Baby Machine?

-Matchmaking Sequel

Pair:: MyungYeol and other

Rated:: T

Genre:: Humor and romance

Warn:: BL

Author:: Hiwatari NiwaDark Lawliet

-_- Padahal author udah lega banget akhirnya ff ini tamat. Eh ini readersnya malah serentak semuanya minta sequel.. Fiuuhh -..- dan akhirnya~ Author yang baik hati(?) ini pun mengabulkan… XD #plakkk Bingung mau buat sequel apa -_- Jadi terima aja, ya? Walaupun rada aneh, terima aja ya? *pasrah* Heheheh~

Eum, sebelumnya author minta maaf, karena di ff ini Myungsoo agak gak sopan sama Woohyun, heheheh *nyengir* #plakk Sekali lagi maap kalau ada kata-kata Myungsoo di sini yang sedikit tidak berkenan di hati readers… *bow*

Enjoy~!

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Sungyeol-ah," panggil seseorang yang memiliki wajah bak karakter anime yang sangat tampan, dengan bibir tipis dan matanya yang tajam, Kim Myungsoo. Lelaki yang dipanggil dengan nama Sungyeol itu tidak menyahut. Matanya yang menatap tajam ke arah laptopnya dengan kaca mata minus rendahnya yang menempel di hidung mancungnya, keningnya yang berkerut serius, tangannya yang bergerak dengan sangat cepat di atas keyboardnya.

Myungsoo mendengus malas dan kemudian berjalan mendekat ke Sungyeol, mendekatkan wajahnya ke arah Sungyeol.

"Lee Sungyeol, aku memanggilmu." Ujar Myungsoo dengan nada menekannya. Dengan cepat, jari telunjuk Sungyeol menempel di bibir tipis nan lembut milik suaminya itu, menyuruh sang suami untuk diam dengan matanya yang tetap fokus ke monitor dan tangan kanannya yang terus mengetik.

Setelah jari Sungyeol menajuh dari bibirnya, Myungsoo terdiam sejenak. masih belum mengerti situasi Sungyeol, lelaki tampan itu kembali memanggil nama pasangannya itu.

"Yeol, kenapa tidak ada makan ma-"
"Ssstt!" Jari telunjuk kiri Sungyeol kembali menempel di bibir Myungsoo, kali ini dengan kasar, bisa dikatakan kalau jari telunjuk Sungyeol mendorong bibir Myungsoo hingga kepala namja tampan itu terdorong ke belakang. Dan Sungyeol kembali sibuk dengan laptopnya.

"Besok pagi ada rapat tiba-tiba, dan aku harus mengerjakan 2 proposal. Sial, Hoya hyung selalu mengadakan rapat secara tiba-tiba dan dengan seenaknya menyuruhku membuat semua proposalnya dalam satu malam. Dasar, si Shincan ungu itu." Umpat Sungyeol dengan api kemarahan yang menyala di sekitar tubuhnya.

Myungsoo mengusap-usap bibirnya yang terasa sakit. Menatap Sungyeol dengan tatapan malas dan kemudian mengedikkan kedua bahunya. 'Yasudahlah, malam ini makan mie instan seduh sajalah.' batinnya yang kemudian melangkah keluar dari kamarnya, namun terhenti tepat di ambang pintu. Ia menoleh ke belakang. "Tapi kau juga belum makan dari siang tadi, 'kan?" tanyanya pada Sungyeol.

"Aku tidak lapar." Jawab Sungyeol dengan singkat. Myungsoo hanya menghela napasnya kemudian melanjutkan langkahnya.

Beberapa menit kemudian, lelaki bermata elang itu kembali ke kamar dengan membawa 2 mangkuk mie seduh di tangannya. Ia menyandarkan pinggulnya ke meja kerja Sungyeol kemudian meletakkan satu mangkuk di depan Sungyeol.

Namja manis berkaca mata dengan poni yang dipin dengan jepitan rambut yang kecil dan panjang itu menghentikan kegiatannya sejenak, ia mengamati mie ramyun seduh yang ada di samping laptopnya itu. "Sudah kubilang aku tidak lapar." ujar Sungyeol pelan. Ia hendak melanjutkan pekerjaannya lagi saat suara nada dingin Myungsoo menjawab, "Kau bukannya tidak lapar, tapi kau tidak sempat memikirkan rasa laparmu karena saking sibuknya. Makanlah sedikit sebelum melanjutkannya lagi." Myungsoo menyuapkan sesumpit mie ke dalam mulutnya sediri.

Sungyeol mengamati mie itu sejenak sebelum akhirnya ia menjauhkan kedua tangannya dari keyboard laptopnya dan meraih mangkuk mie seduh itu. Makan sedikit untuk mengisi energy dan perutnya mungkin tidak memakan banyak waktunya. Ia mulai menyeruput mienya yang masih panas.

Myungsoo menghentikan kegiatannya yang tadinya sedang meminum sup ramyun seduhnya seperti minum air dari gelas dengan sebagian mie yang masih ada di dalam mulutnya saat ponselnya berbunyi.

Gyu-hyung

"Yeobosseo, hyung. Ada apa?" tanya Myungsoo dengan nada datarnya.

Hening…

"MYUNGG! KAU SUDAH 'MELAKUKAN'NYA DENGAN SUNGYEOL SEMALAM, 'KAN?! BAGAIMANA RASANYA? Wah, aku tidak menyangka kau berani menyentuhnya secepat ini. Kalian 'kan seperti kecebong dan jamban, tak pernah akur. Bagaimana kau bisa menaklukan namja manis itu, eum? Aku turut berbahagia, Myung! Bwahahaha!"

Myungsoo hampir saja menyemburkan semua isi yang ada di dalam mulutnya saat mendengar suara menyebalkan milik calon abang iparnya itu. Ia sweatdrop sekaligus kesal.

"HOI! TOLONG JANGAN MENGGUNAKAN PONSEL HYUNGKU LAGI! LALU, PERTANYAAN MACAM APA ITU, BODOH?! DAN APA HUBUNGANNYA KECEBONG DAN JAMBAN DENGAN TAK PERNAH AKUR, HAH?! OTAKMU TERBANG KE MANA?! " teriak Myungsoo kesal. Tiba-tiba meneleponnya menggunakan ponsel hyungnya dan melemparkan pertanyaan yang memalukan itu dengan suara yang keras, sungguh menyebalkan. Untung saja Sungyeol tidak dapat mendengar suara Woohyun dengan jelas. Setiap berhadapan dengan Woohyun, image coolnya selalu saja hancur.

"Ihihihi, jadi bagaimana, hm?" Terdengar sekilas suara benturan dari seberang telepon. Sepertinya Woohyun baru saja menerima pukulan kamus tebal milik Sunggyu tepat di kepalanya.

"Ck, kau ribut sekali sih. yang pertama itu bukan semalam, tapi minggu lalu. Meneleponku hanya untuk menanyakan hal tak penting ini? Ck, mengganggu saja." Kesal Myungsoo yang hendak memutuskan sambungan telepon, namun dicegah oleh pertanyaan Woohyun yang cukup membuat Myungsoo bingung.

"APUAHH?! MINGGU LALU?! Ah, iya, iya, maaf, Gyu. Aku akan menanyakannya sekarang. Ehem! Myung? Apa kau masih di sana? Kau sudah membereskan seluruh barang-barangmu? Pastikan tidak ada yang tertinggal, terutama namja tercintamu itu. Ahahahaa." Terdengar tawa kecil yang dikeluarkan Woohyun. Myungsoo mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu. 'Membereskan barang apa? Untuk apa?' pikir lelaki tampan itu.

"Apa maksudmu? Membereskan barang untuk apa?" tanya Myungsoo. "Eh? Sebentar. Gyu, kau belum memberitahu Myungsoo tentang rencana kedua orang tuamu?" terdengar Woohyun tengah bertanya pada Sunggyu yang berada di dekatnya.

"Myung," Kali ini terdengar suara indah Sunggyu yang menyahut Myungoo di seberang telepon. "Itu apa maksudnya, hyung?" tanya sang adik. Sunggyu menghela napasnya.

"Oh iya. Maaf, hyung lupa memberitahumu. Begini, appa dan eomma sekitar 5 hari yang lalu pulang dari California dan memberitahu ini padaku, mereka akan pindah ke L.A minggu depan setelah pernikahanku berlangsung dan akan tinggal di sana, kembali ke Seoul hanya setengah tahun sekali untuk melihat keadaan kita. Karena appa dan eomma tidak akan tinggal di rumah lagi, mereka myuruh kalian untuk pindah ke sini dan menemani hyung. Rumah kalian itu sementara akan disewakan kepada orang lain. Segeralah berkemas, 4 hari ke depan kalian sudah harus pindah ke sini, okey~?" jelas Sunggyu panjang lebar.

Myungsoo terdiam. Masih mencerna penjelasan Sunggyu yang panjang, cepat dan sulit dimengerti itu. "Uhmm, jadi intinya… Kami harus pindah ke sana? Tinggal bersamamu? Bukankah minggu depan hyung sudah menikah dan Woohyun akan tinggal bersamamu? Untuk apa lagi kami ke sana?"

"Ya 'kan tidak apa-apa, kalau hanya berdua di rumah pasti sangat sepi. Lebih baik ramai-ramai." Jawab Sunggyu. Myungsoo mengerutkan keningnya. "Jadi maksud hyung, aku harus serumah dengan si pohon namu itu? Apa yang akan terjadi dengan masa depanku kalau aku serumah dengannya, hyung?!" kata Myungsoo dengan setengah frustasi.

Terdengar suara tawa Sunggyu di seberang sana. "Kau pasti tidak akan mengalami kebosanan dalam hidupmu, Myung. Kekekekeke! Okey? Sudah ya, bye!" Myungsoo menatap layar ponselnya, panggilan diputuskan secara sepihak oleh hyungnya.

"Ada apa?" tanya Sungyeol yang mulutnya dipenuhi dengan mie, mangkuknya telah kosong, matanya yang fokus pada layar monitornya dan jari-jari tangannya melanjutkan kegiatan mengetiknya. Myungsoo melempar ponselnya ke kasur empuknya dan menghela napasnya.

"Empat hari lagi kita akan pindah ke rumaku, orang tuaku akan pindah ke L.A, jadi kita akan tinggal di rumahku dan menemani Sunggyu hyung. Dan tentu saja dengan seekor lalat tercintanya Sunggyu hyung yang juga akan menjadi suami hyungku dan tinggal bersama di rumahku." Jelas Myungsoo.

Sungyeol menghentikan kegiatannya, ia mendongakkan kepalanya, menatap Myungsoo dengan… mata berbinar. "Benarkah?! Woahh! Baguslah kalau begitu! Sekarang kau bereskan barang-barangmu dan juga barangku, jangan sampai ada yang tertinggal." Perintah Sungyeol yang kembali melanjutkan pekerjaannya.

Myungsoo yang hendak melanjutkanya makanannya terhenti. "Apa? Kenapa aku harus membereskan barang-barangmu juga? Bereskan saja sendiri sana!" berontak Myungsoo dengan cuek yang kemudian menyuapkan mie ramyunnya ke dalam mulutnya. "Kau tidak lihat pangeran Sungyeol sangat sibuk di depan laptop ini? Kalau kau tidak mau, yasudah, biarkan saja. Biarkan kau yang pindah, dan aku tetap tinggal di rumah ini." ujar Sungyeol dengan santainya.

Myungsoo tidak menghiraukan perkataan Sungyeol, ia berjalan ke arah kasurnya, berniat untuk duduk makan di atas kasurnya. Sungyeol berdecak, dengan kesal ia melemparkan sandal rumahnya ke kepala Myungsoo. "Dasar menyebalkan!"

.

.

4 days later…

"Yang itu! Barangku jangan sampai ada yang tertinggal. Kardus yang itu juga lupa dibawa. Cepat sedikit! Mana tenagamu? Tidak bisakah kau mengangkat 3 kardus sekaligus?!" Myungsoo mendecih kesal, sedari tadi, dari 1 jam yang lalu ia terus-terusan kena semprotan Sungyeol. Entah apalah salahnya, yang jelas Sungyeol sangat ribut akhir-akhir ini.

"Kau sendiri memerintah terus, bantu sedikit kenapa?" Myungsoo berusaha untuk tenang sementara tubuhnya terus bolak-balik mengangkat dan memasukkan barang-barang mereka ke dalam truk angkutan barang pindahan. "Aku sudah mengangkat banyak barang tadi. Cepatlah sedikit, aku lelah mengangkat-angkat sebagian barang-barang ini dan sekarang harus menunggumu yang lamban ini." dengus Sungyeol yang dengan santainya berjalan dan duduk di jok depan truk.

Myungsoo menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan panjang. Berusaha mendinginkan kepalanya, jangan sampai image coolnya hancur hanya karena omelan Sungyeol yang terus menyemburnya akhir-akhir ini. Ya Tuhan, lapangkanlah dada anak-Mu ini.

~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~#~

Suasana pada ruang makan di sebuah rumah yang bisa dikatakan mewah pada malam hari ini terlihat sangat err… sangat sangat suram. Lebih tepatnya suram bagi seorang Kim Myungsoo yang harus duduk persis di seberang Woohyun di sebuah meja makan yang juga ditempati oleh dua orang lainnya. Woohyun memakan makanannya dengan lahap, sesekali iseng melemparkan sayur brokoli ke piring Myungsoo.

Sedangkan Myungsoo dengan ogah-ogahan memakan makanannya dan dengan terpaksa menelan brokoli yang dilemparkan oleh Woohyun. Ingat! Tidak boleh buang-buang makanan, nanti jerawat akan tumbuh di wajahmu jika kau membuang-buang makanan, begitulah apa yang Myungsoo dengar dari ibu tercintanya.

Sunggyu yang duduk di samping Woohyun melahap makanannya dengan sesekali menjitak kepala atau menjewer telinga Woohyun yang tidak bisa tenang itu. Sedangkan Sungyeol, ia hanya duduk diam memandangi makanannya yang tepat berada di depannya. Entah kenpa ia agak tidak bernafsu untuk makan, padahal makanan yang berada di depannya sekarang ini adalah makanan yang terlihat sangat lezat.

Ia ingin memakan makanan yang terlihat lezat itu, tapi entah kenapa lidahnya terasa hambar, mulutnya terasa malas untuk dibuka, dan tenggorokannya terasa kering. Ia sangat malas untuk makan. Oh ya Tuhan… Apakah ini karma karena Sungyeol telah jatuh cinta pada Myungsoo? Jatuh cinta pada mayat hidup yang kini tengah makan tepat di sampingnya ini? Sebenarnya ia merasa sangat geli saat ia menyadari kalau ia telah mencintai namja yang berada di sampingnya ini. Tapi apalah yang mau dikatakan, entah avatar dari negara mana, ninja dari desa mana, dan shinigami dari mana yang membuatnya harus merasakan perasaan ini pada namja yang telah berstatus sebagai suaminya ini.

"Kenapa tidak di makan, Yeol? Apa terlihat tidak enak?" tanya Sunggyu pelan, takut-takut kalau masakannya tidak cocok dengan selera Sungyeol.

Sungyeol tersenyum dan menggelengkan kepalanya/ "Aku ingin memakannya, semua ini terlihat enak, hyung. Tapi perutku terasa masih sangat penuh, akhir-akhir ini aku sedikit tidak berselera untuk makan, hyung." Jawab Sungyeol dengan senyum tipis di wajahnya.

Sunggyu mengerutkan keningnya, sedang Myungsoo menghentikan makannya. "Ada apa? Apa kau sakit?" tanya Myungsoo. Sungyeol menggelengkan kepalanya. "Aku sedikit lelah dan mengantuk, aku permisi untuk ke kamar duluan." Gumam Sungyeol pelan, namun sebelum ia sempat beranjak dari kursinya, tubuhnya sedikit linglung ke depan, yang di mana hal itu membuat Myungsoo, Sunggyu dan Woohyun terkejut melihatnya.

Myungsoo dengan segera menahan Sungyeol. "Hey, kau kenapa?"

"Yeo-ah." panggil Sunggyu.

"Kau terlihat pucat, Sungyeol-ah. Kalau kau memang merasa sakit, sebaiknya ke rumah sakit saja. Kami akan mengantarmu." tawar Woohyun dengan nada khawatirnya. Sungyeol menggeleng dengan kuat, berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya yang entah kenapa tadi sempat hilang. Hell no! Ia sungguh membenci tempat yang bernama rumah sakit, apapun itu! Ia tidak ingin ke tempat itu!

"Aku hanya ingin beristirahat dan tidur untuk saat ini. Mungkin aku kelelahan karena Sungjong sialan itu yang menyuruhku mengerjakan PR-nya yang segudang selama 3 hari 3 malam." Ujar Sungyeol dengan nada membunuh pada bagian adiknya yang menyuruhnya untuk membuat PR matematikanya yang berjumlah 180 soal itu yang akhirnya mau mengerjakan PR itu setelah menerima puppy eyes bertubi-tubi dari sang adik. Gila!

Myungsoo mendudukkan Sungyeol kembali pada kursinya dan memberi Sungyeol segelas air hangat. "Minumlah." Sungyeol menerimanya dan meminumnya seraya pikirannya yang terus-menerus mengutuk Sungjong. Namja manis itu menjauhkan gelas kacanya dari mulutnya saat mendengar Sunggyu mengeluarkan suaranya.

"Apa mungkin kau… sedang mengalami gejala-gejala hamil?" tanya Sunggyu.

Traakkk!

Myungsoo dan Woohyun membelalakkan matanya melihat gelas kaca yang kini masih berada di genggaman tangan Sungyeol retak karena remasan tangan Sungyeol yang kuat. Mungkin Sungyeol terkejut mendengar perkataan Sungyeol. 'What? Hamil? Memangnya aku ini apaan? Waria? Yang sebenarnya perempuan tapi selama ini salah mengenal kelamin dan akhirnya menyangka diriku sendiri ini adalah seorang laki-laki? No way! Aku ini benar-benar laki-laki, hamil dari mana coba?' pikir Sungyeol dengan kaca.

Sunggyu mengedipkan matanya dengan lucu. "Kau tahu? Orang tua kita tidak mungkin menikahkan kalian dengan resiko tidak memiliki cucu dari Myungsoo ataupun kau, Yeol." Ujar Sunggyu lagi.

Kini terlihat tetesan air menetes dari retakan gelas kaca tersebut. Sungyeol masih tetap terdiam. Woohyun mulai panik dan berbisik pada Sunggyu. "Gyu, sebaiknya kita jangan membicarakan soal ini dulu. Ini bukan waktu yang tepat, chagi." Bisik Woohyun sepelan mungkin pada Sunggyu.

Sunggyu menoleh pada Woohyun. "Sampai kapan kita terus menyembunyikan ini setelah kita telah melihat gejala-gejala yang sudah jelas? Sungyeollie tidak selera makan, lemas, dan juga pusing. Dan Myungsoo juga mengatakan kalau Yeollie akhir-akhir ini agak galak. Untuk apa menahannya lagi kalau hal ini sudah jelas-jelas ada di depan mata, Nam?"

Sungyeol dan Myungsoo masih membatu. Bahkan Myungsoo pun tidak mengetahui hal ini, dan baginya, hal ini sangatlah mustahil. 'Atau jangan-jangan…' Myungsoo melirik ke arah Sungyeol yang tertangkap oleh ekor mata namja manis itu. "Aku ini laki-laki, Bodoh!" jawab Sungyeol atas lirikan mata Myungsoo plus injakan pada kaki sang suami.

"Yeol," panggil Sunggyu. Sungyeol menoleh pada Sunggyu. "Sekarang juga kita periksa ke dokter tentang keadaanmu. Aku yakin 100% kalau kau itu hamil, apalagi dengan bukti bahwa mayat mesum ini telah melakukannya padamu 2 minggu lalu." Ujar Sunggyu sambil menunjuk Myungsoo.

Sungyeol terdiam cukup lama.

"Tapi… Bagaimana mungkin namja itu –bisa hamil?"

~TBC~

Yooo~ *goyang itik* Kemungkinan author bakalan buat sequel ini jadi beberapa chapter, mungkin two-shot atau 3 chapter ^^ Maaf kalau plotnya tidak sesuai dengan keinginan readers *bow*

Akhir kata

Review (ffn) and comment (FB) please~ ^^

*bow* m(_ _)m