa orang yang pernah mengalami halusinasi di hutan ini. Halusinasi yang mereka lihat bukanlah sesuatu yang buruk, tapi seperti sebuah memori di masa lalu." Cloud menatapi Riku.
Mata Sora melebar. "Bagaimana Ayah tahu aku mengalami halusinasi di hutan?"
Cloud tersenyum. "Pendengaranku tajam, Sora."
"Ah! Kau benar," balas Sora sambil tertawa. Dia lupa bahwa Cloud mempunyai pendengaran yang tajam karena dia seorang vampire. "Kembali ke topik. Bagaimana bisa hutan ini terdapat magic power, Ayah?"
Cloud menatapi hutan ini dengan wajah sedih. Seakan-akan, terdapat hal sedih di tempat ini. "Mungkin karena mereka."
Sora memiringkan kepalanya. "Mereka?"
"Hutan ini, dulunya merupakan tempat tinggal para witch pada ribuan tahun lalu." Tatapan Cloud terkesan menerawang jauh sekali. "Ribuan tahun lalu, jumlah witch yang ada di dunia masih tergolong banyak. Tidak seperti sekarang. Langka dan hampir punah. Dulunya hutan ini dilindungi oleh semacam magic untuk mencegah manusia menemui witch. Meski manusia tidak bisa menemui witch karena magic tersebut, tapi vampire masih dapat menerobos pelindung magic tersebut."
"Bagaimana dengan werewolf?" sela Riku.
Cloud menatapi Riku. "Bisa. Hanya saja werewolf yang kuat saja yang dapat menerobos pelindung magic." Cloud menatapi Sora yang menanti kelanjutan penjelasan. "Sekitar 500 tahun lalu, jumlah witch berkurang sangat drastis karena disebabkan berbagai hal. Ada witch yang kehilangan kemampuannya karena jatuh cinta pada manusia. Ada juga witch yang meninggal karena terbunuh vampire. Ada juga yang pergi karena perselisihan clan. Yang paling banyak menurunkan populasi mereka adalah perselisihan clan. Itu sebabnya mereka memutuskan untuk pindah dari sini sebagai permulaan untuk memulai hidup tanpa adanya perselisihan."
"Jadi, darimana magic power hutan ini berasal?" Sora semakin bingung karena Cloud menjelaskan sejarahnya terlebih dahulu. Padahal Sora hanya ingin inti jawaban saja.
Cloud tersenyum melihat kebingungan Sora. "Dari hutan ini sendiri."
Sora terdiam. Dia tidak mengerti. Dahinya mengkerut dan dia memutuskan untuk tidak bertanya lebih dalam sebelum kepalanya berasap karena kebanyakan berpikir.
Riku hanya bisa tertawa kecil melihat Sora pusing. "Maksudnya, hutan ini terbuat dari magic. Hingga sekarang, magic power milik hutan ini masih tersisa hingga sekarang."
"Bagaimana kau bisa tahu?" Sora menatapi Riku dengan dahi mengkerut.
"Karena itu sejarah di Destiny Island," jawab orang yang mereka tolong.
Cloud, Riku, dan Sora langsung menatapinya. Mereka lupa akan keberadaannya.
"Ah, maaf kami mengacuhkanmu," kata Riku.
"Tidak apa-apa," balasnya sambil menggelengkan kepala.
"Ah, namamu adalah?" tanya Sora dengan senyum.
"Grey. Namaku Grey."
"Senang berkenalan denganmu, Grey!" balas Sora dengan senyum.
Grey mengangguk. "Maaf, tapi Apakah masih akan ada orang seperti mereka tadi yang masih mengincarku?" Dahinya mengkerut saat menanyakannya. Terdapat kecemasan yang sangat kuat dirasakan oleh Grey.
"Untuk mereka—slayer, aku tidak bisa menjamin bahwa mereka tidak akan berhenti menyerang half blood vampire –seperti kau—di Destiny Island," jawab Riku sambil menghela napas. Sebenarnya Riku juga cemas bahwa kejadian ini bukanlah akhir dari penyerangan slayer, tapi justru semakin memancing slayer untuk datang kemari.
"Begitu ya…" Grey menunduk sedih ketika mendengarnya.
"Jangan khawatir. Kami akan berusaha semampu kami untuk melindungi half blood di sini," kata Sora dengan lengan yang menyilang di belakang kepalanya. Terdapat keyakinan pada kata-kata Sora.
"Terima kasih," balas Grey dengan senyum.
"Okay. Saatnya mengantarmu pulang. Kau ingin ikut atau bersama Cloud, Sora?" Tanya Riku sambil menatapinya.
"Um, kurasa aku akan bersama Ayah."
Riku mengangguk. Dia dan Grey pergi meninggalkan Cloud dan Sora. Sora menatap ke dalam hutan. Samar-samar, dia melihat sosok seseorang. Seorang pemuda berambut hitam berjalan sendirian di dalam hutan. Dia berjalan semakin dalam ke dalam hutan.
"Sebaiknya kau tidak melihat ke hutan, Sora. Yang kau lihat saat ini bukanlah memorimu, melainkan memori Vanitas," tegur Cloud.
Sora tersadar dari lamunannya. "Bagaimana Ayah tahu aku sedang melihat ilusi di dalam hutan? Dan bagaimana Ayah bisa tahu kalau ilusi yang kulihat bukan dari memoriku?" Sora memiringkan kepalanya.
Cloud tidak menjawab. "Lebih baik kita segera kembali ke penginapan."
Sora menatapi Cloud dengan heran. Dia mengangkat bahu dan mengikuti Cloud tanpa berdebat. Cloud terlihat menghela napas ketika Sora menyusulnya. Cloud tahu apa yang Sora lihat karena dia melihat melalui pikiran Sora. Cloud mempunyai kemampuan membaca pikiran dan hingga kini, tidak ada yang mengetahui kemampuannya selain dirinya. Tapi tidak setiap saat dia dapat melihat pikiran seseorang. Dia baru dapat melihat pikiran seseorang jika dia memang ingin melihat.
Begitu tiba di penginapan, Sora langsung duduk di kasurnya dan menguap dengan mulut terbuka lebar. Dia merenggangkan tubuhnya yang pegal-pegal dan hendak berbaring.
"Bisakah kau mengganti bajumu terlebih dahulu sebelum kau tidur, Sora?" pinta Cloud.
Sora menatapi bajunya yang kotor berlumuran darah. "Aku lupa bawa baju ganti."
Cloud menghela napas. "Mandilah dulu dan aku akan mencarikan pakaian pengganti untukmu."
"Maaf merepotkan, Ayah." Sora menunduk. Dia merasa tidak enak sudah merepotkan Cloud.
Cloud mengangguk. Memakluminya. Sora adalah tipe yang santai dan tidak banyak persiapan ketika akan ke luar kota. Persiapan selalu dilakukan oleh Riku mau pun Roxas, sehingga Sora tidak perlu menyiapkan apa-apa. Tapi kali ini, sepertinya Riku mengira Roxas telah menyiapkan semua yang Sora perlukan selama berada di Destiny Island, sehingga hal kecil seperti ini terlupakan oleh Riku.
Cloud berjalan keluar. Saat hendak berjalan keluar dari penginapan, dia berpapasan dengan Riku yang telah selesai mengantar Grey pulang ke rumahnya.
"Kau akan pergi?" tanya Riku saat berpapasan dengan Cloud.
"Hanya ingin membelikan pakaian untuk Sora."
Riku membatu sejenak. "Ah, tidak heran aku merasa ada yang kurang."
Cloud tersenyum, lalu memegang bahu Riku. "Kau sudah berusaha bekerja semaksimalmu."
Cloud berjalan melewati Riku. Riku menatapi Cloud hingga dia menghilang ke dalam kegelapan. Bagi Riku, pujian Cloud tidak menghiburnya. Dia merasa dirinya masih kurang maksimal dalam bekerja. Tapi dia juga tahu, memaksakan diri juga bukan hal yang baik karena dapat memperbesar kesalahan. Dia tidak akan memaksakan dirinya untuk bekerja terlalu keras hingga lelah. Lelah akan menurunkan konsentrasinya dan membuat kinerjanya semakin buruk. Riku menghela napas dalam dan berjalan menuju kamar di mana dia dan Sora menginap.
Ketika masuk, Riku dapat mendengar suara Sora dari kamar mandi. Dia terdengar menyanyi sambil mandi. Dugaan Riku, Sora sengaja menyanyi cukup keras agar dia tidak tertidur ketika mandi. Riku pernah menemukannya tertidur di kamar mandi dalam posisi berdiri tegak tanpa bergoyang sedikit pun bagaikan patung.
Riku mengetuk pintu kamar mandi. "Jangan mandi terlalu lama, Sora. Nanti kau sakit."
"Yaaa~," balas Sora dengan nada sing song.
Beberapa menit kemudian, Sora keluar menggunakan handuk. Kebetulan Cloud telah datang beberapa saat sebelum Sora keluar, sehingga Sora bisa segera mengenakan pakaiannya dan langsung tidur.
"Night!" Sora langsung menyelimuti dirinya dan memejamkan matanya.
"Night," balas Riku dengan senyum.
Dalam hitungan detik, Sora langsung terlelap. Riku pun memutuskan untuk tidur. Sedangkan Cloud, dia memutuskan berkeliling Destiny Island. Hendak menyelidiki sesuatu.
Tangan Roxas terlihat berlumuran darah ketika pedangnya yang menembus tubuh seorang slayer. Dia menganyunkan pedangnya ke samping. Tubuh slayer tersebut terlempar dan membentur pohon dengan keras. Slayer tersebut adalah target ketiganya. Masih ada lima target lagi yang harus diburunya di Twilight Town. Roxas mengeluarkan kertas dari kantong celananya menggunakan tangan kirinya yang tidak terkena darah. Dia member tanda silang pada gambar slayer yang dibunuhnya menggunakan darah yang membasahi tangan kanannya.
"Kau masih mau melanjutkan misimu, Roxas?"
Roxas menoleh dan melihat seseorang yang sangat mirip dengannya. Bagi Roxas, melihatnya seperti melihat cermin hidup. Bedanya, dia tidak menggunakan baju yang sama dengan Roxas, sehingga mereka bisa dibedakan satu sama lain. Orang tersebut adalah Ventus, kembaran Roxas.
"Ya."
"Mengapa kau terburu-buru?" Ventus menatapinya dengan heran.
"Kurasa, aku hanya ingin segera bersama Sora saja." Roxas tidak begitu yakin pada jawabannya.
"Bagaimana jika kau berada di sini sementara waktu? Sudah berbulan-bulan kau bersama Sora dan jarang kemari jika tidak ada misi di sini. Ibu sepertinya merindukanmu. Begitu juga yang lain."
Roxas terdiam sejenak. "Ide yang bagus." Roxas setuju sambil mengangguk. "Kalau begitu, aku akan melanjutkan misi besok. Ini baru hari pertama, aku masih punya banyak waktu. Ayo kita kembali ke mansion, Ven." Roxas memanggil Ventus dengan sapaan akrabnya.
Ventus mengangguk.
Tiba di Old Mansion, seluruh anggota keluarga langsung menyambut kedatangan Roxas.
"Hai semua," sapa Roxas ketika dia disambut. "Hai Ibu," katanya ketika dipeluk oleh Sang Ibu, Tifa, memeluknya dengan lembut.
Tifa, yang memiliki rambut hitam panjang lurus, terlihat tersenyum setelah melepas pelukannya. "Sudah lama kami tidak melihatmu, Roxas."
Roxas membalas senyuman Tifa. "Aku hanya pergi beberapa bulan saja, Ibu, bukan selamanya."
"Ibu tahu. Tapi tetap saja sebagai Ibumu, Ibu merindukanmu."
Roxas memeluk saudara tirinya yang lain. Roxas mempunyai satu saudara kandung, tiga kakak lelaki tiri, satu kakak tiri perempuan, dan satu adik perempuan. Tiga kakak tiri lelaki adalah Terra, yang memiliki rambut brunnete dengan warna mata biru, Demyx, memiliki rambut blond dengan mata biru, dan Zexion, memiliki rambut silver dengan mata sebening air. Kakak tiri perempuan Roxas adalah Aqua, seorang gadis berambut biru muda dengan mata biru. Adik tiri perempuan Roxas adalah Namine, memiliki rambut blond dengan mata biru.
Sebagian dari mereka pun duduk di sofa dan sebagian berdiri.
"Jadi, misi apa yang kau kerjakan kali ini?" tanya Tifa sambil menatap Roxas.
"Riku memintaku memburu beberapa slayer di kota ini. Menurut informasi, slayer yang kuburu ini sedang mencari informasi terkait hubungan keluarga kita dengan werewolf yang membantu melindungi half blood vampire. Aku diminta untuk menangkap salah seorang dari buruanku untuk mencari informasi yang mereka miliki," jawab Roxas.
"Dan setelah mendapatkan informasi, kau membunuh mereka?" tanya Terra yang menyilangkan tangannya di depan dada.
Roxas menangguk. "Ya. Jika mereka kulepas, maka mereka akan terus mengintai tempat ini."
"Tidak adakah cara lain selain membunuh mereka, Roxas?" tanya Demyx dengan sedih.
Roxas tersenyum sambil menghela napas. "Aku juga tidak akan membunuh mereka jika saja mereka berhenti mengintai kita, vampire."
"Mereka tidak akan berhenti," kata Namine sambil menyentuh dadanya. Dia terlihat sedih. "Slayer akan terus datang meski kau membunuh mereka sebanyak apa pun. Mereka tidak akan pernah berhenti mengganggu kehidupan vampire hingga seluruh vampire, dari half blood hingga pure vampire, musnah."
"Kau menerawang untuk berapa hari kedepan, Namine?" tanya Roxas dengan alis terangkat sebelah. Heran mendengar kata-kata Namine. Seakan-akan dia sudah tahu apa yang akan terjadi hingga setahun ke depan.
"Hanya dua hari ke depan," balas Namine dengan senyum.
Roxas langsung tertawa. "Kau berkata seakan-akan sudah tahu apa yang akan terjadi dalam bulan-bulan ini."
Namine terkekeh. "Tidak. Kemampuanku masih tidak sebaik Sora, jadi ketepatan untuk melihat 1 bulan kedepan masih kurang begitu pasti."
Hening sejenak.
"Aku harap masalah ini segera selesai," kata Roxas sambil merenggangkan badannya. Sesungguhnya badannya tidak pegal, tapi dia merasa harus melakukan sebuah gerakan agar terlihat lebih 'manusia'. Gerakan-gerakan tersebut dipelajarinya dari Sora karena dia sering memperhatikan Sora.
"Meski masalah ini selesai, aku tidak yakin tidak akan ada masalah lain yang datang," kata Terra sambil menyilangkan tangannya.
"Terra…" Ventus terlihat menatapi Terra dengan dahi mengkerut.
"Tidak apa-apa," balas Roxas dengan senyum. "Selama kau masih hidup, kau akan terus merasakan yang namanya bahagia, masalah, sedih, senang, marah, kecewa, dan sejenisnya. Itulah yang namanya kehidupan meski kita tidak bisa dibilang hidup sih." Roxas terkekeh akan kata-katanya sendiri.
Tifa terlihat tersenyum. "Tidak biasanya kata-kata bijak keluar dari mulutmu, Roxas."
Roxas tersenyum. "Mungkin semenjak kembalinya Sora, aku mencoba berubah dan menjadi lebih dewasa. Tapi Sora lebih suka aku bersikap riang seperti biasa."
"Omong-omong, Roxas, kau pernah mendengar slayer bernama Jessey?" tanya Aqua.
"Tidak. Ada apa dengan orang bernama 'Jessey'?"
"Dia terkenal sebagai slayer kuat. Beberapa vampire yang pernah lolos darinya mengatakan, caranya bertarung mirip vampire berumur 300 tahun. Meski masih muda, bisa dikatakan kemampuannya mirip Riku," jelas Zexion yang menyilangkan kedua tangannya.
Roxas menunduk. "Werewolf."
"Itu yang kukhawatirkan," balas Aqua sambil menatap ke lantai.
"Memang Werewolf mendukung kita, vampire, tapi tidak semuanya mendukung kita." Roxas menghela napas.
"Kira-kira, apakah Riku akan kesulitan jika bertemu dengannya, ya?" Tifa terlihat cemas. Tepatnya, dia mencemaskan keadaan Sora jika Riku tidak bisa menghadapinya.
"Tidak apa-apa. Kuyakin Riku tidak akan ragu melawannya meski harus melawan rasnya sendiri. Baginya, saat ini Sora yang terpenting. Tapi yang kukhawatirkan justru jika Sora sendiri yang menemuinya," kata Roxas sambil menghela napas.
"Kenapa?" tanya Ventus dengan heran.
"Karena dia werewolf. Replica Sora yang kedua ini belum pernah melawan werewolf sebelumnya. Kurasa dia juga tidak akan sanggup melawannya. Bukan karena orang bernama 'Jessey' ini kuat, tapi Sora akan merasa, melawan dia sama seperti melawan Riku. Maka harapan menangnya pun berkurang," jelas Roxas.
"Ah, karena Riku adalah teman pertama Sora setelah Vanitas menciptakannya?" Tifa terlihat memegangi pipinya. Dia terlihat cemas.
Roxas mengangguk. "Maka dari itu, Riku tidak pernah memberi misi yang hanya dikerjakan sendiri oleh Sora. Minimal, aku atau dia yang menemani Sora mengerjakan misi."
"Tidak heran kau ingin segera kembali ke sisi Sora," balas Ventus dengan senyum.
Wajah Roxas terlihat sedikit memerah saat Ventus mengatakannya. "Aku hanya ingin melindunginya."
Roxas menanyakan kondisi Twilight Town selama dia pergi. Semua yang berada di ruangan bergantian menjelaskan kondisi Twilight Town. Serangan Slayer tidak terlalu banyak karena para slayers tahu keberadaan vampire di Old Mansion sangatlah kuat. Sebagian besar slayers yang pernah mereka hadapi masih kelas teri. Mereka tidak kuat. Tapi karena serangan para slayers tersebut, keberadaan mereka di Old Mansion mulai dicurigai oleh manusia biasa. Jika hanya hunters saja, maka mereka tidak akan mencemaskannya. Tapi jika manusia biasa, tentunya akan menimbulkan kehebohan yang tidak diinginkan. Misalnya, banyak manusia biasa yang beramai-ramai pindah kota dan kota ini pun menjadi sepi.
"…Cloud berencana untuk memindahkan kita ke tempat lain. Tempat yang jarang dikunjungi oleh manusia, tapi tidak jauh juga dari keberadaan manusia," jelas Tifa sambil menyentuh dadanya.
"Ayah sudah menemukan tempat yang strategis seperti tempat ini?" Tanya Roxas dengan alis terangkat sebelah.
"Saat ini, tempat yang ditemukannya baru satu. Radiant Garden. Cloud masih menimbang-nimbang apakah tempat tersebut cocok karena dulu, sebagian penghuni tempat tersebut adalah ras werewolf. Tapi saat ini, jumlah penghuni Radiant Garden telah menurun sehingga kebanyakan yang tinggal di sana adalah half werewolf."
"Hum…. Kudengar, Leon tinggal di sana," komentar Roxas sambil memegang dagunya.
"Ya. Cloud justru bertanya padanya," jelas Tifa dengan senyum. "Lagipula, tempat itu menjadi pertimbangan Cloud karena jarak antara Radiant Garden dengan Hollow Bastion yang cukup dekat. Kau sering bermain ke bar Oblivion, kan, Roxas?"
Roxas langsung mengangguk. "Tepatnya, mengambil misi."
"Saat ini, dia juga sedang mempertimbangkan apakah Destiny Island cocok sebagai tempat tinggal baru kita," jelas Tifa.
Mereka semua terus mengobrol hingga pagi menjelang. Mereka tidak sadar betapa waktu sungguh cepat berlalu. Bagi vampire, satu hari terasa seperti satu jam saja. Umur mereka yang sangat panjang membuat mereka merasa bahwa waktu bukanlah hal yang perlu dipikirkan. Obrolan mereka pun terhenti karena Roxas berencana melanjutkan misinya lagi. Tapi Tifa menyarankan agar Roxas beristirahat sebentar—meski sesungguhnya Roxas sama sekali tidak perlu istirahat. Roxas pun menuruti kemauan Tifa karena Tifa ingin Roxas berada di sana lebih lama.
Roxas dan Ventus memasuki kamar mereka berdua. Kain gorden tebal terlihat menutupi jendela kamar mereka untuk menghalangi cahaya matahari yang hendak masuk. Ventus berbaring di kasurnya. Sedangkan Roxas, dia menggeser sedikit gorden dan melihat keluar. Roxas tidak terluka saat cahaya matahari mengenainya.
Tatapan Roxas menyipit ketika dia mengamati pemandangan di luar.
"Mereka sudah lama mengintai di sini," kata Ventus memberitahu.
"Kalian membiarkannya?"
Ventus menatapi Roxas. "Ayah bilang biarkan saja mereka. Sehingga kami pun membiarkan mereka."
Roxas terdiam sambil menatap keluar. Dia tidak mengerti apa yang Cloud pikirkan, tapi Roxas merasa, terdapat alasan kuat mengapa Cloud membiarkan slayers yang mengintai mereka di Old Mansion dibiarkan hidup.
To Be Continued…
Author Note : TBC! (langsung Author batuk-batuk tidak jelas.)(LOL) wkwkwkwk, kira-kira apa yang terjadi yah chapter depan? (belum ada gambaran) review please? Chapter lalu cuma dapat dua… TTATT
To a reviewer name Gemini Sea-Dragon: wew, jika dipikir-pikir, memang benar sih XDDD
To a reviewer name Ace-Aihara: waw XD update besok? Wah, berat tuh jika sehari update satu chapter XDDD
