Chapter 2! Semoga kalian ngga bosen yah! hehehe, tetap semangat, baca ff gaje perdana aku!. kata yang didalem kurung itu misalnya (...) ga usah dihiraukan yah ^_^ hohoho. and last, dont forget review kalian ya!


Draco mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya dibanjiri oleh pertanyaan aneh mengenai Hermione. Bukan hanya itu, ia sungguh menyesali betapa bodohnya ia, melepaskan Hermione begitu saja tanpa meminta alamat atau nomor telepon nya. Pikiran itu selalu menggerayangi otaknya.

"aah bodohnya aku" desah Draco, memijit mijit pelipisnya. Kemudian Draco mengecek handphone yang dari tadi bersemayam di kantung belakang celananya. Terlihat nama Theo mengirimkan pesan singkat yang berisi

Hei, mate. Aku ingin kau menemaniku seminar besok, aku tak punya teman. Boleh kan sobat? Pleasee .. Aku tunggu jawabanmu ya.

Dengan segera Draco menjawab

Tidak

Pikiran Draco berkabut, ia tak bisa menerima ajakan teman baiknya tersebut. Rasanya ia ingin mematahkan nomor ponselnya supaya tak ada yang mengganggunya.

Beberapa menit kemudian balasan sms dari Theo

Oh ayolah mate, aku yakin kau pasti betah di seminar itu. Aku janji.

Draco memutar bola matanya, seakan tak percaya, bagaimana mungkin seminar kedokteran tersebut aku betah? Pikir Draco. Sementara dirinya sendiri seorang pemimpin perusahaan keluarganya. Draco terkekeh pelan, seakan pikiran yang dari tadi bergelantungan sirna.

You wish Theo. I will. Yeah

Draco tahu, Theo orangnya baik, selalu menuruti kemauan Draco setiap Draco meminta di temani bermain playstation, atau sekedar nonton bola bersama. Draco tak mau mengecewakan teman baiknya itu.

Thanks Draco, aku akan menjemputmu jam 8 pagi. Berpakailah yang sopan Draco, kau akan bertemu banyak wanita cantik disini ;)

Draco mengangkat sebelah alis matanya, seminar kedokteran? Setahu Draco disana banyak dokter-dokter senior, yang umurnya , ya kau tahulah. Apanya yang cantik dari mereka yang sudah memiliki umur lanjut? Oh Theo. Draco menggeleng kepala. Seketika Draco menjatuhkan dirinya dikasur empuknya nan nyaman. Dan terlelap

.

"DRACOOO...!" suara itu menggelegar, suara yang berani membangunkan tidur nyenyak Malfoy junior. Draco tak menggubrisnya, ia tetap melanjutkan tidurnya.

"DRACOO..! DASAR ANAK PEMALAS! BANGUN KAU, ATAU MAU AKU SETRUM KAU DENGAN ALAT SETRUM INI HAH? CEPAT BANGUN! KAU INGKAR JANJI" sergah pria itu lagi.

'Tapi.. apa yang dia ucapkan tadi? Ingkar janji? Memang aku ingkar apa?' tanya Draco, sontak ia membuka matanya.

Naas, Tak sempat menghindar, sebuah bantal guling besar menghantam kepalanya.

"APA YANG KAU LAKUKAN BODOH?" teriak Draco marah kepada orang yang berani menghantam kepalanya dengan guling

"BANGUN! CEPAT MANDI SANA! ATAU ALAT SETRUM INI AKAN MENYENTUH KULITMU YANG PUCAT ITU" teriak Theo lagi, seraya menodongkan alat setrum ikan milik Draco.

"oh Theo, jangan kasar seperti itu, ba-baik aku a-aku akan bangun" ucap Draco menenangkan diri. Akhrinya, Draco baru ingat bahwa ia punya janji untuk menemani Theo seminar.

'Tuhannn kenapa aku bisa lupa?' sesal Draco dalam hati.

.

Waktu telah menunjukkan pukul 8.45 pantas saja Theo amat marah kepada Draco. Ia terlambat 45 menit gara-gara Draco yang bangun kesiangan, tapi untunglah seminar dimulai 15 menit lagi.

"sudah mate, kau sudah tampan dengan pakaian itu" aku Theo yang menyipitkan matanya seraya menerawang detail pakaian yang dikenakan Draco, semi formal, dengan kemeja putih,lengan digulung sebatas sikut, celana bahan berwarna hitam dan sepatu hitam. Theo memang sengaja menyuruhnya memakai pakaian itu 'biar terlihat rapi', tentu saja awalnya ditentang habis-habisan oleh Draco toh akhirnya ia mau juga.

"apakah bisa aku mengganti celanaku, ini tak terlalu nyaman" pinta Draco, dengan nada memelas.

"lagi pula, aku juga bukan peserta kan? Masa aku pakai pakaian yang lebih keren daripada dokter yang ikut seminar?" goda Draco, sambil mencari cari celana yang pas untuk dipakainya di lemari.

"ayolah mate, sudah tak ada waktu lagi mencari celanamu. Sudah, biarlah orang berkata apa, aku juga tak keberatan jika orang tertipu kalau kau dokternya" kilah Theo, seraya menarik lengan kekar Draco.

.

"Apa kau yakin? Ini tempat seminarnya?" tanya Draco tak percaya tempat itu menjadi tempat seminar.

"entahlah. Setidaknya kita lebih baik memeriksanya dulu daripada duduk seperti orang bodoh di mobil" jawab Theo, mengedikkan bahunya, lalu membuka pintu mobilnya. Draco juga ikut keluar dari mobil.

Mereka berdua berjalan menelusuri koridor gedung bertingkat tujuh itu dan menghampiri seseorang resepsionis yang tengah berbicara dengan tamu-tamunya. Dengan cekatan, Theo menghampiri resepsionis cantik tersebut dan bertanya

"selamat pagi, saya mau tanya, disinikah tempat seminar kedokteran itu?"

"iya sir disini tempatnya. Tapi maaf sir, saya kurang yakin kalau anda adalah dokternya. Apakah anda hanya ingin melihat keluarga mu disini?" tanya resepsionis dengan sangat polos,ketika melihat keadaan Theo yang bisa dibilang seperti orang belum mandi. Draco hanya menahan tawanya yang siap meledak.

"dan, anda sir." Ucap resepsionis tersebut menatap Draco. Draco menghampiri resepsionis itu.

"anda ingin seminar?. Oh anda ditunggu diruangan pertemuan lantai dua. Anda bis-"

Perkataan resepsionis dipotong Theo yang tak terima dirinya tak dianggap

"maaf nona. Saya yang ingin seminar, bukan pria ini. Mohon perhatiannya." Aku Theo sambil mengeluarkan ekpresi marah yang ditahan.

Untuk kedua kalinya Draco menahan tawa. 'nah Theo, apa yang kubilang hah? Senjata makan tuan kau!' Draco menyeringai lebar.

"oke, kau tak percaya? Baik akan kubawa jas dokter dan tanda pengenalku. Puas kau hah?" kepala Theo memerah mendengar perkataan resepsionis polos itu dan berlalu menuju mobil untuk mengambil jas dan tanda pengenalnya.

Jelas, Draco ingin sekali tertawa sepuas-puasnya. Sangat ingin.

.

Beberapa menit kemudian. . .

Jleb. Jantung Draco serasa berhenti berdetak, matanya terbelalak kaget dan tawanya seketika menghilang. Ketika melihat wanita bertubuh langsing, berkaki jenjang , memakai jas dokter dan ya. Mata itu yang mengingatkan Draco padanya malam itu. Wanita itu berdiri dibelakang Draco, (hey! bagaimana Draco bisa tahu kalau ada Hermione dibelakangnya? Oh iya, Draco bisa melihatnya lewat kaca yang ada di depannya.)

"her.. her-Hermione" Draco serasa bermimpi untuk bertemu dengan gadis pujaan hatinya lagi.

"Ia begitu cantik tanpa topeng. Ya, cantik sekali. Aku sungguh tak percaya itukah kau 'Mione?" ucap Draco pelan.

"i'm sorry sir, tapi, kau daritadi tak bergerak dari situ. Apakah urusanmu sudah selesai dengan nona itu? Aku akan seminar beberapa menit lagi" tanya Hermione heran dengan pria didepannya, yang daritadi ia tunggu tak bergegas pergi.

"a-aku, Draco, mione." Aku Draco, membalikkan badan, manik kelabu dan manik hazel bertemu.

"ka-kau? A-apa yang kau la-lakukan disini?" ucap Hermione terbata-bata, tak percaya mereka bertemu (lagi).

Belum sempat Draco menjawab, Hermione berlari menjauhi Draco. Berlari seperti melihat hantu, berlari dan berlari.

Draco sudah geram dengan tingkah Hermione yang membingungkan.
Dengan cepat, Draco berlari mengejar Hermione yang malah mempercepat larinya.

"Hermione, berhenti. Ceritakan apa yang terjadi sehingga kau menjauhiku?"

Sial bagi Hermione. Ia terjebak! Ia berlari ke arah yang salah, ia menemukan jalan buntu.
Semakin dekat Draco dengannya, hanya beberapa langkah. Hermione hanya bisa menangis, tak tahu apa yang akan dilakukan, selain menangis.

"maafkan aku Hermione, a-aku tak bermaksud mengintimidasimu, a-aku tak ingin menyakitimu. Kumohon jangan menangis, kalau kau menangis, hatiku sangat sakit mendengar tangisan mu. Kumohon" pinta Draco, kemudian mengusap air mata Hermione dengan ibu jarinya. Rasa hangat menjalar dipipi Hermione, ia merasakan kehangatan menggerayangi pipinya. Draco Malfoy mengusap pipi putihnya.

"tenangkan dirimu, sekarang kita keluar dari lorong gelap ini. Kita ceritakan diluar, apa masalahnya" ajak Draco seraya mengulurkan tangannya yang disambut Hermione.

.

"Aku takut Draco, sangat takut, dengan adanya teror yang menimpaku semalam. Aku takut sekali, me-mereka meletakkan fotoku didepan pintu, mereka menusuk kepalaku difoto dengan pisau, mereka melumuri darah fleon di pisau itu, mereka meninggalkan catatan yang berisi aku harus meninggalkanmu! Aku tak tahu siapa pelakunya, namun mereka mencoba untuk membunuhku. Kumohon Draco bantu aku" jelas Hermione panjang lebar,terisak isak menceritakan kejadian itu, yang membuat Draco menganga tak percaya.

Sejurus kemudian Draco mendekap tubuh langsing Hermione dalam peluknya,membiarkan malaikat kecilnya itu tenang dalam pelukan hangat Draco.

Draco tak kuasa menahan tangis dan amarah yang membeludak sambil mengelus rambut coklat Hermione, Draco menjerit-jerit dalam hati.
'beraninya dia melukai Hermione, kalau aku tahu siapa pelakunya, akan ku bunuh dia' teriak Draco dalam hati, sambil mengepalkan tangannya sangat keras.

"Hermione, selama aku ada disampingmu, aku akan melindungimu, aku janji" ucap Draco tak henti-hentinya ia meyakinkan Hermione bahwa semua akan baik-baik saja.

Hermione menganguk angguk.

"sudah, jangan bersedih, kalau kau diteror oleh orang itu, kau tinggal telepon aku saja, nah ini nomor handphoneku" saran Draco sambil menyodorkan kartu namanya, dan direspon Hermione lagi dengan anggukkan, Hermione tak sanggup untuk berbicara lagi, hanya tangisan yang dapat menggambarkan keadaannya saat ini.

'kau, siapapun kau, yang melakukan ini, akan ku penggal kepalamu, kupajang kepalamu di salahsatu alun alun kota dan mempersilahkan semua orang memperlakukan seenaknya padamu' relung Draco dalam hati kecilnya.

"ayo jangan nangis terus, nanti cantiknya hilang loh. Hehe" ucap Draco meniru ucapan ibunya. Hermione tertawa melihat Draco yang gagal meniru ucapan ibunya.

"Nah! Seminarnya?" teriak Hermione, seketika ia melepaskan pelukan Draco, ia pun berdiri dan meninggalkan Draco

"maaf Draco, tapi aku harus pergi. Daadaa!" teriak Hermione dikejauhan, melambai-lambaikan tangannya.

Draco membalas lambaian tangan Hermione.
Draco terkekeh pelan, dan sejenak memijit mijit pelipisnya yang agak terasa pusing.
Ia harus memikirkan cara yang tepat untuk menangkap peneror itu, secepatnya.

.

Theodorre keluar dari ruangan seminarnya, memanjangkan lehernya ke atas mencari sosok seorang Draco Malfoy. Memang mudah mencari Draco, ia hanya perlu melihat diantara kerumunan orang banyak, dan melihat yang mana orang berambut pirang platina, pasti itu Draco Malfoy, teringat hanya Draco dan keluarga Malfoy lah yang memiliki warna rambut 'unik' baginya.

"Draco..! im here" seru Theo seraya melambaikan tangannya keudara.

Draco mendekati arah lambaian tangan Theo dan menarik Theo secara tiba-tiba bagaikan penculik handal. Theo terkejut dengan aksi sahabatnya itu, memaksa untuk tidak menarik tangannya begitu kuat

"hei Draco, setan apa yang berhasil memasuki tubuhmu? Aww bisakah tanganmu tak mengenggam tanganku sekencang itu hah? Tanganku sudah diasuransi 1 juta dollar kau tahu?" jelas Theo panjang lebar, Draco tak memperdulikan ocehan teman nya itu, ia terus menggiring Theo masuk kedalam mobil.

"dengar Nott, Hermione sedang dalam bahaya, kita harus melindunginya" ucap Draco dengan tatapan tajam menatap Theo yang seketika memandang Draco heran

"we-well, ini bukan urusanku" jawab Theo acuh tak acuh. Mengedikkan bahunya

Draco mengangkat alisnya sebelah, melihat tingkah laku temannya yang tak mau ambil pusing. Amarah Draco memuncak, wajahnya memerah, menatap Theo dengan pandangan kau-menolak-ajakkanku.

"BERANINYA KAU NOTT! HERMIONE SEDANG DALAM BAHAYA, SEENAKNYA SAJA KAU BILANG ITU BUKAN URUSANMU. DENGAR! HERMIONE TEMAN KITA, DIA BUTUH PERLINDUNGAN DARI KITA" bentak Draco didalam mobil, menarik kerah Theo hendak mencekik lehernya. Entah setan apa yang tengah merasuki raga Draco, membuat Theo bergidik ngeri melihat temannya yang berubah aneh setelah ia tinggalkan mengambil jas dan tanda pengenal tadi.

"tenanglah sedikit mate, kau nampaknya sangat gelisah, ada apa? Hermione? Kau mengenalnya?" kilah Theo dengan alih alih menenangkan Draco.

"entahlah Theo, aku merasakan sesuatu yang tak enak. Hermione ya, aku mengenalnya, ia baru ku kenal semalam" jawab Draco yang ekspresinya berbalik 180 derajat menjadi tenang, sepertinya setan yang memasukinya sudah keluar.

"Nah beginikan lebih baik. Oke silahkan ceritakan apa masalahnya, siapa tahu aku bisa membantu" tawar Theo dengan ucapan pelan di tiga kata terakhir.

Draco menarik nafas dalam-dalmam dan Draco menceritakan semuanya kepada Theo mulai dari ia pergi ke pesta sampai ia menyeret Theo seperti tahanan.
Theo yang mendengarkan cerita Draco bergidik ngeri, wajahnya berubah menjadi pucat.
Theo mengedip ngedipkan matanya tak percaya. Hanya anggukkan kecil yang dapat dilakukannya.

"ini semua salahku, coba saja aku tak bertemu dengannya, pasti dia tak diteror begitu." Sesal Draco sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, tanda frustasi.

"ayolah mate, kau tak usah menyesali sesuatu yang telah terjadi, lebih baik kita nongkrong di kafe dekat suburban, disana tempat yang cocok untuk merilekskan diri. Ayo" ajak Theo mengerling ke arah Draco kemudian memacu pedal gasnya pergi menuju kafe terdekat.

Suasana hening, tak ada yang berani melancarkan satu atau dua kata dari mulut sendiri. Layaknya tak berpenghuni, Draco yang daritadi gelisah menatap layar ponsel iPhone nya berulang ulang acap kali membuat Theo tak nyaman dengan tingkah aneh sahabatnya itu.
Theo memutar bola matanya, sesekali menghempaskan nafas berat,
sementara itu, Draco tak mengetahui bahwa tingkahnya di awasi temannya Theo.

"oh ayolah mate, aku daritadi melihatmu seperti cacing yang kepanasan, tak pernah berhenti bergerak, bolak balik mengukir simbol dilayar handphone mu, menutupnya dan membuka lagi. Ayolah, Hermione baik baik saja mate." Theo menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, memikirkan Draco yang seperti orang menahan kencing.

Draco tak menghiraukan perkataan Theo, ia mengulang ulang kegiatan yang menurutnya sangat penting itu. Menggigiti ujung kukunya, mengerling lagi ke arah ponsel yang daritadi tak menunjukkan adanya kehidupan.

"baiklaaah kalau begitu" seketika Theo menyambar handphone Draco dan membuangnya kebelakang bangku mobilnya hingga terselip entah kebagian mana.
Draco berteriak protes atas tingkah laku Theo, yang secara spontan membuatnya terkejut

"apa yang kau lakukan bodoh? Aku sedang mengecek saja! Kau merusak handphoneku" teriak Draco dengan nada kesal akut, mengepalkan tangan dan siap ingin meninju Theo

"setidaknya Malfoy junior punya banyak uang untuk membeli yang baru lagi" kekeh Theo dengan seringai kemenangan terpancar dari wajahnya yang malah membuat Draco muak sekali melihatnya

Draco menahan emosinya masih dengan raut muka muram, bak orang ingin buang air.
Wajah pucatnya memerah kesal, tangannya dilipat didepan dada, menunjukkan ekspresi kesal. Draco enggan membuka suara sedikitpun
Beberapa saat kemudian mereka tiba di kafe tujuan. Draco keluar dari mobil, disusul dengan Theo yang sibuk menggeledah kursi belakang mobilnya, hendak mencari cari sesuatu yang penting.
Draco dengan sabar menunggu Theo yang terlihat sibuk dengan kegiatannya.
Draco memutar bola matanya dan menatap Theo dengan tatapan apa-yang-dilakukan-bocah-ini. Seperempat menit kemudian, kepala Theo mucul dari dalam mobil dengan iringan senyum khas Theo. Mengeluarkan benda kotak ukuran segenggam tangannya dan berwarna gold, ya terlihat seperti handphone emas. Tunggu... apakah ada yang mengatakan handphone emas? Itu iPhone gold Draco. Draco baru sadar, handphonenya dibelakang mobil Theo, mata Draco terbelalak melihat Theo dengan cepat melempar handphone itu ke arah Draco, refleks Draco menangkap hanphone yang melayang beberapa meter diudara,

HAP'

Handphone seketika berada di genggaman Draco. Draco masih dalam keadaan terkejut luarbiasa, untunglah Draco menangkap handphone itu tepat sasaran, handphone itu sungguh berarti bagi Draco, terlebih lagi handphone yang ditangkapnya itu pemberian ibunya ketika ia genap berusia 23 tahun.
Draco mengumpat keras mengumpat Theo, Theo hanya membalas dengan gelak tawa, melihat ekspresi Draco yang shock.

"handphone ini mahal Nott! Gaji satu tahunmu tak cukup untuk membeli handphone ini! Sialan kau!" umpat Draco memaki-maki sahabatnya itu, sambil memutar mutar handphonenya dan tak lupa mengecek apakah ada telepon atau sms.

"sudah kubilang Draco! Malfoy junior pasti sanggup membeli beratus ratus handphone seperti itu. Kau kan kaya raya" ucap Theo dengan nada sarkastik, sesekali ia menyinggung tentang nama marga keluarga Draco.

"ayo cepat masuk kedalam, tenggorokan ku sangat kering" ajak Theo dan mereka masuk bersamaan kedalam kafe.

.

"jadi, apa rencanamu Draco? Aku pikir lebih baik kita laporkan saja kepolisi, toh selesai kan?" saran Theo singkat sekali. Seraya mengisap habis tanpa sisa kopi mocchanya.

"tak usah dulu melaporkan secepatnya, aku mau menganiaya dulu pelaku itu sebelum diringkus polisi. Beraninya bedebah itu meneror Hermione" ucap Draco mantap, sambil menyeringai licik memandang Theo yang terkejut dengan rencana kejam Draco

"tak usah gegabah begitu Draco, lagipula apa untungnya kita melindungi Hermione? Toh dia bukan siapa-siapa kita? Sebegitu pedulinya kau dengan gadis itu?" tanya Theo yang sontak membuat ekspresi Draco berubah drastis menjadi marah. Wajahnya memerah, memandang dengan sangat tajam ke Theo. Seakan Theo adalah pelaku teror itu.

"Kau tak punya hati Nott! Dia itu gadis yang mudah rapuh! Dia juga orang yang kusayangi! Aku tak mau kehilangan dia!" bentak Draco dengan penekanan disetiap kata yang terlontar dari bibir tipisnya.

Suasana hening, Theo memandang tak percaya, Draco menyukai Hermione?( 100 untuk mu Theo, ya kurasa kau benar)

Draco's POV

Sh*t! Kenapa bisa keceplosan! Mulut sialan! Kenapa kau mengatakan hal yang rahasia ke orang ini! Kata kata itu seharusnya tak terucap! Ah gila sekali kau Draco! Sangat gila!

Normal POV

Draco terdiam, sama halnya dengan Theo.
Dengan berani, Theo perlahan membuka suara, berharap Draco tak tersinggung dengan ucapan yang akan dilontarkannya.

"ka-kau menyukai Hermione? Be-benarkah itu Draco? Kurasa ka-kau bercanda kan?" tanya Theo tak percaya atas ucapan Draco barusan. Tatapannya tajam dan semakin tajam menyayat iris kelabu Draco.

"tidak Nott, aku tidak bercanda. A-aku mencintai Hermione saat pertama bertemu." Aku Draco dengan nada pasrah yang malah membuat bibir Theo tersenyum bahagia.

Tiba tiba Theo berdiri tegak, meninju tangannya keudara tanda semangat 45. Aksi Theo membuat Draco heran, makhluk ini gila' pikir Draco

"ayo mate, kita punya misi besar malam ini! Siapkan dirimu dan rencanamu! Aku siap melindungi putri cinderella milik pangeran tampan Draco. Ayo lekaslah berdiri dan melancarkan rencana jeniusmu" ajak Theo yang bersemangat sekali membantu Draco

"hei hei ta-tapi"

"baiklah, kita kerumah Hermione untuk mengumpulkan clue. Aku makin bersemangat saja, ini layaknya permainan puzzle! Ayo!" ucap Theo seraya melambaikan tangannya mengajak Draco untuk bergegas meninggalkan tempat itu.

.

"kau benar ini rumahnya Nott? Besar sekali?" tanya Draco tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Rumah mewah berlantai dua berdiri kokoh dengan cat berwarna cream di mix dengan warna putih, dikelilingi oleh taman rumput berwarna warni,tak lupa juga kolam berenang berbentuk huruf 'G' yang mengelilingi rumah itu.
Dua beton keramik marmer silinder berdiri kokoh menopang balkon dilantai dua.
Jendela jendela yang dirancang dengan ukiran paling rumit, begitu pula pintu pintunya yang bertemakan klasik, coklat brunette
'pola yang sangat rumit' gumam Draco yang berdecak kagum dengan pemandangan indah di kediaman keluarga Granger.
Bukannya Draco tak pernah melihat rumah sebegitu megah ini, jika dibandingkan rumah Draco dengan rumah Hermione, rumah Hermione tak seberapa bandingnya dengan rumah Draco, yang jelas aduhai besarnya .
Perbedaannya sangat jelas, rumah Draco bertemakan dark black atau ghotic suasana mencekam dan terkesan mistik, yang justru membuat Draco ilfeel.
Berbeda sekali dengan rumah Hermione yang super fabulous! Seperti terjun di dunia mimpi, dunia seakan berbeda, pemandangan nan permai tersemat disekitar rumah Hermione, padang rumput seakan menghipnotis siapa saja yang memandangnya.
Draco berdecak kagum dengan pemandangan indah ini. Entah berapa lama Draco berdiri tegak memasati detail yang terpasang di rumah Hermione sampai Theo yang memanggilnya tak didengarnya.

"Mate! Ya ini rumahnya, tapi setidaknya luas rumah ini hanya secuil saja dari rumah Malfoy, sudah masih menang rumahmu mate! Ini belum seberapa." Theo nyengir kuda.

.

Berulang kali Theo memencet bel tepat disamping pintu yang berdiri kokoh didepannya.
Satu .. Dua .. Tiga.. tak ada tanda tanda orang didalamnya. Dengan sabar mereka menunggu, dan akhirnya terdengar suara orang membukakan pintu.
Terlihat pria paru baya yang tinggi berperawakan tegas memakai baju kasual kaos putih celana pendek dan memasang tampang curiga terhadap Draco dan Theo.

"maaf, anda cari siapa?" mata pria itu menyipit memandang Draco, ia tak kenal sama sekali dengan orang berambut pirang platina dan bermata kelabu ini. Pria itu terus memandangi Draco, yang ia rasa berbahaya jika dibiarkan, pikirnya. Namun, untunglah Theo cepat mengalihkan perhatian pria itu dengan berdeham keras memecahkan keheningan.

"sir, anda tak ingat saya?" ucap Theo dengan menunjuk nunjuk dirinya sendiri. Tak lupa juga senyum sapanya yang (bisa kukatakan 'menawan'). Pria itu beralih pandangan menatap Theo, seketika raut mukanya berubah senang.
Senyum dibibirnya merekah bak mawar dipagi hari yang sedang merekah.

"tentu saja tidak Nott! Aku takkan melupakanmu! And sorry buddy, siapa anda?" tatapan pria itu beralih kembali ke Draco

"saya Draco sir, Draco Lucius Malfoy. Saya teman dari Theo, juga Hermione" kenal Draco mantap, menjulurkan tangannya hendak menjabat tangan pria itu. Dan kemudian disambut hangat oleh pria itu (tak lupa jua senyum hangatnya)

"oh, senang berkenalan dengan anda Dra-co. Saya Henry Granger, dad Hermione" sapa Henry dengan akrab, seakan mengenal Draco telah lama. Kemudian, Henry mempersilahkan mereka berdua masuk kedalam rumahnya. Dan pergi meninggalkan mereka untuk memanggil Hermione di dalam kamarnya.

"Henry itu dosenku Draco, dia itu dosen ilmu genetika. Jadi kalau mau men DNA atau sebagainya kau tinggal tanya dengan dad Hermione. pssttt dia juga berkerjasama dengan pihak kepolisian loh!" ujar Theo pelan pelan agar dak didengar ,telunjuknya didekatkan ke bibirnya dan direspon Draco dengan anggukan kecil.

.

"Draco.. Hei Theo.. Barusan tadi kita berjumpa? Ada apa gerangan?" tanya Hermione setelah menampakkan diri dengan berpakaian dress selutut tanpa lengan berwarna merah. Membuat Draco berdecak kagum melihat pujaan hatinya tampak begitu cantik dengan balutan kain sutra.

"Nah! Mungkin ini salah satu kebiasaan Draco, setiap kali aku menampakkan diri ia selalu melamun tak jelas. Apakah ada yang salah dari ku Nott?" tanya Hermione lagi, tetapi dengan nada penasaran.

"mungkin Draco terpanah atas pesona cantikmu 'Mione" ucap Theo dengan terkekeh pelan, Hermione tersipu malu, terlihat rona merah dipipinya yang tak lekas hilang.

"apa apaan kau Nott." Lekas Draco mengalihkan pandangan ke arah Theo, tak mau melihat Hermione.

"ya aku tahu maksud kalian kesini, kalian mau melihat surat teror itu kan? Ini suratnya aku sudah sisihkan bagian itu sedikit" ucap Hermione seraya memberikan bungkusan plastik bening, Draco langsung mencabut surat itu dari tangan Hermione dan membaca isinya

JAUHI DRACO ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU !

"tulisannya dari darah, seperti darah hmmm.. darah kucing, seperinya aku mengenal tulisan ini" telaah Draco, mengelus kertas coklat yang ia pegang, ia teringat sesuatu tentang tulisan tangan ini.

Flashback Draco.

"Drakie, kau tak memberikanku ucapan selamat atas hari jadinya kita?" ucap Astoria dengan manja, sambil bergelayutan dilengan Draco, bergelut manja didada Draco.

"singkirkan kepala busukmu dari tubuhku, Greengrass, hari jadi maksudmu eh? Bermimpilah Greengrass aku muak dengan tingkah lakumu itu" tegas Draco dengan wajah malasnya, menarik rambut hitam Astoria menjauhi tubuhnya itu.

"a-a-aww sakit, kau kejam sekali sih"

Astoria mengambil pulpen dan kertas, setelah itu ia menuliskan empat kata diatas kertas

Draco Malfoy Astoria Greengrass

"bagus tidak?" tanya Astoria dengan senyuman manjanya, menunjukkan secari kertas yang telah ia tulis ke Draco. Draco menyambar kertas itu lalu

Creeeettt... suara kertas sobek, kemudian kertas berhamburan di udara, tangan Draco menghempaskan ke udara. Seringai tipis terlihat di wajah Draco, memandang muak ke arah Astoria. Dan pergi meninggalkan Astoria sendiri dengan air mata yang terus menetes dipipi.

"berhentilah berharap yang tidak tidak denganku Greengrass! Akan kubuat hidupmu seperti kertas kertas sobek itu" teriak Draco dari kejauhan

"KAU JAHAT DRACO! KAU JAHAT!"

" AKU!, ASTORIA GREENGRASS TAK AKAN PERNAH LELAH MENGEJARMU! SAMPAI KAPAN PUN! AKU BERSUMPAH!"

.

"Draco... Draco.. are you okay? Kau tampak pucat? Draco! Sadarlah" panggilan Hermione membuat lamunan Draco terpecah.

"ah tak mungkin" ucap Draco dengan menghembuskan nafas beratnya. Memijit mijit pelipisnya

"tak mungkin apanya Draco?" tanya Theo heran, memandangi sahabatnya yang seperti orang aneh.

"ayo kita pulang Nott. Perasaanku tak enak, oh ya Hermione, kalau terjadi apa-apa hubungi aku"

Hermione mengangguk pelan menatap iris kelabu Draco yang terlihat bingung

.

"aku harus menjauhi Hermione. Aku harus" ucap Draco dengan nada lirih. 'ya aku harus, menjauhi Hermione' teguh Draco lagi dalam hati.

"whaattt...? menjauhi Hermione? Apa aku tak salah dengar? Ini rencana jenius mu? Oh tidak, aku tak setuju denganmu mate. Itu sungguh tak gentleman!" bantah Theo seketika. Menggeleng gelengkan kepalanya dengan keras.

"aku tak punya pilihan lain Nott, aku pilih jalan aman saja"

"tapi kau tak mau memperjuangkan cintamu dengan Hermione?"

"Tidak Nott! Tapi tidakkah kau lihat? Semenjak kedatanganku ke kehidupan nya ia malah diteror terus terusan, lagipula aku juga sudah dijodohkan dengan Greengrass"

"APAAA? DIJODOHKAN DENGAN GREENGRASS?" Theo terkejut, refleksnya berfungsi seketika, mobil mengerem mendadak menimbulkan hempasan gaya kedepan.

"Rumput hijau itu?" tanya Theo lagi tak percaya

Draco mengangguk-anggukkan kepalanya.


gimana? bosen kah? kuharap kalian ngga bosen! review nya yaaah :)