12/6/2014

10:00 – 2:45 am

Title : CATATONIC (Chap 2)

Author

Cast : HunHan & KaiSoo + others

Length : Chaptered

Rate: M

Warning : Mohon siapkan RCL. Author hanya manusia biasa. Kesalahan bisa terjadi kapan saja.

Disclaimer: Aku mencintai EXO. Biasku Chanyeol. Aku menyayangi HunHan & KaiSoo dan tak berpilih. Kita semua milik Tuhan. FF ini pure hasil khayalan " " .

~~~Happy Reading~~~

CATATONIC (part 2)

Tersesat ditengah peta dunia….

Terjatuh dikeramaian…

Merasa sendiri ditengah pertunjukkan…

Dibelakangi oleh jiwa yang bernyawa…

Mungil lebih dari sebuah debu…

Serpihan barang berkas dipembuangan…

Surat tak bernama…

Tertinggal dalam pelarian…

Roboh diketinggian….

Berlari bersama seekor siput…

Terjebak dijalan lurus….

Tertawa dikesedihan…

Hancur bersama perasaan…

Menakutkan bersama bisikan…

Bawalah bersama kebahagiaan dan terbang bersama semangat…

Akulah skizofrenia…


-Seoul Hospital-

Kai melangkah memasuki ruangan rumah sakit, suhu dingin seketika menyergap permukaan kulit namja tan itu. Bau khas menyeruak kerongga hidungnya. Perpaduan bau pekat dan mint yang entah dari mana berasal. Putih, itu warna khasnya.

"heumm, Disebelah sana."

Beberapa orang sibuk dengan jam tangan mereka. Menjenguk mungkin belum dimulai saat ini. Begitupun pegawai rumah sakit berseragam putih terang, mereka terlihat sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Bahkan, untuk sekedar melirik orang yang berpapasan dengan mereka.

Berdasarkan petunjuk yang ia baca barusan, Kai terpaksa kembali ke mobilnya untuk memutar arah agar lebih cepat sampai ketujuan. Jikapun ia mau, berjalan kaki pun bisa. Ia tak mau membuang waktunya. KyungSoo tidak boleh ditinggal sendiri terlalu lama.

"Maaf Tuan, anda mau menjenguk siapa disini?" seorang perawat menyapanya tepat di gerbang bagian dalam rumah sakit. Gerbang ini spesial. Tak ada pada rumah sakit pada umumnya.

"Aku Kai, mau menjumpai Hyung-ku. Ia seorang dokter disini…."

"Ouh, Dr. Park ?, beliau tadi berpesan jika Tuan Kai datang, beliau meminta Tuan untuk menunggu sekitar setengah jam, ada pasien yang harus ia tangani…" Perawat itu tersenyum. Lalu ia mempersilahkan Kai memasuki gerbang dan memintanya mengikuti sang perawat itu untuk masuk. Kai pun mengikutinya.

-Kai Pov-

Aku membaca name tag yang mungkin seorang perawat itu. Baekhyun. Itu namanya. Sesuai dengan yang Hyung ceritakan padaku, ia mempunyai senyum yang ramah. Sepertinya Hyung mempunyai perasaan terhadap perawat ini. ia selalu menyelipkan namanya di setiap cerita. Hyung memang payah. Ia tak cukup berani untuk mengungkapkan.

"Tuan, silahkan tunggu diruang Dokter Park. Mohon maaf jika membuat Tuan menunggu…" Masih dengan senyum ramahnya ia pun undur diri.

"AAAAAAAAAAAaaaaaaaaaaaaaaaa!"

"Hey…. Kau Siapaaaaaaaaa? Apa Kau Jahat? Sama seperti Kekasih ku?"

"Pergi Jaaaaaauuuuuuuh!"

"Hush-Hush!"

"Oh Tuhaaan!, Apa ada satu orang saja?"

"Kau bohong? Dasar kuraaaaaang ajar!"

Aku terlonjak kaget, tak ada yang dapat aku lakukan saat ini, memegang bagian dada, mencoba untuk menenangkan diri. Namun aku sadar dimana aku berada saat ini. Wajar jika aku bertemu dengan orang-orang yang seperti itu.

-Kai Pov End-

Beberapa perawat mencoba menjauhkan orang-orang tersebut dari Kai. Hampir saja seseorang yang sakit jiwa itu memukul Kai. Seorang perawat meminta maaf atas kejadian ini dan meminta Kai untuk menunggu didalam ruangan.

Kai masuk keruangan Dokter yang tak lain adalah Hyung nya sendiri. Sebuah ruangan yang cukup besar. Sebuah meja kerja, dan sejumlah foto-foto yang berkenaan dengan otak manusia menyapa matanya.

"Kai, aku kira kau masih tak mau datang kemari..." Suara berat milik Hyungnya menyapa.

"Aku sudah berniat, dan aku tak kan menyerah sampai KyungSoo sembuh!." Ucap Kai dengan penuh kesungguhan.

"Eum, begitu?..., itu baru adik hyung!."Nada bahagia tak bisa disembunyikan. Terlihat barisan gigi-gigi depannya yang hampir sama lebar.

Kai tersenyum sedikit lalu terdiam. Tenggelam dalam fikirannya.

"Jadi, bagaimana? Apa rencanamu?." Satu pertanyaan lagi keluar dari dokter itu.

"Hyung, Ku mohon, seriuslah untuk hal ini!." Kai mempoutkan bibirnya lalu menatap tajam.

"Mianhae, aku hanya sangat senang melihatmu seperti ini!, Katakan dulu, apa yang ingin kau katakan?. Apapun, setidaknya ini akan membuatmu lebih tenang!." ia berucap seolah-olah tak sedang dalam masalah. Namun jujur saja, Kai merasa hatinya mencair saat ini. Hyung nya memang ahli memancing seseorang untuk berbicara. Seolah, semuanya mendesak ingin keluar secara bersamaan. Kini hatinya sesak.

"Hyung,,, apa KyungSoo bisa sembuh? Ap-aa ia bisa normal lagi layaknya orang lain?.. apa mungkin KyungSoo akan menjadi hiks.. seperti,,,, orang-orang…hiks…tadi..?.".

Entahlah. Seberapa banyaknya pertanyaan itu tak sanggup ia keluarkan. Kesedihan yang ia rasakan cukup membuatnya kebingungan. Ia menangis diakhir kalimatnya. Ia tak sanggup jika hal buruk terjadi pada KyungSoo.

"Tidak akan terjadi pada KyungSoo, KyungSoo belum terlalu akut. Ia bisa sembuh Kai. Bahkan secara Total". Dokter itu berucap meyakinkan.

"Sembuhkan KyungSoo,,,, kumohon,,, bagaimanapun caranya!." Kai begitu berharap keajaiban mendatangi rumah tangga nya saat ini.

"Anio.." Dr. Park menggeleng pelan… "Bukan aku, tapi kau Kai!... hanya kau yang bisa menyembuhkan KyungSoo". Ia mengangguk meyakinkan, tepukan sebelah tangannya dipunggung Kai seolah mengalirkan semangat di jiwa nya yang letih.

~~~~CATATONIC~~~~

-Luhan Pov-

Apa yang diimpikan seseorang tentang pernikahan. Kebahagiaan?. Omong kosong tentang semua itu!. Nyatanya, kesedihan sepertinya takkan lepas dari sekelilingku, terlebih denganku. Masalahku menumpuk seperti gunung setelah aku menjalaninya.

"Selamat ya Luhan! "

"Ini pernikahan yang sangat manis…"

"Sama dengan kalian berdua,

Seperti permen dan gula… "

Itu ucapan Baekhyun sahabatnya seminggu yang lalu.

"Lu, aku tahu kau sangat tegar… apa yang menimpamu, aku ikut bersedih, tapi bertahanlah!"

"Memang kalian di jodohkan, tapi bukan kah kalian saling mencintai?..."

"Ku mohon jangan salahkan siapapun termasuk dirimu sendiri…"

Dan itu adalah ucapan Baekhyun saat ini.

Luhan menggeleng-geleng, ia takut apa yang baru diucapkan Baekhyun tentangnya tidak benar. Ia tak setegar itu. Ia merasa tertipu dengan keadaan ini. Tidak ada satupun yang berbicara kepadanya tentang penyakit Sehun –Suaminya. Memang benar ia dijodohkan. Dikenalkan dalam waktu yang singkat. Tak bisa dipungkiri jika ia memang benar mencintai seorang Oh Sehun sejak pertama melihatnya. Ia memang tahu bahwa Sehun pendiam dan tertutup, tapi tidak dengan penyakitnya.


Flash Back~~

Aku dikenalkan dengan namja Bernama Oh Sehun. Ia tampan, baik hati dan sangat sopan. Tak ada kekurangan didirinya. Aku sungguh jatuh cinta padanya. Ia bak seorang pangeran menyerupai malaikat yang diturunkan kepadaku. Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika mengetahui Sehun memiliki perasaan yang sama denganku. Dengan senang hati kami berdua menerima perjodohan itu.

Dengan berbekal keberanian. Dalam waktu hanya tiga hari saja. Aku dan Sehun menikah. Dan itu kesalahan terbesar dalam hidupku.

'seharusnya tak secepat itu…'

'seharusnya aku mencari tahu dulu…'

'seharusnya aku mengenalnya lebih dalam…'

Sejuta kata 'seharusnya' memenuhi kepalaku. Merutuki betapa bodohnya diri. Menyesal atas apa yang dilakukan tanpa berfikir panjang.

Bukan, bukan hanya itu, keluarganya yang kaya itu. Mereka yang selalu menyalahkanku atas apa yang terjadi terhadap anaknya. 'apa salahku? Aku pun baru mengetahuinya saat ini?.'

Sungguh, saat itu aku bagaikan seorang Cinderella yang mendapatkan pangerannya. Beberapa acara kami lewati dipernikahan meriah nan mewah ini. Keluarga Oh Sehun adalah pengusaha kaya raya. Mereka menghabiskan pesta tidak hanya satu hari. Tiga hari yang melelahkan kami lewati. Tiga hari pula kami tidak menggunakan tidur sebagai istirahat.

Bagi seorang yang normal sepertiku, lelah hanya pada tubuhku. Aku tak hanya butuh istirahat. Mungkin tidur adalah jawabannya. Namun tidak dengan Oh Sehun –suamiku. Ia terlihat biasa pada awalnya dan terlihat menakutkan setelahnya.

"Aku lelah, Lu, mari kita tidur…" Ucapnya malam itu dan aku menurut.

Aku terlelap sekitar dua jam, lalu aku terbangun. Oh Sehun disampingku. Ia duduk menyender di tepi ranjang. Ia tidak tertidur. Dengan manis aku memintanya untuk tidur.

"Aku tak bisa tidur, tidur saja jika kau mau…" ucapnya.

'apa-apaan ini? seharusnya aku mendapatkan perlakuan manis darinya! Bukankah ini malam pertama?'. Kutepis fikiran jahat itu, mungkin ia butuh waktu untuk sendiri, bukan kah setiap orang mempunyai cara berbeda untuk melepas letih. Aku kembali tertidur.

Setelah terlelap cukup lama, pukul tiga pagi aku ribut berasal dari luar kamarku. Aku beranjak hendak membangunkan Sehun. Nihil. Ia tak ada. Pintu sudah terbuka. Setengah berlari aku menghampiri pintu kamar.

"Astagaa, apa yang terjadi padamu nak!". Itu suara eomma Sehun.

"Cepat bawa dia kekamar!" . Itu suara appanya.

Apa yang aku lihat saat ini?. Oh Sehun dengan mata terpejam, ia seolah tak sanggup membawa tubuhnya. Ia terhuyung-huyung berjalan. Sesekali terjatuh dan menabrak. Beruntung appanya kuat membopong Sehun menuju kamar kami.

Mereka melewatiku, tidak ada basa-basi. Mereka diam. Seolah aku patung pajangan yang berdiri didepan pintu. Aku tahu semua panik. Tapi kumohon, setidaknya mereka tahu bahwa aku sedang membutuhkan penjelasan saat ini.

"Kau tidur dikamar tamu saja malam ini." Eomma Sehun menarikku kekamar yang tak jauh dari kamar kami.

"Luhan, Sehun tak bisa terlalu lelah, seharusnya tadi kau memaksanya untuk tidur, kau ini bagaimana? Bisa-bisanya kau tak ada ketika Sehun sakit. Seperti tadi. Sudahlah percuma bicara padamu! Sementara tidur saja disini, sampai Sehun bangun. Mengerti?".

Yang benar saja! Ia mendapatkan perlakuan seperti ini. Keadaan macam apa ini? Ia bahkan tak tahu apa-apa. Ia mencoba keluar kamar. Membuka pintu. Namun gagal. Pintu terkunci dari luar, dan orang yang menguncinya adalah eomma Sehun -mertuanya sendiri.

Luhan menangis ditengah kebingungannya. Dadanya terasa sesak, ia terduduk lesu setelah beberapa kali mengetuk pintu yang sengaja tak dibuka. Sekarang bukan hanya tubuhnya yang merasa lelah. Sejuta pertanyaan berhasil membuat jiwanya lelah.

"Krek!" pintu terbuka. Terlihatlah sesosok bayangan menghampiriku.

"Lu, Kau tidur disini.." Aku duduk, lalu menggosok-gosok mataku perlahan, mencoba mempertajam penglihatanku.

"Ka-u?" ucapku gugup. Sehun dihadapanku. Sejujurnya aku terkejut. Apa yang kemarin mimpi. Aku masih belum bisa mencerna apa-apa yang terjadi.

"Ne, Oh Sehun, aku suamimu, Saranghaeyo Luhan…" Sehun mengelus pipiku lembut. Menepis semua mimpi buruk ku.

"Apa kau masih tidur?" ia mencubit hidungku sekarang. Aku tersenyum. Aku yakin itu mimpi, hanya sebuah mimpi. Buktinya sehun baik-baik saja sekarang. Tapi tidak. Kamar ini? ini bukti bahwa apa yang terjadi malam tadi adalah nyata.

"Baiklah, pangeran akan membangunkan putri tidur". Sehun mendekatkan wajahnya kearahku. Bibirnya menyentuh permukaan bibirku. Ia diam untuk sesaat. Lalu bergerak pelan mencoba menyesap dan merasakannya. Sedangkan aku, aku masih tetap dengan fikiranku sendiri.

'tidak, itu hanya mimpi buruk dan inilah kenyataannya'

Sehun melingkarkan tangannya dipinggangku, dia menarikku mempererat ciumannya walau tak berbalas. Bahkan aku tak sadar aku sudah berbaring lagi sekarang.

"Jam berapa sekarang? " aku terpaksa melepaskan tautan itu, aku butuh kejelasan.

"Jam tujuh, ini sudah malam Lu, kau bahkan tak bangun-bangun hari ini. aku tadi mencemaskanmu." Sehun baru saja mendekatkan wajahnya kearahku. Aku menoleh kekanan.

"Kenapa dikamar ini?."

"Kau ini lucu Lu, ini kamar kita…." Ucap Sehun, lalu ia tertaw kecil setelahnya.

Aku kembali membuka mataku lebar-lebar. Benar. Ini kamar kami tepat seperti apa yang Sehun ucapkan. Mimpikah? Mengapa terasa seperti nyata? Sangat nyata?.

Aku sangat ingin menanyakannya. Menurutku semuanya terasa ganjil. Seseorang pasti sudah memindahkanku saat aku tertidur pagi tadi. Tidak mungkin. Aku cukup waras untuk mengingat apa yang terjadi waktu itu.

Sehun meletakkan tanganku dipundaknya. Ia menindihku. Kembali ia menciumku. Kali ini rasanya manis. Ia melumat bibirku sedikit kasar. Gigitannya berhasil membuatku terkejut dan lidahnya berhasil masuk setelahnya. Ia mencoba menyentuh semuanya. Semua yang ada didalamnya. Rasa geli tak terhindarkan. Aku mencoba menyerang balik. Dengan sedikit perlawanan kini lidah kami saling bertarung. Dan jelas saja aku kalah karena dia mendominasi.

-Luhan Pov End-

Sehun tersenyum ketika Luhan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Luhan kehabisan oksigen. Ia sedikit merutuki dirinya yang memiliki nafas pendek.

"Aku ingin ketoilet…" Sesungguhnya ia gugup dengan tatapan Sehun. Lagipula saat ini suhu tubuhnya mendadak panas.

"Apa kau gugup?."

"Yak, aku bahkan belum mandi. Apa kau mau… err…?" Luhan tak yakin untuk meneruskan kata-katanya. Ia beranjak lalu menuju kamar mandi.

"Aku mau, sekali saja Lu, sebelum kau mandi…" Ia memohon. Ia menahan Luhan, tangannya memegang tangan Luhan saat ini.

Sungguh!, aliran apa ini? Luhan merasakan arus listrik menusuk kulitnya yang disentuh oleh Sehun. Sentruman itu mengalir keseluruh tubuhnya. Hangat menjalar hingga membuatnya gerah seketika.

"Tidak, aku bau, aku mandi dulu, ehm maksudku bagaimana jika aku menolak?." Luhan tak sungguh-sungguh. Ia juga menginginkannya. Ia hanya ingin melihat reaksi suaminya. Iseng.

"Sreettt!" Sehun menariknya. Sekarang posisi kembali seperti semula. Sehun berada diatasnya.

"S-sse-huu-n?" susah payah Luhan menanyakannya. Jantungnya ingin copot saat ini juga.

"Bagaimana jika aku memaksa?" Sehun tersenyum –serupa dengan seringaian.

Luhan menelan paksa air ludahnya. Namun tak lama ia tersenyum dan mengangguk.

Sehun kembali melumat, menghisap dan menggigit bongkahan permen tak bermerk dihadapannya. Berisik tak terhindarkan. Desahan nafas bersahutan disela ciuman panas itu. Pendingin ruangan sepertinya rusak saat ini.

Sehun membuka satu persatu kancing bajunya dengan bibir masih berpaut.

Luhan membalikkan posisi, sekarang Luhan duduk dipangkuan Sehun. Ia mencoba membuka kancing bajunya. Dan melempar baju itu kemanapun ia mau. Lalu ia kembali melepaskan bibir mereka karena lagi-lagi luhan kehabisan nafas.

Ini kesempatan Sehun, ia menjilat leher Luhan dan menggigitnya.

"Sehunn-ahh" desahan luhan tak terhindarkan.

Sehun turun. Ia menyapa nipple nya Luhan. Menjilat menghisap lalu menggigitnya rakus.

Luhan, menggigit bibirnya sendiri sambil memejamkan matanya, ia masih mencoba menahan suara nistanya. Bagaimanapun ia sekarang masih berada dirumah orang tua Oh Sehun. Bagaimana jika mereka mendengarnya.

Dan sekarang bukan hanya topless, mereka sudah full-naked. Luhan bahkan tidak tahu kapan Sehun membuka celananya. Sehun kembali menyeringai.

"Jangan gigit bibirmu, nanti bibirmu bisa terluka Lu…"

"Dasar bodoh, bahkan ia sudah pecah karena kau!" umpat Luhan.

"Mianhae…Lu,,ehg..ek"

"Aww,,,hunnie-eh ini sakit, bodoh!" sekarang panas kembali menyergap kamar tak berdosa itu. sesuatu telah merasuki bagian bawah Luhan. Ia meringis pedih. Tubuhnya seakan terbelah menjadi dua. Kupu-kupu berterbangan dikepalanya. Sesaat.

Sehun diam. Ia tak bergerak. Ia menunggu. Menunggu Luhan yang memintanya.

"Hey, sungguh ini membuatku pegal! Berhentilah main-main bodoh!" umpat Luhan.

Sehun tersenyum, ia mulai bergerak lambat namun teratur pada awalnya. Gerakan itu semakin cepat dan semakin dalam.

"neh,,,, disi..tuhhhh hhuunniiee…" Luhan merasa pandangannya mengabur sekarang.

"Ashhh…tagaaah… Lu-hh semph…itt…" Luhan mengapit miliknya.

Suasan gerah, keringat bercucuran. Sekarang Luhan yang berada diatas. Entah sudah berapa kali mereka berpindah posisi. Desahan-desahan terus terdengar. Sampai akhirnya klimaks menghampiri keduanya.

"Lu, kau memucatt…emhhhhhh!"

"Ka-u hhh jugaa…hunnaa.. aaaaaaaaaaaaaaa!"

Luhan roboh diatas tubuh suaminya. Ia lelah. Matanya terpejam. Ia mencoba mengatur nafasnya. Begitupun dengan Sehun. Ini pertama kalinya. Untuk mereka berdua.

"Gomawo Lu…" Suara Sehun memecah keheningan.

"…."

"Saranghaeyo…." Ia sedikit menunduk. Melirik wajah Luhan didadanya. Ia terpejam.

"Nado Saranghaeyo Sehun" Ucap Luhan bergetar dinada suaranya. Ia masih menahan rasa ngilu dibagian bawahnya. Sisa tenaganya.

"Aku mau mandi!" Luhan mencoba bangun menuju kamar mandi.

"Lu, aku ikut…" Lagi-lagi Sehu menahannya.

"Tidak, Kau berbahaya" Luhan menepis tangan Sehun. Ia melangkah.

"Awww" Luhan sedikit berjongkok menahan perih dan ngilu di organ intim nya.

"Sudah kubilang, aku ikut untuk membantumu, jangan fikirkan macam-macam!" oceh sehun. Ia menggedong Luhan membawanya kekamar mandi.

Next ya?

Niatnya mau dibuat terpisah versi Kaisoo-HunHan, tapi enggak tau kenapa kalo buat ff pasti pengen kedua versi. Ya udah, semoga tidak bosan sama cerita ini ya… author minta Like, kritik, sarannya, boleh kan?… semoga selanjutnya ff nya author makin bagus. Sesungguhnya, Pesan dari ff ini belum sepenuhnya tersampaikan. Kalian akan faham penyakitnya Sehun dan KyungSoo di Next Chapt…

see you :) ...