Gomennasai
Presented by Naurovhy
Disclaimer : Naruto Masashi Kisimoto
Rate : T
Warning : AU, OOC, OC, Typo, Ide pasaran, Alur berantakan , Dll
If you don't like? So, don't read! Happy Readimg all
please RnR.
#Emmm … seperti yang aku bilang di chap sebelumnya, aslinya ingin menjadikan chap ini FinalChap, tapi aku ngerasa agak gantung dan juga terlalu ngebut, hehehe … Gomen-gomen aku belum bia tamatin di Chap ini, dan sekali lagi untu Update yang sangat kadaluarsa … Hontouni Gomennasai Minna-san, well, tanpa bnayak cuap-cuap gak Jebo … Bon Appatte … Selamat menikmati fic abalku sekali lagi ya#
Gaara menaiki peasawatnya cemas, mengharapkan Hinata akan mengantarnya, walaupun terkesan terlalu berharap, namun ia tak berhenti berdo'a, semoga Kami-sama memberikannya kesempatan sekali lagi, semoga ia dapat bertemu dengan Hinata sekali lagi, semoga.. semoga.. dan semoga…
"Gaara, pesawatnya segera berangkat, matikan ponselmu" kata Temari
"Baiklah Neesan" lalu ia mematikan ponselnya dan menyamankan diri pada kursi yang tersedia
.
"Bagaimana?"
"Si pengendara tewas kapten, lalu kami menemukan seorang wanita di pinggir jurang, saat ini tim medis sedang berusaha memolongnya, ia mengalami pendarahan hebat pada otaknya"
"Identitasnya?"
"Tas wanita itu ikut terbakar bersama mobilnya"
"Baiklah umumkan pada seluruh kota, tentang ditemukannya seorang wanita korban kecelakaan itu, semoga saja besok kita sudah mendapatkan keterangan"
"Siap kapten"
Sudah satu hari berlalu namun Hinata belum kembali juga? apakah ia menginap di rumah Kiba? pikir Naruto
"Ada apa?" Tanya Sasuke pada kekasihnya
"Suke, kenapa Hinata belum kembali ya?"
"Mungkin ia menginap di rumah Inuzuka itu"
"Tapi ponselnya juga tidak aktif" kata Naruto cemas
"Telah terjadi sebuah kecelakaan maut pada sabtu sore yang menewaskan 1 orang pengendara pria, dikarenakan sebuah truk yang oleng dan melewati pembatas jalan, sampai saat ini pihak berwajib masih mengusut identitas dari wanita yang ikut dalam kecelakaan itu. Jika ada dari para pemirsa yang yang merasa kehilangan atau mengenali wanita tersebut harap menghubungi pihak berwajib, berikut ini kami tampilkan fotonya …." lalu acara berita tersebut menampilkan foto Hinata yang tengah terbaring koma di kasur rumah sakit. Bagaikan tersambar petir Naruto memekik keras …
"Sasuke, itu itu Hinata kan?"
"Naruto tenanglah"
"Mereka bilang apa tadi? kecelakaan? Kiba tak selamat? hiks hiks hiks …. Sasuke bagaimana? bagaimana semua ini bisa terjadi?" Naruto menangis dalam pelukan Sasuke
"Tenanglah, pertama-tama kita ke rumah sakit itu dulu"
Lalu mereka beranjak menuju rumah sakit yang tertera pada layar kaca itu, lalu menghubungi polisi untuk menanyakan kronologi kejadiannya, satu jam kemudian mereka sudah berada dalam ruang rawat Hinata.
"Dokter bagaimana keadaannya"
"Dia sudah melewati masa kritisnya, tapi kami belum bisa memastikan kapan ia akan sadar, ia mengalami pendarahan hebat pada otaknya, kami sudah menangani pendarahannya, namun kita tetap harus waspada pada kemungkinan terburuk"
"Apakah Hinata akan baik-baik saja?"
"Kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kesembuhannya Naruto-san" kata dokter itu sopan lalu mengundurkan diri meninggalkan pasangan itu.
"Tenanglah dulu Naruto, barusan aku sudah menghubungi Hana-nee, mereka akan segera tiba untuk melihat mayat Kiba"
"Kenapa harus seperti ini Suke-kun?"
"Mungkin ini yang terbaik bagi kita semua anata"
Karna sesungguhnya, sejujurnya Sasuke sangat menginginkan jika Hinata dapat bersatu kembali dengan Gaara, bagaimana pun Sasuke menyadari bahwa sesungguhnya pemuda itu sangat mencintai imoutonya, tapi apa boleh buat Hinata memutuskan untuk mengakhirinya dan berpaling pada tuan muda Inuzuka itu, cinta yang indah karna cinta mereka dimulai saat masih kecil saat tak ada yang mengenl apa arti cinta, namun cerita mereka tak berjalan lama dan ditutup dengan kejadian tragis, meninggalnya Kiba. Apa yang akan dilakukan Hinata jika mengetahui bahwa kekasihnya meninggal untuk melindunginya? gadis bodoh itu pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
.
"Gaaraaaa" teriak Temari
"Ada apa neesan? kenapa berteriak seperti itu?"
"Kau sudah lihat ini?" Temari menyodorkan surat kabar yang dibawanya
"Ada apa? kenapa rebut sekali?" tannya Shikamaru
"Hinata, dia kecelakaan" jelas temari pada suaminya
"Model Internasional tengah berduka karna saat ini, dikarenakan salah satu teman menjdi salah satu korban kecelakaan maut sabtu malam kemarin, gadis itu diketahui bernama Hyuuga Hinata, hingga saat ini Naruto masih belum mau memberikan komentar apapun" begitulah yang tertera pada kolom berita di halaman sampul surat kabar tersebut.
"Kecelakaan bagaimana bisa?"
"Mobil yang ditumpanginya oleng dan … hey Gaara kau mau kemana?" teriak Temari lagi saat melihat adiknya bergegas keluar rumah setelah mengambil dompet dan kunci mobilnya
"Kembali ke Jepang" jawab Gaara saat telah berada dalam mobil, dan siap menginjak pedal gas
"Gaara tunggu" cegah Shikamaru, Gaara menatap kakak iparnya binggung "aku akan menyopirimu" lalu Shikamaru mengambil alih kemudi dan menyuruh Gaara bergeser ke kursi penumpang, mobil itupun perlahan melaju.
"Kenapa repot-repot menyupiriku?" Tanya Gaara
"Dengan keadaan emosionalmu yang seperti itu, kemungkinan besar bukannya sampai dibandara kau malah akan mendekam di rumah sakit"
"Hn, arigato, Niisan" Shikamaru menoleh mendengar panggilan itu
"Aneh rasanya kau memanggilku seperti itu"
"Aku juga merasa aneh mengatakannya"
"Lalu mengapa kau mengatakannya?"
"Untuk membuatmu senang"
"Cih, dasar bocah" cibir Shikamaru. Gaara tak mengubris ejekan itu, segala fikirannya terfokus pada Hinata.
Selama perjalanan ini Gaara terus berfikir, bagaimana Hinata bisa mengalami kecelakaan? dimana pemuda Inuzuka itu? apakah lukanya parah? apakah Hinata merasa sakit? ia pasti kesakitan.
Keesokan harinya ….
Proses pemakaman Kiba berlangsunng Khidmat, kesedihan terasa amat mencekam diudara, Nyonya Inuzuka beberapa kali tak sadarkan diri tak mampu menerima kenyataan jika putranya telah tiada, Inuzuka Hana terlihat beberapa kali menenangkan ibunya walaupun air matanya tak berhenti berderai. Naruto tiba di pemakaman itu dan langsung memeluk keluarga kecil Inuzuka itu, walaupun selalu bertengkar Naruto sangat menyayangi sahabat kecilnya itu. Kiba dikenal sebagai pemuda yang riang, dan sopan pada siapapun, tak pernah terlintas dalam benak mereka jika pemuda itu akan pergi dengan tragis seperti ini. Beberapa relasi bisnis tampak hadir dalam acara tersebut, turut mengucapkan belasungkawa yang sebesar-besarnya.
.
Pagi ini diisi dengan Naruto yang tampak berperang dengan smartphonenya …
"Aku bilang aku tidak bisa, mengapa mereka tidak mau mengerti ? Temanku meninggal, adik terbaring dirumah sakit, apakah menurutmu aku bisa bekerja?"
"….."
"Terserah, jika mereka mau membatalkan kontrak itu, batalkan saja! aku tidak perduli"
"…"
"Aku sangggup menganti kerugiannya, aku juga manusia bukan boneka mereka."
"….."
"Sudah aku sedang sibuk" lalu Naruto menutup sambungan itu.
"Kau tidak boleh seperti itu Naruto?"
"Nani?"
"Menelantarkan pekerjaanmu, itu adalah tanggung jawabmu. Kau sendiri yang bilang ingin menjadi professional"
"Mereka memaksaku bekerja disaat suasana hatiku seperti ini"
"Tapi itu memang sudah menjadi kewajibanmu"
"Tapi kan harusnya mereka mengerti kondisiku" Naruto bertambah marah, tak habis fikir Sasuke bukanya memihaknya malah …
"Aku mengerti, tapi Naru-chan walaupun kau melakukan ini tak akan mempercepat kesembuhan Hinata, jika kau pergi bekerja setidaknya kau bisa melupakan sedikit kesedihanmu disana kan?" jelas Sasuke sabar
"….." Naruto diam meresapi perkataan Sasuke, lalu memandangan lama … 'bagaimana bisa lelaki ini, punya jalan fikiran selapang itu, tetap bisa berfikiran positif dalam kondisi seperti ini?'
"Aku memang hebat" kata Sasuke seakan bisa membaca pikiran Naruto
"Ehhh?!"
Lalu Sasuke beranjak untuk memeluk kekasihnya, "Aku merindukanmu, kau mengacuhkanku sepanjang hari ini" pipi Naruto bersemu merah medapatkan perlakuan mendadak itu
Pesawat Gaara mendapat pukul 4 waktu setempat, tanpa membuang waktu ia bergegas menuju kantor polisi menanyakan perihal peristiwa yang menimpa belahan jiwanya. Mengetahui detailnya lalu Gaara bergegas menuju rumah sakit yang di rujuk oleh sang Kapten
"Hinata" katanya menggenggam tangan gadis itu, terdapat banyak luka gores pada wajahnya "ini aku, Gaara" ucapnya dalam
Tak ada respon tentu saja, Hinata tengah menjalani masa komanya, entah kapan ia akan membuka irish lavender indahnya, Gaara merindukannya sangat merindukannya
"Sabaku Gaara" sebuah suara yang familier menyapanya "Apa kabar?"
"Baik, walaupun aneh, tapi terimakasih telah menanyakanya" kata Gaara dingin bertemu Uchiha bungsu itu adalah hal terakhir yang ingin Gaara lakukan
"Pemarah seperti biasannya, setidaknya kau harus menanyakan kabarku juga, atau paling tidak memanggilku Niisan"
Gaara menatap aneh pada perkataan terakhir Sasuke, kerasukan iblis apa lelaki itu?
"Apa inti dari semua basa-basi ini?"
"Tidak ada, aku hanya mengira kau akan datang kesini lebih cepat" Sasuke meyeringai
"Jika kau ingin melerangku …."
"Apakah aku terlihat seperti ingin melarangmu?"
"…Baiklah Uchiha-san sebaiknya kau katakana apa tujuanmu sebenarnya ?" kata Gaara sengit
"Tujuanku? tentu saja menjaga adikku dari oranng sepertimu" balas Sasuke tak kalah sengit
"Jam besuknya sudah habis, Nona Hyuuga harus beristirahat, sebaiknya nada berdua keluar" instruksi seorang suster pada mereka berdua
Walupun enggan tapi akhirnya Gaara meninggalkan ruangan itu dan menuju kantin Rumah Sakit tersebut, Sasuke mengikutinya dari belakang. Enggan berkomentar Gaara hanya melanjutkan langkahnya, membeli segelas kopi dan duduk pada sebuah meja yang terdapat disana
"Kau masih mencintainya?" celetuk Sasuke tiba-tiba
Aha ! jadi ini alasan sebenarnya ayam sawah ini mengikutiku, batin Gaara pertanyaan tidak bermutu.
"Tentu saja"
"Lalu apa yang akan kau lakukan saat Hinata sadar nanti" selayaknya mengintrogasi pembunuh suara Sasuke, rendah dan tajam
"Aku akan menjaganya"
"Kau tau, gadis itu mengalami pendarahan hebat di kepalanya … kemungkinan besar ia akan kehilangan sebagian memorynya"
" …."
"Bagaimana kalau ia melupakanmu?" tembak Sasuke
Gaara terdiam, kemungkinan itu tak pernah terfikirkan olehnya, bagaimana? bagaimama jika Hinata melupakannya sebagaimana yang di katakana Sasuke? tapi …
"…. itu tak menjadi masalah, aku akan membuatnya mengingatku" kata Gaara mantap
Sasuke terkekeh pelan "lalu apa kau piir aku akan mengijinkannya?"
"Kau akan mengijinkannya"
"Kh, terlalu percaya diri Sabaku"
"Jika kau tidak akan menginjinkannya, kau tak akan menghabiskan waktu disini bersamaku"
Sasuke meyeringai "Hahahahaha …. apakah itu terlihat jelas?"
"Hn, karna kau pikir hanya akulah yang sanggup melindunginya jika kau dan kekasihmu itu sedang tidak di Jepang" tebakan jitu kenapa Gaara bisa tau? karna, jika dirinya yang berada dalam posisi seperti itu tindakan itulah yang akan dia ambil, dan tak perlu mengujinya ia tau seberapa posesif bungsu Uchiha tersebut kepada Hinata.
.
Sore ini Sasuke menjemput kekasihnya di hotel tempat Gadis itu menginap, karna keinginan sang kekasih yang berencana menghabiskan jadwal liburnya untuk menemani Hinata.
"Kenapa kau ada disini Suke?"
"Menjemputmu tentu saja Dobe"
"Kh, Teme jangan bercanda, lalu Hinata?"
"Sudah ada yang menjaganya"
"Jangan membual denganku, aku kan sudah mengatakan aku akan kesana sendirian" sunggut Naruto
"Tenanglah, Sabaku itu sedang menjaganya"
"Sabaku …. Gaara?"
"Hn"
"Kau gila, bagaimana mungkkin kau biarkan bajingan itu menjaga Hinata?" teriak Naruto kencang
"Kau bisa membuatku Tuli, Baka"
"Hinata" panggil Gaara untuk entah yang keberapa kalinya dan tetap tak pernah ada respon dari sang gadis, Gaara menlayangkan padangannya pada bunga mawar yang ada di meja itu,
'Sudah layu' batinnya, Gaara tau sebentar lagi Sasuke dan Naruto akan sampai, maka ia memutuskan utuk keluar dan membeli bunga yang baru sebagai ganti bunga yang ada di meja itu. Sebelum beranjak ia membungkuk lalu mengecup pelan kening gadis itu.
Mengendarai mobilnya menuju sebuah toko bunga yang cukup ramai, melewati sebuah kedai Okonomiyaki dan … sebenarnya ia tak ingin namun seseorang yang berada di sana membuatnya berhenti
"Gaara" sapa orang itu
"Hn"
"Gaara-san, mau bergabung?" Tawar Karin
"Aku sedang buru-buru"
"Ahh, kau pasti ingin menjenguk Hinata-chan kan? aku juga ingin kesana setelah ini"
"Kita pergi bersama" usul Sasori
Gaara tak mengatakan apapun, namun ia mendudukan dirinya di hadapan sejoli itu, lalu cerita pun mengalir Gaara menceritakan kondisi terakhir Hinata pada mereka berdua.
Sementara itu di rumah sakit ….
"Kau lihat Suke, bahkan ia tak ada disini" gerutu Naruto saat mendapati Hinata sendirian di kamar
"Hn" Sasuke hanya menjawab acuh, lalu Naruto menginjak kaki kekasihnya itu karna merasa diabaikan
"Engg …." suara itu bukan barasal dari mereka berdua tapi …
"Hinata?!" ucap mereka bersamaan, perlahan Hinata membuka matanya, mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaa yang ada diruangan itu.
"Hinata?" panggil Naruto sekali lagi
Hinata POV
Aku dimana? kenapa aku berada disini? kenapa kepalaku sangat sakit? suara siapa itu? Suke-nii? Naru-nee? kenapa mereka berdua berada disini juga?
Aku mencoba berkali-kali membuka mataku, namun sangat sulit, berat dan entahlah aku tak bisa mendeskripsikannya … tapi tunggu dulu? bukankan seharusnya aku .. hari ini/
End Hinata POV
"Hinata kau sudah sadar?" kembali Naruto bertanya
"Naru-nee …." jawabnya lemah
"Aku akan panggil dokter" usul Sasuke
"Kau jangan banyak bergerak dulu Hinata, Sasuke sedang memanggil dokter" perintah Naruto
Tak lama kemudian seorang dokter muda mendatangi mereka dan memriksa kondisi Hinata,
"Syukurlah Hyugga-san sudah sadar, namun kondisinya masih sangat lemah, ia harus beristirahat total untuk proses pemulihannya"
Setelah Hinata kembali tertidur Sasuke dan Naruto menuju kantin untuk mengisi perut mereka, rasa senang itu begitu kentara pada paras cantik sang gadis Uzumaki, tak hentinya ia menitikkan air mata bahagia dan mengucap beribu syukur pada Kami-sama karna Hinata telah sadar, dan terlebih lagi gadis itu mengingatnya, bagaimana pun Naruto sangat takut jika pada saat Hinata sadar nanti gadis itu tak menginngatnya ataupun Sasuke.
Pemuda Uchiha itu mengusap bahu kekasihnya lembut, apa yang dirasakan gadis kesayangan itu tak berbeda jauh darinya, rasa senang itu membuncah, membanjiri setiap sel tubuhnya.
.
Mendapatkan bunga yang ia cari, dan mengumpat frustasi karna pasangan merah itu mengerjainya,
Saat akan berangakat dari kedai Okonomiyaki tersebut tiba-tiba ponsel Karin berdering, mendapatkan panggilan dari RS tempatnya bekerja mengatakan bahwa ada pasien yang harus segera operasi …
"Bukankah hari ini kau libur anata?" kata Sasori
"Ya, tapi mereka bilang Kabuto-san sedang menangani pasien lain, dan hanya aku dokter bedah yang tersedia, aku harus segera kesana Sasori-kun, emmm … Gaara-san maafkan aku aku tak bisa menjenguk Hinata sekarang" ucapnya membungkuk
Dan Sasori sebagai seorang gentlemen, tentu saja menngantarkan kekasihnya itu meninggalkan Gaara yang merasa sangat-sangat dibodohi oleh pasangan itu
Meredam amarahnnya dan memasuki amar rawat Hinata, mengganti bunga yang sudah layu itu dengan bunga yang ia bawa, lalu beranjak mendekati Hinata, membelai pipi wanita itu lembut, perasaan sedih itu menyeruak, menyesal, sangat menyesal andai ia tak membiarkan Hinata pergi? andai ia bersikeras mempertahakan Hinata disisinya? apakah ini semua tak akan terjadi? apakah Hianta akan baik-baik saja?
Mengamati wajah manis itu, meneusuri setiap lekuknya tanpa pernah Gaara sadari bahwa Hinata telah melewati masa komanya, bahwa saat ini gadis manis itu hanya tertidur, hingga …
"Ga-gaara-kun ..?" sapa Hinata saat ia membuka kelopak matanya
Tersentak kaget mendapati fakta gadis itu memanggil namanya "Hi-Hinata …"
Tbc ….
Review?
Time to Reviewers ..
Bommie : Well, bisa dianggep kebiasaan juga sih .. hwehehe ..
yap, This is a surprise, hehe untuk meramaikan.. oke untuk pertanyaan kamu aku rasa jawabannya ada di chap ini, semoga suka ^^
Nokia : yosh .. sudah lanjut ..
Rouzhee : hwehehehe … kamu tebak sendiri deh
Sushi : Gaar nyesel ko, sebenranya seujung kuku juga dia ga iklas ninggalin Hinata, tapi yah … dan soal kecelakaan He's know it, makanya ia langsung capcus lagi ke tempat Hinata …
Hiru : awalnya aku juga ga mau bikin death chara, tapi setelah dipikir-pikir kayanya lebih seru jika sang arjuna meninggal hwahahaha …
Cherry : oke .. ^^
Jasmine : So So … yap Kiba meninggal kita doakan saja semoga mal ibadahnnya diterima #plaaakk hahhaha
Zee : semua pertanyaan kamu aku rangkum di Chap ini ya … hehehe
Yuuna : Hinata amnesia ? it's souds good hohoho, bukankah lebih menyenangkan jika si Panda merah kita dibuat sengsara untuk kedua kali? #hahaha
Nana : um, kenapa pas tegang? kan biar kamu penasaran Nana-san hwehehehe
Eri : wah aku ketularan kejamnya kamu nih Eri-san #apa hubungannya?
Hinataholic : ia ya, Fic aku banjir musibah hahahhaa
Rui : hahahahhaa …. KibaRui ? yap itu cocok hahaha, aduh taro dulu ya pisaunya .. aku udah update ko hahahhaa
Kensu : hai hai salam kenal juga, auh sering-sering ya mampirnya hahaha, arigatou nee ..
Pararam : apakah itu berarti fic aku bagus? bagus kan #angkat bangku hahaha. Iya aku baru bisa lanjut, maaf yaa …
Titha : ah, maaf ya belom bisa wujudin harap kamu .. hehehehe , gimana kalo aku aja yang jadi nyonya Sabaku? hahaha #ngarepjuga
Miura : arigatou nee ..
Gaanata : isshh .. gomen-gomen miss typo pengen ikutan mulu … belom ko belom final …
re : yang terjadi adalah … jreng-jreng-jreng …. hahaha selamat membaca aja ya ..
