RAINY NIGHT CHAPTER 3
Your hair is tied back so I can see your forehead
It bounces every time you walk
At the end of your pants that wrap your smooth legs are light sneakers
Everything about you is simple but you give off beauty
Wherever you go you have good manners
The way you smile and the way you talk make my rough thoughts brighter
You fill up my heart so much that I can't breath
A girl who knows how to enjoy her life rather than money
A possessor of a charm of unconventional beauty
You have the scent of human, an untainted and natural person in this complex world –Human Scent – Gary ft. Jung In-
Yooochun POV
Aneh sekali, kenapa tadi Junsu sudah tidak cemberut ya? Padahal kali ini aku bicara keras-keras dengan Jinhee tepat dihadapannya. Minggu lalu saja ia langsung kesal sekali, kenapa kali ini tidak? Apa dia memang benar-benar suka padaku hingga mau walaupun aku sudah punya pacar lain? Haish,,, aku jadi mikir yang macam-macam. Hmmm ada apa sebenarnya dengan kamu Jung Junsu?
"sorry lama oppa, ayo" sebuah suara familiar membangunkanku dari lamunan didepan toilet mall ini. Junsu, kami akan hendak nonton film bareng setelah makan tadi
"ah iya, ayo" jawabku santai dan kami pun berjalan berdampingan masuk kedalam studio film.
-Yoochun POV ends
22:40
Yoochun membulak balikkan badannya di tempat tidur, mencoba terlelap tapi entah kenapa ia belum bisa juga tidur. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ada sesuatu yang berbeda dengan hari ini. Sesuatu yang membuat otaknya untuk terus menerus mengingat kejadian-kejadian tersebut
"thank you!" "sorry lama oppa, ayo" "thank you oppa hari ini, annyong"
Suara khas tersebut terus terngiang ngiang di kepala Yoochun. Junsu. Ya, itu adalah suara Junsu, Yoochun tak bisa melupakan suara itu, ia menenggalamkan kepalanya didalam bantal mencoba lupa. Tapi ia tidak bisa menahan sesuatu yang terasa senang didalam hatinya dengan diperlakukan dengan baik seperti ini oleh Junsu. Baru kali ini ia bertemu dengan orang sebaik dan sesopan Junsu. Tolong, terima kasih, sorry. Kata-kata yang sederhana tapi meninggalkan bekas yang sangat dalam kepadanya. Yoochun tak bisa berhenti tersenyum-senyum sendiri mengingat itu semua. Pikirannya jadi semakin tertarik kebelakang, mengingat setiap pertemuan mereka sejak pertama kalinya. Memang dari dulu Junsu sudah seperti ini, ia saja yang baru menyadarinya, dan ia langsung menyukainya, membuat Yoochun tak bisa lupa.
Drrt Drrt Drrt
Handphone Junsu bergetar dipojok meja kerjanya
Yoochun Oppa Calling
Junsu mendekatkan handphone itu ke telinga kanannya
"yeoboseyo"
"yeoboseyo, Junsu ssi, besok Sabtu seperti biasa kujemput dirumah ya?"
"oh, sorry oppa. Teman ku menikah hari sabtu ini, aku harus menemaninya seharian. Bertemu lagi minggu depan saja ya" jawab Junsu enteng
"ohhh?" Yoochun melongo sebentar "ohh okelah tidak apa. Nggg.. Ok then hanging up now.. ngg. Bye" jawab Yoochun terbata-bata lalu langsung memutuskan pembicaraan
"bye" jawab Junsu singkat lalu kembali fokus kedalam pekerjaannya kamis siang itu. Sedangkan disisi lain, Yoochun masih memandangi handphone dan meja kerjanya dengan tatapan kosong. Ahh,, tidak bertemu Junsu deh minggu ini! Pikirnya sambil melenguh sedikit.
Tok tok tok. Yoochun mengetuk-ngetukkan pena kesayangannya kemeja kayu tersebut. Junsu Junsu Junsu. Mata pria ini menerawang kemana-mana, tetapi tidak sama sekali menghiraukan dokumen-dokumen yang perlu dikerjakannya yang berserakan diatas meja. Otaknya terus meminta untuk mengingat beberapa hal kecil yang ia lakukan bersama Junsu secara berulang-ulang, dan terus penasaran dengan pertanyaan yang sama. Walau sudah berkali-kali ia terus menganalisa berbagai kemungkinan jawaban untuk pertanyaan tersebut, tapi terus Yoochun masih penasaran. Kenapa Junsu sudah tidak marah ya kemarin? Apa dia memang sudah benar-benar mau menerimaku apa adanya? Apa dia benar-benar menyukaiku? Arghhh Park Yoochun, pikirkan perasaanmu dulu sekarang. Apa kau menyukainya? Kau menyukai Junsu? Pikir Yoochun berulang-ulang. Hanya hal ini yang ada di otaknya selama beberapa hari terakhir. Berputar-putar di pertanyaan dan misteri yang sama. Mengulang ulang satu nama yang sama. Jung Junsu Jung Junsu Jung Junsu, seirama dengan tangannya yang terus menetuk netuk pena itu dimeja kerjanya. Tok tok tok.
Sabtu sore S Hotel Seoul
Seorang wanita cantik berbalut gaun pengantin putih mewah berdiri didepan kaca di suatu kamar VIP hotel tersebut. Beberapa wanita lain terlihat sibuk berada disekelilingnya, merapikan renda-renda gaun cantik tersebut, merapikan tataan rambutnya, make up nya, sepatunya, dan berbagai hal kecil lainnya.
Belasan orang lalu lalang keluar masuk kamar tersebut juga, mulai dari keluarga, teman, kerabat, pegawai hotel hingga beberapa orang dengan kamera untuk mengabadikan momen bahagia hari itu.
"ahh,, pitanya selesai oenni!" ucap seorang wanita manis yang tadi sedang berlutut di bagian samping gaun besar sang pengantin. Gadis itu bangun berdiri dan memastikan hasil pekerjaan kecil nya tadi, membantu sang pengantin membereskan satu details pita disisi kiri gaun
"ahh terima kasih sekali ya Junsu!" sang pengantin tersenyum lebar seraya hendak memeluk Junsu. Kedua wanita ini pun bercengkramah akrab
"sama-sama oenni, hehe" jawab Junsu "oenni cantik sekali! Hehe" kembali diusap-usapnya sedikit gaun oenni nya itu, memastikan semuanya sudah sempurna
"ahh kau juga sangat cantik hari ini Junsu! Argh nanti kau akan sekolah lagi nanti! Aku akan sangat merindukanmu! Huu" jawab Jehyun, seorang putri pejabat Seoul yang baru saja menikah hari ini tersebut seraya memeluk Junsu
"hahahah sama oen, aku akan merindukanmu juga!" Junsu tersenyum lebar
"kapan kau berangkat Junsu? Masih dua minggu lagi kan?" Tanya Jehyun
"heeh, sekitar 2 minggu lagi oen." Junsu menyibakkan poninya sedikit "aku belum berangkat karna ingin menghadiri pernikahan oenni dulu! Haha" jawab Junsu sedikit bercanda
"oh tentu! Awas saja kalau kau sampai tidak hadir di pernikahanku Junsu! Hahahah." Jehyun meraih tangan Junsu dan menggenggamnya tulus "Junsu ya. Sebelum kau pergi minggu depan kita hang out bareng dulu ya! Nanti aku pasti akan sangat merindukanmu!"
Junsu mengangguk dengan senyum bahagia
"pasti oen.. aku juga pasti merindukanmu! Sudah, nikmati dulu hari ini. Selamat ya Hyun-ie oenni. Kau cantik sekali hari ini!" jawab Junsu menghindari pembicaraan sentimental lebih jauh dengan sahabatnya ini, untuk menghindarinya merasa makin sedih juga
"yaaa. Thank you, terima kasih sudah membantu banyak Junsu untuk hari ini. Uhhh aku berhutang banyak padamu! Hehe"
2 wanita ini pun lanjut bercengkramah akrab. Dan tak terasa akhirnya satu hari itu berakhir juga dengan sangat cepat bagi Junsu.
Junsu membantu pernikahan oenni terdekatnya ini sejak pagi di hari special nya ini. Sejak pagi hingga sore. Ia adalah salah satu dari beberapa bridemaids dan menikmati hari special ini dengan teman-teman terdekatnya selama acara hingga malam tiba lagi.
Sabtu selanjutnya
"crayfish carbonara" ucap seorang pelayan membawakan sepiring besar pasta hangat ke hadapan Junsu
"terima kasih" balas Junsu ramah "selamat menikmati" ucap pelayan tersebut mengangguk lalu berlalu pergi
Junsu dan Yoochun sama-sama mengangkat sendok dan garpu mereka masing-masing, bersiap makan. Siang itu cuaca kota Seoul sedang tidak terlalu bagus, hujan rintik-rintik terus turun sejak pagi dan berlanjut hingga siang ini.
"selamat makan oppa" ujar Junsu "ne selamat makan" jawab Yoochun. Percakapan dasar mereka, seperti biasa.
5 menit berlalu dalam kesunyian, fokus menikmati makanan mereka masing-masing, hingga Yoochun akhirnya membuka suara saat melihat Junsu makan dengan tangan kiri
"oh Junsu, kamu kidal?" Tanya Yoochun
Yoochun menatap mata Junsu, berharap Junsu bisa menatap tatapannya.
"iya. Oppa juga kan?" jawab Junsu enteng tanpa melirik sedikitpun. Deg. Yoochun melepas tatapannya dengan lesu. Ia langsung menyadari sesuatu, ternyata begini sakitnya dicuekin oleh seseorang. Begini rasanya saat di-ignore dan ditolak secara tidak langsung oleh seseorang. Hatinya terasa menciut detik itu juga. Otaknya sedikit berpikir, Yoochun melirik tangan kirinya sendiri yang memegang garpu dan tangan kanannya yang memegang sendok. Ia kidal –juga, dan Junsu sudah menyadari itu sejak kapan-kapan, sedangkan dia sendiri. Sudah berapa minggu mereka bertemu dan mereka selalu makan berhadapan, tapi baru hari ini dirinya menyadari Junsu kidal juga. Dan dengan bodohnya ia menanyakan langsung, meminta dipuji karna memperhatikan dan punya kesamaan. Tapi malah berakhir dengan mempermalukan dirinya sendiri. Oh crap Park Yoochun. Bodoh sekali kau selama ini. Pikir Yoochun.
Sesudahnya…
"ada lagi yang bisa saya bantu? Oh ya, Restaurant kami sedang ada menu desert special nona. Minggu ini kami ada Apple Pie Special Handmade dari local chef kami. Berminat untuk mencoba?" seorang pelayan membereskan piring makanan Junsu dan Yoochun sambil mempromosikan menu special mereka tersebut hari ini.
Junsu yang baru selesai membersihkan mulutnya dengan napkin langsung terlihat tertarik walaupun ia sudah kenyang
"oh? Apple pie?" tanyanya lagi
"betul nona." Pelayan itu mengangguk
Junsu berpaling kearah Yoochun "oppa mau desert?"
"tidak Junsu, tapi kalau kau mau pesan saja! Akan kutemani"
Junsu langsung tersenyum refleks dan mengangguk.
"thank you oppa. Baiklah, tolong Apple Pie nya satu ya" ucap Junsu sekaligus kepada 2 orang dihadapannya tersebut
Mata Junsu terliaht berbinar-binar, ia sudah tak sabar menanti apple pienya. Ia pernah mencoba apple pie di restaurant italia ini, tapi sudah lama sekali karna menu ini tidak ada setiap hari. Makanya saat ditawarkan lagi, tentu saja mood wanita ini langsung berubah 180 derajat.
Deg. Sesuatu yang berbeda kembali terasa saat Yoochun melihat senyum Junsu yang sangat manis dan senang. Pria ini jadi ikut tersenyum-senyum sendiri melihat senyum manis Junsu. Matanya tak terlepas dari wajah gadis itu yang sedang memandangi hujan rintik-rintik dijalanan luar. Sekali lagi sesuatu yang simple tentang Junsu membuatnya tak berhenti tersenyum hingga ia harus menutupi mulutnya sendiri untuk berhenti tersenyum supaya tidak dikira orang gila oleh Junsu. Pria ini masih tidak habis pikir bagaimana dalam waktu sesingkat ini ia bisa jatuh hati pada seorang Jung Junsu.
Drrt Drrt Drrt
Handphone hitam Junsu bergetar di meja. Yoochun melirik sebentar melihat ada panggilan masuk, entah dari siapa. Tangan kanan Junsu yang dihiasi sebuah gelang putih meraih handphone itu
"sebentar ya oppa" Junsu langsung bangkit dari duduknya, beranjak meminta waktu sebentar. Yoochun membalasnya dengan anggukan
Sepasang mata itu tidak berhenti menatapi Junsu yang sedang bercakap-cakap dengan serius. Suaranya tidak terlalu terdengar karna kalah dengan suara hujan. Tapi dari gerakan mulutnya, sepertinya Junsu sedang berbicara dalam bahasa inggris. Pikir Yoochun. Mungkin urusan pekerjaan.
Junsu berjalan kembali kemejanya sambil masih bercakap-cakap dan menggulum senyum hangat.
"alright, Schönen Dank" ucap gadis ini terakhir lalu mengakhiri telepon tersebut dan kembali duduk
"sorry oppa. Aku makan dulu ya" Apple Pie tadi sudah tersaji dihadapan Junsu. Ia pun langsung mengambil garpu dan dengan lahap mencoba Apple Pie lezat tersebut "ne silahkan. kau.. bisa baca bahasa jerman?" tanya Yoochun refleks saat Junsu baru saja menelan potongan pie pertamanya. Ia menunggu sebentar karna masih mengunyah untuk menjawab sambil mengangguk "ne" jawab Junsu
"ohh.. baru belajar?" sambung Yoochun
"tidak, aku selesai underdraduate di Jerman 3 tahun" jawab Junsu halus tanpa menatapnya. Mendengar jawaban Junsu Yoochun malah bersyukur Junsu tidak menatapnya kali ini. Tanpa melihat mata Junsu saja muka pria ini sudah langsung memerah, apalagi kalau ia bertatapan lansung dengan Junsu. Oh iya ya dulu kan Junsu pernah cerita di S1 di Jerman! Arghhhh. Pikir Yoochun yang lagi-lagi telat, merutuki kebodohannya sendiri
While on the other side…
Cih, sudah berapa kali kita membicarakan pendidikanku baik saat berdua atau saat diacara keluarga. Aku bahkan ingat di kota apa dia belajar dulu. Tapi ia tak ingat sedikitpun aku kuliah dimana dulu. Well,, untuk apa juga aku peduli? Ini sudah bukan urusanku lagi. Pikir Junsu santai sekilas, lalu lanjut mengalihkan pikirannya ke hal lain.
Ya, Junsu sudah sedikit banyak tidak perduli lagi dengan Yoochun. Gadis ini hanya menganggap Yoochun sebagai oppa anak teman appa nya yang bertemu secara regular dengannya hanya untuk beberapa minggu lagi, tidak lebih. Ia sudah tidak mau berharap banyak dari mahluk satu ini, setelah mengetahui jenis pria macam apa seorang Park Yoochun ini.
TBC to chapter 4
Ps: Author gak ada koneksi internet selama di Jakarta, jadi mengandalkan wifi dan jadi sekali update jadi langsung banyaaak chapter gini, hehe. Anyway thanks for reading. Don't think twice to leave any review. Thanks!
