Matchmaking
Pair:: MyungYeol and other
Rated:: T
Genre:: Humor and romance
Warn:: BL, Yaoi
Author:: Hiwatari NiwaDark Lawliet
Hello~! Author's back~ Ihihihi XD Maap kalau lama updatenya… Ini author udah usahakan update cepat hehehe ^^ Okay, langsung cek it out deh~!
Enjoy~!
~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~
Sejak kejadian dimana Sungyeol menemukan foto itu, entah kenapa ia merasa suasana hatinya menjadi sangat buruk. Badmood seharian. Tidak, ia tidak berlari mengejar Myungsoo dan menghajar namja tampan itu. Ia juga tidak mengoyak foto itu dan membuangnya di tong sampah. Yang ia lakukan setelah itu hanyalah menyimpan foto itu di dalam tas ranselnya dan keluar dari toilet setelah membersihkan lumpur yang menempel di tubuhnya.
.
.
Kini ia sudah berada di rumah, memasak sebungkus ramyun untuk dimakannya sendiri sebagai makan malamnya. Lalu makan malam Myungsoo? Biarlah, itu bukan urusan Sungyeol, ia sedang malas memikirkan namja itu.
Pluk!
Lelaki manis dengan poni yang diikat ke atas itu meletakkan sepanci kecil mie ramyun yang baru saja matang di atas meja dan dialasi dengan karet alas khusus panci. Ia lalu menyumpitkan mie tersebut dan menampungnya dengan tutup panci lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Oucch!" ringis Sungyeol. Panas. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghelanya dengan malas, ia meniup mie tersebut sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya.
Sluurrpp~!
Cklek. Bam!
Sungyeol menghentikan suapannya saat mendengar suara pintu depan tertutup. 'Dia pulang.' batin Sungyeol. Saat Myungsoo berjalan melewati ruang makan, Sungyeol menundukkan kepalanya dan kembali menyeruput mienya dengan suapan yang besar, tidak peduli jika mie itu masih panas.
Myungsoo melangkahkan kakinya memasuki ruang makan dan berhenti tepat di samping Sungyeol. "Makan malamku?" tanyanya dengan nada datarnya. "Masak sendiri, aku sangat lelah." Jawab Sungyeol dengan suara datar pula. Kepalanya masih ditundukkan dengan tangan yang sibuk menyuapkan mienya ke dalam mulut terus menerus meskipun mulutnya sudah sangat penuh dan bibirnya yang memerah karena panas.
Myungsoo mengernyit. Ia merasa ada yang aneh dengan Sungyeol, namun ia berusaha cuek, mungkin saja namja berkucir poni itu memang benar-benar sedang kelelahan.
"Kenapa tidak memasakkan mie ramyun untukku sekalian?" Myungsoo meletakkan tas kuliahnya di atas meja.
"Aku tidak tahu kalau kau akan pulang makan malam. Kupikir kau akan makan malam dengan temanmu." Jawab Sungyeol dengan tidak jelas karena mulutnya yang penuh dengan mie, dan tangannya masih tetap menyuapkan mie ramyun yang masih panas itu ke dalam mulutnya.
Myungsoo mengernyit heran. Kenapa Sungyeol terus menunduk? Kenapa namja itu memakan mienya dalam kondisi yang masih sangat panas? Kenapa namja itu terus menyuapkan mienya sementara mulutnya masih sangat penuh? Apa namja itu sudah gila?
"Hey! Kau aneh." Ujar Myungsoo menepuk pundak Sungyeol. Sungyeol menepis tangan Myungsoo pelan dan melanjutkan suapannya.
"Hey! Sungyeol! Ramyun itu masih sangat panas, jangan terus menyuapinya ke dalam mulutmu." Ujar Myungsoo masih dengan nada datar namun terdengar kekhawatiran pada nada bicaranya itu.
Sungyeol tidak mendengarkan ujaran Myungsoo dan terus melanjutkan kegiatannya. 'Mati saja kau, Kim Myungsoo. Menjauh dariku! Setelah ini aku harus memakai bawang agar kau tidak mendekat! Mandi garam pasir dan belerang juga. Dasar jelek! Errgh!' pikir Sungyeol sambil menusuk-nusukkan sumpitnya ke dalam pancinya. Myungsoo mengamati kejadiaan itu dengan horror.
Myungsoo menggeram kesal karena diabaikan, ia lalu menaikkan kepala Sungyeol dan menarik dagu lelaki manis itu menghadapnya. Terlihat bibir kissable Sungyeol sangatlah merah dengan pipi yang penuh dan tatapan mata Sungyeol yang sulit diartikan, dan jangan lupakan kening Sungyeol yang berkerut tidak senang.
"Jangan menyakiti dirimu sendiri, Yeol." Bisik Myungsoo yang kemudian mengecup bibir Sungyeol dan memaksa agar bibir kissable itu terbuka. Setelah mulut Sungyeol terbuka, lidah Myungsoo masuk ke dalamnya dan memindahkan mie yang ada di dalam mulut Sungyeol ke dalam mulutnya sendiri.
Sungyeol menutup matanya rapat-rapat. Myungsoo masih asyik mengubek-ubek isi mulut Sungyeol, mengunyahnya dan menelannya. Kesempatan dalam kesempitan, ciuman sekalian curi makan. Dengan perasaan yang campur aduk, Sungyeol meraih tutup panci yang tadi ia gunakan sebagai tampungan mienya dan memukulkan tutup panci tersebut ke kepala berisi otak pintarnya Myungsoo.
"Akhh!" erang Myungsoo kesakitan saat menerima hantaman tutup panci di kepalanya. "Mati saja kau, pervert!" maki Sungyeol kesal kemudian menendang perut Myungsoo sebelum melangkah pergi ke kamarnya.
Lelaki tampan bermata elang dan berbibir tipi situ mengernyit bingung. Ia menjilat bibirnya sendiri dan kemudian mengusap bibirnya dengan punggung tangannya. Sekelebat pertanyaan muncul di kepala Myungsoo. 'Ada apa dengan dia? Kenapa dia aneh sekali. Dan…' Myungsoo menoleh ke arah meja makan. "Hey! Ramyunmu belum habis. Kau tidak ingin makan lagi?" tanya namja tampan itu dengan setengah berteriak.
"…"
Myungsoo mengedikkan kedua bahunya. "Yasudah, aku yang menghabiskannya kalau begitu." Dan dengan cueknya namja tampan itu menikmati ramyun yang masih panas milik Sungyeol itu tanpa menyadari sumpah serapah yang tengah ia sembur pada Myungsoo di kamarnya.
.
.
Kini Sungyeol tengah berada di balkon kamarnya dengan menopang kedua siku tangannya pada pembatas balokon dan mengamati seuatu yang ada di tangannya dengan serius, foto yang tadi ia temukan. Ia membalik-balikkan lembaran foto itu dengan tangan kanannya. Ia terlihat bosan dan memikirkan sesuatu di otaknya. "Haaahh…" hela Sungyeol pelan. Ia tidak menghiraukan udara dingin yang kini telah menyerangnya, yang ia butuhkan saat ini refreshing, menyegarkan otaknya, ketenangan, perenungan, dan juga pencucian otak. Entah kenapa ia mendadak ingin melakukan yoga agar semua kepenatan di kepalanya hilang. Yoga dengan gaya-gaya yang ekstrim.
Blam!
Sungyeol menolehkan kepalanya ke belakang, melihat Myungsoo yang baru saja masuk ke dalam kamar dan langsung mengambil handuk mandinya dan kemudiang memasuki kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Memandangi pintu kamar mandi yang baru saja ditutup itu dengan cukup lama sebelum akhirnya ia menegakkan tubuhnya dan berbalik, berjalan mendekati tas ranselnya yang terletak di atas kasur empuknya dan juga Myungsoo. Ia memasukkan selembaran foto itu ke dalam tas ranselnya.
Laki-laki berparas manis dengan kuciran poninya yang lucu itu terlihat sedang mengotak-atik ponselnya sebelum akhirnya menempelkan ponsel tersebut ke telinga kanannya.
"Jong-ah…" panggil Sungyeol setelah mendapatkan sahutan dari seberang panggilannya. "Kau sedang apa? Hyung sedang bosan di sini. Sudah lama tidak bermain boneka Barbie-barbiean denganmu." Sungyeol terkikik geli saat mendengar umpatan kesal yang dikeluarkan oleh Sungjong. Ia berjalan ke arah meja belajar sekaligus kerjanya tersebut dan duduk di kursi depan mejanya.
"Hm? Apanya?" tanya Sungyeol tidak mengerti dengan perkataan Sungjong. Namun sesaat kemudian ekspresi Sungyeol berubah. "Tidak ada. Di sini baik-baik saja, kok. Tidak ada yang buruk selagi kami masih memegang janji kami untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Aku tidak terlalu kepo untuk mengurusi urusan pribadinya, jadi tidak akan ada masalah di antara kami selama aku tidak mencampuri urusannya." Jawab Sungyeol panjang atas pertanyaan Sungjong.
Ya, Sungyeol memang tidak ingin dan juga tidak berminat untuk mencampuri urusan pribadi Myungsoo. Terbukti dari kejadian foto itu, ia memilih untuk diam saja dari pada bertanya, mencari masalah, balas dendam ataupun marah pada Myungsoo. Ia ingat, mereka telah memiliki kesepakatan dan Sungyeol tidak ingin dianggap aneh oleh Myungsoo, tidak saling mencintai kenapa ingin tahu tentang hal pribadinya? Itu yang membebani pikirannya saat ini. Ia tidak mencintai Myungsoo. Tidak! Atau mungkin, tidak ingin mengakuinya? Oleh karena itu, ia berusaha untuk tidak menghiraukan foto itu maupun wanita itu.
Tapi, entah kenapa justru foto dan kedekatan wanita itu dengan Myungsoo sangatlah mengganggu pikiran dan perasaannya saat ini. Padahal belum tentu jika kejadian ini menimpa Myungsoo, dimana Myungsoo melihat Sungyeol berciuman dengan seorang wanita dan terlihat sangat dekat dengan seseorang, pikiran Myungsoo akan terganggu dan memikirkan Sungyeol, 'kan? Belum tentu Myungsoo ingin memikirkannya, oleh karena itu, untuk apa Sungyeol memikirkannya? Untuk apa Sungyeol merasa terganggu dan ingin meminta penjelasan dari Myungsoo? Untuk apa?
Bisakah hal ini disebut kegalauan? Kegalauan seorang Lee Sungyeol? Oh, rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke jamban sekarang juga, ia merasa mulai gila.
"Hyung? Hyung? Hello~? Hell to the O~ Woi! Kenapa diam?! Jangan-jangan pingsan mendadak? Hoya hyunggg! Sungyeol hyung tiba-tiba diam padahal panggilannya masih tersambung! Hoya hyung! Arwah Sungyeol hyung melayang-layang!"
"Heh! Aku di sini! Siapa yang pingsan? Siapa yang arwahnya melayang-layang, hah?! Dasar, bocah!" repet Sungyeol atas kejahilan adiknya yang tiada henti itu. Sungyeol merasa, sejak Sungjong lahir ke dunia ini, penderitaannya telah dimulai. Bahkan hingga ia menikah pun masih tetap dapat merasakan kejahilan Sungjong yang terus menghantuinya.
"Huh! Salahmu sendiri, siapa suruh melamun ditengah-tengah panggilan? Padahal tadi aku sudah mengoceh panjang lebar, eh ternyata tidak ada respon dari hyung, dan bahkan hyung tidak mendengarkan apa yang tadi aku ceritakan. Huh! Untung saja yang menelpon itu hyung, kalau aku yang menelepon hyung, melayanglah pulsaku hanya untuk menikmati lamunan hyung itu." Cibir Sungjong dari seberang sana. Sungyeol hanya tertawa pelan, namun sedetik kemudian ia terdiam.
'Oh iya, pulsaku.' Batinnya. Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu melihat ke arah layar ponsel touchscreennya yang menyala. 25:38.
Dengan segera Sungyeol langsung menempelkan ponselnya ke telinganya kembali, "Arghh! Aku tutup! Bye-bye, ugly little bro!" sembur Sungyeol dengan cepat dan langsung memutuskan panggilannya. Ukhh… Kini, ia lebih memilih menangisi pulsanya yang menyusut banyak dari pada foto sialan itu.
Cklek.
Sungyeol mengalihkan perhatiannya dari ponselnya dan melihat ke arah Myungsoo yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Kau belum mandi?" tanya Myungsoo seraya mengusap-usap wajahnya yang setengah basah. Sungyeol menggelengkan kepalanya lalu berdiri dari kursinya. "Aku mandi sekarang." Jawabnya singkat yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Myungsoo, ia duduk di atas kasurnya dan menyalakan televisi yang ada di kamar itu, menyandarkan punggungnya pada kepala kasur dan mengotak-atik remote televisi yang ada pada genggaman tangannya.
Beberapa menit kemudian, Myungsoo terlihat mengorek telinga kanannya dengan jadi kelingkingnya saat mendengar sesuatu yang samar-samar. Mungkin saja tadi ia salah dengar, makanya telinga kanannya gatal. "Kim Myungsoo!" Myungsoo masih tetap fokus pada acara tv yang terpampang di depannya.
Cklek!
"KIM MYUNGSOO! APA KAU TULI, HAH?! PITA SUARAKU HAMPIR KANDAS KARENA TERUS MENERIAKI NAMAMU. TELINGAMU DITARUH DIMANA, HAH?! APA TELINGAMU TIDAK BERGUNA LAGIII?!" teriak Sungyeol dengan sangaaat keras dengan kepalanya yang menyembul keluar dari pintu kamar mandi yang ia buka sedikit.
Kali ini Myungsoo tidak menggaruk telinga kanannya lagi, namun menutup kedua telinganya dengan bantalnya. Dan kalau bisa, ia ingin menyumpalkan bantal ini langsung ke kedua telinganya. Teriakan Sungyeol benar-benar mengerikan… dan menyakitkan.
"Telingaku tidak akan berfungsi lagi kalau kau terus berteriak seperti itu." Jawab Myungsoo dengan tenang dan datar, dan tentu saja dengan berusaha menenangkan jantungnya yang tersentak kaget.
Sungyeol menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Butuh kekuatan besar untuk berteriak seperti tadi. Fiuhh…
"Ada apa meneriaki nama indahku?" tanya Myungsoo dengan matanya yang tetap fokus pada acara tvnya.
"Tolong ambilkan handukku di sebelah sana. Aku lupa mengambilnya tadi." Ujar Sungyeol. Dengan malas, Myungsoo melangkahkan kakinya dan menyerahkan handuknya pada Sungyeol. Namun, sebelum handuk itu diserahkan ke tangan Sungyeol, sebersit pikiran jahil Myungsoo muncul.
Sungyeol mengernyit pelan saat tangan kirinya menarik handuknya, namun Myungsoo tidak melepaskan handuknya. Berakhirlah mereka dengan tarik-menarik handuk bermotif anak bebek kartun milik Sungyeol.
"Ya, berikan padaku." Ujar Sungyeol kesal. Myungsoo semakin menjahili Sungyeol dengan menatap mata laki-laki berparas manis itu dalam-dalam. Ia mulai terpana melihat manik mata indah milik Sungyeol. Sedangkan Sungyeol yang ditatap seperti itu mulai semakin kesal. Tangan kanannya meraih benda apapun yang berada di dekatnya dan melemparkannya dengan uhmm cukup kuat ke arah kepala malang milik Myungsoo.
BUKKH!
Suara benturan seustau yang keras mengenai bagian kepala dan sekitar kening Myungsoo terdengar cukup keras dan menyakitkan. "Akhh!" ringis Myungsoo kesakitan. Ia memegangi keningnya agak ke atas dan kemudian menunduk, melihat sebotol sampo besar yang masih penuh itu tergeletak begitu saja di atas lantai. Botol sampo terkutuk. Begitulah kira-kira tatapan Myungsoo yang kini ia lemparkan pada si botol sampo.
'Padahal aku berencana untuk menarik handuk itu kuat-kuat hingga Sungyeol tertarik keluar, dan aku langsung menangkapnya dengan pelukanku. Romantis. Tapi sampo itu…' Myungsoo yang tadinya berjalan ke arah kasur dengan tiba-tiba berhenti dan menoleh dengan tatapan tajamnya ke arah si botol sampo yang masih tergeletak.
Ia mendengus pelan dengan masih mengelus-elus keningnya yang mulai memar, ia berjalan ke arah kaki kasur dan menghela napasnya. Dengan satu tangan, yaitu tangan kanannya, ia menarik tas ransel Sunyeol yang terletak di atas kasur. "Kebiasaan meletakkan tas di atas kasur." Gumamnya pelan.
Saat Myungsoo hendak memindahkannya ke meja belajar, ternyata resleting tas ransel Sungyeol tidak tertutup hingga satu sisi tas ransel tersebut terbuka ke bawah dan seluruh isi yang ada di dalamnya terjatuh keluar.
Laki-laki berparas tampan tersebut menghela napasnya lagi. Dengan malas, ia berjongkok dan memasukkan kembali satu persatu buku dan barang-barang milik Sungyeol ke dalam tas. Hingga setelah barang-barang yang masuk ke dalam tas, gerakan tangan Myungsoo terhenti. Dengan ragu-ragu ia meraih selembar foto yang tergeletak terbalik di atas lantai.
'Mwoya?' pikir Myungsoo. Ia mengernyitkan keningnya dan membulatkan matanya dengan kaget. 'Kenapa Sungyeol bisa mendapatkan foto ini? Bagaimana bisa?' batin Myungsoo yang dengan segera memasukkan semua barang-barang Sungyeol kembali ke dalam tas ranselnya dan menutup resletingnya, lalu meletakkan tas ransel itu di atas meja belajar. Ya, ia memasukkan kembali semua barang-barang Sungyeol, kecuali selembar foto tadi yang kini telah ia masukkan ke dalam saku celana traineenya.
Ia terduduk di pinggir kasur dengan kedua kakinya yang dinaikkan ke atas kasur dan dilipat. Keningnya berkerut dengan mimik wajah yang serius.
Cklekk.
Myungsoo menoleh ke arah Sungyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan poni basahnya yang menutupi sebelah mata indahnya. Dengan segera Myungsoo berdiri dan menghadap ke arah Sungyeol, dengan jarak yang dipisahkan oleh kasur queen size milik mereka.
"Sungyeol," panggil Myungsoo dengan tatapan dan nada yang serius.
Sungyeol yang tengah mengusap rambut basahanya dengan handuknya seraya menonton tv yang masih menyala. Ia hanya menaikkan dan menurunkan kepalanya saat mendengar panggilan Myungsoo. Ia sama sekali tidak menoleh ke arah namja bermata elang itu.
"Lee Sungyeol, menoleh dan berikan perhatian saat seseorang memanggilmu." Ujar Myungsoo. Sungyeol mengerutkan keningnya sedikit. Ia menoleh ke arah Myungsoo sekilas sebelum akhirnya kembali memperhatikan acara tv yang sebenarnya tidak menarik sama sekali.
Myungsoo menghela napasnya. "Ternyata benar kalau kau sedang marah padaku." Gumamnya yang masih terdengar oleh Sungyeol. Saat Sungyeol hendak melirik ke arah Myungsoo, namja berstatus sebagai suaminya itu sudah duluan menarik tangan kirinya dan menuntunnya ke balkon kamar.
"Ada apa?" tanya Sungyeol dengan nada malasnya. Ia menghempaskan tangan Myungsoo yang menggenggam pergelangan tangannya. "Lihat, ini apa?" tanya Myungsoo dengan menunjukkan foto yang tadi ia ambil dari tas Sungyeol. Sungyeol membelalakkan matanya sesaat sebelum akhirnya kembali ke ekspresi biasanya.
"Memangnya itu apa?" tanya Sungyeol balik seraya memandangi taman kecil yang ada di luar sana. Ia menundukkan badannya sedikit dan menopangkan kedua siku tangannya ke pembatas balkon.
"Aku mendapatkan ini dari dalam tasmu." sahut Myungsoo. Sungyeol menegakkan tubuhnya dan menghadap ke arah Myungsoo. "Iya, aku menemukannya di toilet kampus sesaat setelah kau keluar dari toilet itu. Aku pikir lebih baik aku menyimpannya dan memberikannya padamu, mungkin saja itu adalah sesuatu yang sangat berharga untukmu, 'kan?" jawab Sungyeol sesantai mungkin.
Myungsoo menghela napasnya. Ia merobek foto itu, meremasnya dan membuangnya keluar balkon. Sungyeol hanya mengikuti arah ke mana sobekan foto itu dilempar. Ia menatap Myungsoo dengan mata lucunya, seolah bertanya, 'Apa yang kau lakukan, bodoh?'.
"Itu bukanlah benda yang berharga untukku, aku memang menciumnya tapi itu bukan apa-apa, foto itu bukan aku yang mengambilnya, dan wanita itu bukanlah siapa-siapaku." tutur Myungsoo dengan nada datarnya yang biasanya. Sedangkan Sungyeol, ia hanya memasang tampang biasanya, seolah ia tidak percaya dnegan perkataan Myungsoo.
"Lalu? Jika itu memang siapa-siapamu, jika ciuman itu memang ada apa-apanya, jika itu memang berharga untukmu, itu semua bukan urusanku, 'kan? Kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Oleh karena itu, aku tidak akan peduli tentang apapun mengenai hal pribadimu." Ujar Sungyeol.
Myungsoo mengernyitkan keningnya. "Heh? Kapan kita membuat kesepakatan itu? Siapa yang memulai kesepakatan bodoh itu?" tanya Myungsoo. Sungyeol memicing tajam ke arah Myungsoo. "Kau, babo! Kau yang membuat kesepakatan itu pada hari pertama kita menikah!" ujar Sungyeol dengan setengah teriak. Gondok juga lama-lama berbicara dengan Myungsoo yang sepertinya menderita penyakit bolot.
"Aku?" tanya Myungsoo. "Aku tidak pernah membuat kesepakatan seperti itu. Kau tahu? Jika seseorang ingin membuat kesepakatan denganku, ia harus menandatangani surat bermaterai, karena aku tidak ingin dirugikan apabila mereka melanggar kesepakatan itu. Tidak terkecuali denganmu, jika aku membuat kesepakatan denganmu, maka kau pasti harus menandatangani surat materai. Seperti wanita di foto tadi, ia juga menandatangi surat bermaterai." Ujar Myungsoo dengan nada datarnya.
Sungyeol mengernyitkan keningnya. "Wanita tadi? Dia membuat perjanjian denganmu?" tanya Sungyeol bingung. Myungsoo menghela napasnya. Mata elangnya menatap mata Sungyeol tajam-tajam.
"Ya, dia membuat kesepakatan denganku. Dia dan aku tidak memiliki hubungan khusu seperti yang kau kira. Dia hanya meminta bantuanku untuk menjadi pacar bohongannya. Sebagai gantinya, aku meminta kalung berlian yang indah dan mahal. Lalu ia menerimanya dan menandatangani surat materai." Jelas Myungsoo.
Sungyeol memasang tampang tidak mengertinya. "Untuk apa dia memintamu sebagai pacar bohongannya?" tanya Sungyeol.
"Dia dan pacarnya sedang bertengkar karena pacarnya sangat dekat dengan sekretarisnya. Karena kesal dan cemburu, wanita itupun tidak menghubungi pacarnya lagi. Dia itu mahasiswi seangkatanku di kampus, tapi beda jurusan. Lalu saat aku tidak sengaja menabraknya di koridor, ia memohon sambil menangis padaku. Yasudah, karena Kim Myungsoo yang baik hati, tidak sombong, ramah dan suka menabung, maka akhirnya kita membuat perjanjian."
Sungyeol mencemooh dalam hati. 'Apanya? Kim Myungsoo itu adalah orang yang licik, sombong, dingin dan yang terakhir itu aku setuju. Suka menabung, err… maksudnya, pelit.' pikir Sungyeol dengan malas.
"Dan untuk yang mengambil foto itu, itu adalah pacarnya. Ia menyuruhku untuk menciumnya saat pacarnya berjalan di daerah sekitar sana. Awalnya aku tidak mau, tapi karena dia menjambakku dan menarik kepalaku ke arahnya, dan berakhir dengan bibirku yang bertabrakan dengan bibirnya, akhirnya aku pasrah saja." Lanjut Myungsoo. Sungyeol yang mendengar dengan seksama mulai mengernyit tidak senang mendengar tentang adegan ciuman Myungsoo dengan wanita itu. Telinga Sungyeol panas mendengarnya.
"Dan di luar dugaan, awalnya kami kira pacarnya itu akan langsung menarik wanita itu langsung ataupun marah langsung di tempat itu. Ternyata, pacarnya hanya mengambil foto berciuman kami dan langsung pergi. Dua hari kemudian, tepatnya saat hari hujan itu, dimana kau sedang rapat dan aku kembali ke kampus, pacarnya datang ke kampus dan menghampiriku di parkiran dan memukuli perutku dan menendang pinggul kiriku. Saat itu wanita itu yang mendapatkan pesan dari pacarnya kalau pacarnya itu akan datang ke kampus, baru saja sampai ke parkiran sesaat setelah pacarnya memukul perutku. Wanita itu menarik pacarnya pergi, dan kesepakatan kita selesai sampai di sana. Dan ukhh, pukulan dan tendangannya sangatlah kuat." Jelas Myungsoo panjang lebar.
Wajah Sungyeol berubah menjadi sedikit khawatir, dan ia berusaha menutupinya saat mendengar tentang pukulan pada perut Myungsoo. "Benarkah? Apa perutmu baik-baik saja? Memar? Luka?" tanya Sungyeol. Myungsoo tersebyum tipis. Ia menaikkan kaosnya sedikit ke atas, memperlihatkan perut bagian kiri bawahnya hampir daerah pinggul yang memar besar.
Sungyeol menyentuh pelan memar itu dan mengelusnya pelan. "Ini sangat parah. Aku akan mengambilkan obat balsam untukmu." Ujarnya lalu beranjak dari tempat itu, namun gerakannya terhenti saat Myungsoo menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.
"Tidak perlu. Dengan memelukmu saja, memarnya akan sembuh." Gumamnya pelan. Sungyeol menggigit bibir bawahnya pelan, menahan tawa atas gombalan lebay dari Myungsoo dan juga menahan rasa malunya.
Sungyeol melepaskan pelukan Myungsoo saat mengingat sesuatu. "Lalu, kesepakatan kita? Kau mengatakan padaku 'kita sudah resmi menikah bukan berarti kita boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Apapun hal yang sedang terjadi padaku ataupun urusan pribadiku, kau tidak boleh mencampuri urusanku. Begitupun sebaliknya, aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu.' Aku masih ingat dnegan jelas kata-katamu." Ujarnya men-pastekan ucapan yang dulu Myungsoo katakan.
"Oh? Yang itu? Aku tidak serius mengatakan hal itu. Aku mengatakannya tanpa berpikir panjang. Setelah aku mengatakannya, aku baru berpikir bahwa dalam sebuah pernikahan, tidak bisa tidak mencampuri urusan masing-masing karena kita telah terikat. Tapi aku malas menarik kata-kataku lagi, sudah terlanjur, yasudah aku biarkan saja. Kupikir kau tidak mengambil dan memasukkannya ke dalam hatimu." Ujar Myungsoo.
Sungyeol mendengus kesal. 'Mayat hidup ini, selalu saja bertindak sesukanya.' pikirnya. "Yasudah kalau begitu." Sungyeol hendak beranjak dari tempat itu sebelum akhirnya tangannya kembali ditarik oleh Myungsoo.
"Aku ingin memberikan ini padamu dari kemarin." Myungsoo melepaskan kalung yang tengah ia pakai dan menunjukkannya pada Sungyeol. Ia mengangkat tangan kirinya yang kini tengah menggenggam sebuah kalung dengan liontin kecil berupa sebuah batu berlian kecil yang di kelilingi perak yang berbentuk seperti cincin.
Sungyeol mengernyitkan keningnya. Namja manis itu menatap suaminya tajam seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah kalung yang tengan menggantung di tangan Myungsoo. "Ini… Kalung hasil dari kesepakatan yang kau buat dengan wanita itu?" tanyanya. Myungsoo menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis yang ditunjukkan oleh bibir tipis berwarna pink tersebut.
"Itu artinya kalung ini bukan murni pemberianmu. Dasar, tidak romantis sekali kau! Memberikan pasanganmu sebuah kalung yang kau dapatkan dari seorang wanita karena barter?! Pakai saja kalung itu sendiri. Aku tidak mau! Lebih baik aku memakai karet ban di leherku dari pada kalung barter itu." Ujar Sungyeol kesal.
"Tapi ini kalung mahal dan aku mendapatkan ini dengan usaha keras. Aku sampai rela membiarkan bibir mahalku ini dicium oleh wanita itu dan membiarkan perut sixpactku ini jadi kempis dan memar seperti ini." bela Myungsoo.
Sungyeol mencibir pelan. "Bukan kempis, tapi perutmu memang rata. Aku tidak peduli dengan kalung mahal. Setidaknya yang aku inginkan hanya kalung murni pemberianmu, dari usahamu, dari uangmu, dan pilihanmu. Aku tidak ingin memakai sesuatu yang bukan murni darimu." Ujar Sungyeol tanpa sadar.
Myungsoo terdiam, lalu tersenyum setelah mencerna perkataan Sungyeol. Ia mengusap rambut coklat almond milik Sungyeol dengan lembut, masih dengan senyuman yang terus menempel di wajah tampannya. "Baiklah, besok aku akan memberikan sesuatu yang manis dan indah untukmu, kali ini benar-benar berasal dariku, benar-benar pemberian dariku." Ujarnya dengan nada lembut.
Sungyeol terlihat bersemu diperlakukan untuk yang pertama kalinya seperti itu oleh Myungsoo. Myungsoo menarik Sungyeol dan memeluknya dengan erat.
"Ne, katakan padaku. Apa kau mencintaiku?" gumam Myungsoo. Sungyeol terdiam. "Tidak."
"Jangan berbohong. Katakan." paksa Myungsoo. Sungyeol menggelengkan kepalanya. "Kau duluan yang mengatakannya, baru aku akan mengatakannya." Ujar Sungyeol. Myungsoo terdiam. Namun kemudian tersenyum lebar. Ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Masih dalam posisi keduanya yang saling berpelukkan, dengan tangan kanan Myungsoo yang mengelus-elus pelan rambut coklat almond lembut milik Sungyeol.
"Aku mencintaimu, Lee Sungyeol." Bisik Myungsoo pelan. Ia mengecup pipi kiri Sungyeol dengan lembut. Sungyeol terdiam. Ia melepaskan dirinya dari pelukkan Myungsoo. Dengan kedua tangannya yang mencengkram erat kaos bagian dada Myungsoo, ia menatap suaminya itu dalam-dalam.
"Kau-serius?" tanya Sungyeol pelan.
"Apa aku terlihat berbohong padamu? Apa wajahku ini wajah pembohong?" tanya Myungsoo. Sungyeol menganggukkan kepalanya. Myungsoo sweatdrop.
Dengan perlahan, ia mengecup kening Sungyeol, lalu menjauhkan wajahnya sedikit saja dari kening putih Sungyeol. "Sebenarnya, saat pertama kali bertemu dengamu, aku sedikit tertarik padamu." Gumam Myungsoo.
Ia menurunkan wajahnya dan mengecup pipi kanan Sungyeol lembut. "Tapi karena kau yang cerewet, kasar dan aneh, aku pikir aku sama sekali tidak akan tertarik padamu."
Ia menurunkan sedikit lagi wajahnya dan mengecup lembut bibir kissable Sungyeol cukup lama hingga akhirnya ia menjauhkan sedikit wajahnya dan menatap Sungyeol yang juga menatapnya.
"Tapi akhirnya saat kita berada di atas altar gereja, aku sadar, aku telah memilih yang benar dan sesuatu yang indah dan berharga untukku." Bisik Myungsoo pelan.
Sungyeol terdiam. Ia menjauhkan jaraknya dengan Myungsoo secara perlahan, masih dengan matanya yang menatap mata elang menawan milik Myungsoo dan kedua tangannya yang semakin erat mencengkram baju kaos Myungsoo.
"Kalau kau mengatakan hal seperti itu padaku dengan cara seperti ini, apa yang aku harus jawab?" tanya Sungyeol dengan suaranya yang sangat pelan. Myungsoo tertawa kecil. "Hanya menjawab dengan jujur saja itu sudah cukup untukku."
Sungyeol mendekatkan dirinya pada Myungsoo, masih dengan kedua tangannya yang mencengkram baju Myungsoo, ia menyandarkan keningnya pada pundak kiri Myungsoo.
"Aku… tidak tahu." Jawab Sungyeol pelan. Myungsoo tersenyum. "Jangan pikirkan yang lain, hanya pikirkan aku saja. Maafkan aku jika cerita tentang wanita itu denganku membebani pikiranmu. Tapi untuk kali ini, hapus semua yang membebanimu. Hanya pikirkan aku saja di pikiranmu saat ini. Apa yang kau rasakan padaku? Apa yang kau pikirkan tentangku?"
"Yang aku pikirkan… Kau itu… Dingin, sombong, sok cool dan mesum." gumam Sungyeol pelan tanpa rasa bersalah. Myungsoo terdiam. 'Kenapa yang kau pikirkan tentangku hanyalah yang buruk-buruknya saja, sih?'
"Tapi, kau itu lembut di saat-saat tertentu. Baik, meskipun kau tidak menunjukkannya secara langsung. Romantis dan penyayang jika kau sudah seperti ini." lanjutnya lagi.
"Aku menjadi penyayang hanya untuk orang yang benar-benar kusayang." Jawab Myungsoo. "Katakanlah, apa perasaanmu padaku?"
Sungyeol terdiam cukup lama, terlihat sedang berpikir. "Uhmm… Perasaanku padamu?" Terdiam lagi.
"Aku menyukaimu, Myung. Nado…" Sungyeol terhenti.
"Saranghae…" lanjut Sungyeol dengan bisikan yang sangat pelan. Myungsoo tersenyum karena masih dapat menangkap kata terakhir yang diucapkan oleh Sungyeol. Ia mengusap rambut Sungyeol.
"Aku tahu. Kau sangat manis kalau begini, Sungyeol-ah."
"Aku memang selalu manis err dan tampan, kau saja yang tidak hidup selama ini, dasar mayat."
"You have to look closely
To see that it is pretty
You have to look so long
To see that it is loveable
You are the same." –Wild Flower, Na Tae Joo
~END~
*SEQUEL~*
"Honey~ Honey bunny sweetyku~" panggil Woohyun pada namja yang duduk di sebelahnya. "Apa?" tanya Sunggyu dengan ketus. Ia tengah sibuk membaca komik kesukaannya. "Aku lapar, masakkan aku sesuatu, ne?" rayu Woohyun dengan puppy-nosenya. "Masak saja sendiri, memangnya kau tidak punya tangan?" Sunggyu memasukkan sepotong potato chips ke dalam mulutnya, masih dengan mata yang terfokus pada komiknya.
"Aku punya tangan, tapi tanganku ini ajaib. Kau ingin aku yang mau memasak ramyun ini yang jadi akhirnya malah kolak? Berniat memasak nasi goreng, jadinya malah bubur kecap? Ingin masak jajjangmyung yang jadi malah mie goreng? Ayo masak sesuatu untukku." rengek Woohyun. Ia mengeluarkan ratusan aegyonya dan melemparkan thousand heart-thrownya pada Sunggyu.
Sunggyu menoleh pada Woohyun dan berdecak pelan. "Bahan makanan habis, dan aku tidak sempat membelinya. Kau delivery makanan saja." Ujarnya. Ia mengotak-atik ponselnya dan menempelkan ponselnya langsung ke telinga Woohyun.
Woohyun terkikik senang. Ia tahu kalau tunangannya itu adalah yang paling the be….
"Halo? Ada apa, Gyu hyung?"
estt…
EH?
"Halo? Ini… Bukan telepon delivery makanan?" tanya Woohyun dengan bodohnya.
"Mwo? Delivery delivery kepalamu! Apa kau tidak bisa membedakan telepon delivery dengan nomor hpku, hah? Dan kenapa kau menggunakan ponsel hyungku?! Kau berusaha menyadap hyungku?!"
Woohyun menjauhkan ponsel milik Sunggyu dari telinganya dan menatap horror ke arah layar ponsel Sunggyu yang menyala. Tertera di sana 'Myung-ie'
"Kenapa kau malah meneleponnya?" bisik Woohyun pada Sunggyu yang tengah menahan tawanya.
Ia kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Ahahahah! Yo, Myung! What's up?" sapa Woohyun dengan ceria. Tidak apa-apa jika tidak mendapatkan delivery. Asalkan mendapatkan kesempatan untuk menjahili calon adik ipar saja sudah cukup kok.
"What's up, what's up apa? Kau mau apa meneleponku dengan ponsel hyungku? Jauh-jauhlah dari hyungku sebelum nenek sihir itu tertular gilamu."
"Oh~ Kasar sekali cara bicaramu, aku tersakiti." Woohyun terkikik kecil. "Diam kau! Kenapa kau meneleponku hanya untuk cari ribut saja, sih? Aku akan mencekikmu jika bertemu denganmu nanti. Oh, dan tolong katakan pada Sunggyu hyung, suruh dia mencari pasangan baru dan memutuskanmu dengan segera, ok? Jangan meneleponku lagi!"
Tutt…
Woohyun speechless. Namun sedetik kemudian ia tertawa, puas menjahili calon adik iparnya itu. "Hadeuuh, Myung dari dulu sampai sekarang tidak berubah. Selalu overprotective pada orang yang dia sayangi." Ujar Woohyun. Yup, Sunggyu dan Woohyun adalah sahabat sejak kecil, oleh karena itu Woohyun juga mengenal Myungsoo dari kecil, begitu juga sebaliknya.
Sunggyu tersenyum menatap Woohyun. "Kau tahu, hati dan mulutnya itu berbeda. Aku tahu dia sebenarnya menyayangimu dan menganggapmu sebagai hyungnya, dan dia juga sebenarnya merestuimu denganku." Jelas Sunggyu.
Woohyun balas tersenyum pada Sunggyu. "Aku tahu. Dia itu sepertimu, Gyu. Keras di luar, lembut di dalam." Ia tertawa kecil sebelum akhirnya mengecup pelan bibir namja yang telah menjadi tunangannya beberapa hari yang lalu.
Sunggyu kemudian berdiri dan merapikan pakaiannya. "Haruskah kita makan malam di luar?" tanyanya dengan senyum manisnya yang bertengger di wajahnya hingga kedua matanya tinggal segaris.
Woohyun ikut tersenyum dan mengaitkan jari-jari tangannya pada jari-jari tangan Sunggyu, menggandeng tangan Sunggyu.
"Tentu."
~FINAL END~
*** Author's Corner~***
Okay! Okay! Tenang! *nenangin readers yang demo* -_-)/
Author tahu kalau ini alurnya kecepatan. Kecepatan gak sih? Lebay gak? Atau malahan sweet? Author benar-benar bingung -…- What should I do now? Author benar-benar minta maaf kalau ending ff ini membuat kecewa *bow* dan maaf juga kalau mendadak. Sebenarnya author gak niat buat end di chap ini, tapi karena kondisi plot yang semakin ke sini semakin mendekati end, yasudah author end kan saja dari pada ff ini isinya cuma bertele-tele, ya, 'kan? Ya, 'kan? Ya, 'kan? *guncang2 readers* #DOR
Okay, Sungyeol di sini bukannya mendadak jadi halus, lembut atau gimana. Cuma karena terbawa suasana dan buaian buaya si L, jadinya Sungyeol agak-agak bingung sama perasaannya yang sebenarnya masih samar-samar disadari oleh Sungyeol yang akhirnya karena perkataan L, pikiran Sungyeol terbuka dan sadar sama perasaannya. Itu ajah OvO #plakkk
Dan lagi! Errr… Kiss scene yang sambil makan ramyun itu… QAQ Maafkan author~ Gak bermaksud buat adegan seperti itu. Habisnya menurut author lucu aja, niat L cuma mau hentiin Sungyeol dengan kecupan, tapi berhubung ada makanan di balik mulut Sungyeol, sekaligus makan aja deh tuh. XD Oke, oke, oke! Author cornernya kepanjangan -…- Jadi author cukup sampai di sini saja. Sekali lagi, maaf jika ff ini mengecewakan readers… *bow*
Dan… Terima kasih sebanyak-banyaknya untuk readers tercinta ^^ Author benar-benar berterima kasih karena sudah mau menemani author di FF ini ^^ Saranghaeyo, nae readers~ *lempar kecup basah* Maaf kalau author gak sebutin satu-satu nama readersnya *bow*
Oke, akhir kata dari author untuk chap ini,
Don't forget to Review (FFn) dan RCL (FB), please~? ^^
Thanks~ *bow* m(_ _)m
