Genre : Romance and Comedy, terlalu ajaib kalo jadi angst
ha ha ha haaah~ (-_- gejala author belum makan obat rabies)
Rating : T (belum jadi SMUT)
Cast : Kim Himchan, Bang Yongguk, Jung Daehyun, Choi Junhong a.k.a Zelo, Moon Jongup, Yoo Youngjae
Guest Cast : Bang Yongnam, Maslo (Soul Connection), Kuan (Soul Connection), Still Pm (Soul Connection)
Main Pairing : BangHim
Other Pairing : Masih belum terungkap(?)
Warning : OOC, Yaoi, Shonen-ai, Don't like? Don't read.
Disclaimer : Semua cast di dalam FF ini sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa, Ortu mereka masing-masing, Ts Entertainment dan BABYz sejagat MATO planet dan Bumi. Kecuali FF (rasa) original miliki Monstertokki. Jika ada kesamaan 85 % pada fanfic lain harap beritahu monstertokki, pengen baca soalnya#laaah!
Warning! Diharapkan ketika membaca tangan diatas semua, jangan di taro sembarangan, apalagi naro di atas paha...temen. (Ya Na Mean?!)
Summary: Yongguk yang menjadi pacar Himchan sekarang, bukanlah Yongguk sebenarnya. Setelah menjauhi Himchan, Daehyun menemukan teman baru yang lebih seru di Net Cafe. Kedua magnae menyusun rencana untuk menyatukan persahabatan Daehyun dan Himchan, masalahnya Apakah mereka sepaham?
Seminggu sudah Himchan dan Yongguk berpacaran, hampir seminggu pula Daehyun mengabaikan, seolah Himchan adalah makhluk astral yang tidak perlu diperdulikan keberadaannya. Ketika ber papasan senyum Himchan pun tak ia balas, bahkan ketika Himchan menghampiri Jongup dan Junhong, Daehyun selalu pergi menjauh. Seperti halnya sekarang.
"Hi! Lagi ngomongin apa?" Himchan menepuk pundak Daehyun dan Jongup yang duduk bersebelah-sebelahan. Daehyun menyimbah tangan Himchan, segera menyeruput sodanya dan beranjak dari kursinya.
"Kemana lagi?" ucap Zelo.
"Net Cafe." Ia melambaikannya tangannya pada Zelo dan menepuk pundak Jongup.
"Akhir-akhir ini Daehyun hyung sering ke net cafe, sejaaak…." Zelo menlirik ke Himchan.
Himchan menghela napas, menumpukan dagunya pada meja.
"hastag poor Himchan." Ucap Jongup kasihan, menepuk-nepuk punggung Himchan.
Himchan menoleh dengan wajah bagai mayat hidup kehilangan semangat. Bukannya ia tak senang jika jongup kasihan padanya. Tapi, perkataan jongup yang '4D' bin absurd itu yang membuat Himchan tambah badmood.
"hastag kubunuh kau jongup. Sekalian aja hastag koin amal untuk Himchan." Ucap Himchan, Jongup mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang ditodong senjata, sembari tertawa kecil.
Zelo menahan tawanya melihat ulah kedua hyung, walaupun sedang galau(?) mereka masih bisa bercanda.
Tiba-tiba saja ponsel jongup berbunyi.
"Yebeoseo?"
"…"
"ne."
"Annyeong." Senyum Jongup mengembang setelah menutup telpon. Tidak biasanya Jongup menerima telpon seceria itu. Zelo memicingkan mata pada Jongup.
"nugu?" ucap Zelo.
"teman."
"teman? Yang mana?"
"hm? Kamu gak bakal kenal." Zelo terlihat bingung, tak ada teman Jongup yang tak ia kenal. Dari teman sesama b-boys, teman sma,smp,tk, bahkan teman sewaktu bayi, semuanya zelo kenal. Begitupula Jongup, mereka selalu bersama sejak sma, reuni apapun mereka hadiri bersama, hingga kedua orangtua mereka akrab satu sama lain. Zelo penasaran pada orang yang membuat jongup tersenyum.
Suara riuh permainan game di sebuah Net Cafe di atasnya tertampampang tulisan "1004 NET" nama net cafe tersebut. Beberapa kerumunan namja berdiri di pintu masuk, padahal kompetisi DOTA sudah berakhir beberapa hari lalu. Menerawang diantara kerumunan, samar-samar terlihat namja rambut coklat terang melambaikan tangan pada Daehyun. Dengan langkah pasti ia masuki net cafe tersebut dicegat seorang namja tambun.
"Hei bro!" ucap namja tambun berkacamata, Daehyun menjabat namja di depannya sembari tersenyum.
"Hampir tiap hari ke sini, nih!" Lanjutnya sambil menepuk punggung Daehyun, hampir saja ia terjungkal ke depan.
"Dae!" teriak namja di belakang namja tambun tadi.
Namja yang ia temui pertama kali di net cafe ini.
"Tuh, di tunggu pacarmu dari tadi." Ucap namja tambun tadi sembari tertawa terbahak-bahak. Daehyun hanya meliriknya kesal, melangkah menuju namja yang memanggilnya.
"Jae!" sapa Daehyun pada namja berpipi chubby yang memanggilnya tadi. Tidak lama saling mengenal tapi mereka terlihat begitu akrab seperti teman bermain sejak kecil.
Setelah pertemuan pertama dengan Youngjae, Daehyun sering sekali ke tempat ini, tempat berteduh baginya dari kekesalannya. Dari semua orang yang ia kenal, hanya Youngjae yang sepaham dengan dia, seakan bisa membaca pikirannya. Walaupun cukup sering pula mereka tidak sepaham dan sering berdebat panjang lebar. Mungkin itulah yang membuat Daehyun betah di sini. Awalnya ia tidak menyadari jika namja berpipi chubby dengan rambut bagai helaian coklat adalah pemilik net cafe ini. Bisa dilihat mereka tampak seumuran, tapi berbeda dengan Daehyun, Youngjae tidak melanjutkan kuliahnya ia lebih memilih menjadi enterpreneur.
"Jae! Yoo Youngjae! Ooiii!" Si empunya nama menutup telinganya, padahal jarak mereka hanya beberapa senti, tapi Daehyun memang sedang ingin menjahili temannya ini memanggil namanya sambil berteriak seperti memanggil orang diseberang jauhnya.
"Ssst! Ribut!" teriak serentak orang-orang yang berada di net cafe tersebut. Youngjae berpura-pura tertawa tanpa suara sambil menunjuk Daehyun seperti mengejeknya.
"Pabbo Daehyun."
"Pabbo Youngjae."
"Loh?!"
"Cuma sesama Pabbo yang mau berteman dengan yang Pabbo." Daehyun merasa menang atas ucapan sembari menjulurkan lidah. Youngjae hanya melirik sinis, kesal karena ucapannya memang benar.
"Kita main di kamarku saja, hyungku bawa temannya. lagi." Namja berpipi chubby itu menunjuk kamarnya di loteng.
"Katamu gak boleh ada yang masuk kamarmu. Kenapa sekarang berubah? Dasar labil." Daehyun melirik kesal.
Sejak pertemuan pertama mereka di net cafe ini, pertama kalinya seseorang seperti Daehyun diajak masuk ke kamar nya ini, keluarganya sendiri ia larang memasuki kamarnya, termasuk kakaknya dan temannya sendiri, padahal mereka baru seminggu berkenalan, Daehyun sudah memiliki akses masuk kamarnya.
"Ini terpaksa, pabbo!
"Apanya yang terpaksa, bilang aja kalo mau pamer, kalo punya kamar keren."
"Ish! Anak ini! Pulang sana! Aku malas jadinya." Youngjae mengangkat kepalan tangannya ke atas seolah ingin memukul orang didepannya ini.
"Tadi ngajak, sekarang ngusir. Ckckck…Youngjae labil, pasti PMS." Setelah mengatakannya Daehyun terkekeh geli.
"Kajja! Sebelum aku berubah pikiran." Youngjae lagi malas berdebat dengan namja satu ini. Jika mereka bertemu selalu saja ada perdebatan, maupun hal yang mereka ributkan. Selalu, hampir setiap saat.
"Gelap!" ucap Daehyun ketika pintu kamar dibuka.
"Ish,sabar! Lampunya belum dinyalakan." Namja berambut coklat itu meraba dinding kamar mencari saklar lampu.
Sinar lampu memenuhi seluruh ruangan yang gelap tadi, terlihat beberapa poster game, dan miniatur mainan. Tepat bersender di dinding dua pc lengkap dengan monitornya di atas meja, tak lupa beberapa kabel serabutan halar melintang di antaranya. Beberapa remah snack yang sudah berjamur dan botol soda terlihat di meja itu.
"Mirip gua troll." Daehyun melipat kedua tangannya melihat sekitar, tak sekalipun ia bergerak.
"Ya! Apa maksudmu? Kalo gak suka pulang aja!"
"Serius?! Aku pulang jangan nyesel!" Ucap Daehyun membalikkan tubuhnya seraya menuruni tangga. Youngjae langsung membanting pintu.
1…
2…
3…
"Krekk!" Pintu terbuka, Daehyun kembali dan langsung masuk ke kamar itu, menutup pintu melempar tasnya sembarang, lalu melipat tangannya duduk bersila di samping pintu.
"kenapa balik?" ucap Youngjae yang sedang merapikan kamarnya.
"gak ada yang cegat aku tadi."
"Untuk apa dicegat?! Siaapaa kamu?" lemparnya bantal yang ditangannya.
Daehyun tak membalas langsung duduk di kursi depan monitor pc dan melempar semua sisa makanan di atas meja ke lantai. Youngjae dengan cekatan mengambil sisa makanan yang dilempar tadi, mengumpulkannya layaknya pemulung. (author: ikut bikin hastag kayak jongup ah~! #pooryoungjae *ditimbun sampah sama youngjae*)
"Jae." Panggil namja berambut coklat gelap itu.
"hm?" Youngjae berhenti dari kesibukkan memandang Daehyun yang masih sibuk dengan game Warcraft yang ada dimonitor.
"ani." Daehyun mengurungkan niatnya, dan terhening.
"Jae." Daehyun memberanikan diri, lalu memutar kursinya.
"waegeurae?" Youngjae menatap Daehyun, menunggu kata yang akan keluar. Daehyun berkali-kali menghela nafas, seakan memilih-milih kata-kata tepat.
"Apa reaksimu jika mempunyai chingu yang ternyata seorang gay?"
"KAU GAY DAE?!" mendengar ucapan Daehyun, Youngjae sontak membulatkan matanya tak percaya.
"BUKAN AKU! AKU BILANG JIKA! JIKA! JE I JI KA A KA! J-I-K-A!" teriaknya terdengar bagaikan teriakkan dengan lenkingan 11 oktaf sembari mengacak rambutnya kasar.
"hmm…arraseo! Arraseo! Gak usah teriak! Aku gak tuli." Youngjae mengusap telinganya sembari duduk di kursi bersebelahan dengan Daehyun.
"Menurutku sih, gak masalah. Gay ato Straight sama aja. Kalo hal itu kan itu hak dan pirvasi masing-masing." Kali ini mereka benar-benar tidak sepaham, ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran orang di sekitarnya ini.
"Apa gak malu sama kata orang? Kamu bakal di kira gay juga karena berteman dengan gay."
"Itu hanya ucapan orang-orang kolot dan berpikiran picik. Mereka itu orang yang hidup di masa lalu. Dunia sudah berubah. Cinta itu tidak harus karena namja dan yeoja, asal nyaman dengan orang itu. Cinta yang seperti itu gak jadi masalah." Daehyun terlihat berpikir dengan kata nyaman.
Youngjae seperti paham raut wajah Daehyun, yang sedang dibahasnya bukan pengandaian melainkan masalahnya sendiri.
"Di sini kita bukan mencari siapa yang benar atau salah, melainkan bagaimana kamu bisa menerima perbedaan, karena kita itu tidak hidup sendiri. Tapi, sebagai teman yang baik kamu harus bisa menerima baik buruknya dari seorang teman." Ia menepuk pundak Daehyun lalu tersenyum.
Senyumannya semakin lama bertambah lebar, tepukan pundak tadi pun perlahan berubah jadi cengkraman.
"Contohnya aku, seburuk-buruknya sifatmu aku masih baik terhadapmu!" Daehyun menyimbah tangan yang berada dipundaknya
"Ne, karena kamu gak punya teman lagi selain aku." Ia merenggangkan otot bahunya yang sakit akibat cengkraman Youngjae.
"Mianhae, aku cuman gak tega liat orang IDIOT, 'ngenes' melongo depan monitor." Balasnya dengan penekanan kata idiot.
Perang mulut yang tak berujung mulai di ruangan ini, tapi entah untuk waktu yang berapa lama, mereka akan tertawa dan bercanda, kembali fokus dengan game lalu kembali mengumpat dan saling mengejek. Yang mereka tahu pasti, mereka sangat nyaman dengan keadaan ini.
Semilir angin dingin mengehembus perlahan diantara dedaunan kering. Dalam hitungan hari, musim gugur berganti menjadi musim dingin. Orang-orang berjaket tebal dan syal melingkar hingga menutup sebagian wajah, lalu lalang hanya sekedar melewati taman. Sesekali berhembus pelan di telinga bagaikan bisikan kecil. Hanya dua namja duduk taman itu, bagaikan tidak peduli dinginnya menyelimuti keduanya.
"Kenapa kita ke sini, hm? Kau tahukan di sini dingin." Namja berambut latte itu memandang namja disampingnya tertunduk termenung memandang kakinya sendiri.
"Channie?" panggil namja berambut latte.
"Hm?" si empunya nama terkejut memandang namja di sebelahnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Yongguk menatap Himchan dengan perasaan khawatir, ia mengelus surai Himchan lembut.
"Aku bukan anak kecil, aku baik-baik saja." Himchan menepisnya perlahan.
"Apa kau belum berbaikan dengan Daehyun?" Mendengar pertanyaan tersebut mata Himchan terbelalak, 'bagaiman dia bisa tahu?' itu dipikirnya sekarang. Yongguk bahkan belum menyadari ucapannya tersebut.
"B-b-bagaimana kau tahu?" kini giliran Yongguk yang terbelalak, ia baru menyadari ucapannya.
"E-e-eum… ?"
"YONGGUK!" bentak Himchan
"e-e-eum..? Anggaplah aku tahu begitu saja." Ia mengusap tengkuknya, memandang ke arah lain memikirkan cara mengalihkan topik pembicaraan.
"Yongguk, katakan sejujurnya." Ia berbalik berhadapan dengan yongguk.
Yongguk hanya diam memandang ke depan. Himchan menghela napas panjang.
"Sudahlah jika kau tidak mau memberitahu." Himchan kembali tertunduk memandang kakinya.
"Channie?"
"Hm?"
"Apa benar, kau berpacaran dengan Daehyun dan putus karena aku?" Himchan membulatkan matanya tak percaya.
"MWO?! AKU TIDAK SEPUTUS ASA SEPERTI ITU HINGGA BERPACARAN DENGAN DAEHYUN." Yongguk menarik tangan Himchan dan mengisyaratkannya untuk diam. Tetapi, Himchan terlalu emosi hingga berdiri dan berteriak tidak memperdulikan banyak mata memperhatikan mereka.
"Ssst… Mianhae, aku mungkin salah informasi. Tenanglah." Himchan masih berdiri dengan napas tidak teratur.
Pejalan kaki di sekitar mereka, sontak menatap ke arah mereka, beberapa berbisik-bisik. Himchan sama sekali tak juga duduk. Ingin rasanya ia memukul Yongguk saat ini, Daehyun bagaikan adik kandungnya. Tidak di kampus, tidak pula bersama Yongguk ia mendengar hal itu. Ia sudah cukup muak mendengarnya berulang-ulang dimanapun berada. Yongguk kebingungan, hanya sebuah ide di otaknya, entah itu akan berhasil atau tidak.
"Sebagai permintaan maafku, aku akan mengajakmu nonton pertunjukkan musik di Hongdae."
"Jinjayo?!" Himchan berubah 180 derajat, matanya berbinar sembari menunjukkan gigi kelinci khasnya, berseri bagai yeoja 17 tahun yang diajak berkencan namjachingunya.
"N-n-ne." ia sebenarnya asal ucap saja, tidak menyangka Himchan begitu semangat.
"Sekarang!"
"Sekarang?" Yongguk mengulang ucapan Himchan tapi lebih seperti bertanya.
"Kajja!" Himchan menarik tangan Yongguk. Sepertinya Yongguk sudah salah ucap (lagi).
"Gukkie, ramai sekali di sini." Bisik Himchan pada namja di sampingnya.
Benar ucapan Himchan, hari ini Hongdae begitu ramai tidak seperti biasanya, lebih ramai dari sebelumnya, mungkin karena ini hari jum'at. Kumpulan orang bersorak-sorak, ada beberapa menganggukkan kepala mengikuti alunan musik. Di sinilah Hongdae, pusatnya musik di korea selatan. heavy metal, punk, hip hop hingga electro semua ada di sini. Memang tak seheboh Music bank atau sekeren panggung Mnet, tetapi di sinilah beberapa orang menyalurkan bakatnya berharap ada promotor yang melirik mereka untuk diajak masuk dapur rekaman.
"Plak!" tabokan keras dari arah belakang kepala Yongguk, membuat Himchan dan Yongguk menoleh ke belakang.
Seorang namja merangkul pundak Yongguk, bertubuh sama tinggi, sorot mata yang sama dan….wajah yang sama. Himchan memicingkan mata mengamati namja di samping Yongguk.
"Guk! Siapa ini?" Yongguk masih meringis kesakitan tidak memperdulikan namja disebelahnya.
Himchan melihat wajah Yongguk lalu melihat namja tadi berulang-ulang.
"Ne, kami memang mirip." Namja itu seakan membaca pikiran Himchan.
"kami saudara, lebih tepatnya kembar identik." Lanjutnya.
"Bang Yongnam imnida. Kau pasti Channie." Namja itu mengulurkan tangannya. Tapi tidak dihiraukan Himchan.
Himchan masih tertegun, ia masih melakukan hal sama, berusaha mencari perbedaan antara Yongguk dan Yongnam , selain pada rambutnya. Yongnam memiliki rambut hitam dan sedikit berantakan. Jika mereka tersenyum, mereka sangat mirip.
"Yongguk perkenalkan aku pada yeoja manis ini." Ia menepuk abs saudaranya.
"Nuguya?" Yongguk menoleh ke kiri ke kanan lalu menatap Yongnam. Yongnam menunjuk Himchan menggunakan isyarat mata. Himchan menunjuk dirinya sendiri.
"c-c-chogiyo,siapa yang kau maksud yeoja?" Himchan akhirnya mengeluarkan suara beratnya, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan.
"K-k-kau Channie itu, kan? Channie yang sering disebut-sebut Yongguk, benar,kan?" tanyanya mencari kepastian. Himchan hanya mengangguk cepat.
"Ne, namaku Kim Himchan. Tapi terkadang aku dipanggil Channie."
"A~ aku mengerti sekarang." Ia lalu melirik Yongguk lalu menyeringai.
"Pantas aja kamu suka sama dia, dia lebih cantik dari yeoja. Kalau secantik ini, aku juga mau." Bisik Yongnam pada Yongguk. Yongguk menoleh ke arah Yongnam.
"Kamu ngapain ke sini? Katanya minggu depan baru tampil." Ucap Yongguk berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kamu gak tau?" ia menatap pada saudaranya dismapingnya. Yongguk hanya menggelengkan kepalanya.
"hah! Jinjja?! Kau tidak tau?!" Yongnam berpura-pura terkejut.
"Ne! Ppali! Katakan!" bentak Yongguk sedikit kesal.
"Hari ini, hari jum'at kau lupa?" Yongguk menepuk jidatnya dengan keras.
"Ada apa hari jum'at yang ku tahu hari ini hari libur." Ucap Himchan dengan polosnya.
"Malam ini panggung Hip hop. Semua rapper pasti ngumpul." Yongnam melirik Yongguk yang mulai berkeringat dingin mendengar kata rapper.
"By the way, Sedang apa kalian di sini? Ah~ aku tahu, kencan, kan?" ia menunjuk Himchan dan Yongguk. Seketika terlihat rona wajah mereka berdua. Mendengar kata kencan membuat mereka bingung menjelaskannya. Rasanya tidak ingin membenarkannya, karena ini dadakan tanpa persiapan seperti orang berkencan sesungguhnya tetapi, mereka juga tidak bisa mengelak karena ini memang terlihat seperti mereka sedang berkencan.
"Apa kalian udah…" bisiknya lagi pada Yongguk di ikuti seringai penuh makna. Kali ini Yongguk sudah tidak bisa menahan kesalnya, ia menyikut perut Yongnam hingga membuatnya meringkuk dilantai.
"G-gwenchanayo?" Himchan menghampiri Yongnam, tapi tangannya malah ditarik Yongguk.
"Dia tidak apa-apa." Ucap Yongguk datar.
"YA! Kau kejam sekali pada saudaramu." Himchan memukul punggung Yongguk dengan keras. Yongguk malah tersenyum.
"Channie, kami biasa melakukan hal ini. Dia hanya berpura-pura." Ia mencubit pipi Himchan gemas, Himchan hanya mengerjapkan matanya.
"aigoo~ manisnya couple satu ini. Kalo noona melihat kalian pasti noona akan jejeritan ala fans." Ucap Yongnam yang sudah bangun terlihat baik-baik saja.
"Noona? Kamu punya noona?" Himchan memandang Yongguk.
"Ne, dia itu dulunya fujoshi." Jawabnya.
"sampai sekarang. O ya, Himchan-ssi apakah kau sudah tahu tentang 'kamar pemujaan' milik Yongguk." Tambah Yongnam.
"Kamar pemujaan? " mata Himchan berbinar binar.
"Ah~ kami sepertinya sudah terlambat. Kami harus pergi." Yongguk melihat jam tangannya, lalu menyeret Himchan pergi menjauhi Yongnam sebelum dia membongkar rahasianya. Himchan membungkuk sedikit pada Yongnam dan berlalu bersama Yongguk.
Tertinggal Yongnam sendiri memandangi punggung keduanya heran.
"Kayaknya Himchan belum tau." Yongnam menyeringai, seringai dengan ide-ide 'berbahaya'.
"Gukkie, apa maksudnya tadi? Kamar pemujaan?"
"Uh? Mianhae, aku tidak mendengarmu."
"Aku bilang-"
"Jepp!" teriakan keras dari belakang mereka berdua.
"YA! JEPP BLACKMAN! AKU TAU KAMU DENGAR!" suara yang sama, Himchan menoleh melihat ke arah sekumpulan namja yang mendekati mereka.
"Buk!" Pukulan keras tepat mendarat di kepala Yongguk dari namja yang berteriak tadi.
"S-s-sedang apa kalian di sini?" Yongguk terkejut melihat tiga namja di hadapannya.
"seharusnya kami yang bertanya! Ngapain kamu di sini?" ucap namja berambut pirang yang sebagian rambutnya menutup mata kirinya.
"a-aku hanya menonton." Yongguk tersenyum hambar pada mereka.
"kamu pasti bercanda." Namja bertopi memukul kepala Yongguk dengan keras.
"Soul Connection gak lengkap, kalo gak ada kamu." Ucap namja yang tiba-tiba merangkul Yongguk dengan senyum lekat seperti milik Yongguk.
"Kamu aja yang merasa kurang, gak ada Jepp, gak ada dongsaeng yang bisa kamu ajak maen game dan di bully, iya,kan?" tambah namja berambut pirang.
"Ah~! kalian Soul Connection yang terkenal itu, kan? Aku mengenalinya waktu menyadari ada Kuan di sini." Himchan sepertinya baru menyadari siapa yang tengah mengelilingi Yongguk sekarang. Himchan memandang lekat pada Kuan.
"Uh? Ne, kami Soul Connection. Yongguk, Agassi ini siapa?" Namja berambut pirang itu menoleh ke Himchan lalu beralih pandangan pada Yongguk kembali.
"YA! Siapa yang kamu panggil agassi?!" Himchan mempertegas suara baritonya membuat tiga namja tadi tercengang.
"Wooaa~ dia namja! Yongguk, ini pacarmu?!" ucap namja berambut coklat, tersenyum pada Yongguk ia menatap tak percaya pada dongsaengnya ini.
"Ne, perkenalkan ini Kim Himchan." Yongguk dengan bangga memperkenalkan Himchan pada hyungnya sembari tersenyum menunjukkan gigi dan gusinya.
"Kim Himchan imnida." Himchan membungkuk sedikit memberi hormat.
"Maslo." Ucap namja berambut coklat itu tersenyum dengan deretan giginya.
"Still pm." Ucap namja berambut pirang dengan tatapan tajam walaupun tersenyum.
"Kuan." Ucap namja bertopi tersenyum cerah mengulurkan tangan pada Himchan , tapi Yongguk langsung menghadang dengan menjabat tangannya menggantikan Himchan.
"Jepp, Kamu tampil juga hari ini." Terlihat mereka memang tidak percaya ucapan Yongguk, Still pm menanyakan hal yang sama lagi.
"Ani." Jawabnya dengan suara beratnya, terdengar seperti tidak bersemangat.
Mereka pun akhirnya menyadari ucapan Yongguk itu serius.
"Bagaimana bisa kalian saling kenal?" Himchan mulai memecah kecanggungan.
"Jepp ini anggota kami, kamu gak tau?" Tanya Still pm seolah tidak percaya.
"Jinjja?!" Himchan tampak lebih tidak percaya ucapan Still Pm.
...
...
Tawa ketiga bergitu keras diantara keramaian, mereka tertawa terbahak-bahak. Beberapa detik setelah mengatur napasnya, Still Pm mencoba angkat bicara.
"Kasihan sekali nasibmu Jepp, bahkan pacarmu sendiri tidak tahu kalau kau bagian dari Soul Connection." Ia menepuk punggung dongsaengnya sembari menahan tawanya.
"Itu karena aku baru setahun bersama kalian." Yongguk membela diri menatap para hyungnya.
"Seperti memang wajahmu mudah terlupakan, jika diantara kami." Yongguk tertunduk mendengar ucapan Kuan. Jika dibandingkan dengan Kuan, Yongguk cukup lama bersama Soul Connection.
Tiba-tiba terdengar suara riuh dan tepuk tangan tertanda pertunjukkan di atas panggung sudah selesai menyambut pertunjukkan berikutnya.
"Sepertinya kita bentar lagi kami tampil. Kami harus pergi! Bye!" ucap Maslo menarik kedua member satu grupnya.
"Bye Himchannie!" Still PM dan Kuan berbarengan mengedipkan mata dan mengatakannya pada Himchan, mereka pun saling bertatapan sinis, seolah lupa jika Himchan bersama namja-chingu-nya disamping.
"bye…" ucap Himchan sembari tersenyum dan melambaikan tangan.
"Para rapper itu sepertinya keren sekali." Ia memukul lengan Yongguk, bagaikan yeoja yang baru bertemu namja tampan, tanpa menggubris namja yang tak kalah tampan disampingnya.
"Aku juga keren." Ucap Yongguk dengan suara beratnya.
"ani, kamu kan MANTAN rapper. Gak keren!" sahut Himchan kesal.
"kalo aku kembali menjadi rapper, kamu akan berpikir aku keren?" Ia melihat ke atas panggung sembari tersenyum simpul, berharap Himchan akan memeluknya dan berkata 'Jinjjayo?!'
"Entahlah." Kata yang tidak diharap keluar dari mulut Himchan. Ia menoleh ke samping, tapi Himchan sudah berjalan menjauh dari posisinya. Meninggalkan Yongguk.
"Channie! Kim Himchan!" teriak Yongguk yang berjarak jauh dibelakang Himchan.
"Aaah~ lelah sekali." Daehyun merentangkan kedua tangannya, membaringkan diri di atas ranjang, sedangkan kakinya masih menjuntai di lantai.
"Gak masuk akal! Ada juga aku yang lelah harus menjadi 'bodyguard'mu, kalo tidak kamu bakal ditembak musuh." Ucap Youngjae menendang kaki Daehyun sebagai isyarat untuk bergeser agar dapat membaringkan tubunhnya juga.
Mereka berdua tanpa sadar saling bertatapan. Youngjae segera mengalihkan pandangannya, menutupi rona merah di pipinya.
"Kamu kenapa?" Daehyun membalikkan tubuhnya ke kanan menghadap punggung Youngjae.
"Gwenchana." Ada perasaan aneh tiap menatap Daehyun, tiba-tiba saja jantungnya berdebar lagi.
"Kamu kenapa?" kali ini Daehyun menengok ke arah wajah Youngjae, tanpa sengaja ia melihat sekilas pipi Youngjae yang merah.
"Aku bilang tidak apa-apa!" Youngjae segera bangkit dari posisinya, mendudukannya dipinggir kasur tersebut.
Daehyun menyeringai jahil, ia duduk bersebelahan dengan Youngjae lalu merangkulnya.
"kau menyukaiku?" bisik Daehyun, bagaikan semilir angin di musim panas menggelitik di telinga Youngjae, membuat seluruh wajahnya menjadi merah tomat.
"YA! A-a-a-apa maksudmu?!" Youngjae panik segera berdiri menghindari Daehyun.
"A~ pantas saja kamu mendukung gay. Ternyata…" Daehyun menggantung ucapannya, melihat reaksi Youngjae yang bingung dan terlihat panik.
"Ternyata apa? Aku benar-benar tidak mengerti." Ia mencoba terlihat tenang, walaupun keringat dinginnya mengucur deras di wajahnya.
"Sudahlah, jujur saja kau menyukai ketampanan wajahku, kan?" ucap Daehyun dengan bangganya.
Perlahan ia mendekati tubuh Youngjae di ikuti Youngjae yang memundurkan langkahnya.
"Kamu suka mataku? Rambutku? Atau….bibirku?" ia merapatkan tubuh Youngjae ke dinding.
Youngjae hanya bisa tertunduk, tidak berani memandang sepasang mata di depannya. Keduanya dalam keheningan. Hingga…..
...
...
Suara tawa nan menggelegar terdengar mengisi ruangan tersebut.
"Serius, kamu suka aku?!"
"…"
"Tapi maafkan aku, aku tidak menyukai yang ada di dalam celanamu! Hahaha!" ucap Daehyun dengan penekanan di dalam celana.
"Tapi… aku tidak akan men-judge-mu karena menyukai namja. Karena kau adalah sahabatku satu-satunya." Seperti dihujam seribu pedang, ucapan Daehyun membuat Youngjae kecewa terutama dengan kata sahabat.
"Aku mencoba terbuka seperti ucapanmu tadi." Daehyun tersenyum simpul menatap Youngjae, membuat Youngjae ikut tersenyum. Ia tak percaya secepat itu ia dapat merubah jalan pikir seseorang, pikirnya.
"Selama kau tidak memperkosaku." Tambah Daehyun.
"Aku tidak serendah itu! paling juga kamu yang bakal memperkosaku." Ia menendang kaki kiri Daehyun dengan keras.
Daehyun mengangkat kaki kirinya menringis kesakitan, matanya tiba-tiba tertuju pada sepotong kue di atas rak buku di samping buku, terlihat masih baru.
"Jaejae~, aku makan cheseecake-mu, yah?!" senandung Daehyun berlari menghampiri cheesecake itu.
"YA! Padahal sudah dijauhkan, tetap saja dia melihatnya." Youngjae berlari dibelakang Daehyun berusaha mencegatnya, tapi ketika ia baru ingin mencegatnya, cheesecake itu sudah ada dimulut Daehyun.
"Dae, soal temanmu tadi, itu sebenarnya kamu dengan temanmu,ya?" Daehyun terdiam. Ia pun mengangguk dan melanjutkan mengunyah lagi.
Youngjae menatap Daehyun yang sedang melahap sisa potongan cheesecake perlahan, didalam pikirnya Bagaimana manusia kurus seperti dia tidak pernah kenyang melihat makanan, walau terkadang kasar tapi begitu ceria, ia begitu penasaran kenapa Daehyun begitu homophobia seperti itu.
"Jangan membayangkan hal yang aneh-aneh! Aku tidak akan melakukan fans-service untukmu." Celetuk Daehyun ditengah kesibukannya membuat Youngjae sadar ia terlalu lama menatap Daehyun.
Youngjae salah tingkah sendiri, berpura-pura membuka ponselnya dan membaca sms.
"Wooaah~! Ini jam berapa? Aku harus pergi!" ucap Youngjae panik melihat sekitar, segera berlari ke meja takas merapikan diri lalu berlari keluar pintu. Daehyun menatap heran, lalu kembali dengan kesibukannya dengan sisa keju di piring.
Pintu kembali terbuka. Youngjae menyembulkan kepalanya mencari sosok Daehyun.
"Kamu! Tidak boleh lama-lama di sini. Setelah selesai langsung pulang. Aku kembali, kamu harus tidak ada di sini." Ia menunjuk Daehyun dengan wajah sangar. Daehyun mengangguk dengan santai.
Zelo tengah sibuk menatap namja jauh diseberang mejanya, namja itu sesekali tersenyum melihat jalanan. Hari ini Coffe Shop sangat ramai, kecil kemungkinan ia akan ketahuan. Ia melihat sekitar, apa saja yang membuat namja itu tersenyum.
"Moon Jongup, kenapa kamu suka sekali tersenyum?!" gerutunya entah pada siapa, sedangkan ia sendirian dan orang yang sebut di seberang mejanya.
Tiba-tiba seorang namja menepuk Jongup dari belakang, membuatnya kaget. Jongup dan namja itu tersenyum dan tertawa.
"Apa yang kalian tertawakan?" gerutu Zelo lagi.
Jongup lalu mempersilahkan namja itu duduk di depannya, memunggungi Zelo. Menutupi Jongup dari pandangan Zelo.
"Ish! Orang ini!" Zelo terlihat kesal ia melihat meja disebelahnya yang kosong, segera ia berpindah.
Kini wajah Jongup terlihat jelas sekali, bahkan jika Jongup melihat ke arahnya, ia pasti akan langsung ketahuan.
Mereka berdua kembali tertawa, kali ini Jongup tertawa terbahak-bahak. Zelo benar-benar terkejut, ia sama sekali tidak pernah melihat Jongup tertawa terbahak-bahak seperti itu.
"Agh! Apa yang kulakukan di sini?!" Zelo mengacak surainya frustasi.
"Benar kata Yongguk hyung menjadi seorang stalker membuat frustasi." Ucapnya pada diri sendiri.
Zelo segera bangkit kursinya, dan keluar dari Coffeshop meninggalkan kedua namja yang ia ikuti.
"Hyung, kan tidak punya pacar…" ucap Jongup pada namja di depannya.
"hm.. lalu?" namja itu mengangguk lalu menyuruput cappucinno miliknya.
"Aku punya seorang teman."
"Ah~ kamu mau comblangin aku?" Jongup tersenyum simpul mendengar namja di depannya ini seolah mengerti apa yang Jongup pikirkan.
"Jadi…. hyung setuju?" Jongup bertanya dengan semangat.
"Ne, tentu saja, Yoo Youngjae akan melakukan apa saja untuk dongsaeng tersayangnya yang satu ini." Ucapnya dengan bangga sembari mengelus surai Jongup. Mereka berdua melanjutkan pembicaraan tanpa peduli seseorang yang mungkin Jongup kenal melewatinya sekali pun.
- To Be Continued-
A/N : Yahh~ ketahuan deh siapa yang bersama Daehyun, yups Youngjae...Eumm, Youngjae suka Daehyun hmm.. Tepat sekali! hmmm, tapi bukan itu masalahnya, Daehyun-nya suka gak...?! *Daehyun mengangguk sambil sarapan monstoki, monstoki cuman bisa nangis dalam hati*
Hmm... Yongguk mau balik jadi rapper demi Himchan.. patut dicurigai...
Monstokki memang gak salah ketik ato salah sebut... Zelo mengenal Yongguk. Sebenarnya ada hubungan apa Zelo dengan Yongguk? Apa ini berkaitan dengan Yongguk menjadi Stalker Himchan? Penasaran? emang judul Chapter ini begitu...
tunggu aja chapter berikutnya : Terungkap! Tapi ini belum berakhir! (Not yet!)
O ya.. udah pada denger and liat MV b.a.p baru? Eodini? Mwohani? Kayak kanjen band yah? hahaha~ *di tabok Daehyun*
Yongguk: "Kaga sama"
Himchan: "jauh!"
Youngjae: "Authornya pabbo."
Zelo: "gak kenal, siapa itu?"
Jongup: "Kasian author... ini mirip lagunya debagindas"
*Jongup di deathglare seluruh member termasuk Zelo*
1 REVIEW KALIAN SAMA DENGAN 1 NYAWA UNTUK PARA AUTHOR... VICTORY! (#o.o)9
