"The way of love"

Naruto ∞ masha sensei ^_^

Caution : Bahasa masih ancur (belum di las), alur ngalor ngidul dan emmm ancur dech.

Dia tengah berdiri di dek kapal ketika sepoi angin yang membelai lembut rambutnya yang kian memanjang menghantarkan bayang kelam yang Nampak para shappire birunya yang berkilau. Yah, shappire yang dahulu penuh keceriaan itu. Kini mulai nampak penuh oleh kegelapan yang membayang.

Disini. Diatas sebuah kapal yang tengah berlayar menuju dataran lain dalam belahan semesta Dia terpaku pada bayang masa lalu. Sejenak, tangannya yang berpegang pada pagar disisi kapal perlahan bergerak meraih dadanya yang terasa sesak. Bersama dengan baying kegagalan itu yang tiba-tiba muncul dibenaknya.

~Flash Back On~

Hari terakhir sebelum kelulusan… Sejak hari itu. Hari dimana hatinya telah siap menjadi kepingan tak kasat mata karena keputusannya untuk tak lagi memburu cinta yang tak lagi mungkin untuk Ia mulai menjadi sosok yang berbeda. Keceriaan dan canda konyol yang acap kali keluar dari bibir tipisnya kini menghilang tanpa jejak. Dia lebih sering menghabiskan waktu seorang diri diatas atap sekolah. Menikmati awan yang nampak seperti arakan domba dan angin sebagai gembala yang menghalau mereka kearah yang Ia mau.

Membaca buku menjadi rutinitas baru. Hal yang dahulu sangat dan bisa dibilang nyaris tak mungkin Ia , karena sifat malasnya. Tapi kini berbeda, kini hal itu menjadi rutinitas yang tidak mungkin ditinggalkannya. Bukan karena sok keren, tapi Ia merasa dengan tenggelam dalam setiap rangkaian kata pada tumpukan kertas itu mungkin dapat memindahkan sejenak pikirannya akan setiap hal yang membuatnya memikirkan hari itu.

Hari ini adalah hari terakhirnya di sekolah ini. Konoha High selama tiga tahun ini menghabiskan banyak waktu, dari membolos bersama Kiba, tidur berjama'ah di kelas bersama Shikamaru, dan juga menatapi 'Gadis' itu seharian. Dia berjalan santai menyusuri koridor menuju kelasnya di lantai 3. Pandangannya menyapu setiap sudut penuh kenangan yang mungkin tidak akan lagi Ia lihat untuk tahun-tahun berikutnya. Langkahnya terhenti ketika hendak memasuki sebuah ruang kelas yang terdengar ramai oleh hiruk pikuk penghuninya. Langkahnya terhenti ketika sebuah suara terdengar histeris mengumandangkan sebuah nama.

"Sasuke-kun…"

Sebuah teriakan histeris dari salah satu temannya. Tapi bukan sang pemiliki suara itu yang menghentikan langkahnya. Dari suaranya yang memekakkan telinga saja dapat dipastikan Dia adalah Yamanaka Ino salah satu sahabat gadis yang dicintainya.

Yang membuatnya berhanti adalah. Nama yang disuarakan oleh gadis itu. Nama yang mungkin telah Ia kubur sejauh mungkin dalam ingatannya. Apakah Dia kembali? Sebuah Tanya yang langsung tercetak dalam otaknya. Dia menajamkan pendengarannya. Mencoba mendengar setiap percakapan yang tengah terjadi di dalam sana.

"Sudah cukup, Ino…" tegur sebuah suara yang terdengar khas ditelinganya. Suara lembut dan tegas dalam waktu bersamaan. "Naruto tetaplah Naruto. Dia tidak akan menjadi orang lain. Apalagi menjadi Sasuke-kun…"

"Tapi Sakura-chan…" tukas Ino. "Bukankah sikapnya yang sekarang benar-benar mirip Sasuke-kun? Tatapan matanya, senyumnya, sikapnya. Bukankah itu sama seperti Sasuke-kun? Dia berubah seperti itu pasti karena ingin menarik perhatianmu, Sakura…" ejek Ino mengakhiri ucapannya.

Sebenarnya Naruto masih dapat mendengar Sakura yang membantah setiap spekulasi yang di ucapkan sahabatnya. Tapi, sejurus kemudian dadanya telah terasa sesak. Segera langkahnya terarah pada arah yang lain. Urung memasuki kelasnya.

Atap sekolah. Itulah tempat yang cocok untuk saat ini. Rasa sesak yang sangat menyiksa. Membuatnnya enggan bertatap muka dengan mereka yang berada dikelasnya. Pikirannya berkecamuk tak menentu. Sikapnya yang alami berubah karena Ia enggan larut dalam kesedihan. Sikapnya yang lebih suka menyendiri untuk mengusir setiap rasa dalam hatinya, malah menjadikan dirinya disamakan dengan 'orang itu'. Apa yang lebih menyakitkan dari pada disamakan atau malah dikira meniru seseorang yang telah menjadi orang nomor satu di hati orang yang dicintainya? Apa yang lebih menyakitkan?.

"Kaa-san, Aku akan pergi dari kota ini…"

Kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya ketika Mereka sekeluarga makan malam bersama.

Sang Ayah tersenyum. Lalu bertanya. "Pergi? Kemana?"

"Kemanapun asal tidak dikota ini…"

"Kenapa Naruto? Apakah Kau ada masalah sehingga harus pergi dari kota ini?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin merasakan suasana baru." Jawab Naruto dengan senyum khasnya yang nampak dipaksakan.

Sang Ibu, Kushina. Hanya terdiam. Dia dapat melihat sebuah kesedihan yang nampak pada wajah anaknya. Tatapan sendunya saat tersenyum saja sudah merupakan penjelasan lebih yang tak perlu dirangkaikan dengan kata-kata.

"Kau akan pergi kemana, Naruto?" Tanya Kushina yang berdiri di tengah pintu kamar Naruto sembari menatap Naruto yang tengah mengemasi barang-barangnya.

"Mungkin ke Suna City. Atau Kumo dan mungkin ke Iwa…" jawab Naruto dengan nada penuh keceriaan (yang dipaksakan).

Kushina bergerak mendekati Naruto. Menatap lekat setiap lekuk wajahnya yang kian mirip Minato dengan rambutnya yang kian memanjang. "Apa Kau pikir bisa membohongi Ibu mu ini, Naruto?"

Naruto tercekat. Menghentikan aktifitasnya mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Menundukkan pandangannya. Enggan memperlihatkan iris matanya pada Sang Ibu.

Cup…

Sebuah kecupan penuh kasih mendarat pada kening Naruto. Membuatnya semakin terdiam membisu.

"Pergilah. Carilah kebahagiaan yang ingin Kau temukan. Dan jika tidak Kau temukan. Kau pasti tahu kemana Kau harus pulang, kan?" ucap Kushina sembari tersenyum lembut.

"He'em…" Naruto mengangguk mantap. Senyumannya kali ini nampak seakan tak pernah ada kesedihan dihatinya.

~ Flash Back Off ~

Dan kini. Dia disini. Diatas sebuah kapal yang akan mengantarkannya pada kehidupan baru. Kiri City, adalah kota yang akan memang tidak memberi tahu tujuannya pada kedua orang tuanya. Karena, Kota yang tengah Ia tuju adalah kota dengan tingkat kejahatan tertinggi dari 5 Kota besar yang berada paling dekat dengan Konoha City, Kota kelahirannya.

'Akan Ku mulai hidup yang baruku disini…'

"TO BE CONTINUED…"

"Emmmm etto… apa yah? Emmm aku gak jago buat bilang seperti ini, tapi buat yang udah memberikan saran lewat review-nya ore sanjou eh ucapin arigatou gozaimasta. Jangan lupa revien-ne, biar aku bisa tahu apa kekurangan dan kesalahanku he he…" "Yosshhhh…"