"The Way Of Love"
Disc : Kalau cerita ini mah saya, Kalau Naruto punya Mashashi
"Just Note : Pasti membosankan #plaaak
(But, enjoy reading Guys…)
Udara lembab Kiri City menyambut kedatangan Naruto ketika menapakkan kakinya diatas kota yang sangat penuh dengan para buronan ini. Perlahan bola shappire-nya menerawang mengawasi sekitar. Dibenaknya terbersit sebuah penyataan. 'Ternyata kota ini tidak seburuk yang Aku kira.'
Langkahnya mulai menyusuri jalanan yang terbuat dari tumpukan batu-batu kecil. Dengan sebuah kertas bertuliskan sebuah alamat ditangan kirinya, Naruto memulai pencarian tentang sebuah instansi yang entah dari mana mengetahui tentang dirinya.
(Flashback)
1 hari sebelum Dia memutuskan pergi.
Naruto, dengan seragam Konoha Gakuen yang masih melekat dibadannya nampak tertidur diatas hembus angin yang menerpa begitu menenangkan. Wajahnya yang ditutupi sebuah buku Nampak begitu tenang.
"Wooyyy… Naruto…"
Sebuah suara terdengar dari kejauhan.
Naruto membuka matanya lalu menoleh kearah datangnya suara. Terlihat disana Kiba, Shikamaru, Shino, Lee dan teman-teman yang lainnya hendak bermain bola. Sebenarnya Ia sedikit merasa enggan untuk ikut, karena disana juga Nampak seseorang yang untuk saat ini tidak ingin ditemuinya. Tapi, ketika terlintas dalam benaknya bahwa mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya mereka melewatkan waktu bersama, Naruto segera beranjak dari tempatnya. Berlari menyongsong teman-temannya yang telah menunggu.
Semua terasa terlepas dari pundaknya ketika itu. Tawa masih terlihat dari wajahnya ketika sebuah bola tampa sengaja membentur wajah Kiba, atau ketika Lee yang terlalu bersemangat terpeleset ketika menendang bola. Bahkan Ia nyaris tidak memperhatikan seorang gadis bermanik hijau tengah memperhatikannya dari kejauhan.
Tanpa terasa hari telah menjelang sore ketika Mereka memutuskan menyudahi permainan. Dan mulai melangkah pulang kerumah masing-masing. Disana, dibelakang Naruto. Manik hijau dengan pandangan teduhnya, masih memperhatikan Naruto sekilas sebelum akhirnya sang pemilik mulai melangkah kearah yang berbeda.
"Tadaimaaa…"
Naruto memasuki rumah.
"Okaeriii…"
Sebuah suara lembut terdengar menyambutnya. Suara yang kadang terdengar sangat menyeramkan ditelinga Naruto ketika sang pemilik marah.
"Naruto, tadi ada paket utnukmu…"
Ucap Ibu Naruto ketika Ia mulai menaiki tangga.
"Paket? Dari siapa?"
"Ibu tidak tahu. Tidak ada alamat ataupun nama pengirimnya."
"Sekarang paketnya dimana?"
"Ibu taruh dimeja belajarmu."
"OK. Kaa-san, masak apa?"
"Masakan special. Sudah sana cepat mandi, nanti Kau juga akan tahu."
"Baik, Nyonya."
"Dasar, Anak nakal...!"
Naruto beranjak dari anak tangga tempatnya berdiri. Melangkah dengan sebuah tanda Tanya dalam benaknya. 'Siapa yang mengirim paket padaku?'.
Sebuah box berwarna hitam dengan dengan pola awan berwarna merah terlihat diletakkan diatas meja belajarnya ketika Naruto memasuki kamar. Setelah melemparkan tasnya keatas tempat tidur, tanpa membuang waktu, Naruto segera membuka paket misterius yang entah siapa pengirimnya itu. Sebuah surat dengan tulisan indah adalah hal pertama yang Naruto lihat ketika pembungkus paket dibuka.
"Akatsuki corporation"
"Kami telah mununggu begitu lama untuk hari ini"
"Hari ketika seorang berbakat sepertimu keluar dari sekolah"
"Naruto Uzumaki, jika Kau mau memiliki kehidupan yang baru"
"Datanglah…"
"Kami berada di Kiri City"
Naruto belum mengerti apa maksud semua ini. Dahinya berkerut ketika membaca surat yang terkesan aneh itu. Tapi, sebuah kata tentang 'kehidupan yang baru' yang tertulis pada surat itu memunculkan sedikit antusiasme dalam benaknya.
Jarinya bergerak membuka box yang kini berada dalam pangkuannya. Sebuah seragam, sebuah shotgun, Pisau dan beberapa barang lain tadapat didalamnya. Dan lagi, otak Naruto kembali berpikir keras. 'Perusahaan apa yang memberikan peralatan semacam ini pada "calon" pagawainya?'
"Naruto… Makananya sudah siap. Cepat mandi, Ayah sudah menunggumu."
"Iya, Bu."
Naruto segera membereskan box itu lalu memasukkan kekolong tempat tidur. Beranjak dari kamarnya menuju kamar mandi.
(Flasback Off)
Dan entah apa yang kini tengah menuntunnya hingga kini Ia berada dikota ini.
Suasana yang begitu berbeda dari kota kelahirannya. Suasana yang terasa sunyi. Begitu mencekam meski hari telah pagi. Langkahnya masih terus menyusuri tepian jalanan, menikmati udara pagi yang terasa segar dalam dekapnya.
Bruukkk…
Seseorang menabrak Naruto dari belakang.
"Sumimasen…"
Naruto mengangguk.
Orang itu segera melangkah dengan wajah tertunduk dan nampak terburu-buru. Naruto hanya sempat melihat sebuah kacamata dan rambutnya yang berwarna lavender. Untuk wajah, hanya sekilas. Jika bertemu lagi mungkin Naruto tidak akan lagi mengenalinya.
Tidak membuang waktu lebih lama, Naruto segera melanjutkan pencarian. Beberapa orang telah menjadi tempat Naruto bertanya, namun tidak seorang pun mengetahui tentang perusahaan yang tengah dicarinya. Apakah Ia sudah ditipu?.
Berjalan seharian mencari alamat yang entah ada atau tidaknya Naruto mulai merasakan lelah. Selama di kapal Ia belum sejenak pun beristirahat.
"Arrrgggghhhh… sepertinya Aku harus mencari penginapan dulu. Besok, Aku akan melanjutkan pencarian."
Naruto bergumam sembari mengurut pelan tengkuknya.
{Sebuah ruangan gelap}
5 kursi tertata mengelilingi sebuah meja bundar. Pada setiap kursi, duduk seorang pria dengan seorang bawahan yang berdiri dibelakangnya.
"Baiklah. Aku akan pergi menjemput anggota baru kita."
Ujar seorang pria dengan anting-anting berbentuk angka 6.
"Apa Kau yakin dengan pilihan mu itu, Itachi?"
Tanya pria lain yang Nampak memiliki phirching pada tiap jengkal wajahnya.
"Tentu. Pilihanku tidak pernah salah."
Jawab pria bernama Itachi dengan nada datar yang terdengar khas.
"Paling juga nantinya Dia akan menjadi pecundang seperti yang lain hmmm…"
Sindir seorang pria berambut kuning yang berdiri dibelakang atasannya yang Nampak masih sangat muda.
"Tutup mulut mu, Deidara!"
Tegur atasannya.
"Hmph…"
Pria bernama Itachi hanya tersenyum kecut mendengar orang yang menyindirnya ditegur oleh atasannya sendiri.
"Baik. Aku pergi dulu."
Itachi segera berdiri dari tempatnya, melangkah keluar dari ruangan gelap yang hanya di terangi satu lampu tepat diatas meja bundar tempat mereka bercengkrama diikuti pengawalnya yang memiliki wajah aneh karena mirip seekor hiu.
{Naruto}
Nafasnya mulai terdengar tidak teratur. 'Kenapa sulit sekali mencari penginapan di Kota ini?' pikirnya. Tanpa disadari, Naruto yang terus berjalan menyusuri setiap jalan yang dapat dilaluinya hingga Ia sampai di sebuah daerah kumuh.
Saat Naruto melintas dengan sebuah koper dan tas di punggungnya, banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan penuh kebahagiaan. Seperti sekawanan srigala yang tengah menemukan seekor ternak setelah perburuan panjang yang tanpa hasil.
"Hoyyy, Temera…"
Sorak seorang diantara orang-orang yang sedari tadi menatap Naruto.
Naruto menoleh. Dengan tampang bingung, Dia menunjuk kearah hidungnya seakan bertanya "Aku?"
"Ahhh yah. Kau mau kemana?"
Tanya orang itu sembari melangkah mendekati Naruto.
"Aku sedang mencari sebuah alamat, Paman. Apakah Paman bias membantuku?"
Tanya Naruto polos.
Tawa segera meluncur dari belasan mulut orang-orang yang ada disana. Naruto hanya tolah-toleh tak mengerti pada apa yang ditertawakan oleh orang-orang itu.
"Kau tahu kan, di dunia ini tidak ada yang gratis. Semua perlu uang."
Ujar orang yang tadi menghampiri Naruto sembari menggesekkan jari telunjuk dan ibu jarinya tepat didepan muka Naruto.
"Dan lagi, sekarang Kau masuk daerah kekuasaan Kami. Jadi Kau harus menyerahkan barang-barangmu. Kalau tidak.'
Selanjutnya, orang itu. Yang ternyata adalah preman yang menguasai daerah tempat Naruto melintas. Hanya memberikan kode dengan menarik tangannya melintasi leher Naruto.
"Souka. Tapi sayangnya Aku tidak memiliki apa-apa untukku berikan pada pengemis seperti kalian."
"Ha ha ha Pengemis Kau bilang. Kami adalah penguasa daerah ini. Jadi…"
Belum selesai preman itu berbicara, sebuah pisau yang nampak mengkilat terkena sinar matahari telah menyentuh kulit lehernya.
"Harusnya Kalian mencoba memilih jika ingin merampok seseorang."
Lirih ucapan Naruto namun cukup jelas untuk didengar.
"Lepaskan. Jika tidak Kami akan membunuhmu!"
"Hmph… nyawamu sudah hampir melayang masih berani mengancamku? Ayo maju, jika kalian ingin teman kalian mati!"
Entah kenapa, mereka seakan tidak mengindahkan gertakan yang dilontarkan oleh Naruto. Mereka segera menerjang kearah Naruto berada. Dengan reflek yang cukup cekatan pisau yang sedari tadi menempel pada leher preman yang mendatanginya segera ditariknya, mengiris daging pada sela tulang leher preman itu. Dan selanjutnya Naruto terpaksa menghadapi para preman yang kini tengah mengancam nyawanya.
Hujan perlahan melabuhkan tubuhnya pada permukaan bumi. Tubuh-tubuh yang tak lagi memiliki nyawa tergeletak begitu saja. Air hujan yang menggenang terlihat memerah ketika bercampur dengan darah segar yang masih mengalir dari sumbernya. Hanya sesosok tubuh yang dipenuhi luka serta bermandikan darah yang masih Nampak berdiri.
Prook… Prook… Prook…
Suara tepuk tangan terdengar diujung lorong.
Naruto menoleh kearah tepuk tangan itu berasal. Masih dengan tatapan samar karena hujan yang mengguyur seluruh wajahnya, Dia melihat, seorang pria dengan Jas berwarna hitam tengah dipayungi oleh pengawalnya.
"Aku memang tidak pernah salah memilih. Selamat dating di Kiri City, Naruto Uzumaki."
"To be Continued"
"Yooosssshhhh…"
"Akhirnya chapter 3 finish."
"oya Kicink, minta ma'af buat capter 2 yang penulisannya amburadul. Dan terima kasih buat review-nya.."
"jika masih ada yang berkenan, Review Please…!"
