Diabolik Lovers officially made by Reject

Fiction Plot ©StawberryFreak

Warnings : Yandere!Sakamaki Brothers, human Yui, violence (a little). Don't like, don't read. Well, anggaplah Yui Komori itu dirimu, fansgirls.

.

.

.

Vampires Lullaby

Route #2 : Day-to-day of a Strange Family

Pukul setengah delapan malam.

Keluarga Sakamaki beserta sacrificial bride mereka berada di ruang makan untuk menyantap hidangan yang disediakan butler sesuai dengan menu yang telah Reiji siapkan.

"Makanan yang sehat dapat menyegarkan tubuh jadi semuanya harus mengikuti menu makanan yang tiap hari ku jadwalkan" setidaknya itulah kalimat Reiji saat pertama kali Yui makan di mansion itu lalu dibalas dengan lenguhan dan protes kelima saudaranya. Reiji hanya terdiam sambil membenarkan posisi kacamatanya. Dengan berdeham sedikit Reiji kemudian berkata, "kalau ada yang membantah, aku akan mendisiplinkan kalian, tanpa terkecuali."

Sampai sekarang pun belum ada yang ingin protes tentang makanan yang disajikan sang pengurus keluarga kecuali yang dirinya terlalu 'rajin' menerima hukuman dari Reiji.

Yui menatap mereka semua makan dengan lahap kemudian mengarahkan pandangannya ke piring miliknya yang masih tersisa setengah porsi. "Oi, chichinashi, kau harus makan banyak kalau tidak kau akan jadi kurus!" Ayato yang menyadari ketidak nafsuan makan Yui segera berkomentar, kemudian ditimpali Kanato, "kau juga harus meminum jus cranberry, kalau terkena anemia bisa gawat.. benar kan, Teddie? Kau juga harus membunuh Yui kalau dia tidak mau melaksanakan perintahku.."

Anggukan pelan dari Yui cukup membuat mereka semua mengerti kalau gadis berambut soft yellow itu menanggapi. Kedua tangan Yui segera memegang peralatan makan dan dilahapnya nasi kari sayuran yang hanya tinggal setengah porsi.

Hening kembali. Yang terdengar hanyalah suara dentingan alat makan yang beradu dengan piring perak yang diukir dengan indahnya. Gelas bening berisi jus cranberry yang tampak menggoda pun tidak menyita perhatian Yui, padahal dia sudah diperingatkan untuk meminumnya.

Kedua iris Yui bergerak memandangi keadaan di luar jendela, dia merasa ada yang mengawasi selain para Sakamaki bersaudara. "Ano.. aku sudah selesai, s-sebaiknya aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.." dengan itu si gadis pirang permisi pergi dari ruang makan dan berjalan menuju kamarnya.

Seperti biasa, dia menyita waktu kurang lebih sepuluh menit untuk sampai ke pintu kamarnya. Dibukanya pintu kayu berukiran bunga itu dan masuk kedalam kamar lalu menutupnya pelan, setelah itu dia menyandarkan tubuhnya kepintu dan menghela nafas kecil.

Mengapa dia merasa akan ada sesuatu yang buruk terjadi?

Perlahan sepatu bot coklatnya diletakkan disamping pintu kemudian kakinya melangkah dan membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi. Jarinya menggenggam keran air dan memutarnya, air hangat pun keluar tertampung dalam bathtub.

Semenit kemudian, dilepasnya baju blouse pink serta celana pendek yang menutupi bagian bawahnya, tak lupa dengan pakaian dalam yang masih melindungi bagian tubuhnya juga di pisahkan sementara dari tubuhnya yang kecil.

Sekarang seluruh tubuhnya sudah terekspos dengan bebas tanpa ada sehelai benang.

Yui menutup keran, masuk kedalam bathtub dan membasahi dirinya dengan air. Matanya masih terbuka memandangi air yang ia sentuh dengan jari telunjuknya. Refleksi wajahnya yang kacau terlihat di genangan air.

"Ayah.. ada dimana?" gumam Yui dengan suara yang kecil, kemudian dia meraih sabun dan mulai membersihkan dirinya.

. . . . .

Sekarang gadis beriris merah muda itu sudah memakai seragamnya dengan lengkap, dia memandangi dirinya di cermin besar kemudian menutup matanya.

"Ehum~ meski kau sudah mandi, aroma darahmu masih saja tercium, bitch-chan~" Raito tiba-tiba dibelakang Yui dan dengan segera Yui membuka mata lalu bergerak pelan menjauh dari seorang vampire yang tiba-tiba berada dibelakangnya.

"R-raito-kun? A-ada apa?"

"Nandemo nai yo~ aku hanya lapar.."

Pergelangan tangan Yui di genggam erat oleh Raito yang mendekatkan wajahnya ke leher jenjang si gadis. Dengan mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya, Yui segera menahan nafas dan bersiap merasakan sakit lagi.

Mendadak pintu terbuka dan tampaklah sosok Reiji dan Kanato, "ditinggal sebentar saja kau sudah melakukan hal ini, Raito". Hanya dengan mendengar itu, pemuda ber-hoodie tudung bulu itu mengurungkan niatnya yang hampir terlaksana.

"Heee~? Tapi Reiji sendiri juga mau mencicipi rasa darahnya bitch-chan kan?" si pemuda yang memakai topi fedoras itu berusaha menggoda si pendisplin agar terbujuk ingin menancapkan taringnya ke dalam tubuh Yui.

Membayangkannya saja sudah membuat Raito dan Kanato ingin langsung 'menyerang' gadis yang sekarang hanya menatap mereka satu persatu dengan takut.

Coba saja bayangkan jika gigi taring yang tajam menusuk kulitmu, apa yang akan dirasakan saat benda asing masuk kedalam tubuhmu? Bagaikan pisau yang terasah sangat tajam dan kemudian bilah perak itu menggores setiap permukaan daging yang melekat pada tulangmu.

Yui bergerak mundur—takut kalau darahnya akan dihisap—tapi gerakannya terhenti karena merasa dirinya menabrak seseorang. Subaru menatap perempuan yang berani menabraknya, "kau ini menyebalkan sekali.."

"Ah.. gomenasai.." segera Yui meminta maaf dan menatap satu-satu keenam pemuda vampire yang tanpa alasan masuk sembarang ke kamarnya. "A-ada apa kalian semua kesini?" tanya Yui dengan takut tetapi tidak ada yang menjawab.

"Teddie, kita akan sama-sama membunuh mereka berempat kan?" Kanato angkat bicara meski hanya ditujukan ke boneka beruang kesayangannya yang memakai eyepatch.

"Membunuh? Siapa yang akan dibunuh?" batin Yui kaget. "Jangan dipikirkan, kami disini hanya memastikan kau sudah siap pergi atau belum, bukan bermaksud mengkhawatirkanmu!" Subaru langsung mencelos begitu saja dengan sifatnya yang tidak mau mengakui hal sebenarnya, dan berharap dengan itu Yui tidak memikirkan perkataan Kanato.

Ayato menepuk pundak Yui kasar dan mendorongnya keluar kamar, diikuti dengan kelima saudaranya yang lain.

Langkah kaki mereka menggema saat mereka melewati koridor, sinar rembulan mulai menampakkan diri dari awan dan cahayanya merembes masuk kedalam jendela. Si gadis yang sekarang berjalan paling belakang itu hanya merenung, berusaha berpikir positif dan meyakinkan dirinya bahwa perasaan aneh yang dia rasakan tadi cepat menghilang.

Tangan lembut Yui tertiba dipegang oleh Reiji kemudian pemuda berkacamata itu berdeham, "kalian duluan saja ke mobil.. aku ingat ada urusan sebentar dengannya, ku susul delapan menit lagi".

Shu menatap intens saudara kandungnya. "Bukan apa-apa, Shu.." ucap Reiji solah membaca pikiran kakaknya yang bertanya 'kau mau apa?'.

Dan dengan itu, mereka semua berlalu pergi. Kini hanya tinggal Yui dengan Reiji yang sekarang dalam posisi tidak menguntungkan bagi sang gadis.

"Kau tahu? Aku sudah berusaha menahannya dari tadi.. kenapa bau darahmu begitu memikatku?" kepala Yui dihadahkan ke kiri dengan kasar, lehernya yang putih bersih terpampang jelas dikedua iris violet milik Reiji. "R-reiji-san, yang lain s-sudah menunggu" gelisah Yui mencoba cari cara untuk lepas dari posisi sekarang ini.

Tubuhnya bergemetar takut disandaran dinding, sementara mata pemuda dihadapannya menusuk lebih dalam seolah ingin membuatnya tidak berdaya ditangannya. "Tadi aku sudah bilang delapan menit lagi aku akan kesana, jadi.. aku akan menepatinya.."

"—Kkh!"

Reiji menghisap hemoglobin Yui sampai dirinya merasa terpenuhi, tangannya bergetar merasakan kekuatan dari dalam dirinya menjadi maksimal. "Memang tidak salah kau menjadi korban para vampire seperti kami, hahaha.."

Yui hanya menunduk terdiam mendengar kata 'korban'.

"Sekarang tutup matamu sampai ku memperbolehkan kau membuka matamu lagi. Patuhi kata-kataku jika kau masih ingin bola matamu tersambung syarafnya dengan otakmu, atau kau memang ingin mengalami kebutaan agar kau bisa selalu bergantung padaku, hn?"

"T-tidak! Maafkan aku.."

"Bagus. Sekarang tutup.."

Sejenak Yui merasakan tubuhnya melawan gravitasi, setelahnya suara Reiji keluar tanda mengizinkannya untuk membuka mata. Tubuhnya—secara utuh pasti—sudah berada di depan pintu limousine hitam, baru kali ini dia merasakan teleportasi. Yui masuk kedalam mobil diiringi dengan Reiji. Gadis itu duduk di sebelah Ayato, seperti biasa.

Iris hijau Ayato melihat tanda gigitan di lehernya dan pemuda berambut merah kecoklatan itu tahu sendiri asal muasal yang melakukannya, "Ck! Apa yang kau lakukan Reiji?! Kau mau mencari masalah kepada ore-sama ini, hah!?" teriak Ayato dengan emosi yang tiba-tiba meningkat. Raito yang mengerti apa maksud teriakan kesal dari saudara kandungnya itu pun menyeringai penuh arti.

"Hee~ benar kan apa dugaanku? Reiji juga tidak bisa menahan hasratnya~"

"Apa masalahnya bagimu, Raito?"

"Kalian ini.. diamlah!" bentak Subaru.

"Teddie.. mereka sekarang berkelahi karena Yui.. lucu kan?"

Ayato hanya mendecih kemudian menatap Yui dengan kesal, "kau! Lihat saja nanti disekolah,akan ku hukum karena menyerahkan tubuhmu pada orang lain!"

Mata Yui menatap takut Ayato, kemudian cepat-cepat pandangannya teralih kepada vampire-vampire yang sedang ribut karena permasalahan Reiji—kecuali Shu yang masih dengan tenangnya mengacuhkan saudara-saudaranya dan lebih memilih untuk mendengarkan musik.

Entah mengapa, akhir-akhir ini Yui merasa waktu terus berjalan cepat. Mungkin karena dia terlalu banyak melamun atau apa, dia sendiri pun tidak mengerti. Sekarang, mobil limousine yang mereka tumpangi sudah berada didepan sekolah mereka.

Bisa dikatakan, tempat tersebut bukan seperti sekolah melainkan istana. Bangunan yang terdiri dari tiga lantai itu tak kalah luasnya dengan mansion milik keluarga Sakamaki.

Masih dengan dilengkapi fasilitas yang melebihi kata cukup memadai, seragam sekolah mereka pun juga tak terkira harganya. Kurang lebih 5.700 yen.

Terkejut?

Setelah melewati dua koridor bersama-sama, Ayato, Yui serta Kanato berpisah dari keempat saudara lainnya karena berbeda pembagian kelas. Semuanya masih tampak sama kecuali papan tulis mereka yang berisikan soal-soal latihan yang sudah diajarkan 2 minggu lalu.

"Aaah, aku jadi malas mengerjakannya!" Mudah bagi Ayato yang kecerdasannya melebihi murid ber-IQ normal. Kanato masih berdiam diri disudut kelas sambil berbicara sendiri dengan bonekanya, kemudian duduk dan mengerjakan semua soal dengan cermat.

Sedangkan Yui sendiri?

Kedua iris indahnya menatap serius angka-angka dan huruf yang bercampur menjadi satu dipapan tulis, tangannya bergerak pelan mencatat soal dan mengerjakannya.

Jari telunjuk dan tengah Ayato memutar pensil mekanik hitam diatas meja, bosan. Dirinya memandangi Yui dengan tidak tahan untuk mencicipi darah gadis perawan itu dan memenuhi kepuasan hasratnya. Apa lagi dia belum menjalankan hukumannya terhadap Yui.

Ayato pun berdiri, bermaksud menyuruh Yui untuk mengikutinya kemana dia akan pergi. "T-tapi aku belum selesai mengerjakannya.." gadis pirang itu beralasan.

"Itu gampang saja, nanti dirumah akan kubantu! Sekarang ikut aku!"

Keributan itu nampaknya diacuhkan oleh Kanato yang masih asik sendiri.

"K-kanato-kun.. tolong.." ucap Yui dengan pasrah namun tidak ada tanggapan dari si psikopat ungu itu, dia memang tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah ada 'urusan' dengan salah satu keenam vampire bersaudara yang tidak rukun ini.

Dirinya pun menurut saja saat pergelangan tangannya digenggam erat oleh Ayato dan dibawa pergi entah kemana.

. . . . .

Kedua matanya terbuka perlahan. Setelah sepenuhnya sadar, Yui teringat sesuatu kemudian mengusap pelan leher jenjangnya yang terdapat bekas gigitan Ayato. Rasa sakit yang tadi sangat terasa mulai berangsur-angsur menghilang. Wajahnya ia tundukkan dengan rasa sedih.

Kenapa mereka memperlakukannya sangat kejam dan sadis?

Apa salah dirinya sampai diperlakukan seperti itu?

Masih dengan banyak pertanyaan yang memenuhi kepalanya, suara gerakan tubuh yang bergesek dengan seprei ranjang didengar oleh gadis pirang itu. Dia baru ingat kalau saat ini masih berada dalam UKS laki-laki—bukan karena tersesat, melainkan tadinya ia diseret ke sini dan di 'lahap' oleh Ayato dan langsung ditinggalkan sendiri disini lalu tidak sadarkan diri.

Siluet tubuh yang ingin berdiri terlihat dari salah satu gorden ranjang UKS. "Aku harus benar-benar pergi dari sini sebelum dia melihatku!" batin Yui mulai panik, otaknya merespon agar kakinya dapat ia gerakkan dan segera kabur dari tempat itu.

"—Hee?"

Terlambat.

"Ternyata ada juga perempuan yang berani ke sini ya? Sendirian pula~" ujar seseorang dengan nada girang, mirip seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. "A-aku tidak.. ettou—maafkan aku!" seru Yui dengan tubuhnya yang ia tundukkan tanda meminta maaf.

Yui memandangi pemuda dihadapannya sejenak. Rambut kuning-hazelnya sangat berantakan, mata aquatic cemerlangnya mencerminkan dirinya yang sedang amat-sangat ceria. Mengingatkannya sedikit pada Shu meski dia jarang sekali tersenyum seperti orang ini.

"Mou,kenapa melamun? Kau juga mengidolakanku? Aaah, shimatta! Kenapa sih perempuan senang sekali mengejar-ngejar idolanya!?" keluh kesah pemuda itu membuat Yui sedikit bingung.

Idola? Bahkan dia tidak tahu orang-orang seperti apa yang mengisi sekolah ini. Sepengetahuan dia, hanya keenam saudara Sakamaki itu lah yang berbeda dari yang lain.

"Oh, baguslah kalau kau bukan seperti yang kupikirkan~!" tiba-tiba lamunannya dibuyarkan oleh pemuda itu.

Yui menatap wajahnya dengan kedua iris merah muda indahnya tapi kemudian matanya resah melihat sesuatu yang berbentuk bundar bertengger di dinding.

Jam sebelas malam lewat tigabelas menit.

Gadis itu sadar bahwa dia akan telat untuk sampai didepan limousine dan akan mendapat teguran lagi dari Reiji tentang 'kedisiplinan'.

"Eh? A-ah, a-aku melupakan sesuatu, sebaiknya aku pergi! Maafkan aku telah mengganggu waktumu!" dan dengan cekatan, Yui segera menghambur keluar dan berusaha lari secepat yang ia mampu.

Kemudian, tanpa seorang pun tahu, pemuda tadi memampangkan seringaiannya dan tertawa lepas.

Tawa sakrastik.

"Hahahaha! Memang benar apa yang kau katakan waktu itu, dia sangat manis!"

Seseorang lainnya mendadak muncul dibelakangnya, hanya tersenyum. "Mereka berdua sudah setuju kalau perempuan itu menjadi milik kita.. kalau si Sakamaki itu mendatangi kita, aku ingin membuktikan kepada mereka siapa yang lebih berkuasa."

"Ya~ ya. kuharap dia mudah ditaklukan dengan rencana kita, pasti akan berhasil, Ruki. Hahaha~"

"Tentu saja."

Pemuda berambut hitam bertepi putih itu membuka kenop pintu dan keluar bersama saudaranya yang merupakan anak kedua.

Meninggalkan satu jejak tetesan darah Yui yang berada dilantai putih polos ruang UKS itu.

.

.

.

Route #2—end.


A/N : Yosh~ untung saja bisa update tepat waktu XD rencana staw-chan untuk mempublish chapter kedua 'Vampires Lullaby' tanggal 22/03/2014 ternyata sukses~ dan OTANJOBI OMEDETOU untuk AYATO SAKAMAKI~! (penggemar berat Ayato) ^ ^a

ah, staw-chan tulis fict ini sambil dengar lagu keren dari Ayato, Shuu dan Subaru :v ada yang mau dengar~? copy-paste saja link yang didalam kurung :3 ( post/80276242122/diabolik-lovers-more-blood-opening-c-reject)

Well, untuk chapter depan Mukami Brothers sudah pada bermunculan (?) so stay tune dan jangan menjadi silent reader! tinggalkan reviewnya ya~

.

.

.

Reply for the reader's review

Catmiko : Terimakasih banyak sebelumnya~ well, Subaru belum memukul Shu, baru 'ingin' memukul XD
Ayato menyuruh Yui membuatkan Takoyaki but Ayato hilang dluan padahal Yui belum tahu apa-apa tentang seluk beluk rumah itu (dia engga tahu dimana dapur, lol), well aku sudah ceritakan disana bahwa Yui baru tinggal disana (aku jelaskan diparagraf ke lima)

kichikuri61 : arigatou sudah memberi review! Maaf, karena chapter pertama jadi dibuat pendek dulu~ chapter berikutnya staw-chan usahakan buat lebih dari 2k words kok XD

TheFujoshiOne : ah, doumo ri-chan~ maaf gegara aku anda jadi suka Diabolik Lovers :3 (bawa virus kau ini, staw-chan :v) Ha'i~ aku akan usahakan adegan SubaruxYui diperpanjang 'sedikit' :v

NEXT IN VAMPIRES LULLABY : Route #3 Red Moon Doesn't Ever Change