Gomennasai

Presented by Naurovhy

Disclaimer : Naruto Masashi Kisimoto

Rate : T

Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, Alur berantakan , Dll

If you don't like? So, don't read! Happy Readimg all

please RnR.

Author Note: "Umm, HONTONI GOMENNASAI m(_ _)m … maaf karna baru bisa update, aku sungguh-sungguh sedang banyak cobaan, -cobaan tugas, cobaan praktek, cobaan UAS, belum lagi cobaan fisik- pokoknya aku minta maaf banget karna keterlambatan Fic ini …"

"Lalu yang kau maksud sedang berusaha saat itu apa Saso-kun?"

"Aku berusaha mempertemukan Hinata dengan Gaara tentu saja"

"Souka?"

"Ya, tapi sepertinya tugas itu sudah kau ambil alih" Sasori tersenyum lembut

"Hehe, seharusnya kau menceritakan semuanya padaku lebih awal" Karin memajukan bibirnya, membuat Sasori terkekeh pelan

"Jadi kita ke sana sekarang?" Tanya Karin

"Nanti malam saja, bagaimana kalau sekarang kita berkencan anata?" Sasori mengedipkan matanya membuat Karin bersemu merah lalu mengangguk antusias

.

"Hinata-san apakah anda ingin mandi? Aku sudah menyiapkan air hangat" Yuka berkata sopan

"Benarkah, kalau begitu aku mau" 45 menit Hinata habiskan dalam kamar mandi itu, memanjakan dirinya dan menjernihkan pikirannya tentu saja, ia sudah memutuskan akan menginap malam ini. Mungkin akan kembali ke apartemen Karin saat sore esok hari, Hinata meyakinkan berjuta kali pada pikirannya bahwa ini bukan cinta, ia hanya merasa bertanggung jawab pada Gaara, karna bagaimana pun dirinyalah yang menyebabkan Gaara menderita, walaupun tidak secara langsung.

Begitu selesai Hinata mencari Gaara ke penjuru rumah, dan nihil. Hingga Yuka memberitahukannya bahwa Gaara sedang berada di taman belakang

"Disini dingin Gaara" Hinata menyapanya

"Kau sudah selesai mandi?"

"Ya" Gaara memandanginya geli "apa?" Tanya Hinata

"Aku heran apa saja yang kau lakukan di kamar mandi hingga selama itu?"

"Aku ... mandi tentu saja" jawab Hinata polos

Mendengarnya Gaara terkekeh pelan, walaupun tubuhnya sudah tak sekekar dulu namun Sabaku bungsu ini tetap tergolong sebagai pria yang gagah, dan jika ia sedang tertawa seperti ini Hinata yakin bahwa banyak wanita yang akan terpesona padanya, seperti yang pernah ia katakan dulu.

"Aa, aku punya sesuatu untukmu" Gaara berjalan kearah bangku taman

Hinata memperhatikan tingkah pemuda Sabaku itu, Gaara berjalan menuju sebuah kursi duduk di taman itu, membawa sebuket bunga berwarna kuning cerah, itu adalah bunga Matahari? Sangat aneh, semua pria pasti akan memberikan mawar, anggrek, lily, aster, atau jenis bunga yang lain, tapi bunga matahari?

"Ini" Gaara menyodorkan bunga itu pada Hinata

Hinata memandangannya sesaat lalu menerimanya "arigato" ucapnya menyimpan segala pertanyaannya dalam hati.

Tiba-tiba Gaara menjadi limbung dan memegangi keningnya

"Kau tak apa?" Kata Hinata khawatir

"Tidak, aku hanya sedikir pusing"

"Kalau begitu masuklah, mungkin Yuka-san sudah menyiapkan makanan untuk mu" Hinata memapah Gaara

"Ya" Gaara merangkulkan lengannya pada bahu Hinata, tersenyum tipis menikmati degup jantungnya yang kian meningkat jika berdekatan dengan gadis ini.

"Hinata"

"Ya"

"Benar, kau akan bermalam disini?"

"Apa tidak boleh?"

"Tentu saja, kapanpun kau ingin, tapi ..."

"Apa?"

"Kau melakukan semua ini karna kasihan padaku kan?"

Mereka berhenti "tidak, tentu saja tidak, kau itu bukan orang asing untukku Gaara, dan sudah menjadi kewajibanku untuk menjagamu"

Gaara tersenyum menanggapinya.

Melihat itu dua orang yqng sedari tadi memperhatikan mereka membuka suara

"Aku tidak percaya, Gaara-san bisa tersenyum seperti itu" kata Karin

"Hinata adalah sumber kebahagiaan Gaara" jawab Sasori bijak

"Jadi sekarang kita kesana?"

"..." Sasori diam, membuat Karin menatap ke arah kekasihnya itu

"Aku lebih suka disini" katanya seraya membawa Karin dalam dekapannya

.

Jam dinding itu sudah berdentang sembilan kali, memaksa penghuni rumah megah ini untuk menuju alam mimpinya, tapi bagi Gaara kenyataan saat ini jauh lebih menyenangkan dibanding mimpi, karna dunia nyatanya kini berisi Hinata, siapa yang akan tidur jika kekasih impiannya berada disampingnya. Jika mungkin Gaara akan menghentikan waktu agar Hinata tetap berada di sisinya SELAMANYA.

Tapi itu hanya mimpi, saat makan malam tadi Hinata sempat membicarakan pekerjaanya ketika Gaara menyinggung tentang itu, dan juga menceritakan hal yang tak ingin Gaara dengar, tentang kekasih barunya. Pangeran Inuzuka itu.

"Kau belum tidur Gaara?"

Gaara menggeleng sebagai jawaban, "kenapa?" Hinata kembali bertannya

"Kau sendiri?" Gaara balik bertanya

Hinata mengangkat bahunya dan tersenyum manis, membuat detak jatung Gaara yang entah bagaimana kembali berulah

Dan kini mereka duduk di sofa ruang keluarga, dengan sekotak ice krim coklat di tangan Hinata, saat Hinata menawarinya ..

"Aku tidak suka makanan manis"

"Hontou? Kau sama dengan Suke-nii, dia juga selalu menolak makanan manis, apa semua seperti itu?" Tanya Hinata penuh selidik

"Semua seperti apa?"

"Semua pria gila kerja tidak suka makanan manis?"

"Apakah aku gila kerja?"

"Menurutmu kau tidak gila kerja?" Bukannya menjawab mereka malah saling melempar pertanyaan

"Menurutku aku tidak gila kerja" jawab Gaara

Hinata menggelengkan kepalanya dramatis, bersikap seakan harus mengerahkan segenap kesabarannya untuk menghadapi Gaara. Tidak senang dengan ekspresi yang ditampilkan Hinata, Gaara mencegah sendok berisi ice cream yang di genggam Hinata, merebutnya, lalu memakannya.

Hinata terbenggong menanggapi kelakuan Sabaku bungsu ini.

"Lihat, aku makan makanan manis, itu berarti aku tidak sama dengan Sukenii-mu, dan aku bukan pria gila kerja" celoteh Gaara

Hinata masih bengong mendapat jawaban itu, lalu kemudian ia tersenyum, berusaha keras menahan tawanya, dan gagal, hingga tertawa keras, lama dan terlihat sangat geli

"Apa yang lucu?" Protes Gaara

"Maaf, tapi kau itu ... hahahhaa ... barusan maaf, aku ... hahhahaa" Hinata sudah mencoba namun gagal menghentikan tawanya

"Aku kan hanya menjawab pertanyaanmu dan membantah hipotesismu"

"Iya, tapi ekspresimu itu hahhaha, kau sangat lucu Gaara-kun"

Kata terakhir yang diucapkn Hinata sontak membuat Gaara tertegun, Hinata memanggilnya apa tadi? Gaara-kun?

Hingga akhirnya Hinata mampu menghentikan tawanya dan Gaara tersenyum tulus.

"Tapi Gaara, bagaimana dengan perusahaanmu saat ini?"

"Sepupuku, Sasori yang mengurusnya?"

"Sasori? Akasuna Sasori itu?" Tanya Hinata antusias

"Ya, kau mengenalnya?"

"Dia kekasih Karin, sahabatku"

"Ah, ya benar Karin itu dokter pribadiku"

"Pantas saja aku seperti mengenalnya, rambut merah dan mata hazel itu"

Saat Hinata menyelesaikan kalimat ia sadar bahwa dunianya sangat sempit, dan seolah di permainkan takdir roda kehidupannya seolah hanya berporos pada Gaara.

"Karin-san itu sahabatmu? -Gaara membuyarkan lamunan Hinata- aku pasti sudah banyak menyusahkannya" kata Gaara

Hinata tersenyum, "dia selalu berkata, kau itu menjengkelkan, karna kau tidak mau berbicara padanya" lapor Hinata

"Souka?"

"Um, kenapa kau tidak mau berbicara padanya Gaara?" Tanya Hinata lembut

"Untuk apa? Dia tak akan bisa menyelesaikan masalahku, dia tak akan bisa membawamu kembali padaku"

"Kau salah, buktinya jika bukan karna Karin aku tak akan ada disini kan? Aku tak akan tau keadaanmu, dan walaupun kau bilang ini bukan kesalahanku tapi aku tetap merasa bersalah, bagaimana pun kau seperti ini karna diriku" Hinata menundukan wajahnya tak berani beradu pandang dengan jade indah Gaara.

"Mungkin, tapi ..." Gaara menggantungkan kalimatnya, membuat Hinata penasaran dan mengangkat wajahnya

"... dia itu cerewet sekali" kata Gaara

Hinata tertawa kecil menanggapinya, tiba-tiba sebuah suara memeriahkan pembicaraan mereka

"Wah wah wah, rupanya namaku akan tercemar disini, bukankah begitu Sabaku-sama" sindir Karin seraya melemparkan deathglare pada Gaara, yang tentu saja tidak mempan.

"Karin, Akasuna-san" sapa Hinata sedikit terkejut

"Sasori saja, dan well kita belum berkenalan secara resmi kan?" Lalu Sasori mengulurkan tangannya

"Aku Akasuna Sasori, sepupu Gaara" katanya tersenyum ramah sekali, apa ini Sasori yang sesungguhnya? Pikir Hinata konyol. Jika iya, maka ia akan mencabut segala pendapatnya tentang karakteristik pria pujaan Karin, karna dilihat dari manapun Sasori sangat sangat berbeda dibanding Sasuke-nii.

Dan tiba-tiba Hinata teringat akan senyum ramah itu, akan suara itu ... teringat suatu tempat yang membuatnya tidak merasa asing saat bertemu Sasori di apartemen Karin, karna ia pernah melihat pemuda ini, dimana? Tentu saja pesta pernikahannya.

"Dengan ekspresi itu, aku berani bertaruh kau sudah mengingat siapa aku"

Hinata mengangguk "aku selalu merasa tidak asing, bahkan pada saat pertama kita bertemu Sasori-san" ucap Hinata tulus

Lalu perbincangan itu mengalir seputar urusan kantor Gaara, dan keberhasilan operasi Karin. Saat Gaara menyanyakan untuk apa Sasori mendatanginya malam-malam ...

"Mencegahmu melakukan hal-hal buruk pada Hinata-san" jawab Sasori santai

Dan sukses dihadiahi sebuah bantal sofa, yang telak menghantam wajah tampannya.

"Anata, aku dianiaya" kata Sasori memelas pada Karin

"Dasar gila. Ayo Hinata sebaiknya kita pergi tidur" Karin menyeret tangan Hinata

Melihatnya Sasori tertawa bahagia, setelah kepergian para gadis Sasori merasakan aura mencekam disekitarnya, dan benar saja saat ia menoleh Gaara tengah memasang tatapan siap menerkam pada Sasori ...

"Apa?" Tanya Sasori

"Mengapa Hinata berkata pernah melihatmu di aprtemen Karin?" Tanya Gaara sinis

"Karna kami memang pernah bertemu disana" jawab Sasori santai

"Kau pernah bertemu dengannya, dan tidak memberitahuku?" Kata Gaara penuh penekanan

"Wooo, sabar sepupu -Sasori mengangkat tangannya- aku hanya mencari moment yang tepat untuk mempertemukan kalian"

"Maksudmu sekarang moment yang tepat?" Kata Gaara tajam

"Yang penting kau sudah bertemu dengannya kan?" Sasori menyeringai pada Gaara

Gaara hanya mendengus kesal pada jawaban semena-mena sepupunya itu.

"Tapi ada satu masalh Gaara .. errr" Sasori bingung untuk memulai

"Dia sudah memiliki kekasih? Aku sudah tau" tebak Gaara santai

"Eh?! Kau sudah tau?"

"Hinata sudah menceritakannya padaku, tentang pemuda Inuzuka itu"

"Oh, ya .. kalau begitu tak ada yang bisa aku kabarkan lagi padamu"

Gaara diam, memancing Sasori untuk menggodanya "tenang Gaara-kun selama ia belum mengirimkan undangan pernikahannya, kau masih puny kesempatan"

"Apakah aku masih pantas untuknya?" Diluar dugaan Gaara malah berkata sendu alih-alih marah atas godaan Sasori.

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

"Aku ini pria yang sudah menyakitinya, tidak! Bahkan lebih aku telah mengahapus senyuman dari wajahnya"

"Itu masa lalu Gaara, aku rasa Hinata telah memaafkanmu" ucap Sasori bijaksana

"Dia bilang sudah memaafkanku"

Mendengar nada yang digunakan Gaara membuat Sasori terdiam, sadar bahwa berdebat dengan Gaara saat ini adalah hal yang sia-sia.

-naurovhy-

Pagi menyingsing dengan indahnya, memulai aktifitas semua orang yang ada di bangunan megah ini, Sasori telah berangkat ke kantor Gaara bersama Karin yang pergi ke rumah sakitnya. Lalu Yuka sedang membereskan meja makan dibantu oleh Hinata, walaupun gadis itu sudah berkata ribuan kali jika ia bisa melakukannya sendiri, namun Hinata tetap memaksa untuk membantunya.

"Hinata aku mau mengajakmu kesuatu tempat, kau mau?" Gaara membuka suara

"Kemana?"

"Taman ria?"

Lavender Hinata membulat, Gaara mengajaknya ke taman ria? Taman ria?! Sungguh suatu mukzijat, mengenal sifat pemuda ini yang ...

"Bukankah kau tidak menyukai tempat ramai Gaara?" Hinata menyurakan isi hatinya

"Tapi kau menyukai taman ria kan?"

"Aku suka"

"Kalau begitu ayo pergi" ajak Gaara sekali lagi

"Kau yakin? Bukankah kau harusnya beristirahat?"

"Aku bukan lansia berumur 70tahun yang harus berdiam diri dirumah" jawab Gaara merajuk

"Hahahha .. aku tidak mengatakan kau itu lansia Gaara-kun, hanya saja .. baiklah-baiklah tapi bisa kita ke apartemen Karin dulu, aku harus berganti pakaian"

"Tidak perlu, kita bisa membelinya saat di perjalanan"

"Eh?! Tapi kan ..."

"Lagi pula selama ini aku tak pernah membelikanmu apapun"

.

"Yang ini bagaimana?" Hinata berputar di hadapan Gaara memperlihatkan pakaian yang di pakainya

"Tidak" jawab Gaara singkat

"Tapi ini sudah yang ke tiga" keluh Hinata

"Kalau begitu cobalah yang keempat" jawab Gaara santai

Tak punya pilihan selain menuruti keingginan Sabaku bungsu ini Hinata kembali ke ruang gantinya.

Tak berapa lama kemudian ... "yang ini aku rasa cocok" kata Hinata menunjukan dress selututnya yang menurutnya sangat manis berwarna karamel

"Tidak" kata Gaara untuk kesekian kalinya, bagaimana mungkin Gaara mengijinkannya, dress itu berbeda tipis dari yang sebelumnya, jika yang tadi berpotongan leher sangat rendah-menurut Gaara, maka yang ini membuat tungkai indah Hinata terancam akan menjadi konsumsi publik. Hell no!

Dengan wajah cemberut Hinata kembali memasuki ruang gantinya, terakhir Hinata memakai celana jeans oldnavi, sebuah kaos turtelneck berwarna cream, dan terakhir sebuah sweter jeans berwarna coklat.

Awalnya Gaara ingin menolak namun melihat kilatan sinis pada lavender Hinata, membuatnya bungkam, toh bagaimanapun juga baju ini menutupi segala hal tentang Hinata yang tak ingin Gaara bagi pada siapapun.

Melihat kediman Gaara, Hinata yakin pemuda itu telah setuju, walaupun kelihatannya agak aneh, karna Gaara memakai kemeja dan celana bahan, mereka berdua bagaikan anak asuh dan pengasuhnya, tentu saja Hinata yang bertindak sebagai anak asuhnya.

Gaara membawa Hinata ke meja kasir dan membayar pakaian itu, lalu menggeret Hinata memasuki sebuah toko baju, Lagi?!

"Untuk apa kita kesini? Bukankah aku sudah membeli baju?"

"Kau sudah, aku belum?"

"Haa?!" Hinata kaget apa maksudnya Gaara berkata 'aku belum' 10 menit kemudian Gaara sudah keluar dari kamar gantinya dengan menggunakan celana jeans, t-shit polos berwarna putih dan sebuah sweater baseball. Membuatnya terlihat sangat, luar biasa tampan.

"Ayo" ajak Gaara, Hinata masih melamun

"Ayo, kau tidak menunggu untuk digendongkan?" Seringai Gaara

.

2jam kemudian Gaara sudah siap menumpahkan segala hal yang dimakannya tadi pagi, gadis ini monster! Gaara sempat berfikiran seperti itu, namun segera dibuangnya jauh-jauh. Bagaimana mungkin sedari awal menginjakan kakinya di tempat ini Hinata selalu dan selalu mengajaknya menaiki wahana yang berputar dan jatuh. Gaara bukan orang yang takut ketinggian oh, tentu tidak! Hanya saja jika kau dijatuhkan dari ketinggian berkali-kali, mungkin kau akan merasa agak takut ketinggian.

Ditambah permainan berputar putar itu, yang juga tidak hanya sekali, namun hingga saat ini gadis itu masih saja tersenyum meneduhkan seolah tak merasakan apapun, sedikitpun perasaan Gaara, Gaara mencatatnya dalam hati adalah seuatu kesalahan fatal membawa Hinata ke Taman ria. Benar-benar fatal.

"Gaara, ayooo kita belum naik yang itu" tunjuk Hinata pada wahana yang entah apa namanya, namun dapat di pastikan akan mengobrak-abrik perut Gaara lagi.

"Bagaimana kalau kita istirahat dulu?" Saran Gaara

"Kau lelah?" Tanya Hinata, ia seakan tersadar dan memapah Gaara menuju bangku taman, mengamati wajah itu dalam-dalam, 'aku sungguh bodoh' kata Hinata dalam hati, bagaimanapun juga Gaara kan masih sakit dan ia malah mengajaknya bermain, Gaara pasti kelelahan.

Rasa senang membanjiri hati pemuda Sabaku ini, Hinata memandanginya sangat lekat, lavender indah itu menelusuri setiap inci wajahnya, memancarkan kekhawatiran yang seakan telah seabad tak pernah Gaara lihat dari wajah itu.

"Baiklah kalau begitu -Hinata membuyarkan lamunan Gaara- kau tunggu saja disini Gaara"

"Apa?! Tidak, aku akan menemanimu, kau ingin naik apa?" Katanya bangkit dan menarik tangan Hinata. Membiarkan Hinata menaiki wahana-wahana itu sendirian? Gaara lebih rela memuntahkan isi perutnya.

"Daijoubu Gaara-kun, sungguh aku tak apa, jika kau lelah lebih baik istirahat" tolak Hinata

"Aku tidak lelah, hanya sedikit pusing"

"Apakah karna wahana-wahana tadi?" Tebak Hinata.

Gaara menatapnya lurus, apakah sekarang Hinata sudah mengerti? Harapnya

"Ah, aku tau kau takut ketinggian ya Gaara?"

Jawaban Hinata sungguh ... sungguh-sungguh membuat Gaara ingin menghantamkan kepalanya ke aspal, bagaimana gadis ini bisa tidak peka seperti ini?

Melihat raut kesal pada wajah tampan itu membuat Hinata bertanya-tanya, apakah ia salah bicara? Ah, rasanya tidak ...

"Yasudah kau mau naik apa tadi?" Kata Gaara

"Aku um..." belum sempat menyatakan keinginannya smarphone Hinata berbunyi.

Nama Kiba-kun tertera di layar ponsel itu, Hinata menatap Gaara, dan di balas anggukan oleh pemuda itu lalu Hinata mengangkatnya.

"Moshi-moshi Kiba-kun"

...

"Kau apa?!"

...

"Ba-baiklah, aku akan segera kesana"

...

"Ya, memang sangat mengejutkan"

...

"Um, jaa nee"

Bagaimana ini? Batin Hinata . Gadis itu berjalan kembali kearah Gaara menampilkan raut wajah yang sangat menyesal, karna bagaimana pun juga ia akan meninggalkan pemuda ini kan?

"Ada apa?" Tanya Gaara cemas melihat raut wajah Hinata yang berubah total

"A-aku harus pergi"

"Ha?! Pergi kemana?" Tanya Gaara heran

"Kiba-kun kembali lebih awal, dia sedang menungguku" jawab Hinata menunduk, sesungguhnya ia sangat tak ingin meninggalkan Gaara seperti ini, tapi apa boleh buat?

Gaara tak ingin mempercayai pendengarannya, kenapa Kami-sama sejahat ini padanya? Baru saja ia merasakan kebahagiaan bersama gadis ini, tapi kenapa kenyataan itu datang begitu cepat? Sesaat tadi Gaara sempat lupa jika Hinata bukan lagi istrinya, bukan lagi miliknya, bukan lagi orang yang akan selalu berada di sisinya.

"Baiklah aku akan mengantarmu"

"Eh?!"

"Aku tak mungkin membiarkanmu sendirian kan? sudah ayo, kau tau jalannya kan?"

"Iya, arigato Gaara-kun"

.

.

.

"Hinata-chaannn" seru Kiba senang "aku sangat merindukanmu" katanya seraya memeluk Hinata

"Kau kan hanya pergi selama 2 hari Kiba-kun?" Hinata terkekeh dalam dekapan hangat Kiba

"Tapi aku tetap merindukanmu"

"Iya, aku juga merindukanmu Kiba-kun"

"Hinata, aku punya kejutan untukmu"

"Kejutan? Apa?"

"Ayo aku akan menunjukannya, hadiah tersebut tak mungkin aku bungkus"

Dan kini mereka berdua berada dalam sebuah restoran mewah dengan pencahayaan yang sangat romantis, mereka berjalan beriringan hingga sampai pada sebuah meja dan ... Hinata tak kuasa untuk tidak memekik kaget.

"Nee-san?!" Serunya

"Hinata-chan aku teramat sangat merindukanmu" seru Naruto girang, memeluk Hinata

"Kau berlebihan Kitsune" Kiba menarik Hinata dari pelukan Naruto

"Diam kau Inu"

Hinata terkekeh melihatnya dan pandangannya menangkap sesosok pria tampan berambut aneh, tengah menatapnya serius "Suke-nii"

"Kau sehat?" Tanya Sasuke hendak memeluk Hinata

"Aku seh ... eh?" Ternyata Kiba menarik tangannya mencegahnya memeluk Sasuke

Melihatnya Sasuke memberikan deathglare gratis pada bungsu Inuzuka itu, lalu Naruto menarik Hinata dan mengajaknya duduk membiarkan dua pria itu saling melempar tatapan membunuh.

Acara makan malam itu berlangsung sederhana namun sangat hangat, ada Kiba dan Naruto yang saling bertukar ejekan, Sasuke yang cuek bebek dan Hinata yang selalu menjadi penengah.

"Aku ke kamar mandi sebentar" kata Hinata

"Aku antar" usul Kiba dan mendapat getukan garpu dari Naruto

"Awww, kau itu kenapa sih?"

"Dasar mesum" ejek Naruto

"Aku hanya khawatir terjadi sesuatu" bela Kiba

"Dia hanya ke kamar mandi, dan bukan lagi seorang gadis kecil, jadi dia tak akan tersesat, terjatuh atau mengalami hal-hal aneh lainnya" cetus Sasuke

"Lihat Suke-kun saja setuju denganku Inu" Naruto tampak girang

Kiba mencibirnya pelan, "sudahlah Kiba-kun, aku akan segera kembali" kata Hinata dan beranjak meninggalkan meja itu.

.

Entah ini permainan takdir, kebetulan, atau memang jodoh yang tak pernah jauh dari kita. Di tempat ini, tempat yang seharusnya memiliki kemungkinan sangat kecil namun tetap terjadi, ia bertemu dengan Sabaku Gaara.

"Hinata?"

"Gaara?" Ucap mereka bersamaan

"Kau bersama siapa?"

"Apa yang kau lakukan disini?" Ucap mereka masih bersamaan, mereka tertawa kecil

"Aku bersama Naru-nee, Suke-nii dan Kiba-kun, dan kau?"

"Aku juga bersama Neesan ku"

Mereka mengobrol sebentar di lorong kamar mandi itu, lalu Gaara berkata jika ia akan pergi ..

"Eh, kenapa mendadak?"

"Temari-nee tak mau meninggalkanku disini sendirian maka dari itu ia memboyongku ke rumahnya"

"Souka?" Hinata tak tau harus bersikap bagaimana

"Hn, kau akan mengantarku besok? ke bandara?" harap Gaara

"Aku tidak bisa besok" jawab Hinata sedih "aku ada janji dengan Kiba-kun"

"Sou.. Daijoubu jika kau tak bisa"

"Gomen nee, kalau begitu aku akan kembali ke mejaku, Sayonara Gaara-kun"

.

"Jadi kau ingin kemana Hinata-chan?"

"Terserah kau saja Kiba-kun"

"Benar tak ada tempat yang ingin kau kunjungi?"

"Sebenarnya … aku ingin ke bandara?"

"Bandara? untuk apa? bukankah Naruto baru akan pulanng seminggu lagi?"

"Aku ingin mengantar temanku, dia pergi hari ini" Ucap Hinata ragu-ragu ia tak enak jika harus membatalkan acara kencannya dengan Kiba

"Temanmu akan pergi? lalu kenapa kau tidak bilang dari tadi Hime? kenapa kau tidak mengantarnya saja?"

"Aku kan sudah berjanji padamu" mendengar kata-kata Hinata Kiba sontak menghentikan laju mobilnya

"Ya ampun Hime, kau bisa menepati janjimu kapanpun kau mau, dan jika kau membatalkannya karna harus mengantar temanmu aku 100% mengerti" walaupun berkata seperti itu sejujurnya Kiba sangat senang, karna itu hanya berarti satu hal. Dirinya sangat penting bagi Hinata.

"Go-gomen nee"

"Jadi, sekarang kita ke bandara?" Kiba memastikan

"Y-ya" jawab Hinata senang, bersyukur memiliki kekasih seperti Kiba.

"Jam berapa pesawatnya berangkat?"

"Jam 10" Kiba melirik arloginya 9.30

"Semoga masih sempat" katanya

"Arigato Kiba-kun" Hinata tersenyum senang, mendengarnya Kiba mengusap surai si Indigo

Mobil itu terus melaju-dan melaju jalanan cukup lenggang hingga Kiba memutusnya untuk menambah kecepatannya untuk menghemat waktu, awalnya semuanya berjalan lancar hingga ada sebuah truk yang oleng dang mengarah pada mobilnya, Kiba membanting setir kehilangan kendali dan mobilnya menabrak pembatas jalan, menghantamnya hingga koyak.

"Hinata buka seatbeltmu" teriak Kiba, Hinata melakukan hal yang di perintahkan kekasihnya "Buka pintunya dan lompat" perintahnya lagi sambil berusaha menahan kecapatan mobilnya yang terus menuruni lereng jalan toll ini.

"Tidak! bagaimana denganmu" tolak Hinata mentah-mentah

"Cepat loncat, begitu kau loncat aku juga akan loncat" katanya kemudian, mendengar bahwa kekasihnya juga akan keluar dari mobil itu Hinata menggangguk lalu meloncat keluar, ia bergulingan di tanah, mencoba berhenti namun gagal hingga kepalanya membentur sebuah batu dan segalanya menjadi gelap.

Sementara Kiba yang tengah berusaha keluar dari mobilnya kehabisan waktu hingga mobil itu meledak di dasar jurang bersama penumpangnnya.

Tbc …

Mindi to Review

Jasmine : oke oke ^^

Nokia : siap gan .. well, aku bukan agan-agan tau )3)

Rambu : kan biar qm penasaran hohohoho …

Zee : Hiks hiks.. aku temenin deh nangisnya, ia dong kan mereka tokoh utamanya hehe

Rouzhee : doakan saja ya … hwehehehe

Bommie : nah nah, itulah aku bikin binggung #plaaakk mm, masalahnya Bom-san aku suka lupa buat mengakhiri Pov, di tambah aku yang sangat super duper males buat baca ulang buat nge-check kesalahan so, jadilah aku ga pake tanda-tanda itu, well dari pada nanti ceritanya tambah aneh #sekarang juga aneh

wah …. kurang lama kah ? ^^a

Kirigaya : iihhh, jangan dong nanti atit, hahahaha .. sama Kiba-kun cantik ..

Rui : wahhh .. kita setipe, cowo galau emang seksei, cos mereka jadi so cool gimana gituuu .. wahahaha

^^a, eh .. ehehehe aku tuh sebenarnya… ini rahasia lho? jangan bilang-bilang ya .. emm, aku tuh suka lupa mengakhiri pov, makanya aku ga pernah pake pov :'( itulah alasan ku …. hiks hiks

mohon dimengerti… ha? mengerti lo yang bikin masalah gue yang harus ngerti *gaya dodit hahaha #tambah ngawur, abaikan abaikan

Guest : waw terimakasih sudah disukai, #ficnya woy bukan lo, SasuNaru … hehe sebenarnya itu pengalaman pribadi hehe

emh, insya allah chap depan sudah fin … doakan ya ..

Guest : oke staytone ya … hahaha

Titha : hehehe .. soalnya banyak yang request Gaara menderita sih, jadinya aku buat si panda imut terpuruk dalam penderitaan deh hwawawawa #uhuk uhuk

Hinataholic : ehehehehe … betul betul semangat ….

Eri : nah lho Hinata Gaaranya mau diambil tuh ahahahaha, oke oke

Honoki : yah …. udah ya nangisnya, nanti bnajir nih Jakarta hahahha … doakan supaya happy end ya …

Sherinaru : siap Sheri-san, dikasih piala? wwahhhhh … hahahaha Hounto ? maaf mengganggu belajarnya.

ayo-ayo gimana chap ini qm bisa tebak ga?

Nana : hem, ia kasian juga yah ,,, hahahaha. Ia dong kan kasian Kiba-kun udah kece gitu hehe

Sushi : ehehehe .. kenapa bisa cepet pulih? ehem supaya fic ini cepet selesai Sushi-san, kalo ga maksa ga selesai-selasai dong hehehe

Re : waduhhhh, jangan lama-lama ya tahan nafasnya … gak ko, Saso-pyon kan ga jahat hehehe, siapa coba ? #plakkk

Minri : iihhh, bisa ajh, coment qm juga simple tapi nempel dihati heheh

Avril : hemm, Gaara sama aku aja boleh? #dasar gila hahaha

Fressya : maaf bgt ya, seperti yang aku bilang di atas minggu-minggu ini bener-bener berat untuk dilalui .. maaf ya baru bisa update ..