Chapter 3! Review please


Dua bulan kemudian . . .

"Ada kabar dari Hermione?" tanya Theo kepada Draco. Sedangkan dirinya sedang asyik melahap berondong jagung sambil menonton siaran pertandingan bola.

"tak ada. Kurasa ia sudah tenang tanpa aku" jawab Draco yang sibuk mengkalkulasi uang perusahaan ayahnya itu. Membolak balikkan kertas dibuku berwarna hitam kusam.

"ngomong ngomong, ia menitipkan ini untukmu, sudah lama sih, aku baru ingat tadi saat aku buka buku histologiku, ini" Theo memberikan amplop berwarna abu abu ke arah Draco, yang secara langsung disambar Draco.

Draco membetulkan posisi kacamatanya (jelas kuakui ia sangat tampan dengan memakai kacamata besar itu).

Draco, Tak ada lagi orang yang menerorku. Aku sangat senang akan hal itu. Yang ingin aku tanyakan mengapa kau menghilang belakangan ini? Nomormu juga tak aktif? Aku khawatir denganmu. Oh iya, Aku bermaksud mengundangmu makan malam tanggal 4 nanti, Aku tak punya teman, Theo tak mau ku ajak, teman temanku yang lain juga sudah punya teman. Maukah kau menemaniku?

-Hermione-

Creeett.. Draco merobek kertas itu menjadi berkeping keping. Theo terbelalak kaget dengan aksi Draco yang membuatnya protes keras.

"Kenapa kau robek mate? Aku belum membacanya?"

"hanya undangan makan malam. Baiklah, pakaian apa yang cocok kukenakan Nott?" tanya Draco semangat sembari mengacak acak lemarinya.

"hmmm.. itu acara makan malam yang formal Draco, kau akan berjumpa dengan dosen dosenku disana, termasuk dad dan mum Hermione, jadi kau harus memakai jas yang rapi" jelas Theo.

"dad dan mum Hermione? Ma-maksudmu ia mau memperkenalkanku dengan orang tuanya?"

"kukira begitu. Kau juga pasti dikenalkan dengan teman temannya, teman ku, teman Hermione dan juga teman orang tuanya juga"

"BAIK NOTT! Aku akan tampil ganteng maksimal" senyum sumringah terpatri di bibir Draco.

.

"sudah Draco, kau sudah tampan. Jangan kau acak lagi rambut kuningmu itu"

Pembicaraan mereka terhenti, tiba tiba seorang wanita (pasti Narcissa) berteriak memanggil Draco untuk makan malam.

"Nampaknya kita harus keluar" ajak Draco.
Theo memutar bola matanya untuk yang kesekian kalinya.

"Mum, aku pergi dulu ya dengan Theo, aku ada janji makan malam dengan seseorang, oke?" sapa Draco seraya mengedipkan sebelah matanya. Berpamitan dengan dad dan mumnya,
Draco dan Theo bergegas pergi ke restoran yang dituju.

"kenapa mengerem mendadak mate? Aww kepalaku terbentur nihhh.." Theo mengelus kepalanya yang sakit

"sebentar, tunggu sebentar" Draco keluar dari mobil kemudianberlari menuju kebun disamping rumahnya dan memetik satu tangkai bunga tulip merah

"untuk apa kau bunga merah itu mate?" tanya Theo penasaran

"untuk seorang yang spesial seperti Hermione"

.

"aku tunggu dimobil, cepatlah masuk kedalam, Hermione menunggumu di meja nomor 23" suruh Theo dengan nada memaksa.

"ingat! Jangan bebicara tentang acar!"

"oke! Doakan aku mate!" sergah Draco mantap, sembari merapikan jas abu abunya

"sip!"
'apa katanya tadi? Mate? Ia memanggilku mate? Draco Lucius Malfoy memanggilku mate? Oh tuhan, setan apa lagi yang menggerayangi tubuh Draco?' batin Theo dalam hati, ia tak percaya akhirnya Draco memanggilnya mate, sesuatu yang diluar dugaan.

"kuharap kau tak memikirkan kata terakhir yang kuucap tadi. Theodorre Nott!"
'huh margaku disebut lagi' senyum Theo merosot drastis kebawah, mengerucutkan bibirnya bak tikus curut.

.

Pandangan Draco menyapu seisi ruangan, dilihatnya banyak orang berlalu lalang, dan diantara kerumunan orang Hermione yang melambai-lambaikan tangan putihnya diudara. Seketika Draco menuju arah lambaian tangan itu dan betapa kagumnya Draco melihat Hermione begitu cantiknya, dibalut dengan dress panjang menutup tumit, berwarna unggu muda, bermotif soft flower. tanpa lengan, (pas sekali dengan warna jas Draco,kurasa).

"Draco, long time no see ya" sapa Hermione dengan wajah sumringah, tangan kanannya menyelipkan rambut yang tersisa ke belakang telinganya.

"yap, kulihat dirimu semakin cantik Hermione" senyum hangat terpancar diwajah tampan Draco, Hermione tersipu malu , rona merah terlihat jelas dikedua pipi mulusnya.

"terima kasih. kau juga Draco, kau hari ini sangat er.. tampan" balas Hermione menatap Draco malu.

"ini untukmu Hermione, bunga tulip merah kesukaanku, aku sengaja memetiknya dari kebunku. Terimalah" Draco memberikan satu kuntum bunga tulip merah yang disambut Hermione.
Hermione tersenyum seraya mencium wewangian dari kelopak bunga merah itu.

"terima kasih" Hermione tersenyum manis menatap Draco. Senyuman yang membuat siapa saja dapat meleleh melihatnya termasuk Draco

Draco's POV

APAAA? Hermione memujiku? Demi neptunus, baru kali ini aku mendengar Hermione mengatakan aku tampan dari bibirnya sendiri. Rasanya aku mau pingsan, oh tidak, itu berlebihan. Benarkah ini? Ia memujiku? Apa ini pertanda baik?. Oohh lihatlah senyum indahnya, dia begituuu... cantik...

Hermione's POV

Draco, bilang aku cantik? OH MY GOD! Draco aku tersipu malu atas pesona yang kau hamburkan! Sungguh jika bisa, aku tak ingin pertemuan ini berakhir. Sepertinya a-aku err.. ah sudah lupakan

Normal POV

Setelah beberapa menit mereka bertatap pandangan, akhirnya Hermione mengajak Draco berkenalan dengan orang tuanya yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Orang tua Hermione tak kalah eloknya berpakaian, membuat siapapun orang berdecak kagum atas pesona kedua orang itu. 'Pasangan serasi' gumam Draco dalam hati.

"hei Draco, long time no see ya." Sapa dad Hermione yang untungnya masih ingat dengan wajah runcing Draco.
Draco menampilkan senyum andalannya.

"yes sir. How are you?" jawab Draco sok akrab. (the power of keakraban itu penting!, apalagi dengan calon mertua. Hohoo)

"baik Draco, nah kenalkan wanita cantik disampingku, namanya Caroline, Caroline Granger, mum Hermione" kenal dad Hermione. Dengan wajah tak kalah senang, mum Hermione tersenyum hangat ke Draco

"saya Draco mam. Draco Lucius Malfoy, teman Hermione" (senyum andalan Draco dimunculin lagi)

"nice to meet you mr. Malfoy"

Mereka berempat bercerita panjang lebar, tak ada kecanggungan diantara mereka, Draco dengan seriusnya menceritakan perusahaan yang tengah dipimpinnya, acap kali membuat keluarga Granger berdecak kagum terhadap Draco, dan begitupula dengan keluarga Granger yang antusiasnya bercerita tentang masalah kesehatan.
Draco mendengarkan dengan serius, tak lupa juga ia tak menyinggung masalah acar disela sela pembicaraan karena sudah diingatkan Theo dari awal kalau dad Hermione paling anti dengan namanya acar. Bagi Draco, apa yang salah dari acar? Cuma makanan pendamping terbuat dari timun dan wortel. Sebegitu anti kah?.

"pacarmu tampan juga 'Mione" bisik mum Hermione pelan, sambil memegang gelas wine di tangan kanannya. Nampaknya mum Hermione juga terpaku dengan pesona seorang Draco Malfoy.

"mum, dia temanku, bukan pacarku" bantah Hermione sangat pelan, Hermione memutar bola matanya.

Pembicaraan selesai, berikutnya Hermione memperkenalkan Draco ke teman teman satu angkatannya, tak jarang pula pujian terlontarkan untuk Draco dari bibir-bibir teman wanita Hermione. Sebenarnya Hermione merasa ilfeel dengan sahabat-sahabatnya itu,karena mereka tak memperdulikan kehadiran Hermione disamping Draco, toh Draco saja yang diajak bicara oleh teman teman Hermione.

"Pacarmu sangat tampan Hermy, kau sungguh beruntung memiliki Draco. Coba saja aku tak keduluan olehmu, pasti aku ..." ucapan Luna Lovegood terputus lantaran Susan Bones (yang juga teman Hermione) menyenggol lengan Luna.

"oh maaf Luna, ia temanku, bukan pacarku" jawab Hermione suaranya agak gemetar.

"wah masih punya kesempatan dong" Luna sumringah mendengar Hermione berkata demikian. Tawa khas Luna terdengar jelas. Pandangan Hermione melekat telak dimata biru Luna.

"haha. Tak mungkinlah Hermy aku merebut Draco darimu, aku tak menggangu kalian kok" Luna mengedipkan matanya sebelah dan mengeluarkan jari V nya di hadapan Hermione.

.

Nothing's gonna change my love for you

You ought to know by now how much i love you

One thing you can be sure of

I'll never ask for more than your love

"Hermione, do you hear this song? Ayo kita berdansa" ajak Draco setelah mendengar lagu kesukaannya berkumandang.

Draco menarik lengan Hermione ke lantai dansa, langkah anggun Hermione dan langkah gagah Draco mereka berdua membuat seluruh mata tertuju kepada mereka berdua. (pasangan serasi.. eeh?)

Tangan kanan Draco menggenggam erat tangan kanan Hermione seperti tak mau melepaskan gadis yang dikasihinya itu. Begitu pula Tangan kiri Draco merangkul pinggang Hermione. Tangan kiri Hermione menggantung di pundak kiri Draco. Entah Draco belajar darimana gerakan dansa yang bisa dikatakan sempurna itu, setahu Draco ia pernah menginjak kaki ibunya pada saat dansanya dulu. (memang the power of love itu bisa mengajarkan kita sesuatu yang diluar dugaan kita).

Gerakan slow mereka beralih kegerakan cepat, lagu Nicole Scherzinger – Wet diputar, Draco dan Hermione dengan lincahnya menggerakkan badan, berjoget ala ala mereka sendiri, namun terlihat indah. Tak luput juga ratusan pasang mata menonton mereka dengan perasaan kagum.
Pria tampan dan wanita cantik dengan indahnya berjoget tanpa kesalahan sedikitpun.

"you feel happier Mione?" tanya Draco sambil memutar badan Hermione

"yap. With you"

"Hermione, i just wanna say, that i –i " ucap Draco lirih, ia belum sanggup menyatakan cinta ke Hermione, rasanya baru kemarin ia berkenalan dengan Hermione, tak pantas jika ia mengatakan sekarang. Buru buru Draco menarik ucapannya barusan dan berpura pura tak ingat

"apa yang ingin kau katakan Draco?"

"ti-tidak. A-aku tak mengatakan apa apa" balas Draco menggigit bibir bawahnya.

"katakan saja, sebelum semuanya terlambat Draco" ucap Hermione berbisik ketelinga Draco, nafas Hermione sangat terasa sekali di leher Draco yang membuat Draco gemetar.
Draco mengangguk pelan.

Tak diketahui oleh mereka berdua, sosok bayangan berpakaian hitam sedang menonton kemesraan mereka. Sepertinya orang itu tak senang dengan pasangan romantis itu.

Seketika bayangan orang itu menghilang entah kemana, menuju ke sesuatu tempat yang tak diketahui. Anehnya tak satupun orang yang melihatnya, bak penampakan hantu dimalam hari.

.

"dansamu bagus Draco." Puji Hermionedipenghujung acara dan dibalas Draco dengan senyuman termanis yang ia miliki.

"mauku antar pulang?" ajak Draco

"Oh iya aku lupa ada mr dan Mss Granger disini"

"mum dan dad beberapa menit yang lalu bergegas pergi kebandara Draco, mereka ada urusan di Washington DC untuk beberapa minggu"

"oh, kalau begitu aku boleh mengantarmu?"

"baiklah. Kau boleh. and then.. bolehkah aku meminta nomormu yang baru?" pinta Hermione seraya memberikan ponselnya berwarna hijau. Draco menyambutnya, dan mengetik nomornya di ponsel Hermione.

BEEP BEEP. Handphone emas Draco bergetar. Dilihatnya ada apa gerangan di handphonenya, ternyata Theo mengirim pesan yang isinya

Draco, aku pulang duluan. Lagipula ferarri mu ini tak muat membawa tiga orang, termasuk Hermione. Okay? Semoga harimu menyenangkan

"hahaha ada ada saja kau Nott, sangat perhatian" gumam Draco cekikikkan sendiri.

.

"jadi apa yang ingin kau bicarakan tadi Draco?" tanya Hermione dimobil ferarri Draco

"hah? Ta-tak ada. Tak ada yang ingin kubicarakan" jawab Draco gugup.

"are you sure? Kentara sekali Draco dari matamu, ada suatu hal yang ingin kau katakan, katakanlah, dengan senang hati aku kan mendengarnya"

"tak ada Hermione."

"baiklah kalau begitu. Kusarankan, katakanlah sesuatu yang akan kau katakan sebelum semuanya terlambat " ucap Hermione, mendongakkan kepalanya kearah Draco. (lagi lagi) iris kelabu dan iris coklat itu bertatap langsung.
Senyum indah Hermione disunggingkan begitu menawan. Draco terpanah dengan tatapan sendu itu. Membuatnya tak mau beralih pandang lagi.

.

45 menit kemudian Tibalah Draco dan Hermione didepan gerbang rumah Hermione, yang tertutup 'sangat rapat. Ferarri merah metaliknya memasuki halaman rumah Hermione yang tak kalah luasnya dari halaman rumah Malfoy. Persis didepan pintu rumah Hermione, Draco mengantar.

"mau mampir dulu Draco?" tawar Hermione

"tak usah. Sekarang sudah larut malam, aku ingin kau istirahat."

"baiklah. Hati hati dijalan ya" Hermione melambaikan tangannya, Draco lekas pergi membawa ferarrinya pergi.
(lagi lagi) entah kenapa otot zgomaticus Hermione sangat bersemangat untuk beraksi, senyum manisnya terukis kembali diwajahnya.
Mengingat moment terindah bersama Draco tadi rasanya ia ingin memeluk tiang didepan rumahnya. 'Alangkah beruntungnya aku hari ini' teriak Hermione dalam hati.
Lekas Hermione memasuki rumahnya.

.

Sementara itu Draco dengan bahagianya ia mengingat ingat semua yang telah ia lakukan bersama Hermione tadi. Sesekali ia tertawa sendiri mengingat kejadian tadi.
Beginilah jika orang sudah terkena panah dewa amor, mereka akan menjadi gila. Sama persis seperti Draco. Tersenyum dan tertawa sendiri.

Entah berapa lama ia larut dalam pikirannya, sampai-sampai ia tak sadar jika daritadi ponselnya berdering berulang kali.
Draco tersadar. Dan segera mengangkat panggilan masuk yang nomornya tak diketahui.

"DRACOO..! TO-TOLONG AKU.. AAAAA" terdengar suara wanita yang familiar di teliinga Draco, suaranya tak terdengar jelas, putus putus.
HERMIONE!(kamera di shoot dari kejauhan 50 meter langsung ke muka Draco) Mata Draco menjelit lebar. Hermione dalam bahaya!

"HERMIONE! HERMIONE ! KAU BAIK BAIK SAJA? HERMIONE DENGAR AKU? HERMIONEEEE!" teriak Draco, kekhawatiran Draco bertambah parah saat telepon terputus

Dengan refleks spontan Draco memutar mobilnya 180 derajat berbalik berlawanan arah, asap kepulan dari ban mobil Draco mengudara, bau sengit yang digesekkan terasa sekali.

Draco memang handal nge-drag seperti itu, apalagi dijalanan yang licin, baginya nge-drag itu hal yang sangat mudah, semudah kau memutar sendokmu berlawanan arah.

Setelah memutar arah, pedal gas Draco injak dalam dalam, ngebut bukan hal yang sulit bagi Draco, ia sudah biasa ngebut diatas 140km/jam tanpa menyenggol mobil sedikit pun. Memang sudah keahlian seorang Draco Malfoy dalam urusan kebut kebutan, beberapa balapan liar ia menangi, tak ayal Draco memodifikasi mobilnya dengan tambahan nose turbo.

Pikiran Draco kalang kabut, kekhawatiran kian membanjiri perasaannya,
apa yang terjadi dengan Hermione? Apakah dia diteror lagi? Demi neptunus, tak ada maaf untuk orang yang meneror itu. Draco memukul steer mobilnya dengan keras.

.

"HERMIONE! DIMANA KAU?" teriak Draco setelah mendobrak paksa pintu rumah Hermione, tak ada tanda tanda Hermione disini. Draco semakin bingung,
menelusuri setiap ruangan yang ia jumpai namun tak ada Hermione.

Sampailah Draco di balkon rumah. Suara tangisan Hermione terdengar jelas.
Seketika Draco mendekati Hermione yang sangat ketakutan.

JLEB! Draco terbelalak kaget ketika melihat
Seseorang telah siap mengacungkan pisau kearah Hermione, hendak membunuh.
untunglah Posisi Orang itu membelakangi Draco, sehingga tak mengetahui kehadiran Draco dibelakangnya.

Tanpa pikir panjang, Draco langsung membekap orang itu dan membawanya pergi menjauhi Hermione.
Pisau masih dalam genggaman orang itu.
Duel sengit terjadi diantara mereka,
Draco melawan dengan tangan kosong sedangkan orang itu melawan dengan pisau bermata tajam.

Orang itu masih dalam bekapan Draco, yang hendak mencekik.
Namun naas bagi Draco, tangannya seketika terlepas lantaran orang itu menyayat kulit tangan Draco.

Perlawanan peneror itu jauh lebih agresif, seketika peneror itu berbalik badan dan

Terdengar suara gesekan antara benda tajam pisau dengan kulit Draco

Orang itu menusuk dada kiri Draco!

Seluruh mata Pisau tertancap sempurna, tepat dijantung Draco

Darah segar mengalir deras dari luka tusukan di dada kiri Draco.
Membuat Draco jatuh tumbang, bersimbah darah.

Sementara itu, orang yang tega menusuk Draco melarikan diri entah kemana.

Setelah Melihat Draco yang terkapar tak berdaya, Hermione berteriak kencang dan berlari menghampiri Draco.

"DRACOOO!.. Bertahanlah! Aku mohon! Bertahanlah!" ucap Hermione gelisah, sambil terus-terusan berusaha menghentikan pendarahan hebat di dada kiri Draco.
Draco terbatuk-batuk.

"tuhan.. kumohon Draco! Bertahanlah" isak tangis Hermione pecah seketika setelah memandangi lelakinya sedang menahan rasa sakit yang sangat hebat

Dengan tenaganya yang tersisa, Draco mengacungkan telujuk kirinya yang berdarah ke bibir Hermione. Dan tersenyum menahan sakit.

Draco tahu hidupnya pasti tak lama lagi, oleh karena itu ia tak mau mati penasaran, karena ia belum menyatakan perasaannya ke Hermione.

'katakanlah sesuatu yang akan kau katakan sebelum semuanya terlambat'. Ucapan Hermione beberapa waktu yang lalu terlintas di benak Draco.

"hermy – he- hermyone.." ucap Draco terbatah batah, menahan sakit yang amat luarbiasa di dadanya.
Hermione menangis sejadi-jadinya memandangi mata kelabu milik Draco yang berusaha menyembunyikan rasa sakit

"ya Draco. " jawab Hermione masih dengan tangisannya

"a-aku hanya i-ingin mengatakan, a-aku mencintaimu" nafas Draco terengah engah mengatakan kata itu. Sungguh sulit, disaat terakhir ini mengucap 3 kata itu. Sangat sulit.

Di pandangnya lah setiap detail wajah Hermione oleh Draco.
'pandanganku yang terakhir kalinya padamu Mione'lirih Draco dalam hati.
manik hazel itu, tak hentinya mengalirkan kristal bening.
'jangan bersedih mione, aku tak akan meninggalkanmu, aku akan terus berada dihatimu, walaupun ragaku tak bersamamu lagi, namun jiwaku akan selalu berada dihatimu' lirih Draco dalam hatinya.

Pandangan Draco kabur, dan ia tak dapat melihat apapun selain mendengar tangisan Hermione, memanggil-manggil namanya. Setelah itu ia tak ingat lagi ...

"Dracooo... bangun Draco! Aku belum menjawab mu, Dracooo! Kumohon!"

" Aku juga mencintaimu Draco.. kumohon kau bangun!" teriak Hermione sambil menundukkan kepalanya, ia jatuh dalam dekapan Draco. Hemione tertidur, Semakin lama semakin lelap dalam dekapan Draco.


Mau tahu kelanjutannya? Lets go to chapter 4! Tinggalin dulu reviewnyaaa