Gomennasai
Presented by Naurovhy
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T
Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, alur berantakan, dll.
If you don't like? So don't read! Happy reading all
please RnR.
Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku sanggup jika harus bertemu dengannya sekali lagi? Walaupun aku sangat ingin, namun ... apakah aku sanggup?
Kini Hinata berada dalam taxi yang akan membawanya pada kediaman megah itu, sepanjang perjalanan ia terus bergelut dengan pikirannya, mempertimbangkan apakah langkah yang ia ambil sudah tepat?
Pasien yang diceritakan Karin selama ini? Adalah mantan suaminya, pria yang ia puji karna ketulusan hatinya, karna keteguhan cintanya, siapa yang membuatnya seperti itu? Apakah Sakura?
Tiba-tiba taxi itu berhenti, membuat penumpangnya menoleh
"Ada apa?" Tanya Hinata
"Sepertinya ada kecelakaan nona, bagaimana? Apa kita memutar saja?"
Hinata menatap sekeliling ini sudah dekat, hanya satu belokan lagi ia akan sampai
"Tak usah jiisan, aku turun disini saja, lagi pula alamatnya sudah dekat"
"oh ya, baiklah" lalu Hinata membayar argo yang tertera pada taxi itu
Ia berjalan sambil menatap sekeliling, semakin melangkah semakin jantungnya berdebar .. hingga seseorang menggenggam tangannya
"Hinata" suara ini ... familier
"Sa-sakura-san" antara percaya dan tidak yang ia temui malah gadis ini
"Bisa kita bicara sebentar?"
"Tapi aku ..."
"Ini tentang Gaara"
.
Dan disinilah mereka di sebuah kafe kecil yang cukup nyaman
"Sebelumnya aku minta maaf" ucap gadis musim semi itu
Hinata masih diam ...
"Aku tau, aku tau aku tak pantas di maafkan ... aku telah mengancurkan keluargamu"
Jika boleh Hinata membencinya maka ia akan sangat membenci Sakura, tapi entah mengapa rasa itu tak timbul .. apa karna ketulusan dalam suara gadis ini?
"Kau tau seharusnya aku yang pergi, bukan kau"
"Sudahlah Sakura-san, lebih baik kita lupakan masa lalu"
"Gaara ... dia entah sadar atau tidak dia sangat mencintaimu Hinata"
Pengakuan itu membuat lavender Hinata membulat
"Kau tau setelah kepergianmu, dia menjadi berbeda ..." ada nada aneh yang digunakan Sakura saat dia mengucapkan kata berbeda
"Mungkin kau berfikir bahwa aku masih bersamannya? -Hinata bergeming, membenarkan dalam hati- tidak, bahkan sebelum kepergianmu pun Gaara sudah mengabaikanku"
Hinata memilih diam tak tau harus berkomentar apa? Emerald Sakura terbawa dalam arus kenangan, Hinata penasaran apa yang sebenarnya difikirkan gadis ini?
"Kau sudah bertemu denggannya?" Tanyanya tiba-tiba
"Tidak, belum aku baru saja akan .."
"Ah, kau mau menemuinya ya?"
"Ya"
"Mungkin itu yang terbaik, aku harap denagn bertemu denganmu dia akan lebih baik"
"Apakah kau ... masih mencintainya Sakura-san?"
"Aku?! Ya, aku sangat mencintainya Hinata, tapi aku sadar cintanya bukan lagi untukku"
"..."
"Ah, hahahha tapi tenang saja aku sudah menemukan seseorang yang tulus mencintaiku, dan hanya mencintaiku"
Hinata tersenyum menanggapinya, apakah pria di taman itu?
"Hinata? "
"Ya"
"Bisa kita bertukar nomer ponsel?"
"Tentu"
.
Aku mengetuk pintu itu berkali-kali, hingga seorang gadis muda membukakan pintu itu untukku, dan ekspresi yang aku tanggap di wajah manis itu adalah keterkejutan luarbiasa seolah yang mengetuk puntunya adalah presiden atau apa?
"Konnichiwa" sapa ku
"Ko-konnichiwa" balasnya kikuk
"Aku temannya Karin-san," aku memperkenalkan diri
"Hi ..."
"Nani?"
"Hi-nata sama" katanya irishnya memburam mengancam menumpahkan air yang di tampungnya
"Kau mengenalku"
"A-aku, ... apakah anda kesini untuk bertemu Gaara-sama?"
"Ya"
"Baiklah, ikutlah denganku"
Lalu kami berjalan beriringan, walaupun aku sudah hafal luar-dalam bangunan ini, tapi aku menahan keinginanku untuk berlari ke kamar Gaara, aneh pikirku, gadis ini membawaku bukan ke kamar Gaara, melainkan ke ... kamarku?
"Bukankah, kamar Gaara di lantai 2?"
"Beliau sejak 2 bulan lalu memutuskan untuk pindah kamar Hinata-sama"
"Hinata saja please"
"Hinata-san" kata gadis itu pada akhirnya
.
Ruangan ini masih sama, kamarku ... tak ada letak benda yang berbeda semuanya masih sama seperti saat aku pergi, dan di sanalah ia berada
Sabaku Gaara, dengan rambut merahnya. Aku berjalan mendekatinya entah mengapa rasa sedih itu menyeruak, mengebu-gebu tubuhnya mungkin sudah kehilangan bobotnya cukup banyak, wajahnya tampak tirus, pucat dan entah bagaimana menggambarkannya kehilangan gairah mungkin.
Kemana Gaara yang selama ini aku kenal? Kenapa pemuda ini tampak seperti orang lain?
Aku bersimpuh di samping ranjang mungil itu, menggenggam tangannya ...
"Ga-gaara-kun" aku memanggilnya, air mataku sudah tak dapat aku bendung mereka mengalir membasahi kedua pipiku "apa ka... kabar?" Aku terisak di sisinya
"Kenapa kau seperti ini? Apa kau baik-baik saja?"
Sadar lawan bicaranya tak akan menjawab, Hinata menumpahkan segala kesedihannya di tangan Gaara
"Ga-gaara-kun" suara itu menyapaku, suara yang sangat aku rindukan
Aku menemukannya menghampiriku. Hinata menghampiriku tapi kenapa ia menangis, apakah kau tak senang melihatku Hinata?
"Apa kabar?" tanyanya,
"Aku sangat merindukanmu Hinata" kataku memeluknya, kami-sama apakah ini mimpi jika iya, maka sungguh aku tak ingin terbangun. Biarlah aku dalam dunia mimpi ini lebih lama, biarlah aku bersama Hinata lebih lama
Melihatnya menatapku, mencemaskanku, memanggil namaku? Kami-sama jangan pernah membuatku terbangun
"Kenapa kau seperti ini? Apa kau baik-baik saja?" Ia kembali bertanya
"Aku baik-baik saja" kataku berbohong "Hime, jangan menangis lagi, maafkan aku -aku mengusap air matanya- aku tau aku salah, aku brengsek, aku bajingan, aku mohon Hinata jangan menangis lagi" kataku ikut berderai air mata
Aku memeluknya seerat yang aku bisa, aku tak ingin kehilangannya lagi. Aku tak ingin ia pergi lagi, aku tak akan sanggup jika ia melepaskanku lagi, tapi semakin aku erat mendekapnya semakin dirinya menghilang, memudar dalam rengkuhanku.
"Tidak! Hinata" kataku mengguncang bahunya, ia tidak menjawab lavendernya menatap lurus ke arahku
"Hinata" panggilku sekali lagi, kami-sama bagaimana ini? Sosok Hinata semakin memudar dalam pelukanku
"Aku kan membebaskanmu Gaara-kun, semoga kau bahagia" katanya
"Tidak! Hinata! Tidak! Tidak! Tidak!"
"Tidakkk! Hah ... hah ..." Gaara mengatur nafasnya yang tersengal, ia hanya bermimpi rupanya, mimpi yang membuatnya benar-benar menangis, bahkan dalam mimpi sekalipun Hinata tetap meninggalkannya.
Peluh membasahi wajahnya, namun saat ia akan mengangkat tangan untuk menghapusnya tangannya terasa sangat berat, terkejut mendapati seseorang tertidur di tangannya, seaeorang yang beberapa saat lalu menghiasi mimpinya.
"Hinata" ucapnya pelan, apakah aku masih bermimpi? Pikir Gaara
.
Pergerakan kecil yang dilalakukan Gaara membuat tidur Hinata terusik, meangangkat kelapanya dan mendapati sosok Gaara menatapnya sendu.
Ia rindu sangat rindu pada Gaara, kerinduan yang membuat hatinya pilu, kerinduan yang entah bgaimana mengalahkan segala rasa sakit hatinya pada pemuda sabaku ini?
Ini bukan mimpi. Gaara yakin ini bukan mimpi, Hinata memang ada disisinya, memang tengah menatapnya, tapi entah menapa ia tak bergerak sedikitpun, ia masih meyakinkan pada otak dan hatinya bahwa yang ia lihat bukanlah halusnasi, bukanlah khayalannya, bukanlah mimpinya.
"Hinata?" Ucapnya serak
Gadis itu tetap bergeming, tetap menatapnya namun perlahan air mata membasahi pipinya
'Kenapa ia menangis? Apa semenyakitkan itu jika ia harus melihatku?'
Gaara beranjak duduk pada ranjangnya
"Jangan menangis?" Gaara mengusap airmata yang mengalir di pipi Hinata, bukannya berhenti ia malah semakin deras menumpahkan airmatanya
"Aku mohon Hinata, jangan menangis" ucapku serak
Ia menunduk dan mengusap air matanya kasar "gomen" ucapnya saat mengangkat kepala, suara yang sangat kurindukan, suara yang sangat ingin ku dengar tapi kenapa ia malah mengucapkan kata maaf?
Aku memandangnya lama, mengobati segala kerinduan hatiku akan sosoknya, akan hadirnya disisiku, seakan tersadar ia mengerjapkan lavendernya
"Apa kabar Gaara?" Ucapku, suaraku berat bibirku bergetar menahan tangis yang mungkin akan keluar
"Aku baik" suaranya benar-benar tidak bagus
Aku berbalik dan mengambil gelas pada meja dan memberikannya pada Gaara, ia meminumnya perlahan, lalu memberikannya lagi padaku
Mata kami kembali bertemu, aku berusaha keras menahan airmataku, menahan isakanku, namun aku gagal, airmata itu tetap tumpah melihatnya Gaara menggelengkan kepalanya lemah lalu tersenyum padaku.
Dan melakukan hal yang seumur hidup tak pernah ku lihat, Gaara menangis di hadapanku, menangis bersamaku.
.
"Sasori-sama" sapa sekertaris kantornya
"Ya" Sasori mendongak dari dokumen yang tengah dibacanya
"Ada yang mencari anda di lobby"
"Siapa? Aku tidak merasa membuat janji dengan siapapun hari ini"
"Karin-san yang menunggu anda?"
"Ap ..." belum sempat Sasori mengungkapkan keterkejutanya ponselnya berbunyi
"Karin" sapanya pada benda mungil itu
"Saso-kun turunlah kita makan siang bersama"
"Kenapa kau ada disini?"
"Kau tidak senang aku ada disini?"
"Bukan, baiklah aku akan turun 10 menit lagi"
"Baiklah jaa~"
.
"Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Tanya Karin
"Kenapa kau bisa ada disini? Bukankah seharusnya kau menjaga Gaara?"
"Tadi pagi aku ada jadwal operasi -Sasori menyesap jusnya mendengarkan penjelasan kekasihnya- lalu aku minta tolong pada Hinata untuk menjaga Gaara" tepat pada saat Karin mengucapkan kata Hinata, Sasori tersedak dengan jus semangkanya, terbatuk hingga mengelurkan air mata
"Dajoibu ka?" Karin menyodorkan segelas air putih
Sasori mengangguk menjawabnya, mengelap mulutnya dan bertanya
"Tadi kau bilang apa? Hinata?" Suaranya meninggi
"Ya, ada apa?"
"Kenapa kau menyuruhnya?" Ucap Sasori geram
"Sebenarnya ada apa Sasori-kun? Kenapa kau bersunggut-sunggut seperti itu?" ucap Karin murung karna Sasoti marah-marah tanpa sebab padanya
"Maaf, -Sasori menggenggam tangan Karin- hanya saja kenapa kau harus memita Hinata?"
"Memangnya aku harus minta tolong pada siapa lagi?"
Sasori menarik nafas frustasi, membut Karin semakin binggung
.
"Makanlah dulu" Hinata menyodorkan nampan berisi makanan pada Gaara
"Kau sudah makan?" Tanya Gaara
"Begitu kau selesai makan"
Gaara memandang makanannya malas, bosan dengan rasa yang disugukan padanya setiap hari, melihat pemuda itu terdiam Hinata bertanya
"Ada apa? Ada yang salah dengan makanannya?"
"Tidak, hanya saja rasanya tidak terlalu baik" jawabnya murung
Hinata mengerti "kau mau makanan lain?" Gaara mengangguk pelan
"Baiklah aku akan membuatkan sesutu" katanya beranjak pergi meninggalkan kamar itu
Di dapur Hinata mulai memotong-motong sayuran, sebuah suara bangku yang di tarik membuatnya menoleh
"Sedang apa kau disini?" Tanyanya aneh melihat Gaara bukannya terbaring di kamarnya malah mengikutinya ke dapur
"Melihatmu" jawab Gaara apa adanya
.
"Hinata adalah wanita yang membuat Gaara seperti itu" jelas Sasori
"Maksudmu?"
"Hyuuga Hinata adalah mantan istri dari Gaara, Hinata meninggalkannya membuat keadaan Gaara menjadi seperti sekarang ini"
"Kau pasti bercanda?" Sangsi Karin, Sasori menggeleng sebagai Jawaban
"Kau bilang Gaara-san seperti itu karna istrinya meninggalkannya, tapi sejauh yang aku tau pernikahan Hinata kandas karna suaminya berselingkuh, dan jika memang Gaara-san yang berselingkuh kenapa harus dia yang menderita?"
"Itu juga tidak salah, Gaara memang berselingkuh dan karna perselingkuhan itu Hinata meningalakannya"
"Aku tidak mengerti"
Lalu Sasori menceritakan kisah keluarga itu pada kekasihnya, kebodohan Gaara, penyesalan Gaara, kesedihan Hinata, hingga keputusan pahit yang gadis itu ambil.
.
Waktu berjalan sangat cepat tanpa terasa sudah pukul 5 sore, Gaara merasa bagaikan sudah menemukan kehidupanya hanya dengan mengahabiskan beberapa waktu bersama Hinata, memandang wajah itu mendengar suara itu,
Kini mereka tengah duduk di halaman belakang kediaman Sabaku, tempat yang sangat disukai Hinata dulu ...
"Gaara" Hinata membuka suara
"Hm"
"Kenapa kau bisa seperti ini?" Gaara sangat terkejut mendengar pernyataan itu "ah, maaf jika aku tidak sopan"
"Aku kahilangan ... tak pernah sadar aku memiliki hingga aku kehilangan"
'Apakah Gaara membicarakan Sakura-san?' Batin Hinata
"Aku menyakitinya sebanyak aku bernafas, mengecewakannya, berbohong padanya -tidak Gaara tidak sedang membicarakan Sakura, Gaara sedang membicarakan dirinya- aku tak pernah sadar dengan segala hal yang dia berikan untukku, menjadi manusia paling bodoh di dunia ini"
Hinata menatapnya sendu, apakah Gaara menyesal? Apakah kini Gaara mencintainya? Sebesar ia mencintai pria itu? Tapi apakah ia mampu memberikan cintanya seperti dulu?
"Hinata -Gaara menggenggam tangannya- maukah kau memaafkanku?"
Airmata Hinata tumpah, Gaara seperti ini karna dirinya, dialah penyebab utama menderitannya Sabaku bungsu itu
"Aku sudah memaafkanmu Gaara-kun" mendengar suffix yang di gunakan Hinata pada namanya membuatnya meneteskan air mata, ia senang, sangat senang
"Maafkan aku" kata Hinata
"Tidak, ini bukan salahmu aku mengatakan semua itu bukan untuk menyalahkanmu"
"Tapi karna aku kau ..."
"Tidak Hinata, sudah aku katakan ini bukan salahmu, sejelas langit senja ini semua adalah kesalahanku, Kami-sama memberiku waktu untuk berfikir apa yang terpenting untukku"
"...apa?"
"Bahwa cinta yang sesungguhnya, keinginanku yang mendasar adalah dirimu, bukan gadis lain. Bukan siapapun aku mencintaimu Hyuuga Hinata"
Bagikan tersambar petir, Hinata tak pernah menyangka akan mendengar Gaara mengatakan kalimat sakral itu padanya, dia senang namun saat ini ia telah membuat janji dengan orang lain, dengan teman masa kecilnya, dengan pria yang selalu membuatnya tertawa ..
"Aku ... aku tidak bisa" jawab Hinata sedih
Gaara menyadari adalah suatu pemikiran yang bodoh jika ia mengira Hinata akan tetap mencintainya, walaupun dalam suratnya mengatakan cintanya pada Gaara. Namun semua itu berlangsung sudah lama dan dengan segala hal yang dialaminya, tak mungkin rasa itu tetap singgah, tak mungkin rasa itu tetap ada.
Tak mampu menutupi rasa kecewanya "aku mengerti, aku hanya mengungkapkan perasanku"
Hinata menatapnya sendu, ia tak ingin menyakiti pemuda ini, tidak setelah semua yang dialaminya, dengan semua kepedihan hati yang dapat Hinata dari paras tampannya, tapi Hinata tak mampu berbuat apapun ...
"Aku .. aku harus pulang" harus mengakhiri pertemuan ini sebelum ia bertindak bodoh dan mempermalukan dirinya sendiri
"Ya, ini sudah senja" bisik Gaara "apakah kau akan datang lagi?" Harap Gaara
"Aku tidak tau" Hinata harap ia bisa
Gaara tersenyum menanggapi, senyuman yang tak pernah Hinata liat selama dua tahun mereka tinggal bersama. Saat ia hendak beranjak pergi, Gaara menahan tangannya wajah pemuda itu tentunduk menahan rasa perih yang menggerogoti hatinya,
"Maukah kau ... sekali saja memelukku Hinata?"
Lavender gadis itu membulat, permintaan Gaara sanggupkah ia memenuhinya?
"..." ia bergeming tidak menjawab ataupun bergerak
Mendapati kediaman gadis itu Gaara mengangkat wajahnya, menangkap rasa cemas pada wajah gadis manis itu
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyudutkanmu, lupakanlah permintaan bodohku itu, pulanglah" kata Gaara ikut berdiri
Tapi yang Hinata lakukan bukanlah berjalan pulang seperti yang diperintahkan Gaara, ia berjalan mendekati pria itu dan memeluknya. Mendekapnya erat
"Hiks ... hiks ... hiks ..." Hinata menangis dalam pelukan lelaki itu
"Aku merindukanmu Hinata, sangat merindukanmu"
Tak menjawab Hinata tetap menangis dalam pelukan Gaara, Gaara membelai surai indigonya lembut, sadar bahwa ia akan mengingat aroma ini seumur hidupnya.
Tbc ..
Mind to review?
Nokia 7610 : siap kawan ;)
BommiePark24 : ehehe kan ceritanya terlalu terkejut, hingga tak mampu berkata-kata hahaha #halahapasih? Hehe, arigato ..
Uzumaki Shizuka : haaaa .. thank you so much for waiting :*
Dewijombloslalu99 : oke cantik, ini sudah lanjut
Rui nyan : kenapa? Mungkin kita baru berjodoh hehehhe siap-siap sudah lanjut ..
Jasmine DaisynoYuki : gimana reaksinya? Sudah terjawab ... :)
Zee potato : sudah lanjut ... :)
AmaldaVIIE : iakah? Aku kecepetan ya .. ehehe
Eri : au au au .. hehehe sudah update, maaf kalo ga kilat hehe
Honoki loverss : hehehe, biar honoki-san penasaran hahaha, sudah update jangan strees dong .. hahha
pingkan : sad or happy ya? Hehe coba kamu tebak
Sherinaru : ehehe ^^a sankyuu sudah suka .. siap sudah lanjut
Hinataholic : hehe harus dong ..
Arakira : hehe aku juga ga nyangka bakal jadi gitu .. padahal niat awalnya ga gitu hehe
nana : hehe iia aku tampilkan Kiba-kun sang arjuna haaha ..
Titha sabaku : hem, maaf mengecewakan karna ga bisa update kilat .. tapi sudah update dan ya mereka sudah bertemu ...
Re : hehe, dan semua pertanyaan kamu udah aku jawab .. heheh
