Chapter 5! Insyaallah deh, bakalan seru(menurut gue) happy reading aja yah, thanks yang udah follow ceritaku sampe ch 5 ini! Jangan pernah bosen yah! Reviewnya please?
"Hermione! Kau yakin tak menjenguk Draco? Sudah seminggu kau tak menemuinya? Hermione? Kau dengar aku?"tanya Theo didalam percakapan telepon.
"apakah kau tak merindukannya? Apakah kau tak lagi mencintainya?" tambahnya lagi
"tutup mulutmu Nott! Kau itu tak tahu apa-apa." Bentak Hermione, ia terlihat begitu stress
"ta-ta" ucapan Theo dipotong Hermione
"Aku merindukannya Nott, sangat merindukannya, berbagai cara telah aku lakukan supaya bisa melihatnya, tapi semua nihil." Hermione menahan pilu, mengusap kedua matanya yang basah, hidungnya memerah lantaran terlalu banyak menangis.
"a-aku tahu semuanya mione, kau tak kesini bukan tanpa alasan. Kau tak diizinkan lagi untuk menjenguk Draco lagi bukan? Dad Draco melarangmu kan?"
"ma-maafkan aku mione, aku tak sengaja mendengarkan percakapan kalian. Se-sebenarnya aku ha-hanya ingin mengatakan se-sesuatu, tapi nampaknya kau terganggu, ya ya sudah a..." (dipotong lagi oleh mioneee!)
"katakanlah apa itu" tanya Hermione tak sabaran
"kau bi-bisa mengunjungi Draco sekarang, karena dadnya sedang ke luar negeri, mengurusi perusahaan Malfoy disana. Kurasa er.. kau bisa kesini" jelas Theo dengan keraguan, berharap Hermione tak marah.
"benarkah? Ah kurasa aku harus membelikan Draco bunga tulip kesukaannya, kurasa dia akan suka." Balas Hermione, moodnya berubah drastis menjadi sangat sumringah.
"terserah kau saja. Aku hanya mengabarkan" percakapan terputus, Hermione mengedikkan bahu dan bergegas mencari pakaian untuk pergi
.
"satu buket tulip berwarna merah dan satu tangkai bunga peony warna pink, untuk nona cantik dihadapanku. Semuanya $50 nona" penjual bunga yang begitu ramah menyapa Hermione ketika ingin membayar bunga yang telah Hermione pilih
"bunga tulip merah ini melambangkan sebuah cinta sejati, ada sebuah cerita yang menceritakan tentang sepasang kekasih, prianya rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan si wanita, hingga pada suatu hari si pria itu menjadi korban pembunuhan, simbahan darah itulah mengetes ditanah dan tumbulah bunga merah ini, tragis sekali mereka." jelas penjual bunga mengelus kelopak bunga tulip yang dipegangnya, mata Hermione terbelalak kaget, mendengar ucapan penjual bunga, 'sama sekali mirip dengan cerita hidupku' ujar Hermione dalam hati.
"dan bunga peony pink... menyatakan bahwa 'cepatlah sembuh', aku berfikir, mana mungkin bunga yang mungil ini dapat mengisyaratkan sebuah kata kata " tambah penjual bunga sambil menatap peony pink di tangannya. Hermione terkekeh pelan.
"well kau ingin menjenguk siapa nona? Sepertinya bunga-bunga cantik ini untuk orang spesial bagimu?" tanya penjual bunga seolah mengetahui apa yang hendak dilakukan Hermione selanjutnya.
"eerrr.. a-aku tak tahu. Tapi bagaimana kau tahu kalau aku ingin menjenguk seseorang?" jawab Hermione gugup, memikirkan status Draco di hatinya
"hmmm... Let me guess kau ragu bukan? Apa statusmu dengan nya? kau cerdas nona, membelikan bunga yang tepat untuknya"
"ka-kau peramal? A-aku hanya menyukai bunga itu, dia menyukai tulip merah da-dan aku peony cantik ini" jelas Hermione tak percaya ucapan penjual bunga 100% akurat.
"oh tidak nona, aku bukan peramal. Aku Cuma menebak suasana hatimu sekarang, sudah terbaca di mata indahmu"
"kau jangan menyerah untuk mempertahankan cintamu dengannya nona, kalau aku punya usul" penjual bunga pergi meninggalkan Hermione sendiri diantara bunga berwarna warni.
.
"aaaahhh.. aku tahu kau pasti akan datang, ayo masuk, Draco sudah menunggumu didalam" sambut Theo dan Luna dengan hangat sambil merangkul Hermione masuk ke ruang ICU.
"waah cantik sekali bunga ini mione, aku tak tahu kau begitu handal memilih bunga" Luna begitu antusias melihat bunga-bunga berwarna mencolok yang dipegang Hermione.
"pasti untuk seorang yang spesial seperti Draco" celetuk Theo tiba tiba, teringat ucapan Draco beberapa minggu yang lalu.
.
"selamat pagi Draco, apa kabarmu? Oh aku merindukanmu" sapa Hermione kepada Draco, Hermione membuka lebar tirai gorden hijau muda yang menghalangi sinar mentari masuk.
"nah begini kan lebih baik" Hermione tersenyum senang. Wajah ayunya disinari sinar matahari pagi menambah kadar kecantikannya saja.
"Draco tak menunjukkan respon sedikitpun mione, seminggu belakangan ini" Luna mengerling kearah Hermione yang tengah sibuk mengganti air kotor vas bunga.
'bunganya sudah layu, hmmm sebaiknya harus kuganti dengan peony cantik cocok sekali, 'semoga lekas sembuh Draco', oh maksudku semoga cepat bangun' Hermione berbicara sendiri, (kurasa dengan Draco). Kemudian Hermione memasang posisi kursi di samping Draco dan menduduki kursi itu.
"sorry lun, apa yang kau bicarakan tadi? Aku tak mendengarnya" Hermione bertanya dengan polosnya sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya beradu.
Luna memutar bola matanya, harus mengulang lagi ternyata..
"Draco tak menunjukkan respon sedikitpun mione, seminggu belakangan ini"
"ya, aku tahu itu, Theo yang mengabarkan" Hermione menghempaskan nafas beratnya, seraya mengelus rambut pirang Draco.
"aku bertanya aneh, sebenarnya apa yang dilakukan Draco disana, sampai digelitik kakinya pun ia tak bergerak, karena aku tahu, ia sangat geli jika digelitik kakinya" Theo bertanya heran dan menatap bingung ke arah Draco sahabatnya itu.
"kurasa ia masih betah tinggal di padang bunga itu" jawab Hermione spontan yang membuat kedua temannya memandang tatapan apa-yang-kau-bicarakan.
"padang bunga? Apa yang kau bicarakan mione?" Theo bergidik ngeri melihat ucapan aneh dari mulut sahabatnya itu
"kurasa anak ini mengalami depressi berat" bisik Luna sangat pelan, agar tak didengar Hermione.
"sudaah jangan berbisik-bisik begitu, aku tahu apa yang kau bisikkan, Luna, kau menganggapku depressi kan? Kurasa kalian akan berhenti mengganggapku begitu setelah kalian mengetahui apa yang kulakukan tujuh hari belakangan ini" Hermione menyeringai lebar menatap Theo dan Luna yang tampak kebingungan
"a-apa yang kau lakukan mione?" tanya Theo dan Luna serempak, pertanyaan itu mendorong Hermione agar mendekatkan diri menghadap mereka berdua.
"sebuah rahasia yang tak mungkin kuberitahu sekarang. Kalian akan mengetahuinya nanti."
"HEI! tidakkah kau lihat tadi? Tangan Draco merespon tanganku, Luna kau melihatnya?" tanya Hermione sumringah, memperlihatkan genggaman tangannya dengan Draco.
"benarkah? Tangannya meresponmu? Bagaimana gerakannya tadi mione? Oh terima kasih tuhan" sahut Luna tak kalah sumringahnya dari Hermione. Seketika Hermione menjabat tangan Luna dan mempraktekkan bagaimana jari Draco bergerak.
"begini responnya tadi, coba kau saja yang memegang tangannya, tapi jangan terlalu kencang" suruh Hermione, Luna mengangguk kencang dan langsung menggenggam tangan Draco untuk beberapa saat.
Tak ada respon.
"tak ada mione" ucap Luna sedih.
"sini, biar aku saja yang menggenggam tangan Draco" Theo langsung mengenyahkan genggaman Luna. Setelah beberapa lama menunggu.
Tak ada respon.
"kau bohong mione, nyatanya tak ada, Draco sama sekali tak bergerak" Theo mendengus kesal dan melipat tangannya didepan dada, bersender di dinding
"aku tak berbohong Nott, untuk apa aku berbohong? Aneh, kenapa dengan Luna dan Theo kau tak memberikan respon Draco?"
Hermione memandangi wajah Draco yang memucat, tangan kirinya mengelus rambut platina Draco. kemudian, Hermione memberikan kecupan hangat di kening Draco, rasa dingin menjalar dipermukaan bibir Hermione.
"buka matamu Draco, katakan lagi kata-kata itu, kata 'aku mencintaimu' yang sempat kau ucap,dan belum kau dengar jawabanku itu, aku merindukanmu Draco, bukalah matamu" bisik Hermione ditelinga kiri Draco.
Tak ada respon.
Hermione tersenyum kecil, dan menatap sendu wajah Draco
"sepertinya kau masih senang berada di padang bunga itu Draco, baiklah, aku takkan menganggu kesenanganmu disana, aku akan setia menunggumu disini sampai kau pulang"
"Hermione, kau bicara apa? Kau bisa dicap sebagai cewek gila, gara gara kau berbicara sendirian" Theo mengernyitkan dahi, menatap aneh tingkah laku Hermione
"aku tak bicara sendirian Nott, aku bicara dengan Draco."
"ta.." ucapan Theo terpotong oleh ucapan Hermione
"aku juga pernah mengalami keadaan seperti Draco, saat itu aku duduk diantara bunga bunga indah, sangat banyak,tak terhitung jumlahnya, aku menghamburkan pandangan dan melihat bunga yang begitu mencolok, seketika aku mengenali bunga itu, tulip merah namanya, itulah sebabnya aku memilih tulip merah untuk Draco. " Theo dan Luna mengangguk paham
"kemudian aku mendengarkan semilir angin pagi yang meneduhkan jiwa, suara burung bercicit ria, dengungan koloni lebah yang sibuk menghisap madu, kupu-kupu sayap merah yang beterbangan dan ..." Hermione berhenti sejenak, berjalan menuju jendela dan menatap luas pemandangan indah diluar ruangan
"dan apa?" tanya Theo yang tak sabar menunggu kelanjutan cerita Hermione
"aku melihat Draco"
"dimana kau melihatnya?" Luna bertanya bingung
"entahlah Luna, yang kulihat ia berada di padang bunga itu, tapi kurasa tak ada padang bunga seindah itu di dunia ini" Hermione mengangkan bahu, tangan kanan Hermione meraba halus gorden putih dihadapannya.
"ia menghilang begitu saja setelah mengelus pipiku. Saat aku mendengar jeritan memanggil namaku, aku tersadar dan mendapati mum Draco disampingku" Hermione mengelus pipinya, masih memandangi pemandangan diluar ruangan
"ia menghilang?" tanya Luna lagi tak percaya
"vanishing Draco?" Theo menimpali percakapan mereka, yang justru mengundang gelak tawa Hermione.
"apa ada yang salah?" Theo bertanya kembali.
"tidak Nott, ia tak menghilang, ia hanya pergi sejenak, namun percayalah ia selalu ada di sini" Hermione menunjuk dada tengahnya tepat dibawah jantung kecilnya. Tepat di Hati..
"kau jangan membuatku menangis mione, aku daritadi mendengarkan kau bicara sudah 6 tissue yang habis kupakai" ucap Luna sambil menghembuskan nafas kencang dihidungnya. Hermione tertawa pelan dan memeluk Luna.
"dasar anak cengeng" ledek Theo.
"diamlah Nott, Luna tidak cengeng, menangis itu hal yang biasa, apalagi menangisi sesuatu yang kita sayangi, tapi percayalah jauh lebih baik jika kita bendung air mata itu." Hermione melepaskan pelukannya dan menyapu air mata Luna dengan ibu jarinya, persis saat Draco menghapus airmatanya dulu.
"oh ayolah, sessi tangis tangisannya sudah selesai, sekarang waktunya sarapan pagi, aku sudah lapar" celetuk Theo, sambil menepuk-nepuk perutnya.
"kalian berdua silahkan sarapan, aku akan jaga Draco" suruh Hermione.
"kau sudah makan mione?" Luna bertanya dengan nada datar
"sudah, aku sudah makan di tempat penjual bunga tadi"
"oh ya sudah kalau begitu, kami pergi dulu ya mione. Jaga dirimu baik baik" ucap Luna meninggalkan Hermione yang duduk disamping Hermione. Hermione mengangguk pelan.
.
"selamat pagi Draco Malfoy. Sekarang sudah delapan hari kau tidur, masih betah ya disana? Huh, senangnya kau disana, sampai-sampai aku tak kau ajak." Hermione tersenyum gemas melihat Draco sembari menopangkan dagunya di tangannya sendiri.
BEEP! Handphone Hermione bergetar, Hermione mengerling ke arah layar ponselnya dan mendapati nomor dari kepolisian.
"Mss Granger kami sudah mengetahui pelakunya, namun kami tak dapat menemukan pelakunya, bisakah Mss Granger membantu kami menemukan pelakunya?"
"sudah diketahui sir? Oh syukurlah, katakan sir siapa pelakunya,saya akan membantu untuk menemukannya, saya sudah tak sabar menjebloskannya ke penjara" jawab Hermione dengan wajah sumringah.
"pelakunya adalah ..."
PLUK! Handphone Hermione terjatuh, matanya melotot tak percaya.
Siapakah pelakunya?
TBC
