Gomennasai

Presented by Naurovhy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, alur berantakan, dll.

If you don't like? So don't read! Happy reading all

please RnR.

Mobil itu terparkir mulus di pekarangan luas keluarga Sabaku, seorang pemuda gagah bersurai merah keluar dari mobil tersebut, menatap sekeliling dan tersenyum tipis.

"Sasori-sama" sapa seorang maid padanya

"Apa dia sudah makan?"

"Karin-san sudah memberikannya tadi"

"Baiklah, aku akan melihatnya"

"Anda ingin makan sesuatu?"

"Tidak, tapi kau bisa membuatkanku jus melon"

"Ha'i"

Langkah lebarnya menaiki tangga menuju kamar sahabat sekaligus sepupunya, terakhir ia memasuki rumah ini sekitar 2 tahun yang lalu, pada saat pesta pernikahan sepupunya ini, dan betapa terkejutnya ia saat mendengar kabar bahwa Gaara mengalami depresi berat, ia tak habis pikir kenapa sepupunya yang stoic itu bisa menjadi seperti ini?

"Saso-kun ..." suara itu terdengar sangat sedih

"Nee-san, ada apa? Kenapa suaramu seperti itu?"

"Kau bisa kembali ke konoha? Gaara masuk rumah sakit"

"Apa?! Baiklah aku akan mengambil penerbangan pertama besok pagi"

Sesampaikan Sasori di sana yang ia lihat adalah Shikamaru dan Kankuro yang tengah berusaha menghibur Temari, namun wanita pirang itu tetap menangis histeris

"Nee-san sudahlah, dokter bilang Gaara pasti kembali normal kan?"

"Hiks .. tapi .. tapi ia bilang ia tak tau kapan Gaara akan sembuh"

"Koi, sudahlah kau seperti ini tak akan menyelesaikan masalah" Shika membuka suara

"Gaara sakit apa?" Kini Sasori yang bertanya

Kankuro mendekatinya dan menceritakan semuanya pada Sasori, ia tak menyangka Gaara akan bertindak sejauh itu dan gadis pemalu itu akan mengambil tindakan seberani ini? Bercerai karna tunggal Haruno itu, Sasori tau sangat tau malah kisah perjuangan cinta Gaara mendapatkan hati sang gadis musim semi, namun masa depan tak bisa diprediksi kini malah ia yang terjebak dalam pesona Hinata dan menjadi seperti ini.

"Aku akan menjaga Gaara disini" ucap Temari mantap

"Kau tak mungkin menelantarkan anak dan suamimu neesan" kilah Kankuro

"Aku yang datang 2 minggu sekali, sehari-harinya Gaara bisa kita titipkan di bawah pengawasan Tsunade-san" tambahnya

"Tidak! Kau tidak dengar ia harus mendapatkan perhatian dan dorongan semangat penuh untuk mempercepat proses pemulihannya" bantah Temari

Sementara kedua bersaudara itu berdebat tentang pendapat masing-masing tiba-tiba Sasori membuka suara

"Aku yang akan menjaganya, sekaligus mengambil alih Sabaku Inc. Untuk sementara waktu"

Kedua bersaudara itu terdiam .. dan ..

"Untuk itu lah kau ada disini" kata Shikamaru

"Bukankah kau harus menyelsaikan studymu?"

"Itu sebenarnya aku sudah meyelesaikannya 2 minggu yang lalu, aku ingin memberikan kejutan pada kalian"

"Kau memang dewa penolong" Temari mwnghambur ke pelukan Sasori

Dan kini sudah berlangsung 2 bulan sejak kejadian itu, namun Gaara tak menunjukan tanda-tanda akan sembuh, maka itu ia menyusun segala rencana untuk mempertemukan Gaara dan gadis Hyuuga itu, semoga ia berhasil.

.

Pagi ini Hinata dan Karin memutuskan untuk berolahraga di sekitar komplek apartemen Karin ...

"Kau selama ini di Iwa? Lalu kenapa kau kembali ke Konoha?"

"Aku mendapat pekerjaan yang mengaharuskan aq tinggal di sini sementara"

"Berapa lama kau akan tinggal?"

"Mungkin 3 bulan"

"Souka"

Mereka meneruskan lari dan mengobrol seputar pekerjaan Hinata.

Karin pergi menemui pasiennya siang itu, di jemput oleh kekasih hatinya. Hinata sebenarnya agak canggung tinggal dalam apartemen ini sendirian terlebih pemiliknya yang sedang keluar, karna pekerjaannya baru mulai besok hari ini ia lalui dengan berkeliling taman, entah mengapa taman selalu menjadi tempat tujuannya menghabiskan waktu, suasana yang tenang dan sejuk selalu menjadi nilai plus untuknya, lalu Hinata mengeluarkan buku sketsanya, memainkan pensilnya membuat design ruangan yang indah dan nyaman.

Tanpa terasa waktu sudah berjalan 3 jam, Hinata kaget betapa ia lupa waktu jika sudah menyangkut pekerjaannya ini, saat ia hendak pulang lavendernya menangkap sosok yang sangat dikenalnya Haruno Sakura.

Bukannya ia tak sanggup menghadapi kenyataan, hanya saja ia belum siap jika harus melihat sejoli itu bermesraan sekali lagi, Sakura terlihat sangat jelas tengah menunggu seseorang, dan siapa lagi jika bukan mantan suaminya? Walaupun hendak pergi, namun tetap saja badannya tak bergerak tak dipungkiri ia merindukan sosok Gaara, mungkin jika melihatnya sebentar rasa rindu itu akan hilang, mungkin jika melihat mereka bersama tekadnya untuk melupakan Gaara akan semakin bulat, maka Hinata memutuskan untuk menunggu.

10 menit kemudian Sakura berdiri dan melambai ke gerbang taman, Hinata mengikuti pandangan itu mecari sosok Gaara, tapi tak ada, tak ada satu pun orang berambut merah disini, saat ia mengalihkan pandangannya lagi pada Sakura gadis itu tengah berpelukan dengan seorang pria berambut hitam, siapa pria itu? Mana Gaara? Lalu kenapa mereka berpelukan?

Berbagai macam kemungkinan muncul di kepalanya, apakah mereka sudah tidak bersama? Apakah Gaara dan Sakura sudah berpisah? Tapi kenapa?

.

"Kau harus menceritakannya padaku" tuntut Karin saat ia duduk di ruang tamu bersebelahan dengan kekasihnya

"Apa?"

"Penyebab sepupumu itu menjadi seperti ini? Pasti ada alasannya kan?"

"Hm hm" Sasori menggangguk

"Hm hm?" Karin menirukan gerakan Sasori sambil melotot padanya

"Hahahahaha" Sasori tertawa lepas

"Itu tidak lucu Saso-kun" rajuk Karin

...

"Karna wanita"

"Hanya karna wanita?"

"Istrinya, istrinya meninggalkannya"

Karin terpaku, ia tak pernah melihat cinta seperti itu, cinta yang begitu dalam hingga tak memperdulikan apapun, hingga mengabaikan segalanya, mengorbankan hidupnya.

Siapa wanita yang dicintai Gaara hingga seperti itu?

"sungguh?" Sangsinya

"Kalau kau meninggalkanku, mungkin aku akan seperti dia?"

"Aku tak menyangka, pria seperti Gaara-san, kukira itu karna masalah perusahaannya" renungnya "lalu kau tidak mencoba mempertemukannya lagi, dengan istrinya itu?"

"Aku sedang berusaha anata"

"Semoga semuanya berhasil" doa Karin

.

Entah penasaran atau apa? Hinata memutuskan kembali ke rumah lamanya, hanya sekedar memastikan pikirnya. Kemana sebenarnya Gaara? Kenapa Sakura bersama lelaki lain? Apakah mereka sudah berpisah?

Ia berdiri di balik pagar rumah Gaara, memandang kesekeliling, lalu jika mereka memang sudah berpisah, ia mau apa? Mengucapkan turut sedih? Sangat aneh bukan.

Hinata terus melongok-longgokan kepalanya kedalam rumah megah itu, tanpa ia sadari seseorang hampir lompat dari lantai dua karna melihat sosoknya.

.

Semula ia hanya ingin menghirup udara segar di sore hari, menikmati senja seperti yang selalu gadis itu sukai. Hyuuga Hinata telah menyebarkan berbagai macam virus yang membuatnya tak dapat melihat dunia selain dunianya, dunia yang dipenuhi Hinata-nya.

Hingga jantungnya hampir terlepas saat ia melihat sosok itu, gadis mungil berambut indigo panjang, semula ia pikir itu hanya halusinasi, namun berapa kalipun ia mengerjapkan matanya sosok itu tak mau hilang, ia mengenalnya sangat mengenalnya.

Kecemasan di wajahnya, tingkahnya yang bergerak resah, rambut panjangnya semua itu adalah Hinata, Hinata-nya

Namun seakan tak punya suara, Gaara tak mampu memanggilnya lidahnya kelu, tenggorokannya sakit, rasanya ia ingin melemparkan apapun ke bawah agar Hinata melihat sosoknya di atas sini. Namun ia tak sanggup, tubuhnya terlalu lelah tak bertenaga.

.

Bodohhh!

Untuk apa dia datang kesini? Bagaimana ekspresinya jika bertemu Gaara nanti? Ia terlalu ceroboh, bisa saja lelaki tadi hanya teman Sakura, karna sebenarnya ia dan Gaara sudah menikah, bodoh bodoh bodoh ...

Lalu ia beranjak pergi, meninggalkan tempat itu dan kembali ke apartemen Karin

.

"Kau ingat tentang pasien yang aku ceritakan waktu itu Hinata?"

"Sepupu Akasuna-san?"

"Iya .. aku baru tau penyebabnya tadi, kau tau Saso-kun mengatakan ia seperti itu karna istrinya meninggakannya" cerita Karin antusias

"Hingga seperti itu?"

"Ya, aku rasa itu sangat luar biasa" Karin menyesap cappucinnonya

"Em -Hinata mengangguk- dan juga sangat bahagia" Hinata mengaduk-aduk busa di cappucinnonya, membayangkan kehidupan pernikahannya, sangat jauh dari kata bahagia perjuangan cintanya yang seakan mulai terbalas, namun ternyata hanya semu.

Tentang pengorbananya yang hanya di anggap angin lalu, kepercayaannya yang di abaikan, pikirannya beralih kembali ke sosok Gaara, rambut merahnya, mata Jadenya, senyum simpulnya, keseriusan di matanya, tangannya yang hangat segalanya. Ia menyukai segala hal yang tersemat pada bungsu Sabaku itu, jika ingin mengatakannya bodoh, katakanlah sekarang karna ia telah tergila-gila pada orang yang selalu menyakitinya.

"Kau melamun Hinata" Karin menyadarkannya

"Ah .. ya sedikit"

"Lalu bagaimana pekerjaanmu itu? Lancar?" Karin membuka topik baru

"Ya, aku akan memulainya besok"

"Bagus, lalu kau bekerja di mana?"

"Inuzuka, aku di minta mendesign aula untuk tempat pertemua klan Inuzuka"

"I..inuzuka? Itu hebat"

"Ya, awalnya aku juga tidak percaya, tapi mereka memintaku" Hinata menceritakannya dengan semangat, terlebih pertemuannya dengan calon penerus klan besar itu

"Nah nah ... kau menyukainya ya?" Ucap karin dengan nada menggoda

"A-aku ti-tidak, tentu saja aku tidak meyukainya"

"Hemm~" mata Karin berbinar menggoda

Pipi Hinata merona hebat "ti-tidak Karin"

"Hahahahahaa kau lucu Hinata"

Sementara Karin menggodanya Hinata sibuk meredam rona di pipinya mengingat kembali pertemuannya dengan pemuda itu

"Lalu dimana orangnya?" Kata seseorang terdengar frustasi

"Sepertinya sedang dalam perjalanan Kiba-sama"

"Haaahh apakah masih lama? Dia dari Iwa? Kenapa tidak menyewa pekerja dari Konoha saja? Kenapa harus jauh-jauh?"

"Itu, nyonya besar menyukai design buatannya, dan beliau menginginkan orang itu yang akan mendeaign aula baru"

"Haaahh ... okaasan itu selalu merepotkan, baiklah jika ia sudah sampai suruh menemuiku"

"Baik Kiba-sama"

Tak selang beberapa menit kemudian seseorang mengetuk ruang bacanya

"Masuk" katanya

"Ma-maaf saya terlambat" ucap Hinata di tengah Nafasnya yang putus putus

Kiba masih belum menatapnya, terlalu asik dengan buku yang di bacanya, "kau itu seharusnya ... -Kiba mentapnya, menatap Hinata- da-datang lebih awal"

Jantungnya mulai bergetar, sedikit demi sedikit meningkatkan ritmenya, siapa gadis ini? Kenapa jantungku tak karuan saat melihatnya, aku yakin sekalipun tak pernah bertemu dengannya, kenapa seakan begitu dekat, begitu mengenalnya..

"Maaf, jalanan pagi ini sangat padat, saya ..."

"Baiklah tak apa -potong Kiba- yang penting kau sudah sampai, ayo ikut aku akan ku tunjukan aulanya" Kiba berlalu melewati Hinata dan merasakan jantungnya benar-benar bekerja extra.

Mereka berdua berjalan dalam diam, Hinata yang kikuk dan Kiba yang salah tingkah

"Siapa namamu?" Karna pada dasarnya ia bukan orang pendiam maka ia memulai pembicaraan

"Hinata, Hyuuga Hinata desu"

"Ohh .. aku Kiba, Inuzuka Kiba"

Diam lagi .. tak lama mereka sampai pada sebuah aula besar yang masih polos

"Ini aulanya, kau sudah tau kan apa pekerjaan mu? -Hinata mengangguk- kau lihat-lihat saja dulu, kau bisa memulainya besok atau lusa"

"Ba-baik"

"Orangnya sudah datang?"

"Sudah Kaasan, ia sedang melihat-lihat aula"

"Bagaimana gadisnya?"

"Bagaimana apanya?"

"Dia cantik tidak?"

"O-okaasan ini bicara apa?" Jawab kiba terbata

"Hehe .. dia cantik kan Kiba-kun? Ahh Naru-chan memang pandai"

"Apa? Apa maksud Kaasan dengan Naruto?"

"Dia yang merekomendasikan gadis itu pada kaasan, ia bilang kerjanya bagus, dan gadis itu sangat cantik benar saja wajahmu sampai memerah begitu"

"Jadi ini semua ulah Naruto?"

2 jam kemudian ...

"Kau sudah selesai?" Tanya Kiba di depan pintu

"Aa .. Inuzuka-san, iya .. aku baru mau menemui anda"

"Kiba saja"

"Hm?"

"Panggil aku Kiba, menanggilku Inuzuka-san terdengar seperti kau memanggil ayahku"

"Souka .. baiklah"

"Kau tadi bilang namamu Hinata kan?"

"Ya" katanya membereskan semua kertas hasil kerjanya dan meyerahkannya pada Kiba

Tanpa sengaja mata mereka bertemu irish kiba memandang lekat pada lavender Hinata, entah kenapa jantungnya mulai berdebar lagi, dan perasaan akrab itu kembali menyeruak

"Ada apa Kiba-san?"

"Kau kenal Naruto? Uzumaki Naruto?"

"Y-ya" Kiba memandangnya semakin lekat membuat lavender Hinata bergerak gelisah, jemarinya bertautan, kegugupan jelas terpancar dari paras cantiknya

Saat itu ia tersadar siapa orang di hadapannya? Siapa gadis ini? Siapa Hyuuga Hinata

"Kau tidak mengenalku?" Tanya kiba tanpa mampu menutupi rasa bahagianya

Hinata menautkan kedua alisnya binggung ... apakah ia mengenal pemuda ini?

"Kau benar-benar melupakanku? Nata-chan?"

Lavendernya membulat ... pemuda in mungkinkah? Tapi hanya satu orang yang memanggilnya begitu .. tapi ...

"Kau benar-benar melupakanku ya?" Ucap Kiba dengan nada sedih yang dibuat buat

"Ka-kau anak bertudung yang saat itu ..."

"Tepat! Hahaha hari itu aku tidak sempat memperkenalkan namaku ya, tapi syukurlah kau ingat"

Hinata masih tidak percaya ia bertemu dengan kawan masa kecilnya, sahabatnya walaupun pertemuan mereka singkat namun Hinata sangat menyukai anak kecil itu

Hinata tertawa untuk pertama kalinya sejak ia memasuki mansion megah ini, tertawa senang hingga menampakan deretan gigi putihnya, membuat jantung Kiba kembali berpacu .. selalu saat bersama Hinata jantung Kiba akan berdebar tak menentu

-naurovhy-

"Hime"

"Waaa ..!"

"Eh, go-gomen"

"Kau mengagetkanku Kiba-kun"

"Aaa,, ahahaha maaf ya" Kiba mengaruk belakang kepalanya

"Ada apa?" Tanya Hinata setelah tersenyum memaklumi

"Ini sudah jam makan siang, kau tidak makan?"

"Souka .. aku tidak sadar"

Tangan Kiba terulur mengusap kepala Hinata "mau makan bersama?"

"Eh, apa tidak merepotkan?"

"Tentu saja tidak, ayoo kau suka kar kan?"

"Ya"

Hari itu Kiba dan Hinata pergi ke sebuah resto jepang di dekat mansion keluarga besar itu itu, karna Hinata menolak bepergian jauh entah sial atau beruntung Hinata bertemu dengan Karin dan kekasihnya, jadilah mereka makan dalam satu meja

"Ehm .. i-ini Kiba-kun, Karin" kata Hinata tak tahan mendapat pandangan ingin tau dari sahabatnya

Kiba mengulurkan tangannya "Inuzuka Kiba" katanya pada Karin dan Sasori bergantian

"Jadi dia yang kau ceritakan Hinata?" Goda Karin

"Ahh, etto ..."

"Kau bercerita apa tentangku hime?"

"Ummm "

"Sangat banyak" Karin yang menjawab

"Benarkah? Apa saja?"

"Waktu kita tak akan cukup untuk menceritakannya Inuzuka-san"

"Karin ~" rajuk Hinata, tak sanggup lagi menahan rona yang menjalari pipinya

Sementara mereka berbincang Sasori menatap Hinata dalam, menyadari tatapan itu Hinata menoleh dan bertanya

"A-ada apa Sasori-san?"

"...kau berpacaran dengannya?" Ucapnya sengit

Membuat lavender Hinata membulat dan Kiba tersedak

"I-itu ..." jawab mereka kompak

"Saso-kun kau terlalu frontal" ucap Karin

.

Apakah kau akan memaafkanku Hinata? Apa mungkin? Apa gadis yang beberapa hari lalu berdiri di sana adalah kau? Apa mungkin kau sudah kembali kemari? Apa kau bersedia kembali padaku? Aku ... aku merindukamu ... sangat merindukanmu ...

Gaara tenggelam dalam lamunannya, merenungkan berbagai hal, terutama Hinata, bukan, karna Hinata selalu menjadi topik utama dalam hidupnya. Selama ini ia menjadi mayat hidup, apa sudah saatnya ia kembali?

.

1 minggu telah berlalu, hubungan Hinata dan Kiba sangat dekat, mereka makan bersama, pergi bersama berbagi cerita hingga entah siapa yang memulai Kiba secara gamblang menyatakan perasaannya ...

"Aku tidak pantas Kiba-kun" tolak Hinata halus

"Kenapa kau bicara seperti itu? Kau tidak percaya padaku?" Nada Kiba terdengar sangat sedih

"Aku bukanlah gadis yang dulu kau temui, aku sudah banyak berubah"

"Bagiku kau tetaplah gadis kecil yang bermain bersamakau, bagiku kau tetaplah seorang Hyuuga sahabat kecilku, bagiku kau akan selau menjadi Hyuuga Hinata, cinta pertamaku"

Lavender Hinata membulat, dia bilang apa tadi? Cinta pertama?

"Tapi aku sudah pernah menikah Kiba-kun" Hinata kembali menolak

"Apakah aku perlu mengulangi perkataanku tadi?"

Hinata menggeleng, lalu Kiba memeluknya, "aku tak akan memaksamu, hime ... aku akan menunggu hingga hatimu terbuka untukku"

"Hari ini aku berangkat ke kyoto" suara berat Kiba terdengar di seberang

"Sou, baiklah hati-hati Kiba-kun" ucap Hinata

"Aaa, sebenarnya aku tidak ingin berangkat, aku pasti sangat merindukanmu" ucap Kiba mana

"Hehehehe, kau kan hanya pergi selama 3 hari Kiba-kun"

"Hmm ... berjajilah saat aku kembali nanti kau akan enemaniku seharian, bagaimana?"

"Baiklah, aku berjanji"

"Benarkah?"

"Iya"

"Baiklah, jaa hime"

"Jaa"

Tuutt tuutt tuutt sambungan telepon itu terputus, hari ini Hinata libur, ia akan menghabiskan harinya di rumah dan membaca beberapa buku yang sempat di belinya, tiba-tiba ...

*brraakk* pintu kamarnya di buka seseorang

"Hinata, kau ada acara hari ini?"

"Tidak, ada apa Karin?"

"Bisa aku minta tolong?"

"Aku harap .. katakanlah"

"Itu hari ini aku harus menemani seniorku untuk operasi, itu adalah kesempatan yang sangat aku tunggu-tunggu" Karin menghentikan ucapannya

"Lalu ...?"

"Tapi aku harus menjaga pasienku, bisakah kau tolong menjaganya untukku?"

"Baiklah, kalau begitu aku akan bersiap dulu"

"Ahhh, terima kasih Hinata-chan ... baiklah alamatnya aku letakan di atas mejamu ya?"

"Iya" jawab Hinata dari seberang kamar

"Baiklah aku pergi ya Hinata, jaa~"

"Hati-hati ya, Karin jaa"

10 menit kemudian Hinata sudah siap dengan blazer dan dress selututnya, ia mengambil kertas alamat yang ditinggalkan Karin, menatapnya sekali tak mampu mempercayai penglihatannya dan menatapnya lagi, namun alamat itu tetap tak berubah tetap menunjukan alamat yang familier untuknya, rumah yang menjadi tempatnya bernaung selama 2 tahun belakangan ini, rumah yang penuh kenangan, pahit, manis, senang, sedih, semua terkumpul di rumah itu. Rumah lamanya, rumah keluarga Sabaku.

Apakah ini nyata? Ia ragu untuk melangkah ragu untuk beranjak menuju alamat yang tertera pada alamat itu ...

Tbc

Review? Review?

Enrique : oke, makasih supportnya :*

Fuchisia Harumi : wahhh, untung hina ya ooc disukai .. sudah aq lanjut ~

Chiby beary : nah nah, ita-kun mau aq save bwat pribadi rencananya hehehe

Ayo qm maunya gimana? Hwehehehe

Guest : oke senpai sudah lanjut

Nana : dan semoga qm suka cerita abal aq ini hehe

Re : siap hina aq bikin jadi superwomen deh : p

Eri : salam kenal juga ... hihihi aq juga binggung hahahaa

Nana : Hinata memutuskan untuk pergi, tapi ga lama ko ...

Sherinaru : apakah Gaara sudah sengsara? Hem hem ... maaf ya miss typo pengen exis mulu hehehe

Titha sabaku : ini sudah lanjut cantik, arigato nee :*

Hakuna : lanjut lanjut ...

Guest : arjuna ~ ayo datang hehehe

Nokia 7610 : siap siap ..

: iia poor untuk hime-can

Vampire uchiha : iya iya, eh sesungguhnya aq tak tau siapa nama ibu Gaara, hehe gomen .. tenang nanti aq perbaiki ko salah pahamnya ...

Kirigara chika : kyyaaaaaa~ sudah lanjut ...

BommiePark24 : hihihi awal bikin cerita juga ga nyangka bakal seperti ini .. but yaahh .. begitulah adanya, hehehe

Titha sabaku : m(_ _)m karna banyak urusan #plakkkk alasan jadi menelantarkan fic ini .. hege chap ini semoga suka yaaa~

Nana : gomen gomen ... pengenya sih seminggu sekali, tapi apa daya ... imajinadi tak sampai hahaha ...

Hakuna : hihihi, ini sudah lanjut ~

Hinataholic : siiaappp ~

Re : hihihi, thanx for waiting :*

Jasmine DaisyoYuki : ini sudah update ~

Guling : iia iia konflik baru ...

: maafin ga yyaa? Aq juga berharap happy ending, lho? Dan ya ... sudah d update selamat menikmati yaa hahaha