Matchmaking

Pair:: MyungYeol and other

Rated:: T

Genre:: Humor and romance

Warn:: BL, Yaoi

Author:: Hiwatari NiwaDark Lawliet

Annyeong~ Ukhhh *jongkok di pojokan* Maaaaff sekali kalau author updatenya telat, habisnya sibuk banget akhir-akhir ini. -_- Gak ada waktu sama sekali. Mian ya… ^^ *deep bow*

Oke, let's start now~

Enjoy~!

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Sungyeol yang tengah duduk sendirian di ruang makan di waktu yang selarut ini- 23.25, dengan segelas air mineral di atas meja makan, terlihat tengah memikirkan sesuatu.

'Kenapa terasa sangat membosankan seperti ini?' Ia beranjak dari ruang makan, meninggalkan segelas air mineral itu di atas meja makan, menuju ke kamarnya yang juga merupakan kamar Myungsoo.

Ia duduk di sofa yang ada di kamar tersebut, memandangi Myungsoo yang tengah tertidur dengan lelapnya di atas kasur mereka. 'Aku merasa tidak dihargai oleh manusia yang satu ini.' Batin Sungyeol seraya menatap sengit ke arah Myungsoo, yang kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa tersebut. Ia menghela napasnya dengan berat seraya menatap ke arah langit-langit kamar yang remang itu.

Entah apa yang tengah dipikirkan oleh namja manis berambut coklat almond tersebut, ia melemparkan tatapan miris ke punggung Myungsoo yang kemudian menutup kedua matanya dengan lengan kanannya.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Myungsoo mengernyit terganggu karena cahaya matahari yang masuk melewati gorden jendela kamarnya. Mata elangnya langsung tertuju pada jam dinding yang ada di kamarnya tersebut, pukul 7.28 pagi. Dengan malas, namja tampan tersebut mengubah posisinya dan duduk dengan kening yang masih mengernyit.

'Apa yang dia lakukan sepagi ini?' batin Myungsoo melihat Sungyeol yang tengah sebuk berkutat dengan laptopnya di meja kerja yang ada di sudut kamar ini. Namja manis yang tengah serius mengetik sesuatu dengan kacamata berbingkai hitam bertengger di hidung mancungnya dan piyama hijau muda yang masih menempel di tubuhnya.

"Kau sedang apa?" tanya Myungsoo yang kini mulai beranjak dari kasurnya menuju lemari besarnya, mengambil handuknya, hendak ke kamar mandi. "Kerja." Jawab Sungyeol singkat.

"Kau belum mandi?"

"Belum. Kau mandi saja dulu, aku banyak tugas mendadak." Jawab Sungyeol yang kini sibuk menyeruput kopinya. Ia harus menahan rasa kantuknya karena tugas sialan yang diberikan oleh ayahnya secara mendadak pada jam 4 pagi-pagi buta tadi! Ohh~ Dan parahnya, tugas laporan ini harus diberikan pada Hoya di kantor pada saat rapat malam ini.

Namja manis ini menghela napasnya kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja kerjanya.

'Aissh! Lapaarr~' Sungyeol memasang wajah kusutnya seraya mengelus-elus perutnya. Dengan wajah yang masih kusut, mata yang menyipit, sudut bibir yang terdapat bekas aliran air tidur, dan rambut yang entah bagaimana bentuknya, namja tinggi itu beranjak dari meja kerjanya menuju ke dapur. Mau bagaimana lagi, sesibuk apapun dia, kalau perutnya sudah memanggil, maka ia harus membuat sesuatu yang setidaknya bisa dimakan.

Sungyeol mengambil 2 bungkus ramyun dari lemari stok makanan dan memasakanya. Ia meninggalkan sepanci kecil yang masih panas di atas meja, sepanci ramyun untuk Myungsoo. Dan untuk dirinya sendiri telah ia habiskan dalam waktu 3 menit. -_-

Sungyeol kembali masuk ke kamarnya dan melihat Myungsoo yang tengah mengganti kemejanya, sepertinya ia akan berangkat ke kantor. "Di meja makan sudah kusiapkan sarapan." Ujar Sungyeol seraya berjalan kembali ke meja kerjanya. Ia kembali berkutat dengan laptopnya, sesekali menguap lebar dan mendengus bosan.

Blaamm!

Namja manis berambut coklat tersebut menatap pintu kamar yang baru saja ditutup oleh Myungsoo dengan tatapan kesal. "Dasar, apa dia tidak memiliki mulut? Katakan 'morning', 'bye', atau apalah." Kesal Sungyeol. Ia ingin sekali melempar laptop berwarna putihnya ini ke kepala Myungsoo. Dengan sekali dengusan kesal, namja itu kembali melanjutkan laporannya. Ia harus menyelesaikannya sebelum rapat nanti, atau tidak, ia akan dilempar dengan scanner oleh Hoya dan berakhir dengan Sungjong yang menertawakannya.

"Haaahh…" Sungyeol kembali mendengus kesal. Kopinya habis. Dengan malas dan setengah frustasi, ia beranjak dari kamarnya dengan gelas yang telah kosong itu dan menuju ke dapur lagi.

"Hm?" gumam Sungyeol saat melihat panci kuning yang berisikan ramyun untuk Myungsoo tadi masih ada di atas meja. "Apa namja itu selain menyebalkan, jelek, dan sombong, juga tidak bisa mencuci atau setidaknya meletakkanya ke washtafle setelah selesai makan?" gumam Sungyeol.

Saat namja itu mengangkat panci tersebut, keningnya mengerut bingung. Ia meletakkan kembali panci tersebut ke atas meja dan membuka tutup panci tersebut.

"Heehh?" Sungyeol menarik napasnya dalam-dalam yang kemudian mengangkat kaki kanannya dan menginjak kursi makan yang ada di sampingnya, dengan kedua tangannya yang berkacak di pinggangnya. Gaya istri-istri yang sedang emosi dengan suaminya.

"Apaan ini, eoh? Sudah susah-susah aku masakkan ramyun yang enak, nikmat, panas, menggiurkan dan lezat ini, dia malah tidak memakannya?! Aisshh! Lihat saja nanti! Aku tidak akan memasakkan makanan apapun untukmu lagi!" repet Sungyeol. Mau tidak mau, Sungyeol memanaskan kembali ramyun tersebut dan memakannya.

Ia duduk di atas meja makan sambil menyantap ramyun yang ia buatkan untuk Myungsoo tersebut. "Apa ramyunku tidak enak? Atau dia tidak level dengan makanan seperti ini?" gumam Sungyeol yang kemudian kembali menyeruput ramyunnya.

"Aihh! Lihat saja kau nanti! Saat kau pulang nanti, panci ini akan kulempar ke mukamu yang menyebalkan itu! Kalau memang tidak ingin makan kenapa tidak dari tadi mengatakannya? Eoh?! Aisshh!" Namja itu kembali menyantap makanannya, meskipun perutnya masih terasa penuh, tapi ia tetap memakannya, dari pada membuangnya lebih baik dihabiskan, bukan?

Sambil mengunyah mie yang ada di mulutnya, Sungyeol melihat ke arah sekelilingnya. 'Inikah rumah tangga yang Sungjong dan eomma sebut-sebut harmonis itu? Rumah kosong seperti ini apanya yang harmonis dan nyaman?' Ia menghela napasnya lagi entah untuk yang keberapa kalinya, sebelum akhirnya kembali menikmati makanannya dalam diam.

Acara seruput menyeruput ramyun yang dilakukan oleh Sungyeol terhenti ketika merasakan ponselnya yang berada di atas meja makan tersebut berdering.

"Myungsoo?" gumamnya saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponselnya. Dengan setengah cuek dan kesal, namja manis yang kini tengah menpoutkan bibir tebalnya akhirnya mengangkat panggilan tersebut.

"APA?!" bentaknya kesal. Myungsoo yang berada di seberang panggilan sontak terkejut. "Ya! Serigala! Galak sekali!" sahut Myungsoo. Sungyeol menghela napasnya, ia menatap tajam-tajam ramyun yang ada di depannya itu. "Mau apa meneleponku? Aku sedang tidak mood berbicara denganmu, mendengar suaramu, dan kalau bisa aku tidak ingin melihat wajah jelekmu itu!" oceh Sungyeol dengan rasa kesal yang menggebu-gebu.

Bukannya Sungyeol berlebihan ataupun lebay, tapi coba kalian bayangkan, kalian telah susah payah memasakkan sesuatu untuk seseorang padahal kalian tidak pandai dalam hal memasak, dan lagi kalian memasak makanan itu dengan niat baik dan berharap dia bisa merasa kenyang dan puas dengan masakanmu meskipun hanya makanan sederhana. Dan semua yang telah kalian lakukan itu tidak dihiraukan oleh seseorang itu, seseorang itu tidak memakan masakanmu. Bagaimana perasaanmu? Pastinya SAKIT! SAKITTT! Bagai ditusuk beratus-ratus lidi sate lalu dipanggang dengan bumbu-bumbu padang yang dipadu dengan lontong, waduuhh.

"Ada apa denganmu, hah?" tanya Myungsoo dengan nada bingung dan setengah kesal. "Tidak apa-apa. Lalu kau meneleponku untuk apa?" tanya Sungyeol dengan cuek. Ia mulai malas memikirkan namja ini, toh secara real namja itu bukan siapa-siapanya, kok.

"Aku ingin minta tolong, kemarin aku meletakkan map berisikan proposal penting untuk rapat siang ini di sofa ruang tamu, bisa kau antarkan map itu ke Finite café? Aku sedang sibuk melanjutkan proposal lain di sini, dan tidak akan sempat untuk kembali ke rumah." Jelas Myungsoo di seberang telepon.

"Hah?! Mengantarkan proposal untukmu?!" beo Sungyeol. Namja manis nan imut itu mengernyitkan keningnya. "Malas! Proposalku sendiri saja belum siap, dan kau menyuruhku untuk mengantarkan proposal padamu yang sedang berada di café yang sejauh itu? Big no!"

Myungsoo menghela napasnya. "Ayolaahh… Aku sedang sibuk sekarang, akan kubelikan strawberry cake sepulang dari kantor nanti, ok?" rayunya.

Sungyeol melanjutkan makan ramyunnya. "Memohonlah." Ujarnya dengan santai.

"Mwo?"

"Memohon."

"No way."

"Yasudah. Aku sibuk, annyeo-"

"Tunggu!"

"Katakan."

"Aishh!" keluh Myungsoo.

"Semoga hyungmu tidak mematahkan lehermu karena meninggalkan proposalmu."

"Ehh! Ok! Ok!"

"Katakan."

"Would you bring my proposal, please?"

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan." Sungyeol benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Myungsoo. Entah itu bahasa Inggris Myungsoo yang berantakan atau dia sendiri yang tidak mengerti bahasa Inggris.

"Ck. Bisakah kau bawakan proposal itu padaku?"

"Aku menyuruhmu memohon, bukan request."

Terdengar suara dengusan kesal Myungsoo. Sungyeol terkikik kecil, ia yakin Myungoo pasti sangat kesal saat ini.

"Kumohon antarkan proposalku. Aku tidak ingin dicekik lagi oleh Sunggyu hyung." mohon Myungsoo akhirnya.

Sungyeol terlihat menahan tawanya. "Ok, karena Sungyeol sangat baik hati, ikhlas, tidak sombong, dan rendah hati, aku akan mengantar proposalmu." Ujarnya sambil membersihkan panci dan meja makannya.

"Cih!" terdengar desisan kesal dari Myungsoo.

"Kapan? Sekarang?" tanya namja manis bertubuh tinggi tersebut. "Tidak perlu sekarang, minggu depan saja." Jawab namja tampan yang berada di seberang panggilan dengan nada datar. Tanpa menjawab apa-apa lagi dan dengan senyum puas, Sungyeol memutuskan panggilannya secara sepihak.

Namja manis itu menatapi panci ramyunnya yang tergelatak begitu saja di wastafel piring yang kemudian membuang napas beratnya sebelum berbalik dan bersiap-siap mengantarkan proposal Myungsoo.

.

.

Sungyeol menghentikan langkahnya dan mundur selangkah untuk menyembunyikan tubuh rampingnya di belakang sebuah mobil hitam. Matanya tertuju pada seseorang yang duduk di salah satu meja yang ada di dalam café Finite tersebut, seseorang yang kini tengah berbincang-bincang sesekali tertawa dengan seorang gadis cantik yang duduk di depannya.

Sungyeol meremas kecil map yang ada di tangannya. Bukannya cemburu, ia hanya…

Sungyeol menatap map yang ada di tangannya itu dengan tatapan yang memiliki suatu arti. 'Bukan, aku bukan cemburu. Aku hanya… hanya…' Tatapan matanya terlihat semakin sendu.

"Aku hanya…" desisnya pelan. "Graaahhh! Sialan kau, Kim Myungsoooo! Sudah dengan seenak jidatmu menyuruhku untuk mengantarkan mapmu ke café yang sejauh ini! Kau malah dengan asyiknya tertawa-tawa dengan gadis itu!" seru Sungyeol kesal sambil menunjuk-nunjuk ke arah Myungsoo dengan map yang digulung di tangannya, masih dengan dirinya yang bersembunyi di belakang mobil hitam tersebut.

"Katanya sedang sibuk mengerjakan proposal selanjutnya sampai-sampai tidak sempat lagi untuk kembali ke rumah dan mengambil proposalnya. Kenapa sekarang malah bercanda-tawa dengan yeoja yang entah siapalah itu, seperti remaja yang sedang kasmaran saja." Gumam Sungyeol yang memicing tajam matanya, mengamati kedua manusia yang menjadi pusat perhatiannya di dalam café tersebut.

Jelas gadis yang sedang duduk berduaan dengan Myungsoo itu bukanlah seseorang dari perkantoran ataupun yang berurusan dengan pekerjaan, bisa dilihat dari cara berpakaian gadis itu, dengan hot pants, baju lengan panjang yang cukup longgar untuk ukuran tubuhnya, rambut yang ditata dengan stylish, sepatu hak tinggi yang terlihat mahal.

Mimik wajah Sungyeol yang tadinya terlihat kesal, kini perlahan kembali ke mimik wajah biasanya. Dengan satu tarikan dan helaan napas, tatapan mata yang terlihat ragu, dan map yang terlihat mulai kusut, ia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam café tersebut.

"Ne, ada yang yang bisa saya bantu, tuan?"

"Ini… Tolong berikan ini ke meja yang sebelah sana, pada pria yang memakai jas kerja itu." Ujar Sungyeol sambil menunjuk Myungsoo yang duduk membelakanginya.

"Oh, baik, tuan. Atas nama?"

Sungyeol tersenyum. "Berikan saja." Ia lalu membungkuk sejenak sebelum akhirnya meninggalkan café tersebut.

Tuk!

Sungyeol menendang sebuah kerikil dengan kedua tangannya yang berada di dalam saku celananya. Ia tidak berniat untuk kembali ke rumah, tidak ada salahnya untuk jalan-jalan sebentar, 'kan? Refreshing.

Namja bertubuh tinggi dan berambut coklat tersebut menghentikan langkahnya saat melihat sebuah gedung yang sangat besar dan megah di seberang jalan. Ia tersenyum tipis saat melihat gedung tersebut hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyeberangi jalan dan berlari ke arah gedung tersebut.

Gedung ini… Merupakan sekolah Sungjong, yang juga merupakan sekolahnya dulu, 3 tahun yang lalu.

Dengan senyum senang dan juga jahil, namja ini kemudian memanjat dinding yang menjadi batas antara jalan luar dengan area sekolah ini. Ini adalah keahlian dan kebiasaan Sungyeol dulu, jadi tidak heran kalau ia sangat cepat dalam memanjat dinding ini. Mungkin dulunya ia adalah seorang raja terlambat. -_-

Hup!

"Huaah…" Sungyeol tersenyum lebar saat memandangi lapangan luas dari daerah semak-semak yang kini menjadi pijakkannya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Sungyeol tersentak saat mendengar suara seseorang. Ia menoleh ke arah kiri dan menangkap seorang namja tengah duduk santai di bawah pohon dengan permen lollipop yang ada di mulutnya.

"Aisshh! Kau sendiri ngapain di sini, hah?! Bolos?! Akan kulaporkan pada Hoya hyung nanti!" ujar Sungyeol sambil berjalan mendekati namja tersebut.

"Haahhh… Malas, hyung. Sekarang ini sedang pelajaran sejarah. Kau tahu betapa membosankannya 'kan belajar dan diajar oleh guru itu~?" ujar namja yang merupakan adik Sungyeol itu, Sungjong.

Sungyeol hanya menghela napasnya saja, ia hanya bisa memaklumi adiknya itu. Mau bagaimana lagi? Dulu ia sendiri pun begitu, bukan hanya pelajaran sejarah, bahkan di saat pelajaran matematika, bahasa Korea, biologi, dan bahasa Inggris juga ia sering membolos.

Sungyeol melipat dan memeluk kedua lutunya. "Haahh… Aku ingin kembali ke masa kecilku, masa remajaku." Ujar Sungyeol pelan seraya memandangi gedung besar yang jaraknya cukup jauh dari semak-semak dan pepohonan di sini. Sungjong menghentikan kegiatan memainkan ponselnya, ia menatap hyungnya.

"Kau menyesal, hyung?"

Sungyeol mengalihkan perhatiannya pada Sungjong. "Kau menyesal dengan keadaanmu sekarang?" Sungyeol tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya, karena ia memang menyesalinya, menyesali semua keadaan ini.

"Kau tidak seharusnya menyesali ini semua, hyung," Sungjong menyimpan ponselnya dan menatap Sungyeol dalam-dalam. "Apa yang kau lalui sekarang ini bukanlah akhir, ini baru permulaan, hyung. Kau baru saja memulai semua ini dan kau tidak akan tahu bagaimana akhir dari semua ini sebelum kau menjalaninya.

Sungyeol terlihat tidak mengerti dengan perkataan Sungjong. "Ini baru halaman pertama dari sebuah buku dongeng, hyung. Kau tidak akan mengerti bagaimana jalan cerita dan endingnya sebelum kau membacanya terus hingga halaman terakhir."

Sungyeol menggaruk kepala belakangnya. 'Kenapa aku malah jadi konslutasi dengan dia?'

"Aku tidak mengerti." Ujar Sungyeol dengan kening yang berkerut bingung. Sungjong menghela napasnya. "Iya ya, otak udang seperti hyung mana bisa dengan mudahnya mengerti kata-kata perumpamaan sepert ini."

Sungyeol mendesis kesal, ia bersiap-siap untuk melepas sepatu ketsnya dan memasukkan sepatu mahalnya itu ke mulut adiknya itu. Upss… Kejamnyaaa -_-

'Sabar… Sabar… Dia iu adik manis, imut dan cantik kesayanganmu, Yeol. Sabar… Jangan sampai Hoya hyung membunuhku karena menyiksa Sungjong.' Pikirnya yang berusaha menahan rasa kesalnya.

"Aku bukannya-"

"Hey! Siapa disana?! Membolos? Kemari kalian!" Sungjong dan Sungyeol tersentak mendengar seruan seseorang yang menegur mereka. "Uaahh! Kabur, hyung!" Sungjong mengambil langkahnya duluan untuk kabur dan meninggalkan Sungyeol yang panik.

"Ya! Ya! Bagaimana denganku? Aisshh!" Sungyeol memutuskan untuk kembali memanjat tembok tersebut sebelum ditahan oleh kepala sekolah yang terkenal kejam di sekolah ini. 'Aku sudah cukup bosan ditahan oleh ahjusshi itu.' Pikirnya setelah mendarat di lantai dengan selamat.

Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum lepas. "Berasa seperti kembali ke masa sekolahku." Gumamnya sambil menatapi gedung sekolahnya dari jalanan ini. 'Oh! Sudah jam 2 siang! Dan aku belum menyelesaikan proposalku!' Namja manis itu dengan segera berlari ke area di mana mobilnya diparkirkan.

Sekarang ini barulah halaman pertama… Teruslah membuka halaman selanjutnya, maka kau akan tahu bagaimana jalan ceritanya dan bagaimana akhir dari semuanya...

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Jam 17.20…

'Arrghh! 40 menit lagiiii!' Sungyeol mempercepat ketikannya pada laptopnya. Keningnya mengernyit dan mimik wajahnya terlihat panik saat melihat ke arah jam dinding. Ia terlihat sangat lucu dengan penampilannya yang berantakan seperti ini, dimana ia memakai hoodie yang cukup lebar dan celana panjang berwarna cream, boneka bebek yang ada di pangkuannya, poninya yang diikat ke atas, kacamatanya yang terlihat sedikit turun, dan selimut tebal yang menutupinya dari kepalanya hingga ke bawah.

Kreaaakkk

Sungyeol masih sibuk mengerjakan proposalnya saat Myungsoo telah masuk ke dalam kamar. Bisa dibilang ia bahkan tidak menyadari jika Myungsoo telah pulang.

'Sedikit lagii…' batin Sungyeol dengan antusias.

"Masih mengerjakan proposal?" tanya Myungsoo yang kini tengah melepaskan dasinya.

"…." Tidak ada jawaban dari Sungyeol.

"Soal proposalku, kenapa kau tidak menyerahkannya padaku secara langsung?" tanya Myungsoo lagi saat merasa Sungyeol tidak akan menjawab pertanyaan pertamanya.

"YOSH! Siap!" seru Sungyeol tiba-tiba yang langsung melesat masuk ke dalam kamar mandi, tentunya tanpa menghiraukan dan menjawab pertanyaan Myungsoo. Namja tampan yang kini berdiri di samping kasur dengan tangan yang memegang dasi hitam putih miliknya hanya mengernyitkan keningnya.

Beberapa menit kemudian, Sungyeol keluar dari kamar mandi dengan handuk yang menggangantung di bahu kanannya. Dengan tergesa-gesa, ia berjalan ke arah lemarinya dan mengganti pakainnya dengan kemeja dan dasi yang rapi.

Sungyeol lalu membererskan semua berkas-berkasnya, laptop dan proposal yang telah ia print tersebut dan memasukkan ke dalam tas ranselnya. Myungsoo hanya berdiri diam mengamati gerak-gerik Sungyeol.

"Oh, Myungsoo. Kau sudah pulang?"

"-_- Sudah, dari tadi."

"Kalau begitu aku berangkat dulu." Ujar Sungyeol yang hendak beranjak dari kamar tersebut, namun tangan kanannya ditarik oleh Myungsoo. Namja bermimik manis tersebut mengernyit bingung. "Ada apa?"

Myungsoo menatap Sungyeol dengan tatapan tajam. "Kenapa tadi saat kau mengantarkan proposalku, kau tidak memberikannya padaku secara langsung?" tanyanya. Sungyeol terdiam. "Umm, aku sedang malas saja untuk masuk ke dalam café itu, jadinya langsung menitipkannya pada pegawainya." Jawab Sungyeol asal yang kemudian hendak beranjak, namun tangannya kembali ditarik oleh Myungsoo.

"Alasan macam apa itu? Kau hanya perlu berjalan beberpa langkah saja untuk sampai ke mejaku." Ujar Myungsoo. Sungyeol menghela napasnya. "Well, aku malas ke mejamu. Sepertinya kau sedang sibuk melakukan pendekatan dengan seseorang, maka dari itu aku memilih untuk menitipkannya pada salah satu pegawai di sana dari pada mengganggu moment-momentmu." Sungyeol menghela napasnya dengan malas.

"Memangnya kenapa kalau aku tidak mengantar proposal itu secara langsung padamu? Apa bedanya aku yang mengantarkannya dengan pegawai itu yang mengantarkannya? Toh akhirnya proposal itu sampai dengan selamat di tanganmu, kok." Ujar Sungyeol dengan kening yang mengernyit tidak mengerti.

"Aku berangkat." Ujar Sungyeol yang hendak pergi, dan lagi-lagi tangannya ditarik oleh Myungsoo. "Aishh! Apa lagi, mayat hi-" Namja manis itu membelalakkan matanya saat merasakan panas di sekujur tubuhnya, merasakan panas di kedua pipinya, menatap kedua mata elang itu dengan sangat dekat, merasakan napas hangat Myungsoo, dan merasakan bibir tipis Myungsoo yang menempel dengan dalam dan lembut pada bibirnya.

Sungyeol mendorong kedua pundak Myungsoo dengan cukup kuat saat menyadari situasi saat itu. Ia menyentuh bibirnya dengan punggung tangan kanannya dengan kedua pipinya yang terlihat sedikit merona. "Aku berangkat." Ujarnya yang kemudian beranjak meninggalkan kamar tersebut dengan tergesa-gesa.

Myungoo tersenyum tipis setelah melihat pintu kayu kamarnya tersebut tertutup. Ia mengangkat tangan kirinya yang kini tengah menggenggam sebuah kalung dengan liontin kecil berupa sebuah batu berlian kecil yang di kelilingi perak yang berbentuk seperti cincin.

"Kalau kau yang mengantarkan proposal itu secara langsung padaku, maka kalung ini pasti telah menggantung di lehermu." Ia menghela napasnya, kemudian menunjukkan seringai tipisnya.

'Tapi kau malah cemburu duluan sebelum aku memberikan kalung ini padamu. Dasar, Childish.'

~TBC~

Buaahh~! Itu maksudnya L apa? O.O Kenapa epep ini jadi begini?! Ada apa dengan jari author?! O.O #plakkk

Hihihi, mian ya kalau ceritanya jadi aneh begini. -_- Mian juga kalau alurnya membosankan dan gak seru, habisnya gak tau mau buat konflik kayak gimana… QAQ Awalnya Cuma kepikiran sama pembukaannya, belum sampai kepikiran sama inti dari ff ini, makanya akhirnya jadi kayak beini nih… *nunjuk epep di atas*

#deepbow Maaf sekali lagi kalau author updatenya lama m(_ _)m Untuk selanjutnya author usahakan cepat, usahakan loh ya… -_- Belum tentu pasti #plakk

Oke, akhir kata dari author untuk chap ini,

Don't forget to Review (FFn) dan RCL (FB), please~? ^^

Thanks~ *bow* m(_ _)m