RAINY NIGHT CHAPTER 4
I worked as I sweated so money always overflows
But I hadn't found a love that I wanted to share it with
But you're a bit different
A girl who knows how to long for a person's hand like an LP
After my hard days, after I got to know you
Everything is going back to its place –Human Scent – Gary ft. Jung In-
S Coffee Seoul
"grande hazelnut late dan grande doule shot latte" seorang barista menyodorkan dua cup kopi panas
"thank you!" ucap sang pria yang sedari tadi sudah menunggu pesanannya tersebut, meraih 2 gelas kopi itu dan membawanya ke meja depan didekat taman.
"so, kau suka dengannya?" Tanya Sungmin straight to the point, melanjutkan pembicaraannya tadi sambil meletakkan dua gelas yang masih panas tersebut tepat dihadapan Yoochun
"I think so" jawab Yoochun enteng sambil mengangkat bahu sedikit. Sungmin, yang adalah salah satu teman dekatnya hanya bisa menyengir mendengar jawaban Yoochun tersebut
"kau ini Park Yoochun… ckckck" dihisapnya sedikit hazelnut latte miliknya sambil menggeleng-gelengkan kepala
"Junsu itu beda min. Dia menarik dalam cara yang berbeda. Mungkin aku belum mengenalnya dengan baik, tapi…" Yoochun menggigit bibirnya sebentar
"lalu?" Sungmin masih mendengarkan
"tapi aku tertarik dengan hal-hal kecil yang ada padanya. Hal-hal yang tidak dilakukan wanita lain. Yang justru tidak pernah kusadari bahwa itu adalah hal-hal penting" ujar Yoochun
"ck, Yoochun-a. Lihatlah siapa yang bicara seperti ini sekarang. Dulu, siapa yang curhat padaku tidak pernah ingin dijodohkan" Yoochun tersenyum pahit mendengar reaksi Sungmin. Dia sudah siap menjawab, tapi temannya ini langsung melanjutkan "eits, tunggu dulu, tunggu dulu. Ingatlah, dulu siapa yang tidak pernah tertarik dengan gadis lain selain kekasihmu si Jinhee itu? Lihatkan apa kataku. Setelah kau mengenalnya…."
"iya aku tau Lee Sungmin, aku tau apa maksudmu" potong Yoochun lagi
Sungmin hanya bisa tertawa kecil, ia tak usah menjelaskan panjang lebar lagi. Yoochun sudah menyadari sendiri kesalahannya
"Aku hanya sedikit bingung. Melihat reaksi Junsu yang kuceritakan padamu tadi Min, apa kau pikir… dia menyukaiku? Apa tidak?" Yoochun memajukan badannya dan menaruh kedua tangannya dimeja. Mencoba mendapat solusi/pendapat yang serius dari Sungmin
"well, mana aku tau Park Yoochun, aku belum pernah bertemu dengannya. Dan satu reaksi/ekspresi dari seseorang tidak bisa langsung diartikan dari satu sudut pandang saja" jawab Sungmin
"kau serius suka dengannya?" Yoochun langsung mengangguk.
Tangan sungmin bergerak menata handphonenya, gelas kopi Yoochun, dan gelas kopinya menjadi satu deretan
"kalau kau ingin mengejarnya. Kau haru bergerak lebih jauh dari yang seharusnya kau lakukan kemarin" ucap Sungmin "dulu, kau bisa memulai dari sini. Ini yang seharusnya menjadi garis start kalian" tangannya menunjuk handphone yang berada diantara dua gelas "dan Junsu disini, ini yang kau kejar" diletakkan tangan kanannya ke gelas kopi disebelah kanan. Yoochun masih mengangguk-angguk mendengarkan "tapi karena perlakuanmu kemarin, kau sudah mundur 5 langkah kesini, yang membuat jarakmu untuk mengejar Junsu menjadi lebih jauh" Sungmin menunjuk gelas diujung kiri dan menggambarkan jarak diantara dua gelas tersebut "kau bukan hanya perlu menempuh jarak yang lebih jauh. Tapi kamu juga harus berani memutar balik Chun. Putuskan Jinhee sekarang juga" ucap Sungmin tegas
Yoochun terdiam sebentar, setelahnya ia baru bertanya "jadi menurutmu sekarang jarak antara aku dan Junsu menjadi lebih jauh? Tapi terakhir kemarin, saat aku bicara dengan Jinhee, Junsu tidak terlihat marah lagi"
Sungmin menggelengkan kepalanya "disini aku berbicara pahitnya. Menganggap kalau Junsu benar-benar sudah membenci mu karna perlakuan berengsek mu itu terhadapnya. Dan kalau menurut opini aku, teman yang mengetahui semua bagaimana perlakuan seorang Park Yoochun saat sedang ignorant. Itulah yang akan terjadi" Sungmin mengetuk-ngetukkan jarinya dimeja sambil kembali menyender di kursi "come on Chun, kau masih bisa berharap Junsu malah berketut lutut dihadapanmu dengan sikapmu yang bragging cewe lain didepan matanya? Kau kira Junsu itu wanita bodoh? Strategimu untuk membuat kalian jauh itu berhasil. Kupuji strategimu dalam hal itu. Tapi kalau ceritanya jadi seperti ini, dimana kau yang malah balik menyukainya. Well, selamat, kau harus berusaha jauh lebih keras lagi mulai dari sekarang untuk membalik keadaan. Now or never mate." Sungmin mengangkat sebelah alisnya setelah menjelaskan panjang lebar. Sedangkan Yoochun disisi lain langsung terasa seperti dibangunkan ke dunia nyata dengan jawaban temannya ini. Benar juga, bagaimana ia masih bisa berharap Junsu menyukai sikap brengseknya selama ini. Pikir Yoochun
"makanya sifat Junsu berubah sekali selama ini… hfft…" gumam Yoochun kecil
"makanya pastikan dulu perasaanmu. Jangan terlalu banyak memainkan orang Yoochun-a. Nanti kau bisa mendapat karma nya sendiri" tambah Sungmin lagi
"heeh" Yoochun hanya mengangguk singkat. Sungmin menatap dalam wajah Yoochun yang sedikit gelisah, membuatnya semakin penasaran dengan seorang Jung Junsu yang bisa membuat temannya menjadi seperti ini
"kalau memang kau menyukainya. Kejarlah, kau selalu bisa mendapatkan keinginanmu kan Park Yoo Chun?!" Sungmin sedikit menghibur Yoochun, iba setelah tadi menghempaskan harapannya dalam-dalam, hahah
Yoochun masih diam. Ia masih merasa kesal dengan dirinya sendiri
"memang seperti apa sih yang membuatmu menyukainya?" Tanya Sungmin. Ia tau ini pertanyaan klise dan sangat main stream. Tapi dalam kasus Yoochun, ia sendiri menjadi penasaran
"banyak min. Junsu itu… hffft" Yoochun menghela nafas sejenak "entahlah, tadinya aku juga tidak sadar, tapi setelah beberapa kali jalan berdua. Aku jadi semakin menyadari sifat-sifat basic Junsu yang sangatlah baik" Sungmin hampir tersedak dan menahan tawa mendengar jawaban Yoochun. See, sounds very cliché right? Pikir Sungmin
Yoochun yang sudah tau Sungmin akan menertawakannya langsung menjelaskan
"nah, maksudku itu.. I mean like, disehari-hari saja, kepekaan dan reaksinya terhadap orang-orang disekitarnya, bagaimana ia berperilaku, bagaimana ia bersikap, bagaimana ia bisa menjaga emosinya. Dan,,, hmm entahlah, aku hanya tidak bisa berhenti mengingatnya setelah menyadarinya" ucap Yoochun tulus
"dan yah. Aku pelan-pelan menyukainya. Aku tau ia tak suka padaku, Junsu sudah sangat cuek sekarang, tapi dia masih… masih memperlakukanku dengan baik, say thank you, sorry, oppa, dan lain-lain. Tersenyum padaku walaupun aku tau dia marah….. yahhh. Kau taulah" ujar Yoochun.
Sungmin menaikkan alisnya, mengangguk sambil masih menyandar santai.
"iya aku tahu Yoochun-a" jawab Sungmin
Well, akhirnya Park Yoochun bertemu orang yang tepat untuk membuat dia terjebak dalam permainannya sendiri. Pikir pria ini dalam hati sambil menggulum senyum tipis. Lee Sungmin sangat mengerti orang seperti apa Park Yoochun itu, tak terkecuali tentang wanita. Yoochun selalu bercerita tentang hal ini kepadanya, selayaknya hari ini dimana Yoochun menceritakan tentang Jung Junsu
"usahakanlah Yoochun-a. Kau tau tidak ada yang gratis di dunia ini. Dan kalau kau mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, tidak ada juga yang akan menjadi sia-sia nantinya" Sungmin tersenyum tulus sambil menepuk pundak Yoochun saat hendak beranjak ke toilet. Yoochun hanya bisa tersenyum pahit mendengar support Sungmin. Well, memang sepertinya aku harus mendapatkanmu Junsu, bagaimanapun tek tek. Pikir Yoochun sambil menggulum senyum dan mengetuk ngetukkan jarinya dimeja kayu tersebut.
Rumah Junsu di hari Sabtu depannya
Yoochun berjalan pelan mengitari ruang tengah rumah kediaman Jung Yunho, memandangi dengan seksama beberapa lukisan, foto, dan pajangan yang tertata rapi disetiap sudut rumah mewah itu. Sudah 2 bulan tiap minggunya ia berkunjung kerumah ini, tapi baru kali ini dia mempunyai keinginan untuk menelaah lebih jauh isi rumah Jung Yunho ahjussi; biasanya sambil menunggu Junsu, Yoochun hanya memainkan hp nya sibuk ngobrol dengan Jinhee.
Langkah Yoochun terhenti di salah satu sudut ruangan, memandangi foto-foto Yunho dan Jaejoong, juga Junsu yang saat itu masih berusia belasan tahun. Yoochun tersenyum-senyum sedikit, mendapat kepuasan tersendiri dari mengenal lebih jauh keluarga Jung ini.
Sebuah buket bunga besar fresh cantik dengan vas putih nya diletakkan disebelah barisan foto. Mata Yoochun tidak menangkap kecantikan bunga itu, tetapi tertuju pada sebuah kartu yang masih terselip didalamnya.
Melihat suasana rumah yang sangat sepi, Yoochun mengambil kartu kecil itu dan membukanya dengan hati-hati
Happiest Birthday Junsu!
Wish you all the best always ya!
All the best for your future study, come back real soon to hang out again with us in here, kekeke~~
Gbu and fam abundantly Junsuu
Stay sweet, pretty, and awesome darl.
Always feelin' like 22, ^^
Hugs and kisses Xxx
Jihye, Sohyun, Yoomi & JiEun
서 울 5/6/13
Dibalik kartu juga terselip sebuah foto 5 orang wanita yang salah satu diantaranya adalah junsu
Yoochun POV
Future study? Maksudnya apa? 5 Juni? Ah damn! Jadi rabu kemarin ulang tahunnya Junsu? Aku lupa sama sekali! Arghhh. Padahal di ulang tahunku kemarin Junsu masih bisa mengirim hadiah Park Yoochun! Ah damn!
Pikirku sambil memasukkan kartu tersebut kedalam amplopnya dengan perlahan, dan mengambilakan kartu ketempatnya kembali dengan hati-hati
Yoochun POV ends
Yoochun menuju sofa untuk kembali duduk sambil mengerutuki dirinya sendiri kesal. Arghhhhhh lagi-lagi aku ketinggalan sesuatu tentang Junsu! Pikirnya. Penyesalannya menjadi terlebih dalam karena beberapa minggu lalu yang adalah hari ulang tahunnya. Junsu menitipkan hadiah dan sebuah kartu walaupun cuma dengan tulisan "happy birthday" ke kantor nya langsung. Ia sibuk kerja dan merayakan dengan Jinhee hari itu, jadilah Yoochun hanya sempat mengucapkan "terima kasih" ke Junsu.
"Yoochun oppa!" panggil sebuah suara dari arah tangga saat Yoochun masih duduk menunduk di sofa
"oeh?" pria ini menengok kearah Junsu
"sorry lama oppa, ayo berangkat" jawab Junsu seraya berjalan ke pintu depan
"oh, heeh oke" mereka berdua pun berjalan berdampingan menuju lobby rumah dimana mobil Yoochun berada. Dengan sebuah foto Junsu dan teman-temannya tadi masih terselip di kantong kanan celana jeans Yoochun
TBC to chapter 5
