Author Note: updateeee :D aw man! Sedih banget tidak dapat satu pun review chapter lalu QAQ huhuhu… kemana yah reviewer-nya pergi…
Disclaimed! Kingdom Hearts wasn't mine! Kingdom Hearts belong to Square Enix and the creator, Tetsuya Nomura.
The Half blood 2 : Conflict Against Slayer
Chapter 5
Roxas mengamati Twilight Town yang sudah cukup lama tidak dikunjungi olehnya. Rumah susun yang berjajar rapi karena penataan kota yang baik. Lantai jalanan terbuat dari paving blok yang tersusun dengan rapi masih memiliki kondisi baik. Toko-toko kecil di antara rumah susun belum buka karena masih terlalu pagi. Penduduk kota ini lalu-lalang untuk memulai aktivitasnya di pagi hari. Anak-anak remaja berjalan santai dan hendak menuju sekolah mereka yang berada di kota lain. Umumnya mereka menggunakan kereta api sebagai alat transportasi.
Roxas menguap sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Sebenarnya dia tidak mengantuk. Dia hanya mencoba untuk terlihat lebih manusia di tengah keramaian. Roxas mampir ke sebuah toko yang menjual makanan. Dia membeli sandwich yang dijual di toko tersebut, lalu pergi mengelilingi kota untuk mencari keberadaan slayer yang menjadi targetnya. Roxas melahap sandwich-nya dengan cepat. Sesungguhnya perut Roxas tidak bisa mencerna makanan manusia. Perutnya hanya dapat mencerna darah saja, sehingga dia harus memuntahkannya agar makanan tersebut tidak membusuk di perutnya. Roxas hanya ingin mencoba makanan manusia karena penasaran terhadap rasanya. Meski harus diakuinya, rasanya tidak seenak darah.
Roxas menemukan targetnya setelah berjalan beberapa puluh menit mengelilingi kota. Sang Slayer tidak mengetahui bahwa Roxas seorang vampire. Dia tidak curiga karena Roxas berjalan di bawah sinar matahari. Roxas mendesah sambil tersenyum. Roxas melukai lengannya, membiarkan darah mengotori tangannya, lalu berjalan mendekati Sang Slayer dengan tergesa-gesa. Dia memasang ekspresi sedih lalu memegang baju slayer tersebut.
"To-tolong! Teman saya… teman saya diserang vampire!" kata Roxas dengan ekspresi ketakutan.
"Di mana!?" Sang Slayer termakan perangkap Roxas.
Roxas menunjuk ke arah gang kecil yang sepi. "Va-vampire itu menggigit teman saya! Saya tidak tahu bagaimana nasib teman saya saat ini!" Roxas menggenggam lebih erat pakaian Sang Slayer.
Slayer tersebut mendorong tubuh Roxas hingga dia terjatuh, lalu berlari memasuki gang. Roxas tersenyum sinis melihat dia masuk. Setelah membersihkan debu yang mengotori pakaiannya, dengan santai Roxas berjalan memasuki gang. Roxas memejamkan matanya, mencari bunyi langkah lari slayer tadi. Roxas merasakan keanehan. Langkah kaki yang tadinya berderap cepat kini menjadi pelan. Roxas memegangi dagunya. Berpikir.
"Sudahlah," kata Roxas sambil menghela napas.
Slayer tadi terlihat menunggunya. Rupanya Sang Slayer hanya berpura-pura termakan jebakan Roxas. Dia bersiap menyerang Roxas kapan pun. Roxas memasang posisi menyerang, tapi sebelum menyerang, Roxas ingin menanyakan sesuatu.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku berbohong?"
"Karena luka di lenganmu telah menutup. Padahal darah yang berada di tanganmu masih baru. Suhu tubuhmu juga sangat rendah, mendekati dingin. Itu tidak normal," jawab Sang Slayer dengan tenang.
'Tidak kusangka dia orang yang amat teliti. Memang benar luka yang kubuat menutup hanya dalam beberapa detik. Berjemur cukup lama di bawah sinar matahari ternyata tidak membuat suhu tubuhku meningkat dan mendekati suhu manusia normal,' pikir Roxas sambil menatap ke bawah.
Saat Roxas mengangkat kepalanya, sosok slayer tadi menghilang. Roxas melompat mundur dan mendadak, benturan hebat antara senjata slayer, heavy blade, dengan lantai beton terdengar keras hingga membuat gempa ringan. Serangan tadi mengenai ujung poni Roxas, tapi tubuhnya baik-baik saja. Lantai beton retak akibat hantaman dari tusukan heavy blade. Dinding-dinding sekitar lantai beton yang retak juga retak.
Roxas meremas jemarinya hingga berbunyi. Ketika heavy blade hendak membelahnya menjadi dua, Roxas menahannya dengan tangan kosong. Lantai yang Roxas pijak retak karena dorongan kuat dari serangan yang ditahannya. Darah mengalir keluar dari tangan Roxas dan terjatuh ke lantai beton yang retak. Roxas meremas heavy blade hingga terlihat retak dan akhirnya hancur. Slayer tersebut terkejut melihat heavy blade yang terbuat dari baja terbaik hancur hanya dengan tangan kosong. Tapi, slayer tersebut tidak menyerah. Dia masih memiliki senjata cadangan. Sebuah pistol dengan peluru perak. Kewaspadaan Roxas meningkat saat dia melihat peluru perak ditembakkan padanya. Meski peluru perak tidak terlalu berbahaya bagi vampire, tapi jika peluru tersebut bersarang dalam tubuh vampire, maka peluru itu akan menjadi racun meski tidak membunuh para vampire. Vampire akan merasa pusing dan pandangan terasa berbayang.
Sang Slayer menembakki Roxas beberapa kali. Sebuah peluru membesat kulit wajah Roxas ketika Roxas menghindar. Darah keluar sesaat karena lukanya langsung sembuh. Mendadak, tembakkan terhenti karena Sang Slayer kehabisan peluru. Roxas memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerangnya. Tangan Roxas menangkap kepala Sang Slayer dan membenturkannya pada dinding hingga dinding tersebut retak. Sang Slayer masih belum mati. Dia menendang perut Roxas agar dia menjauh dan mencoba kabur dari Roxas. Sang Slayer memasuki gang lebih dalam lagi.
Roxas mendesah sambil memegangi perutnya yang terkena tendangan. Dia memejamkan mata. Dia memang tidak bisa melihat posisi slayer tadi karena dia sudah berbelok dan menghilang dari pandangannya, tapi Roxas bisa memperkirakan posisinya melalui bau. Roxas mengangkat salah satu tangannya sejajar dengan dadanya. Telapak tangan yang diangkatnya mengeluarkan cipratan listrik.
"Mungkin ini tidak akan membunuhnya, tapi paling tidak cukup untuk melumpuhkannya," kata Roxas dengan senyum sinis. "Thunder!"
Sebuah petir menyambar ke bawah dan meledak cukup kuat hingga menyisakan asap hitam yang membumbung ke langit.
Sora menguap dengan mulut terbuka lebar tanpa menutupinya. Pagi hari yang sejuk membuatnya mengantuk. Ingin sekali dia tidur lagi, tapi berhubung dia dan Riku harus segera keluar dari Destiny Island dan menuju tempat lain karena ada urusan penting, Sora pun harus melanjutkan tidurnya di mobil.
"Roxas masih di Twilight Town?" tanya Sora, dengan mata setengah terpejam, pada Riku yang sedang menyetir.
"Ya. Katanya masih ada dua target yang belum dibunuhnya. Dia akan langsung menyusul kita ke Land of Departure setelah target terakhir dibunuhnya."
Sora tidak membalas. Dipejamkan matanya dan dibiarkan pikirannya memasuki alam mimpi yang nyaman dan indah. Tatapan Riku terus tertuju pada jalan. Meski terfokus pada jalanan, pikirannya tetap bercabang karena banyak hal yang dipikirkannya. Dia memikirkan misi di Land of Departure. Di sana, mereka tidak akan membunuh slayer atau menangkap vampire atau pun werewolf jahat, melainkan mencoba membuat kesepakatan lagi bersama slayer.
Cloud sudah dari kemarin berada di sana. Dia pergi setelah menyelidiki Destiny Island sejenak. Apa yang Cloud selidiki? Dia menyelidiki bagaimana slayer bisa mengetahui bahwa terdapat half blood vampire yang tinggal di Destiny Island. Slayer mengetahui keberadaan half blood vampire yang tinggal di sana karena laporan warga tentang hewan-hewan peliharaan mereka yang mati kehabisan darah.
Warga-warga tambah khawatir karena terdapat dua buah lubang yang mirip gigitan vampire di leher hewan yang telah meninggal. Yang lebih mereka khawatirkan lagi adalah, mereka takut salah satu dari mereka menjadi sasaran vampire jika seandainya tidak ada lagi hewan-hewan yang dipelihara oleh mereka. Half blood vampire memang tidak berbahaya bagi manusia biasa, tapi mereka tetap membutuhkan darah untuk menghilangkan dahaga yang menyerang mereka. Meski begitu, jika dahaga tersebut tidak dihilangkan, half blood vampire tidak akan kehilangan kewarasannya meski mereka akan merasa terganggu oleh rasa dahaga tersebut.
Riku mencoba memikirkan berbagai alasan yang dapat diterima oleh para slayer agar mereka mau berdamai dengan vampire. Mulai dari darah sintetik, menghukum vampire yang berbuat jahat, melindungi slayer yang diserang vampire jahat, tidak akan membunuh slayer yang mencoba membunuh vampire baik dan hanya menghukumnya, dan masih banyak lagi hingga dia merasa pening. Perjalan yang masih cukup jauh membuat Riku memutuskan untuk berhenti di pemberhentian yang terdapat pom bensin dan juga kafe.
Riku memarkirkan mobilnya setelah mengisi bahan bakar dan berjalan masuk ke kafe. Dia meninggalkan Sora yang masih tertidur lelap di mobil. Bunyi lonceng terdengar saat dia membuka kafe. Mengapa bunyi lonceng tadi memberi kesan bahwa kafe ini kafe jaman dulu? Riku pun terheran-heran juga, tapi dia tidak punya waktu untuk memikirkannya.
Kafe ini cukup ramai karena memang banyak mobil yang berhenti untuk istirahat sejenak di sini. Kafe ini menjual junk food dan berbagai jenis minuman. Dari soda hingga susu. Kursi-kursi kafe ini terlihat berantakan dan belum sempat dibereskan oleh pelayan kafe karena ramainya pengunjung. Riku disenggol oleh seorang pelayan ketika dia hendak memesan makanan dan minuman di kasir. Sepertinya Sang Pelayan terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikan langkahnya. Yang lebih parah, Pelayan tadi tidak meminta maaf pada Riku dan langsung pergi mengantarkan pesanan. Dahi Riku langsung mengkerut. Dia mendengus kesal melihat betapa tidak sopannya pelayan tadi. Riku mendekati kasir dan langsung memesan makanan dan minuman. Sang Kasir memberikan bon pada Riku dan Riku segera membayarnya.
Sang Kasir meminta Riku menunggu di samping, di mana tempat pengambilan makanan dan minuman yang akan di bawa pergi. Sambil menunggu, Riku memeriksa HP-nya. Mendadak, dia mencium bau yang dikenalnya. Pandangannya pun beralih dari layar HP dan segera mencari sumber bau yang dikenalnya. Di hadapannya yang banyak orang lalu-lalang, seseorang yang amat mirip Sora, tapi memiliki rambut berwarna hitam dengan mata kuning, menatapi Riku sambil menyilangkan kedua tangannya. Tatapan keduanya saling bertemu selama beberapa detik. Sosoknya langsung menghilang ketika pandangan Riku terhalang oleh seseorang. Baunya di dalam ruangan ini pun perlahan menghilang.
"Pesanan nomor 76!" seru seorang pelayan sambil meletakkan pesanan Riku di atas meja pesanan.
Riku langsung memberikan bon miliknya dan ditandai oleh Sang Pelayan sebelum mengembalikan bon tersebut pada Riku. Riku berjalan keluar dan langsung memasuki mobil sambil membawa belanjaannya. Dia terdiam sejenak sambil memikirkan pemuda tadi.
'Apa maksud dari kemunculanmu, Vanitas?' pikir Riku dengan dahi mengkerut. Dia memikirkan kemunculan pemuda tadi yang amat mendadak.
Ditatapinya Sora yang masih terlelap dalam tidur. Sejak tadi Sora tidak bergerak sedikit pun. Seperti mayat saja. Tapi perutnya masih terlihat bergerak, menandakan bahwa dia masih bernapas dan hidup. Sora tidak pernah mengigau dalam tidur, seakan-akan dia tidak pernah bermimpi. Sora memang tidak pernah bermimpi. Tidak pernah sekali pun selama hidupnya. Riku bahkan bertanya-tanya, apakah karena dia masih belum sempurna seutuhnya?
"Hati-hati."
Mata Riku terbelalak. Dia menoleh kebelakang dan sudah melihat Vanitas berada di tempat duduk belakang. Riku kehilangan kata-kata sehingga tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Aku dapat melihat akan terjadi kerusuhan nanti. Jangan membahayakan Sora. Biarkan dia bersama Roxas nanti."
Riku terdiam lalu menatap ke depan dan bersandar pada kursi. Dia melirik Vanitas dari kaca tengah yang berfungsi untuk melihat ke belakang. "Sudah lama kau tidak menampakkan dirimu."
Senyuman sinis muncul di wajah Vanitas. "Tidak ada gunanya aku menampakkan diriku untuk hal-hal yang tidak penting. Itu saja yang akan kukatakan."
"Sebentar, Vanitas." Riku tahu dia hendak menghilang lagi, maka dari itu dia segera mencegahnya. Tapi Riku tidak menoleh. "Mengapa kau menghindar ketika Sora mencarimu?"
Hening sejenak ketika Vanitas mendengarnya. Vanitas tidak memiliki alasan khusus mengapa dia selalu menghindari Sora. Dia hanya ingin menghindarinya. Terkadang Vanitas sendiri bertanya pada dirinya mengapa dia menghindar. Terdapat rasa segan untuk menemui Sora. Dia tidak tahu apa penyebabnya dan dia tidak akan menemui Sora hingga dia tahu penyebab mengapa dia merasa segan.
"Tidak apa-apa."
Alis Riku terangkat sebelah. Tidak ada, katanya? Perasaan heran langsung menyerang Riku. Jika memang tidak ada alasannya, mengapa dia tidak mau menemui Sora? Riku tahu Sora sangat ingin menemui Vanitas. Vanitas pun sengaja datang memperingati Riku ketika Sora masih tertidur agar dia tidak menemuinya, Riku tahu juga hal tersebut.
"Kau tidak menganggap Sora yang sekarang sebagai adikmu?"
Vanitas membeku. Mendengar kata-kata Riku tadi serasa menusuk jantungnya dan membuatnya mati untuk selamanya. Sayangnya itu cuma perumpamaan. Vanitas tidak akan mati semudah itu hanya karena sebuah kalimat. Vanitas melirik ke bawah dengan ekspresi sedih. Mungkin apa yang Riku katakan ada benarnya, begitulah isi pikiran Vanitas.
Setitik keringat terlihat di wajah Riku. Dia tidak menyangka kata-katanya benar. Riku benci sekali mengakuinya, tapi Sora yang sekarang dengan Sora yang dulu bukanlah orang yang sama. Mereka berbeda meski memiliki wajah yang sama. Riku tidak bisa menyalahkan Vanitas. Dia juga tidak bisa menyalahkan Sora yang sekarang. Bagaimana pun juga, yang telah terjadi tidak bisa diulang kembali.
"Kurasa, bukan itu juga." Vanitas berusaha menyangkalnya.
Kini, Vanitas bertanya-tanya dalam hati. Dia harus segera menemukan jawabannya agar tidak membuat Sora sedih. Jika dia mengira bahwa Sora yang sekarang bukanlah adiknya, sesungguhnya dia juga merasa hal yang sama pada Sora yang dulu. Dia merasa kata 'adik' bukan kata yang tepat untuk menempatkan posisi Sora dalam daftar keluarganya. Meski Sora lebih muda darinya, tapi bukan berarti dia adiknya.
'…lebih tepatnya, seperti melihat diriku sendiri ketika kecil,' pikir Vanitas sambil menatap Sora melalui cermin di tengah mobil.
Saat Riku menatapi Sora yang mengguman, Vanitas sudah pergi dari mobil. Mulut Sora terbuka lebar saat dia menguap. Dia menatapi Riku sambil menggosok matanya yang berair.
"Kau berbicara dengan siapa, Riku?" Sora terlihat heran.
"Tidak. Aku tidak berbicara pada siapa pun. Mungkin kau bermimpi mendengarku berbicara." Riku mencoba menyembunyikan keberadaan Vanitas beberapa saat yang lalu. Jika dia memberitahukan kedatangan Vanitas tadi, Sora pasti akan sangat marah karena dia tidak dibangunkan. Riku tahu Sora ingin berbicara dengan Vanitas.
Riku memberikan makanan yang dibelinya tadi pada Sora. Makanan tersebut khusus untuk Sora karena dia sendiri tidak lapar. Sora pun makan ketika mobil mulai berjalan meninggalkan pom bensin dan menuju Land of Departure.
Land of Departure. Kota ini merupakan kota besar yang sebagian besar dihuni oleh slayer. Profesi slayer sangat tumbuh subur di kota ini. Bisa dikatakan bahwa kota ini adalah kota pelatihan bagi slayer pemula. Terdapat sekolah yang mirip sekolah militer. Sekolah tersebut melatih slayer-slayer muda hingga kemampuan mereka matang dan siap menerima misi membantai vampire. Banyak vampire yang sangat anti dengan tempat ini. Jika ada vampire yang berani masuk ke kota ini, dijamin umurnya tidak akan sampai sehari jika menginjak tempat kota ini.
Tapi lain halnya jika Cloud yang berada di sana. Tidak ada satu slayer pun yang dapat mengalahkannya. Tidak peduli beratus-ratus slayer mengepungnya. Saat ini, Cloud sedang menemui pemimpin Land of Departure. Tentunya dia tidak sendiri. Dia bersama beberapa wakil hunter. Mereka datang untuk membuat persepakatan damai bagi vampire dan slayer. Sambutan yang tidak ramah diterima Cloud sebagai perwakilan vampire. Sedangkan wakil hunter disambut biasa-biasa saja. Cloud selalu tenang dalam menghadapi berbagai situasi yang dihadapinya saat ini. Tidak perduli banyak cemooh yang dilemparkan padanya, emosinya tetap tenang bagaikan danau.
Di ruang rapat –yang didominasi oleh slayer, mereka semua masih terdiam karena menunggu wakil-wakil yang lain. Mereka baru akan memulai rapat ketika pukul 10 pagi. Sayangnya, wakil dari witch dan elf memutuskan untuk tidak datang. Riku—yang merupakan salah satu wakil dari pihak werewolf—memasuki ruang rapat beberapa menit sebelum pukul 10 dan langsung duduk di samping Cloud. Di mana Sora? Rupanya Riku meninggalkannya bersama Roxas. Dia mengikuti saran Vanitas, menghindarkan Sora dari kerusuhan.
Meja rapat melingkar bulat melonjong. Terdapat tigapuluh kursi yang berjejer di tepi meja rapat. Sebagian kursi rapat milik slayer. Satu kursi untuk wakil vampire, yaitu Cloud seorang. Empat kursi untuk wakil hunter, tapi yang terisi tiga saja. Tiga kursi untuk wakil werewolf, dan terisi penuh. Tujuh kursi untuk wakil witch dan elf, tapi ketujuh kursi tersebut kosong. Berarti hanya datang tujuh wakil yang menyuarakan perdamaian antara slayer dan vampire.
Pukul 10 tiba. Rapat perdamaian pun segera dimulai.
Roxas dan Sora berjalan-jalan di sekitar kota. Begitu banyak kendaraan yang lalu-lalang di jalan raya. Yang lebih mendominasi jalan raya kebanyakan adalah kendaraan motor. Kota ini tidak ada bedanya dengan kota lain. Banyak toko yang menjual aneka jenis makanan, benda, pakaian, alat-alat bertarung, dan masih banyak lagi. Pohon-pohon yang tumbuh di tengah kota terlihat kurang terawat. Daun-daun pohon hampir berwarna kuning karena kekurangan air. Daun-daun layu dibiarkan berserakkan di bawah pohon. Bunga-bunga yang tumbuh di dalam pot terlihat tidak segar karena terlalu sering terpapar polusi kendaraan.
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa Roxas dan Sora adalah pure vampire dan half vampire. Ada beberapa slayer yang merasa curiga, tapi mereka tidak bisa membuktikan kecurigaan mereka karena keduanya berjalan di bawah sinar matahari. Meski begitu, seorang slayer mengikuti Roxas dan Sora karena mereka tidak sengaja menyenggol kulit Roxas yang dinginnya sedikit kurang wajar. Tentunya Roxas mengetahui mereka diikuti. Tapi selama dia tidak menyerang keduanya, maka dia tidak akan mengambil tindakkan apa pun.
"Kira-kira apa yang terjadi di sana, ya?" tanya Sora sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala.
Roxas mengangkat kedua bahunya. "Riku bilang sih akan rusuh, jadi kita sebaiknya tidak ikut dan berjalan-jalan saja di kota."
Keduanya mengelilingi kota hingga sore hari. Keduanya masih diikuti oleh seorang slayer dan sepertinya slayer tersebut tidak akan berhenti mengintai keduanya hingga dia bisa membuktikan bahwa Roxas adalah vampire. Hingga langit berubah menjadi gelap pun tidak membuat slayer tersebut menyerah.
Sora menguap dengan mulut terbuka lebar. Matanya terasa perih dan mengantuk. Dia tahu ini masih terlalu dini untuk tidur, tapi dia merasa sangat bosan berada di kota tersebut. Tidak ada hal yang menarik baginya. Baginya, Land of Departure dan Hollow Bastion tidak terlalu berbeda. Penuh dengan polusi dan kebisingan bunyi kendaraan. Roxas membelikannya segelas susu hangat. Udara terasa dingin bagi Sora, tapi tidak bagi Roxas.
"Riku lama sekali," keluh Sora sambil duduk di atas aspal kotor. Badannya menyandar pada dinding toko di tepi jalan.
Roxas yang berdiri di sampingnya menatapinya yang duduk di aspal. "Mungkin sebentar lagi selesai?" Roxas hanya menduga-duga.
Kini, Roxas pun duduk di samping Sora. Sora menyandarkan kepalanya pada bahu Roxas dan memejamkan matanya. Dia mencoba untuk tidur. Dering HP milik Roxas berbunyi, menandakan sebuah pesan singkat diterima oleh HP-nya. Roxas mengeluarkan HP-nya perlahan, berusaha untuk tidak banyak bergerak dan membangunkan Sora yang begitu cepatnya terlelap. Pesan dari Riku.
"Kesepakatan tidak berjalan begitu baik, tapi sepertinya masih mempunyai harapan. Kurasa pertemuan ini masih akan lama karena kami berjuang meyakinkan mereka terus. Bawa Sora ke penginapan atau ajak dia tidur di mobilku. Aku akan menghubungimu lagi jika pertemuan selesai."
Roxas terdiam membaca pesan tersebut. Roxas menghela napas dan berpikir, 'Seharusnya dia kabari beberapa menit yang lalu. Sulit membangunkan Sora jika sudah tertidur seperti ini.'
Di masukkannya kembali HP-nya ke dalam saku. Dia berdiri sambil menahan tubuh Sora dengan satu tangan,lalu membersihkan debu dan pasir yang menempel di celananya. Dia berlutut dan menggendong Sora yang tertidur. Roxas berjalan menuju parkiran mobil Riku berada. Slayer tadi masih juga mengikutinya tanpa henti. Roxas hanya bisa mendesah melihat kegigihan slayer tersebut mengikutinya. Sebenarnya Roxas heran pada slayer tersebut, apakah dia tidak lelah mengikutinya yang hanya berjalan ke sana kemari di kota?
Dengan bersusah payah, akhirnya Roxas berhasil mengeluarkan kunci mobil yang Riku titipkan padanya saat mereka bertemu di kota ini. Sora tidak terbangun saat Roxas banyak bergerak ketika mencoba mengeluarkan kunci dari sakunya. Roxas menyipitkan matanya saat menatapi Sora yang masih terlelap.
'Rasanya seperti membawa mayat saja,' pikir Roxas dengan ekspresi heran.
Setelah memasukkan Sora ke dalam mobil, Roxas menoleh ke arah slayer yang bersembunyi.
"Sampai kapan kau akan terus mengikuti kami?"
Karena keberadaannya sudah diketahui, maka slayer tersebut keluar dari persembunyiannya dibalik semak-semak hijau sedikit kekungingan. Kewaspadaan terpancar dari slayer tersebut. Meski dia masih ragu apakah Roxas vampire atau bukan, tapi dia tidak ingin lengah. Roxas berjalan mendekatinya dan kewaspadaan slayer tersebut semakin meningkat. Jarak antara Roxas dengannya hanya sekitar 5 meter. Tatapan mata saling bertemu. Tegang dengan santai. Roxas tidak terlihat mencurigai slayer tersebut karena menghindari konflik. Kedua tangan Roxas memasuki saku. Dia tidak ada niat bertarung sedikit pun.
"Mengapa kau mengikuti kami?" tanya Roxas dengan kepala yang dimiringkan.
Slayer tersebut terdiam menatapi Roxas.
"Siapa namamu?" Roxas kembali bertanya karena dia tidak menjawab.
"Vezarius," jawabnya.
"Namaku Roxas. Senang berkenalan denganmu," kata Roxas sambil mengulurkan tangannya, hendak bersalaman dengan Vezarius.
Vezarius terlihat ragu untuk menyalami Roxas, tapi akhirnya dia menyalami Roxas setelah menatapi tangan Roxas selama beberapa detik. Kulit telapak tangan Roxas terasa dingin meski tidak sedingin es. Vampire umumnya memiliki tangan sedingin es, tapi Roxas dilindungi oleh sebuah seal, sehingga suhu tubuhnya tidak sedingin vampire umumnya. Roxas hanya tersenyum ketika tangannya digenggam.
'Vampire atau bukan?' pikir Vezarius dengan ragu.
"Kau terkejut dengan tanganku yang dingin, bukan?" tanya Roxas. Setitik keringat muncul di wajah Vezarius. Dia terkejut karena tidak menyangka bahwa Roxas tahu dia memikirkan dinginnya tangan Roxas. "Sejak lahir, tanganku memang terasa dingin karena aku mengidap sebuah penyakit. Suhu tubuhku selalu di bawah normal dan aku selalu merasa kedinginan. Rasa dingin ini menghilang ketika aku berada di bawah sinar matahari yang terik, tapi dingin ini kembali ketika sinar matahari tidak mengenaiku. Sejak kecil aku selalu diperiksa oleh dokter. Mereka bilang, penyakitku adalah penyakit langka yang sulit disembuhkan. Tapi syukurlah hingga sekarang aku selalu baik-baik saja meski selalu merasa dingin," jelas Roxas dengan senyum. Tentu saja apa yang dikatakannya adalah bohong belaka.
Vezarius terlihat percaya pada kata-kata Roxas. "Maaf, kukira tadinya kau adalah vampire. Makanya sejak tadi aku mengikutimu."
Mata Roxas terbelalak. Dia berpura-pura terkejut mendengarnya. "Va-vampire!? Bukankah vampire itu tidak ada?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
"Sesungguhnya vampire itu nyata. Mereka jarang menampakkan diri pada manusia biasa dan biasanya mereka berbaur dengan manusia. Tidak akan manusia yang menyadarinya karena wujud vampire sama persis dengan manusia. Kulit vampire terasasedingin es. Sebaiknya kau berhati-hati."
"Terima kasih atas peringatannya," kata Roxas sambil membungkuk. "Saya akan berhati-hati terhadap orang yang mencurigakan."
"Ya."
Roxas menatapi Vezarius pergi dengan senyum sinis. Seal yang melindunginya memang sangat berguna, begitulah yang dipikirkannya. Roxas memasuki mobil dan duduk di samping Sora sambil menatapi Sora. Roxas menduga-duga, bahwa Sora tidak akan bangun lagi hingga pagi. Bahkan kembalinya Riku juga tidak akan membuatnya bangun. Jika membicarakan soal Riku, Roxas bertanya-tanya bagaimana hasil pertemuannya. Semoga saja baik.
To Be Continued…
Author Note: yaaaaaaay~ TBC~ (slap!) hehehee… any review for this chapter? :'D (berharap banget karena tidak ada review di chapter 4)
