Chapter 6! Last story atau mungkin ada kelanjuttannya, tergantung kalian sih yg nge-review/readers gimana. Hope you enjoy the story!
"dad. Aku ingin konsep pernikahan kami nanti bertemakan langit biru, supaya terlihat indah, pasangan kami menikah diatas langit" ucap Astoria dengan manja terhadap Lucius meminta konsep pernikahannya nanti dengan Draco.
Keluarga Malfoy telah kembali dari luar negeri beberapa jam yang lalu. Keluarga Malfoy pergi keluar negeri bersama Astoria, Astoria yang ngotot ingin ikut pergi dengan keluarga Malfoy itu dengan tega meninggalkan Draco sendiri. Untunglah kesetiaan Hermione menjaga Draco mampu membuat keadaan Draco semakin membaik.
Lucius memandangi keadaan ruangan Draco, sekilas nampak hidup, dengan bunga tulip merah dan bunga peony cantik bertengger gagah disamping Draco.
"siapa yang memberikan bunga seindah ini?" Lucius bertanya kepada Theo yang duduk diam disofa ruangan.
"err.. i-itu" Theo berfikir sejenak, mencari kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya, Hermione sudah berpesan bahwa jangan memberitahu siapapun tentang kehadirannya.
"oh iya, seorang teman lama Draco bernama Blaise datang beberapa jam yang lalu, membawakan bunga itu sir" 'syukurlaaaah' ucap Theo dalam hati. Lucius mempercayai ucapan Theo barusan terbukti dengan Lucius hanya mengangguk pelan.
"kau tak mendapati Mss Granger itu kan disini?" tanya Lucius lagi.
"a-hah? Mss gr-Granger? Ti-tidak sir, a-aku tak melihatnya" Lucius menyipitkan pelupuk matanya, memandang tajam kearah Theo.
"aku harap kau tak berbohong mr Nott. Kepercayaanku kuberikan seutuhnya pada dirimu"
"well, apa yang sedang Mss Granger itu lakukan setelah ku usir dia beberapa waktu lalu" pertanyaan-pertanyaan Lucius tiada henti diluncurkan, yang membuat Theo kesal ditanya tanya seperti itu.
"mungkin wanita tak tahu diri itu mencoba untuk merusak hubungan orang yang lain, dad"
"tutup mulutmu Greengrass" Theo berteriak kencang
"apa? Apa hah? Wanita itu derajatnya lebih rendah dari wanita jalang yang ada dimuka bumi ini!" bentak Astoria tak mau kalah.
"YA! POSISI ITULAH YANG TEPAT MENGGAMBARKAN KAU SEKARANG, LINTAH PENJILAT!" kilah Theo sembari berdiri tegak menunjuk-nunjuk Astoria
"APA KAU BILANG? KAU MENYEBUTKU LINTAH PENJILAT? JAGA MULUT KOTORMU ITU NOTT! AKU TAK MAU MEMPERBANYAK DOSAKU HANYA KARENA AKU MEMBUNUHMU!"
Astoria yang tersulut emosi, dengan sigap mengambil pisau buah yang berada di sampingnya, Astoria mengacungkan tinggi-tinggi pisau buah itu hendak membunuh Theo.
"TURUNKAN PISAU ITU DARI HADAPAN NOTT, ASTORIA! SUDAH CUKUP KAU BUAT DRACO TERBARING LEMAH SEPERTI ITU, JANGAN KAU MEMAKAN KORBAN YANG LEBIH BANYAK LAGI" Astoria mengerling keasal suara dan mendapati Hermione sedang berdiri tegak diambang pintu
"Hello Mss Granger, wanita jalang perusak hubungan orang. Apa kabar? Sedang apa kau? Menunggu ajalmu eh?" Astoria bergerak mendekati Hermione masih dengan pisau tajam di genggamannya.
"kau tak lebih dari seorang pembunuh, Astoria" Hermione melotot keras menatap Astoria
"aku? Pembunuh? Oh tentu saja aku pembunuh! Aku akan menyingkirkan siapa saja yang berani menghalangi jalanku untuk mendapatkan Draco bajingan satu itu" seringai lebar terbentuk di wajah Astoria. Melangkah maju menghimpit Hermione
"Berhentilah berbuat tindakan bodoh seperti itu Astoria" pinta Hermione yang memundurkan diri perlahan.
BUG! Punggung Hermione menyentuh dinding.
"AKU HARUS MEMBUNUHMU" tangan Astoria terhenti berayun mengarah ke arah Hermione, setelah mendengar suara
"JANGAN BERGERAK!" secara tiba tiba polisi mendobrak pintu dan siap dengan senjata apinya menodong kearah Astoria.
Sontak, membuat Astoria sangat kaget, tangannya masih dalam posisi hendak membunuh.
"JATUHKAN PISAU ITU. CEPAT!" sergah polisi itu.
TINGGG! Bunyi besi terjatuh, Astoria menjatuhkan pisau itu kelantai.
"ANGKAT TANGANMU!"
Astoria mengangkat kedua tangannya, menyerah saat polisi merangkul tubuhnya dan memborgol tangan putihnya.
"APA APAAN INI? AKU SALAH APA SIR? TAK SEHARUSNYA KAU TANGKAP AKU, TAPI DIA YANG HARUS KAU TANGKAP! AKU TAK BERSALAH SIR! WANITA JALANG ITU YANG HARUS KAU TANGKAP BUKAN AKU" Astoria memberontak dan berteriak-teriak seperti orang gila. Polisi tak menghiraukan teriakan Astoria, menyeret paksa Astoria pergi ke kantor polisi.
"a-ada apa ya-yang terjadi, Mss Granger?" tanya Lucius gagap, tubuhnya bergetar hebat, ia sangat ketakutan atas kejadian tadi.
"Astorialah pelakunya sir." Hermione bernafas lega setelah melihat Astoria diringkus polisi.
"ka-kau bisa jelaskan Hermione?" kali ini Narcissa yang bertanya, mulutnya menganga lebar matanya terbelalak kaget mendengar ucapan Hermione barusan. Hermione mengangguk pelan dan bercerita
"pada malam itu, saat aku berdansa dengan Draco di pernikahan bibi Bellatrix aku dikejutkan dengan sosok seorang wanita berambut hitam panjang memakai dress hitam,aku tak melihat wajahnya waktu itu,wanita itu memakai topeng pesta,wanita itu memaksa aku untuk segera pergi dari pesta itu, tatapannya tajam sangat tajam, hal itulah yang membuatku takut,seketika aku melepaskan diri dari Draco dan pergi pulang tanpa pamit. Setelah aku pulang, sesuatu yang aneh mengikutiku, seperti seorang wanita dipesta tadi, tapi aku tak menggubrisnya." Hermione menarik nafas dalam-dalam dan melanjutkan ceritanya.
"Kejadiannya begitu cepat, saat aku memarkirkan mobilku, aku mendapati kucingku fleon bersimbah darah di teras rumahku, betapa terkejutnya aku, mendapati foto kepalaku tertancap ujung mata pisau, saat kutarik, secarik kertas jatuh bersamaan foto itu. Ketika aku baca isinya begini" Hermione menunjukkan foto kertas bertuliskan tulisan darah dari handphonenya. Narcissa bergiding ngeri melihat foto itu, sama juga halnya dengan Lucius.
"setelah dua bulan aku tak bertemu dengan Draco, hidupku memang sangat tenang, tanpa adanya peneror itu, dan sampailah pada malam itu, aku mengundangnya makan malam bersama dad,mum, dan rekan rekan kami, Draco mengantarku pulang, dan saat itulah kejadiannya berlangsung" Hermione menarik nafas panjang
"saat aku masuk kedalam ruang tamu, betapa terkejutnya aku, seorang berbaju hitam bertopeng scream menyambutku dengan sembilah pisau tajam, aku terkejut dan berlari sekuat tenaga untuk menghindari peneror itu, sebisanya aku berlari dan berlari, larianku terhenti disebuah lemari besar, tanpa pikir panjang aku bersembunyi didalamnya, pada kesempatan inilah aku menelepon Draco, aku berharap Draco membawa polisi bersamanya. Sementara itu Peneror tahu keberadaanku, ia mencoba membuka lemari itu namun tak bisa karena aku terlebih dahulu menguncinya dari dalam, aku tak tahu peneror itu begitu nekat, sehingga ia menusukkan pisaunya itu di permukaan lemari, tusukannya tepat mengenai tanganku, hal hasil aku mendapatkan luka ini" Hermione menunjukkan tangannya yang robek.
"aku tak habis akal, kudorong pintu lemari itu, mengenai peneror sampai terjatuh, kesempatan inilah membuat aku berlari kencang, lariku tertuju ke arah dapur, lagi-lagi aku sembunyi dibawah meja dapur, untunglah aku menemukan garpu runcing dan tajam tergeletak pas saat tanganku menyentuh lantai. Peneror itu menuju ke arah dapur juga, saat itu aku tak beruntung, ia melihatku, dan menyeretku beberapa meter sampai aku tak mampu bernafas lagi, secara refleks aku menancapkan garpu itu tepat dinadinya, luka itulah yang memperkuat tuduhanku ke Astoria, karena saat dirumah sakit waktu itu, lukanya sama persis seperti luka yang aku buat, lukanya juga masih baru" Lucius dan Narcissa mengangguk paham
"ya, aku juga melihat luka itu, saat kutanya penyebabnya Astoria bilang hanya kecelakaan terkena paku" Narcissa menambahkan
"setelah itu, aku berlari menuju kamarku, dan terhimpitlah posisiku dibalkon rumah. Saat peneror itu hendak membunuhku, secara tiba tiba Draco datang, tanpa pikir panjang, Draco mendekap peneror itu dan menyeret jauh dariku, kulihat tangan Draco berdarah-darah saat mendekap peneror itu karena kenekadan Peneror yang berani menyayat lengan Draco, peneror itu jauh lebih agresif daripada Draco, saat peneror itu berbalik badan, pisau tajamnya menusuk dada kiri Draco, Draco terjatuh dengan bersimbah darah, seketika aku berlari menghampiri Draco, aku mencoba menghentikan pendarahannya, namun aku tak bisa, aku tahu Draco menahan sakit sekali waktu itu,tapi dia hanya tersenyum, darahnya tak hentinya keluar, aku sempat berfikir kalau aku akan kehilangannya,pikiranku bergelut dengan pikiran yang aneh aneh, namun itu semua aku tepis jauh-jauh." Hermione menatap kebawah, ia tak sanggup lagi melanjutkan ceritanya, hanyalah tangis yang bisa mewakilkan perasaannya, air mata bergelinang dipipi mulusnya.
"delapan hari ini aku sibuk mencari pelaku peneror itu bersama polisi, bukti-bukti sudah aku kumpulkam, mulai dari rekaman kamera pengawas, surat terror itu, dan mengumpulkan sidik jari yang berhasil kutemukan, kemudian aku memberikan sidik jari itu pada dad, dad yang menelitinya. Ternyata dugaanku benar, Astoria pelakunya. untuk menemukan Astoria sedaritadi Aku membuntuti kalian, sir, mam dari bandara, saat-saat yang tepat aku menelepon polisi untuk menangkap Astoria" ungkap Hermione mengerling ke arah Draco
"oh nampaknya aku terlalu panjang menceritakan kronologinya, maaf sir, mam, aku harus ke kantor polisi. Maaf mengganggu harimu" Hermione menghapus air matanya, dan segera meninggalkan tempat.
"he-hermi-one!" teriak Lucius dari belakang, ya, Lucius memanggil nama depannya, mendengar itu, Hermione menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"kau bisa mengunjungi Draco kapanpun kau mau" ucapan Lucius membuat Hermione sedih.
"maafkan aku sir, aku tak bisa lagi mengunjungi Draco, dad dan mum melarangku untuk berjumpa dengan Draco, dan pula, aku akan pindah ke Holland untuk memimpin rumah sakit keluarga kami disana sir, aku akan pergi jauh, sejauh jauhnya dari Draco. Bukankah itu yang sir inginkan?"
"tapi kau mencintainya bukan?" seketika Lucius bertanya sedemikian kepada Hermione. Kristal bening mengalir dari pelupuk mata Hermione. Hermione mengangguk pelan.
"aku tak tahu sir, aku akan berusaha mencoba untuk tak mencintai Draco, Draco pria yang baik, tak seharusnya aku mencintainya"
"tinggallah bersama kami mione, Draco sangat membutuhkanmu" ucap Narcissa perlahan mendekati Hermione. Narcissa mengulurkan tangannya, namun diturunkan perlahan oleh Hermione.
"maafkan aku mam, aku tak bisa. Dad dan mum mengharapkanku untuk pindah. Aku sangat minta maaf sir, mam"
"mione, sebelum kedatanganmu disini, keadaan Draco kian memburuk, tak menunjukkan respon sedikitpun. Namun setelah kau mengunjunginya, kurasa ia merasakan kehadiranmu, terbukti dengan keadaannya yang semakin membaik" kali ini Theo yang angkat bicara. Lucius dan Narcissa mengangkat sebelah alisnya. Tak percaya ucapan Theo barusan.
"ya sir. Semenjak kalian meninggalkan Draco ke luar negeri, keadaannya semakin memburuk, aku panik luar biasa saat itu, untungnya Luna memberikan solusi yang jitu. Memanggil Hermione kesini. Itulah cara terakhir kami yang dapat kami lakukan, dan untunglah, keadaan Draco berangsur-angsur membaik semenjak kedatangan Hermione, bahkan Draco sempat memberikan respon gerakan jemarinya ke Hermione, Hanya Hermione yang ia respon, bukan Aku, bukan juga Luna."
"oh ya sir, Hermione lah yang memberikan bunga-bunga cantik itu bukan Blaise. I'm sorry sir, aku berbohong padamu." Aku Theo sambil menunduk lesu diatas sofa.
"masih maukah kau pergi meninggalkan Draco, mione?" Theo bertanya dengan tatapan jangan-pergi-mione. Hati Hermione terenyuh, jantungnya berdetak cepat, bibir nya bergetar.
"ti-tidak Nott, aku tak mau"
"lalu?"
Hermione mengelah nafas panjang.
"ba-baiklah aku akan mencoba untuk tetap tinggal" Hermione menjawab lega.
Sorakan gembira terdengar jelas, kebahagian terukir indah di wajah mereka, Lucius tersenyum lebar dan begitu pula Narcissa yang begitu senangnya sampai memeluk erat tubuh langsing Hermione.
"terima kasih mione" bisik Narcissa ditelinga Hermione seraya mengelus rambut coklat Hermione, seperti mengelus rambut anak sendiri.
"sama-sama mam"
.
Hari kian berlalu, siang malam silih berganti, 14 hari telah berlalu semenjak kejadian naas itu. Hermione dengan setianya menemani Draco disisinya, siang dan malam Hermione menjaga Draco dengan kasih sayang.
Begitu pula Dad dan mum Hermione yang bersedia mengunjungi Draco, menemani hari-hari gadis kecilnya itu.
Tak lupa juga, keluarga Granger dan keluarga Malfoy menjalin hubungan yang dekat, tak ada kecanggungan diantara mereka, bercanda ria satu sama lain, tawa bahagia terlihat jelas di wajah mereka.
.
"selamat pagi malaikat pelindungku, Draco Malfoy. Sudah lima belas hari loh kamu tidur! Ngga capek tuh?" ledek Hermione menatap Draco gemas.
"oh iya, ini aku bawakan satu buket tulip merah kesukaanmu, dan satu tangkai peony pink cantik ini, aku taruh dulu yah" ucap Hermione sambil merapikan bunga warna warni itu.
"Draco, aku mau bercerita sesuatu padamu, mungkin kau tak akan bosan mendengarnya, aku janji!, aku janji aku tak menceritakan domba domba itu lagi" Hermione tertawa geli mendengarkan ucapannya sendiri, bagaimana tidak, tiga hari belakangan ini Hermione selalu bercerita tentang domba-domba yang ada di halaman rumahnya.
Hermione mengelus rambut pirang platina milik Draco
"begini, dad dan mum mu tampak begitu akrab dengan dad dan mum ku, mereka akan menjalin kerjasama perusahaan loh! Dad dan mumku memberikan satu perusahaan di Holland sana untuk aku pimpin, tapi aku tak tahu perusahaan apa itu, yang jelas aku ingin perusahaan itu ada kaitannya dengan sicantik ini" Hermione mengelus kelopak bunga tulip merahnya.
Hermione menatap sendu wajah Draco yang tak memberikan reaksi,
'aku memang sudah gila, berbicara sendiri' rintih Hermione di hatinya. Hermione menitikkan air mata nya.
"kau tak merindukanku Draco? Kau tahu? Setiap pagi sampai malam aku berdoa agar tuhan memberikanmu petunjuk arah untuk pulang. aku tak akan pernah lelah Draco meminta bantuan dari tuhan! aku janji! aku akan mengeluarkanmu dari padang bunga menjebak itu, Aku akan menuntunmu agar kau kembali"
" Setelah kau kembali aku akan membawamu pergi ke tempat dimana tak pernah kau bayangkan, aku akan selalu setia menemanimu." Imajinasi Hermione meninggi, ia bahkan menghiraukan suara suara piano yang terdengar dari radio dibelakangnya.
"To tell you the truth
Everything thats new, baby it's you
It's you in the morning
It's you in the night
A beautiful angel came down
To light up my life
My life, my life. Oh"
Hermione tiba-tiba menyanyikan lagu yang telah lama tak ia dengar.
"cause when your hands are in mine
You set a fire that everyone can see
And it's burning away"
Hermione merekatkan genggamannya ditangan Draco, seolah tak mau ditinggal pergi.
"every bad memory, to tell you the truth. A beautiful angel came down, to light up my life, its you" sapuan hangat tangan Hermione menyentuh pipi Draco.
"open your eyes Draco, i'm here, always beside you, come here, i really miss you Draco" tetesan air mata jatuh membasahi pipi Hermione.
Jemari Draco bergerak pelan. Jantung Hermione serasa berhenti berkerja, mata coklatnya terbuka lebar, keringat dingin bercucuran , separuh badannya mengeras seketika setelah merasakan respon positif dari Draco. Hermione masih diposisinya samping Draco, merangkul jemari Draco.
"aku tahu kau pasti kembali, Draco. Come open your eyes, i really miss your blue eyes"
Draco membuka matanya perlahan. Ragu-ragu untuk membukanya, namun Draco terus membuka matanya hingga setengah terbuka.
Setelah sekian detik menunggu, iris kelabu milik Draco dapat dilihat jelas oleh manik hazel hermione.
Draco memandangi wajah gadis yang sangat ia cintai,
'tak ada yang berubah darimu mione, kau makin cantik' ucap Draco dalam hati.
Rasa sakit masih terasa di dada Draco lantaran lukanya belum sepenuhnya sembuh, namun masih ia tahan, karena tak mau membuat Hermione khawatir.
Senyum indah terlukis diwajah tampan Draco, membuat Hermione menangis bahagia.
"kau kembali, Draco." Ucap Hermione seraya menyungging senyum manisnya.
"a-aku kembali mione, aku tak mungkin meninggalkanmu, sweetheart" ungkap Draco.
Rona merah terlihat sangat jelas dipipi Hermione, (lagi lagi) satu kristal bening jatuh dari manik hazel milik Hermione.
"sudah kubilang, jangan menangis, love! Aku tetap berada di hatimu, darling!"
"ka-kau be-be, maksudku itu adalah kau yang datang ke mimpiku?" tanya Hermione terbelalak kaget, tak percaya jika mimpi itu benar.
"kau kira aku siapa love dimimpimu, love? Imajinasimu?" Draco tersenyum kecil.
Hermione mengangguk pelan. Draco terkekeh
"ceritakan lagi domba-domba itu mione, aku tak mendengarnya jelas" pinta Draco, mengernyitkan dahinya tanda berfikir.
Hermione mengerucutkan bibirnya kedepan, dan ekspresinya berubah bingung
"kau mendengarku berceloteh, Draco?" tanya Hermione bingung. (lagi lagi) Draco terkekeh pelan.
"hampir setiap hari aku mendengarkanmu bercerita, aku layaknya seorang anak kecil yang didongengkan" ledek Draco, yang malah membuat Hermione tertawa kecil.
"well, bagaimana perjalananmu di padang bunga itu Draco? Kurasa kau sangat menikmati pemandangannya, sampai-sampai kau meninggalkanku selama dua minggu"
"dua minggu? Kau pasti bercanda kan love?"
"tidak Draco, lihat sekarang tanggal berapa?"
"memang sekarang tanggal berapa?"
"20 maret"
"20 maret? Lama sekali aku tidur"
"hahahaha.. dasar tukang tidur"
"tukang tidur? Waah kau benar benar membuatku gemas, love" ucapan draco terganggu lantaran masker oksigen yang ia kenakan.
"hahaha.. kau lucu Draco, memakai masker oksigen itu"
"lucu? Baiklah kurasa aku akan melepaskannya"
"eeeeiii jangan! Kau bisa mati kalau kau melepaskannya! Aku tak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya"
"aku takkan meninggalkanmu love, aku janji, setia menemanimu"
"gombal"
"gombal eh? Oh berarti kau gombal juga! Aku meng copast ucapanmu waktu itu"
"a-apa? Tidak aku tidak gombal"
"kau gombal"
"tidak"
"kau gombal"
"tidak"
"gombal"
"tidak"
"go..."
"aku mencintaimu Draco" Hermione tak tahu harus berkata apa lagi, hanya kata itulah yang dapat meredam Draco, Hermione tersenyum lebar, rona merah terlihat dipipi putihnya, Hermione malu.
"aku juga mencintaimu Hermione" Draco menjawab ucapan Hermione dengan segera, membuat mereka tertawa geli.
...Pemandangan yang indah...
Gimana? Baguskah? Jelek? Aku terserah kalian, mau dilanjutin atau ngga yang penting kalian udah terhibur dengan fanfict gaje aku ini, ya walaupun 9 dari 10 orang yg baca pasti udah nguap2 ;) hehehe.. thanks ya! Klo ffnya mau dilanjutin. Reviewnya please?
