Genre : Romance and Comedy, terlalu ajaib kalo jadi angst
ha ha ha haaah~ (-_- gejala author belum makan obat rabies)

Rating : T (belum jadi SMUT)

Cast : Kim Himchan, Bang Yongguk, Jung Daehyun, Choi Junhong a.k.a Zelo, Moon Jongup, Yoo Youngjae

Guest Cast : Bang Yongnam

Main Pairing : BangHim

Other Pairing : Masih belum terungkap(?)

Warning : OOC, Yaoi, Shonen-ai, Don't like? Don't read.

Disclaimer : Semua cast di dalam FF ini sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa, Ortu mereka masing-masing, Ts Entertainment dan BABYz sejagat MATO planet dan Bumi. Kecuali FF (rasa) original miliki Monstertokki. Jika ada kesamaan 85 % pada fanfic lain harap beritahu monstertokki, pengen baca soalnya#laaah!

Warning! Diharapkan ketika membaca tangan diatas semua, jangan di taro sembarangan, apalagi naro di atas paha...temen. (Ya Na Mean?!)

Summary: Himchan berpacaran dengan stalkernya, sedangkan Daehyun anti-yaoi a.k.a homophobia. Bagaimana tanggapan kedua magnae line, Jongup dan Junhong mengenai hal ini?


Di Chapter sebelumnya:

"I'm Falling in love Dae~"

"Hah?!" entah sepertinya Daehyun salah mendengar atau hyungnya salah ucap. Ia mendengar Himchan mengatakan jatuh cinta atau sesuatu seperti itu.

"Hyungmu ini jatuh cinta dengan seorang stalker." Himchan tersenyum dibalik telpon.

"..."

"Dae? Daehyun? Jung Dae-"

Hanya keheningan setelah mengakhiri pembicaraan dengan hyungnya.

"Aku harap semua ini hanya mimpu buruk...di hari yang buruk."

.

.

.

.


Chapter 2: Ini bukan masalah, kan?!


Decit pintu tertutup dan terkunci rapat dari sebuah ruangan gelap nan pengap, hanya sorot redup lampu yang menerangi. Lembar demi lembar foto menutupi dinding ruang. Sosok itu perlahan melangkahkan kakinya ke tengah altar di ruangan tersebut, dipenuhi lilin dan botol kaca di atasnya terpampang sebuah celana dalam tergantung dalam sebuah figura. Hanya Sebuah manekin berpakaian lengkap, berdiri tegap menghadap altar yang menemani sosok itu.

"Sekarang sudah lengkap." Ia meletakkan botol kaca itu diantara tumpukan botol didepannya.

"Kau tahu? Kau selalu bisa mengejutkanku." Sosok itu mendekap dari belakang manekin yang berada disamping altar.

Pandanginya satu per satu isi botol-botol itu, semua terlihat berisikan sampah tapi baginya itu sebuah artefak yang patut di museumkan olehnya seorang. permen karet bekas hingga aksesoris, matanya tertuju pada botol kecil baru ditaruhnya, yang berisikan beberapa helai rambut berwarna coklat.

"Baiklah, aku akan menjadi namja-chingu yang sempurna untukmu, Hime chan." suara kekehan berat memenuhi seluruh ruang.

Sosok lain mengusik keheningan dengan sekali tendangan pada pintu.

"Yongguk! CD Slipknot-ku man-" ucapannya terhenti melihat sosok dihadapannya sedang memeluk manekin.

Keduanya hening saling berpandangan. Keduanya membeku di posisi masing-masing. Mata keduanya tertuju pada benjolan di celana Yongguk.

"Ckckck! Noona, aku menemukan manekinmu! Yongguk sedang 'memperkosa'nya " teriakan keras menyadarkan Yongguk dari posisinya.

"YA! Yongnam!" teriaknya pada sosok lain yang sedari tadi sudah berlalu meninggalkannya.


"Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan setelah bunyi..'beep'" Hanya itu yang terdengar ketika Himchan mencoba hubungi Daehyun dan Zelo.

"Aneh." Ucapnya pada dirinya sendiri, tidak biasanya mereka mematikan ponsel apalagi dilangit yang masih cerah seperti ini, terutama Zelo tidak bisa diam melihat ponsel berbunyi atau sekedar mengecek pemberitahuan SNS.

Diraihnya ponsel disakunya, menghubungi orang yang pasti menjawab jika ditelpon.

"Yeobeoseyeo?" ucap seseorang dibalik telpon.

"Jonguppie, kalian dimana?"

"Eoh? Kami sedang-"

"Tut...tut...tut...tut" belum sempat jongup mengatakan ia dimana, pembicaraan mereka diputus sepihak.

"JONGUPPIE~! YA! MOON JONGUP! Ah! Shit!" Himchan menggenggam ponselnya dengan erat. Ingin rasanya menghempasnya sekarang, jika ia tak segera menyadari jika ponsel itu mahal. (author: *jongkokan dibawah bersiap nangkap tu ponsel*)

"Padahal aku baru mau pamer punya namja chingu. Mereka gak asik!" rutuknya sambil 'pout'kan bibirnya kesal. Sangat manyun hingga siapa pun yang melihatnya akan menciumnya.

"Ah~ mood-ku berubah, malas ke kelas." Ucapnya pada dirinya sendiri. Ia merasa dikerjai oleh para dongsaengnya, pikirnya dongsaengnya cukup kelewatan kali ini.

Ia pun melangkahkan kakinya menuju rumahnya, dan kali ini tanpa 'stalker' mengikuti. Padahal baru sebentar, sekarang ia malah merindukan diikuti 'stalker' lagi.


Begitu malas rasanya membuka mata setelah kejadian kemarin, para dongsaeng-nya cukup kelewatan. Ia menggeliat ke sana kemari dari dalam selimut, batin yang konflik antara harus pergi atau tetap berada di rumahnya, tidak ingin bertemu orang, ia masih kesal sampai sekarang. Himchan paling tidak suka ketika ia ingin bercerita, para dongsaengnya tertidur atau kabur. Walaupun sebegitu tidak pentingnya cerita Himchan, orang harus mendengarkannya.

"Ting Tong!" mendengar suara bel pintu rumahnya, ia mau tak mau harus bangkit dari kasurnya.

"Ting tong! Ting tong! Ting tong! Ting tong!" suar bel yang berulang ditekan membuat Himchan geram dan mengumpat dalam hati, rasanya ia ingin men-sate orang yang menekan belnya.

"IYA! TUNGGU SEBENTAR!" teriaknya sambil memutar knop pintu dan mengusap matanya kasar.

Pintu sudah terbuka lebar, tapi Himchan masih mengusap matanya.

"K-kau j-jadi berangkat atau tidak?" suara berat nan serak membelalakan mata Himchan.

"eoh?" Ia begitu kaget hingga membulatkan matanya dan rasa kantuknya hilang dengan tiba-tiba.

Himchan masih tidak percaya ia lihat di depannya. Ia memandanginya cukup lama memastikan apa yang ia lihat. Stalker yang selalu mengikutinya ada di depannya berpakaian rapi. Benar-benar rapi, kaos putih dibalut blazer serta jeans. Berbeda dengan kemarin. Berantakan, menyeramkan dari atas hingga ke bawah.

" . .tidak?" Yongguk mengucapkan setiap kata dengan sangat lambat sedangkan Himchan hanya mengerjapkan kedua matanya, sangat perlahan.

"eoh?" lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari mulut Himchan. Ia tak tahu harus berbicara apa pada namja berpenampilan maskulin sempurna di depannya.

"Mungkin kau masih mengantuk, aku akan pulang saja." mendengar itu Himchan menggenggam tangan Yongguk dan menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Jangan pulang!" Ia pun menarik Yongguk ke dalam rumahnya.

"Tunggu di ruang tamu, aku akan siap 15 menit." Ia menunjuk ruangan yang tidak jauh dari pintu masuk dan berlari menuju kamar.

Ini bukan pertama kalinya Yongguk masuk ke dalam rumah ini, ia tahu persis setiap sudut ruangan. Tapi ini pertama kalinya ia diundang masuk ke dalam rumah, bahkan oleh Himchan sendiri. Ia masih sedikit tidak percaya ini adalah nyata, ketika bangun dan mengecek kontak ponselnya barulah Yongguk sadar ini bukanlah mimpi. Ia sudah mempersiapkan segalanya untuk hari dimana Himchan jadi pacarnya, tapi ia tak menyadari hari itu adalah sekarang. Ketika tepat berdiri di depan sofa, bukan hendak duduk ia malah terpikir sesuatu sambil menyeringai. Seringai penuh makna yang tidak baik. Ia berjalan menuju kamar Himchan, putarnya knop pintu. Tidak dikunci. Langkahnya begitu tenang, tidak seperti perampok. Karena memang ia sudah sering melakukan hal ini. Terdengar gumam sebuah lagu dan suara air. Ia tahu persis kali ini Himchan sedang mood bagus. Dibukanya gagang pintu kamar mandi. Himchan tanpa apapun yang menutupinya, walaupun tersamar oleh kaca dinding, Yongguk dapat membayangkan jelas tubuh mulus nan putihnya Himchan dengan tetesan air membasahinya. Sesekali ia mengulum bibir bawahnya, berharap Himchan mendatanginya dan mengulang kejadian di gang itu. Teringat kembali kejadian di gang itu, Yongguk tak habisnya mengumpat dalam hati ketika ia menjauhkan tangan Himchan dari 'junior'nya. Tangan yang ia selalu ia impikan untuk berada disana. (author: apa ini! Sapa yang nulis ini! *nampar muka sendiri*) Air pancuran berhenti mengalir tanda Himchan selesai mandi. Yongguk pun segera menutup pintu dan kembali ke ruang tamu dengan segera.

20 menit sudah berlalu, Yongguk tahu Himchan sekarang sedang memilih baju untuk ia kenakan. Himchan selalu terjebak di sana entah itu warna yang terlalu mencolok baginya, atau ia merasa terlalu simpel, selalu ada yang ia permasalahkan ketika berpakaian.

"Maaf sudah lama menunggu." ucap Himchan membuyarkan lamunan Yongguk.

Himchan kini berada di hadapannya memakai kemeja denim dan seperti biasanya skinny jeans. Tidak hanya itu, Himchan juga memakai make-up. Walaupun simpel tidak seperti make-up para yeoja, bagi Yongguk itu terlihat jelas. Tidak biasa. Ia hanya menggunakan di hari khusus. Seperti party, acara formal dan... berkencan.

"Gwenchana, Aku sudah biasa menunggumu." ucap Yongguk dengan suara berat nan maskulin, sambil tersenyum menunjukkan deretan gigi dan gusinya. Di pikiran Yongguk sekarang kata berkencan yang melekat erat hingga ia tak tahu apa yang katakan.

"Ah, Jinja? Berarti kau orang yang setia." Perkataan Himchan sontak membuat Yongguk meng'ehm' dan salah tingkah. Kali ini Yongguk hanya tersenyum simpul, mengusap tengkuk lehernya mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Dan aku..." lanjut Himchan sembari tersenyum, senyum yang berbeda.

Ia berjalan perlahan ke arah Yongguk hingga tepat berhadap wajah, ia lalu mengalungkan tangannya ke leher Yongguk dan mengeratkannya hingga tak ada jarak untuk Yongguk mundur atau menolak. Keduanya saling bertatapan begitu dalam, sepertinya ia tahu ke arah mana ini.

"Suka." bisik Himchan tepat di telinga Yongguk bagaikan semilir angin ajaib yang langsung memanaskan tubuhnya.

"Kajja! kita berangkat." Himchan menggenggam dan menarik tangan Yongguk.

Yongguk kembali menjadi orang idiot, pikirnya akan terjadi adegan 'erotis' antara ia dan Himchan. Ia masih tidak mengerti apa yang terjadi barusan.

"Hanya itu" pikirnya dalam , lebih tepat yang dirasakan Yongguk.

Tanpa sadar ia sudah berada di depan kampus, Himchan melepaskan genggamannya, mengecup pipinya lalu melambaikan tangannya ke arah Yongguk. Ia pun membalasnya dengan bodoh. Beberapa menit Yongguk berdiri di tempat itu, ia lalu melihat sekitar dan menyadari dimana ia berada.

"Ah! Apa yang terjadi barusan!" Yongguk mengacak rambutnya dengan frustasi.

"Kim Himchan, sekali lagi kau menghipnotisku." Ia menyengir hambar lalu menghela nafas.


"YA! Seharian ini kalian menjauhiku ada apa sebenarnya?" Himchan merangkul kedua magnae line yang sedang duduk asik tertawa.

Keduanya menghentikan tawanya, melirik ke arah namja disamping mereka yang akan bangkit dari tempat duduknya.

"YA! Jung Daehyun, kau mau kemana? Kenapa kau menghindar, eoh?" Himchan menarik lengan Daehyun hingga sekarang Daehyun menghadapkan tubuhnya ke arah Himchan.

"Ada apa sebenarnya ini?" lanjut Himchan.

Daehyun memandangnya dengan sinis dan dingin, tak seperti biasanya. Kali ini ia terlihat benar kesal.

"Sebaiknya kita bicara di tempat lain." Daehyun menyimbah tangan Himchan.

Daehyun menyimbah tangannya itu lebih tidak biasa. Bukan Daehyun yang biasanya. Himchan pun hanya bisa mengikutinya.

Di atas gedung bukan tempat yang sepi tapi juga tidak ramai. Hanya beberapa orang di atas, merokok, bersantai dan sebagainya. Tempat yang tenang walaupun anginnya kencang dan hawa dingin karena musim gugur yang akan segera tiba. Himchan dan Daehyun bersampingan berdiri bertumpu tangan pada pembatas gedung melihat ke arah kepalan tangan mereka masing-masing. Tanpa sepatah kata apapun.

"Kau gay, hyung? Tentu saja, untuk apa kutanyakan itu." Ucapan Daehyun cukup membuat hyung berambut coklat itu berbalik menatapnya dengan tatapan kaget.

"Himchan hyung, Apa yang akan kau lakukan diumur 50 tahun?" lanjutnya Daehyun.

"Apa maksudmu? Tentu saja Aku akan menghabiskan masa tuaku, pergi ke tempat yang kuinginkan." Himchan menautkan alisnya, sama sekali tak mengerti apa maksud dibalik pertanyaan Daehyun.

"Sendirian?"

"Tidak, aku akan bersama pasanganku." Senyum mengembang dari bibir Himchan, membayangkan dia dan Yongguk.

"Hanya kalian berdua? Kalian akan menghabiskan 30 tahun bersama-sama, kemana pun hanya berdua, tanpa anak kandung yang akan kalian ceritakan kisah betapa menakjubkan ia ketika lahir, tanpa cucu yang akan datang mengunjungi kalian ketika kalian tua. Apakah kau juga tidak memikirkan itu,hyung?" Senyum Himchan pun menghilang.

"Apa yang sebenarnya ingin kau katakan Dae?" Himchan menggunakan nada serius. Ia benar-benar tidak suka arah pembicaraan ini.

"Kau tak takut ia akan menularkan penyakitnya padamu, kau tak takut suatu saat ia akan pergi, entah karena penyakit HIV nya atau mungkin jika berumur panjang, ia akan berkeluarga dan meninggalkanmu. Setelah itu-"

"Jung Daehyun!"

Daehyun menghentikan ucapannya, mereka saling pandang. Himchan terlihat begitu geram dengan wajah merah padam.

"Untuk apa semua ini kau katakan? Ah~ Aku tahu kau menyukaiku, kan? Kau tidak terima aku berpacaran dengan namja lain." ucap Himchan dengan sangat percaya diri.

"Hyung... Astaga...Tuhan! Hyung, tidak semua namja disekitarmu adalah gay! Bisakah kau sekali saja tidak terlalu percaya diri dan mendengarkan orang lain?!" Daehyun berusaha menahan emosinya, tangan sudah terkepal siap memukul siapa saja disekitarnya.

"Kau mungkin tidak mau mengakuinya, tapi itu terlihat jelas, Dae." Himchan terlihat sedih sekarang.

Sepertinya kesalahpahaman ini tidak bisa terselesaikan. Himchan terlalu salah mengerti ucapan Daehyun. Tangan Daehyun sudah terkepal, jika ada Jongup tepat di sini, mungkin ia akan menjadi 'samsak' Daehyun, karena bagaimanapun ia tidak cukup berani memukul Himchan.

"Hyung. Kau benar-benar menjengkelkan." Daehyun memijit dahinya.

"Cemburu itu buk-" ucapan Himchan terputus.

"kau tahu... aku ini teramat sangaaat... BENCI HOMO! KAU MALAH JADI HOMO! MAKHLUK TERKUTUK DIBUMI! KAU PIKIR AKU MENYUKAIMU?! CIH, ITU SPEKULASI TERGOBLOOOOK…. YANG PERNAH KUDENGAR. APA KAU TIDAK WARAS HYUNG?!" Daehyun melepaskan emosinya.

Himchan hampir jatuh tersungkur ke lantai mendengar ucapan Daehyun. Ia tidak menyangka jika ia adalah homophobia seperti itu. Daehyun kembali menarik napas panjang mencoba menenangkan diri.

"Aku hanya ingin kau memikirkan masa depanmu. Jangan hanya memikirkan perasaanmu saja, hyung. Tapi pikirkan akan jadi apa kau nanti. Stalker-mu itu tak selamanya ada disampingmu." Daehyun meninggalkan hyungnya untuk merenung.

Awalnya bukan ini yang ingin Daehyun katakan, tapi karena ini menyangkut sahabatnya. Ia berlaku selembut mungkin dan sejelas mungkin. Terlihat agak kasar memang, tapi ini sudah paling lembut menurut Daehyun.

Himchan merenung sejenak, bukan merenungi dirinya, tapi ia memikirkan Daehyun. Himchan tak pernah mengira orang yang selalu disampingnya benar-benar rasis seperti dikatakan orang. Sekarang menjadi pikirannya bagaimana cara mengubah pikiran Daehyun tentang dia dan kata 'gay'.

"Hyung! Ternyata kau disini." Jongup menepuk pundak Himchan, membuat Himchan tersadar dari lamunannya.

Wajah Jongup dibasahi keringat begitupula Zelo yang berada tepat disebelahnya, mereka terlihat sangat kelelahan, nafas panjang diambil keduanya, sebelum berdiri dengan benar.

"Hyung, benar kau berpacaran dengan Daehyun hyung lalu memutuskannya karena orang lain?" Mata dan telinga Himchan hampir copot.

"Mwo?! Kalian mendengar dimana hal itu?!" Zelo mengeluarkan ponselnya dan menunjukan timeline twitter-nya. Hampir seluruh isi timeline membahas hubungan dia dan Daehyun serta foto ia sedang mencium Yongguk didepan gerbang. Ia melihat sekitarnya, menyadari beberapa orang sibuk dengan ponselnya masing-masing sambil sesekali melihat Himchan. Ia sama sekali tak sadar sedari tadi diperhatikan orang banyak yang berada disana. Himchan merasa jadi orang bodoh sekarang.

"Itu semua benar,hyung?" ucap Zelo sembari menarik ponselnya.

"eoh?" Himchan kembali menatap dua dongsaengnya.

"Ne...A-ani! Aku dan Daehyun tidak berpacaran. Tapi tentang foto itu memang benar."

"Jadi kau berpacaran dengan Yongguk hyung?" Himchan begitu kaget mendengar Jongup katakan bagaimana ia bisa mengenal Yongguk.

"N-ne, tapi bagaimana kau mengenal Yongguk?"

"Oh, itu aku tidak sengaja berkenalan dengannya." Jongup menunjukkan senyumnya.

"Jadi... kalian setuju jika aku berpacaran dengan Yongguk? Euum...maksudku kalian bisa terima jika aku berpacaran dengan seorang namja?" Himchan menggigit bibir bawahnya, ia tak yakin mendengar para dongsaengnya akan menyetujuinya.

"..." Jongup maupun Zelo hanya menatap kosong pada Himchan.

"Katakan sesuatu!"

"Ah~ NE!" keduanya terlihat kebingungan dan langsung meniyakan tanpa pikir panjang.

Himchan langsung memeluk keduanya. Senyum bahagia mengmbang di bibirnya. Tak menyangka para dongsaengnya menyetujuinya. Dalam pelukan kedua dongsaeng-nya saling berpandangan seakan bertelepati tapi Jongup sedikit menaikan bahunya tanda tak mengerti.

"Sekarang yang dipikirkan hanya bagaimana caranya membuat Daehyun tidak membenci gay." Himchan melepaskan pelukannya memandang keduanya, berharap ada solusi dari keduanya.

"Bagaimana jika kita carikan namja untuk Daehyun hyung." Perkataan Jongup membuat Zelo menggelengkan kepala menatap dengan wajah serius padanya.

"Ide bagus!" Zelo menepuk dahinya mendengar Himchan menyetujui ide bodoh Jongup.

"Bisakah ini berhasil? Sedangkan Daehyun homophobia seperti itu." lanjut Himchan sembari menyembulkan 'pout' imutnya. Zelo sedikit bernafas lega.

"Aku tahu seseorang yang sangat mungkin cocok dengan Daehyun hyung. Aku yakin ini akan berhasil." ingin sekali Zelo membenturkan kepala Jongup ke pagar pembatas.

Ucapan Jongup itu dapat membuat mereka terbunuh ditangan Daehyun. Jika Daehyun mengetahui rencana mereka, ia dan para hyungnya ini mungkin akan dibakar hidup-hidup disebuah tiang kayu. Memikirkannya saja sudah membuat Zelo bergidik ngeri.

"Kau kenapa Zelo-ya?" Tanpa Zelo sadari kedua hyungnya memandanginya.

"A-a-ani. Gwenchanayo" Zelo hanya menunduk pasrah memikirkan bencana yang akan terjadi karena ide teramat bodoh dari kedua hyungnya itu

Penat dan kesal jadi satu di pikirannya Himchan pergi entah kemana ketika ia melihat namja di depannya. Masih berpakaian sama dan tetap rapi seperti pagi tadi, berjalan mondar mandir telihat cemas di depan gerbang. Himchan bersembunyi di balik pria bertubuh besar di depannya hingga tanpa yongguk sadari melewatinya.

"Yong~gukkie~" senandung Himchan pada namja yang dipeluknya.

"Gukkie~ kisseu~" ia memajukan bibirnya berharap yongguk akan menciumnya.

Ia sama sekali tidak mengkhawatirkan sekitar yang mengamati mereka ataupun yang memfoto mereka. Sebenarnya, ini yang ia inginkan. Menjadi pusat perhatian di kampusnya.

"Kau sadar sedang diamati semua orang, hm?" Yongguk mengusap pelan rambut namja chingu-nya. Himchan hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut.

"Benarkah kita diamati?" Himchan menatap mata Yongguk sangat dalam dan menggenggam erat tangannya.

"Kau memang sengaja, ya?" Yongguk mencubit hidung Himchan sangat pelan. Mereka berdua pun tertawa. Sukses membuat sekitar ribut dan 'blitz' dari ponsel menyoroti mereka berdua.

"Kau ingin langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" senyum namja berambut latte mununjukkan deretan gigi dan gusinya.

"Kita disini sebentar, aku lelah." Himchan memejamkan matanya menyenderkan kepalanya dipangkuan Yongguk, Yongguk pun dengan sigap membuka blazernya dan menyelimuti Himchan dengan blazernya. Walaupun tidak ada kerumunan, tapi sekilas terdengar jeritan-jeritan Yeoja melihat tingkah laku mereka.

"Disini sangat ramai, apakah kau yakin tidak ingin pulang dan tidur dirumah saja?" Yongguk menatap Himchan memejamkan matanya sembari tersenyum lalu menggelengkan kepala.

"Disinilah aku merasa nyaman, mendengar jeritan para yeoja yang mengagumiku membuatku bisa melupakan kesalku."

"Siapa membuatmu kesal?" Tanya Yongguk dengan suara beratnya nan serius.

"Neo!" Himchan membuka matanya menunjuk ke arah hidung Yongguk. Sontak membuat Yongguk membulatkan matanya. Himchan pun bangun dan tertawa terbahak-bahak. Yongguk masih diam tak percaya. Himchan pun menghentikan tawanya lalu bersender di bahu Yongguk.

"Ani~, aku hanya ada masalah dengan sahabatku."

"Masalah apa? Bicaralah, aku siap mendengarkannya." Itulah kalimat yang Himchan tunggu sedari tadi, tapi ia tak bisa menceritakan pada Yongguk sedangkan mereka baru berpacaran. Himchan tak mau membebani Yongguk dengan masalahnya.

"Nanti sajalah aku ceritakan. Aku pinjam lagi pahamu sebentar." Himchan langsung menarik kaki Yongguk, membaringkan tubuhnya sembari menggenggam tangan yongguk. (author: kayak foto prewedding -,-a)


Kaki Daehyun melangkah entah kemana, ia tak mungkin kembali ke kampus, ia juga tidak mungkin ke CoffeShop langganannya yang ia biasanya datangi bersama Himchan. Ia terlalu emosi bahkan untuk mengingat tentang Himchan. Kaki terus menuntunnya hingga tanpa sadar ia memasuki sebuah Net Cafe. Matanya menjelajahi sekitar, poster berbagai permainan game online pun terpampang di dinding.

"Mianh-" Tanpa sadar ia menabrak seseorang didepannya hingga tersungkur.

"Gwechan-" Seseorang namja di depannya menongakan kepalanya, keduanya saling bertatapan.

Namja berambut coklat gelap itu menatap Daehyun begitu Intens, setiap bagian wajah Daehyun.

"Bibir." ucap namja itu.

"Mwo?!" Daehyun tak begitu jelas mendengar namja itu berkata apa, jika ia tak salah ia mendengar kata bibir.

"A-a-aniyeo!" jawab namja itu panik.

"Kenapa wajahmu merah?" Daehyun menunjuk-nunjuk wajah namja yang masih terduduk dilantai.

"eoh?! Jinjja?" Namja itu mengelus pipinya.

"Ne, sangat merah."

"Mungkin harinya yang sangat panas." namja itu berdiri sehingga keduanya sejajar.

"Mungkin saja... tapi tetap tidak masuk akal." gumam Daehyun.

Di musim gugur seperti ini seseorang merasa kepanasan itu hal yang tak masuk akal, bahkan Daehyun sendiri merasa kedinginan meski memakai sweater tebal dan scraft melingkar dilehernya.

"eoh?" Namja berambut gelap itu sepertinya mendengar Daehyun mengatakan sesuatu.

"Ani"

Tak beberapa menit, Daehyun sudah terduduk disalah satu kursi menghadap layar monitor, amatinya satu persatu ikon game dilayar, ia menekan sebuah ikon dilayar, game yang baru pertama kali ia lihat, bahkan mendengar namanya ia sudah penasaran dan lapar. Feeding Frenzy. Baru ia sadari game ini bukan game online, tugasnya hanya memakan ikan-ikan disekitarnya.

"Kau sangat payah!" Namja ditabrak Daehyun entah sejak kapan berdiri di sampingnya.

"hah?" Daehyun menongakkan kepalanya kearah suara.

"Lambat sekali, Kau seperti pemula yang baru memegang pc." ucap namja berpipi tembem itu sembari mengunyah cake.

"Ah! Ribut! Terserah aku!"

"Ah! itu! Ppali!" Namja itu mengoncangkan kepala dan bahu Daehyun.

Daehyun mengelakkan kepalanya.

"Sabar! Kau tidak tahu sangat sulit sekali memainkan game ini."

"Eiissh! Kau saja yang tak becus memainkannya." ucap Namja itu dingin

"Mwo?!" Mata Daehyun terbelalak memutar kursinya sehingga berhadapan dengan namja di depannya

"Kau tidak mendengarnya? kau itu PE-MU-LA. Yang lain bermain game online kau malah bermain permainan bocah."

"Ch, sombong! Sana pergi kau mengganggu!" Daehyun kembali menghadap layar monitor.

"Rencananya aku mau mengajarimu, sekarang aku unmood!" lelaki tadi menjulurkan lidahnya pada Daehyun pergi meninggalkannya.

"YA! Kau mau kemana?" ucap Daehyun pada namja yang hampir pergi meninggalkannya.

"Baiklah, aku akan membantumu." namja itu menghela nafas panjang, menarik kursi dan duduk disebelah Daehyun.

"Sudah tak usah membantu! Bantuanmu tak berguna." ucapnya dengan kasar.

"YA! Aku bilang akan membantu berarti aku akan membantu." Namja itu mengarahkan monitor ke hadapannya, Daehyun tadinya menolak, malah adu tarik-menarik dengannya. Daehyun pun akhirnya mengalah.

Mereka berdua duduk bersampingan sangat serius memandang layar. Sesekali mereka tertawa. Hingga Daehyun mencium bau yang tak asing baginya.

"Cheesecake!" ucapnya ketika melihat Lemon Cheesecake tiba-tiba ada disamping meja monitornya. Namja disebelahnya begitu serius tak sekalipun menoleh hingga meraba ke meja monitor, tempat ia meletakkan cheesecakenya tapi, hanya piring dan remah sisa. Ia pun melirik ke sampingnya.

"YA! Kau ini!" teriaknya pada Daehyun yang asik menguyah cheesecake sekali suap.

"hm?"

"Kau memakan milikku!"

"Jinjja? Ku kira kau menyodorkannya padaku."

"Aku hanya meletakkan dimeja bukan mempersilahkanmu makan."

"Oh, tapi apa boleh buat, cheesecakenya sudah habis." Ucap Daehyun santai sambil menyeruput soda yang ada disampingnya yang juga milik namja disampingnya itu.

"Neo! Neo!" namja berpipi tembem itu tak percaya apa yang dilihatnya, ia memasang wajah geram tapi seolah Daehyun tak peduli yang sudah ia perbuat.

"Ah~ lihat sudah jam berapa sepertinya aku harus pulang, lagi pula perutku sudah kenyang. Kamsahamnida."

"YA!"

"Annyeong!" Daehyun membungkuk lalu tersenyum melambaikan tangan pada namja disampingnya sembari berlari keluar.

"Ish!"


Suara latar belakang sebuah game terdengar begitu keras memenuhi ruangan walaupun hanya berisi 3 namja. Satu namja hanya duduk di pinggir kasur sambil merenung, sedangkan dua namja di depannya tengah sibuk dengan joystick yang mereka genggam.

"Hyung, kau masih marah dengan Himchan hyung?" namja bermata sipit itu menoleh ke belakang pada namja yang ia panggil kakak.

"Hm." Ia hanya membalas dengan deheman malas mengambil sembarang buku seakan ingin membacanya. Namja berbadan jangkung yang tadinya menatap layar tv sekarang ikut membalikkan tubuhnya menghadap namja dibelakang mereka.

"Sudahlah hyung. Itu kan kehidupan Himchan hyung, dia memiliki hak untuk mengatur hidupnya. Tapi...Kau tidak menyukai Himchan hyung, kan?" ucap namja jangkung itu.

mendengar ucapan dongsaengnya itu ia pun melempar buku yang ditangannya ke arah dongsaengnya itu dengan sekuat tenaga.

"YA! Kau gila?! Apa kau masih mempunyai otak, hah?! Aku masih normal! Gila!"

"Arraseo, Arrasseo, hyung. Mianhae, ne?" ucap Zelo meringis kesakitan.

"Kau jangan bicara seperti itu tentang aku dan dia, aku masih waras. Jika kau mengucapkan pikiranmu yang terkutuk itu aku akan membunuhmu dan menggantung kepalamu ditiang bendera." Ancam Daehyun.

"Hyung tidak perlu sekejam itu, pada Junhongie. Tapi jika kau memikirkannya, Junhongie ada benarnya, kau kenapa begitu mengkhawatirkan Himchan hyung, walaupun dia menyatakan gay, tapi dia kan tidak akan memperkosamu atau membuatmu menjadi gay seperti dia. Gay itu tidak akan menular, hyung." Ucapan Jongup ini dapat membulatkan mata Zelo dengan imutnya seperti bayi yang sedang terkejut.

Zelo langsung mencubit paha Jongup, keduanya berpandangan. Jongup sangat "polos" tidak mengerti maksud Zelo, hanya mengangkat bahunya sedikit. Sedangkan, Daehyun hanya diam dan merenung. Zelo masih bingung dengan ucapan namja berkulit tan disampingnya, padahal baru kemarin, Jongup berencana akan men'comblang'kan Daehyun dan temannya, sekarang ia malah melupakannya dan mengatakan Daehyun takkan dijadikan gay. Mungkin benar, bukan Himchan yang berencana menjadikan Daehyun gay, tapi Jongup.

"Hyung, kau tidak perlu memikirkan seserius itu, maafkan ucapanku tadi." Zelo menatap kasihan pada Daehyun, tidak seharusnya ia berkata seperti pada hyungnya walaupun ia kesal hyungnya berekspresi berlebihan terhadap kata gay.

"Sebaiknya kami pulang sekarang sebelum kemalaman. Annyeong hyung." Mereka berdua menunduk lalu segera pergi dari kamar itu.

"Jonguppie hyung, aku bermalam di rumahmu ya hari ini? aku sudah bilang sama ortu-ku aku mau menginap." Bisik Zelo sembari merangkul jongup. Jongup mengangguk kecil. Zelo yang senang langsung mencubit pipi dan memukul lengan hyungnya dengan keras, meskipun tidak sakit. Jongup hanya membalasnya sekali pukul. Mereka terlihat ceria kembali seperti kejadian tadi tak pernah terjadi.


"Hari ini kau begitu terlihat tidak ceria, apa perlu ku bunuh orang yang membuatmu seperti itu? Hm?" ucap Yongguk pada seseorang didepannya. Orang itu tak bergerak hanya diam pada posisinya.

"Apapun permintaanmu akan kuturuti, perintahmu akan kulaksanakan. Cukup kau katakan saja." Yongguk mengecup pundak orang didepannya.

Terdengar suara tawa kecil dibelakang mereka berdua. Meskipun sangat kecil tapi terdengar jelas karena ruangan itu bergitu sepi.

"Nah, pemirsa inilah yang dilakukan Bang Yongguk dikala depresi karena tidak lagi menulis lirik dan melakukan rap. Walaupun kami saudara kembar, bisa dilihat kami bertolak belakang dan segi mental." Ucap namja yang memegang handycam merekam aksi namja di depannya.

"Yongnam, berikan kamera itu!" Yongguk pun mendatangi Yongnam yang sedang memegang kamera, bukannnya memberikannya Yongnam terus merekam sambil berjalan mundur dan terus menyoroti wajah Yongguk .

"Bisa kalian bayangkan betapa depresinya hingga memeluk sebuah manekin dan memanggilnya Channie. Yongguk, apakah Channie itu nyata?" Yongguk pun menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak.

"Ne, Channie-ku nyata senyata kau dan kau. Aniyeo, dia lebih dari nyata dia adalah dewi berwujud manusia." Yongguk tersenyum simpul membayangkan wajah dan tingkah laku Himchan.

"Nah, buat Channie sebaiknya kau berpikir jutaan kali sebelum menerima Yongguk sebagai pacar. Karena Yongguk adalah namja yang memiliki gangguan jiwa." Ucapnya pada kamera dengan penekanan ucapan kata gangguan jiwa, ia lalu berlari sebelum Yongguk sadar akan ulahnya.

-To Be Continued-

A/N: Pasti ada yang tahu siapa yang bersama Daehyun, Sst! Ya! Kamu! diam-diam aja kalo tau! Yang belum tahu yo wesss...sabar ya... Yongnam ngapain coba ngerekam yongguk lagi bermesra ria ama manekin (-,-)a jangan salahkan author salahkan yongguk yang terlalu cabul *kabur dari amukan bangster*

FAKTA buat BABYz GENERASI KEDUA yang gak tahu siapa itu BANG YONGNAM, yups dari namanya aja udah ketara kalo satu keluarga ama YONGGUK, eitss..bukan satu keluarga ama MINAH girls day atau CAP teentops, ya..! Yongnam ini sodara kembar identiknya YONGGUK, Yongnam adalah seorang vokalis dari sebuah band rock dikorea dan siap-siap kecewa buat yang ngarep, dia udah punya cewek.

SPECIAL THANK TO: tiggerccino98 , Minseok's Area , Jang Taeyoung , kimparkshi1, bangxenon, Mokythatha, riri,himechan, himnyan, yang setia nugguin ff ni. Monstertokki lagi blackout ide buat ngelanjutin...belum lagi bingung cari kerja... pengennya jadi animator ato designer graphics ato DJ(?) sedih yah.. (kok jadi curcol -_-)

FOR: Achers26, banghimee, OkyNavy yang berharap ada DaeJae... ada gak ya? Gimana caranya Daehyun aja begitu...masa Youngjae yang hiperaktif. DaeJae itu bagaikan upin dan ipin. daripada monstertokki bingung jelasinnya, tunggu aja chapter selanjutnya.

1 REVIEW KALIAN SAMA DENGAN 1 NYAWA UNTUK PARA AUTHOR... VICTORY! (#o.o)9