Author Note: sudah berapa bulan ya sejak aku update? Dua bulan? Tiga bulan? Maafkan aku yang mulai jarang aktif update. Aku sedang sibuk mengurus original fiction, karena itu fanfictionku sedikit terlantar. Meski begitu, di tengah kesibukanku aku selalu mencuri-curi kesempatan untuk menuliskan cerita-cerita yang masih bersambung. Maka dari itu, sekali lagi aku meminta maaf karena lama.

Disclaimed! Kingdom Hearts wasn't mine! Kingdom Hearts belong to Square Enix and the creator, Tetsuya Nomura.

The Half Blood 2 : Conflict Against Slayer

Chapter 6

Sora bersin berkali-kali sambil memeluk kedua lengannya. Dia merasa sangat kedinginan setelah semalaman menyandar pada tubuh Roxas yang selalu dingin. Belum ditambah udara pagi yang begitu dingin—meski sesungguhnya biasa saja, karena Land of Departure tidak memiliki banyak hutan dan bertanah cukup gersang.

Roxas tertawa meelihat Sora yang tidak berhenti mengigil kedingian.

"Ka-kau tega sekali menertawakanku yang kedinginan," kata Sora.

"Well, salahmu sendiri karena tidak mau melepaskan lenganku sepanjang malam. Sudah tahu tubuhku ini dingin." Roxas tertawa pelan.

"Semalam tuh panas tahu! Kau tahu kota ini gersang, minim pepohonan …" Sora bersin lagi. "Oh, Tuhan! Aku mau keluar dan menghangatkan diriku di bawah sinar matahari!"

Roxas tertawa melihat Sora yang bergegas keluar dari mobil. Di balik tawanya, tersimpan kekhawatiran yang dalam. Sejak semalam, Riku maupun Cloud tidak juga kembali. Memberi kabar pun tidak. Mungkinkah terjadi sesuatu? Apakah ada masalah dengan kesepakatan mereka? Mungkinkah slayer bersikeras menolak kehadiran vampire? Roxas mendesah sambil menatapi sinar matahari yang menyilaukan matanya.

Tatapan Roxas tertuju pada Sora yang berlari keliling lapangan parkiran untuk menghangatkan tubuhnya. Tidak ada kerjaan, Roxas memutuskan untuk keluar dari mobil dan meninggalkan Sora di parkiran untuk sementara.

Sora merasa hangat setelah berkeliling selama lima putaran. Diapun kembali ke mobil dan mendapati Roxas telah menghilang. Bingung. Dia melirik ke kiri dan ke kanan, mencari sosok pemuda berambut blond di sekitar parkiran. Tidak ada yang memiliki rambut blond di sekitar sana, sehingga dia menggaruk-garuk kepalanya dengan kebingungan. Sora mengangkat bahunya dan memasuki mobil. Untuk apa? Ya kembali tidur lagi.

Roxas kembali ke parkiran dan melihat Sora tertidur lagi dalam mobil. Dengan alis terangkat sebelah, dia pun masuk. Sebungkus makanan di tangannya di letakkan di kursi depan. Sora yang tertidur di kursi tengah berusaha dibangunkan oleh Roxas, tapi dia tidak bangun-bangun. Butuh usaha ekstra hingga akhirnya Sora terbangun, itu pun hanya sebentar saja.

"Hmm… biarkan aku tidur, Roxas. Riku bentar lagi datang kemari," gumam Sora.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Karena aku melihatnya."

"Sora, kau tahukan kalau kau tidak boleh…"

"Iya, Roxas. Biarkan aku tidur lagi. Tadi kau menghilang mendadak sih. Jadinya aku bingung."

Roxas mendesah dan membiarkan Sora kembali tidur. Udara mulai panas meski masih pagi. Tentu tidak terlalu mempengaruhi Roxas yang mati rasa. Sosok Riku ditangkap olehnya saat melirik keluar. Sesuai dengan apa yang Sora katakan padanya, dia memang datang beberapa saat setelah Sora tertidur. Ekspresi wajah Riku tidak begitu baik. Mukanya kusut, seakan-akan terdapat masalah serius yang dipikirkannya.

Roxas keluar dan menunggunya mendekat.

"Bagaimana? Apakah mereka menyepakatinya?" Roxas ragu akan pertanyaannya sendiri. Ekspresi Riku sudah menunjukkan dengan terang-terangan bahwa ada masalah.

Riku mendesah dalam. "Sulit. Mereka masih menunggu konfirmasi dari pihak witch dan elf. Saran-saran yang Cloud berikan tidak begitu meyakinkan mereka. Padahal, menurut kami dan para hunter, saran-saran yang Cloud berikan sudah lebih dari cukup. Entah apa yang mereka inginkan."

"Apakah nanti malam akan ada rapat lagi?"

"Ya. Nanti sore, Cloud akan datang menemui kalian."

Roxas mengangguk.

Sekali lagi Riku mendesah. Dia merasa harus mencari sebab mengapa para slayer masih saja menolak dan bersikeras menunggu kedatangan witch dan elf. Mungkinkah mereka seperti mengulur waktu? Untuk apa? Mencari cara memusnahkan clan vampire? Tidak, jika mereka memang ingin memusnahkan clan vampire, maka mereka tidak perlu mengulur-ngulur waktu untuk menyetujui kesepakatan ini. Yang pasti, Riku merasakan firasat buruk. Insting werewolf sangat kuat. Mereka dapat mengendus hal-hal berbahaya dan insting ini tentu hanya dimiliki oleh clan werewolf.

Riku sadar dia lupa menanyakan keadaan Sora. Padahal, sepanjang rapat dia mencemaskan Sora yang bersama Roxas. Dia khawatir mereka diserang kemarin malam. Slayer yang begitu banyak tentu membuat Riku merasa bahwa dia membawa Sora ke dalam jurang. Untungnya kecemasan Riku tidak menjadi kenyataan.

"Bagaimana Sora? Apakah dia sudah sarapan?"

"Belum. Dia tidur lagi saat aku membelikan makanan untuknya."

"Kau membelikannya makanan?" Riku melirik sekantong plastik di tangannya. Dia juga membelikan Sora makanan. "Oh well ..."

"Kau berniat memberikan itu padanya?" Roxas tentu menyadari bahwa Riku membawa makanan juga.

"Ya, tapi kurasa makanan darimu sudah lebih dari cukup."

"Kurasa tidak. Dia habis menerawang ke masa depan. Sebaiknya kau berikan itu juga agar tenaganya kembali," saran Roxas.

Alis Riku terangkat sebelah. "Apa yang dilihatnya?"

"Hanya kau yang datang seperti sekarang."

"Oh …" Riku mengira Sora melihat hal yang begitu penting di masa depan. "Ya sudah. Tolong jaga dia lagi. Aku … ada yang ingin kuselidiki."

Roxas mengangguk. "Tidak apa-apa bukan jika aku mengajaknya jalan-jalan nanti siang?"

"Ya, selama kau berhati-hati … terhadap slayer," kata Riku dengan suara yang semakin mengecil.

Roxas hanya mengangguk.

Riku pun berjalan meninggalkan mereka berdua. Roxas kembali masuk ke dalam mobil. Membangunkan Sora agar dia bisa mengisi perutnya sebelum dia sakit. Berhubung Sora masih setengah tertidur, Roxas pun menjadi baby sister sementara agar sarapan Sora segera habis—karena Sora suka tertidur ketika tengah makan. Hebatnya, meski bisa dikatakan sembilan puluh persen tertidur, mulut Sora masih menguyah dengan normal dan dia menerima semua makanan di bawah sadar. Tidak perduli meski makanan itu enak atau tidak enak. Yang penting makan.

Riku mengelilingi kota sambil memperhatikan infrastruktur kota yang bisa dibilang didesain untuk mendukung bertarung di tengah kota. Ada banyak tempat untuk menghilangkan jejak di kota ini. Tentu orang yang tidak terlalu familiar dengan kota tersebut akan kesulitan bertarung di dalam kota, apalagi Riku yang merupakan seorang pendatang. Meski dibuat demi kenyamanan keamanan kota, bukan berarti kota ini lemah secara ekonomi. Tidak sedikit penjual yang berjualan di ruko-ruko maupun mall. Restoran dan café pun tidak bisa dikatakan sedikit, tapi tidak bisa dikatakan banyak juga. Penjual alat bertarung seperti pisau, pedang, pistol, perisai, dan berbagai macam alat tajam pun tidaklah sedikit.

Mengamati semua ini, Riku masih belum bisa menemukan alasan mereka menunda-nunda perjanjian. Tidak ada hal yang mencurigakan di sana. Tidak ada satu pun pedangang yang berniat pindah, kecuali mengganti dagangan mereka yang rusak dengan baru.

Langkah Riku terhenti. Dia merasa risih karena ada yang mengikutinya. Tentu dia menyadari terdapat mata-mata yang sedari tadi mengikutinya. Dia diikuti sejak dia keluar dari ruang pertemuan. Khawatir Roxas dan Sora akan diikuti juga, menyebabkan dia segera memisahkan diri dari keduanya. Mata Riku segera mencari sebuah toko yang ramai. Matanya terhenti pada sebuah toko pakaian yang sedang memberikan banyak discount terhadap beberapa jenis produk yang mereka jual.

Riku memasuki tempat tersebut dan diikuti. Berada di tengah keramaian tentu membuat mata-mata yang mengikuti Riku sulit mengawasi gerak-gerik Riku di tengah kepadatan pembeli. Di tengah keramaian, tentu Riku mencari kesempatan untuk merubah sosoknya menjadi werewolf berbulu silver. Dengan sosok werewolf yang sangat menyerupai anjing, maka dengan mudahnya Riku melenggang keluar dari toko pakaian melewati kaki-kaki para pembeli. Tentu dia harus sangat berhati-hati karena dirinya bisa menjadi korban injakkan mereka.

Sora yang kenyang akhirnya terbebas sepenuhnya dari rasa kantuknya. Terkejut tentunya melihat jumlah makanan yang dimakannya. Sora sungguh tidak menyangka bahwa dia sanggup melahap dua porsi makanan. Tidak heran dia merasa perutnya begitu penuh dan tenaganya menjadi penuh kembali.

"Ugh! Kurasa aku harus sedikit berolahraga untuk mengurangi isi perutku …" Sora menepuk perutnya yang terasa penuh.

Roxas tertawa. "Bagaimana kalau kita berjalan-jalan? Aku ingin melihat tempat para slayer berlatih."

"Apakah tidak apa-apa?" Sora cemas mendengar kata slayer.

"Mungkin tidak, tapi jika memang terjadi hal yang gawat—semisalnya kita ketahuan sebagai vampire, aku sanggup mengalahkan mereka yang masih pemula dalam waktu lima menit," jawab Roxas dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia meremas-remas jemarinya hingga berbunyi, seakan-akan dia siap bertarung kapan saja.

"Ha ha ha, tidak lucu. Jika itu sampai terjadi, yang ada nanti menambah beban Ayah dan Riku di saat rapat." Sora menggelembungkan sebelah pipinya sambil menyilangkan tangan, dengan muka yang menatap ke samping.

"Memang benar, tapi itu urusan mereka." Roxas tertawa dengan nada bercanda. "Ayo kita lihat." Meski bercanda, tapi niatnya menyelidiki tempat para slayer berlatih itu serius.

"Baiklah, tapi sebaiknya kita segera pergi ya jika ada masalah?"

"Ya."

Jalanan berisik meriahkan suasana perjalanan Sora dan Roxas menuju tempat tujuan mereka. Bunyi klakson mobil yang terkadang terlalu keras membuat Sora ingin sekali meledakkan mobil tersebut, karena tidak sabaran saat keduanya menyeberang. Padahal keduanya menyeberang saat masih lampu merah, bukan hijau. Penduduk berlalu –lalang memadatkan jalan trotoar selebar dua meter. Tidak sedikit slayer yang berpapasan dengan keduanya. Meski ada beberapa slayer yang melirik keduanya karena memiliki kulit pucat di bawah rata-rata manusia normal, mereka memutuskan untuk tidak mengikuti keduanya karena ada hal yang lebih penting, yaitu mengawasi kota dan mengikuti gerak-gerik perwakilan dari werewolf dan hunter. Roxas dan Sora pun bisa menurunkan kewaspadaan mereka selama perjalanan, tapi Roxas kembali meningkatkan kewaspadaannya saat tiba di tempat tujuan.

Pusat pelatihan bagi slayer pemula. Siapa saja boleh memasuki tempat tersebut, termasuk orang luar kota. Murid yang berlatih menjadi slayer ternyata tidak hanya berasal dari kota ini saja, tapi ada juga yang berasal dari kota lain, meski jumlahnya tidak terlalu banyak. Roxas melihat slayer yang mengikuti mereka kemarin, Vezarius. Rupanya dia memang masih pemula, maka dari itu dia gagal membongkar identitas Roxas sebagai vampire.

Vezarius menyadari kedatangan Roxas dan Sora. Terkejut, tentunya. Dalam hati tentu dia bertanya, mengapa mereka berdua ada di sana? Guru yang melatih para slayer mendekati mereka berdua ketika melihat tamu datang.

"Saya belum pernah melihat kalian berdua. Apakah kalian berdua pendatang?"

"Yap!" Sora tersenyum pada lelaki paruh baya tersebut.

"Ah, begitu ya. Nama saya adalah Eriot, guru yang melatih para slayer di sini."

"Salam kenal, Sir. Saya adalah Roxas. Di sebelah saya adalah saudara saya, Sora."

"Senang berkenalan dengan Anda." Sora memberi hormat padanya.

"Sora dan Roxas. Apakah kalian datang kemari untuk … memata-matai kami?" Eriot tentu memberi tatapan curiga. Dia menduga-duga Sora dan Roxas adalah vampire dan juga mata-mata vampire.

Sora tidak bisa menjawab dan Roxas tersenyum padanya. Vezarius langsung meningkatkan kewaspadaannya saat mendengar gurunya mengatakan keduanya adalah mata-mata. Kecurigaannya bahwa mereka adalah vampire kembali lagi dibenaknya.

"Mata-mata? Maafkan kami, Sir, tapi mengapa Anda berpikir demikian?" Roxas menunjukkan keheranannya.

"Karena kalian pendatang. Saat ini, suasana kota sedang tidak baik."

"Oleh?" Seolah-olah tidak mengetahui keadaan yang terjadi, Roxas berpura-pura menanyakannya dengan bingung.

"Vampire."

"Vampire?" Roxas mengangkat sebelah alisnya. "Jika memang berhubungan dengan vampire, mengapa kami dicurigai?"

"Karena kau mirip half vampire."

"Lucu sekali." Roxas sedikit tertawa. "Padahal kami kemari hanya ingin mempelajari cara kalian bertarung. Kami hanya ingin belajar bela diri."

Sebuah pedang mengacuh pada Roxas. "Kami tidak mengajari pendatang baru yang mencurigakan."

"Woah! Tenang, Sir. Pedang itu bisa melukaiku …" Roxas melangkah mundur. Tentu saja Sora juga diajaknya mundur. Riku bisa membunuhnya jika terjadi apa-apa dengan Sora.

"Roxas, ayo kita pergi dari sini," bisik Sora sambil menarik-narik lengan baju Roxas.

"Sir, kurasa Anda terlalu berlebihan." Vezarius mendekat. "Mereka memang pendatang baru, tapi kurasa mereka tidak berbahaya."

Tadinya Roxas ingin mengikuti kata Sora untuk segera pergi, tapi kedatangan Vezarius membuatnya menunda. Pembelaan Vezarius memberi harapan pada Roxas untuk memata-matai kegiatan dan latihan pada slayer baru. Meski begitu, Sora masih menarik-narik lengan baju Roxas tanpa berkata apa-apa. Iseng sekaligus mengingatkan Roxas bahwa masalah mulai muncul di sana.

Vezarius membela Roxas dan Sora tentu memiliki tujuan lain, yaitu membongkar identitas Roxas sebagai vampire meski dia sendiri masih kurang yakin. Dia merasa, jika mendapatkan sedikit kepercayaan dari Roxas ataupun Sora, mungkin keduanya akan lebih terbuka terhadapnya. Jika terbukti Roxas dan Sora adalah vampire, maka dia berniat menghabisi keduanya.

"Kau mengenal keduanya?" tanya Eliot sambil menatapi Vezarius.

"Sesungguhnya tidak, Sir. Saya hanya pernah menemui keduanya kemarin."

Roxas tentu menyadari niat lain Vezarius, tapi dia berpura-pura bodoh karena ingin memanfaatkan niatnya untuk menyelidiki tempat ini.

"Ya, dia benar, Sir. Kami benar-benar datang kemari hanya untuk melatih diri kami, bukan mata-mata seperti yang Anda katakan. Jika Anda ingin membuktikannya, maka izinkan kami yang masih pemula ini berlatih." Roxas mencoba menyakinkan Eliot.

Eliot pun memikirkan sejenak. Pemula atau tidaknya Roxas dan Sora, itu akan menentukan apakah keduanya berbohong. "Latih mereka, Vezarius."

Roxas tersenyum kemenangan dalam hati.

"Yes, Sir!" Vezarius memberi berdiri tegak sambil menangguk, menandakan siap melaksanakan perintah.

Eliot meninggalkan mereka bertiga dan mengawasi slayer lain yang sedang berlatih.

"Siapa yang akan berlatih dulu?" Vezarius menatapi Sora dan Roxas.

"Kau mau duluan, Sora?" Roxas bertanya lagi ke Sora.

"Well, okay!" Sora tentu menerimanya dengan senang hati.

Vezarius meminta Sora memilih salah satu senjata yang tersedia di rak senjata. Dari sekian banyak senjata, Sora mengambil pedang berukuran sedang. Saat diangkat, cukup berat,tapi bukan halangan bagi Sora untuk menggunakannya. Dengan gerakkan kaku, Sora melakukan sedikit pemanasan agar tubuhnya terbiasa dengan berat pedang yang dipegangnya. Roxas menahan tawa melihat tingkah Sora yang menurutnya lucu di matanya. Selama ini Sora sangat jarang menggunakan senjata, dan lebih banyak menggunakan magic dan pedang kecil yang lebih ringan—ini pun masih jarang-jarang.

Sora menyerang menggunakan pedang bersama Vezarius. Benturan pertama dan kedua baik-baik saja. Untuk yang ketiga, pedang Sora sempat terlempar karena tangannya kesemutan menahan beban pedang. Sora mengibas-ngibaskan tangannya agar kesemutan segera hilang dan tangannya kembali normal …

Masih dengan sosok werewolf, Riku berjalan menyelidiki kota. Berjalan sebagai manusia membuatnya tidak menyadari banyak keanehan, tapi berjalan sebagai werewolf, dia menyadari banyak hal yang mencurigakan. Dia menyadarinya karena selalu melihat ke bawah, menghindari kaki-kaki manusia yang berjalan di dekatnya. Setiap beberapa langkah, kira-kira setiap 10 meter yang dilaluinya, dia melihat lubang gorong-gorong saluran air. Anehnya, jika dia mendekatkan hidungnya ke tutup lubang yang begitu rapat, samar-samar dia mencium bau yang mirip mesiu.

Tidak hanya itu, dia juga menyadari, bahwa ternyata setiap pedangan memiliki senjata yang diletakkan secara tersembunyi. Selain itu, rupanya penduduk biasa yang berlalu-lalang di sekitar kota juga memiliki senjata. Entah itu pistol, pisau yang tersembunyi dibalik pakaian, bom asap yang tersimpan dalam tas, baju anti peluru, dan masih banyak lagi. Ada juga yang terang-terangan membawa pedang meski dia bukanlah slayer, tapi tidak sebanyak penduduk yang membawa senjata secara tersembunyi.

Mungkinkah mereka terlatih untuk bertarung jika terjadi perang dadakan? Bisa jadi.

Di sebuah tempat sepi, tepatnya di gang sempit dan kotor, Riku mencoba membuka tutup gorong-gorong saluran air bawah tanah menggunakan mulutnya. Cukup keras, tapi kekuatan Riku lebih kuat sehingga tidak ada kendala dalam membukanya. Bau mesiu yang kuat langsung tercium olehnya. Dalam hati dia berpikir, jika dia melempar satu batang korek api yang masih menyala, mungkin saja kota ini bisa meledak dan menghilang dalam beberapa detik saja.

Riku mendadak memucat. Dia memikirkan ulang apa yang baru saja dipikirkannya. Meledak? Ya, bisa saja para slayer memang berniat meledakkan kota mereka jika saja seluruh vampire bisa mati dalam satu ledakkan ini. Kemungkinan besar seluruh penduduk kota Land of Departure sudah tahu ada peledak di dalam saluran gorong-gorong.

Untuk lebih memastikannya, Riku melompat turun memasuki gorong-gorong air yang gelap. Kering, begitu yang dirasakannya begitu sampai di bawah. Sama sekali tidak lembab. Tempat ini kering, seakan-akan tidak pernah digunakan untuk saluran air, melainkan untuk menyimpan sesuatu agar tetap kering. Tidak salah lagi, memang ada mesiu di sana.

Gelapnya tempat tidak menghalangi niat Riku untuk menyelidiki gorong-gorong air. Dengan sosok werewolf, matanya dengan cepat terbiasa berada di tempat gelap, sehingga bisa melihat sekelilingnya dengan cukup jelas. Riku mengendus sekali lagi, mencari sumber mesiu tercium dan berjalan menuju arah yang lebih menyengat.

Di tengah-tengah bau mesiu, dia dapat mencium udara segar samar-samar. Seperti jalan keluar lain dari gorong-gorong, dan arahnya tidak menuju kota karena udaranya bersih, tidak tercemar oleh polusi kendaraan seperti yang ada di kota. Letaknya pun tidak terlalu jauh, tapi Riku memutuskan untuk mencari sumber bau mesiu. Baru mencari jalan keluar tersebut.

Gelap dan pengap, tidak ada satu pun tikus yang hidup di sana. Bau mesiu yang tidak sehat tentu membuat tikus enggan hidup di sana. Riku pun merasa tidak nyaman dengan bau mesiu. Rasanya dia ingin segera keluar dan menghirup udara yang lebih layak. Keinginannya untuk keluar menghilang seketika saat melihat tumpukan mesiu dalam jumlah banyak. Terdiam dengan wajah pucat. Dia tidak menyangka apa yang dipikirkannya benar. Sesuai perkiraannya, jumlah mesiu yang ada bisa meledakan satu kota dalam hitungan detik. Ini hanya satu titik tempat mesiu dikumpulkan. Riku masih bisa mencium bau mesiu dari arah lain, tidak hanya di sana.

Memikirkannya saja sudah membuatnya merinding ketakutan jika seandainya mereka memang berniat meledakan satu kota. Dijamin, vampire yang abadi saja pasti bisa hancur tercerai berai terkena ledakan super kuat. Apalagi dirinya yang seorang werewolf.

Matanya dipejamkan sesaat. Dia tidak perlu menyelidiki lebih lanjut. Titik mesiu berkumpul lebih dari tiga. Satu titik saja sudah bisa menghasilkan ledakan yang berbahaya, apalagi lebih dari tiga titik. Lebih baik dia menyelidiki jalan keluar yang tidak menuju kota. Dia juga tidak memiliki banyak waktu, karena nanti malam akan ada pertemuan lagi untuk membahas perjanjian lebih lanjut.

Berlari membuatnya lebih cepat keluar dari gorong-gorong. Cahaya yang sudah cukup lama tidak dilihatnya menyilaukan matanya hingga membuatnya buta sesaat setelah keluar. Matanya dipejamkan karena sakit. Perlahan, sakit menghilang dan matanya terbuka. Rumput hijau menjadi hal pertama yang dilihatnya. Setelah itu, pepohonan hijau dengan berbagai jenis buah yang menghiasinya. Semak-semak belukar menghalangi sesuatu yang tertutup oleh kain hijau.

Penasaran, Riku mendekati. Benda yang ditutupi oleh kain hijau yang telah kumal dan sedikit robek mempunyai tinggi sekitar 2 meter. Bau besi tercium ketika Riku mengendus. Seperti sebuah kendaraan. Dia pun merobek kain yang bolong untuk melihat lebih jelas apa yang disembunyikan di baliknya. Sebuah bus yang kondisinya bisa dikatakan masih baik berada di baliknya. Cat luar bus masih baik, menandakan bus ini bukan bus bekas yang ditinggalkan karena tidak layak digunakan lagi. Tidak hanya itu, jumlah kendaraan yang tertutup kain bukan hanya satu saja. Ada lebih dari dua puluh.

'Evakuasi,' pikir Riku.

Fungsi bus yang ada di sini tentu untuk mengevakuasi seluruh penduduk yang ada di Land of Departure. Setelah mereka mengungsikan seluruh penduduk, tentu rencana mereka meledakan kota akan berjalan tanpa ada banyaknya korban yang berjatuhan dari penduduk kota. Meminimalisir korban sedikit mungkin, begitu yang Riku tangkap ketika menganalisa rencana para slayer. Rencana yang sangat berbahaya ...

Pedang Vezarius terlempar saat Sora memecahkan pertahanannya. Tangannya langsung kesemutan ketika pedangnya terlempar. Ujung pedang yang Sora gunakan berada dekat dagunya. Setitik keringat muncul di wajah Vezarius. Kaget dan juga tidak percaya bahwa Sora—yang tadinya begitu payah dan tidak begitu pandai menggunakan pedang—kini mengacungkan ujung senjata padanya. Dia bingung. Untuk permulaan, Sora sama sekali tidak menonjol saat menggunakan senjata, tapi setelah beberapa kali bertarung dan dikalahkannya, mendadak dia bisa menebak semua gerakannya seakan-akan, pikirannya dibaca oleh Sora hingga semua gerakannya sia-sia belaka. Kejadian tersebut sungguh tidak masuk akal baginya. Tidak mungkin seseorang yang begitu payah bisa mendadak hebat begitu saja. Meski heran, Vezarius hanya menyimpan semua kecurigaannya dalam hati. Dia yakin ada suatu hal yang membuat Sora dapat membaca semua gerakannya.

Tidak perduli atas kecurigaan Vezarius, Sora terharu hingga mengeluarkan air mata karena akhirnya dia bisa menang sekali setelah dikalahkan berkali-kali. Sora berlari mendekati Roxas dan memeluknya dengan perasaan girang sambil berkata, "Aku menang! Akhirnya!"

"Ya," balas Roxas sambil mengusap kepala Sora dengan senyum, tapi masih memperhatikan keadaan karena Vezarius memandangi keduanya dengan ekspresi curiga.

Roxas hanya tersenyum sinis melihat ekspresi kebencian yang ditujukan pada keduanya, tapi tidak terang-terangan. Dia merasa ada baiknya keduanya segera pergi dan tidak meninggalkan jejak.

"Terima kasih sudah mau melatihnya. Berhubung hari sudah sore, maka kami harus segera kembali. Kami pamit dulu." Roxas berpamitan kepada Vezarius dan Eriot.

Sebuah anggukan dari Eriot tertuju untuk Roxas. Vezarius diam menatapi Sora. Kecurigaannya masih ada, tapi dia tidak akan memata-matai keduanya. Dia tidak ingin bertindak gegabah.

Roxas mendorong Sora keluar. Sesekali Sora melirik kepada Vezarius. Tatapan yang ditujukan untuknya membuatnya tidak nyaman. Dalam hati Sora bertanya, apakah dirinya membuat kesalahan? Sora pun berpikir lebih dalam. Mungkin dia kesal karena berhasil dikalahkannya setelah dia kalah berkali-kali, begitulah pendapatnya.

Di luar, langit sudah berubah menjadi gelap. Waktu begitu cepat berlalu. Roxas berhenti mendorong Sora tepat di depan serigala berbulu perak. Karena dia bertingkah ramah seperti anjing, maka tidak seorangpun warga Land of Departure mencurigainya duduk manis di depan pintu.

"Manisnya!" Sora mendekati serigala, lalu menyentuh kepalanya.

Dengan mata saling menatap, Roxas terus menatapi serigala. Tangannya memegang dagu. Tidak salah lagi, begitu yang dipikirkannya. Roxas mendekat dan berjongkok di depan serigala perak. Dia memperhatikan lagi dengan seksama untuk memastikan dia tidak keliru.

"Riku?"

Serigala perak pun mengangguk.

"Huh!?" Sora sedikit terlonjak mendengar nama Riku disebutkan di depan serigala. "Ini … Riku?" Dia merasa tidak percaya.

Sekali lagi Sang Serigala mengangguk. "Kita ke tempat yang aman dulu."

Kekaguman muncul di wajah Sora. Dari suaranya, dia tahu persis bahwa suara yang didengarnya barusan adalah Riku. Baru pertama kali ini dia melihat sosok Riku dalam wujud serigala. Selama ini, Riku tidak pernah memakai sosok serigala. Bahkan ketika bertarung dia lebih memilih menggunakan wujud manusia dibandingkan serigala.

Ketiganya kembali ke parkiran mobil. Sora tidak henti-hentinya membelai bulu Riku yang berkilau keperakan. Halus dan rapi, hingga Sora ingin terus memeganginya.

"Kau lebih mirip boneka hidup!" Sora memeluk leher Riku.

"Hey, hey, aku bukan mainan. Berhentilah memainkanku, Sora," protes Riku.

Roxas tertawa melihat Sora memperlakukan Riku bagaikan boneka. "Mungkin ada baiknya kau membelikannya boneka."

"Memangnya aku anak kecil." Kini Sora yang protes.

"Kalian memang masih muda."

Mereka bertiga menoleh. Mendadak, Cloud berada di belakang Sora bersama dengan Terra dan Tifa. Terra memberi anggukan kepada Riku dan Tifa menatap dengan senyum.

"Ayah! Ibu!" seru Sora sambil memeluk Cloud dan Tifa.

Sambutan hangat dari Cloud dan Tifa membuat Sora memeluk mereka seerat mungkin.

"Kapan kalian ada di sini!?"

"Baru saja," jawab Cloud.

"Hay, Yah, Bu," sapa Roxas dengan senyum.

Tifa pun memberikan pelukan pada Roxas. "Syukurlah kalian baik-baik saja di kota ini."

"Ya. Sebisa mungkin kami menghindari masalah."

"Bagaimana kabarmu, Riku?" Cloud berbasa-basi.

"Baik, meski perasaanku masih tidak enak akan pertemuan nanti."

"Ceritakan."

Riku menceritakan bahwa dia menemukan bahan peledak di gorong-gorong saluran bawah tanah. Cloud tidak terkejut, tapi yang lainnya terkejut sampai menutup mulutnya yang terbuka lebar. Mata mereka terbelalak, seakan-akan sulit mempercayai bahwa ada bom berdaya ledak besar di bawah tanah yang mereka pijak saat ini. Rasa cemas yang Riku rasakan kini dirasakan oleh mereka semua. Mereka tidak menyangka para slayer akan berbuat sekeji itu, meski harus mengorbankan sedikit penduduk yang tinggal di sana.

"Apakah kau yakin jumlah peledak yang ada sanggup menghancurkan seluruh kota?" Tifa memberi tatapan prihatin.

"Ya. Bau mesiu begitu menyengat dan tercium dari berbagai arah. Satu sulutan api mungkin bisa meledakan seluruh bahan peledak dalam sekejap." Wajah Riku memucat karena mencoba membayangkannya.

Sora menelan ludah. Dia merinding ketakutan. "Perlukan kuterawang ke masa depan untuk memastikan apakah akan terjadi ledakan ataukah tidak?"

"Boleh, tapi jangan memaksakan dirimu," balas Cloud.

Sora mengangguk. Selagi Sora menerawang, Cloud berdiskusi dengan Riku. Membahas apakah penemuan tentang bahan peledak di bawah tanah bisa menjadikan nilai tambahan agar para slayer menyetujui perjanjian mereka meski dengan setengah hati. Dengan perjanjian setengah hati, tentu memiliki nilai positive dan juga negative. Positivenya karena jumlah serangan terhadap vampire maupun half vampire berkurang. Negativenya, meski perjanjian sudah disepakati, bisa saja mereka melanggar diam-diam dan menyerang vampire dan half vampire kembali tanpa sepengetahuan mereka.

Mereka juga tidak bisa mendesak para slayer untuk berhenti memproduksi slayer muda setiap tahunnya. Mereka juga perlu kemampuan bertarung untuk mempertahankan hidup mereka, sama seperti vampire.

"Solusi terbaik adalah menguasai mereka dengan kekuatan." Terra menyampaikan pendapat.

"Dalam jangka waktu yang singkat, tentunya. Mereka tidak akan diam jika ditekan dengan kekuatan," balas Cloud dengan tangan menyilang.

"Jika mereka melawan, maka perang panjang benar-benar akan terjadi. Yang paling merasakan dampaknya adalah manusia biasa. Bukan slayer, bukan juga hunter." Riku mendesah panjang.

"Mereka adalah pihak netral yang tidak mengerti apa-apa. Sungguh prihatin jika mereka sampai terlibat." Tifa menyentuh dadanya dengan tangan mengepal.

Roxas mendesah. "Ini bukan keputusan yang mudah."

"Mudah-mudahan kita bisa menemukan jalan terbaik bagi kita semua."

Semua mengangguk, setuju dengan pendapat Tifa.

Sora bersin dan semua orangpun meliriknya.

"Sudah selesai menerawang?" Roxas bertanya.

"Um, sudah dari tadi," balas Sora dengan cengiran. "Apakah aku sudah boleh berbicara?"

"Ya, silahkan."

Sora mengangguk. Dijelaskan apa yang dilihatnya perlahan-lahan. Dia melihat jika penemuan Riku tentang peledak digunakan untuk menekan slayer saat rapat nanti malam. Kata-kata Cloud juga mempertegaskan, bahwa peledak itu bisa saja digunakan untuk memusnahkan slayer itu sendiri, alias senjata makan tuan. Kalau mereka memaksa tidak ingin menyetujui perjanjian dan menginginkan perang, maka Cloud akan meledak meledakan bomnya sekarang.

Tidak hanya itu, kendaraan evakuasi yang mereka siapkan juga telah dirusak sehingga menyulitkan mereka untuk segera mengevakuasikan penduduk kota.

Seluruh slayer mengkerutkan wajah. Kesal dan marah karena rencana mereka telah dibaca oleh lawannya. Seharusnya bom di bawah tanah adalah pertahanan terakhir mereka untuk melawan musuh, tapi kini musuh mendesak mereka dengan perangkap mereka sendiri. Mereka berdiskusi. Sesekali saling memaki satu sama lain ketika berdebat.

Sementara para slayer berdebat, pihak lain, vampire, hunter, dan werewolf justru diam agar suasana tidak semakin panas. Cloud dan Riku menunggu dengan harap-harap cemas akan hasil dari para slayer. Untungnya, hasil yang diputuskan membuat Cloud dan Riku dapat bernapas lega.

"… dan selesai sampai di sana!" Sora mengakhiri penjelasan.

Semua yang menatap Sora dengan tegang kembali rileks. Meski hasilnya cukup memuaskan, bukan berarti mereka tidak mempunyai pikiran lagi. Akan ada banyak kemungkinan terjadi setelah perjanjian disetujui. Hal ini tentu menjadi beban yang berat dalam menjaga perjanjian yang ada tetap utuh.

"Untuk sementara, jalan ini merupakan jalan terbaik di antara semua. Mari kita pergi rapat," ajak Cloud sambil menatap Riku.

Riku memberi anggukan.

To Be Continued…

Author Note: Terima kasih bagi kalian yang sudah membaca dan masih setia menunggu THB2 update :) kuucapkan terima kasih banyak. Jika ada miss type, mohon untuk memberitahukanku dan jika ada kata-kata yang menurut kalian bertele-tele, tolong disebut juga agar membuat tulisanku semakin berkualitas. Bagaimanapun juga, pembaca mempunyai mata yang lebih tajam dari penulisannya sendiri (soalnya mata saya mengantuk jika baca cerita sendiri XD). Satu hal lagi, semua masukan yang kalian berikan tentu akan kuterima dengan senang hati dan lapang dada, karena itu jangan sungkan-sungkan mereview.