RAINY NIGHT CHAPTER 2

If I try to pursue it, it will only run away, the future is undecided

While stopping along the way over and over again, we've shared smiles and tears

You and I have made this journey, and that's the only truth that I am certain –AsuWaKuruKara-TVXQ-

S Restaurant Seoul 14:30

Sepasang pria dan wanita menikmati makan siang mereka berhadapan. Duduk di pinggir kaca pintu masuk café, matahari siang yang bersinar terik menyinari meja makan mereka. Junsu dan Yoochun, sabtu itu jalan-jalan bersama untuk kedua kalinya setelah minggu lalu nonton film bersama untuk pertama kalinya. Hari itu sama seperti minggu lalu, di siang hari Yoochun menjemput Junsu dirumahnya, bersama menonton film yang sedang diputar, lalu makan siang, dan jalan-jalan sebentar lalu pulang

"ohh jadi kau kuliah di Jerman Junsu" ucap Yoochun sambil masih mengunyah pelan

"heeh, oppa mengambil accounting dan finance di Inggris kan?" sahut Junsu

"hee betul" Yoochun hanya mengangguk dan menjawab seadanya –lalu diam. Junsu menelan ludah perlahan. Memandangi piring makanannya yang sudah hampir selesai. Tapi ia sudah jadi tidak nafsu makan lagi. Berbeda sekali dengan 15 menit lalu saat ia kelaparan karna ini sudah jam 2 lewat dan baru bisa makan siang –karna pria dihadapannya ini seenaknya sendiri menentukan nonton film jam 12. Junsu menghela nafas sedikit. Selalu seperti ini, kesunyian yang awkward, dan harus selalu dia yang mengajak orang ini membicarakan sesuatu duluan. Junsu menengok sedikit keluar sambil masih berusaha menegak sisa makanannya –masih mencoba bersabar

"hobimu apa oppa? Sepak bola?" Tanya Junsu –lagi.

"nggggg… tidak juga.. apa yahh. Hmm aku suka film dan music sihh"

Junsu mengangguk mendengarkan. Lalu hening. Aku bisa benar-benar akan naik pitam kalau begini terus, pikir Junsu. Didiamkan, dicuekin, ditolak secara tidak langsung, ditolak. Runtuknya dalam hati sambil mencibirkan bibirnya sedikit.

Selang beberapa menit ditengah kesunyian HP Yoochun berdering. Ia mengangkat telepon itu dengan santai lalu bangkit berdiri dan pergi keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada gadis dihadapannya. Dan Junsu bisa mendengar dengan jelas betapa berbedanya nada bicara Yoochun dengan lawan bicaranya di telepon

"yeoboseyo. Ah nee Jinhee yaa. Nee" ucap pria itu dengan penuh nada. Nada orang yang bahagia. Berbeda sekali dengan beberapa menit yang lalu saat mengobrol denganya –well, bahkan tidak bisa disebut mengobrol, melainkan hanya seperti sesi tanya jawab, yg sedikit lebih baik/akrab dari interview pegawai baru. Junsu semakin menekuk mukanya, emosi di puncak kepalanya sudah hampir meledak sebentar lagi.

Sekitar 10 menit kemudian Yoochun kembali keduduknya dengan wajah berseri. "ah sorry Junsu, temanku menelpon tadi hehe" ucapnya sambil menyengir lebar. Junsu masih bersikap sopan dan hanya balas tersenyum. Ya, 10 menit Junsu menunggu pria satu ini tertawa-tawa di telepon. 10 menit, dengan tidak tahu malunya dia membuat aku menunggu. Runtuk Junsu lagi. Sudah bagus tidak kutinggal pulang dia disini! Junsu masih terus lanjut mengomel dalam hatinya. Tapi ia masih diam, hanya meruntuk dalam hati yang lalu menghasilkan sesuatu pemikiran.

Well, iya juga ya. Tidak, kau tidak boleh kalah Junsu, jangan mengikuti permainannya. Junsu mulai mengerti arah permainan Yoochun. Aku tidak akan mau dipermalukan olehmu Yoochun. Kalau itu yang kau mau, baiklah aku akan mundur. Tapi jangan harap aku bisa terseret dalam jebakanmu, lihat saja nanti.

Pikir Junsu lalu menarik sebuah senyum simpul sambil masih memandangi jalan diluar dalam perjalanan pulang kerumahnya bersama Yoochun

Minggu selanjutnya

Junsu dan Yoochun kembali jalan berdua Sabtu ini. Tapi jangan harap kalau ini adalah kemauan mereka berdua –karna kini keduanya pun sudah tidak punya keinginan sekecil apapun itu untuk bertemu apalagi menghabiskan berdua.

Ya, salahkan lah Yoochun dengan evil nya yang memperlakukan Junsu seperti itu secara sepihak hanya karna ia sudah punya kekasih, yaitu Jinhee yang sudah dekat dengannya sejak setahun yang lalu –yang tentu saja tidak diketahui orang tua Yoochun makanya semua berakhir seperti ini.

Yoochun yang menganggap segala sesuatunya dengan sangat enteng, memang sengaja untuk menggagalkan hubungan mereka –tanpa ia sadari, bahwa tindakannya sudah membawa efek yang lebih jauh dari itu. Yaitu, menyakiti hati seseorang, yaitu perasaan seorang Jung Junsu. Di sisi lain, bisa dibayangkan perasaan seorang Jung Junsu seperti apa- ia sudah sangat capek bahkan hanya untuk melihat muka Yoochun setelah 2 minggu ini. Kalau bukan karna orang tuanya, ia tak akan segan-segan untuk melayangkan tangannya ke pipi Yoochun. Tapi dari semua amarahnya, Junsu mencoba menahan dan akan melepasnya secara perlahan. Ia akan terus jalan untuk memenuhi keinginan kedua orang tua mereka. Karna kalau mereka menolak sekarang, pasti para orang tua akan menolah secara ini baru dua minggu –karena mereka tidak tau saja bagaimana perlakuan Yoochun!

Well, Junsu tidak ingin gegabah dan mencari masalah, ia hanya akan menahan untuk sebentar lagi, lalu setelahnya ia akan bisa lepas dari aktivitas tiap minggu dengan pria itu. Huff, Park Yoochun. Pria yang tidak disangka hanya tiba didalam hidupnya untuk menguras dan menguji kesabarannya. Pikir Junsu matang-matang.

Permainan berubah, pihak yang menyakiti dan tersakiti pun secara tidak langsung juga turut berubah

S Restaurant Seoul

"nuni busyeo itorog areumdaun. Nae momi itteollyeo machi kkuman gatta. hangsungando ttel su jocha eobsneun…"

HP Yoochun bordering. Pria itu mengangkat telepon dengan santai di duduknya

"yeoboseyo.. ne jinhee yaaa.. neee" Junsu masih fokus dengan makanannya. Ia bukan tidak tahu siapa nama itu. Ia sudah bisa menebak, sudah pasti Jinhee adalah kekasih satu mahluk bernama Yoochun ini. Tapi Junsu tidak perduli, urusan Yoochun bukan urusanku lagi, pikir Junsu

"nee yaa aku sedang makan siang, nanti mau nonton, kau sudah nonton film ini?"

Yoochun melirik ke Junsu yang tidak bergeming, berbeda dengan minggu-minggu lalu, saat didapatinya ekspresi Junsu yang berubah hanya dengan mendengar nama Jinhee. Membuat Yoochun penasaran

"ohh boleh boleh, aku bisa nonton lagi denganmu besok hahahah" Yoochun tertawa-tawa dan membesarkan volume suaranya dengan sengaja. Mencari perhatian sambil masih melirik Junsu, menunggu ekspresi Junsu yang tidak suka, jealous atau marah. Betapa egois dan jahatnya memang satu pria ini. Ckckck.

Seperti sebelumnya, Junsu tidak bergeming, ia malah membalas tatapan Yoochun, mata mereka bertemu. Dan Yoochun mendapati Junsu tidak marah, tidak cemburu, tidak.. tidak terganggu sama sekali! Oh crap, kenapa dia tidak marah?! Seharusnya kan Junsu marah dengan ku yang jelas2 dekat dengan wanita lain! Pikir Yoochun dalam hati

TBC to chapter 3. Author nulis sambil nunggu flight di airport. Eh taunya jadi productive bgt berbanjir ide hahahaha. Lanjut nulis dan publish di Jakarta. Thanks for reading, following, favouriting, and reviewing everyone! Real much appreciated!

Best regards

JeslyneYunita

DXB; 21/6/14; 02:40