Karena ada yang minta dilanjutin, okelah dilanjutinn:)). Tapi, Pertama tama saya ingin mengucapkan ribuan terima kasih untuk para reviewerku.

uNtuk Antarius neѐ Malapoy aliyas brother ku, brother farah, i've continued the story! *sok keinggrisan*^_^ terima kasih untuk jadi yang pertama yang review! Semoga jadi yg pertama terus yaa:)) haha

uNtuk Rina Kartika, thanky ou *big hug for you too*iYA Draco nya sadar, aku sadarin, karena aku ngga tega Draco terus-terusan tidur:))

untuk dipsy lala puuh, terima kasih ya:)) hehe, emang cepet sih :(( aku ngga mau berleha-leha gitu bikin ffnya:))

untuk nisa neѐ malfcy thank you ya reviewnya disegala chapter! Saya tidak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan terima kasih untukmu:))

Untuk Chika neѐ Granger, makasih ya chika:)) oke boss! Terima kasih sarannya yaa! Aku juga ngga tega loh nyakitin Draco T_T *nangis nangis* tapi apa boleh buat, emang udah nasibnya gitu di story buatanku T_T.

UntukYosikhan Amalia, thank you :)). Oke deh aku buat hepi ending! No problemo sist:))

ya walaupun ngga banyak tapi kalian nyenengin hati aku bangeeet!. *lebaii*

okeh, ngga ada lagi yang dibahas, kita langsung aja ke cerita.

. . Selamat Membaca . .

.

.

.

.

.

.

.

"Arrggggghhhh." Rintih Draco, menekan dada kirinya

"kau tak apa Draco?" tanya Hermione khawatir melihat Draco meringis kesakitan

"tak apa, kau tak usah khawatir dear" jawab Draco tersenyum menahan sakit.

"kau sudah minum obat?" tanya Hermione lagi, masih dengan raut muka khawatir

Draco mengangguk pelan.

"ya sudah, kita pulang, aku tak mau melihatmu sakit begini" ajak Hermione merangkul Draco yang masih menahan sakit. Tapi dengan segera Draco menahan rangkulan Hermione

"Kau tak mau melanjutkan menonton filmnya dear?" tanya Draco menatap Hermione yang hendak beranjak dari kursi bioskop.

"kita bisa menontonnya dilain waktu Draco" jawab Hermione tersenyum sendu melihat Draco.

"lagipula besok kita harus pergi ke Holland" tambah Hermione.

Draco mengangguk pelan dan beranjak pergi meninggalkan bioskop

.

.

.

.

.

Musim Semi tahun ini begitu istimewa dimata Hermione, bagaimana tidak, ia sekarang telah resmi menjadi tunangan seorang pewaris tunggal keluarga Malfoy, pria tampan nan gagah yang bernama Draco Malfoy, sungguh ia sangat bersyukur mendapat keajaiban yang begitu besar dari tuhan. Mengingat-ingat moment pertunangan itu acap kali membuat Hermione tersenyum-senyum, memikirkan saat-saat dimana Draco menyematkan cincin putih berhiaskan berlian itu dijari manisnya, menciumi keningnya dengan hangat, memeluk mesra tubuhnya dihadapan ratusan tamu undangan. Hermione sungguh beruntung memiliki Draco.

Draco adalah idola semua wanita, bagaimana tidak, pria yang tampan, mapan dan kaya raya itu sangat cukup membuat wanita kepincut senang dengannya, bukan berarti Hermione orangnya materialistis, ia tak memerlukan kekayaan jabatan atau apalah itu, Hermione hanya memerlukan pendamping seumur hidup impiannya, seperti Draco, lelaki baik hati, dan juga setia.

Hermione memandang wajah malaikat pelindungnya yang sedang membaca buku masih dengan kacamata besarnya yang setia bertengger dihidung mancungnya.

Hermione tersenyum kecil melihat lelakinya dengan serius membolak-balikkan selembar demi selembar kertas buku warna cream tanda sudah tua dimakan usia.

Seketika pandangan Hermione berubah menjadi cemas setelah melihat Draco menjerit kesakitan seraya menekan dada kirinya.
Hermione mendadak menemui Draco di meja kerjanya..

"Dracooo!" teriak Hermione merangkul badan kekar Draco.

"Tak apa dear, aku hanya .." ucapan Draco terhenti, memikirkan kata selanjutnya yang hendak ia ucapkan takut menambah rasa khawatir Hermione.

"Hanya apa? Oh tuhan, kumohon Draco, jangan berkata seperti itu lagi, itu malah membuatku semakin cemas, kumohon" pinta Hermione cemas

"aaaaarrrrggggghhh" ringis Draco kesakitan, kali ini sakit didadanya tak bisa ia tahan.

"ayo berbaring sejenak, hentikan dulu baca bukunya Draco" perintah Hermione seraya menarik buku yang tengah Draco pegang, kemudian menggiring Draco masuk ke kamar dan merebahkan Draco dikasur empuknya.
Setelah itu Hermione mengambil obat peredam rasa nyeri milik Draco di laci tepat disamping kasur mewahnya itu.

"aku tahu kau belum meminum obatmu, ini minumlah" ujar Hermione menyerahkan tiga butir obat berwarna warni dan segelas air putih.

"tahan sakit sedikit , Draco, aku akan mengompres dadamu dengan kain hangat ini" ujar Hermione lagi setelah memastikan Draco telah meminum obatnya, dan kemudian membuka baju kemeja yang dikenakan Draco.

Badan kekar Draco terlihat jelas setelah Hermione menanggalkan baju Draco, Hermione perlahan mulai mengusap lembut disekitar luka Draco dengan sangat hati hati agar tak menyakiti pujaan hatinya itu.

"are you feel better Draco?" tanya Hermione memasangkan kembali kemeja Draco dan memandang lega ketika melihat Draco mengangguk pelan.

Draco yang merasa lebih baik beranjak dari rebahannya hendak duduk menyender di kepala kasur dengan bertumpu pada sikutnya, dengan sigap Hermione membantunya bersender.

"Hermione sayang" panggil Draco seraya mengenggam tangan Hermione disampingnya

"ya Draco" sahut Hermione menyambut genggaman tangan Draco, ditatapnya lah manik kelabu Draco.

"tidakkah kau merasa lelah dengan semua ini?" tanya Draco membalas pandangan manik hazel Hermione.

"Lelah? Maksudmu?" tanya Hermione balik, tak mengerti apa yang sedang diucapkan Draco.

"Ya, maksudku kau selalu merawatku dengan sabar, dengan setia kau menjaga dan menemaniku, sampai kau rela merelakan waktumu demi aku, apakah kau tak jenuh?" ucap Draco, seluruh curahan hatinya ia tumpahkan begitu saja kepada wanita yang begitu ia cintai ini.

Hermione mengangkat sebelah alisnya masih bingung dengan ucapan Draco barusan.

"apa yang kau katakan Draco? sama sekali tak pernah terbesit dipikiranku kalau aku akan jenuh merawatmu" ungkap Hermione.

"kau tahu mione, semua orang pasti akan menemukan titik kejenuhannya sendiri, dan itulah yang ingin ku tanyakan, dimanakah titik kejenuhanmu itu?" tanya Draco lagi memandang lekat manik hazel Hermione

"sulit kau temukan Draco, sangat sulit, akupun tak dapat menemukannya sendiri"

"lalu?" Draco bertanya lagi

"itu berarti, aku takkan pernah jenuh menemanimu, menjagamu dan merawatmu" Hermione tersenyum hangat memandang Draco yang memandang Hermione datar.

"tapi tidakkah kau iri melihat wanita dengan seorang pria yang tampan, gagah dan juga err.. tak cacat" tanya Draco lagi dengan pengucapan pelan di dua kata terakhir.

"iri? Untuk apa aku iri? Toh aku juga punya seorang lelaki seperti wanita itu" Hermione tertawa kecil menampilkan gigi putih nan rata miliknya, ia sangat cantik jika tertawa seperti itu.

"tapi aku cacat mione!" bantah Draco menatap Hermione dengan pandangan bersalah, seketika tawa Hermione lenyap dari wajah ayunya.

Hermione mengerling kearah manik kelabu Draco, menatap lekat pemilik mata kelabu itu.

"bagimu kau cacat," Hermione mencondongkan kepalanya mengarah ke kepala Draco, beradu pandangan sangat dekat sehingga masing masing dari mereka dapat merasakan nafas mereka satu sama lain.

"tapi bagiku kau sempurna"
Sepersekian detik mereka beradu tatapan, Hermione perlahan menjauhi Draco, mengalihkan pandangan ke jendela persis didepannya.

"ta-tapi"

"berhentilah berpikiran yang negatif Draco, kumohon." Pinta Hermione, kristal bening jatuh dari pelupuk mata hazelnya mengalir deras membasahi pipinya.

"jangan menangis mione" Draco memandang Hermione dengan perasaan bersalah, menyesali perkataannya yang menyayat hati kekasihnya itu.

"berjanjilah untuk berhenti berpikiran seperti itu, aku akan berhenti menangis" seketika Hermione memeluk badan kekar Draco dan menangis dalam dekapan Draco

"a-aww" desah Draco menahan sakit, membuat Hermione tersadar dan melepaskan pelukkannya.

"ma-maafkan aku Draco aku tak sengaja. Kau merasa sakit lagi? A-aku akan ..." Hermione beranjak berdiri menuju dapur hendak mengambil sesuatu. Dengan sigap Draco mencegat Hermione pergi dengan menggenggam pergelangan tangan Hermione.

"tak usah dear, aku tak apa apa" ujar Draco.

"baiklah Draco, aku percaya padamu"

"hmm , tiga jam lagi kita harus pergi ke bandara, beristirahatlah, aku akan menyiapkan pakaianmu" suruh Hermione seraya beranjak dari tempat tidur, kemudian membuka lemari pakaian milik Draco dan memilah-milah pakaian Draco.

.

.

.

.

.

Hermione tengah sibuk menyiapkan semua perlengkapan berpergian mulai dari pakaian, surat surat penting termasuk pasport, dokumen perusahaan, kartu-kartu penting dan lain lain yang sejenisnya. Sementara itu Draco sedang terbaring lelap diatas kasur empuk nan mewah miliknya.

Waktu telah menunjukan pukul 10 am, itu berarti setengah jam lagi mereka harus pergi ke bandara. Setelah selesai dengan kesibukannya, Hermione bergegas menuju kamar Draco untuk membangunkannya.

Sebenarnya Hermione tak tega membangunkan Draco yang sedang pulas nya tidur, tapi apa boleh buat, sebentar lagi mereka harus bersiap pergi.

"Draco. Bangun Draco, sekarang sudah jam sepuluh, ayo bersiaplah" ujar Hermione sambil menepuk lengan atas Draco sangat pelan.

"iya dear, aku bangun" jawab Draco membetulkan posisinya menjadi duduk, bertumpu pada kedua sikutnya.

"ah kau bangun, sini, hupp..." Hermione membantu Draco berdiri tegak dengan merangkul punggung Draco. Kemudian Hermione berlari kecil menuju lemari pakaian Draco

"kau sudah mandi kan? Ini sudah kusiapkan jasmu, pakai yang rapi ya" pinta Hermione seraya menunjukan setelan jas berwarna abu-abu yang tergantung rapih ditangannya.

"bisakah pakaian sedikit yang tak formal dear?" Draco beralih pandangan dari jas abu-abu menuju wajah Hermione.

Hermione mengedikkan bahu.

"entahlah Draco, aku inginnya sih kau berpakaian yang lebih kasual saja dari pada pakai jas seperti ini, karena aku tahu kau pasti tak nyaman, tapi mum mu yang menyuruh" Hermione tersenyum hangat memandangi ekspresi Draco yang kesal.

"orang-orang besar ingin berjabat tangan denganmu! Tak mungkin kan kau dilihat mereka sedang memakai celana pendek dan kaus lusuh saja?" Hermione tertawa geli membayangkan jika Draco berjabat tangan dengan orang-orang penting yang pasti akan menunggu kedatangan mereka, sedangkan Hermione membayangkan Draco hanya memakai kaos dan celana pendek.

Draco mengangguk pelan, kemudian berjalan menuju Hermione yang tengah berdiri memegang jas necisnya setelah itu mengambil jas abu-abubya, lalu masuk kedalam ruang ganti.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Draco keluar dari ruang gantinya menampilkan jas dan celana hitam bahan, rambutnya yang di style sedemikian rupa menjadi licin dan rapih, tak lupa juga senyuman manis khas Malfoy tersungging di bibir tipisnya. Semerbak aroma parfume musk Draco tercium jelas di hidung Hermione yang membuat Hermione sempat hanyut dalam wangian lelaki berambut pirang itu, namun dengan cepat Hermione sadarkan diri.

"kau sa-sangat tampan Draco" puji Hermione dengan mata terbuka lebar, melihat malaikat pelindungnya dengan gagah memperlihatkan ketampanannya.

"terima kasih dear, kau juga sangat cantik dengan..." ucapan Draco terhenti, senyuman manisnya berubah menjadi datar setelah melihat pakaian dress lusuh yang Hermione pakai, persis seperti ibu-ibu, dengan rambut cokelat gelombangnya yang ia gulung dan disanggul, menambah kesan ibu-ibunya

"maaf dear, kurasa kau harus mengganti dress hijaumu itu, kau terlihat seperti mum ku" ledek Draco, menahan tawa kecil.

Mendengar itu, pipi Hermione memerah, ia tersipu malu sambil meatap dress hijaunya itu dan berkata

"aku bukan mum, Draco" kilah Hermione sambil mengangkat dressnya kesamping.

"ya setidaknya kau akan menjadi mum juga kan? Kau akan menjadi mum dari anak anakku kelak, 'Mione" ujar Draco seraya mengelus pipi Hermione mulus Hermione dengan lembut. Kemudian mencium kening calon istrinya itu dengan hangat.

"aku mencintaimu Hermione, apa adanya" bisik Draco ditelinga kiri Hermione.

Pandangan Hermione kosong, mendengarkan bisikan halus dari bibir tipis Draco.

"aku juga mencintaimu Draco, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu" ucap Hermione lirih, kemudian jatuh dalam pelukan hangat Draco.

"terima kasih dear"

"by the way, kapankah kita berangkat?" tanya Draco seraya mengelus rambut cokelat Hermione.

Hermione terbelalak kaget dan segera melepaskan pelukannya, kemudian berlari menuju kamar kecil untuk berganti pakaian.

Setelah sekian lama menunggu, Draco melirik jam tangan berwarna hitamnya dan mengerling ke arah pintu kamar kecil tempat Hermione berganti pakaian.

Sudah 15 menit Draco menunggu malaikat cantiknya tampil, ia sudah tak sabar melihat aura kecantikan Hermione.

beberapa saat kemudian. Handel pintu kamar kecil itu bergerak ke arah kanan, dilihatnya lah seorang gadis cantik bak bidadari dibalik pintu itu dari bawah sampai atas, Draco menganga tak percaya

Hermione mengenakan sepatu high heels 10 cm open toed berwarna merah, laced yang disimpulkan cantik diatas mata kakinya.

Tubuh langsingnya dibalut dengan dress silk halus berwarna merah, yang diikat halter neck, slim dan ankle length terbuka disamping.

Rambutnya yang disanggul melingkar dibelakang kepalanya menambah kesan 'seksi' dimata Draco.

Tak lupa juga aksesoris gelang cantik bermotifkan floral menambah kesan natural di diri Hermione, cincin perak bematakan berlian dengan indahnya melingkar dijari manis Hermione, cincin pertunangannya dengan Draco Malfoy.

"waw" Draco berdecak kagum melihat Hermione dihadapannya seketika berubah 180 derajat menjadi wanita cantik nan seksi.

"apa ad-ada yang salah dariku Draco? Kalau begitu akan aku ganti dengan yang ..." Hermione berbalik badan hendak masuk lagi dalam kamar kecil itu, namun dengan sigap Draco menghentikan langkah Hermione.

"tidak dear, maksudku, kau sangat .. cantik dengan pakaian itu"

"benarkah? Mum mu yang memberikan ini kepadaku"

"waw, aku tak tahu kalau mum punya selera yang bagus juga ternyata" Draco tersenyum tak percaya.

"umm. Sorry Draco, kapankah kita pergi?" tanya Hermione polos, mendengar itu, Draco tertawa kecil dan segera beranjak pergi meninggalkan kamar hendak berpamitan dengan mum dan dad Draco.

.

.

.

.

.

"mum, kami permisi, aku dan Draco pamit pergi ke bandara" sapa Hermione memeluk Narcissa dengan hangat, menciumi pipi keriput Narcissa.

"dad, kami permisi, aku dan Draco pamit pergi ke bandara" sapa Hermione lagi kepada Lucius yang tengah sibuk membaca koran, seketika Lucius menghentikan aktifitasnya setelah mendengar calon menantunya menyapa.

"ya, silahkan mione, hati-hati di jalan" ujar Lucius tersenyum hangat memandang Hermione.

"hati-hati dijalan ya mione, Draco" ujar Narcissa tak kalah ramah dari suaminya.

"ya dad, mum" jawab Hermione dan Draco bersamaan , kemudian pergi menuju mobil dan bergegas ke bandara.

.

.

.

.

.

.

"lihatlah Draco! pemandangan diluar indah sekali" seru Hermione menunjuk jendela pesawat, dilihatnyalah hamparan luas bunga berwarna merah menyebar dari ujung ke ujung.

Tampak bunga tulip merah menghampar luas bak kain sutra yang Hermione pakai. Warna merah nan rata itu mampu membius mata para pelancong untuk tak beralih pandang lagi dari pemandangan yang jarang dijumpai itu.

Begitu pula Draco yang langsung mengintip dari balik jendela, memandangi jutaan, ratusan juta bahkan miliaran kuntum bunga tulip merah yang sedang bermekaran.

Draco membuka mata lebar lebar, tak mau mengedip satu detik pun agar tak melewatkan satu detik moment indahnya itu.

Sungguh indah lukisan tuhan satu ini, bak tinta merah tumpah diatas kanvas hijau, mengukir indah setiap detail yang telah tertanam. Pantulan sinar matahari menyinari disetiap sisi ladang bunga nan permai itu menambah kesan fabulous tersendiri.

"sungguh indahnya pemandangan ini, aku tak mau mengabaikan moment indah ini" Draco mengeluarkan kamera SLR nya dan mulai memotret.

Hermione tertawa geli melihat calon suaminya itu terlihat sangat antusias memotret setiap sisi dari jendela pesawat.

"kau tahu dear, aku tak ingin mengabaikan moment terindah dalam hidupku" ucap Draco sambil memasukkan kembali kamera SLR nya kedalam tas jijing setelah mendapati pramugari yang mulai curiga dengan perilakunya.

"katakan Draco, ada berapa moment terindah dalam hidupmu" tanya Hermione memandangi wajah tampan Draco, tangan kanannya menyanggah dagu nya sendiri.

"just four moments dear"

"katakan apa itu Draco?" tanya Hermione penasaran.

"wah mione ku ini rupanya kepo juga ya" ledek Draco tertawa kecil melihat Hermione dengan seriusnya mendengar ucapan Draco sebelumnya.

Hermione mengerucutkan bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya, ekspresi kesal terlihat jelas diwajahnya.

"baik kalo kau tak ingin memberitahu, aku juga tak ingin memberitahu moment terindah dihidupku juga" ekspresi Hermione acuh tak acuh yang malah membuat Draco gemas melihat Hermione bertingkah seperti anak-anak.

"kamu juga punya moment terindah dear? Apa itu?"

Pandangan Hermione beralih ke manik kelabu Draco dan tersenyum licik.

"wah Draco ku ini rupanya kepo juga ya" Hermione tersenyum menang, ia berhasil membalikkan kata Draco barusan, sementara itu Draco tertawa geli mendengar ucapan Hermione.

"haahaha.. iya iya" Draco tertawa geli dan perlahan menarik nafas kemudian mulai bercerita.

"moment terindah dihidupku itu ada empat..."

"sudah tahu" jawab Hermione seketika, dengan nada cuek. Sementara itu, Draco tertawa lagi.

"jutek sekali sih dearku sayang ini. Listen me, dear"

"moment terindah dalam hidupku yang pertama ialah dansa pertama dengan mumku, walaupun waktu itu aku menginjak kaki mum sampai berdarah, tapi itulah saat dimana aku merasakan sesuatu yang menurutku spesial." Draco terkekeh pelan membayangkan bagaimana kelakuan ia waktu itu.

"kedua, aku memenangkan balapan mobil, ya walaupun itu hanya balapan liar tapi dari balapan itulah aku bisa membelikan kado ulangtahun mum"

"tapi kan kau bisa" tanya Hermione, ucapannya terhenti, ia harus berfikir kata apa yang tepat untuk melanjutkannya.

"aku bisa meminta uang langsung dari dad?" ucap Draco spontan, seakan tahu kata apa yang akan diucapkan Hermione selanjutnya.

"aku bukan tipe anak yang suka minta uang dengan orang tua, bukannya aku sombong, mione, tapi aku tak mau menyusahkan mereka, selagi aku mampu mengerjakannya sendiri, aku akan kerjakan" Draco melanjutkan ucapannya sambil tersenyum bahagia. Hermione memandang dengan tatapan takjub luar biasa.

"yang ketiga yaitu aku bisa bersama denganmu" Draco tersenyum manis. Tampak rona merah terpancar dari pipi mulus milik Hermione, Hermione tersipu malu.

"kau tahu mione? Saat pertama kali aku bertemu denganmu di pesta bibi bellatrix aku merasakan perasaan aneh yang tak dapat kudefenisikan, sepertinya aku jatuh cinta pandangan pertama denganmu mione"

"Saat aku bisa memberikan bunga tulip untukmu, Saat kita berdansa dalam naungan lagu favoritku, saat aku bisa memeluk hangat dirimu, saat aku bisa menghapus air matamu, saat aku bisa mengecup dahimu, saat pertama kali aku melihat wajah cantikmu disaat aku membuka mata, saat aku bisa menyematkan cincin itu dijari kecilmu, dan saat aku bisa memilikimu" Draco merangkul erat jemari Hermione yang dingin, mulai menghangat saat Draco menggenggamnya.

"and last atau keempat yaitu aku bisa melihat pemandangan yang indah ini, rasanya aku seperti mimpi disiang bolong, dapat menikmati permainya bumi tuhan ini, bukannya aku tak pernah melihat pemandangan ini, aku juga pernah melihatnya di kebun rumahku dear."

"aah, aku ingin bertanya padamu Draco, kenapa kau sangat suka sekali dengan bunga-bunga merah itu? Sampai-sampai kau menanamnya sendiri dikebunmu"

"bahkan kau sengaja err.. mencabut bunga-bungamu untuk kau berikan padaku, padahal kau paling protektif sekali dengan bunga-bungamu itu, menjaganya agar tak rusak apalagi sampai tercabut" tanya Hermione seraya menunjuk ke luar jendela pesawat, menunjuk bunga tulip merah yang sedang bermekaran.

Draco menghela nafas panjang, perlahan menghembuskan nya lewat mulut.

"well, kau sudah tahu bukan bagaimana sifatku? Aku akan berusaha melindungi sesuatu yang paling berharga dalam hidupku, entah itu benda mati ataupun makhluk hidup."

"aku menyukai bunga tulip merah karena mereka itu menurutku cantik, sedap dicium bahkan enak untuk dilihat. Aku merasa jika tulip merah itu menghiasi sudut halaman rumahku, rumahku akan terlihat indah dan lebih hidup, karena aku ingin rumah Malfoy manor yang terkenal dengan kesan dark gothic nya bisa lebih berwarna"

"dan alasan mengapa aku rela mencabut central warna halamanku untukmu itu, karena itu berarti aku rela mencabut apapun yang berharga dariku untuk kuberikan semua nya untuk wanita dihadapanku ini, wanita yang bernama Hermione Jean Granger, yang sebentar lagi namanya menjadi Hermione Jean Malfoy" jelas Draco, manik kelabu miliknya berbinar-binar mengucapkan tiga kata terakhir.

Hermione hanya menganga tak percaya dengan apa yang dikatakan Draco barusan, ia hanya mengedip kedip kan matanya, dan menggenggam erat rangkulan tangan mereka berdua.

" dan katakan moment terindahmu dear" tanya Draco yang dari tadi ingin sekali mendengar ungkapan hati Hermione.

"aku hanya memiliki tiga, Draco" Hermione terkekeh pelan, mendapati dirinya yang hanya memiliki tiga moment terindah.

"katakanlah dear, dengan senang hati aku akan mendengarnya"

"pertama, disaat aku melihat mum dan dadku tersenyum bahagia melihatku berpidato dihadapan ratusan teman-teman satu angkatanku di acara wisudahku, saat itu aku menyandang predikat cumlaude mahasiswi kedokteran, aku tak menyangka nilaiku adalah nilai yang tertinggi selama empat angkatan terakhir, kau tahu Draco, bagaimana rasanya saat kau memakai toga, berdiri kokoh dibelakang podium, memberikan pidato motivasi dan semangat untuk semua orang, diberikan pujian yang tiada henti dan orang-orang antusias memanggil namamu. Gemuruh tepuk tangan menyambutku disaat aku naik dan turun panggung, disambut rektor, dekan dan para dosen, berjabat tangan dengan mereka, tak lupa juga memberikan ucapan selamat" Hermione sangat menghayati setiap kata yang ia ucapkan, begitu pula dengan Draco, tiada hentinya ia berdecak kagum acap kali mendengar setiap ucapan terlontar dari bibir tipis milik Hermione.

'Betapa pintarnya wanita ini' ucap Draco dalam hati.

Kejeniusan otak hermione memang tak diragukan lagi, predikat 'cumlaude' memang pantas ia sandang dan mendapat nilai tertinggi se empat angkatan itu memang seharusnya ia dapatkan. Bagaimana tidak, berkat Kepintaran Hermione dalam bidang akademiknya, ia mampu membawa dirinya menjadi duta kesehatan di kampusnya selama beberapa tahun. Bahkan ia pernah dikirim ke swiss hanya untuk beradu kekuatan otak dengan mahasiswa kedokteran seluruh dunia, berkat latihan dan usahanya yang keras, Hermione berhasil menjadi juara pertama, layak sekali untuk diacungkan dua jempol.

"kau memang layak mendapatkannya dear" ujar Draco terkagum-kagum, Hermione tersenyum singkat namun sangat berkesan.

"terima kasih Draco"

"kedua, aku bisa dekat dengan keluargamu Draco, tak menyangka tuhan mempertemukan kita, rasanya aku seperti bermimpi untuk bisa bersama keluargamu, diterima di keluarga Malfoy, bercanda gurau dengan mereka, mencium mum mu dan bersapa ramah dengan dadmu, itu semua yang membuatku tak menyangka hidupku begitu indah" Hermione menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Draco, dirasakannya lah detak jantung Draco yang memacu cepat.

"ya, senang bisa menerimamu Hermione, di keluarga Malfoy" ucap Draco seraya mengelus rambut cokelat gelombang milik Hermione, kemudian mencium puncak kepalanya.

" terima kasih lagi Draco, beruntungnya aku memilikimu" balas Hermione tersenyum.

"dan yang ketiga, saat aku melihat mu membuka mata ketika kau tertidur selama 14 hari"

"kau tahu Draco, detik-detik disaat kau terbangun, aku menyanyikan salah satu lagu favorite mu, saat aku menyanyikannya, ada rasa keyakinan yang amat sangat tertanam dihatiku, aku yakin kau akan bertahan, aku yakin kau akan terbangun dari mimpi panjangmu, aku yakin, kita akan bersama" ucap Hermione lirih, matanya tak tahan lagi membendung air mata yang siap-siap akan keluar.

"keyakinanku sangat kuat saat itu, semua orang telah pasrah dengan keadaan, mereka semua pasrah jika kau, err... pergi."

"Aku dulu memang keras kepala dan egois, aku tak peduli dengan orang-orang di sekitarku berbicara yang tidak-tidak kepadamu. tak ada satu katapun aku dengar, aku tak mau terkontaminasi dengan omongan negatif itu, kutahan dengan sekuat tenaga agar aku kuat menjalaninya. segala cacian, makian, umpatan telah dilontarkan untukku saat itu. mereka menyebutku wanita gila, mereka menyebutku orang stress dan mereka menganggapku orang aneh. sakitnya hatiku saat itu. Untunglah, disaat kegundaanku dicaci-maki orang-orang itu, aku bisa menemukan ketenangan disaat aku melihatmu dan menggenggam tanganmu." Hermione menghapus titik airmatanya yang perlahan mengalir dipipinya.

Tak berani menatap iris kelabu milik Draco, dengan segera ia mengalihkan pandangan lagi ke luar jendela.
Dilihatnya lah bunga tulip merah itu berubah menjadi bunga berwarna merah jambu, membuat Hermione terbelalak kaget, alangkah indahnya hamparan indah berwarna pink ini, bunga apakah gerangan yang menumbuhi ladang seluas mata memandang itu? Hermione berfikir sejenak, perasaan ingin tahunya membawanya bertanya kepada pramugari yang kebetulan sedang lewat disamping Draco.

Draco mengangkat alisnya sebelah, bingung dengan tingkah Hermione yang tiba-tiba berpaling.

"permisi miss, saya ingin bertanya, bunga jenis apa itu yang berada dibawah kita, yang itu, yang berwarna pink itu" tanya Hermione seraya tangannya menunjuk kearah jendela.

Seketika leher pramugari itu memanjang, mengintip dibalik jendela, tak lama kemudian ia mengeluarkan sesuatu dibalik troli yang ia dorong, tampak seperti buku tipis dan panjang.
Dengan seriusnya ia membolak-balikkan kertas plastik yang ada dihadapannya.

"itu adalah bunga peony muda yang sedang bermekaran di ladang perbukitan milik pengusaha muda yang bernama Harry Potter, ladang yang luasnya hampir satu juta hektar ini ditanami berbagai macam bunga-bunga tercantik didunia, seperti bunga tulip bermacam warna, bunga peony pink, bunga crysantheum, bunga matahari, bunga blue dwarf dan masih banyak lagi."

"Harry Potter juga berkerjasama dengan pemerintahan Holland, sebagai pengekspor bunga-bunga tulip keberbagai penjuru dunia"

"tak jarang bunga bunga mereka sangat menghipnotis pengunjung yang lewat dari atas ini" jelas pramugari itu panjang lebar, sementara itu Hermione mengangguk mengerti, ia mendapatkan pengetahuan baru hari ini dari sang pramugari.

"sorry, ada yang menyebut nama Harry Potter?" tanya Draco tiba-tiba setelah mendengar nama Harry Potter disebut.

"ya sir, Harry Potter adalah seorang pengusaha muda yang memiliki ladang bunga itu, ia adalah pengusaha muda kaya raya yang berada diurutan kedua setelah pengusaha muda bernama Draco Malfoy versi Majalah World Behind Me." Jelas pramugari itu lagi, seraya menunjukkan buku yang ia pegang.

"bisa kulihat foto Harry Potter itu miss?" tanya Hermione penasaran.

Kemudian pramugari itu memberi buku yang ia pegang kepada Hermione. dengan sigap, Hermione menyambutnya.

"Draco, it's you! Waw aku tak menyangka kau kah itu? And siapa pria pria disampingmu? Nampaknya kau sangat akrab dengan mereka. Hei! Ada namaku disini, aneh. Apa ini

'Daftar Pengusaha Muda terkaya di Dunia versi Majalah World Behind Me'

Urutan ketiga diduduki oleh Mr. Cedric Diggory dari Inggris dengan perusahaan wine nya.

Urutan kedua diduduki oleh Mr. Harry Potter dari Holland dengan perusahaan ekspor impor bunga resmi Holland (tulip) dan

Urutan Pertama masih diduduki oleh Pengusaha Muda nan Tampan dari Inggris bernama Mr. Draco Malfoy dengan usaha tambang nya.

"Siapa mereka, Draco?" tanya Hermione sumringah, menatap serius buku yang ia pegang.

"mereka semua teman akrab ku dear, yang kanan itu namanya Harry Potter, aku sering memanggilnya Harry si Bunga Merah, aku juga hampir berkerjasama dengannya, tapi tidak jadi" jelas Draco tertawa kecil seraya menunjuk foto seorang pria yang ia rangkul bersamaan dengan pria lain.

"nah yang disebelah kiri ku itu namanya Cedric Diggory, panggilanku Diggory si pembuat mabuk. Seluruh wine di inggris itu adalah produksi dari pabriknya sendiri, termasuk wine yang terdapat di pernikahan bibi bellatrix" Jelas Draco lagi masih dengan tawa kecilnya. Sementara itu Hermione hanya bisa melotot tak percaya atas ucapan Draco barusan.

"waw, ka-kau hebat Draco. Aku tak tahu kalau kau masuk urutan pertama, selamat ya my love" ucap Hermione bangga, seketika Hermione memeluk mesra Draco.

"terima kasih my dear baby sweety" bisik Draco perlahan.

"i'm sorry miss, apakah miss adalah Hermione Jean Granger, err maksudku Hermione Jean Malfoy?" tanya pramugari itu tiba-tiba, membuat kemesraan Draco dan Hermione terhenti.

Hermione mengangguk pelan. .

"oh tuhan, aku tak menyangka miss Malfoy terlihat sangat cantik jika dilihat langsung" sambung pramugari itu. Menampilkan wajah yang sumringah.

"oh kenalkan sir, miss. aku Joana Natalie, aku salah satu penggemar beratmu dari Holland, aku sudah membaca 31 buku-buku milikmu, aku suka kutipan dari buku motivasi mu dihalaman 213, aku juga suka karya fotografi milikmu, miss Malfoy" Joana mengulurkan tangannya kemudian disambut hangat oleh Hermione dan Draco.

"oh thank you, nice to meet you Joana, panggil aku Hermione saja ya" sahut Hermione ramah dengan senyum hangatnya, begitupula Draco tak kalah ramahnya.

"Nice to meet you Joana, aku Draco, Draco Malfoy, kau bisa panggil aku Draco" kenal Draco, berjabat tangan dengan Joana.

"sama-sama Hermione, nice to meet you too Hermione, Draco. Hmm.. kalian memang pasangan serasi, kalian sangat ramah, aku sangat suka dengan kalian" ucap Joana tersenyum senang. Begitu pula dengan Draco dan Hermione, tersenyum malu.

"terima kasih lagi Joana" jawab Hermione

"sama-sama lagi Hermione" Joana mendelik geli dengan percakapan berulang mereka.

"oh kurasa kalian harus bersiap-siap, karena pesawat sebentar lagi akan mendarat"

"Ah maafkan aku Hermione, Draco. Aku harus meninggalkan kalian. See you" ucap Joana lagi seraya melambaikan tangannya setelah itu pergi menuju ke ruangan lain.

"well, aku tak menyangka kau mempunyai fans dari Holland" ujar Draco mengerling ke arah Hermione.

"ya, aku juga tak menyangka, aku begitu dikenal oleh orang luar."

"setidaknya kita mempunyai teman baru dari Holland" Hermione terkekeh pelan.

.

.

.

.

.

"hei Draco! My best mate! How are you mate? Oh i miss you brother, kemana saja kau selama ini?" sapa seorang pria bertubuh tegap ramah, memeluk Draco akrab. Kemudian disambut lagi oleh seorang wanita yang memakai blazier putih memeluk hangat Draco, menyentuh pipi satu sama lain.

Melihat itu, Hermione terbakar api cemburu, mendapati tunangannya dengan bebas memeluki wanita wanita yang menurut Hermione jauh lebih cantik darinya.
Hermione hanya menatap dengan tatapan kesal.

"permisi nona, apakah kau miss Granger?" tanya seorang pria berbadan tinggi dan berwajah tampan yang tengah berdiri didepan Hermione, memakai seragam putih hitam, seragam seorang pilot.

"um.. yeah aku, Granger. Kau siapa?"tanya Hermione terkejut. kekesalan yang melandanya tadi seketika hilang sejenak lantaran dikejutkan oleh seorang pria (bisa kukatakan lumayan tampan) berkacamata lebar.

"ini aku Hermione, kau tak ingat?" ucap pria tubuh tegap itu seraya membuka kacamata rayband nya, sementara itu Hermione berusaha mengingat sosok pria dihadapannya.

Hermione menyipitkan matanya, memperjelas pengelihatannya dan merasa bingung,
'siapakah orang ini?' batin Hermione.

"ini aku, Oliver! Oliver Wood! Kau tak ingat? Aku sahabat dekatmu dulu, aku tetanggamu! Ingat? Kita sering bermain ke hutan mencari bunga kristal" jelas Oliver serius, sementara itu Hermione masih berusaha mengingat.

Setelah sepersekian detik, Hermione ingat sesuatu tentang pria ini.

Ya, dia adalah Oliver, teman dekat Hermione dulu saat ia berumur enam tahun.

"Oliver? Oh my god, aku tak menyangka, itukah kau? Oh aku sungguh merindukanmu Oliver!" seru Hermione seraya memeluk erat Oliver dihadapannya, seperti orang yang telah lama tak berjumpa(emang iya-_-'')

Draco yang tengah asyik ngobrol dengan temannya itu hampir lupa dengan Hermione.
Saking asyiknya ia bahkan tak mengetahui kalau Hermione tak ada lagi disampingnya.

Draco menengok kanan kirinya, tak didapati sosok Hermione.

Draco terus mencoba menyapu pandangan kesegalah arah dan pandangan Draco terhenti seketika di pojok ruang boarding pass setelah melihat tunangannya berpelukkan dengan pria lain.

Merasa kesal, Draco menghentikan percakapannya dengan wanita yang menjadi lawan bicaranya,
Kemudian berjalan cepat menghampiri kedua orang yang berpelukan itu, dan segera memergokinya.

"i'm sorry sir, siapa kau? Mengapa kau memeluk istri ku?" tanya Draco kesal, kedua tangannya mengepal keras, kepala nya merah, terbakar api emosi yang mencuat keluar dari ubun-ubunnya.

Sementara itu, Hermione yang sedang dalam pelukan erat Oliver melepaskan pelukannya seketika setelah mendengar suara yang sangat ia kenal memanggil Oliver.

Hermione berbalik badan, dan mendapati Draco berdiri tegak mengepalkan tangan tanda ingin siap-siap meninju siapa saja yang mengganggu kekasih jiwanya itu.

"Draco! Oh rupanya kau sudah selesai dengan urusanmu" ucap Hermione dengan nada sarkastik, mengalihkan pandangan ke arah langit-langit bandara, Hermione masih dalam keadaan kesal akut saat melihat Draco berpelukan dan menciumi pipi-pipi wanita tadi yang menyambutnya.

"aku tak berbicara kepadamu, dear. Aku berbicara pada pria ini!" bantah Draco marah seraya menunjuk Oliver, Hermione hanya menganga tak percaya atas bantahan Draco yang baru pertama kali ini ia dengar.

"keep your hair on, sir. kenalkan aku Oliver, Oliver Wood" kenal Oliver mengulurkan tangannya kearah Draco, sementara itu Draco tak menggubris uluran tangan Oliver.

"err.. Oliver, kenalkan, ini Draco, dia err.. calon suamiku" kenal Hermione kepada Oliver, meredakan emosi di diri Draco.

"oh dia calon suamimu" balas Oliver tertunduk lesu. Berhenti berharap untuk mendekatkan diri kepada Hermione.

"Draco, dia teman baikku saat aku kecil..."

"hey kau jangan salah paham dulu" ucap Hermione menghentikan langkah Draco yang menyeretnya pergi menjauhi Oliver.

Semakin jauh dan menjauh dari Oliver yang sendiri berdiri tegak seperti patung melihat Hermione dengan sadisnya diseret habis-habisan oleh Draco.

Ingin rasanya Oliver menghentikan langkah cepat Draco, namun apa daya, perannya disini tak cukup kuat untuk melawan calon suami temannya itu.

"HENTIKAN!" teriak Hermione kesal karena Draco tak menghiraukan ucapan Hermione.

Hermione menghempaskan genggaman Draco dipergelangan tangannya. Semua mata tertuju pada pasangan kekasih itu

"Berhentilah bersifat seperti anak kecil, Draco!" ucap Hermione masih dengan kekesalannya, menatap tajam manik kelabu Draco yang masih dalam keadaan emosi tingkat tinggi.

"aku tak suka dengan sifatmu barusan! kau bukan Draco yang aku kenal, a-aku tak habis pikir begitu sombongnya kau dengan Oliver" tatapan sadis itu muncul. Ia bahkan tak menghiraukan lagi pada siapa ia berbicara. Hermione benar-benar marah saat ini.

"please leave me alone Draco" pinta Hermione seraya menarik kopernya menjauhi Draco, butir air mata jatuh mengenai bibir merah Hermione, pelupuk matanya tak sanggup membendung air mata nya.

"Hermionee! Please wait, mionee!" panggil Draco seraya berlari mengejar Hermione. Kerumunan orang banyak membuat tubuh langsing Hermione sulit dilihat.

Jantung Draco berdetak kencang, seringkali membuat dadanya nyeri sakit, namun Draco tetap terus mengejar Hermione, ia tak mau dikalahkan lagi oleh penyakit bodoh itu.

"aaarrrgghhh" benar dugaan Draco, luka yang belum sepenuhnya sembuh itu berulangkali berdenyut sakit membuat Draco tertuduk jatuh seraya mememegang dada kirinya.

Nyeri itu sangat amat menyiksa tubuhnya, Nyeri yang tadinya hanya berada di dada kirinya, kini seolah menjalar ke bagian tubuh lain. Nyeri itu lambat laun membuat Draco tumbang. Ia tak mampu lagi untuk berdiri, apalagi mengejar Hermione yang sudah pergi meninggalkannya.

Saat ini Draco benar benar membutuhkan seorang untuk menolongnya, namun apa daya, tak ada orang yang mau menolongnya.

Oh tuhan, bagaimanakah nasib Draco nanti? Apakah dia akan baik-baik saja? Atau malah?

.

TBC.

Maafkan aku sobaat :(( . aku bikin Draco sakit lagi. AKU pengennya Draco sehat walafiat, tapi itu impossible*sok ke'inggrisan*! Mana mungkin luka tusuk itu sembuhnya cuman dlm waktu 2 bulan? Sebenernya nyesel banget bikin Draconya sakit:((. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. .

Nah mau tahu kelanjutannya? Lets go to the next chapter! Chapter 8! Dijamin ngga seru!*eh*

Reviewnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!