Gomennasai
Presented by Naurovhy
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T
Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, alur berantakan, dll.
If you don't like? So don't read! Happy reading all
please RnR.
"Hentikan sandiwara bodoh ini" suara Gaara meninggi
"..."
"Binggung kenapa aku mengetahiunya, sungguh ironis kau memandang rendah IQ-ku? Dia Uchiha Sasuke putra kedua Uchiha Fugaku pemilik Uchiha Inc. Kau pikir bisa megelabuhiku?" Gaara tersenyum sinis "dan rubah pirang itu model internasional kan?"
! Hinata membulatkan matanya melupakan fakta bahwa kemungkinan besar keluarga besar Sabaku dan Uchiha itu berteman
"Kami tidak berteman -Gaara seolah bisa membaca pikiran Hinata- sama-sama bergerak di bidang perkapalan, kami adalah rival"
"Ba-baiklah tak ada gunanya aku meneruskan semua ini, tapi tetap saja kau tidak berhak melarangku bepergian"
"Oh tentu saja, apa kau lupa bahwa bagaimana pun kau tetap istriku Nyonya Sabaku?"
"Jadikan saja wanita simpananmu itu menjadi istri, aku sudah muak!" Kata Hinata kasar
"..." Gaara diam, tangannya terkepal erat nafasnya memburu menahan emosi
"Kenapa diam? -Hinata memprovokasi- tidak memukulku karna mencela kekasih manismu itu?"
"Apapun yang kau katakan aku tetap tidak mengijinkanmu" Gaara memegang pergelangan tangan Hinata
Berontak! Dan menghempaskannya itulah yang Hinata lakukan "jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu"
"Kotor?" Gaara menyergit
"Ya, kau dan seluruh anatomi tubuhmu adalah kotor bagiku, bagaimana bisa setelah bersama wanita lain kau juga ingin menyentuhku? Menjijikan"
Oke batas kesabaran Gaara sudah habis, gadis ini benar-benar membuatnya meledak hanya dengan berdebat dengannya, otaknya siap untuk terbakar lalu Gaara meraih belakang kepala Hinata dan menekankan bibirnya pada bibir gadis mungil itu.
Cukup lama untuk Hinata menyadari apa yang di perbuat Gaara padanya, saat kesadaran itu semakin jelas ia coba untuk melepaskan diri, namun Gaara malah semakin kasar memiringkan kepalanya mempertemukan bibirnya dengan bibir Hinata.
"Rasamu tak sepahit ucapanmu" nadanya dingin setelah melepaskan Hinata
Gaara beranjak menuju pintu menguncinya lalu beranjak menuju kamarnya.
.
Hinata terduduk di ruang tamu itu, apa yang baru saja terjadi pikirnya, kenapa Gaara menciumnya? Kenapa Gaara melakukan hal itu?
.
Gaara bersandar pada pintunya tangannya memegang bibirnya entah apa yang ia pikirkan saat itu ia hanya ingin agar Hinata berhenti mengucapkan kata-kata yang membuatnya sakit hati. Tunggu! Kenapa ia sakit hati? Gaara mengusap wajahnya kasar beranjak menuju kasurnya dan tertidur
-naurovhy-
Pagi ini entah mengapa wajah Hinata terus memerah mengingat kejadian semalam, ia mengenyahkan segala pikiran aneh itu dan mulai membuat sarapan, untuk dirinya sendiri ya tentu saja pagi-pagi sekali Hinata sudah melihat mobil Gaara meninggalkan rumah ini. Dan percayalah itu sudah sangat biasa untuk Hinata
Ia memandang kalender ini sudah bulan april, sebentar lagi hari ulang tahun pernikahannya. Dua tahun meresmikan dirinya menyandang nama Sabaku, hatinya kembali tercubit karna ia hanya menyandang nama besar itu bukan merasakannya. Pikirannya kembali melayang saat ia menemukan foto indah Gaara dan wanita pink itu, itu merupakan suatu kejutan namun apa yang Hinata temukan dalam laci lemari kecil Gaara jauh lebih mengejutkan.
.
9 pm ..
Pintu rumah itu di ketuk pelan, Hinata binggung siapa yang mengetuk pintu? Aneh pikirnya jika semua tamu yang datang kerumahnya pasti akan memencet bel, lalu kenapa orang ini menggetuk pintu.
Perlahan ia membuka pintu itu, mengintip dari celah yang terbuka ... sepi tak ada orang disana, apa jangan-jangan hanya anak-anak yang iseng? Saat ia akan menutup pintu lagi matanya menangkap tas kerja Gaara yang tergeletak di lantai, ia semakin lebar membukan pintu itu dan benar saja tubuh Gaara terduduk di lantai dan bahunya bersandar pada pintu.
Hinata terkejut dan menghampirinya, bagaimanapun ia tak akan mungkin membiarkan Gaara sendirian disini, walaupun sebenarnya ia ingin, tapi secara naluriah ia menolong Gaara dan bersusah payah membawanya ke dalam. Sadar tak mungkin sanggup membawa tubuh besar itu ke kamarnya di lantai dua, Hinata membaringkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
'Penampilannya sih baik-baik saja, pikir Hinata namun panas tubuhnya yang mengkhawatirkan'
Setelah melepaskan pakaian yang ia rasa pengap jika di pakai Gaara, Hinata mengambil baskom besar dan mengompres Sabaku bungsu itu.
.
Perlahan ia mengerjapkan Jadenya, kepalanya terasa berputar saat kesadaran itu mulai datang ia kaget karna berada di rumahnya, dengan kain hangat yang ada di dahinya. Kapan aku pulang? Pikirnya, dan aroma itu kembali menyapanya masakan Hinata selalu beraroma seperti ini.
Gaara bangkit duduk menengok ke dapurnya dan benar saja gadis mungil itu tengah memasak entah apa?
"Kau sudah sadar?" Hinata bertanya
Gaara hanya menggangguk menanggapinya, terkadang ia merasa marah karna sekarang Hinata tak pernah lagi memanggil namanya
"Makanlah, -Hinata menyodorkan bubur buatannya- akan membuatmu lebih baik"
Gaara mengambil mangkuk itu dan mulai menyendokan iainya ke dalam mulutnya
"Sshhhh" Gaara mendesis
"Ada apa?"
"Panas" ucapnya datar
Hinata terkejut, dan tanpa sadar tersenyum pada tingkah Gaara, siapa sebenarnya pria ini? Tingkah sangat berbeda, melihatnya mengeluh tadi bagaikan melihat obito merajuk pada Suke niisan
Gaara menaikan sebelah alisnya melihat Hinata menahan senyumnya
"Apa selalu seperti ini rasa masakanmu?"
"Apa?"
"..." ia tidak mejawab, sejujurnya malu jika harus mengakui jika masakan Hinata sangat lezat.
Ish, pria menyebalkan sudah kembali batin Hinata
"Masih jam sembilan, masih sempat ke dokter"
"Aku tidak mau ke dokter"
"Tapi kau harus ke dokter"
"Aku sudah bilang tidak mau, dan jangan suruh mereka datang kemari"
"Tapi .."
"Aku hanya demam, besok juga sudah hilang. Terimakasih buburnya" Hinata membulatkan matanya mendengar perkataan Gaara
Ia beranjak mengambil tas dan juga jas kerja beserta dasinya saat langkah naiki tangga ia berbalik menatap Hinata
"Tadaima Hinata" ucapnya
"O-okaeri" tanpa sadar Hinata menjawab salam itu pipinya merona hebat ini pertama kalinya, Gaara berterima kasih padanya, Gaara mengucapkan salam padanya, dan yang lebih hebat Gaara memanggil namanya
Ia terduduk memegangi pipinya yang seperti terbakar, panas sangat panas
.
Gaara terduduk di meja kerjanya pikirannya melayang pada pertengkarannya dengan Sakura tadi siang ...
"Kau bilang aku ini kekasihmu? Tapi kau mengabaikanku" suara Sakura meninggi
Aku selalu berkata Hinata istriku tapi aku juga selalu mengabaikannya
"Kau berbohong padaku, mengingkari janjimu untuk bertemu dengannya kan?"
Bahkan lebih dari sekali ia mengingkari janjinya dengan Hinata karna Sakura
"Wanita mana yang tahan kau perlakukan seperti itu?"
Apa Hinata juga tak akan bertahan?
"Jangan pernah menghubungiku lagi, sebelum kau menceraikan istrimu itu" katanya lalu meninggalkan ruang kerja Gaara
Apakah aku benar-benar sanggup menceraikan Hinata? Dan bayangan Hinata yang menangis melintas di benakya
"Aku melawanmu bukan karna Sasuke-kun atau siapapun, aku melawanmu karna semua sikapmu padaku selama ini ... aku ini istrimu kan Gaara-kun?
"Aarrgghhh" Gaara mengerang keras, entah bagaimana ia harus bersikap Hinata atau Sakura? Keanggunan atau kecantikan? Keceriaan atau kelembutan? Tawa atau rasa nyaman?
Pikiran-pikiran aneh terus bermunculan di kepala merahnya, lelah ia membaringkan tubuhnya di kasur dan membiarkan alam mimpi mengambil alih kegundahannya.
.
Jam 8 pagi Hinata terkejut melihat jam dindingnya, hari ini ia harus mengantar dua sejoli NaruSasu ke bandara, karna jadwal liburan mereka sudah habis ia bergegas turun dari ranjangnya dan pergi mandi, saat ia akan turun ke bawah, bagaikan menemukan emas. Ia melihat mobil Gaara terparkir rapih di halamannya.
Mungkinkah Gaara juga kesiangan seperti dirinya?
Takut namun mencoba memberanikan diri memasuki ruangan itu, terakhir ia memasukinya, ia mendapatkan tamparan telak dari Gaara.
*kriiet* ia membuka pintunya sedikit pandanganya menelusuri, lalu menemukan Gaara tengah berjalan teratih menuju ranjangnya, Hinata berlari membantunya
"Kau panas sekali" serunya saat memgang tangan Gaara
"..." ia bergeming
Hinata membawa Gaara ke kasurnya, membaringkannya disana tiba-tiba ponselnya berbunyi
"... aku masih di rumah Niisan"
...
" ...umm iya aku akan segera kesana"
... Hianata melayangkan pandangan bertanya pada Gaara saat pria itu memegang tangannya
"Jangan pergi" kata lirih, hanya seperti bisikan
"...ah, ya .. aku umm" binggung harus menjawab apa Hinata berjalan keluar dari kamar itu.
Gaara menatap kepergiannya, bodoh apa yang ia lakukan? Melarang Hinata pergi lagi? Memohon Hinata untuk tinggal bersamanya? Lebih dari bodoh!
Jadi ini perasaan Hinata saat ia memintaku jangan meninggalkannya? Dan yang kulakukan? Tetap melangkahkan kaki menuju Sakura.
Kami-sama sungguh sakit. Bagaikan ada yang mengiris-iris tipis hatinya, menyayatnya perlahan-lahan dan mahluk mungil itu telah mengalaminya berkali-kali. Bagaimana mungkin ia akan bertahan?
Gaara kembali memejamkan matanya, tubuhnya sangat lelah
Srmentara itu Hinata ...
"...Suke nii aku, umm sepertinya tak bisa mengantarmu dan Naru nee"
...
"...Gaara sedang sakit, aku tak mungkin meninggalkannya"
...
"...maaf, aku benar-benar minta maaf"
...
"...baiklah, kabari aku begitu kalian sampai, sampaikan salamku pada Naru neesan jaa~"
Setelah memutus sambungan itu ia langsung, menelepon dokter yang dulu merawatnya
"...moshi-moshi Tsunade-san?"
...
"...ya, um bisakah anda datang kemari?"
...
"...ah, iie bukan aku, Gaara demam"
...
"...baiklah aku akan menunggu anda"
.
Ia kembali memasuki kamar itu, lavendernya manangkap Gaara yang tengah terlelap, namun keringat membasahi area wajahnya, Hinata beranjak ke dapur mengambil sebaskom es batu dan juga air minum. Ia akn mengompres Gaara seraya menunggu dikter cantik itu datang.
Gaara sedikit menyergit saat Hinata menempelkan handuk berisi es batu itu di dahinya, mungkin karna hawa dingin yang tiba-tiba. Pandanganyq menelusuri wajah Gaara, rambut merahnya, matanya, hidungnya, dan bibirnya, Hinata menelan ludahnya beyangan kan Gaara yang menciumnya kasar kembali terngat. Secepat mungkin i meggelengakan kepala, mengenyahkan pikiran itu, tepat saat itu bel rumanya berbunyi.
.
Sudah jam 6 sore tapi Gaara belum juga sadar Hinata mulai cemas, Tsunade-san mengatakan Gaara mungkin kelelahan dan pola makannya tidak teratur. Kembali ia memasuki kamar Gaara, mulai terbiasa dengan semua hal yang ada di sana, iamelangkah hendak mengecek suhu tubuh Gaara, terlebih ia harus membangunkan pemuda itu untuk meminum obatnya. Hinata menduduki sisi tempat tidur Gaara meletakan tangan di keningnya dan mendesah lega. Panasnya sudah turun, pikir Hinata.
*dip* Gaara membuka jadenya, cukup terkejut mendapati Hinata berjarak sedekat ini debgannya, perlahan tapi pasti debaran jantung Gaara meningkat, aneh bahkan dengan Sakura yang notabene adalah kekasihnya, wanita yang dicintainya jantungnya tak pernah berulah seperti ini.
"Kau merasa lebih baik?" Kata Hinata
"Ini jam berapa?"
"Jam 6"
"Kenapa kau ada disini? Tidak mengantar Uchiha itu kebandara?"
"Kau sakit, aku tak mungkin meninggalkanmu" jawab Hinata
"Kh, murah hati sekali" Gaara berkata sinis, untuk menutupi kegembiraan dalam suaranya
"Kau memintaku jangan pergi tadi"
"..." Gaara diam namun jadenya meminta penjelasan kalimat ambigu Hinata
"Dulu aku pernah memintamu untuk tinggal sekali, namun kau tetap pergi. Rasanya sangat tidak enak -Gaara membenarkan- aku tidak ingin orang lain merasakannya"
Kalimat terakhir Hinata membungkam Gaara, ia perduli, bahkan setelah semua yang Gaara lakukan pada gadis itu, ia masih peduli. Ia masih sama dengan gadis yang dipinangnya 2 tahun lalu.
Hinata diam menatap Gaara yang memandanginya intens, terlebih saat Gaara mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Hianata, namun belum tersentuh tangan Gaara berhenti di udara
"Kau, dan seluruh anatomi tubuhmu adalah kotor bagiku" kata-kata itu berputar di benak Gaara, membuatnya menghentikan niatnya untuk menyentuh Hinata. Ia menarik tangannya lalu memalingkan wajahnya menghindari pandangan Hinata.
.
Pagi ini Gaara merasa luar biasa baik, entah mengapa menemukan Hinata yang tertidur di tepi ranjangnya membuatnya teramat sangat bahagia, karna itu hanya berarti satu hal. Gadis itu menjaganya semalaman!
"Kau ada acara hari ini?" Gaara bersuara dari belakang Hinata
"Eh?!" Terkejut gadis itu menjatuhkan sendok di tanganya
Gaara menyeringai melihat reaksi Hinata, lalu menghapus jejak tepung di hidungnya, mendapat perlakuan seperti itu Hinata menautkan alisnya, lalu menjauh.
"Aku bertanya"
"Tidak" jawab Hinata singkat
"Kau .. mau pergi bersamaku"
Hinata berbalik menghadapnya memandangi wajah Gaara lama
"Kau masih sakit?"
"Aku sudah sembuh"
"Lalu kenapa kau bersikap baik padaku?"
"Apa aku tak boleh bersikap baik padamu?"
"Yeah, hanya saja hingga beberapa puluh jam lalu kau masih menjadi satu-satunya orang yang kubenci"
"Kau membenciku?" Nada marah menghiasi suaranya
"Apakah aku harus memujamu?"
"Sebagian besar wanita. Ya!" Gaara menyeringai manggoda Hinata jauh lebih menarik dibanding apapun
"Dan yang sangat di sayangkan tuan Sabaku, aku bukan salah satu dari sebagian besar itu"
"Aku pastikan, kau akan menjadi salah satu dari sebagian besar itu" katanya kembali menggoda
"Terlalu percaya diri" Hinata kembali berkutat dengan masakannya
"Omong-omong kau tidak pernah memanggil namaku? Kenapa?"
"Penting?"
"Sangat"
"Kami-sama, apa yang terjadi padamu? Kau yakin tidak perlu memreiksakan kepalamu? Mungkin terjadi benturan atau apa?"
"Aku rasa baik"
Hinata menatapnya sengit.
"Salah jika aku bersikap baik padamu? Aku hanya ingin menjadi suami yang sewajarnya"
"Katakan itu 2 tahun lalu dan aku akan percaya"
"..." Gaara merenungkan kata-kata Hinata, benar ia sudah terlambat, sangat terlambat
Merasa kata-kata terakhirnya sangat kasar Hinata menambahkan "aku hanya tidak ingin bermimpi, keadaan ini sudah lebih dari cukup untukku"
"Aku ... aku akan mengakhirinya dengan Sakura"
"Jangan membuat janji yang tak bisa kau wujudkan Gaara-kun"
.
Mungkin itu benar, ia takan sanggup mengakhiri hubunganya dengan gadis Haruno itu, namun entah mengapa ia ingin membahagiakan gadis ini, melihat gadis ini tersenyum, tertawa, gadis yang telah menjadi istrinya Hyuuga Hinata.
Gaara berdiam diri cukup lama di kamarnya, hingga sebuah ketukan halus membuyarkan lamubannya ...
"Kau harus minum obatmu" Hinata hadir di dengan nampan berisi makanan dan obat-obatan, Gaara hanya diam menanggapinya
Hinata melangkah menghampiri Gaara, meletakan nampan itu di sisinya
Gaara memperhatikan gerak-geriknya, gadis ini lebih pendek dibanding Sakura, namun kesal itu justru menimbulkan arti munggil untuk gadis ini.
Saat ia akan beranjak Gaara berlari dan memeluknya dari belakang,
"Maafkan aku" ucapnya parau
Hinata membeku, ia seperti pating mencerba semua keadaan ini, Gaara memeluknya erat dan hangat, mengucapkan kata maaf dengan suara yang sarat akan kepedihan
"Aku mohon maafkan aku Hinata, aku tau tak pantas dimaafkan, kau boleh menghinaku, mencaciku bahkan memkulku tapi aku mohon jangan pernah membenciku"
Hinata tetap diam
"Jangan membuat jarak di antara kita"
"Terlambat Gaara, semua sudah terlambat"
Tbc
Review? Review? ^^
: belum belum, kan Gaara belum menderita hohoho ...
NisaOtaku25 : hehe .. arigato nee, oke saya akan berjuang untuk anda (?)
Agehashiroi : iia kah? Hem kebiasaan lama, oke nanti coba di perbaiki ya ..
Ika chan : ehehe ^^a maaf ya lammaaaa bgt updatenya . Kurang greget ya, hihi maaf lagi ya ..
Honoka shiper : kenapa bisa tau, alesannya simple sih dan sudah aq kuak juga disini .. hoho ..
Nana : hehe ^^a maaf lama, iia deh gagal rencana indah naru, tadinya mau dibikin seperti itu -saku tak tau menau- but, setelah dipikir-pikir thts so impissible ya, secara udah 2 tahun gitu hubungannya ..
Chiby beary : hehehe, maaf ya chiby-san sasu tak bisa muncul sesuai harapan, alesannya um karna kharakter Sasuke itu terlalu kuat ntuk saya, kalo dy dihadirkan single dng segala pesonanya .. wah nanti aku yg bingung mau ending bagaimana sasuhina atau gaahina ..
Enrique : cuma refleks ko .. oke insya allah di chap selanjutnya aku bakal bikin hina menjadi cewe yg tegar ..
Sa-chan9797 : thank a lot ^^ ini sudah lanjut, maaf ya lama
Neng avie chan : hehehe ... ada ga yaa? Korek sendiri deh fellnya ..
Hime love : ini sudah lanjut hime-san
Dewijomloslalu99 : siiaappp, apakah Gaara sudah jengkel?
