Chapter 4! Reviewnya please ^_^
Hermione sedang asyik memandang hamparan padang bunga dihadapannya, menghambur luas, tak terhitung jumlahnya.
Menciumi semerbak aroma khas bunga bermekaran.
merasakan Embun pagi membasahi permukaan warna warni kelopak bunga nan indah itu.
melihat Kupu-kupu dengan indahnya menari nari.
Tak lupa juga lebah lebah tengah sibuk dengan kegiatannya mencari madu.
Burung-burung bernyanyi dengan sangat merdu.
Hermione duduk sendiri diatas batang pohon tumbang menikmati pemandangan yang tak pernah ia jumpai sebelumnya
"sungguh indah" ucap Hermione tersenyum sambil mengelus kelopak bunga tulip merah yang ia pegang.
"ya, sangat indah" suara lelaki terdengar jelas dibelakang Hermione. Dengan cepat Hermione menoleh ke asal suara.
Demi tuhan! Itukah dia?
Lelaki yang memakai jas putih itu..
Draco Malfoy?
Mulut Hermione menganga tak percaya,
manik hazelnya memandangi tubuh Draco Malfoy yang gagah berdiri,
tak ada sesuatupun yang terluka,
lecet atau sayatan dikulitnya, semuanya hilang.
Sangat mulus, tak terlihat sama sekali.
Sementara itu, Draco tersenyum manis memandangi Hermione yang terdiam membisu menatap pandangan tak percaya.
Sejurus kemudian Draco mendekati Hermione dan duduk disamping Hermione
"dra-Draco? Ka-kau ma-masih hidup?" tanya Hermione tak percaya atas pemandangan aneh yang ia lihat.
"seperti yang kau tahu 'Mione, aku tak mungkin kembali lagi dan bersemayam di tubuhku yang rusak itu, aku sudah mati." jawab Draco dengan tawa tipisnya. Matanya memandang lekat ke manik hazel milik Hermione
"a-apa kau bilang? Tidak! kau masih hidup Draco! Percayalah padaku! Kau masih hidup. Kumohon kembalilah" pinta Hermione hampir menangis.
Draco tersenyum kembali. Memandang sangat lekat iris coklat madu Hermione. Dan berkata
"aku akan terus bersamamu disini" ucap Draco seraya menunjuk dada tengahnya
"tapi aku mencintaimu Draco"
"aku juga mencintaimu Mione"
" apapun yang terjadi kau harus tegar, jangan menangis! Ingatlah aku selalu ada dihatimu" ungkap Draco, mengelus pipi mulus Hermione.
Seketika Draco menghilang berhamburan bak debu yang tertiup angin.
Hermione terbelalak kaget.
Kemana lagi Draco pergi?
"DRACOOOOO...!"
.
"Mione kau sadar! Syukurlah" terlihat wanita bersurai platina mirip surai milik Draco, dipandangilah wanita itu dalam dalam, wajahnya mirip Draco.
"dimana aku? Draco? Draco dimana?" tanya Hermione dengan linglung, seperti orang baru bangun tidur panjang.
"tenangkan dirimu nak! Kau ada dirumah sakit, da- dan Draco sedang di ruang operasi, kau ditemukan tergeletak tak berdaya bersama Draco" jelas wanita itu menahan isak tangis yang siap pecah.
"a-aku harus menemuinya mam." Hermione bergegas hendak turun dari ranjang rumah sakit dan terlebih dahulu ditahan wanita itu.
"Draco sedang ditangani oleh dokter bedah, biarkanlah mereka menyelamatkan nyawa Draco, mione, kumohon" pinta wanita itu, akhirnya pelupuk matanya tak kuat membendung air mata, isak tangis pecah.
"ingin kuputar ulang waktu ini, rasanya terlalu cepat, Draco anakku satu-satunya, tak dapat mum membantumu Draco, mum minta maaf" wanita itu ternyata ibu Draco Malfoy, terlihat kesedihannya yang begitu menyayat hati.
Membuat Hermione hendak meneteskan airmata, namun ia tahan karena ia ingat pesan dimimpinya 'apapun yang terjadi kau harus tegar, jangan menangis! Ingatlah aku selalu ada dihatimu'.
"mum!" panggil Hermione, kata itu langsung saja melesat keluar dari mulutnya.
"Draco ingin apapun yang terjadi mum harus tegar, jangan menangis! Ingatlah Draco selalu ada dihatimu mum" ucap Hermione lirih.
Narcissa tumbang dalam pelukan Hermione, air mata menggenangi pipi keriputnya, mendengar perkataan Hermione barusan..
Hermione Mencoba mengingat kenangan tiga jam yang lalu,
'begitu cepat kau meninggalkanku Draco, aku tak percaya, kau laksana malaikat penolongku yang sengaja diturunkan untuk menyelamatkanku.'
Senyummu, tawamu, candamu, tatapanmu, semuanya yang telah kulihat darimu, begitu cepat.
Jika ada 5 menit sebelum kau pergi, akan kuberi satu pelukan terakhir, pelukan erat di bawah senyum lebarmu,
akan ku beritahu kau, bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu, bahkan walaupun untuk sesaat,
aku akan mengecup pipimu mengambil tanganmu dan berkata,
'jangan pergi.'
Hermione membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya. Air mata tak terlihat setitikpun, berusaha tegar dan tegar, berharap ada suatu keajaiban yang diturunkan untuk malaikat pelindungnya itu.
Begitu pula dengan Narcissa, isak tangis berlanjut lanjut tak berhenti, gumaman aneh terucap dari bibir wanita paruh baya itu, berharap semua akan baik baik saja.
"ini musibah 'Mione, aku harap semua akan baik baik saja."ucap Oliver Wood tengah berdiri di ambang pintu. Tak kalah ekspresinya sedih juga
"ini semua salahku, aku yang memulainya, Draco tak mungkin kerumahku kalau aku tak meneleponnya. Aku memang bodoh! Wanita tak tahu diri, wanita pengecut" betak Hermione dalam dirinya sendiri memukul-mukul kepalanya sendiri, yang kemudian secara tiba-tiba dihentikan Narcissa, (lagi lagi) Hermione tumbang dalam pelukan Narcissa.
"semua itu dilakukan Draco karena ia menyayangimu, Hermione. Aku tak tahu kalau saking cintanya ia terhadapmu, ia rela berkorban nyawa untukmu. Jangan kausesali 'Mione, itu akan menambah bebanmu" tambah Theo yang berada di samping Hermione
"Draco sedang ditangani oleh ahlinya, lebih baik kita berdoa" bisik Luna Lovegood di telinga kiri Hermione.
Hanya anggukan kecil terbesit dipikiran Hermione.
Semakin larut dengan keadaan haru biru.
"orang tuamu sudah ditelepon, mereka dalam perjalanan pulang. Mereka barusan tiba di Washington, dan pulang lagi setelah mendengar keadaan Hermione dan Draco" ucap Cho Chang sahabat akrab Hermione.
.
Beberapa jam kemudian.. . .
"pisau yang tertancap syukurlah sudah dicabut. Beruntung mata pisau tidak mengenai jantung Draco, hanya tipis beberapa inci saja. harus kuakui Draco anak yang kuat, meskipun pertolongannya sangat lambat, namun ia masih tetap bertahan. Hanya saja ia mengalami pendarahan hebat, dan beruntungnya lagi masih dapat tertolong."
"dan juga Keadaan Draco belum stabil, beberapa jam setelah operasi pengangkatan pisau, ia belum sadar. Belum kami pastikan, tapi nampaknya Draco koma" jelas dokter yang berada di ruangannya. Lucius, Narcissa, Hermione, Theo, Luna dan Cho menarik nafas lega, sekian lama menunggu operasi yang panjang membuahkan hasil, namun kebahagiaan itu bertengger sangat cepat, mereka menghela nafas berat, Draco masih harus berjuang hidup atau mati, ya, dia mengalami tidur yang panjang. Draco koma..
"keluarga juga bisa menjenguknya sekarang, but not make noise please" tambah dokter itu lagi
Seketika penghuni dalam ruangan itu (kecuali dokter) menghambur keluar ruangan dan bergegas ke ruangan tempat Draco dirawat.
.
BLUB!
Air mata Hermione berhasil melarikan diri dari pelupuk matanya. Saat melihat Draco terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Tak ingin ketahuan, ia mencoba dan mencoba untuk menahan kesedihan yang ada. Ingin rasanya Hermione memeluk erat Draco saat ini, namun apa daya , tubuh Draco sangat rentan untuk dipegang.
Perlahan Hermione mendekatkan wajahnya ke wajah Draco, dipandangnya lah wajah runcing nan pucat milik Draco, tak ada manik kelabu yang setia memandangi manik hazel milik nya. Semua tertutup, seakan tak ingin melihat dunia.
Hermione mengelus pipi pucat Draco, dengan lembut.
Dingin, ya sangat dingin, melebihi suhu ruangan disini.
Hermione tersenyum, bersyukur karena ia masih dapat melihat belahan jiwanya bernafas, walaupun tak bergerak sedikitpun.
"a-aku disini Draco, percayalah, aku akan selalu disisimu" bisik Hermione sangat pelan, kristal bening milik Hermione jatuh tepat di pelupuk mata Draco, yang membuat Draco terlihat sedang menangis. Sangat hati-hati Hermione menghapus air matanya itu, tak mau menyakiti Draco. (sekali lagi) Hermione tersenyum, walaupun hatinya tengah menjerit-jerit pedih.
"Drakieeeee poooo ku! Oh tuhann, mengapa bisa begini hah? Minggir kau wanita jalang, beraninya kau menyentuh Drakiee poo ku, dasar tak tahu diri" teriak Astoria secara tiba tiba, dan langsung mendorong kencang Hermione menjauhi Draco. Badan Hermione terhempas ke dinding. Yang membuatnya sakit di dadanya.
"Drakiee? Bangun Drakiee, aku disini , buka matamu, oh tuhan semua ini gara gara kau! Wanita tak tau diuntung" sergah Astoria seraya menunjuk nunjuk Hermione yang sedang menahan sakit.
JLEB!
Pandangan Hermione tertuju di bawah pergelangan tangan Astoria yang nampaknya sangat ia ingat, sebuah luka tusukan benda tajam. Seketika Hermione mengingat ingat kejadian beberapa jam yang lalu, saat ia melawan peneror itu, ia berlari sekencangnya menuju dapur, dan menemukan garpu tajam dari bawah meja tempat ia bersembunyi. Saat peneror itu tengah melihat Hermione bersembunyi dibawah meja, dengan cepat peneror itu menarik kerah baju Hermione dan menyeretnya beberapa meter menjauhi dapur. Dengan gerak refleks, Hermione menancapkan ucung runcing garpu itu tepat dibawah pergelangan tangan peneror itu. Seketika peneror itu melepaskan cengkramannya dan berlari mengejar Hermione yang telah melarikan diri menuju balkon rumah.
"Astoria! Hentikan! Kau bisa membunuhnya" segak Theo ketika melihat Astoria menggucang tubuh Draco.
Lamunan Hermione terputus mendengar teriakan Theo barusan. Dan mengerling ke arah Astoria.
"maaf nona, kurasa aku harus bicara dengan anda, kumohon bukan diruangan ini"ajak Hermione seraya menggenggam sangat kencang lengan Astoria dan menariknya kuat.
.
"Katakan yang sejujurnya darimana kau sebelum pergi ke tempat ini HAH?" bentak Hermione dengan pertanyaan mendadak yang ia lontarkan ke Astoria. Kedua tangan Hermione mendorong kencang pundak Astoria sampai menyentuh dinding. Tatapan sangat tajam Hermione berikan ke Astoria yang memandang cemas.
"apa urusanmu hah? Enyahkan tangan busukmu itu dari tubuhku, wanita jalang! Sudah cukup kau buat Drakie Poo ku tak sadarkan diri dan beraninya kau mendorongku" Astoria membalas dengan ucapan pedas dari lidahnya. Astoria tak berkutik, ia tak memiliki banyak tenaga untuk menyingkirkan Hermione di hadapannya. Hermione tersulut emosi yang luar biasa.
"KATAKAN KAU PELAKUNYA! KAU YANG HAMPIR MEMBUNUH DRACO! KAU PENEROR YANG SELAMA INI MENERORKU! KATAKAN APA MAUMU? WANITA JAHAT!" Deg deg deg! Jantung Astoria serasa berhenti bekerja saat mendengar bentakkan kasar Hermione, tatapan Hermione berubah menjadi tatapan iblis, melotot sangat tajam kearah Astoria yang menunjukkan ekspresi cemas.
"Ap-apa apaan kau hah? Menuduh sembarang orang, kau bisa saja kulaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik! Dan kau akan mendekam dipenjara sampai membusuk! Catat itu jalang!"
Hermione menyeringai licik. Secara tiba-tiba ia menarik lengan kiri Astoria dan membalikkan paksa ke belakang pergelangan tangan asoria, menunjukkan luka tusuk cukup dalam dibagian urat nadi.
"Apakah ini bukti yang cukup kuat hah? Kurasa aku harus menunggu waktu yang tepat untuk membalikkan ucapanmu barusan!"
"Wanita gila! Tarik ucapanmu barusan! Kau tak punya bukti kuat! Aku bukan pembunuh Draco! Camkan itu!" teriak Astoria sontak membuat Lucius dan Narcissa mendengarnya.
"apa yang barusan dikatakan Mss Granger barusan Astoria?" tanya Lucius dengan dingin. Hermione menurunkan cengkraman tangannya
"Dia menuduhku kalau aku pelakunya, dad!" jawab Astoria.
"well, menuduh orang sembarangan tanpa bukti itu tindakan yang sangat tidak terpuji Mss Granger, apalagi menuduh calon menantuku" senyum kemenangan berkobar dibibir Astoria.
"akan aku buktikan sendiri sir! Betapa buruknya perangai wanita in..."
"CUKUPPPPPP...! PERGI KAU MSS GRANGER, PERGI KAU! AKU MUAK MENDENGAR UCAPAN TAK TAHU KEBENARANNYA ITU, JAUHI DRACO JAUHI ANNAKKU SEKARANG JUGA! PERGI KAU! CEPATT!" bentak Lucius tak tahan dengan ucapan Hermione. Dengan segap, Hermione pergi meniggalkan mereka dengan sakit hati yang mendalam.
.
Darah Draco berlumuran dilantai kamar Hermione, membangkitkan kenangan terburuk dihidup Hermione, hanya dengan melihat darah Draco.
Dengan isakan tangis ia mengambil lap basah dan perlahan mengelap lantai kamarnya itu.
Bau amis menusuk rongga hidung Hermione, untungnya pengalamannya 9 tahun dalam bidang kedokteran membuatnya tahan dengan segala bau aneh termasuk darah.
"kau bodoh Draco, kau sungguh bodoh, menaruhkan nyawamu demi aku, biarkan saja aku yang dibunuh! Nyawaku sungguh tak berharga dari nyawamu." Hermione berbicara kesal dengan tindakan bodoh Draco, jika saja ia tak datang ia bahkan masih selamat sampai sekarang.
Tapi yaaah, ini semua salah Hermione, mengapa ia terlalu gegabah menelepon Draco. Karena memang sudah tahu bahwa Draco itu orangnya protektif, ia tak mau terjadi apapun pada orang yang dikasihinya.
Hermione tertunduk lesu, memandangi darah yang berceceran.
"rela berkorban banyak darah untukku, namun aku tak berterima kasih padamu" DEG! Jantung Hermione berdetak kencang, darahnya mengalir menuju ubun ubun.
"Mss Granger, kami dari team kepolisian ingin meminta bantuan anda untuk mencari pelaku penusukan korban yang bernama Draco Malfoy" jelas pria tinggi berpakaian seragam bersama ke empat rekannya yang siap siaga memegang senjata.
'Polis eh?' tanya Hermione dalam hati. Kemudian Hermione membalikkan badan dan ia mulai menceritakan kejadian itu kemudian memberikan penjelasan se detail-detailnya dengan polisi, ia mulai mengadakan reka konstruksi dengan polisi dan tak lupa juga dengan surat surat peneror itu.
Dengan otak jeniusnya, Hermione memberikan bungkusan berwarna bening berisi secarik kertas sobek berisi sidik jari peneror yang sengaja Hermione sobek agar tak tersentuh siapapun kecuali sidik jari peneror. 'bodohnya peneror itu, meninggalkan sidik jari begitu saja' gumam Hermione.
Untunglah Dewi fortuna berpihak kepada Hermione, ia baru ingat kalau ia memasang kamera pengintai berukuran sangat mini disudut kamarnya terselip sangat tersembunyi dibalik air conditioner.
"ini dia sir. Kita akan menemukan peneror itu tak lama lagi" ucap Hermione sangat yakin.
Mau tau kelanjutannya? Lets go to chapter 5! Sebelum lanjut ke chapter 5, reviewnya please?
