Matchmaking
Pair:: MyungYeol and other
Rated:: T
Genre:: Humor and romance
Warn:: BL, Yaoi
Author:: Hiwatari NiwaDark Lawliet
Annyeong~ Author's back~ ^^
Rencananya author mau post lanjutannya seminggu setelah chap 6 di post, tapi… -_- maap, author banyak ujian, jadinya postnya lama lagi deh -_- *bow*
Terima kasih sebanyak-banyaknya buat readers yang udah mau baca ff ini *tebar kecup basah* #plakk xD
Okedeh~ Let's start ~
Enjoy~!
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Pukul 13.45 siang…
Seorang namja berambut pirang almond, berpostur tinggi, dan memakai pakaian kemeja dan celana hitam panjang yang rapi kini tengah berada di salah satu meja di sebuah café yang bernuansa tenang. Namja itu, Sungyeol berada di meja yang tepat di samping jendela.
Tek tek tek tek!
Ia terlihat tengah sibuk dengan laptopnya. Tangannya yang terus menekan keyboardnya, matanya yang menatap tajam pada monitor laptopnya, dan mimiknya yang terlihat serius.
"Haaahhh…" hela Sungyeol. Ia menjauhkan kedua tangannya dari keyboard laptopnya dan melorotkan badannya ke kursi yang tengah ia duduki. Ia menengadahkan kepalanya dan memejamnan matanya seraya jari tangannya memijit-mijit kecil keningnya yang terasa pegal.
'Dingin.' Batinnya saat menolehkan kepalanya ke samping kiri dan melihat tetesan air hujan yang cukup deras di luar sana. Ia menegakkan kepalanya dengan masih memandang ke luar kaca bening yang menjadi penutup sisi bangunan café tersebut.
Sungyeol menyentuh kaca jendela tersebut seraya tersenyum lembut. Meskipun dingin dan akan membuat jalanan becek, Sungyeol tetap menyukai hujan. Ia menyukai hujan, karena di saat hujan, semua beban terasa terhapus karena air hujan yang terus mengguyur sebagian kota ini. Dan ia menyukai tetesan hujan yang mengalir pada kaca bening ini.
Sungyeol mengalihkan pandangannya dan berusaha fokus kembali pada pekerjaannya. Ia memilih untuk mengerjakan pekerjaannya di café langganannya yang bernuansa tenang ini dari pada di kantor yang ribut dan berkeliaran manusia-manusia super sibuk itu.
Namja tinggi berwajah manis itu menyeruput hot coffeenya sebelum kembali menyibukkan jari-jarinya di keyboardnya.
"HUK!" Sungyeol hampir tersedak saat melihat seorang namja berparas tampan yang memakai celana panjang berwarna hitam dengan kaus berwana hitam dan jaket berwarna biru tua dengan topi jaketnya yang menutupi kepalanya baru saja masuk ke dalam café tersebut dengan setengah berlari. Sungyeol dengan segera menunduk dan menyembunyikan kepalanya di balik monitor laptop berwarna putih miliknya.
'Apa yang dia lakukan di sini? Eoh? Dan KENAPA ZOMBIE ITU BERJALAN KE ARAH SINI?!' batin Sungyeol panik saat melihat namja tampan itu berjalan ke arahnya.
"Hei, marmut! Kau sedang apa, hah?" tanya namja tampan itu dengan nada datarnya sambil mencengkram kerah belakang kemeja Sungyeol dan mengangkat Sungyeol layaknya mengangkat kucing. -_-
"Aissh! Lalu kau sendiri sedang apa di sini? Mengganggu ketenanganku saja." Ujar Sungyeol kesal dengan perlakuan Myungsoo, namja berparas tampan tersebut.
"Hyungmu meneleponku dan menyuruhku mencarimu di café ini, ada meeting mendadak satu jam lagi! Kenapa lari sampai ke café ini, sih? Tidak bisakah kau duduk manis dan mengerjakan pekerjaanmu di ruangan kantormu? Merepotkanku saja! Punya ponsel kenapa tidak digunakan, eoh? Apa kau tidak tahu bagaimana caranya mengangkat panggilan telepon? Hoya hyung meneleponmu berpuluh-puluh kali dan kau tidak mengangkatnya. Aku meneleponmu beratus-ratus kali, kau juga tidak mengangkatnya. Lain kali tidak usah pakai ponsel mahal, pakai walkie talkie saja." Omel Myungsoo sambil masih mencengkram kerah belakang kemeja Sungyeol dan mengguncang-guncang namja manis itu ke kiri dan ke kanan.
Sungyeol hanya terlihat pasrah saja diguncang-guncang seperti itu dan juga terkena semburan omelan Myungsoo untuk yang pertama kalinya. NB: jangan membuat seorang Myungsoo kesal jika tidak ingin terkena semburan omelan yang dahsyat nan cetar milik namja bermata elang tersebut. Dan ingat! Ini pertama kalinya bagi Sungyeol melihat namja yang sangat dingin itu mendadak cerewet seperti ini, bahkan melebihi cerewetnya Sunggyu! O[]O!
"Iya, iya, maaf. Ponselku tertinggal di mobil. Lalu sekarang kau mau aku melakukan apa?" tanya Sungyeol dengan malas. Ia mendaratkan bokongnya ke kursinya dan menyeruput hot coffeenya. "Tentu saja kembali ke kantor dan menghadiri rapatmu. Aku keluar dari kelas di tengah pelajaran kuliah dan melajukan mobilku dengan kecepatan penuh untuk menjemputmu. Cepat bereskan barang-barangmu." Ujar Myungsoo.
Sungyeol terdiam, ia baru menyadari bahwa Myungsoo memakai pakaian bebas, bukan pakaian kantor dengan kemeja, dasi, dan celana panjang. Apa Myungsoo benar-benar membela-belakan diri untuk menjemputnya? Apa Myungsoo benar-benar berniat menjemputnya bahkan di cuaca buruk seperti ini? Apa Myungsoo benar-benar keluar dari kelasnya di tengah-tengah pelajaran yang tengah berlangsung demi menjemputnya?
Semua pertanyaan itu berputar-putar di pikiran Sungyeol. Apa Myungsoo sebaik itu? Apa itu artinya Myungsoo rela melakukan apapun itu untuk kepentingan Sungyeol?
"Cepat atau akan kutinggal kau dan menepelon Hoya hyung bahwa kau tidak ingin mengangkat bokongmu dari kursi café ini? Dasar pemalas." ujar Myungsoo dengan nada dinginnya seraya beranjak dari tempatnya ke arah pintu keluar.
Sungyeol mendecak pelan. Ia langsung membuang jauh-jauh pikirannya tentang kebaikan Myungsoo. Baginya, Myungsoo tetaplah mayat hidup termenyebalkan di dunia. "Stresss!" desisnya dengan kesal dengan pipi yang digembungkan seraya menyimpan barang-barangnya ke dalam tas ranselnya. Kyeopta~
Sungyeol dengan segera menenteng tas ranselnya di bahu kanannya dan berjalan menghampiri Myungsoo yang tengah menunggunya di ambang pintu café.
Sungyeol berdiri di samping Myungsoo yang tengah berdiri terdiam melihat hujan yang tidak terlalu deras di luar sana.
Sungyeol tersentak kecil saat merasakan tas ranselnya ditarik. "Eh? Mwoya-"
Pluk!
Namja manis yang hendak meluncurkan protesnya itu menghentikan ucapannya saat merasakan jaket milik Myungsoo kini tengah berada di atas kepalanya. Ia terdiam dan menoleh pada Myungsoo yang hanya menatap ke depan dengan tas ransel miliknya yang kini tengah dipeluk oleh Myungsoo.
Apa maksud semua ini?
"Ayo jalan, sebelum hujannya semakin deras." Terdengar datar namun masih terasa nada kekhawatiran di balik nada bicara datar dan dingin itu.
Myungsoo menarik tangan kanan Sungyeol dan segera keluar dari café tersebut dengan berlari-lari menuju mobil Myungsoo.
Bam!
Myungsoo melempar tas ransel berwarna coklat kulit itu pada Sungyeol sesampainya mereka di dalam mobil mewah milik Myungsoo. Sungyeol tercengang sedikit saat menerima lemparan tasnya dari suaminya itu.
Ia menoleh ke arah Myungsoo yang kini tengah sibuk menyalakan mobilnya. Sungyeol terkena hujan di bagian poni, dada dan celana bagian bawahnya saja karena ia memakai jaket yang diberikan oleh Myungsoo, dan tas ranselnya sama sekali tidak basah. Sedangkan Myungsoo, lihatlah namja tampan itu, basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki. 'Apa namja bodoh ini merelakan dirinya basah kuyup hanya untuk melindungi tasku? Babo! Babo!' kutuk Sungyeol seraya memicingkan matanya pada Myungsoo yang tengah menyetir.
Namja manis berambut coklat almond tersebut membongkar isi tasnya dan mengambil handuk kecil yang ada di dalam tasnya. Dengan hati-hati ia mengusap dan mengeringkan rambut hitam kecoklatan milik Myungsoo dengan handuk kecil berwarna pink muda tersebut.
Myungsoo yang tengah menyetir tampak tersentak kecil, namun beberpa detik kemudian ia tersenyum kecil saat menyadari perlakuan Sungyeol padanya. Kecil, senyum yang sangaaat tipis.
"Bodoh, kenapa kau membiarkan dirimu basah hanya untuk melindungi tasku agar tetap kering?" gumam Sungyeol pelan. Ia masih sibuk mengeringkan rambut Myungsoo. Sedangkan Myungsoo terdiam dan masih tetap fokus pada setirannya dan jalanan.
Terdiam beberapan detik sebelum akhirnya Myungsoo menjawab. "Aku basah karena melindungimu, bukan tasmu." Gumam Myungsoo dengan sangat pelan, namun masih terdengar samar-samar di telinga Sungyeol.
Sungyeol terdiam mendengarnya, namun tangannya masih tetap bergerak mengusap-usap rambut namja yang telah menjadi suaminya beberapa hari ini.
Ia memandangi jaket basah berwarna biru tua yang ada di pangkuannya ini.
"Singkirkan tanganmu."
Zzzt! Urat nadi Sungyeol muncul di keningnya, menandakan kekesalannya. Tangannya yang awalnya mengusap rambut Myungsoo, kini jari panjang nan lentik itu tiba-tiba menarik Myungsoo dengan cukup kuat.
"YA! Rambutku!"
"Aku dengan baik hati mengeringkan rambutmu, kau malah menyuruhku menyingkirkan tanganku?! Dasar bocah tak tahu diuntung!" kesal Sungyeol masih menjambak rambut Myungsoo.
Demi keselamatannya sendiri tentunya, karena tidak ingin Myungsoo melepaskan kendalinya dari stir mobil, akhirnya ia melepaskan jambakannya dari rambut namja tampan yang duduk di sampingnya ini.
Myungsoo berdecak kesal dan menatap Sungyeol dengan tajam sebelum ia kembali fokus pada jalanan. "Ck, tidak usah mengerikan rambutku, rambutku bisa kering dengan sendirinya. Keringkan saja rambut dan pakaianmu itu, setelah ini kau ada rapat, bukan? Klienmu akan menolak proposalmu jika kau mengikuti rapat dengan tampilan dekil seperti itu." Ujar Myungsoo dengan nada datar seperti biasanya. Tangan kirinya tampak mengusap-usap kepalanya dengan sedikit kesal, kulit kepalanya sakit.
Sungyeol menggembungkan pipinya, ia mengubek-ubek isi tasnya dan mengambil sebuah permen tangkai, membuka bungkusannya dan mengulumnya.
Myungsoo melirik Sungyeol dengan ekor matanya, tangannya kemudian meraih handuk kecil yang ada di atas paha Sungyeol dan mengusapkannya ke rambut coklat almond milik Sungyeol dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya sibuk mengendalikan stir mobilnya.
"Keringkan, bodoh. Atau kau akan masuk angin jika terus basah seperti ini." Ujar Myungsoo dengan masih konsen ke arah jalanan. Sungyeol menoleh pada Myungsoo dengan kening yang berkerut, tampang kesal. Namja manis itu tahu bahwa Myungsoo bermaksud baik, menyuruhnya untuk mengeringkan poni dan pakaiannya sendiri saja, tidak perlu mengurus rambut basah namja dingin itu. Tapi… cara bicaranya sangat kasar, itulah yang membuat Sungyeol kesal. -3-
Sungyeol meraih handuk yang ada di atas kepalanya dan mengusapkannya ke rambutnya yang tidak terlalu basah, hanya bagian poni saja yang sedikit basah. Sedangkan Myungsoo, tangan kanannya sudah kembali mengendalikan stir. Ekor matanya kembali melirik Sungyeol.
"Hey, kemejamu basah. Apa perlu kulepaskan kemejamu itu dulu dan menggantungnya di jok belakang agar kering?" tanya Myungsoo dengan nada datar dan cueknya. Sungyeol mengernyitkan keningnya dan memicingkan matanya.
"TIDAK PERLU!"
"Whyy?!"
"Aku pakai apa kalau kemejaku digantung dibelakang, hah?!"
"Ya tidak pakai apa-apa."
"Diam atau kutendang kau!"
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Sungyeol terlihat sedang duduk dengan tangan kirinya yang menopang dagunya dan jari-jari tangannya yang mengetuk-ketuk meja. Hoya masuk ke dalam ruangan yang terdapat Sungyeol di dalamnya juga itu dengan dua gelas kopi hangat di tangannya. Ia meletakkan segelas kopi tepat di depan Sungyeol, segelas lagi untuk dirinya sendiri.
"Lelah, hm?" tanya Hoya sebelum ia menegak kopinya. Rapat telah selesai dan kini Hoya dan Sungyeol tengah berada di ruangan pribadi Hoya yang terlihat penuh dengan benda-benda berwarna ungu, hampir sebagian besar ruangan ini dipenuhi oleh warna ungu, bahkan dindingnya pun ditempel dengan wallpaper polos berwarna soft purple. -_- Terkadang Sungyeol merasa sedikit mual jika berlama-lama di ruangan ini.
"Hahh…" hela Sungyeol. Hoya yang tengah menyandarkan bokongnya ke meja kerjanya seraya memegang gelas kopinya hanya tersenyum. "Kenapa? Sedang ada masalah?" tanyanya.
Sungyeol menggelengkan kepalanya. "Entahlah, aku hanya merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
Hoya mengangkat alisnya lalu meletakkan gelas keramiknya di atas meja. "Hm? Memangnya selama 5 hari ini apa yang telah kau lakukan dengannya?" tanyanya dengan nada penasaran. Sungyeol mengernyit dan memandang Hoya dengan pandangan bertanya. "Apanya? Yang aku lakukan dengannya selama 5 hari ini? Ya, biasalah. Saling menjambak, mencakar, tonjok-menonjok, dan sejenisnya." Jawab Sungyeol dengan malas, dan memang itulah kenyataannya.
Hoya menatap Sungyeol dengan tatapan cengo. "Mengerikan." Gumamnya. Sungyeol hanya menaikkan kedua bahunya dan menghela napasnya lagi. Ia kemudian menelungkupkan kepalanya ke atas meja dengan kedua lengannya sebagai alasnya. Lelah. Itulah yang tengah Sungyeol rasakan untuk hari ini, entah kenapa ia merasa sangat kelelahan dan ingin segera pulang dan tidur.
Tapi…
"AHH!" seru Sungyeol tiba-tiba. Hoya yang tengah meminum kopinya tersentak kaget dan sedikit menyemburkan kopinya hingga sedikit mengotori kemeja hitamnya. Untung saja kopi yang tengah ia minum itu tidak keluar dari hidungnya saat ia tersedak. -_-
"Mwoyaa? Membuatku kaget saja." Kesal Hoya. Sungyeol mengedipkan mata polosnya seraya menatap Hoya. "Aku ada kelas jam 5 sore nanti."
"So? Kalau ada kelas ya pergi saja sana, kenapa harus seheboh itu? Ck." Decak Hoya kecil, kesal karena sempat membuatnya tersedak dan panik.
Sungyeol mengerutkan keningnya dan memanyunkan bibirnya. "Tidak gentle sekali kau, setidaknya bilang 'biar kuantar' atau 'masih hujan, aku akan mengantarmu'. Dasar pemalas! Dasar pelit. Dasar pendek! Dasar galak!" Cibir Sungyeol pelan sambil berjalan kearah pintu keluar, hendak berangkat ke kampusnya dan juga sekalian ancang-ancang untuk kabur sebelum gelas kopi milik hyungnya itu melayang dan mendarat tepat di hidung mancungnya ini.
.
.
.
"Ukhhh… Kenapa hari ini sial sekali sih?" gumam Sungyeol seraya mengelap pipi kanannya yang terlihat kotor, berlumpur. Yup, saat berjalan dari parkiran luar ke dalam area kampus, sebuah mobil sialan melaju dengan sangat kencang sehingga becekan lumpur di lantai aspal dengan indahnya terciprat ke arah Sungyeol dan mengenai rambut, wajah, dan baju bagian kanan Sungyeol. Dan ajaibnya, setelah Sungyeol menyumpahi dan mengutuk mobil itu dengan semburan dahsyatnya, mobil itu dengan sialnya menabrak pohon yang ada di tikungan jalan.
"Heh, syukurin, cium pohon juga 'kan akhirnya?" cibir Sungyeol sambil terus mengelap wajah dan rambutnya dengan tissue dan berjalan ke arah toilet. Saat hampir sampai ke toilet dan hendak berbelok, langkah namja manis berambut almond tersebut menghentikan langkahnya saat melihat seorang namja yang ia kenal baru saja keluar dari toilet pria. Sungyeol yang hendak menghampiri namja itu langsung kembali melangkah mundur dan bersembunyi di balik dinding belokan. Ia mengernyit saat melihat namja itu menghampiri seorang yeoja yang ternyata sedari tadi telah menunggu di depan toilet pria tersebut dengan senyum manis.
'Hehh? Yeoja yang kemarin? Yang di café? Kenapa dia ada di sini? Kenapa dia menunggu di depan toilet pria?" Dan… KENAPA MYUNGSOO KELUAR DARI TOILET DAN LANGSUNG MENGHAMPIRINYA DENGAN SENYUM MANISNYA?!
Begitulah setidaknya pertanyaan Sungyeol yang terakhir.
Mata Sungyeol terus menatap tajam gerak-gerik yeoja itu dan Myungsoo. Berbagai pertanyaan tentang yeoja itu berkeliaran di otaknya disamping rasa nyeri di dadanya. Umm, yang rasa nyeri di dada itu mungkin saja karena masuk angin. Begitulah kira-kira kilahan Sungyeol.
'Sebenarnya yeoja itu siapa, sih? Kenapa kelihatannya dekat sekali dengan Myungsoo? Kukira hanya teman bisnis, ternyata yeoja itu ada di kampus juga. Kalau hanya teman kampus, tidak mungkin mereka bisa bersama juga bahkan di saat Myungsoo sedang kerja, bukan? Kalau teman bisnis, yeoja itu tak mungkin melakukan bisnis dengan Myungsoo di kampus, 'kan?.' pikir Sungmin sambil berjalan memasuki toilet pria setelah Myungsoo dan yeoja itu telah menghilang di belokan koridor.
"Hah! Bukan urusanku!" gumam Sungyeol pelan saat ia kembali teringat dengan peringatan yang Myungsoo berikan padanya saat awal-awal dari pernikahan mereka, bahwa mereka tidak boleh mencampuri urusan pribadi satu sama lain. Yasudah, Sungyeol berusaha untuk tidak kepo dan memikirkan tentang yeoja itu.
Langkah Sungyeol kembali terhenti saat melihat sesuatu yang tergeletak begitu di atas lantai keramik toilet tersebut. Sebuah handuk kecil berwarna pink muda. Sungyeol mengernyit dan mengambil handuk kecil itu dan mengamatinya baik-baik. Ia mengambil napasnya dengan dalam dan menghenmbuskannya dengan panjang. Ia berjalan mendekati tong sampah yang ada di dekannya dan menginjak bagian bawah tong sampah tersebut sehinga tutup dari tong sampah tersebut terbuka. "Kalau memang tidak memerlukan ini lagi, kenapa tidak buang pada tempatnya?" bisiknya yang kemudian membuang handuk kecil berwarna pink muda itu yang ternyata adalah miliknya yang tadi siang ia berikan pada Myungsoo.
Ia hendak berbalik dan masuk ke salah satu kabin toilet setelah membuang handuk itu, namun gerakannya terhenti saat melihat sesuatu di dekat salah satu pintu kabin toilet. Selembar foto. Sungyeol kembali mengernyit, saat hendak memungut foto tersebut, perasaannya sudah tidak enak. Dan benar saja, saat ia mengambil foto itu dan mengamatinya, dadanya terasa sesak dan sakit, napasnya tertahan sesaat, dan tangannya terkepal kuat.
Foto tersebut.
Foto Myungsoo yang tengah berciuman dengan yeoja itu. Yeoja yang tadi bersama dengan Myungsoo.
~TBC~
Buaahh! Entah kenapa ff ini bisa melenceng dari pemikiran author =_= Yasudahlah, yang penting berjalan saja deh… Huhuhuhu, maap sekali lagi karena author updatenya lama, -_- maklum, ujian, pr, les bimbingan bertumpukan =oo= hehehe… *nyengir* #plakk
Okedeh, daripada author makin ngawur lagi, lebih baik segera sudahi pertemuan kita di chap ini… XD
Don't forget to Review (FFn) dan RCL (FB), please~? ^^
Thanks~ *bow* m(_ _)m
Annyeong~ *lambai-lambai kolor jereumi*
