Gomennasai

Presented by Naurovhy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, alur berantakan, dll.

If you don't like? So don't read! Happy reading all

please RnR.

* aku minta maaf banget untuk keterlambatan publish fic ini ... hontouni gomennasaii *

Kenapa? Kenapa Sesakit ini? Bukankah harusnya ini yang aku inginkan? Bukankah selama ini aku mengharapkan ia menjauh dari hidupku? Tapi kenapa setelah semuanya ... kenapa aku harus merasakan sakit hati?

.

Sepanjang hari ini Gaara terdiam di kamarnya, ia memikirkan kata-kata Hinata, ingin rasanya ia berlari dan mengejar gadis itu, mengatakan bahwa ia akan memperbaiki semuanya, ia akan menebus semua keterlambatannya, ia akan bersikap baik, sangat baik malah.

Tapi apakah gadis itu akan percaya?

Bajingan seperti dirinya, yang telah menyakitinya, menghianatinya, memukulnya, apakah ia akan memaafkan ku?

.

9 april, pagi yang baru Gaara bersiap di kamarnya ia akan merubah segalanya, ia akan mengembalikan kepercayaan Hinata padanya! Ia telah memesan beberapa tiket bioskop, membooking tempat di restoran, juga memesan sebuket bunga anggrek ungu yang cantik, ia akan mengajak Hinata berkencan. Walaupun terkesan aneh karna mereka sudah menikah, namun ini adalah kencan pertama mereka.

"Kau lama" kata Gaara di mobilnya, saat Hinata menduduki kursi penumpang

"Kau mau mengajakku kemana? Ada yang ingin ku berikan padamu"

"Oh ya?! Apa?" Tanya Gaara antusias

"Kau mau mengajakku kemana?" Hinata kembali bertanya

Bukannya menjawab Gaara malah tertawa, keras kepala pikirnya "aku memperoleh beberapa tiket, dan tidak punya teman untuk menontonnya"

Hinata mengangkat alisnya, membuat Gaara bertanya "kenapa?"

"Berbohong itu tidak baik Sabaku-sama" Hinata memutar lavendernya

"Kenapa aku harus berbohong?"

"Tidak punya teman katamu? Kemana Haruno tersayangmu itu?"

"... aku .. ingin menontonnya bersamamu"

Hinata terkejut mendengarnya, bukan karna kata yang terlontar, namun karna ketulusan yang mewarnai suara Sabaku bungsu itu. Kehabisan kata-kata Hinata memilih diam.

.

Sebenarnya bukannya Hinata tak ingin. Ia sangat mengharapkan perlakuan Gaara yang seperti ini, menyapanya, menggodanya, menghiburnya segala hal yang tak pernah ia dapatkan selama ini. Namun semua perlakuan Gaara padanya selama ini membuatnya takut, takut untuk berharap, takut untuk memulai takut jika semuanya hanya semu, jika Gaara hanya mempermainkannya. Tapi hati kecil Hinata tetap mengharapkannya ... inikah rasanya mencintai? Huh sejak kapan ia menjadi seorang macsokist seperti ini?

Tapi kata-kata Gaara beberapa hari yang lalu, dapatkah ia mempercayainya? Memepercayai lelaki yang telah meyakitinya?

.

Mereka memutuskan menonton sebuah flim legenda yang saat itu sedang booming, tak banyak bicara, meraka memilih menikmati akting yang disugukan para aktor di sana.

"Kau suka makan apa?" Gaara bertanya di lorong bioskop

"Tempura" jawab Hinata

"Kau mau makan itu? Ayo" ajaknya, entah sadar atau tidak Gara menggandeng tangan Hinata menuju parkiran, sedangkan Hinata merasakan pipinya mulai terbakar

Merasa Hinata diam Gaara menoleh padanya, mendapati warna pipi gadis itu merona hebat sesaat kemudian menyadari bahwa tangannya menggenggam erat tangan gadis mungil itu, bukannya melepaskan Gaara justru semakin mengeratkan genggamannya walaupun rona merah muda Hinata kini menjalar di kedua pipinya pula.

.

Acara hari itu sukses, walaupun tetap dingin Hinata mulai banyak bicara saat menjawab pertanyaan pertanyaan konyol yang Gaara lontarkan,

"Ini sudah sore untuk apa kita ke taman?" Protes Hinata saat Gaara memaksanya untuk ke taman sebelum mereka pulang, lalu Gaara malah menjawab dengan alasan konyol ingin melihat sunset katanya, Gila! Itu pikiran Hinata mendengar jawaban Gaara

"Lalu apa yang ingin kau berikan padaku?" Tanya Gaara

"Itu, tertinggal di rumah"

Lalu Gaara tertawa dan mengusap kepala Hinata mesra, apakah seperti ini rasanya memiliki kekasih? Batin Hinata

"Hinata" Gaara memanggilnya saat mereka duduk di bangku taman

"Ya"

"Saat itu ... kenapa kau setuju menikah denganku?"

Kaget! Lavender gadis itu membulat "karna Hikaru-obaasan memintaku"

"Hanya karna kaasan ku meminta hal itu padamu?"

"Ya, kenapa?"

"Benar tak ada alasan lain?"

"Kau tidak percaya?"

"Hanya saja terlalu aneh, kau tidak mengenalku, dan hanya karna kaasan memintamu menikahiku kau menerimanya"

"Aku memang tak mengenalmu -Hinata membenarkan- tapi aku sangat mengenal Kaasa mu"

"Kau kenal anakku Hina-chan?"

"Um, ya Temari nee dan Konkuro Nii tentu aku mengenalnya" jawab Hinata

"Bukan, bukan mereka tapi anak bungsu ku, Gaara. Lusa ia akan kembali ke Konoha setelah menyelesaikan studinya di Jerman"

"Benarkah? Tentu Obaasan senang"

"Ya, aku sangat senang" Hikaru tertawa

Hinata tersenyum manis menannggapinya

"Tapi aku agak cemas" Ekspresi Hikaru berubah murung

"Kenapa?"

"Dia itu replika dari suamiku Hinata, tak hanya rupanya bahkan kelakuannya pun mirip -Hikaru mencibir- keras kepala, egois, tak mau mengalah, selalu merasa bahwa dirinya paling benar"

Hinata terkikik mendengar penggambaran wanita ini terhadap suaminya "tapi Obaasan mencintainya kan?" Hinata menggoda

"Eh .. iya" rona merah menghiasi pipi wanita paruh baya itu

"Lalu apa yang Obaasan cemaskan?"

"Kubilang mereka mirip, ia pasti akan sangat sulit mendapatkan teman di Konoha terlebih dengan sikapnya itu -Hikaru menatap Hinata dalam- Hinata-chan kau mau kan menjadi temannya nanti"

"Ah .. ya tentu saja"

Hikaru tersenyum lega, lalu obrolan mereka sore itu bergulir seputar Gaara dan kelakuannya. Membuat sosok pria asing yang belum di kenalnya itu mendapatkan tempat khusus di hati Hinata.

"Dia adalah wanita yang sangat baik, ibu yang sangat menyayangi anaknya. Kadang aku iri, andai aku masih memiliki orang tuaku pasti aku akan merasakan lasih sayang yang seperti itu juga"

"Ya, ia adalah wanita terbaik dalam hidupku"

Hinata tersenyum lembut, membuat kecantikannya terpancar berjuta kali lipat, membuat jantung Gaara berdebar tak karuan rasanya

"Kau sangat menyayanginya" tebak Hinata

Gaara diam, "dan merindukannya" tambah Hinata

.

Gaara terpaku, kenapa Hinata bisa mendalaminya sampai seperti itu? Mengetahui jalan pikirannya, mengerti perasaannya, bahkan Sakura tak pernah mengerti pribadinya yang sejujurnya, dan apa yang ia ketahui tentang gadis ini? Tidak ada! Ia hanya tau bahwa gadis ini bermarga Hyuuga.

Rttt rrttt rttt smartphone Gaara bergetar ada pesan masuk

-Sabaku sama, pesanan anda sudah ada, saya menunggu di dekat air mancur- itu adalah pesan dari asisten pribadinya, ia memerintah pria itu untuk membelikan bunga yang ia pesan

"Hinata" panggilnya

"Hm.."

"Aku akan kesuatu tempat, kau tunggu disini sebentar, aku segera kembali"

"Tunggu kau mau kemana?"

"Aku mau mengambil sesuatu"

"Tapi ..."

"Sebentar"

Lalu Gaara beranjak pergi meninggalkan Hinata, ia melangkahkan kakinya lebar-lebar ingin cepat sampai tujuan dan memberikan bunga itu pada Hinata, akan bagaimana reaksi gadis itu nanti? Pikirnya, dari kejauhan ia sudah melihat Haku berdiri membawa buket bunga pesanannya, pemuda itu tersenyum ramah padanya.

"Sabaku-sama, apakah anda akan membuat kejutan?" Tanya Haku

"Ya" katanya menerima bunga yang disodorkan asistennya itu

"Itu, emm kurasa tak akan berhasil" Haku kembali tersenyum

"Kenapa?" Gaara mengerutkan keningnya

"Karna ... um.." ia menggantung penjelasannya, baru saja Gaara ingin bertanya sebuah lengan mendekap pinggangnya

"Karna aku sudah melihatnya Gaara-kun"

"Sakura"

.

Lama ... dia itu sedang apa sih?pikir Hinata, apakah Gaara akan meninggalkannya lagi? Apakah Gaara akan ...?

Merasa bimbang dengan pikirannya Hinata memutuskan untuk menyusul kearaah Gaara pergi tadi, semakin melangkah jantungnya semakin berdebar, semakin lama semakin keras hingga ia terpaku di tempat.

Di hadapannya ada sepasang kekasih yang tengah bermesraan, pasangan yang sangat familier untuk lavendernya, seorang pemuda yang beberapa saat lalu menggodanya, menggenggam tangannya, mengusap rambutnya, membuatnya percaya akan perkataanya, membuatnya merasa semua akan berubah dan pernikahannya akan berjalan normal, dan kini membuat hatinya hancur untuk yang kesekian kalinya.

Walaupun enggan namun airmata itu tetap membasahi wajahnya, ia menangis dalam diam, kenapa Gaara melakukan ini? Bukankah ia berjanji akan meninggalkan Sakura? Bukankah ia berkata ingin memulai semuanya dari awal kembali? Lalu apa artinya ini?

.

"Kenapa kau ada disini?"

"Aku mencarimu ke kantor, mereka bilang kau sedang sakit, lalu aku bertemu Haku-san ia berkata akan menemuimu di taman makannya aku kesini"

"..."

"Ini bunga untukku? -Sakura mengambil bunga itu- aku lebih suka mawar, tapi ini juga cantik"

Gaara masih tetap diam, pikiran kacau balau, bagaimana gadis ini bisa ada disini? Lalu seketika ia ingat Hinata yang ia tinggalkan tadi

"Arigato nee Gaara-kun" kata Sakura memeluknya, lalau mengecup pipi Gaara

"Gaara" sebuah suara lain memanggilnya, suara yang membuatnya sesak karna nada yang gadis itu kenakan, menoleh dan mendapati dirinya akan menyesal seumur hidup

Gadis itu berdiri di sana, terlihat jelas jejak airmata yang ia hapus kasar di pipinya, pipi yang beberapa saat lalu ia nikmati rona merahnya, tangan gadis itu terkepal erat menguapkan rasa hangat yang Gaara rasakan saat ia menggengamnya

Kami-sama ... ia tak ingin seperti ini, sungguh

"Hyuuga Hinata" mengambil tugas Gaara, Sakuralah yang berkata "aku Haruno Sakura, kekasih Gaara"

Saat Gaara hendak bersuara, Hinata lebih dulu berkata

"Haruno-san, senang bertemu dengan anda" sapanya ramah

"Hinata, aku bisa jelaskan"

"Harusnya kau bilang dengan jelas padaku, Gaara jika kau ingin menemui kekasihmu ini, tak perlu menyuruhku menunggu"

"Kau bersamanya?" Tanya Sakura

"Bukan seperti itu, semua ini salah paham" tak menggubris pertanyaan Sakura, Gaara tetap mencoba menjelaskannya pada Hinata

Hinata menatapnya, terhipnotis pada warna hutan di irish Jade Gaara, pada suara lembutnya, pada ucapan hangatnya

"Untuk apa kau menemui kekasihku?" Sakura kembali berkata, kini ia merangkul lengan Gaara

"Aku .. tidak ada, ah .. ya aku ingin memberikan ini padamu" Hinata melepas cincin pernikahannya dan memberikannya pada Sakura

Gaara membulatkan mata melihat perbuatan Hinata, tak berbeda jauh dengan Gaara, Sakura tampak sangat terkejut dengan semua ini

"Apa maksudmu?" Gaara memegang tangan Hinata

"Merestui hubungan kalian" jawabnya enteng, lalu berbalik meninggalkan tempat itu

.

Hinata berjalan sangat cepat, ia harus menjauh, sejauh mungkin ia tak ingin mereka berdua melihatnya menangis, melihat kelemahannya, kerapuhannya, ketidak berdayaannya

"Tunggu" Suara itu kembali memanggilnya, namun Hinata tak perduli ia tetap melangkah menjauh

"Kubilang tunggu" kini Gaara memegang pundaknya

"Apa lagi?"

"Apa maksudmu memberikan cincin itu pada Sakura?"

"Bukankah aku sudah mengatakan maksudku tadi? Kau tidak mendengarnya?"

"Kau serius?" Entah mengapa Gaara mempertanyakan hal itu

"Apakah aku terlihat main-main? Aku berbeda denganmu Gaara, aku tak akan pernah mempermainkan orang lain"

"Aku ..." Gaara tau, ia tau kemana arah pembicaraan gadis ini

"Aku kira aku bisa mempercayaimu, aku mengira kau bersungguh-sungguh dengan semua perkataanmu, aku bodoh karna berharap mungkin kau sudah berubah"

-Aku bersungguh-sungguh Hinata, aku berjanji akan berubah- ingin rasanya Gaara mengucapkan kalimat itu, namun entah mengapa lidahnya kelu

"Kau tau Gaara, ini jauh lebih menyakitkan .. harusnya Hiks hiks .. harusnya kau .. kau tak perlu bersikap baik padaku .. hiks hiks .. tak perlu membuatku berharap, jika .. jika kau hanya akan melukaiku sekali lagi"

Setelah mengungkapkan isi hatinya, segala beban yang dirasakannya Hinata berlari menjauh meninggalkan Gaara yang tertegun

"Baguslah ia telah menyerah, dengan begitu kita bisa menikah Gaara-kun, ini hadiah yang sangat spesial di hari jadi ke dua tahun kita"

"Lepas" ucapnya dingin menghempaskan tangan Sakura yang menggenggamnya

"Kau kenapa Gaara-kun? Kau ... Gaara berhenti" teriaknya saat Gaara tidak menubrisnya malah berlari menyusul Hinata

-naurovhy-

"Hinata" teriaknya saat memasuki rumah, sepi tak ada jawaban

Gaara memeriksa seisi rumah, namun nihil gadis itu tak ada disini,

"Apa dia tidak pulang?" Gumamnya

Gaara memutuskan menunggunya saja, mungkin Hinata masih dijalan. Begitu ia sampai nanti Gaara akan menjelaskan segala kesalahpahaman di taman tadi, bahwa pertemuannya dengan Sakura adalah sebuah kebetulan, bahwa ia sama terkejutnya dengan Hinata.

Setengah jam berlalu, namun Hinata masih belum muncul jenuh Gaara memutuskan untuk mencarinya di kamar ..

Saat ia memasuki ruangan itu aroma lavender langsung menerpanya, entah mengapa membuatnya semakin merindukan gadis mungil itu, kamar ini lebih kecil dari kamarnya, dan lebih nyaman mungkin. Tapi ada yang aneh, entah mengapa kamar ini sedikit kosong ia mengalihkan pandanganganya ke seluruh penjuru dan menemukan sebuah map coklat di atas kasur queen size itu, perlahan ia membukanya dan pada saat itu dunianya runtuh.

Map itu berisi surat cerai yang ia siapkan untuk Hinata 6 bulan yang lalu, kini bukan hanya tanda tangannya yang menghiasi kertas itu, tapi juga tanda tangan Hinata. Entah mengapa Gaara merasa marah, ia merasa dikhianati. Kenapa gadis itu meninggalkannya seperti ini? Membuang seorang Sabaku Gaara? Saat ia hendak pergi sebuah surat berwarna biru terjatuh dari map itu ..

Gaara-kun ...

Mungkin ini terakhir kalinya aku memanggilmu seperti ini, umm .. mungkin ini tidak penting untukmu tapi aku tetap ingin mengatakannya "Happy Aniversary Gaara-kun"

Gaara meremas kertas itu sedikit ..

Kau pasti kaget kenapa aku bisa mendapatkan surat ini kan? Gomen, aku menemukannya bersamaan dengan fotomu dan Haruno-san enam bulan lalu, maaf tak langsung mengatakannya padamu

Jadi ... selama ini ia tahu ...?

Dia gadis yang sangat cantik, Haruno itu, ia sangat serasi denganmu .. aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan padanya, aku merestui kalian berdua. Semoga kalian bahagia selamanya

Jade Gaara memburam, bahunya bergetar menahan emosi

Aku akan pergi, jangan khawatir aku akan menghilang dari kehidupan kalian, akan aku pastikan hal itu. Gaara-kun .. kau pernah bertanya kenapa aku setuju menikah denganmu padahal kita tak saling mengenal? Kau salah, mungkin hanya kau yang tidak mengenalku, karna sebenarnya aku mengenalmu. Memang tidak secara langsung, tapi aku mengenalmu dari semua cerita Hikaru-obaasan. Dan alasanku menerima permintaannya adalah .. apakah kau akan percaya jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?

Kini jade Gaara membulat sempurna, permainan apa yang sedang Kami-sama siapkan untunya?

pasti kau berfikir aku aneh? Tapi entah bagaimana aku jatuh cinta padamu, saat kau mengucapkan janji setiamu di depan penguhulu 2 tahun lalu jujur aku sangat senang namun aku juga sedih, karna aku tau kau ... tak akan pernah mencintaiku, kau tak perlu menjelaskan aku bisa membacanya dari sorot matamu. Aku hanya berfikir mungkin waktu akan membuatmu membalas perasaanku ..

Air mata Gaara berderai, dadanya terasa sesak, seakan udara enggan masuk memenuhinya

Tapi kemudian aku mengerti, cintamu pada gadis Haruno itu sangat besar. Maka dari itu aku akan mengalah, aku pergi peperangan ini tak mungkin aku menangkan, aku membebaskanmu Gaara-kun. Selamat tinggal semoga kau bahagia.

Hyuuga Hinata

Gaara ambruk, kaki jenjangnya tak sanggup menopang berat tubuhnya, hatinya tak sangup menerima kepedihan seperti ini, kenapa disaat ia ingin memperbaiki? Disaat ia ingin menjaganya, membahagiakannya? Kenapa disaat ia mulai mencintai? Kenapa gadis itu malah pergi? Apakah dosanya tak termaafkan? Apakah ia sedang menjalani karma? Jika benar ... kami-sama aku mohon, cabutlah nyawaku ... aku tak sanggup menerima semua ini, aku tak sanggup menjalaninya ...

Aku mohon kami-sama bunuhlah aku .. bunuhlah pendosa sepertiku ..

-naurovhy-

2 bulan sejak kejadian itu kini Hinata kembali menginjakan kakinya di Konoha, kembali menghirup udara di tanah kelahirannya, rumahnya. Membicarakan rumah pikirannya pasti akan beralih pada sepasang jade indah dan juga rambut merah yang pekat bagai darah. Pembohong! Karna apapun topik pembicaraan yang ia gunakan pikirannya akan tetap tertuju pada bungsu keluarga Sabaku itu.

Bagaimana kabarnya? Apakah ia sudah menikah dengan Sakura-san sekarang? Sekali lagi ia tersenyum mengeyahkan pikiran bodoh itu, hal itu sudah tak akan ada hubungannya lagi dengannya.

.

Kursi itu terus bergoyang, berayun pelan meninabobokan beban yang di tanggungnya, namun si penumpang enggan memjamkan matanya, karna saat ia terlelap sedikit saja semua kenangan itu akan merangsek masuk ke dalam pikirannya, dan untuk yang kesekian kalinya membuatnya sakit hati. Membuatnya merasakan kepedihan tanpa ujung ..

"Sabaku-san, saatnya makan siang" seorang dokter muda yang ditugaskan untuk menjaganya membawa nampan berisi makanan dan beberapa buah

Hening. Tak ada jawaban, tenang saja Karin sudah terbiasa menghadapinya, selama 2 bulan bekerja disini tak pernah sedikitpun ia mendengar pasiennya membuka suara.

Gaara tak pernah mengeluarkan suaranya sedikit pun sejak kejadian itu, ia diam bagaikan mayat hidup, tak pernah memperdulikan siapapun.

Hatinya tertutup, pikirannya tertutup lagi pula i sudah memtuskan untuk meninggalkan dunia ini, untuk apa ia memperdulikan hal-hal sepele.

.

"Aku merindukanmu" katanya memelukku

"Aku juga merindukanmu" balasku

"Sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?"

"Mungkin 5 tahun"

"Aku turut berduka atas kecelakaan itu"

"Iya, arigato nee Karin-san"

Ia tersenyum "lalu kau tinggal dimana sekarang? Kau bekerja?"

"Aku, um sebenarnya baru kembali ke mari, dan ya aku bekerja kau sendiri? Sudah menjadi dokter?"

"Ehm .. tentu saja, dan aku sudah punya pasien tetap" jawabnya bangga

Aku tersenyum menanggapi semangatnya

"Kau bilang kau baru kembali, emm ... bagaimana kalau kau tinggal bersamaku? Kita bisa bernostalgia setiap malam"

"Em, tak apa Karin-san. Aku sudah mencari beberapa apartemen sementara, tidak perlu repot"

"Tidak repot, lagi pula kenapa harus mencari apartemen kalau kau bisa tinggal denganku?"

"Tapi ..."

"Sudahlah, aku tidak mau mendengar penolakan" lalu Karin menggeret Hinata dari cafe kecil itu menuju rumahnya

"Kau masih berhubungan dengan rubah pirang itu?" Katanya saat di mobil

"Maksudmu Naruto nee?"

"Yap, memangnya ada siapa lagi"

"Ya, saat ini ia menjadi brand ambassador sebuah perusahaan ternama di Milan"

"Jadi dia benar-benar menjadi model"

Hinata mengangguk menanggapinya, itu adalah sebuah cerita lama tentang pertikaiannya dengan Naruto, yang tentu saja karna sang pangeran Uchiha, kedua wanita cantik itu memperebutkan hati sang pangeran. Tapi itu sudah berlangsung lama dan walaupun selalu berkata kasar namun Hinata yakin jika gadis di sampingnya sudah merelakan Uchiha bungsu itu, dan merestui hubungan mereka.

Mereka tiba pada sebuah apartemen yang cukup luas, kamar Karin ada di lantai 3 saat mereka menelusuri lorong seorang pria tampan menunggunya di depan pintu kedua tangannya di masukan ke saku celana bahannya jasnya sudah dibuka menampakan bahu kekarnya, yang membuat Hinata terpana adalah rambut merah pria itu.

"Sasori-kun" karin berlari ke arah pria itu dan memeluknya

"Kau dari mana saja?" Tanyanya

"Moo .. aku bertemu teman lama, Hinata kemarilah -Hinata berjalan mendekat- kenalan ini kekasihku, Akasuna Sasori"

"Hyuuga Hinata desu, yoroshiku" ucapku mengulurkan tangan

"Akasuna Sasori" jawabnya pendek menjabat tanganku

Lalu mereka berdua berbincang sebentar melupakan keberadaan Hinata. Ternyata selera Karin-san memang seperti ini, batinnya pemuda ini tak berbeda jauh dari Sasuke nii, hanya saja wajahnya tampak sangat imut walaupun kesan itu tak mengurangi sedikit pun kesan maskulin dalam pembawaannya.

Tapi rambut merah itu, mengingatkannya walaupun tak sepekat rambut Gaara namun warna itu tetap saja mengena di hatinya. Sabaku Gaara adalah kenangan yang tak mungkin ia lupakan, namun juga enggan dia ingat.

.

"Bagaimana menurutmu kekasihku? Ia tampan kan?"

"Ya, sangat serasi dengan mu"

"Hehe .. lalu bagaimana dengan mu? Kau sudah memiliki kekasih?"

"Aku .. sebenarnya 2 bulan lalu baru saja bercerai"

"Ehhhhhh?! Kau serius Hinata? Bagaimana bisa? Kenapa kau bercerai?" Ia menghujani Hinata dengan pertannyaan

.

"Orang ketiga" jawabnya singkat

Karin mengerti, ia tak ingin membahasnya ia tau pasti Hinata adalah korbannya pasti ia yg di duakan saipa sebenarnya lelaki brengsek itu yang tega menyakiti gadis seperti Hinata?

"Gomen, aku tidak bermaksud. Baiklah kita lupakan saja, lalu kau bekerja sebagai apa?"

"Aku menjadi interior design"

"Honto?! Sugoi nee"

"Tidak juga, aku merasa pekerjaanmu jauh lebih hebat"

"Harusnya ..." jawab Karin lesu

"Eh, kenapa? Ada yang salah?"

"Kau tau 2 bulan ini aku mendapat pasien tetap, sepupunya Sasori-kun -Hinata menggangguk sebagai respon- ia mengalami depresi berat, tapi Saso-kun tak mau menceritakan alasannya"

"Lalu?"

"Aku sangat bosan Hinata, pria itu bahkan tak pernah bicara sedikit pun. Ia hanya duduk di kursi goyangnya dan menggenggam sebuah kotak, awalnya kukira ia tak berbicara padaku saja, tapi setelah aku menannyakannya pada yang lain, ternyata mereka mendapat perlakuan yg sama"

"Apakah ia mengalami gangguan jiwa?" Hinata membisikan pertanyaanya

"Tidak, aku yakin. Ia hanya mengalami kejadian yg sangat buruk mungkin, entahlah"

Dan pembicaraan mereka berlanjut seputar pasien baru Karin

.

Sementara itu Sasori menlajukan mobil sportnya dengan senyum penuh arti

"Hyuuga Hinata ya? -timbangnya- jadi kau sudah kembali? Apakah kau masih mengingat ku? Mungkin tidak ya, itu lebih baik karna semuanya akan menjadi kejutan besar"

Tbc

Review? Review? ...